<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687</id><updated>2012-01-30T21:25:57.364+07:00</updated><title type='text'>buletin narhasem</title><subtitle type='html'>Dari Naposobulung Dan Remaja HKBP Semper Di Jakarta Untuk Anda semua, Semoga Menjadi Berkat Bagi Saudara/i Terkasih Semua...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>203</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-5590633958569619438</id><published>2012-01-13T08:02:00.004+07:00</published><updated>2012-01-13T13:48:26.828+07:00</updated><title type='text'>ILUSTRASI: TENTANG POTRET KRISTUS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-FgNuHIk6lvE/Tw-D9qa_vPI/AAAAAAAAAM4/l6oeG7tph1U/s1600/jesus-christ-illusion-400x359.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 180px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-FgNuHIk6lvE/Tw-D9qa_vPI/AAAAAAAAAM4/l6oeG7tph1U/s200/jesus-christ-illusion-400x359.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696917149029743858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika saya masih berusia 5 tahun dan tinggal di Lorong Roma, Kampung Sidorame, nun di kota Medan sana, maka ada satu permainan yang sering saya lakukan bersama adik saya Elisabeth. Permainan tersebut adalah hasil kreasi kami sendiri, dan hanya kami yang mengetahui operasionalnya. Permainan tersebut kami namakan, “Melihat Tuhan Yesus.”&lt;br /&gt;Pagi-pagi benar, sehabis bangun tidur, kami akan duduk di tangga rumah dan mengarahkan pandangan ke langit biru. Bila kami mengarahkan pandangan sedemikian rupa dan dalam waktu yang cukup lama ke langit, maka akan tampaklah sosok-sosok transparan yang menyerupai bumerang, sabit atau sayap capung yang bergerak perlahan-lahan; dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah atau dari sudut yang satu ke sudut yang lain. Kemudian sampai pada satu titik tertentu, sosok tersebut akan hilang dari pandangan.&lt;br /&gt;“Kau lihatkah Tuhan Yesus-nya, dik?”&lt;br /&gt;“Lihat, bang.”&lt;br /&gt;“Ada berapa Tuhan Yesus yang kau lihat?”&lt;br /&gt;“Dua. Abang lihat berapa?”&lt;br /&gt;“Satu. Nah, nah ini dia…Ehh, sudah hilang.”&lt;br /&gt;Begitulah, hampir setiap pagi kami betah duduk di tangga; menghitung “Tuhan Yesus” yang bergerak-gerak di langit dan yang kemudian, pada satu titik tertentu akan menghilang, lalu disusul oleh “Tuhan Yesus” yang berikut.&lt;br /&gt;Di kemudian hari, setelah saya bertambah besar, maka sadarlah saya bahwa yang kami lihat sebagai Tuhan Yesus itu ternyata hanyalah debu atau kotoran yang menempel di bola mata. Lalu, karena lendir yang ada di mata yang belum dibasuh, maka kotoran atau debu itu akan bergerak-gerak. Dan bila mata di arahkan ke langit, maka tentu saja ia akan kelihatan seperti sabit, bumerang atau sayap capung. Tapi ketika itu, tentu saja saya dan adik saya percaya benar bahwa yang kami lihat itu memang Tuhan Yesus. Dan sebagaimana layaknya orang dewasa, kesadaran melihat Tuhan Yesus ternyata juga memberikan suasana damai dan sukacita kepada kami. (Setidak-tidaknya, selama 1 jam kami tidak perlu berkelahi sebagaimana biasanya yang dilakukan oleh dua kakak-beradik. Dan ibu bisa melakukan&lt;br /&gt;pekerjaannya dengan tenang…).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lelaki Berjenggot dan Berjambang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya masuk sekolah maka mulailah saya mengenal citra yang lain dari Tuhan Yesus. (Saya bersekolah biasa di SD Kristen Immanuel dan bersekolah minggu di HKBP Sidorame).&lt;br /&gt;Saya rasa, citra Tuhan Yesus yang diperkenalkan kepada saya adalah juga citra yang diperkenalkan kepada semua anak di muka bumi ini, yaitu potret seorang lelaki berambut panjang, berkumis-berjanggut- berjambang dan memakai jubah putih.&lt;br /&gt;Potret ini ada di buku cerita-cerita Alkitab, ada di kartu dan ada pula di lembar peraga. Kadang-kadang lelaki itu diperlihatkan duduk di tengah kerumunan anak-anak. Kadang-kadang ia diperlihatkan berdiri di tengah sekawanan domba. Kadang-kadang ia diperlihatkan sedang berdoa dengan tangan yang terkatup dan mata memandang ke langit.&lt;br /&gt;Begitu meresapnya potret Yesus itu ke dalam pemahaman saya, sehingga wajah itu jugalah yang muncul setiap kali saya berdoa memohon sesuatu kepadaNya. (Dan sebagaimana halnya anak-anak, maka doa permohonan saya tentu hanya berkisar di seputar bagaimana agar hasil ulangan mendapat nilai tinggi, bagaimana agar saya tidak “dikompas” oleh anak-anak di ujung jalan sana atau bagaimana agar ibu jangan cepat mati).&lt;br /&gt;Kadang-kadang ada saja kawan yang “berani” dan memberi tambahan gambar kacamata di atas potret wajah itu. Tapi bagi saya perbuatan kawan tersebut sungguh merupakan sebuah dosa besar. Dan saya yakin ia pasti akan masuk ke neraka…&lt;br /&gt;Sedemikian yakinnya saya akan wajah Yesus, sehingga ketika masih duduk di bangku SD itu juga, “iman” saya pernah guncang karena fenomena seorang gila yang sering menyelonong ke halaman sekolah kami.&lt;br /&gt;Pada waktu itu, di tahun 60-an, di kota Medan ada seorang lelaki yang sering berkeluyuran di seantero kota sambil komat-kamit dan membawa Alkitab. Ia berambut panjang, berkumis-berjanggut, memakai jubah putih dan selalu mengenakan sepatu sandal. Kami menamainya “Si&lt;br /&gt;Panggabean Gila Agama”.&lt;br /&gt;Bila ada kerumunan orang, maka “Si Panggabean” akan menyeruak masuk dan mulai berkhotbah. Saya tidak tahu benar apa yang dikhotbahkannya, tapi dalam khotbahnya ia selalu berulang-ulang meneriakkan, “Bertobatlah karena tiga hari lagi dunia akan kiamat…”&lt;br /&gt;Begitulah, kalau pada jam keluar main pintu pagar tidak tertutup maka “Si Panggabean” akan menyelonong masuk. Mulailah ia berkhotbah di bawah tiang bendera dan dalam waktu sekejap saja semua anak sudah berkerumun di sekitarnya. Ada yang hanya tertawa-tawa, ada yang&lt;br /&gt;mengulang-ulang perkataannya, ada yang menarik-narik jubahnya dan ada pula yang melemparinya dengan batu kecil. Tapi “Si Panggabean” tidak pernah marah. Ia hanya tersenyum dan terus saja berceloteh.&lt;br /&gt;Dan sementara menonton “Si Panggabean” berkhotbah saya bergumul dalam hati, “Bagaimana kalau dia memang benar adalah Tuhan Yesus? Anak-anak yang mengganggunya itu pasti akan masuk neraka…” Karena itu saya tidak pernah berani mengusik “Si Panggabean”. Kadang-kadang saya beranikan juga diri saya untuk menyentuh jubahnya yang putih itu. Tapi niat saya bukan untuk mengganggu. Seperti yang dilakukan oleh perempuan yang menderita perdarahan dalam cerita Alkitab itu; saya berharap ada kuasa yang mengalir dari jubah itu ke diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The Beatles dan Che Guevara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya beranjak remaja maka potret Kristus yang saya bawa sedari masa kanak-kanak itu mulai kabur. Saya tidak tahu, apakah potret itu kabur karena saya sudah jarang memandangnya ataukah karena ia telah di-”imposed” oleh potret-potret “nabi” lain yang tidak kalah memukaunya.&lt;br /&gt;Zaman ketika saya remaja adalah zaman yang gegap gempita oleh kehadiran “The Beatles”, “The Rolling Stones” dan “The Cats”. Semua personil-personil grup musik populer itu berambut panjang dan berkumis-berjanggut-berjambang. Dan potret “orang-orang besar” itulah yang lebih mendominasi halaman buku tulis, pintu lemari pakaian atau dinding kamar tidur kami, para remaja waktu itu. Saya rasa hanya anak-anak yang “kuper” sajalah yang masih memajang potret orang Nazaret yang menggendong domba itu di halaman buku tulisnya.&lt;br /&gt;Satu pahlawan lagi yang tak kalah romantisnya pada waktu itu adalah Che Guevara. Gambar pria Argentina yang berjuang untuk Kuba dan mati tertembak di Bolivia ini juga menjadi pujaan orang muda di mana-mana. Sedemikan kagumnya saya dengan Che Guevara, sehingga–walaupun tidak mengerti bahasa Inggeris–saya selalu membawa-bawa sebuah buku saku karangannya, “The Guerilla Warfare”, kemana-mana.&lt;br /&gt;Begitulah, semaja remaja, kalau saya berdoa (sesekali), maka saya tidak tahu wajah siapa yang ada di benak saya. Kadang-kadang saya melihat Kristus, kadang-kadang saya melihat Che Guevara dan kadang-kadang saya melihat John Lennon. (Dan bagi saya pada waktu&lt;br /&gt;itu, lagu “Imagine” tentu saja jauh lebih hebat dari “Khotbah Di Bukit”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Para Waria Yang Dikejar Tramtib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, sejalan dengan perubahan usia, berubah pula citra atau potret Kristus yang saya persepsikan di dalam diri saya. Dalam satu titik perjalanan hidup, tiba-tiba saya menyadari, bahwa kalau saya berdoa atau berpikir tentang Kristus maka citra yang muncul lebih&lt;br /&gt;banyak berupa suasana atau pemandangan.&lt;br /&gt;Kadang-kadang saya mempersepsikan Kristus sebagai sebuah taman. Kadang-kadang saya mempersepsikan-Nnya sebagai sebuah sungai yang jernih dan tenang. Kadang-kadang sebagai sebuah jalan yang lurus, sebagai sebuah pohon, seberkas sinar, sepotong laut, atau apa saja. (Tadi pagi saya berdoa memohon perlindungan Kristus terhadap orang-orang yang saya kasihi yang ada di Medan, Bandung, Jakarta, Mataram dan Ambon. Lalu tiba-tiba saya melihat Kristus seperti seekor induk ayam yang besar, yang merentangkan kedua sayapnya untuk melindungi anak-anaknya dari intaian elang yang sedang melayang-layang di&lt;br /&gt;langit).&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apa yang menyebabkan perubahan di dalam diri saya dalam mempersepsikan Kristus. Kalau saya pikir-pikir lebih jauh; mungkin hal ini disebabkan karena saya terlalu banyak membaca sajak dan novel.&lt;br /&gt;Ketika hal ini saya diskusikan dengan seorang sahabat dia hanya menatap saya dan berkata, “Akh, gila, lu!” Tapi saya rasa saya tidak gila. Saya tahu para penulis Alkitab juga sering mempersepsikan Kristus sebagai pohon anggur, jalan, terang, mempelai pria, kumpulan orang-orang (gereja), benteng, gunung batu dan apa saja.&lt;br /&gt;Krisis yang berkepanjangan dan melanda negeri ini tentu saja sangat merasuki pikiran saya. Karena itu, kadang-kadang Kristus saya persepsikan pula sebagai kerumunan orang-orang Batak “yang tak berketentuan” di perempatan Cawang–Jakarta Timur sana, bayi-bayi korban deman berdarah “dengue” yang berdesak-desak di kamar rumah sakit, wajah anak-anak yang ceria ketika jam bubaran sekolah, iring- iringan tahanan kelas teri yang terpincang-pincang (karena kakinya ditembak) di depan kantor Polres atau banci yang tunggang-langgang dikejar tim Tramtib. Kristus juga bisa mewujud dalam paduan suara para janda yang dengan suara sederhana tapi sungguh-sungguh menyanyi pada jam kebaktian di gereja. Dua hari yang lalu, di sebuah apotik di bilangan Cempaka Putih–Jakarta Timur ada seorang bapak yang turun tertatih-tatih dari “bajaj” dan menyodorkan resepnya di loket. Ketika petugas menyebut harga obat tersebut, si bapak terdiam. Lalu dengan suara lirih dia bertanya, “Bolehkah saya tebus sepertiga dulu…?” (Kalau obat tersebut adalah antibiotika, maka cilakalah si bapak). Saya rasa bapak itu adalah Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karaoke&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejak dahulu Holywood selalu berupaya untuk membuat filem sejarah kehidupan Kristus. Dan tidak dapat dipungkiri, filem-filem seperti ini selalu mendapat sambutan yang meriah. Gereja-gereja pun senang memutar filem seperti ini dan percaya bahwa inilah salah satu sarana kesaksian dan pemeliharaan iman jemaat yang sebenarnya sudah tidak terhitung kanak-kanak lagi. Tapi pengembaraan (atau petualangan) rohani saya membuat saya sudah tidak tertarik lagi terhadap hal-hal seperti ini. Bagi saya filem- filem ini ibarat karaoke. Dan saya selalu terusik dengan karaoke (alat yang membantu orang bernyanyi dengan kursor yang berlari-lari di atas teks, ilustrasi musik dan sebuah tayangan visual yang oleh pembuatnya dianggap bisa menggambarkan suasana lagu tersebut). Atas lagu-lagu tertentu yang saya senangi, saya membangun visualisasi sendiri. Atas lagu “Sepanjang Jalan Kenangan” misalnya, maka saya membayangkan sebuah jalanan yang di kiri kanannya ada pohon kenari dan yang berjalan di tengahnya adalah saya sendiri dengan seorang perempuan yang sosoknya hanya saya sendiri yang tahu. Karena itu, kalau yang muncul di karaoke adalah seorang pria yang berambut cepak dan ganteng serta seorang wanita Hongkong yang berambut keriting; imajinasi saya menjadi terganggu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mata Rohani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya senang dengan berbagai imajinasi yang saya bangun tentang citra atau “potret” Kristus, dan saya ingin tetap memelihara kebebasan membangun imajinasi tersebut.&lt;br /&gt;Di karya-karya sastra–misalnya di karya Leo Tolstoy–ada banyak citra Kristus. Tapi di karya-karya non-fiksi pun saya acapkali menemukannya. Belum lama berselang, saya membaca sebuah memoar dari mantan tahanan politik G30S-PKI. Si penulis menceritakan kepahitan hidup yang dialaminya selama tahanan Salemba–Tangerang– Nusakambangan–dan Pulau Buru. Aha, ternyata Kristus juga saya temukan di sana.&lt;br /&gt;Agama saya–Kristen Protestan–memang tidak melarang visualisasi Tuhan dan para nabi. Bagi kami adalah hal yang wajar-wajar saja untuk menampilkan potret Kristus dalam rupa apa saja–apalagi rupa manusia. Bagaimana pun ia adalah Tuhan Yang Menjadi Manusia dan Tuhan Yang Mensejarah, tokh?&lt;br /&gt;Tapi saya khawatir kalau filem-filem Hollywood itu membuat mata rohani saya menjadi kurang peka dan melihat Yesus hanya sampai sebatas sosok manusia James Caviezel, yang notabene “tak jauh-jauh amat” dengan sosok John Lenon, Che Guevara, dan yang lain&lt;br /&gt;sebagainya. Dan saya tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang pada akhir zaman nanti akan bertanya, “Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?” (Matius 25:44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Mula Harahap, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi September 2004)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-5590633958569619438?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/5590633958569619438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=5590633958569619438&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/5590633958569619438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/5590633958569619438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2012/01/ilustrasi-tentang-potret-kristus.html' title='ILUSTRASI: TENTANG POTRET KRISTUS'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-FgNuHIk6lvE/Tw-D9qa_vPI/AAAAAAAAAM4/l6oeG7tph1U/s72-c/jesus-christ-illusion-400x359.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-3605560938392574982</id><published>2012-01-13T07:25:00.003+07:00</published><updated>2012-01-13T07:47:17.559+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: MARSIPANGANON (REFLEKSI TEOLOGIS)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-brAdmSui-kU/Tw9_BYpDidI/AAAAAAAAAMg/G0_ohyEIMf8/s1600/IMG_3485.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-brAdmSui-kU/Tw9_BYpDidI/AAAAAAAAAMg/G0_ohyEIMf8/s200/IMG_3485.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696911715418212818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;MAKAN BERSAMA sangat penting dan bermakna khusus bagi komunitas Batak. Tidak ada suatu pembahasan atau kegiatan penting yang boleh dilakukan sebelum makan bersama. Ingkon di ginjang ni sipanganon do pangahataion na marsintuhu. (percakapan penting harus dilakukan sesudah makan). Seperjamuan atau sapanganon adalah tanda persekutuan, kebersamaan dan perdamaian, jadi bukan sekadar aktifitas mengenyangkan perut saja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada bermacam bentuk makan bersama dalam kultur Batak. Ada tradisi mamboan sipanganon (membawa makanan ke rumah seseorang) dan ada pula mamio (mengundang orang datang untuk makan), memberi makan pihak “atas” (manulangi) dan atau pihak “bawah” (mangupa), memberi makan dalam rangka meminta sesuatu dan ada juga hanya untuk mentraktir (manggalang), makan merayakan sukacita (mangan haroan, mamoholi, pesta unjuk) atau menghayati kedukaan (mangan indahan sipaet-paet/ togar-togar).&lt;br /&gt;Kultur Batak secara umum menyebutkan makan sebagai mangan indahan na las (makan nasi hangat) dan manginum aek sitio-tio (minum air bening). Indahan na las dohot aek sitio-tio adalah simbol kehidupan penuh sukacita dan kejujuran. Makan bersama sebab itu bertujuan merayakan kehidupan dan kebenaran.&lt;br /&gt;Menarik, bahwa bahasa Batak sama-sama menggunakan kata las untuk menyebutkan hangat maupun sukacita. Kata tio berarti bening, digunakan untuk air maupun pandangan juga niat hati. Air yang bening adalah simbol transparansi, kejujuran dan ketulusan yang sangat dijunjung tinggi dan dihargai oleh kultur Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. TUDU-TUDU SIPANGANON&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tudu-tudu sipanganon yang arti harafiahnya penanda perjamuan (bila dalam keadaan lengkap disebut na margoar atau bagian-bagian hewan yang diberi nama sesuai dengan yang berhak menerimanya dalam parjambaran atau pembagian daging hewan) adalah bagian-bagian tertentu hewan sembelihan yang diletakkan di tengah-tengah sebagai simbol penghormatan hasuhutan kepada undangannya khususnya hula-hula. Maksudnya: untuk menjamu hula-hula pihak tuan rumah tidak membeli daging kiloan (rambingan) tetapi rela mengorbankan nyawa satu ekor hewan. Sebagai balasnya hula-hula akan memberikan ikan (dengke) dan beras. (Dahulu disebut boras sipir ni tondi atau beras penguat roh, sekarang bagi komunitas Batak-Kristen harusnya disebut boras parbue atau beras buah kehidupan).&lt;br /&gt;Sering kita saksikan pada jaman sekarang sewaktu menyerahkan tudu-tudu sipanganon atau penanda perjamuan pihak keluarga akan beramai-ramai memegang piringnya dan kalau mereka terlalu banyak jumlahnya akan saling memegang bahu, seolah-olah ada sesuatu yang hendak dialirkan. Padahal kesaksian orang tua-tua pada jaman dahulu tidak begitu. Tudu-tudu sipanganon cukup diletakkan di tengah-tengah ruangan di hadapan undangan terhormat! Bagi kita orang Kristen lebih baik tudu-tudu sipanganon diletakkan di tengah tengah ruang agar tidak menimbulkan salah tafsir seolah-olah makanan itu memiliki kekuatan magis atau menjadi medium penyaluran berkat. Sebab tudu-tudu sipanganon itu hanyalah simbol penghormatan kepada undangan bahwa jamuan dilakukan dengan khidmad dan sepenuh hati. Tidak ada kekuatan magis yang hendak dialirkan di sana.&lt;br /&gt;Sebagai simbol pengormatan, tudu-tudu sipanganon seharusnya pertama kali disampaikan kepada Allah dan kemudian kepada manusia. Sebab itu dalam even pertemuan Kristen-Batak sebaiknya kita lebih dulu berdoa makan sebelum menyerahkan tudu-tudu sipanganon kepada hula-hula. Itulah tanda bahwa kita lebih taat dan hormat kepada Allah daripada kepada manusia (Kis 5:29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. SAPA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sapa adalah piring kayu berdiameter lebih-kurang 40 cm. Pada jaman dahulu keluarga nenek moyang kita makan duduk lesehan di lantai menggunakan satu sapa. Lazimnya 1(satu) rumah memiliki 1(satu) sapa. Bapa, ibu dan anak-anak makan di satu sapa dengan tertib, sopan dan hormat. Peranan sapa sebab itu mirip dengan meja makan di rumah kita orang moderen. 1 satu) rumah 1(satu) meja makan. Yang terpenting bukanlah sapa atau meja makan itu an sich tetapi kesatuan keluarga yang menggunakan sapa atau meja makan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kita sekarang tidak mungkin lagi kembali ke tradisi sapa. Namun acara makan dan doa bersama satu keluarga inti harus tetap kita hidupkan dan laksanakan. Mungkin bagus jika kita komunitas Kristen-Batak dapat menjadikan sapa sebagai simbol kebersamaan keluarga inti: ayah, ibu dan anak-anak. Sebab ada kecenderungan kita hanyut dengan ritus-ritus keluarga besar (na saompu, parmargaan) dan mengabaikan peranan keluarga inti sebagai dasar atau tiang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. MARMEME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada jaman dahulu ibu-ibu marmeme, mengunyahkan makanan untuk anak-anaknya yang masih kecil. Makanan lebih dulu dikunyah si ibu kemudian secara cepat dan trampil langsung dimasukkan ke mulut si anak kecil. Persis seperti burung atau hewan lainnya. Bagi kita orang moderen mungkin ini dianggap menggelikan, kurang higienis atau “jorok”. Namun pada jaman dahulu marmeme adalah wajar dan merupakan tanggungjawab orangtua. Sebagaimana menyusui, marmeme sangat meneguhkan hubungan emosional antara orangtua. Ada satu umpama yang dalam tentang marmeme: dompak marmeme anak, dompak marmeme boru. Artinya tidak ada perbedaan antara anak laki-laki atau anak perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. MANULANGI &amp;amp; MANGUPA-UPA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kultur Batak mengenal istilah manulangi, yaitu menyampaikan makanan yang lezat kepada orangtua atau hula-hula. Dahulu motivasi memberi makanan ini selain untuk menyenangkan hati orangtua atau hula-hula, juga untuk menyampaikan permohonan kepada yang diberi makan. Apalagi ketika memberi sulang-sulang hariapan atau perjamuan purnabakti atau pensiun dari adat kepada seorang tua, sebetulnya lebih kental dengan kepentingan anak-anak daripada kepentingan orangtua yang sudah lanjut usia itu. Disinilah iman Kristen harus menerangi dan menggarami kultur manulangi. Acara manulangi haruslah berdasarkan kasih agape atau kasih tanpa pamrih (holong na so marpambuat) dan hormat tanpa syarat (hormat na so marsiala) kepada orangtua.&lt;br /&gt;Mangupa-upa adalah kebalikan dari manulangi. Yaitu dari orangtua kepada anak, dari hula-hulakepada boru. Tujuannya terutama untuk menguatkan, meneguhkan dan memberi semangat kepada anak atau boru yang sakit, terkejut atau baru lepas dari bahaya. Pada jaman pra-kristen orang yang sakit, lemah, terkejut, celaka dianggap ditinggalkan oleh roh-nya (tondi-nya) karena itu perlu diupa-upa agar rohnya kembali: “mulak tondi tu ruma”. Sebab itulah nenek moyang kita kadang memberikan beras ke atas kepala anak atau borunya. Istilah boras si pir ni tondi menunjuk kepada pemahaman bahwa tondi (roh) si sakit harus dikuatkan dan didinginkan. Istilah boras si pir ni tondi ini tidak cocok lagi dengan kekristenan kita yang menghayati kesatuan pribadi (tubuh-roh). Selain itu bagi kita yang beriman kepada Kristus makanan (sipanganon) tidak lagi dianggap memiliki kekuatan magis atau menjadi medium berkat. Sumber kesembuhan, kekuatan dan keselamatan kita adalah Tuhan Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit. Boras hanyalah simbol hahorason! Sebab itu acara mangupa-upa bagi kita adalah kebaktian atau ibadah memohon kesembuhan atau kekuatan kepada Allah Bapa, AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus. Makanan upa-upa hanyalah simbol kasih dan perhatian kita kepada yang sakit dan bukan medium (parhitean) berkat. Dalam mangupa-upa perhatian kita harus tetap tertuju kepada Kristus yang tersalib dan bangkit. Jelas dan tegas bagi kita Kristus itulah satu-satunya sumber kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. MANGAN INDAHAN NA SINAOR atau PARPANGANAN NA BADIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kultur Batak mengenal apa yang dinamakan mangan indahan na sinaor, atau perjamuan pendamaian (pemulihan hubungan). Jika ada dua orang atau kelompok yang terlibat konflik maka mereka akan menyelesaikan konflik melalui makan bersama yang biayanya dipikul oleh kedua belah pihak. Bagi kita komunitas Kristen-Batak tentu tidak ada larangan menyelenggarakan makan bersama sebagai tanda perdamaian ini. Namun, kita harus menyadari bahwa sesungguhnya Kristuslah yang mendamaikan kita (Efesus 2:13-18). Karena itu Perjamuan Kudus (ekaristi) itulah sesungguhnya perjamuan pendamaian yang sejati. Melalui Perjamuan Kudus pertama-tama dan terutama kita diperdamaikan dengan Allah dan sebagai dampaknya diperdamaikan dengan sesama, diri sendiri dan alam lingkungan kita.&lt;br /&gt;Dalam Perjamuan Kudus tubuh dan darah Tuhan hadir dalam dan bersama-sama roti dan anggur yang kita makan. (con-substansia). Roti dan anggur tidak berubah wujud namun tubuh dan darah Tuhan hadir bersama-sama roti dan anggur itu. Sebab itu pada saat Perjamuan kita memang benar-benar menerima tubuh dan darah Tuhan Yesus: sumber pengampuan dosa, pendamaian, kehidupan yang kekal, sukacita, dan damai sejahtera kita. Dalam gereja purba (I Kor 11:17-22) dikenal perjamuan kasih (agape). Sebelum Perjamuan Kudus, maka jemaat lebih dulu makan bersama, yang bahannya dikumpulkan dari yang dibawa oleh masing-masing anggota. Lambat-laun tradisi ini menghilang. Namun sebenarnya baik jika dihidupkan kembali oleh gereja-gereja berlatar belakang budaya Batak dan modernitas yang sangat haus akan kebersamaan dan persekutuan (communion).&lt;br /&gt;Pertanyaan terakhir: siapa yang paling berat menanggung biaya tradisi makan (marsipanganon) Batak ini? Apakah jamuan-jamuan makan ini membebaskan (meringankan) atau malah memberatkan (menekan) komunitas Kristen-Batak itu sendiri terutama yang ekonominya lemah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. SEMUA BOLEH TETAPI TIDAK WAJIB &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa kata Alkitab tentang makanan? Yesus mengatakan bahwa segala sesuatu boleh dimakan, yang najis bukanlah apa yang masuk melalui mulut tetapi apa yang keluar dari mulut (perkataan). (Mat 15:11) Segala sesuatu dapat dimakan dan diminum, tidak ada yang haram. (Kol 2:16). Kerajaan Allah bukan soal makanan atau minuman. (Roma 14:17). Tidak ada jenis makanan yang mendekatkan atau menjauhkan diri kita dari Allah (I Kor 8:8-10). Kita boleh makan dan minum apa saja (termasuk daging bercampur darah, atau alkohol) dengan ucapan syukur. Dan kita tidak diijinkan menjadikan kebebasan itu sebagai batu sandungan bagi orang lain. Kita harus menguasai diri dan tidak boleh diperhamba oleh makanan atau minuman (termasuk bir atau anggur!). Karena itu kita juga tidak boleh menjadikan sangsang (daging babi yang dicincang dan dimasak memakai darah) sebagai tanda kekristenan kita. Ingat: tanda bukti kekristenan kita yang sesungguhnya adalah kebenaran, damai sejahtera dan sukacita abadi oleh Roh Kudus. (Roma 14:17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. Daniel Taruli Asi Harahap, M.Th., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Agustus 2004) &lt;/span&gt;&lt;br style="font-style: italic;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-3605560938392574982?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/3605560938392574982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=3605560938392574982&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/3605560938392574982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/3605560938392574982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2012/01/artikel-marsipanganon-refleksi-teologis.html' title='ARTIKEL: MARSIPANGANON (REFLEKSI TEOLOGIS)'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-brAdmSui-kU/Tw9_BYpDidI/AAAAAAAAAMg/G0_ohyEIMf8/s72-c/IMG_3485.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-6230620257225507861</id><published>2012-01-12T11:19:00.003+07:00</published><updated>2012-01-13T07:54:38.296+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: MEMBENTUK EKSISTENSI PELAYANAN REMAJA DAN NAPOSOBULUNG DI GEREJA (HKBP SEMPER)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-IuEmA03ox3Q/Tw-Avb4X2cI/AAAAAAAAAMs/cOLdUG9up0I/s1600/n744127242_1263156_9894.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-IuEmA03ox3Q/Tw-Avb4X2cI/AAAAAAAAAMs/cOLdUG9up0I/s200/n744127242_1263156_9894.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5696913606073375170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. High-Impact Pelayanan Remaja dan Naposobulung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak habis-habisnya syukur bagi Tuhan Yesus Kristus, yang telah menganugerahkan kesempatan untuk melayani-NYA pada masa saya remaja dan naposobulung di Gereja HKBP Semper. Suatu pengalaman yang sangat berharga dan tidak akan pernah terlupakan, karena dampaknya sangatlah besar (high-impact), bukan hanya sesaat atau hanya pada saat melayani, akan tetapi sampai dengan hari ini dan bahkan sampai sepanjang masa. Nilai dari pelayanan itu tidaklah dapat dibandingkan dengan apapun juga, bahkan dengan emas dan perak. Pelayanan di kepengurusan (kepanitiaan) Remaja dan Naposobulung (R NHKBP) sejak tahun 1995 sampai dengan 2002 (+/- 8 tahun) telah meninggalkan banyak kesan yang mendalam bersama dengan Tuhan. Suatu pengalaman rohani yang membentuk kepribadian, mental dan cara berfikir yang diubahkan oleh Tuhan untuk mengarahkan hidup ini memiliki nilai (value) sesuai dengan perintah Tuhan di dalam Alkitab yaitu MENGASIHI TUHAN ALLAH DAN MENGASIHI SESAMA. Itulah makna atau intisari dari segala pelayanan Remaja dan Naposobulung.&lt;br /&gt;Apa yang membuat pelayanan ini begitu bernilai? Berikut beberapa aktivitas pelayanan pada waktu itu:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;a. Mengunjungi Amang Sintua yang Sedang Sakit &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak kami terharu ketika mengunjungi Amang Sintua Sarumpaet (Almarhum) yang pada waktu itu sedang menderita penyakit stroke di rumahnya. Penyakit yang membuat beliau tidak dapat beraktivitas normal karena sebagian tubuhnya mengalami kelumpuhan. Pada waktu itu kami bawakan sebuah T-Shirt, kemudian mengenakannya di hadapan seluruh Naposobulung yang berkunjung. Beliau tersenyum dan tertawa bahagia. Setelah itu kami menyanyikan sebuah lagu rohani yang selalu dibawakan beliau ketika mengajari kami sidi, “Andaikan Yesus, Kau Bukan Milikku (KJ No.300) Ketika kami menyanyikannya, beliau tersenyum dan terharu karena bahagia. Peristiwa itu sangatlah berkesan. Secara pribadi, saya sangat terharu melihat beliau bahagia.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;b. Penjualan Pakaian Bekas Layak Pakai ke Marunda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak kami bahagia ketika melihat wajah para nelayan, istri nelayan dan anak-anak nelayan di daerah Marunda, tersenyum ketika mereka dapat membeli pakaian-pakaian yang kami jual sangat murah. Pakaian-pakaian yang menurut kami sudah bekas tetapi masih bagus-bagus. Menurut informasi yang kami terima saat itu (tahun 1995/1996), setiap hari penghasilan mereka hanya sekitar Rp5.000 – Rp10.000 per keluarga. Anggota keluarga mereka rata-rata 4-5 orang. Oleh karena itu, harga pakaian kami hanya kisaran rata-rata Rp500 sampai dengan yang termahal Rp5.000. Berbondong-bondong para nelayan itu datang untuk mendapatkan baju, celana, jaket dsb. Pakaian yang menurut kami sudah bekas, tetapi bagi mereka sangat bagus untuk dikenakan. Bapak ketua RT-nya berkata, “Jangan sungkan-sungkan kembali lagi ke sini. Pasti kami berikan ijin untuk jualannya”. Setiap kami akan datang, biasanya pengurus masjid selalu mengumumkan melalui pengeras suara “toa” kepada masyarakat sekitar.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;c. Kunjungan ke Panti Asuhan KDM dan Yayasan Bangun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak kami bahagia ketika mengunjugi panti asuhan Kampus Diakonia Modern (KDM) di Kampung Raden, Pondok Gede, Bekasi dan panti asuhan Yayasan Bangun, di Tanjung Priok. Berbagi kebahagiaan bersama dengan mereka dalam makan siang dan bermain dalam kelompok. Ada beberapa orang yang pada akhirnya kami ketahui latar belakangnya, karena orang tuanya memang sudah tidak ada, atau orang tuanya tidak bertanggung jawab. Badan dan rambut mereka berbau tidak sedap (maaf kata), karena memang mereka jarang mandi. Mereka juga ada yang “ingusan” (maaf kata), membuat kami sebetulnya merasa tidak nyaman. Namun, justru itulah kebahagiaannya, menyatu dengan mereka ditengah-tengah ketidaknyamanan, membuat kami merenung, bahwa “Sang Bayi” Yesus pun lahir di kandang domba yang jauh dari steril dan bersih, apalagi wangi. Dengan kunjungan itu, kita diajarkan bahwa banyak anak-anak terlantar yang membutuhkan Kasih Tuhan melalui uluran tangan kita. Meski anak-anak itu “hina” sekalipun, tetapi mereka tetapi berharga di mata Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;d. Mengunjungi Jemaat yang Sakit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak kami pilu ketika mengunjungi beberapa jemaat yang sakit di rawat di rumah maupun di rumah sakit. Yang sakit dari mulai remaja sampai dengan orang tua, bahkan yang sudah mendapatkan gelar “Ompung”. Mereka membutuhkan dukungan secara mental psikologis yang membuat mereka lebih bersemangat menjalani hari-harinya ditengah kesakitan. Bahkan ada yang sudah dinyatakan kanker ganas dan menurut dokter sudah tidak dapat disembuhkan. Kami berdoa bersama untuk memohon kesembuhan dari Tuhan. Di dalam doa ada kedamaian dan pengharapan. Itulah yang ingin kami bagikan kepada jemaat-jemaat yang sakit tersebut. Meskipun demikian, jemaat yang sakit pada akhirnya ada yang meninggal karena tidak tertolong lagi namun ada juga yang sembuh, itu adalah anugerah Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;e. Festival Paduan Suara Naposobulung se-DKI Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi yang membuat pelayanan ini begitu bernilai? Betapa tidak kami sangat bersukacita ketika Paduan Suara (Koor) kami dinyatakan sebagai Juara III pada Festival Paduan Suara Naposobulung se-DKI Jakarta, yang waktu itu diselenggarakan oleh NHKBP Tebet. Bisa dibayangkan siapakah kami “HKBP Semper” ditengah-tengah gereja-gereja HKBP yang “besar” di Jakarta ini. Kami juga tidak memiliki pelatih profesional pada waktu itu. Dengan talenta yang ada di dalam punguan Naposobulung, kami berusaha memaksimalkannya untuk mempersembahkan dua buah lagu pujian kepada Tuhan, “Sang Pemilik Kehidupan”. Lagu yang kami bawakan pada waktu itu adalah “Kristus, Penolong Umat yang Percaya” (KJ No.254) dan “Great is Thy Faithfulness”. Yang terpenting adalah proses menjadi juaranya, bukan juara itu sendiri. Kami berlatih +/- 2,5 bulan untuk mempersiapkan diri secara fisik dan mental. Dari segi penilaian teknis, kami berusaha semaksimal mungkin menguasai lagu-lagu tersebut, menghayatinya dalam ekspresi, dan yang terpenting menyatukan suara kami, sehingga suara Sopran, Alto, Tenor dan Bass hanya terdengar 4 suara saja, meskipun kami ada +/- 25 orang. Tidaklah mudah untuk menghasilkan Koor yang berkualitas. Dibutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan materi. Namun sekali lagi betapa indahnya bernyanyi memuji Tuhan dalam Koor yang memiliki kualitas tinggi dan penuh dengan kesatuan serta penghayatan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;f. Pekan Olah Raga dan Seni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak kami sangat bersukacita ketika R-NHKBP Semper mengadakan Pekan Olah Raga dan Seni (PORSENI). Setiap lunggu bersatu menampilkan talenta yang mereka miliki dalam olah raga dan seni. Beberapa cabang olahraga yang diperlombakan, seperti sepak bola, tenis meja, bulu tangkis, lari, catur dan catur jawa. Kesenian yang ditampilkan adalah lomba vokal group dan Cerdas Cermat Alkitab. Indah sekali rasanya ditengah-tengah semangat persaingan namun ada kesatuan di antara kami. Kami bisa saling mengenal satu dengan lainnya dari tujuh atau delapan lunggu di HKBP Semper yang berpartisipasi. Anggota R-NHKBP yang sebelumnya belum dikenal, menjadi kami kenal. Bahkan dari antara mereka, saat tulisan ini dilansir, ada yang sudah dan sedang menjadi pengurus Remaja dan Naposobulung HKBP Semper. Itulah salah satu buah dari pelayanan, bertambahnya jiwa yang rela menyerahkan dirinya melayani Tuhan Yesus Kristus.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;g. Bible Camp Pelajar Sidi dan Kamp Pelayanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak kalah pentingnya adalah kegiatan Bible Camp Pelajar Sidi dan Kamp Pelayanan. Dua agenda yang sangat penting dalam membina para remaja dan naposobulung sebelum mereka terjun ke dunia pelayanan di HKBP Semper. Mereka dibagikan mengenai “Arti Keselamatan” dilanjutkan dengan “Arti Pelayanan”, kemudian bagaimana “Karakter Seorang Pelayan” dan “Dinamika Kelompok” untuk bersinergi dalam melayani Tuhan. Sungguh sangat berkesan dalam hati, dan akan terus terpatri apa yang sudah didapatkan pada waktu itu. Semua Firman Tuhan yang dipaparkan sesi demi sesi memberikan bekal yang abadi dan bernilai tinggi dalam mengarungi kehidupan ke depan, bukan hanya pada waktu melayani di gereja HKBP Semper tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari di keluarga, sekolah, kampus dan dunia pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;h. BULETIN NARHASEM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir tetapi bukan berarti yang paling kecil artinya adalah BULETIN NARHASEM, Buletin kita tercinta ini. Siapakah yang rela mengerjakannya? Remaja dan Naposobulung, bukan? Ya, merekalah yang mengurusinya. Ucapan syukur yang sangat mendalam, karena Buletin ini masih eksis sampai dengan saat ini. Di tengah usianya yang hampir memasuki tahun ke-8, Buletin ini sudah banyak menjadi berkat bagi pembacanya. Sangat besar anugerah Tuhan bagi tim redaksi Buletin ini. Yang tidak kalah pentingnya adalah Tuhan selalu memberikan orang-orang yang rela mengorbankan dirinya untuk menjadi tim redaksi, penulis dan editor dari Buletin ini. Sesuai dengan motto dari Buletin ini “BULETIN NARHASEM FOR THE GLORY OF THE LORD”. Biarlah terus nama Tuhan Yesus ditinggikan, dimuliakan dan diagungkan. Biarlah semakin banyak orang yang mengenal Dia, “Sang Juru Selamat”. Dan semakin banyak orang yang datang kepadaMU untuk melayani.&lt;br /&gt;Masih banyak lagi kegiatan-kegiatan pelayanan R-NHKBP selain yang saya sharingkan di atas. Kegiatan-kegiatan rutin seperti Kebaktian Bulanan, Koor, Perseketuan Doa Syafaat dll. Semua itu bernilai tinggi. Tetapi karena keterbatasan ruang dan waktu, maka saya hanya menceritakan sebagian saja. Kalau para pembaca, khususnya R-NHKBP ingin mengetahui lebih dalam bisa langsung bergabung ke dalamnya. Segera hubungi pengurus R-NHKBP. Jangan tunggu. Nikmatilah kasih dan kuasaNYA dalam pelayanan yang bernilai tinggi dan kekal. Jangan berkata Anda masih muda, Anda tidak layak. Karena pelayanan adalah anugerahNYA semata.&lt;br /&gt;Pelayanan R-NHKBP Semper sudah banyak memberikan dampak (high-impact) yang mungkin secara kasat mata tidaklah kelihatan. Ya, karena memang pelayanan ini adalah pelayanan rohani. Pelayanan yang dampaknya adalah bagi jiwa/roh seseorang yang membentuk iman percaya kepada Tuhan semakin teguh dan tak tergoyahkan di tengah-tengah dunia ini. Dampak pelayanan itu bukan hanya bagi remaja dan naposobulung itu sendiri, tetapi juga bagi jemaat secara luas. Mungkin ada dari antara pembaca artikel ini merasakan apa yang dirasakan oleh penulis. Puji Tuhan! Saksikanlah itu di tengah-tengah kehidupan Anda dengan terus menjadi pelayannya baik di keluarga maupun pekerjaan dan masyarakat, dimana Anda tinggal. Teruslah berikan dukungan bagi punguan R-NHKBP Semper, melalui dukungan moral, pemikiran dan materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Mengapa Naposobulung menjadi “Kerdil”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sudah menjadi persepsi keliru di tengah-tengah jemaat HKBP adalah Naposobulung akan dianggap eksis dan berarti jika setiap minggu aktif mengisi acara dalam Kebaktian Umum berbahasa Batak. Jika Naposobulung tidak mengisi acara Koor, maka Naposobulung dianggap tidak eksis dan lesu. Naposobulung yang bagus adalah jika mereka kelihatan oleh jemaat memiliki anggota Koor yang banyak secara kuantitas. Oh, alangkah kerdilnya pemikiran seperti itu. Pemikiran yang secara tidak langsung telah “mengkerdilkan” peranan dan fungsi R-NHKBP di tengah-tengah jemaat. Bukankah Koor itu hanya sebagian kecil saja dari aktivitas R-NHKBP. Sekali lagi saya pertegas, hanya sebagian kecil saja.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, marilah kita coba berfikir yang lebih besar terhadap R-NHKBP. Sudah banyak yang penulis sharingkan di atas, yang memiliki makna mendalam dan sangat bernilai tinggi dan kekal. Marilah kita ubah persepsi kita yang kerdil itu. Bangunlah kembali Remaja dan Naposobulung ini menjadi sebuah punguan yang berkualitas dan besar. Bukan mengedepankan kuantitas dan Koor semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Eksistensi Pelayanan R-NHKBP adalah Menjadi Garam dan Terang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Paragraf ini ditujukan khusus bagi seluruh rekan-rekan Remaja dan Naposobulung terkasih.&lt;br /&gt;Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, penulis ingin kembali mengingatkan bahwa eksistensi punguan R-NHKBP adalah kembali kepada visi yang mulia. Menjadi garam dan terang. Bagi keluarga, jemaat, masyarakat sekitar dan masyarakt luas. Kepakanlah sayapmu jauh lebih luas lagi. Jangan monoton dalam melayaniNya. Jangan berkutat hanya di dalam saja. Berkreasilah lebih tinggi lagi. Berdayakanlah seluruh potensi dan talenta yang ada pada R-NHKBP. Manfaatkanlah waktu yang singkat ini. Paling maksimal hanya 10 tahun rekan-rekan dapat melayani sebagai R-NHKBP. Setelah itu rekan-rekan akan menjadi seorang suami/isteri, bapak/ibu dalam keluarga kecilmu. Bangunlah kembali suatu punguan R-NHKBP dengan visi yang kuat dan konsistenlah dalam menjalani visi tersebut sampai dengan garis akhir. Kiranya Tuhan Yesus Kristus, “Sang Gembala Agung” akan senantiasa memimpin, melindungi dan memberkati rekan-rekan untuk terus maju dan tak lelah melayaniNya. Karena sesungguhnya kepada kita telah diberikan Anugerah KESELAMATAN dan kita semua wajib mengerjakan KESELAMATAN itu sampai MARANATHA. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Maurice Nainggolan, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Januari 2012)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-6230620257225507861?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/6230620257225507861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=6230620257225507861&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/6230620257225507861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/6230620257225507861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2012/01/artikel-membentuk-eksistensi-pelayanan.html' title='ARTIKEL: MEMBENTUK EKSISTENSI PELAYANAN REMAJA DAN NAPOSOBULUNG DI GEREJA (HKBP SEMPER)'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-IuEmA03ox3Q/Tw-Avb4X2cI/AAAAAAAAAMs/cOLdUG9up0I/s72-c/n744127242_1263156_9894.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-4647409003012003080</id><published>2011-12-24T14:43:00.002+07:00</published><updated>2011-12-24T14:48:06.001+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: KEMATIAN DAN KEBANGKITAN MENURUT IMAN KRISTEN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Kematian dan Kebangkitan Menurut Iman Kristen&lt;br /&gt;Makna dan maksud peringatan Orang yang menginggal Dulia Dalam Kalender Gerejawi HKBP&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Saudara Uly br. Panjaitan meminta saya untuk menulis sebuah tema menyangkut kematian terutama dalam hubungannya dengan peringatan tentang orang yang meninggal dunia. Hal ini juga dikaitkan sehubungan dengan semakin mendekatnya Kalender Gerejawi kita – HKBP - ke Minggu-minggu akhir, yakni Ujung Taon Parhuriaon sekaligus dirangkai dengan Parningotan Di Angka Na Monding. Hal ini dimaksudkan untuk mengisi rubrik di Majalah NARHASEM yang diterbitkan oleh Naposobulung dan Remaja HKBP Resort Semper, Jakarta.&lt;br /&gt;Sebagai bentuk dukungan moral dan spiritual terhadap kemajuan penerbitan Majalah NARHASEM ini, Penulis menyanggupi untuk menuliskan pokok yang dimintakan oleh pengelolanya dengan formulasi judul sebagaimana dibuatkan di atas: Kematian dan Kebangkitan Menurut Iman Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Teologia Kematian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Secara umum baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru kematian dipandang sebagai sesuatu peristiwa yang mengakhiri kehidupan dari dalam dunia ini, yakni yang “memisahkan” jiwa (roh atau tondi) dari dalam tubuh . Kalau kita berbicara tentang ‘kematian’, maka kita harus membedakan antara ‘kematian jasmani’ dengan ‘kematian rohani’. Kedua bentuk kematian ini sama-sama berbahaya terhadap manusia meskipun pada kenyataannya kematian jasmanilah yang paling ditakuti oleh manusia. Sesungguhnya – menurut iman Kristen - kematian rohanilah yang seharusnya paling ditakuti oleh manusia sedangkan kematian jasmani hanya awal menuju kehidupan yang kekal. Untuk jelasnya mari kita ikuti uraian berikut ini: &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I. Kematian Jasmani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  Menurut Alkitab kematian adalah hasil atau akibat dari dosa manusia. Dalam Kejadian 2:17 Allah telah mengingatkan manusia (Adam) bahwa pada hari engkau memakannya maka engkau mati. Demikian juga Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa oleh seorang manusia maka dosa memasuki dunia ini, dan oleh karena itu juga dosa melahirkan kematian (Rom 5:12), dan upah dosa adalah maut (Roma 6:23)&lt;br /&gt;  (1) Dalam Perjanjian Lama&lt;br /&gt;  Agama Jahudi tua sangat sedikit memberi perhatian dan pengajaran terhadap kematian fisik ini, tetapi menerima kematian itu sebagai bagian dari hidup; selain itu agama Jahudi tua juga sangat kurang memberi perhatian terhadap hidup di balik kematian. Agama Jahudi tua mempercayai bahwa apabila jiwa (roh=tondi) telah keluar dari dalam tubuh maka ia akan pergi ke Sheol atau Hades (Maz.88:12; 86:13; Amsal 15:24). Kematian dipandang sebagai akibat dosa sebagaimana kita temukan dalam Kejadian 3:19, 22.&lt;br /&gt;  Kemudian dalam perkembangan agama Jahudi selanjutnya, misalnya pada saat penulisan Kitab Daniel sekitar tahun 350 BC sudah mulai ada keyakinan orang Jahudi terhadap kebangkitan orang mati dan seterusnya kemudian ada pengadilan atas semua perbuatan ketika masih hidup dahulu dan upah perbuatan baik. Sebelum masa Hesekiel dan Daniel ada sedikit  kepercayaan akan adanya kehidupan yang kekal bagi perseorangan. Namun secara umum orang Israel dari generasi ke generasi berikutnya mempercayai adanya hidup yang kekal. Misalnya dalam Hosea 6:1-3 yang kedengarnya bersifat pribadi tetapi sudah menunjuk kepada keseluruhan orang Israel. Hal itu dilatarbelakngi pemikiran bahwa manusia itu adalah makhluk hidup, dan bukan jiwa yang mengalami inkarnasi sebagai mana dalam filsafat Gerika dan agama Hindu.&lt;br /&gt; (2) Dalam Perjanjian Baru. Kematian selalu disangkut-pautkan dengan  kuasa dosa sebagaimana tertulis dalam Roma 5:12 “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa”. Kematian adalah suatu kuasa yang sangat dimusuhi oleh segenap manusia. Kematian adalah kuasa iblis yang dikalahkan oleh Tuhan Yesus ketika Dia mati dan bangkit kembali dari kuburNya. Paulus berulangkali menyatakan: Siapa saja yang percaya kepada kematian dan kebangkitanNya maka kematian itu tidak lagi menjadi kuasa yang mengerikan dan yang merusak baginya (Rom 6-9 dan 1 Kor 15). Memang manusia akan mati secara fisik, tetapi secara rohani orang percaya akan memperoleh kehidupan yang kekal dari balik kematian itu. Oleh karena itu baik kematian ataupun kehidupan tidak akan dapat meniadakan kita dari tangan Allah.&lt;br /&gt;b. Mati sekali hidup dua kali atau mati dua kali hidup sekali.&lt;br /&gt; Orang Kristen yang mati secara jasmani tetapi beriman kepada Kristus Yesus hanya akan berpisah dengan sanak keluarga, tetapi akan mengharapkan hidup yang kekal di balik kematiannya. Mereka hanya akan “mati sekali tetapi hidup dua kali” .  &lt;br /&gt;(1) Kematian Rohani&lt;br /&gt;   Berita tentang kematian pertama sekali kita dengar di Taman Eden dalam Kejadian 2:17 “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" . Kenyataannya , Adam dan Hawa memakan buah pohon yang dilarang Allah untuk dimakan, dan mereka tidak mati secara jasmani. Lalu apa yang terjadi buat mereka? Apakah Firman Tuhan meleset? Atau mungkin ……berbohong?&lt;br /&gt;   Tentu tidak! Kematian pasti terjadi. Tetapi kematian yang dimaksudkan di sini adalah  kematian rohani  yang mencakup beberapa fenomena  yang sangat buruk bagi kehidupan manusia, yakni:&lt;br /&gt;   Pengusiran Adam / Hawa dari Taman Eden. Adam dan Hawa yang ditempatkan Allah di Eden pada jaman in illo tempore (sebelum kejatuhan ke dalam dosa) adalah berada dalam suasana keemasan, penuh kebahagiaan, tidak ada ratapan, keluhan, tanpa sukacita. Sejak saat itu manusia harus hidup menderita sebab berikutnya akan terjadi hukuman Allah&lt;br /&gt;   Putusnya hubungan manusia dengan Allah. Orang yang tidak memliki hubungan dengan Allah adalah orang yang sudah mati. Yesus pernah menegor orang Jahudi dan mengumpamakan mereka dengan kuburan yang dikapur, karena meskipun mereka hidup tetapi sesungguhnya sudah mati karena mereka tidak hidup di dalam iman (Matius Matius  23:27 “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih,..”&lt;br /&gt;   Kematian yang kekal. Manusia tidak lama ikut mewarisi kehidupan yang kekal yang disediakan oleh Allah. Dan untuk kehidupan yang kekal inilah nantinya Yesus datang ke dunia merajut kembali hidup yang kekal yang telah dirusak oleh dosa manusia&lt;br /&gt;  Orang yang hidup dalam dosa atau kita sebut “mati secara rohani”, nanti ketika ia mati jasmani akan mengalami “hidup sekali tetapi mati dua kali” yakni mati pada waktu kehidupannya berakhir dan mati karena tidak mendapat kehidupan yang kekal di sorga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Kebangkitan Orang Mati Menurut Alkitab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; a. Perjanjian Lama sudah mengajarkan pengharapan akan kebangkitan orang mati. Bagi orang-orang PL maut adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari, tidak dapat ditiadakan. Tiap orang akan mengalami kematian. Dalam Maz.88:11, Tuhan Allah tidak akan membuat orang tidak bisa mati (bd. Pengkhotbah 9:5, 7, 9 yang mengatakan bahwa orang hidup tahu bahwa ia akan mati kelak. Maut dipandang sebagai pemutusan, yang tampak memisahkan orang dari pada segala hubungannya. Manusia kembali kepada debu (Maz.90:3). Bahkan, maut dipandang sebagai suatu hukuman Allah terhadap dosa. Maka Musa mengatakan bahwa karena murka Tuhan, manusia binasa (Maz. 90:7).&lt;br /&gt;Pemahaman inilah yang menjadikan manusia takut terhadap kematian. Mereka berharap jangan sampai mati pada pertengahan umurnya (Maz. 102:24,25), dan mereka yakin bahwa umur orang jahat disingkatkan (Amsal 10:27). Orang-orang mati memandang bahwa kematian berarti turun atau memasuki ‘syeul’ (yang diterjemahkan dengan alam ‘barzach’) yaitu alam maut, atau dunia maut, tempat orang mati, tempat yang dikuasai oleh maut, yang letaknya dipandang di dalam tanah (1 Sam 2:6; Yes 7:11; 28:18). Yang memasuki tempat ini bukan hanya orang jahat, tetapi juga orang beriman (Jakub : Kej.37:35 di sini diterjemahkan dengan ‘ke kubur’).&lt;br /&gt;b. Perjanjian Baru.&lt;br /&gt; Dalam PB keyakinan akan kebangkitan orang mati itu makin jelas, hal itu disebabkan karena karya Tuhan Yesus Kristus. Dalam Yoh. 11:25 Tuhan Yesus berkata: “Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati…..”. Kata-kata ini menunjukkan bahwa Kristus sendirilah kebangkitan dan hidup itu. Ia bukan hanya bangkit dari maut dan kemudian hidup; Ia bukan hanya membangkitkan dan menghidupkan orang mati (mis: Lazarus, putri Jairus dan pemuda dari kota Nain). Tetapi firman itu memberi arti bahwa  kebangkitan dan hidup memiliki dasar dan akar serta memanifestasi dalam diri Yesus Kristus. Keduanya, kebangkitan dan hidup  berada di bawah kuasaNya: Ia-lah Penghulu hayat (Kis Ras. 3:15; Batak : ‘partogi tu hangoluan’).&lt;br /&gt; Oleh hakekat diriNya yang demikian maka kebangkitan adalah pusat segala sesuatu dan menguasai segala sesuatu (1 Kor. 15:12-34). Dengan kebangkitanNya, Kristus melenyapkan maut dan melahirkan hidup yang tiada berkesudahan (2 Tim 1:10). Kebangkitan Yesus bukan sesuatu hal yang berdiri sendiri tanpa hubungan dengan  apapun. Yang bangkit itu adalah Kepala Gereja; dan Gereja itu adalah tubuhNya sendiri. Jika Kepala bangkit, tentu tidak hanya sebagian-sebagian, tubuh dan anggota-anggota tubuh lainnya juga akan mengikut Kepalanya. Kristuslah yang sulung dari kebangkitan itu, dan akan diikuti yang lain (Kol 1:18; Wahyu 1:5). Itu sebabnya Paulus berkata: “Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya” (1 Kor. 15:23). Jadi Allah yang sudah membangkitkan Tuhan Yesus Kristus dari antara orang mati, juga akan membangkitkan orang beriman dengan kuasaNya (1 Kor 6:14; 2 Kor 4:14). Jadi kebangkitan orang beriman pada akhir jaman ini kepada hidup yang kekal adalah suatu kenyataan yang tidak bisa diragu-ragukan, sebab Kristus sudah bangkit dari antara orang mati.&lt;br /&gt;c. Tubuh Rohani Orang Yang Dibangkitkan. Dalam 1 Kor 15:44 disebut bahwa orang beriman yang sudah dibangkitkan dari antara orang mati  itu akan mendapat tubuh rohani. Di sana disebutkan :  “Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah”.&lt;br /&gt;Pada 1 Kor 15:45 manusia pertama yaitu Adam adalah nyawa hidup sedang Adam Kedua (terakhir) yakni Yesus Kristus adalah roh yang menghidupkan. Itu sebabnya, semua orang yang percaya padaNya (Adam kedua itu!)  akan mendapat kehidupan baru dari padaNya.  Dalam 1 Kor 2:14 orang duniawi tidak menerima barang yang daripada Roh Allah. Yang dimaksudkan di sini  ‘orang duniawi’ adalah orang yang keadaannya menurut kodratnya, yang hanya memiliki hidup, tetapi tidak punya kuasa menghidupkan. Sedangkan orang rohaniah adalah orang yang hidupnya punya pertalian dengan Pemberi hidup itu oleh Roh Kudus; orang yang hidupnya menjadi tempat kediaman dari pada Roh Kudus, menjadi rumah rohani (1 Petr. 2:5), yang hidupnya dikuasai oleh Roh Kudus.&lt;br /&gt; Kelak orang beriman akan dikaruniai  tubuh yang rohani, yakni tubuh yang memiliki kekuatan  dan daya dari Roh Kudus secara sempaurna. Dalam Rom 8:11 kehidupan kembali tubuh kita yang fana ini dihubungkan dengan  Roh Kudus yang sudah berada di dalam diri orang beriman. Sebab di sana disebutkan  bahwa jika Roh Dia, yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati itu diam  di dalam diri kita, maka Ia itu, yang membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuh kita yang fana ini.&lt;br /&gt;Bagaimana perubahan dari ‘tubuh yang fana’ kepada ‘tubuh yang baru’ ini tidak pernah diterangkan dengan jelas. Orang beriman akan menjadi serupa dengan gambar  AnakNya (Rom 8:29). Untuk membuatnya serupa dengan  tubuh Anak itu adalah pekerjaan Roh Kudus yang tidak mungkin kita pahami. Demikianlah kelak pada hari kebangkitan orang-orang beriman akan dijadikan serupa dengan hidupNya; tubuh kita yang fana akan diubahkan seperti tubuhNya yang sudah dimuliakan&lt;br /&gt;Jadi, keselamatan itu nantinya bukan hanya pada nyawa orang beriman. Artinya bukan hanya ‘aku’nya atau ‘bathinnya' orang beriman; bukan juga  hanya tubuh atau hidup lahiriahnya. Tetapi seluruh hidupnya manusia itu, atau manusia seutuhnya, lahir dan juga bathin, tubuh dan jiwanya. Keduanya, jasmani dan rohaniah dimasukkan ke dalam harapan keselamatan yang sempurna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Makna Peringatan Orang yang meninggal Dunia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Gereja HKBP masih terus mempertahankan satu tradisi lama yang disebut dengan “Parningotan Di Angka Na Monding” yang di-Indonesiakan dengan “Peringatan Orang Meninggal”. Kita tidak tahu kapan mulai tradisi ini di HKBP, diperkirakan sudah sejak awal dilakukan acara khusus ini di dalam kalender gerejawi HKBP. Salah satu dari 52 minggu-minggu dalam satu tahun diperuntukkan mengingat orang yang meninggal. Pada acara ini semua nama-nama warga jemaat yang meninggal selama masa kurun waktu 52 minggu yang lalu (mulai dari Minggu Ujung Taon Parhurian yang lalu hingga Ujung Taon pada tahun berjalan ini) dibacakan, dan keluarga-keluarga yang mereka tinggalkan - yang pasti masih dalam keadaan berduka - didoakan secara khusus agar terhibur.&lt;br /&gt;Mungkin akan muncul pertanyaan, terutama dari kalangan warga jemaat yang masih muda (bahkan warga jemaat yang sudah tua pun belum tentu sudah précis memahami hal ini!), apa arti, makna dan tujuan acara ini dilakukan oleh pihak gereja? Bukankah dengan demikian perasaan pilu dan duka nestapa akan dibangkitkan kembali bagi keluarga yang ditinggalkan apalagi dengan menyebut nama-nama serta hari/tanggal wafat mereka, dan kemudian ada di antara keluarga yang menangis meraung-raung dalam acara itu?&lt;br /&gt;Konfessi (Pernyataan Iman) HKBP yang dirumuskan pada Tahun 1951 Pasal 16 TENTANG PERINGATAN ORANG MENINGGAL menyatakan demikian:&lt;br /&gt;Kita percaya dan menyaksikan:&lt;br /&gt;Manusia telah tentu satu kali mati dan kemudian daripada itu datang hukuman (Ibr 9: 27). Mereka itu akan berhenti dari kelelahannya (Wahyu 14: 53). Dan Yesus Kristuslah Tuhan dari orang-orang yang mati dan yang hidup. Dalam kita mengadakan peringatan kepada orang yang mati, kita mengingat pula akhir kita sendiri dan menguatkan pengharapan kita pada persekutuan orang-orang percaya, yang menetapkan hati kita di dalam pergumulan hidup ini (Wahyu 7: 9 – 17)&lt;br /&gt;Dengan ajaran ini kita menolak dan melawan ajaran animisme yang mengatakan: Roh-roh dari orang-orang mati masih dapat bergaul dengan manusia. Demikian pula ajaran yang mengatakan: Roh dari yang mati tinggal di kuburnya. Juga kita tolak ajaran dari Gereja Katholik Roma yang mengajarkan tentang api ujian (vagevuur) yang harus dialami seberapa lama untuk membersihkan roh orang mati, sebelum tiba kepada hidup yang kekal dan orang dapat melakukan missa untuk orang mati dan memdoakan orang mati itu supaya lebih cepat terlepas dari api itu.&lt;br /&gt;Demikian pula doa kepada roh dari orang-orang kudus dan yang mengharapkan bahwa kekuatan dan kekudusan orang itu dapat turun dari kuburan, pakaian, barang atau tulang-tulangnya (relikwi).&lt;br /&gt;Dari rumusan Konfessi HKBP di atas jelas bagi kita bahwa tujuan peringatan orang meninggal dulia ini bukanlah seperti yang dikatakan oleh pepatah orang Batak: “parigatrigat bulung gaol pasigatsigat hinalungun parungkarrungkar sidangolon”. Artinya bukan untuk membangkit-bangkitkan rasa duka cita yang mendalam buat keluarga yang ditinggalkan. Tetapi inti dari pada peringatan ini hendaklah menuju kepada kemenangan orang percaya atas maut dan kematian. Yesus Kristus telah mengalahkan kematian ketika Ia bangkit, dan kebangkitanNya menjadi buah sulung atas kebangkitan orang percaya. Lengkapnya demikian pernyatan kitab 1 Kor. 15:20+23 “20 Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. 23 Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya”.&lt;br /&gt;Perlu dijelaskan, meskipun nama-nama orang yang meninggal tahun itu dibacakan, sesungguhnya bukan nama-nama mereka itu yang menjadi tekanan; bukan mengingat pribadi-pribadi masing-masing orang yang meninggal dunia tadi yang lebih penting. Tetapi untuk mengingatkan kita akan hari kematian kita semua manusia kelak. Siapapun di antara kita yang masih hidup sekarang akan pasti mengalami kematian itu, sebab kematian itu adalah ‘jodoh’ kita semua. Semua kita sedang menunggu giliran alias ‘antri’ memenuhi panggilan kematian itu. Itu sebabnya ada ungkapan Latin yang mengatakan  MEMENTOMORI  artinya “Ingatlah akan hari kematianmu!”. Jangan lupa bahwa saya dan saudara semua pasti akan dijemput oleh kematian itu. Itu sebabnya harus sudah mempersiapkan diri sebelum kematian itu sungguh-sungguh nyata terjadi bagi hidup kita. Dan untuk itu pulalah Acara Peringatan Orang Yang Meninggal Dunia” terus dilanjutkan oleh tradisi gereja HKBP agar warganya tetap ingat dan peduli akan saat-saat kematiannya kelak. Dan apabila hal itu sungguh terjadi, tidak putus asa, tidak mengutuki Tuhan. Tentu keluarga yang ditinggal oleh orang mati itu pasti akan menangis dan bersedih; rasa pilu akan ‘memukul’ juga, tetapi bukan lagi seperti dukacita seorang yang tidak percaya, tetapi duka cita seorang yang punya pengharapan bahwa kelak orang yang mati dalam nama Tuhan Yesus itu akan berkumpul di Sorga bersama sekalian orang-orang tebusanNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Renungan Untuk Memperkuat Iman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Kenyataanya kita selalu menakuti kematian. Itu wajar sebab kematian itu akan mengakhiri segala sesuatuanya tentang hidup manusia itu. Namun yang tidak wajar adalah apabila kita secara berlebihan menakuti kematian itu. Adalah merupakan ketakutan yang berlebihan terhadap kematian itu apabila masih selalu kita ucapkan “santabi jabu on…..nunga monding si Anu!”. Kita ‘marsantabi’ terhadap kematian, apa itu wajar? Yang benar aja, kan?. Mungkin dalam hati kita, kematian tidak akan terjadi lagi kepada penghuni rumah ini apabila kita marsantabi (?) Atau, kematian tidak lagi ‘marah’ kepada kita apabila kita sudah ‘menghormatinya’? Tidak! Kematian akan datang juga meskipun berulang kali kita marsantabi kepada kematian itu. Kematian tidak akan dapat ditunda-tunda – termasuk oleh kemajuan teknologi manapun di dunia ini - apabila Tuhan sudah menghendakinya. Atau sebaliknya kematian tidak akan dapat menjemput manusia meskipun manusia itu menghendakinya terjadi dalam hidupnya. Itu sebabnya banyak orang yang berusaha membunuh dirinya dengan minum racun atau melompat dari tempat tinggi tidak mati-mati, karena bukan di sana kuncinya. Mati-hidupnya kita tetap berada di tangan Tuhan. Kita syukurilah kehidupan yang masih ada pada kita ini. Dan bila Tuhan masih mengijinkan kita hidup hingga hari ini, Tuhan menghendaki agar kita berbuah, bermakna, berarti buat orang lain, gereja dan bangsa kita. Syalom!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. Rudolf Pasaribu, S.Th., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Nopember 2009)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-4647409003012003080?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/4647409003012003080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=4647409003012003080&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/4647409003012003080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/4647409003012003080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/12/artikel-kematian-dan-kebangkitan.html' title='ARTIKEL: KEMATIAN DAN KEBANGKITAN MENURUT IMAN KRISTEN'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-3667128639071140766</id><published>2011-11-30T21:36:00.002+07:00</published><updated>2011-11-30T21:39:28.202+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: SINAMOT, ACUAN MATERIIL HARGA DIRI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak anak muda Batak sekarang ini, terutama yang sedang persiapan membangun rumah tangga baru, dipusingkan dengan serba serbi paradaton yang harus mereka ikuti dalam pernikahan, salah satunya adalah Sinamot. Fakta membuktikan ada pernikahan yang tertunda, bahkan tidak jadi dilangsungkan, karena Sinamot yang tidak disepakati. Bagi orang yang tidak memahami adat Batak memang jadi terlihat aneh, karena dianggap hal yang tidak relevan lagi di jaman modern seperti sekarang ini. Tapi bagi kita yang memang sudah dilahirkan sebagai orang Batak, maka mencoba memahaminya menjadi penting, agar kita tidak salah jalan dan tidak cepat-cepat menyimpulkan. Apa sih sesungguhnya Sinamot itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Esensi Sinamot&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman dan hasil observasi penulis, setidaknya ada tiga hal yang menjadi esensi dari Sinamot.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, Sinamot adalah tanda “penghormatan” keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. Sebagian dari kita mungkin mengikuti berita di media massa tentang bagaimana keluarga Joy Tobing yang “merasa” sangat dihina dengan kiriman sekantung daging dari pihak keluarga pria yang katanya adalah Sinamot. Ingat, bahwa selain bentuk dan nilainya, maka proses yang harus berlangsung untuk disepakatinya Sinamot juga harus disepakati dan dilakukan dengan benar dan dengan tata cara yang diakui secara adat Batak. Oleh karena itu, berdasarkan konsep “suhi ni ampang na opat” (empat unsur utama dalam pernikahan secara adat Batak) keberadaan “Tulang” (saudara laki-laki ibu) juga diikutsertakan dan menjadi bagian penting dalam proses pernikahan itu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, Sinamot adalah “bukti” atas komitmen terjadinya pernikahan secara adat. Artinya bukti atas janji pernikahan. Dalam adat Batak pernikahan bukan hanya menikahkan dua orang laki-laki dan perempuan, tapi juga “menikahkan” dua keluarga besar. Oleh karena itu keluarga besar masing-masing calon pengantin juga harus mengetahui, melihat dan menyepakati bukti itu. Karena pada akhirnya yang berkomitmen untuk terjadinya pernikahan adalah kedua keluarga besar itu. Artinya bahwa yang berkomitmen untuk mengikatkan diri satu sama lain adalah marga-marga yang terkait di dalamnya yang diwakili oleh kedua keluarga besar itu. Itulah makanya orang non-Batak seringkali terkagum-kagum kalau melihat jumlah yang datang saat pernikahan orang Batak. Sampai-sampai saat ini seringkali harus dilakukan dua acara terpisah, yaitu acara pernikahan secara adat dan acara resepsi yang mengundang rekan-rekan yang Non-Batak. Karena kalau disatukan akan menyulitkan pihak gedung untuk menampung. Menampung orang yang datang, dan menampung mobil-mobil yang harus parkir.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, Sinamot adalah “kesepakatan” atau perjanjian. Hukum adat mengakui adanya kesepakatan secara lisan. Dengan demikian ucapan yang keluar dari mulut seseorang sudah dianggap sebagai ikatan. Berbeda dengan hukum modern yang dilakukan secara tertulis. Demikian juga dengan janji pernikahan. Dengan dibuktikan melalui Sinamot, maka pernikahan itu menjadi terikat secara adat, dan selanjutnya menjadi ikatan perjanjian di antara kedua belah pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keluhuran Nilai Sinamot Terdegradasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Namun yang repotnya, ketiga esensi di atas akhir-akhir ini telah mengalami degradasi. Baik karena kurangnya pemahaman keluarga besar calon mempelai tentang proses berlangsungnya Sinamot, juga karena pemahaman yang salah dari banyak orang Batak sekarang ini yang menganggap Adat Batak itu kepanjangan dari cara-cara animisme atau dinamisme belaka. Lalu semakin banyak keluarga batak yang mulai terkooptasi oleh nilai-nilai materialisme dan hedonisme. Sehingga bagi mereka lebih penting nilai rupiahnya, daripada esensi penghormatannya. Lebih penting tingginya nilai Sinamot, daripada esensi dari komitmen pernikahan antara dua keluarga besar. Banyak orang berlomba-lomba untuk menaikkan besarnya Sinamot, supaya dilihat lebih hebat, lebih tinggi derajatnya dari keluarga yang Sinamot nya lebih rendah. Jadi sebenarnya sekarang ini ada faktor kompetisi harga diri orang Batak dalam Sinamot. Harga diri orang Batak saat ini seringkali diukur dari berapa besar Sinamot nya, bukan dari proses bagaimana Sinamot itu dilakukan secara benar dari perspektif keabsahan adatnya. Sinamot sekarang ini seringkali mengorbankan masa depan keluarga yang baru. Karena banyak keluarga yang melangsungkan pernikahan adat Batak secara jor-joran menaikkan Sinamot dan berpesta besar-besaran meskipun harus mengutang sana sini, dan menjual beberapa aset penting dari keluarga. Lalu selesai acara pasangan yang baru ini tidak memiliki “modal” yang cukup untuk memulai hidupnya. Akhirnya yang terjadi adalah si keluarga baru ini harus terseok-seok.&lt;br /&gt;Situasi inilah yang akhirnya menjadi beban anak-anak muda Batak sekarang ini untuk memutuskan menikah, karena persepsi orang Batak yang terlanjur salah terhadap Sinamot. Pasangan muda yang akan menikah selalu “dihantui” oleh pertanyaan dari anggota keluarga: “berapa Sinamot mu”. Bukan lagi pertanyaan seputar bagaimana persiapan mental mu, sudah berapa kali mengikuti bimbingan pra nikah di gereja, atau bagaimana rencana kalian setelah menikah. Keagungan nilai pernikahan mulai digusur oleh seberapa besar acara yang akan dibuat. Seberapa banyak tamu yang akan diundang. Acara pernikahan Batak sekarang ini mulai bergeser dari yang tadinya perikatan dua keluarga dalam adat Batak, ke arah penyelamatan muka keluarga dengan Sinamot yang sebesar mungkin. Sinamot sudah mulai bergeser dari penghormatan antar keluarga besar menjadi sekedar transaksional semata. Sinamot seringkali akhirnya direduksi menjadi sekedar jual beli belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lalu Bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini akhirnya harus dikembalikan kepada kita orang Batak. Sebab orang Batak memang terkenal dengan percaya dirinya yang tinggi. Bahkan seringkali tidak sadar akhirnya sampai pada ego yang tinggi. Kita harus jujur dengan itu. Semua maunya jadi raja. Ai sian bontian do au nunga raja...begitu kata kita. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan percaya diri yang tinggi. Tapi ketika itu sudah menyentuh ego yang membabi buta demi sekadar harga diri, sebaiknya kita mulai slowing down. Anak-anak muda harus berani bilang ke keluarga besar bahwa mempersiapkan kehidupan setelah menikah jauh lebih penting dari sekadar acara pernikahan sehari. Adat penting, Sinamot penting. Tetapi jangan sampai nilai-nilainya digeser menjadi pemuasan ego keluarga semata. Anak-anak muda Batak saat ini harus berani meluruskan cara pandang orang tua yang terhalusinasi oleh kepentingan harga diri sesaat. Kembalikanlah adat pada tempat dan nilai-nilai yang sesungguhnya. Besar kecilnya acara adat sesungguhnya bukan diukur dari jumlah uang yang digelontorkan, tetapi kelengkapan seluruh proses yang telah dilewati dengan benar dan kebesaran hati para anggota keluarga yang terlibat. Kebesaran hati untuk menerima apa yang ada, tidak berlebihan, dan tidak perlu mengorbankan masa depan keluarga muda yang baru meniti kehidupan rumah tangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah St. Mangara Sidabutar, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi November 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-3667128639071140766?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/3667128639071140766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=3667128639071140766&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/3667128639071140766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/3667128639071140766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/11/artikel-sinamot-acuan-materiil-harga.html' title='ARTIKEL: SINAMOT, ACUAN MATERIIL HARGA DIRI'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-3871874910489459852</id><published>2011-10-27T14:54:00.003+07:00</published><updated>2011-10-27T14:58:05.922+07:00</updated><title type='text'>RENUNGAN: DASAR KEHIDUPAN YANG HARMONIS ADALAH MENGASIHI (ROMA 12:9-12)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Paulus adalah salah seorang yang dipakai Allah sebagai Rasul untuk mengabarkan kabar baik kepada orang-orang di zaman itu. Kabar baik tentang Kristus, sekaligus pengajaran Firman dalam bentuk, misalnya nasihat. Pada dasarnya, perikop ini menjabarkan ayat 1-2 di pasal awal, yaitu berupa nasihat yang diberikan Paulus kepada semua anggota jemaat. Ay. 9-12 adalah nasihat yang disampaikan tentang pergaulan dengan orang-orang Kristen dan mengenai pergaulan dengan orang-orang non Kristen, ay.14-21. Keduanya tetap berdasar atas nilai atau unsur “ Kasih dan Perbuatan”.ay. 9 “Hendaklah kasih itu jangan berpura-pura hindarilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Kata “pura-pura” artinya main sandiwara atau lebih dekat kepada bersikap munafik., “Jauhilah” artinya = menjijikkan bahkan lebih kuat Dari pada menjauhi bahkan membenci kejahatan. “Lakukanlah atau lebih tepat berpeganglah”&lt;br /&gt;Kalimat ini adalah satu bagian yang sangat sejajar dalam maknanya. Makna kasih yang hendak ditunjukkan dalam nats ini adalah menunjuk kasih yang nyata (berbuat). Keberadaan kasih itu yang sebenarnya dan bukan yang setengah-setengah dalam konsep dan perbuatan atas dasar kasih dan perbuatan, hendak menunjukkan bahwa Kasih itu tidaklah merupakan suatu konsep tetapi nyata dalam perbuatan….artinya, didalam kasih tidak ada kejahatan sebab dalam kasih ada kebencian (pada kejahatan) dan selalu berpihak (berpegang dan melakukan) pada yang baik. Kata kasih yang dimaksudkan dalam hal ini adalah AGAPE, yaitu Kasih Allah yang telah dicurahkanNya, dalam hati kita manusia oleh Roh Kudus. Hal ini menyatakan juga bahwa Kasih yang dimaksudkan sangat bertolak belakang dengan kepurapuraan, kasih yang diharapkan dapat ditunjukkan secara nyata dan mampu memancar dalam perbuatan kita. Dalam bentuk kasih diperlukan adalah sebuah komitmen. Oleh karena itu kasih tidak ada gunanya tanpa perwujudan atau tindakan yang nyata.&lt;br /&gt;Ay. 10 “ Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat”.&lt;br /&gt;Kata kasih kembali lagi diungkapkan dalam ayat ini. Kasih dalam hal ini diarahkan bagi terwujudnya kasih dalam ruang lingkup persaudaraan (sesama orang Kristen). Kasih menjadi unsur  utama atau dasar bagi kehidupan serta dalam hidup persekutuan bersama. Kasih dan penghormatan adalah dua hal yang berbeda. Penghormatan belum tentu mengandung kasih, tetapi di dalam kasih terkandung unsur penghormatan atau rasa hormat (sebagai sesama). Kasih itu membawa manusia kepada kerendahan hati untuk dapat hidup saling menghormati satu dengan yang lain. Kata kasih yang diperdengarkan dalam kata aslinya berarti cinta yang mesra. Apapun yang menjadi ceritanya adalah bahwa kasih itu perlu diwujud nyatakan dalam hubungan sebagai saudara ( sesama Kristen atau non Kristen). Disini yang hendak dikatakan adalah supaya orang-orang Kristen mampu menempatkan kasih Allah itu dalam hubungannya dengan sesama dengan menghormati satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;Ay. 11 “ Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala- nyala dan layanilah Tuhan”.&lt;br /&gt;Kerajinan adalah salah satu bagian yang menjadi sisi kehidupan manusia . Setiap orang Kristen memerlukannya. Kitab suci selalu mengajak agar kerajinan manusia jangan mengendor. Ini ditemukan dalam Tuhan Yesus sendiri. Kerajinan adalah bagian hidup yang perlu dihidupkan sehingga menghasilkan suatu gerakan yang hebat. Semangat manusia kapan sajapun dapat mengendor dengan berjalanya waktu. Tetapi disini, hendaklah  roh manusia itu menyala-nyala, mendidih atau berkobar-kobar supaya kerajinan itu hidup. Sebab, roh manusia hanya dapat memiliki kerajinan, semangat dan gerakan oleh pengaruh Roh Kudus. Ia adalah roh yang berkuasa atas roh manusia. Dalam hal ini, manusia hendaknyalah  mengarahkan rohnya dalam kesungguhan dan ketaatannya pada Kuasa Roh. dengan begitu roh akan dimampukan hidup dan melayani Allah.&lt;br /&gt;Ay.12. “ Bersukacitalah dalam Pengharapan , sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa”.&lt;br /&gt;• Pengharapan adalah  salah satu sikap hidup orang percaya.  Pengharapan yang dimaksud bukanlah agar kita bahagia, agar kita sehat, berbudi dan agar kita berumur panjang. Yang dimaksud adalah pengharapan akan kedatangan dunia yang baru, akan kebangkitan dan kehidupan bersama Kristus.&lt;br /&gt;• Kata kesesakan dalam bahasa aslinya berarti kesengsaraan.. Kesengsaraan yang dimaksud adalah” kesengsaraan orang – orang percaya” yang melakukan kehendak Allah. Sebab kesengsaraan itu tidak terpisahkan dari kehidupan orang percaya (Yoh. 16:33), kesengsaraan yang dimaksud adalah karena melakukan kehendakNya.&lt;br /&gt;• Kata bertekun “ Secara khusus di dalam doa”. Bila demikian , bukan hanya sekedar berdoa tetapi juga menuntut ketekunan didalamnya, karena doa dalam ketekunan menjadikan komunikasi kita dengan Allah tidak terputus.&lt;br /&gt;Alkitab adalah buku berisikan Firman Allah yang mengatur kehidupan umat. Allah menghendaki hidup yang sesuai dengan kehendakNya, baik yang hidup pada masa lampau maupun jaman sekarang. Allah adalah sumber segala hidup dan Dia sendiri adalah Kasih. Jemaat didalam nats ini, memiliki sebuah PERINTAH UTAMA  yaitu “ untuk hidup dalam kasih”. Di dalam kasih, dalam persaudaraan, keharmonisan dan penghormatan yang mereka mimpikan akan terwujud. Bila demikian, kehidupan umat saat ini tentu kembali di pertanyakan. Apa perintah utama  dalam hidup kita sekarang ini bila dilihat dari tantangan dan perkembangan jaman. Disisi lain apa makna hidup kita  sebagai jemaat bila di perhadapkan dengan segala realitas- realitas pada masa kini.Memang pengikut Kristus selalu diperhadapkan dengan banyak perkara.(“Banyak perkara yang tak dapat  kita mengerti , mengapakah harus terjadi.. di dalam kehidupan ini.... Satu perkara yang kita simpan dalam hati tiada satupun kan terjadi, tanpa Allah perduli. Allah mengerti,.. Allah perduli segala persoalan yang kita hadapi tak akan pernah dibiarkannya kita bergumul sendiri sebab Allah mengerti.”) tetapi apakah perkara itu membuat kita kalah dan tidak menyatakan kasih yang sesungguhnya di dalam kehidupan kita? saudara-saudaraku Kekasih dalam Kristus Yesus:&lt;br /&gt;Secara khusus 150 tahun HKBP, Allah yang kita kenal mengerti tentang persoalan kita, Allah yang kita kenal mengetahui apapun yang menjadi beban kita namun hendaklah dalam semua itu kita saling menguatkan serta mengasihi karena itu adalah  buah dalam  persaudaraan menurut  Alkitab. Di mana kita sekarang ini menempatkan alkitab sebagai aturan hidup bersama, Allah yang dulu menyatakan Kasih dan kebenaranNya untuk membawa orang Batak mengenal Firman Tuhan tetap  ada sekarang bekerja dan melihat hidup kita. Allah mau kehidupan Jemaat HKBP dalam usia 150 hendaknya saling mengasihi, tetap bertumbuh seturut dengan Firmanya dan mari kita menjalin  kasih sebagaimana Yesus mengasihi kita sampai saat ini.  Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. L. br. Simanjuntak, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Oktober 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-3871874910489459852?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/3871874910489459852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=3871874910489459852&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/3871874910489459852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/3871874910489459852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/10/renungan-dasar-kehidupan-yang-harmonis.html' title='RENUNGAN: DASAR KEHIDUPAN YANG HARMONIS ADALAH MENGASIHI (ROMA 12:9-12)'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-3288193860555424454</id><published>2011-09-29T21:44:00.003+07:00</published><updated>2011-10-27T14:57:04.968+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL; PELUANG JEMAAT UNTUK MENJABAT KEPALA BIDANG DIAKONIA, MARTURIA, KOINONIA DI TINGKAT DISTRIK HKBP</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Aturan Peraturan HKBP 2002 yang baru, pucuk pimpinan HKBP di tingkat Distrik adalah Praeses yang  dibantu dengan Kepala Bidang  Diakonia, Kepala Bidang  Kononia dan  Kepala Bidang  Marturia. Maksud  tujuan serta tugas Kepala Bidang  sudah jelas diatur dalam AP HKBP. Jabatan Kepala Bidang di tingkat Distrik  HKBP sudah berlangsung 7 tahun, yaitu 4 tahun pada periode  2004-2008 dan 3 tahun pada periode 2008-2012. Di tingkat Huria atau Gereja HKBP seluruh Indonesia saat ini, Ketua Dewan Diakonia, Dewan Marturia, Dewan Kononia sudah dijabat oleh jemaat HKBP. Di Distrik Jakarta sudah ada Dewan Diakonia, Dewan Kononia dan Dewan Marturia tingkat Distrik. Dewan inipun sudah dijabat oleh para jemaat HKBP. Dewan tingkat Distrik sudah  banyak  membantu program para Kepala Bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana Pula Dengan Kegiatan Kepala Bidang Diakonia, Marturia, Kononia Tingkat Distrik Yang Dijabat Oleh Para Pendeta? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Penulis dan hasil pengamatan selama 7 tahun mengikuti kegiatan HKBP  di Distrik Medan Aceh adalah sebagai berikut? Para Kepala Bidang aktif membantu Praeses menyelesaikan  permasalahan  yang ada di Jemaat maupun Resort di Distrik Medan Aceh, antara lain permasalahan yang terjadi di Gereja HKBP Banda Aceh dll. Para Kepala Bidang aktif membantu Praeses mengurusi keuangan Distrik dimana sering juga secara langsung mengumpulkan kontribusi / kewajiban  jemaat / resort yang ada  di Distrik . Para Kepala Bidang aktif membantu Distrik melakukan verifikasi keuangan Resort. Para Kepala Bidang aktif membantu Praeses dalam Sinode Distrik dan dalam kepanitiaan di tingkat Distrik seperti Panitia Paskah, Panitia Pembangunan dll. Para Kepala Bidang aktif berkotbah bila ada undangan dari Jemaat atau Resort., ataupun mewakili Praeses. Seluruh kegiatan diatas adalah dibidang  ibadah dan  manajemen Distrik. Penulis  belum melihat kegiatan yang menonjol di bidang Diakonia, Marturia dan Kononia sesuai tugas masing masing dari para Kepala Bidang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Usulan Kegiatan Yang Seharusnya Dilakukan Kepala Bidang Distrik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di Distrik Medan Aceh terdapat 1 universitas milik HKBP  yaitu Universitas HKBP Nomensen, dan ada 27 sekolah milik HKBP yang dikelola langsung oleh Gereja HKBP setempat. Sekolah yang menonjol antara lain Sekolah HKBP di HKBP Padang Bulan  Medan dan Sekolah HKBP di Gereja HKBP Sidorame Medan. Sekolah HKBP lainnya sepertinya megap megap.  Sekolah  HKBP di Gereja HKBP Sei Putih dan Gereja HKBP  di HKBP Sei Agul sudah lama tutup.  Selanjutnya di Distrik Medan Aceh juga sudah terdapat beberapa koperasi HKBP, Credit Union HKBP dan klinik HKBP. Semua berjalan  sendiri sendiri didampingi oleh Badan Pengelola atau gereja HKBP setempat. Para Praeses diusulkan  membuat Dewan Diakonia, Dewan Marturia, Dewan Kononia di tingkat Distrik, serta membuat Majelis Pendidikan, Majelis Kesehatan, Majelis Pemberdayaan Ekonomi dan badan badan lainnya di tingkat Distrik. Praeses melalui para Kepala Bidang agar  membuat Rapat koordinasi se Distrik untuk para dewan diakonia, kononia ,marturia tiap gereja. Kegiatan tersebut  bisa dilakukan secara sub wilayah /regional di Distrik. Praeses melalui Kepala Bidang Diakonia bisa melakukan rapat koordinasi  bidang pendidkian untuk Para Kepala Sekolah HKBP, Yayasan Pendidikan HKBP  yang ada di seluruh Distrik. Demikian juga membuat  rapat koordinasi bidang pemberdayaan ekonomi dengan seluruh pengelola koperasi  HKBP  dan Credit Union HKBP yang ada di Distrik. Praeses melalui Kepala Bidang Kononia bisa melakukan rapat koordinasi bidang kepemudaan dengan seluruh Pengurus  NHKBP dan PPND yang ada di Distrik. Keberadaan PPND (Naposobulung Distrik) secara AP HKBP 2002 tidak ada lagi, tetapi secara real mereka masih eksis. Diusulkan  agar PPND  diajak kerja sama untuk pengembangan kegiatan kepemudaan di tingkat Distrik. Kegiatan donor darah yang dilakukan Panitia Jubileum 150 tahun HKBP  akan lebih berhasil  untuk  menjangkau seluruh jemaat , bila  naposo bulung (PPND dan NHKBP)  dilibatkan sebagai panitia donor darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Usulan Jemaat HKBP Menjabat Kepala Bidang di Distrik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kepala Bidang Diakonia, Martuira, Kononia selama ini adalah pendeta yang ditempatkan oleh Kantor Pusat. Mereka  sering berganti karena mutasi atau pindah. Fasilitas yang disediakan dan operasional yang harus dibiayai oleh kantor Distrik antara lain Perumahan, transportasi.&lt;br /&gt;Diusulkan  Kepala Bidang  di tingkat Distrik bisa dijabat oleh  jemaat yang ada di Distrik dan yang bukan Pendeta. Sehingga dapat lebih pasti  kerjanya, karena tidak mutasi. Pembiayaan akan lebih efisien karena bila dijabat oleh  Jemaat di Distrik, mereka  umumnya sudah punya  rumah sendiri dan kendaraan sendiri. Saat ini di  tingkat jemaat dan gereja, dewan Diakonia, Marturia, Kononia dijabat oleh jemaat maupun parhalado (sintua). Tentunya Kepala Bidang Distrik  juga bisa dijabat Jemaat maupun parhalado sintua. Pekerjaan Kepala Bidang di tingkat distrik adalah pekerjaan teknis bukan pekerjaan partohonan di bidang tata  ibadah. Sehingga seorang jemaat yang profesional di bidangnya dan mempunyai kemampuan manajemen tentu bisa dipilih sebagai Kepala Bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pembentukan Jabatan Wakil Praeses  Bidang Diakonia, Wakil Praeses  Bidang Marturia, Wakil Praeses  Bidang Kononia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jabatan Kepala Bidang   akan  lebih effektif apabila diganti nama menjadi jabatan Wakil Praeses Bidang Diakonia, Wakil Praeses  Bidang Marturia, Wakil  Praeses  Bidang Kononia.&lt;br /&gt;Keberadaan Jabatan Kepala Bidang   merupakan unsur pucuk pimpinan HKBP di tingkat Distrik, bila ingin diganti nama dengan jabatan Wakil Praeses  Bidang Diakonia, Wakil Praeses Bidang Marturia dan Wakil Praeses  Bidang Kononia,  tentulah  harus mempunyai payung hukum didalam Aturan Peraturan HKBP dan mejadi Program HKBP  yang ditetapkan sebagai Keputusan  Sinode Godang  2012. Kita harapkan nantinya para Kepala Bidang akan menjadi maksimal kerjanya dan kegiatan Distrik HKBP akan semakin berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah  Ir. Raya Timbul Manurung M.Sc., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi September 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-3288193860555424454?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/3288193860555424454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=3288193860555424454&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/3288193860555424454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/3288193860555424454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/09/artikel-peluang-jemaat-untuk-menjabat.html' title='ARTIKEL; PELUANG JEMAAT UNTUK MENJABAT KEPALA BIDANG DIAKONIA, MARTURIA, KOINONIA DI TINGKAT DISTRIK HKBP'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-1944136311259616203</id><published>2011-09-28T20:36:00.003+07:00</published><updated>2011-09-28T20:41:09.984+07:00</updated><title type='text'>RENUNGAN: BERIMAN DAN BERHIKMAT</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;“Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.”&lt;br /&gt;(1 Raja 3:8)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bahwa kita perlu beriman tidak ada yang ragu-ragu! Tapi, apakah kita butuh hikmat? Ini bisa diwacanakan. Kita tidak perlu wacana. Yang kita butuhkan adalah ketegasan. Yang pasti: kita juga butuh hikmat! Yesus juga menganjurkan dalam Matius 10:16, tapi dalam Alkitab terjemahan LAI diterjemahkan dengan kata ‘cerdik’ dari akar kata yang sama dengan ‘bijak’ atau ‘berhikmat’ yaitu kata: phronimoi. Senada dengan itu dalam nas sejajar juga ada seruan Tuhan untuk ‘berhati-hati’ (Markus 13:13) dan ‘waspada’ (Lukas 12:1) semuanya dalam konteks masa kritis dari perwujudan Kerajaan Allah.&lt;br /&gt;Dalam konteks itu, ambil bagian dalam Kerajaan Allah tidak berarti menjalani kehidupan dengan tenang-tenang saja. Hidup akan selalu mulus, tidak akan ada tantangan yang berarti, kita boleh nyenyak tidur dan lahap makan…bukan itu jenis kehidupan yang sedang kita jalani. Sebaliknya, hidup menyambut Kerajaan Allah, apa lagi sampai ikut dipakai Tuhan untuk meluaskan Kerajaan Allah, tentunya akan berhadapan dengan tantangan-tantangan yang tidak mudah. Tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil untuk dihadapi oleh karena kekuatan dari orang percaya adalah Allah yang berkenan melayakkan kita (yang sebelumnya tidak layak!). Justru di sini kita butuh hikmat, yaitu ketika kita mewujudkan kehidupan yang mendapat dukungan dan penyertaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apakah yang Dimaksud dengan Hikmat?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salomo merupakan ikon hikmat dalam dunia Perjanjian Lama bahkan Alkitab secara keseluruhan. Yesus juga ada menyinggung hikmat Salomo yang amat kesohor itu. Bukanlah tanpa alasan kalau kata hikmat melekat pada namanya. Oleh hikmat, Salomo dapat memimpin umatnya dengan penuh ketentraman. Ia dikenal tidak hanya oleh kalangan umat tapi juga sampai keluar kerajaannya.&lt;br /&gt;Satu contoh hikmat Salomo yang sangat spektakuler adalah ketika ia mengadili dua orang ibu yang berebut anak yang hidup. Direnungkan dari pojok awam, cara Salomo dalam mengambil keputusan amat mengesankan. Perintahnya untuk memenggal kedua anak yang hidup ternyata menimbulkan dua reaksi yang berbeda dari kedua ibu. Ternyata reaksi itu menentukan siapa ibu yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Tapi hikmat tidak hanya terbatas kepada kearifan dalam menimbang sebuah perkara atau dalam mengambil keputusan. Hikmat pada masa Raja itu juga mencakup ketrampilannya dalam membuahkan karya seni berupa tiga ribu amsal, seribu lebih nyanyian, sajak tentang pohon, percakapan hewan (1 Raja 4:32) dan teka-teki (1 Raja 10:1-2).&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan dunia Timur Dekat kuno, pada jaman itu, ternyata ‘Hikmat’ telah menjadi sebuah istilah teknis untuk aneka pengetahuan yang berguna bagi manusia. Sebagai pengetahuan yang berguna bagi manusia, hikmat ini telah melembaga. Ada bahan ajar yang diturun-alihkan (lisan maupun tulisan), ada guru dan murid, ada tempat-tempat pengajaran (semula di lingkungan istana tapi kemudian juga di tempat-tempat yang resmi dan ditujukan bagi masyarakat secara umum baik untuk menjadi calon pekerja di istana maupun bagi yang mau bekerja bagi tuan-tuan tanah). Memang ada juga hikmat rakyat yang pemakaiannya untuk tujuan hiburan (bandingkan nyanyian rakyat, berbalas pantun, pesta orang muda, pesta panen, dll). Dengan singkat, hikmat pada masa itu dapat kita sebut sebagai lembaga pengajaran masyarakat kuno yang utamanya ditujukan bagi kalangan istana dan bangsawan. Tapi ada pula hikmat yang berkembang di kalangan rakyat baik yang mengandung nasihat maupun yang sifatnya hiburan.&lt;br /&gt;Di tengah-tengah interaksi semacam itu, bukan tidak mungkin pengajaran agama di lingkungan penganut Yahwisme (agama Perjanjian Lama) juga ada mengikuti tatacara pengajaran sebagaimana dikenal di dunia masyarakat secara umum. Demikianlah selanjutnya kita dapat melihat di dalam kitab Amsal aneka contoh hikmat (lihat Amsal 1:1-6). Ada hikmat yang memberi tuntunan bagi orang muda agar dalam kehidupannya berhasil. Ada yang mengandung nasihat agar tegas melawan kebodohan: jerat dosa amoral, kemalasan, dll. Namun, hikmat Israel tetap memiliki sesuatu yang khas. Bagi umat Israel hikmat dimengerti sebagai karunia Allah. Itu sebabnya yang menjadi semboyan dari hikmat adalah: Takut akan Allah (Amsal 1:7). Pada masa ini hikmat dapat kita bandingkan dengan ilmu pengetahuan praktis (terapan) berupa tuntunan moral, tuntunan bagi orang muda yang ingin hidupnya berhasil, dan tuntunan agar menjadi bijak dalam arti tidak hanya hidup sekadar untuk mengisi perut dan mencari untung, tapi hidup yang terhormat, berkecukupan, bahkan mengalami pertolongan Tuhan oleh karena cara hidup yang sejalan dengan tuntutan hukum Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hukum Taurat saja Cukup?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Umat Israel sebetulnya telah memiliki Hukum Tuhan yang dikenal dengan nama Hukum Taurat Allah. Yang dimaksud dengan hukum Taurat Allah bukan hanya Dasa Titah (Dekalog Etis). Masih ada lagi yang disebut dengan Dekalog Kultis (aturan tentang penyembahan). Selain itu juga ada sejumlah ketetapan yang mengatur tata social, misalnya jika ada konflik, jika ada orang miskin, dst. Namun ternyata dibutuhkan tata kehidupan lain yang tidak diatur dalam Hukum Taurat. Ada sebuah kebutuhan yaitu pegangan hidup yang tidak diatur dalam Hukum Taurat tapi secara praktek mereka pakai. Termasuk di dalamnya pengalaman praktis yang telah mereka hidupi sebagai pelajaran hidup, baik yang mereka peroleh sebelum mengenal hukum Taurat maupun pelajaran hidup yang diperoleh ketika Hukum Taurat telah mereka terima di gunung Sinai. Seperti telah disebutkan di atas, hikmat yang dimaksud dapat meliputi pengalaman dalam pergaulan, pengalaman dalam menunaikan pekerjaan, pengalaman dalam keluarga, pengalaman dengan keluarga istana maupun dengan masyarakat secara umum. Bahkan, hikmat dapat pula berarti, pengalaman-pengalaman dalam medan kehidupan setelah Hukum Taurat mereka kenal.&lt;br /&gt;Selanjutnya ada kebutuhan hikmat yang baru yaitu ketika mereka hancur sebagai kerajaan yang berdaulat pada tahun 587 sebelum Masehi. Tidak bisa tidak, kehidupan harus diteruskan. Mereka tidak bisa melupakan begitu saja masa kejayaan sebagai Monarkhi-Teokrasi. Betapapun pahitnya, mereka harus menerima. Sambil memetik makna secara konseptual, pada waktu yang sama mereka harus menjalani kehidupan praktis. Dalam kondisi seperti itu mereka membutuhkan kearifan yang baru. Dengan hancurnya bait suci dan tatanan yang telah ada, mereka dikondisikan untuk memulai sesuatu corak keberagamaan yang baru, pada waktu yang sama juga corak hikmat yang baru. Tapi tetap harus dalam kerangka Taurat yang ada. Tidak boleh melenceng dari Hukum Tuhan yang ada yaitu: Hukum Taurat! Ini pun disebut Hikmat juga! Dengan demikian kita melihat bahwa Hikmat memenuhkan apa yang masih kurang. Hukum Taurat yang diterima melalui Musa di gunung Sinai memuat sejumlah norma hidup yang meliputi aturan ibadah dan keagamaan dan tata sosial. Toh, masih dibutuhkan pegangan-pegangan hidup dalam corak yang lain semisal pelajaran dari pengalaman. Ada pelajaran yang berharga yang dapat dipetik dari orang kecerobohan orang. Hal itu sebaiknya jangan dicontoh. Ada pula pelajaran berharga dari orang-orang yang rajin. Itu sebaiknya ditiru. Bila perlu mencontoh dari hewan, nggak apa-apa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dulu Taurat sekarang Iman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Perjanjian Baru, fungsi Iman tampaknya disejajarkan dengan fungsi Taurat. Sebagaimana Taurat dibutuhkan dalam kehidupan umat pilihan pada masa Perjanjian Lama, maka demikianlah pula pada masa Perjanjian Baru fungsi itu diambil alih oleh fungsi Iman. Kepatuhan terhadap Taurat akan mendatangkan keselamatan dan berkat. Itu dulu! Sekarang: hanya dengan beriman saja.keselamatan telah menjadi milik kita. Dari pojok ini kita mengatakan bahwa ada benarnya jika dikatakan bahwa norma iman amat penting dalam komunitas Perjanjian yang Baru. Namun demikian fungsi iman tidak cukup secara sempit dilihat hanya sebagai ganti melakukan Hukum Taurat.&lt;br /&gt;Pertama-tama, dalam masa Perjanjian Lama juga dibutuhkan iman. Yaitu iman yang membuat Abraham menaruh harapan kepada sebuah masa depan. Begitu pula iman yang membuat keturunan Yakub menantikan sebuah masa depan di tanah yang baru. Masih juga terlihat, bagimana peran iman pada masa umat Israel ketika menghadapi banyak bahaya musuh, apalagi setelah kejatuhan Yerusalem. Jadi iman adalah sesuatu yang memang tidak dapat lekang dari umat pilihan baik pada masa Perjanjian Lama maupun masa Perjanjian Baru.&lt;br /&gt;Yang membuat iman pada masa Perjanjian Baru lebih khas adalah oleh karena umat Allah telah tiba pada titik yang amat signifikan. Rencana agung Allah yang telah dicoba diberitahukan dan dinubuatkan sebelumnya kini menemui penggenapan! Apa yang dinubuatkan kita telah digenapi. Apa yang ditunggu telah tiba. Masa penyelamatan umat pilihan telah tiba. Lalu sasaran penyelamatan dalam jaman yang baru ini juga tidak dibatasi kepada sebuah etnis saja, tapi meliputi bangsa-bangsa (baca: segala bangsa!)  Iman sebagai dasar yang amat menentukan dalam komunitas umat pilihan adalah prasyarat mutlak. Namun perlu pula ditegaskan bahwa iman yang dimaksud bukan sebagai penyebab dari keselamatan tapi sebagai katup pembukaan diri dari manusia untuk dimasuki oleh anugerah Tuhan. Tidak beriman berarti tidak mau membuka pintu hati bagi pengampunan maupun penyelamatan Allah yang telah Allah kerjakan di Golgata!&lt;br /&gt;Seterusnya pembukaan hati itu perlu diikuti oleh keteguhan dan ketekunan. Inilah yang tampaknya sulit untuk dipertahankan pada jaman ini. Pada umumnya setiap orang terbuka kepada hal-hal yang baru. Namun apakah hal-hal yang baru itu kemudian menjadi bagian yang menetap dari kehidupannya, ini adalah pertanyaan ikutan yang harus yang harus dikumandangkan.&lt;br /&gt;Kuatnya iman dalam arti tidak goyah, baik oleh penganiayaan maupun oleh godaan hidup duniawi, dst adalah kunci kebertahanan dalam Kerajaan Allah. Iman menjadi kunci kemenangan dalam menghadapi pelbagai tantangan kehidupan. Lalu dari sini kita melihat hubungannya dengan kebutuhan akan hikmat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beriman dan Berhikmat!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hikmat adalah kecakapan hidup, demikian dalam Perjanjian Lama. Pada masa kini kata hikmat mungkin lebih tepat diterjemahkan dengan kecerdasan. Semula kecerdasan yang paling dikejar adalah kecerdasan intelektual. Pada masa kini telah dikembangkan bahwa selain cerdas secara intelektual, dibutuhkan pula jenis kecerdasan yang lain yaitu: kecerdasan emosional (oleh agamawan ditambah dan dirangkum dengan kecerdasan spiritual!).&lt;br /&gt;Cerdas secara intelektual berarti memaksimalkan logika. Manusia memiliki kemampuan berpikir yang amat mengagumkan. Kemampuan berpikir rata-rata manusia lebih daripada yang dapat dibayangkan oleh siapapun. Orang dengan tingkat kecerdasan intelektual yang pas-pasan ternyata mampu mengingat sebuah ensiklopedi (bayangkan!). Tapi itu bisa tidak maksimal jika ia juga tidak cerdas secara emosional. Kapasitas intelektual mesti ditopang oleh keberadaan emosional yang stabil. Tidak hanya stabil, tapi menimbulkan enerji yang luar biasa. Kecerdasan emosional dapat dilihat dari semangat yang kuat tapi tidak rapuh jika berhadapan dengan tantangan. Sepertinya untuk masa kita ini, kita bisa menemukan orang-orang yang tangguh secara iman. Mereka adalah orang-orang yang tidak tergoda oleh harta duniawi. Tidak bergeming mesti diolok-olok. Tidak gonta-ganti agama dan gereja meski dianiaya. Tetap rajin sembahyang mesti rejekinya tetap pas-pasan. Tidak jatuh kepada dosa amoral (jatuh kepada perbuatan asusila) dan dosa kriminal (jatuh kepada tindak kejahatan). Mereka adalah orang-orang yang tangguh dan militant. (Bahkan rohaniwan belum tentu seperti itu!)&lt;br /&gt;Namun tampaknya mereka juga butuh hikmat baru. Yaitu hikmat yang membuat mereka tidak kehilangan rasa humor. Hikmat yang membuat mereka dengan lincah menempatkan diri kepada segala situasi tanpa harus kehilangan jatidiri. Ini dia yang sulit. Bagaimana kita dapat hidup dimanapun tanpa harus larut, tapi tetap menunjukkan nilai yang berbeda.&lt;br /&gt;Mungkin itu beda-beda tipis dengan permisif kepada segala nilai. Bunglon. Kepada kejahatan. Kepada penindasan, ya: asal bukan saya! Kepada pelaku kejahatan kita bilang tidak apa-apa! Kepada orang yang hidup di dalam kemunafikan kita bungkam. Mungkin ada sejumlah alasan. Mulai dari takut orangnya tersinggung. Takut nanti kita tidak ditemani. Takut nanti kita dinilai tidak setia kawan…Begitukah?&lt;br /&gt;Tampaknya untuk area di sini kita betul-betul diajak mikir. Harus ada beda antara, di satu sisi: mampu menempatkan diri secara luwes dan lincah dalam menerapkan norma-norma hidup beriman dengan di sisi yang lain: tidak punya sikap terhadap nilai-nilai yang ada seolah-oleh segala sesuatu adalah boleh! Itulah hikmat: kita tahu apa yang patut yang tidak. Kita tahu apa yang harus dilakukan pada saat yang tepat! Berarti hikmat yang benar butuh penerangan Allah, tapi juga dibarengi oleh tekad untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah pada segala keadaan. Di manapun dan kapanpun, taat dan hormat pada Allah serta kasih terhadap sesama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. Maurixon Silitonga, M.Th., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi April 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-1944136311259616203?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/1944136311259616203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=1944136311259616203&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/1944136311259616203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/1944136311259616203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/09/renungan-beriman-dan-berhikmat.html' title='RENUNGAN: BERIMAN DAN BERHIKMAT'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-6501671706694859387</id><published>2011-09-23T20:33:00.004+07:00</published><updated>2011-09-26T06:31:11.736+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: JUBILEUM HKBP DI TINGKAT RESSORT HKBP SEMPER</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-4vd-q-xxV9Y/TnyNQ1w96PI/AAAAAAAAAMY/MhHTh2nU-7w/s1600/IMG_3283.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-4vd-q-xxV9Y/TnyNQ1w96PI/AAAAAAAAAMY/MhHTh2nU-7w/s200/IMG_3283.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5655550552520386802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari ini tanggal 4 September 2011 juga bertepatan dengan terbitnya buletin ini, HKBP Ressort Semper melaksanakan perayaan 150 tahun HKBP di tingkat Ressort sesuai dengan Program yang telah ada dari Kantor Pusat bahwa pelaksanaan Jubelium 150 tahun HKBP dilaksanakan tingkat Nasional, Regional, Ressort dan Pagaran atau Huria. Untuk menyongsong  Perayaan Jubileum 150 tahun HKBP tanggal 7 Oktober 2011 nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I. Pengertian Dan Dasar Berjubileum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Jubileum&lt;br /&gt;Jubileum berasal dari kata Heber atau Hebrew atau Ibrani yaitu Yovel yang berarti domba jantan. Hubungannya yaitu pada tahun 50 sesudah bangsa Israel meninggalkan Mesir mereka merayakan hal itu sebagai tahun ucapan syukur kepada Tuhan dengan meniup terompet dari tanduk domba jantan. Berarti mereka bergembira ria mengucapkan puji syukur kepada Tuhan atas anugerah yang mereka terima.&lt;br /&gt;Jubileum yang biasa orang Batak laksanakan berdasar pada hari-hari bahagia seperti hari jadi ( kelahiran) , hari ulang tahun perkawinan, hari ulang tahun pengabdian. Kebiasaan ini diadopsi menurut tradisi Belanda atau Jerman dengan kelipatan 25 tahun misalnya umur 25 tahun disebut jubileum perak (biasanya untuk perkawinan dari umur berdirinya suatu gereja). Jubileum sere (emas) untuk umur 50 tahun dan jubileum intan atau berlian untuk umur 75 tahun. Biasanya yang dilaksanakan di Angkola dimana seorang orangtua atau ompung berumur 75 tahun maka anak-anak dan cucu dari seluruh penjuru mata angin berkumpul dikampung mengadakan horja 3 hari 3 malam dan memberi hadiah tongkat yang berkepala gading sekarang kepala tongkat diganti emas untuk ompung tersebut. Sekarang perayaan atau pesta hanya satu hari tanpa horja (ulaon sadari kata orang Batak di Jakarta). Tetapi untuk tradisi Inggris umur 75 tahun diganti dengan 60 tahun disebut Diamond jubilee. Ulang tahun atau Jubileum setelah lewat 75 tahun, tidak ada lagi nama  benda atau batu berharga cukup langsung pada umur tahunnya saja seperti Jubileum 150 tahun HKBP sekarang ini. Dan apakah ada pesta diluar kelipatan 25 tahun bisa disebut pesta parolop olopon contoh: kalau kita lihat Almanak HKBP tahun 2004 halaman 446 ditulis dengan ragu-ragu 6 Juli 1980 jubileum (parolop olopon) 40 taon HKBP manjujung Baringinna tetapi pada Almanak HKBP tahun 2010 hal 452 ditulis dengan tegas disebutkan 6 Juli 1980. Parolop olopon 40 taon HKBP manjujung baringinna dan hanya pada tanggal itulah satu-satunya yang mencantumkan pesta Parolopolopon yang dilaksanakan atau ditulis dalam Almanak HKBP tersebut.&lt;br /&gt;Ada beberapa pengertian atas jubileum 150 tahun HKBP tersebut sebagai berikut;&lt;br /&gt;1. Tahun jubel adalah tahun pembebasan dimana orang atau bangsa Batak 150 tahun yang lalu telah mulai bebas dari cengkraman kekuasaan kegelapan dunia dan menerima terang Jesus Kristus dengan dibaptisnya Pagar menjadi Simon Petrus Siregar dan Main menjadi Jakobus Tampubolon Pohan di Parausorat Sipirok pada tanggal 15 Maret 1861 sesuai dengan Taft Register HKBP Bungabondar dengan nomor urut 1 karena Simon Petrus Siregar adalah anak dari Raja Bungabondar sedangkan Jakobus Tampubolon Pohan kelahiran Tarutung tinggal di Barus. Sebagai catatan menurut tradisi gereja hari pertama pembaptisan adalah tanggal hari lahir gereja dan tradisi ini juga yang kita terapkan dalam menentukan hari jadi HKBP Semper Ressort Semper Jakarta yaitu tanggal 15 Desember 1974.&lt;br /&gt;2.   Tahun jubel ini juga merupakan tahun ucapan syukur kita kepada Tuhan atas anugerahnya dimana pada tanggal 15 Maret 1861 yang dibaptis oleh zendeling Gustav Van Asselt di Parausorat hanya dua orang tetapi sesudah 150 tahun yang dibaptis sudah 5 juta orang belum lagi termasuk dari gereja-gereja yang dipajae atau dimandirikan dengan resmi, dan gereja-gereja yang memandirikan diri sendiri alias memisahkan diri dari HKBP tentunya dengan segala macam alasan.&lt;br /&gt;3.  Tahun jubel ini juga menjadi tahun mawas diri dan mengevaluasi diri bagaimana kehidupan bergereja kita sekarang ini diantara gereja-gereja tetangga yang sedemikian kuat berusaha menarik jemaat kita untuk bersama mereka dengan segala macam fasilitas pelayanan yang wah dan menggiurkan.&lt;br /&gt;4.  Tahun jubel ini juga menjadi renungan bagi kita untuk berbuat sesuatu dimana setiap tahun jubileum HKBP selalu meninggalkan bekas berupa apapun yang di wariskan untuk generasi penerus berupa gedung gereja, gedung sekolah dasar, menengah dan atas, rumah sakit, perguruan tinggi dan panti asuhan.&lt;br /&gt;B. Dasar penetapan tahun jubileum.&lt;br /&gt;Dasar penetapan tahun jubileum tersebut adalah perintah Tuhan kepada bangsa Israel sesudah mereka keluar dari perbudakan oleh bangsa Mesir saat tiba di gunung Sinai menuju tanah perjanjian yaitu Tanah Kanaan yang penuh dengan air susu dan madu. Menurut Alkitab (Perjanjian Lama) yang menjadi dasar jubileum tertulis dalam Imamat 25:1-55 dengan penjelasan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Perihal aturan pelaksanaan pada tahun jubel tertulis pada ayat 1:7.&lt;br /&gt;2. Perihal tahun ucapan syukur tertulis dalam ayat 8:13.&lt;br /&gt;3. Perihal penebusan tanah tertera pada ayat 14:28.&lt;br /&gt;4. Perihal penebusan rumah tertera pada ayat 29-34.&lt;br /&gt;5. Dan perlakuan terhadap orang miskin tertulis dalam ayat 33-55.&lt;br /&gt;Perhitungan tahun adalah 7x7+1 tahun= 50 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II. HKBP Telah Beberapa Kali Berjubileum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah dikemukakan dimuka bahwa HKBP sudah beberapa kali melaksanakan jubileum kelipatan 25 tahun sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Jubileum 50 tahun HKBP (namanya masih zending Barmen atau Pardonganon Mission Batak dan baru namanya resmi HKBP sejak tanggal 11 Juni 1931 saat telah diundangkan sebagai badan hukum (recht person) dengan persetujuan pemerintah Belanda, Jubileum pertama itu dilaksanakan pada 7 Oktober 1911 yang dipusatkan di Bungabondar, Sipirok mencakup daerah Pahae, Sipirok dan Padang Bolak Harangan (saat itu zending Batak dibagi 2 ke Ephorusanya dimana untuk daerah Sipirok, Pahae dan Padang Bolak Harangan Ephorusnya adalah Johann Christian Schutz berkedudukan di Bungabondar dan untuk daerah Tapanuli Utara Ephorusnya adalah I.L.Nomensen berkedudukan di Tarutung dan Sigumpar). Pada jubileum 50 tahun itu juga hadir Direktur RMG dari Jerman yaitu Speaker. Bersamaan dan pada jubileum tersebut juga diadakan pesta Parolopolopan 40 tahun Ephorus Johann Christian Schutz bekerja di Angkola 1868-1911 setelah dikurangi dengan cuti ke Eropah 3 tahun. Pesta diadakan secara meriah selama 3 hari mulai tanggal 5 sampai 7 Oktober 1911 dengan dihadiri jemaat dari Pahae, Sipirok dan Padangbolak Harangan. Kehadiran Direktur RMG Speaker pada jubileum tersebut merupakan daya tarik sendiri bagi jemaat.&lt;br /&gt;2. Perayaan jubileum 75 tahun HKBP dipusatkan di Sipirok dan dilaksanakan tanggal 5 sampai 7 Oktober 1936 yang dilaksanakan secara besar-besaran lengkap dengan horja dengan memotong 2 ekor kerbau setiap hari,10 ekor kambing dan puluhan ayam. Jubileum itu dihadiri oleh banyak pendeta Jerman dan Ephorus HKBP yang baru terpilih DR.F.Verwiebe.  Pesta itu juga banyak dihadiri raja-raja dari Angkola dan Sipirok juga undangan dari gereja-gereja Menonit di Mandailing. Kebaktian dilaksanakan ditiga tempat yaitu di gereja HKBP Sipirok, ditanah lapang (lapangan bola atau dekat Pesanggerahan Sipirok dan di Balairung Pasar Sipirok. Kebaktian ditiga tempat itu dihadiri ribuan orang membuat tempat itu penuh sesak. Mereka ingin mendengar khotbah oleh Ephorus DR.F.Verwiebe di 3 tempat tersebut. Sebelum acara kebaktian di gereja HKBP Sipirok terlebih dahulu Ephorus F. Verwiebe meresmikan  monumen atau tugu dan prasasti jubileum 75 tahun HKBP dan menyerahkan tugu itu kepada Kepala kuria (Raja) Sipirok. Kepala kuria (Raja) Sipirok Patuan Tigor Soangkupon Siregar dalam sambutannya saat menerima penyerahan  monumen atau tugu tersebut berkata: Dengan segala senang hati saya menerima monumen ini meskipun saya seorang penganut agama Islam, tetapi saya mengaku bahwa agama Kristen itu baik dan membawa keselamatan batin dan jiwa, tubuh dan roh di dunia dan akhirat. Beliau juga mengucap terimakasih atas jasa-jasa para zendeling karena anak buahnya banyak yang memeluk agama Kristen. Beliau juga berjanji akan memelihara dan menjaga monumen itu atas tanggungan kas Kuria Sipirok sendiri. Monumen itu berada didepan kanan gereja HKBP Sipirok. Sebagai catatan tanah pargodungan gereja HKBP yang sangat luas yang terdiri dari gereja, pekarangan gereja, tugu atau monumen jubileum 75 tahun HKBP, 2 unit sekolah Rakyat  yaitu SR Sipirok 3 dan SR Sipirok 4 dengan tanah yang luas yang terdiri dari masing-masing 6 kelas rumah pendeta, rumah guru huria,rumah sakit (sekarang RSUD Sipirok). Tanah itu sendiri adalah tanah pemberian Kepala Kuria Sipirok kepada zendeling J.C.Klammer tahun 1861. Salah satu orang pertama yang dibaptis oleh zendeling J.C.Klammer di Sipirok pada tanggal 25 Desember 1865 adalah anak dari Kepala Kuria Sipirok bernama Thomas Siregar (17 tahun) Thomas Siregar ini juga guru zending pertama keluaran Sikola Tinggi Topas Parausorat Angkatan I tahun 1868-1870. Beliau di Sipirok lebih dikenal dengan Gelarnya Mangaraja Naposo dan isterinya Ambe Cornelia boru Nasution ( putri Batak pertama yang bisa membaca huruf Latin pada tahun 1870) makam keduanya ada dalam komplek gereja HKBP Sipirok.&lt;br /&gt;Selama pesta, penginapan untuk para tamu disediakan pada rumah-rumah penduduk Sipirok baik yang beragama Kristen maupun yang beragama Islam. Semuanya penduduk Sipirok sangat senang menjadi tuan rumah jubileum tersebut dengan semboyan: sabara sabustak, salumpat saindege. Tapakna do rantosna, rim ni tahi do gogona songon siala sampagul raptu ginjang raptu toru. Mereka benar-benar melaksanakan toleransi beragama yang tinggi termasuk juga yang menyediakan makanan semua bekerja sama dengan baik.&lt;br /&gt;3. Jubileum 100 tahun HKBP pada tanggal 7 Oktober 1861 dipusatkan di dua tempat yaitu di Sipirok untuk wilayah Tapanuli Selatan dan di Pearaja Tarutung untuk wilayah Tapanuli Utara. Sedangkan diluar itu dilaksanakan sendiri seperti Medan dan Jakarta. Pada jubileum 100 tahun tersebut Ephorus HKBP DR (HC) Justin Sihombing berkenan hadir memberikan jamita Nadenggan (khotbah) dan mendapat sambutan yang meriah. Setelah selesai kebaktian, banyak orang antri mau bersalaman dengan Ephorus Justin Sihombing. Dan pada waktu bersalaman itu mereka seolah olah sudah lama berkenalan dan berhubungan baik. Ternyata Ephorus Justin Sihombing bukan orang asing bagi masyarakat Sipirok sebab pada tahun 1925 berarti 36 tahun yang lalu Ephorus Justin Sihombing sudah menjadi Evangelis di Luat Sipirok mengunjungi Sipirok, Bungabondar, Arse, Lancat, Sipogu dan Saipar Dolok Hole. Beliau juga mengunjungi Baringin, Padang Matinggi, Parausorat, Hutaraja, Situmba, Janjimauli sampai ke Padangsidempuan. Beliau mengunjungi kampung-kampung tersebut naik kuda, jalan kaki, dan kalau ke Padangsidempuan naik sado. Dan beliau dalam kunjungan tersebut menginap di rumah-rumah jemaat. Itulah sebabnya hubungannya sedemikian baik dan akrab. Pada saat jubileum 100 tahun HKBP di Sipirok yang menjadi pendeta Ressort adalah pendeta Walden Hasugian (terakhir aktip di Dewan Marturia Jakarta). Beliau saya kenal tahun 1862 dan terakhir bertemu saat sama-sama Pelatihan Pekabaran Injil di Jl. Raya Puncak, Bogor bulan Januari 2008 beliau berumur 75 tahun. Pada saat itulah gereja HKBP Sipirok diberi nama Gereja Jubileum HKBP Sipirok oleh Ephorus HKBP Justin Sihombing karena di HKBP Sipirok sudah 2 kali dipusatkan Jubileum HKBP. Menurut pendeta Walden Hasugian pesta dihadiri banyak orang dan tamu-tamu baik dalam maupun gereja di Luar Negeri. Sebagai catatan penulis juga aktip menjadi anggota koor pada saat jubileum 100 tahun HKBP di Jakarta yang dipusatkan di Senayan Sport Hall (gedung Olahraga Bulutangkis Senayan) lagunya adalah Haleluya na bolon di pimpin oleh E.L.Pohan dan musik pengiring kebaktian adalah musik tiup terompet, dari HKBP Menteng Lama, Halimun.&lt;br /&gt;4. Jubileum 125 tahun HKBP dipusatkan di Sipoholon Tarutung, Medan dan Jakarta pada 7 Oktober 1986 Pesta Jubileum tersebut dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Suharto dan Ibu Tien Suharto dan belasan menteri dan Pejabat Tinggi Negara, Duta Besar Negara sahabat. Acara penyambutan kepada Presiden Republik Indonesia dan rombongan dilaksanakan secara meriah yang langsung diliput oleh TVRI dan disiarkan langsung secara Nasional dan juga diliput oleh banyak media cetak baik dalam maupun Luar Negeri. Di Jakarta juga diadakan Pesta Perayaan Jubileum 125 tahun HKBP yang dipusatkan di Senayan Main Stadium (Stadion Utama Senayan) untuk daerah Jakarta dan Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera Selatan dan Indonesia Bagian Timur. Jemaat HKBP Semper dibawah bendera Ressort Tg. Priok Timur ikut  berperan aktip dalam perayaan tersebut dimana Kamaruli Pohan Siahaan/br Sitohang, B. Sirait/br Hutajulu, A. Sarumpaet/br Panjaitan,  SB Pasaribu/br Sidabutar, W. Sirait/br Sitorus dibawah pimpinan pendeta Salamat Simatupang BA.STh dan keluarga ikut berdefile di Stadion Utama Senayan berpakaian Angkola dengan baju batik jubileum 125 tahun HKBP, berpeci hitam dan menyandang dileher kain sarung yang dilipat. Pada saat rombongan HKBP Semper melalui panggung kehormatan, applaus dari penonton menggemuruh gegap gempita dengan sorak sorai sambil berdiri memberi penghormatan. Keruan saja para ibu-ibu yang berpakaian kebaya dan dengan sepatu hak tinggi menjadi groggi dimana tadinya tangan dengan saputangan melambai kepada penonton sekarang diam saja dan sibuk sendiri. Untung pendeta Salamat Simatupang BA.STh dengan sabar menenangkan para ibu-ibu tersebut. Sewaktu penulis mempertanyakan mengapa kita berpakaian adat Angkola, pendeta Salamat Simatupang BA.STh menjawab dengan tenang: agar orang mengingat kembali akan tempat lahir HKBP. Dan betulkan, imbuhnya lagi dengan berpakaian Angkola tadi applaus penonton sedemikian meriah dan itulah jawabannya. Hebat juga amang pendeta itu, bravo amang pendeta! HKBP sudah melupakan tempat lahirnya kata ja Amaran orang Bahal Imbalo Siborong borong, kelahiran Hutaraja yang sejak doli doli sudah jadi Sintua disana meneruskan tradisi bapak dan ompungnya yang jadi Sintua semasa doli doli juga (belum berkeluarga).&lt;br /&gt;5. Perayaan jubileum 150 tahun HKBP tanggal 7 Oktober 2011 dilaksanakan per wilayah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.  Wilayah I mencakup Silindung, Tobasa, Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sumatera Barat dilaksanakan di Tarutung.&lt;br /&gt;b. Wilayah II Medan- Aceh, Simalungun, Asahan Labuhan Batu dan Rantau   Prapat dilaksanakan di Medan.&lt;br /&gt;c.  Wilayah III Riau dan Riau kepulauan dilaksanakan Pekan Baru.&lt;br /&gt;d.  Wilayah IV Indonesia bagian Timur dipusatkan di Surabaya.&lt;br /&gt;e.  Wilayah V Kalimantan dipusatkan di Pontianak.&lt;br /&gt;f.     Tingkat Nasional dilaksanakan di Jakarta&lt;br /&gt;Pesta perayaan jubileum 150 tahun HKBP dilaksanakan baik di Huria Pagaran, Ressort, Distrik dan Nasional. Khusus untuk Gereja HKBP Semper Ressort Semper dilaksanakan semeriah mungkin dengan all out kata Ketua Umum Pesta, bapak Mara Karma Samosir Pakpahan yang tanpa lelah berusaha dengan sekuat tenaga, pemikiran dan kemampuan yang ada untuk mensukseskan pesta itu. Ini pertaruhan harga diri tulang katanya pada saat diskusi pada hari Minggu sore tanggal 28 Agustus 2011 memang beliau berkata begitu karena, baik Uluan ni Huria pendeta Belhemrimen Sitompul, pendeta Luspida br Simanjuntak (pendeta diperbantukan), parhalado dan panitia berusaha siang malam sesuai kebutuhan untuk mensukseskan pesta jubileum ini. Sumber Dana diharapkan dari penjualan kupon, tampi-tampi dari setiap lunggu (9 lunggu) dan Seksi Lansia, RHKBP, NHKBP, Parompuan, Ama dan Mantan Naposobulung HKBP Semper. Juga dari donatur perlunggu, bunga semat, lelang berupa barang, hasil tortor Sikola Minggu dan NRHKBP Semper dan 2x mandurung tujolo pada kebaktian Minggu untuk jubileum 150 tahun HKBP. Untuk menyongsong pesta tersebut pada hari Senin tanggal 29 Agustus 2011 baik parhalado, NRHKBP Semper, Punguan Parompuan, Panitia dan lainnya ikut berpatisipasi dalam bersih-bersih dilingkungan gereja dari pagi sampai sore. Mensukseskan Perayaan Pesta Jubileum 125 tahun HKBP tingkat Ressort Semper Jakarta sudah menjadi semboyan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III. Jadilah Pelaku Sejarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jadilah pelaku sejarah dan jangan hanya jadi penonton saja sesuai kemampuan, tenaga dan pemikiran itulah semboyan penulis dan selalu penulis terapkan dalam hidup bergereja. Suksesnya pesta tersebut akan tergantung kepada kita semua jemaat HKBP Semper. Panitia, Parhalado, kedua pendeta HKBP Semper sudah berusaha sekuat tenaga dan kemampuan yang ada agar perayaan tersebut succes tanpa cela. Sekarang tinggal kita jemaat HKBP Semper harus bahu membahu untuk mensukseskan pesta tersebut dan menjadi pelaku sejarah aktip . Bagi kami golongan Lansia berarti inilah kesempatan terakhir untuk menghadiri pesta jubileum HKBP dan itulah sebabnya Punguan (seksi) Lansia HKBP Semper dalam usia yang sudah senja sambil memandang langit saat senja “ di na ro sibalik hunik i” sesuai dengan Ende koor Punguan Lansia pada pesta tersebut dengan judul : Namasihol do rohangku”. Hayo kaum muda jangan kalah semangat dengan semangat golongan Lansia HKBP Semper. Ikut serta dan berbuat sesuatu dalam pesta tersebut berarti kita sudah ikut menjadi pelaku sejarah. Sekarang HKBP adalah menjadi gereja suku yang paling besar didunia dan penulis selalu menyebut dengan HKBP nabolon i dengan perkiraan data jumlah jemaat ± 5 juta orang, jumlah pendeta ± 1500 orang. Menurut Almanak HKBP tahun 2011 jumlah Ressort = 814, Persiapan Ressort 14, Huria = 3.190 Gereja, Pos Pelayanan 87 buah dan Pos Pekabaran Injil = 25 buah. Gereja-gereja ini tersebar mulai dari Sipirok, Tarutung, Sigumpar, Medan, Jakarta, Jayapura, Singapura sampai ke New York diujung ni portibi on. Juga sudah banyak gereja-gereja yang dipajae dimandirikan dengan resmi atau memandirikan diri sendiri dengan memisahkan diri (karena adanya perbedaan-perbedaan atau hal-hal tertentu lainnya tetapi sekarang sudah satu wadah dalam PGI daerah atau Nasional). Hanya sangat disayangkan bahwa gereja-gereja baik HKBP maupun gereja-gereja yang berasal dari HKBP sudah lupa pada tempat lahirnya HKBP seperti apa yang penulis tulis dalam Buletin Narhasem Edisi Oktober 2004 “Parausorat Sipirok Betlehemnya HKBP yang dilupakan” memang benar-benar sudah dilupakan. Penulis jadi ingat saat mengunjungi gereja HKBP Sipirok pada tanggal 29 Desember 2010 dan bertemu dengan pendeta Ressort Sipirok pendeta Leritio Panjaitan STh didampingi Amang Simanjuntak dirumahnya dalam “pargodungan gereja yang megah dan luas di Sipirok” beliau berkata bahwa walaupun HKBP lahir di Sipirok ini tetapi pesta jubileum 150 tahun HKBP di Sipirok hanya dilaksanakan tingkat Ressort dan pagaran saja, dan  Pagaran saja katanya. Penulis langsung menimpali “memang lahir di kota tepatnya kampung kecil di Parausorat, Sipirok tetapi sekarang sudah berkembang dari Parausorat hingga keujung dunia di Amerika Serikat sana. Benar juga apa yang dikatakan Ephorus Emeritus HKBP DR.J.R.Hutahuruk dalam salah satu pertemuan penulis beberapa tahun yang lalu akan “nasib” Parausorat Sipirok tersebut. Beliau berkata bahwa Parausorat Sipirok sudah diserahkan HKBP pada Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) dahulu HKBP-A maka sebaiknya “tulang” membicarakannya dengan GKPA katanya dengan bijaksana dengan penuh kewibawaan. Pada hari Senin tanggal 29 Maret 2010 penulis menghadap Ephorus dan Sekjend GKPA mengemukakan hal Parausorat tersebut dan menyampaikan bahwa jubileum 150 tahun ini adalah moment yang tepat untuk membuat tanda disana sekaligus mengingatkan orang akan kebesaran nama Parausorat itu. Dan benar Tuhan mengabulkan harapan dalam bentuk lain dimana pada tanggal 8-10 Juli 2011 penulis pulang kampung dan ikut menjadi saksi sejarah dalam Perayaan 150 tahun Kekristenan di Luat Angkola di Parausorat Sipirok sekaligus peletakan batu pertama monumen 150 tahun Kekristenan di Luat Angkola di tempat dulu zendeling Gustav Van Asselt membaptis Pagar yaitu Simon Petrus Siregar dan Main yaitu Jakobus Tampubolon Pohan pada tanggal 15 Maret 1861. Disamping membuat monumen, GKPA juga membuat Parausorat menjadi tempat wisata Rohani dan digunung Tor Nangge diatas Parausorat akan dibuat tempat disamping monument tersebut sudah tersedia. Tetapi disamping monumen tersebut penulis masih berusaha agar ditempat itu juga dibuatkan tugu dan prasasti ditempat mana dahulu dicapai kesepakatan antara 4 zendeling Belanda dan Jerman yaitu zendeling Gustav Van Asselt, zendeling Friederich  Wilhelm Betz, zendeling J.C.Klammer dan zendeling Heine pada tanggal 7 Oktober 1861 saat “marsagi ulaon penginjilan di Tanah Batak”  dengan Nats pembimbing Mika 4:2. Dan itu sudah dibicarakan dengan beberapa orang dan mendapat respon positip. Hanya GKPA yang belum dihubungi sebagai pemilik tanah dan daerah tersebut. Tuhan akan memberi jalan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis belum mengetahui apa peran dari HKBP Semper Ressort Semper pada peringatan Jubileum 150 tahun HKBP tingkat Nasional pada 7 Oktober 2011 yang akan datang, apakah ada peran aktip atau hanya peran serta dalam bentuk Dana saja. Untuk itu penulis belum mengetahuinya secara resmi. Walaupun begitu mari kita semua ikut&lt;br /&gt;berpartisipasi aktip membawa panji-panji Kristus dalam jubileum 150 tahun HKBP tersebut. Sebagai penutup tulisan ini penulis ingat lagu wajib dalam perpeloncoan tahun 1962 berupa volksong (lagu rakyat) dari Sipirok dengan sedikit perubahan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Sai salamat ma HKBP nabolon i&lt;br /&gt;Tubu  di Napa ni Sibualbuali&lt;br /&gt;Sian Sipirok tu Siantar, Padang Panjang, New York&lt;br /&gt;Sai salamat ma HKBP nabolon i.&lt;br /&gt;Selamat berjubileum 150 tahun HKBP nabolon i sai horas ma sude Uluan dan parhalado, baik tingkat Kantor Pusat, Distrik, Ressort,  Pagaran dan juga semua jemaat.&lt;br /&gt;Tuhan beserta kita semuanya, Amin dan Horas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah St. Kamaruli Pohan Siahaan, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi September 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-6501671706694859387?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/6501671706694859387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=6501671706694859387&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/6501671706694859387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/6501671706694859387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/09/artikel-jubileum-hkbp-semper-di-tingkat.html' title='ARTIKEL: JUBILEUM HKBP DI TINGKAT RESSORT HKBP SEMPER'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-4vd-q-xxV9Y/TnyNQ1w96PI/AAAAAAAAAMY/MhHTh2nU-7w/s72-c/IMG_3283.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-7960410495168095786</id><published>2011-08-22T07:36:00.002+07:00</published><updated>2011-08-22T07:41:36.100+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: BERAGAM PERMAINAN PADA HUT KEMERDEKAAN RI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selaku calon singer seperti biasa saya hadir di saat latihan. Akan tetapi, latihan yang hanya dihadiri oleh saya sendiri menjadi pertemuan yang memanggil saya untuk menulis di edisi bulan ini. Mulanya pelatihan yang saya hadiri diubah menjadi sharing pengalaman masing-masing, terasa menarik pengalaman yang diutarakan oleh kakak pelatih (juga salah satu pengurus Team Buletin Narhasem). Saya pun mengusulkan untuk menyusun pengalaman tersebut menjadi  sebuah buku dan di-iyakan. Akan tetapi mengenai keterbatasan waktu luang yang dimiliki menjadikan ia sedikit terpikir panjang mengenai usul saya. Spontan saya langsung mengajukan diri untuk membantu. Akhirnya, saya pun disarankan untuk menulis pada edisi ini, begitu mendengar judulnya, hati saya ragu untuk menerima. Apalagi, pengalaman menulis yang sama sekali tidak pernah disorot membuat saya minder. Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba, mumpung ditawarkan dan setelah dipikir-pikir judul ini tidak terlalu sulit dan semoga bermanfaat bagi jemaat gereja. Aneka Permainan dalam aneka Kesempatan&lt;br /&gt;	Jelas, setiap dirayakan HUT Kemerdekaan RI, tidak tertingal acara – acara meriah yang senantiasa memberikan hiburan, menumbuhkan sportifitas, serta mempererat persatuan Anak Bangsa. Seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Lomba Makan Kerupuk&lt;br /&gt;Lomba makan kerupuk adalah, lomba yang memancing ketangkasan peserta, untuk menghabiskan kerupuk dalam ketentuan waktu yang diatur sedemikian rupa. Perlombaan ini memiliki cara unik dalam memainkannya, yakni: Kerupuk yang akan dijadikan alat lomba, harus diikat pada seutas tali, yang digantungkan pada bambu (atau semacamnya). Saat perlombaan berlangsung, tangan para peserta harus berada dibelakang pinggang. Agar mengantisipasi adanya kecurangan. Diperbolehkan memakan kerupuk adalah setelah diberikan aba – aba dari pemandu permainan, seperti suara pluit, hitungan ketiga, hentakan kata “MULAI” dsb.&lt;br /&gt;	Sedikit makna lomba memakan kerupuk yang didapatkan. Adalah rasa sportifitas yang menemani setiap peserta, dengan usaha total para pengikut lomba, juga terpancingnya semangat untuk “melewati tantangan” yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lomba Membawa Kelereng Pada Sendok&lt;br /&gt;Cara bermainnya yaitu membawa kelereng dengan sendok dimulut dipasang terbalik, gagangnya yang digigit sementara ujung sendok sebagai tempat untuk menyimpan kelereng. Biasanya ada jarak tertentu agar peserta jalan dan melewatinya. Para peserta harus berjalan dengan hati-hati dan kelereng tetap di dalam sendoknya. Agar kelereng tidak keluar, maka seluruh tubuh kita harus kompak, bekerja bersamaan, jagalah kesadaran agar kelereng tidak jatuh, tubuh harus mengikuti gerak dan kesadaran, biasanya pada tahap ini kita fokus pada satu hal saja dan mengabaikan yang lainnya. Apabila kita lengah melepas kesadaran yang kompak secara keseluruhan maka biasanya kelereng akan jatuh, dan tentunya kita akan kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Lomba Tarik Tambang&lt;br /&gt;	Pertandingan yang melibatkan dua regu, dengan 5 atau lebih peserta. Dua regu bertanding dari dua sisi berlawanan dan semua peserta memegang erat sebuah tali tambang. Di tengah-tengah terdapat pembatas berupa garis. Masing-masing regu berupaya menarik tali tambang sekuat mungkin agar regu yang berlawanan melewati garis pembatas. Regu yang tertarik melewati garis pembatas dinyatakan kalah. Maka dari itu, dibutuhkan semangat kekompakan, untuk memperjuangkan kemenangan disetiap tangan regu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Lomba Panjat Pinang&lt;br /&gt;	Lomba yang mungkin menjadi sorotan masyarakat dan jarang di jumpai. Yang memperlombakan, pohon pinang yang tinggi dan batangnya dilumuri pelumas disiapkan oleh panitia perlombaan. Di penghujung pohon tersebut, disiapkan berbagai hadiah menarik. Para peserta berlomba untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut dengan cara memanjat batang pohon. Oleh karena batang pohon tersebut licin (karena telah diberi pelumas), para pemanjat batang pohon sering kali jatuh. Akal dan kerja sama para peserta untuk memanjat batang pohon inilah yang biasanya berhasil mengatasi licinnya batang pohon, dan menjadi atraksi menarik bagi para penonton. Yang penulis ketahui, sejarah panjat pinang, berasal dari zaman penjajahan Belanda dulu. Lomba panjat pinang diadakan oleh orang Belanda jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain. Yang mengikuti lomba ini adalah orang-orang pribumi. Hadiah yang diperebutkan biasanya bahan makanan seperti keju, gula, serta pakaian seperti kemeja, maklum karena dikalangan pribumi barang-barang seperti ini termasuk mewah. sementara orang pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, para orang-orang Belanda menonton sambil tertawa. Tata cara permainan ini belum berubah sejak dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Lomba Balap Karung&lt;br /&gt;	Balap karung merupakan salah satu lomba tradisional yang populer pada Hari Kemerdekaan Indonesia. Sejumlah peserta diwajibkan memasukkan bagian bawah badannya ke dalam karung  kemudian berlomba sampai ke garis akhir. Meskipun sering mendapat kritikan karena dianggap memacu semangat persaingan yang tidak sehat dan sebagai kegiatan hura-hura, balap karung tetap banyak ditemui, seperti juga lomba panjat pinang, tarik tambang, dan makan kerupuk.Lomba balap karung juga diapresiasi oleh pendatang dari luar negeri dengan langsung terlibat dalam perlombaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Lomba Mencabuti Koin&lt;br /&gt;	Lomba ini sering kali terlihat di lingkungan sekolah. Lomba yang membutuhkan keberanian dalam melaksanakannya. Koin yang ditancapkan satu per satu pada buah pepaya mengkal (atau semacamnya) lalu dilumuri dengan oli ditambah lagi serbuk arang.&lt;br /&gt;	Para peserta lomba mengambil koin yang melekat erat menggunakan ujung bibir mereka. Tentunya, tangan peserta lomba pun harus ada di belakang pinggang, agar tidak terjadi kecurangan dan kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Lomba Joget Balon&lt;br /&gt;	Peranan lomba ini, biasanya selalu diadakan di akhir acara. Peserta memerlukan pasangan untuk melakukan lomba ini. Didasarkan karena lomba ini meletakkan balon di kening para pasangan lomba dan diapit. Saat tersetel musik yang disedaikan panitia lomba, para peserta diharuskan berjoget semeriah mungkin. Membutuhkan konsentrasi, keseimbangan dan kekompakan (3K), agar balon tetap bertahan dan tidak jatuh. Bila terjatuh akan mengalami kekalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemuda Dan Remaja Gereja Dalam Memeriahkan HUT Kemerdekaan RI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Semenjak saya tinggal di sini, sudah dua kali perayaan HUT Kemerdekaan RI terlewat begitu saja. Pertama, saya disibukkan urusan sekolah yang juga menyambut dan memeriahkan. Selama dua hari. Selaku anggota OSIS baru, dengan tim saya, kami dipercayakan untuk menyusun acara, hal itu menyita waktu dan tenaga. Hingga akhirnya saya hanya dapat menikmati kepanitiaan saja. Kedua, saya tidak mengikutinya karena urusan dari gereja yang mengadakan Bible Camp Pelajar Sidi, tepat sehari sebelum Perayaan, yang membuat saya tidak dapat menolak untuk ikut, karena keluarga saya mengikutinya. Apa lagi, pilihan untuk tinggal, membuat saya seorang diri di rumah.&lt;br /&gt;	Yang ingin saya utarakan adalah bagaimana cara Jemaat Gereja, khususnya bagi pemuda dan remaja, mengaplikasikan HUT Kemerdekaan RI dalam lingkungan Gereja? Sepanjang waktu berlalu, belum pernah saya rasakan adanya acara yang aplikatif tersebut, berikut pengecualiannya, di Gereja ini. Atas saran seseorang, saya diminta untuk menulisnya di sini. Mungkin kendala utamanya adalah waktu, menurut saya. Tapi, tidak salah bukan, bila dicoba dan lagi akan meningkatkan rasa kebersamaan antar Jemaat Gereja. Dengan mengadakan lomba seperti lomba makan kerupuk, tarik tambang, balap karung dan lain-lain yang menumbuhkan tingkat kebersamaan dan uji sportifitas. Bila masih terlalu duniawi, tapat ditambahkan beberapa lomba yang berhubungan dengan Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Tentu di setiap permainan/perlombaan ada cerita kalah dan menang. Saya pun pernah merasakannya. Hingga ada salah seorang teman saya yang berinisiatif. Mengikuti setiap lomba yang ada, dan selalu gagal. Akhirnya, ia menemukan lomba yang tepat, tepat untuk mempublikasikan talenta miliknya.&lt;br /&gt;	Pada kesimpulan akhir, setiap perlombaan yang ada bukan hanya bertujuan untuk memeriahkan dan menyambut HUT Kemerdekaan RI saja, melainkan memberi bibit positif bagi diri kita. Yang akan turut meneruskan semangat Bangsa, melalui muda-mudi seperti kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Melati Silitonga, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Agustus 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-7960410495168095786?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/7960410495168095786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=7960410495168095786&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/7960410495168095786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/7960410495168095786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/08/artikel-beragam-permainan-pada-hut.html' title='ARTIKEL: BERAGAM PERMAINAN PADA HUT KEMERDEKAAN RI'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-4964039753941475077</id><published>2011-08-20T07:49:00.003+07:00</published><updated>2011-08-20T07:55:42.644+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: SEKILAS URAIAN PENGGUNAAN SARANA DAN FASILITAS GEREJA SECARA TERORGANISIR DALAM PELAYANAN GEREJA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-mxl8fZH9tI8/Tk8F-TYAwzI/AAAAAAAAAMQ/a_yoVcPUhjw/s1600/IMG_2592.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-mxl8fZH9tI8/Tk8F-TYAwzI/AAAAAAAAAMQ/a_yoVcPUhjw/s200/IMG_2592.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5642735426029536050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tidak dapat dipungkiri, dalam pelayanan –termasuk pelayanan di gereja- tidak pernah lepas dari penggunaan sarana dan fasilitas gereja. Sebelum berbicara lebih jauh, perlu dipersepsikan dulu apa yang dimaksud sarana dan fasilitas gereja tersebut? Yang dimaksud sarana dan fasilitas gereja dalam tulisan ini adalah alat-alat yang dimiliki gereja baik berupa barang yang bersifat bergerak -seperti alat musik, meja, kursi, papan tulis, komputer, slide proyektor, buku, dan sebagainya- atau juga berupa barang yang tidak bergerak seperti ruangan/tempat pertemuan. Adanya sarana dan fasilitas yang memadai/mencukupi dalam pelayanan sedikit banyak pasti memiliki pengaruh terhadap efektifitas pelayanan tersebut. Hampir tidak mungkin gereja dapat memiliki tim musik yang handal kalau di gerejanya belum memiliki alat musik, juga tidak mungkin gereja dapat memberikan pencerdasan keilmuan dogma gereja/kristen secara maksimal jikalau tidak tersedia bahan bacaan yang disediakan bagi jemaatnya misal adanya perpustakaan gereja, buletin dan sebagainya. Namun perlu digarisbawahi bahwa pengaruh keberadaan sarana dan fasilitas dalam pelayanan gereja dapat memiliki pengaruh terhadap efektifitas pelayanan gereja adalah jikalau semua unsur/elemen gereja memanfaatkan sarana itu dengan sebaik-baiknya. Sebagus apapun sarana dan fasilitas gereja namun jikalau majelis atau jemaat tidak memanfaatkan fasilitas dan sarana tersebut dengan sebaik-baiknya maka keberadaan sarana dan fasilitas tersebut akan menjadi tidak memiliki pengaruh (hambar) dalam pelayanan gereja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana seharusnya sikap awal setiap majelis dan jemaat terhadap sarana dan fasilitas gereja? Tentunya diharapkan setiap majelis dan jemaat dapat menganggap sarana dan fasilitas tersebut adalah milik mereka secara bersama. Perasaan memiliki terhadap sarana dan fasilitas gereja diharapkan membuat majelis dan jemaat gereja secara bersama merawat dan mempergunakan sarana dan fasilitas tersebut secara maksimal. Perasaan memiliki bersama juga dapat diartikan penggunaan sarana dan failitas gereja tersebut dapat dilakukan secara terorganisir, dengan kata lain jangan sampai ada kediktatoran dalam penggunaan sarana dan fasilitas gereja. Kediktatoran dalam penggunaan sarana dan fasilitas gereja terjadi karena ada satu unsur atau elemen gereja yang merasa lebih berkepentingan, lebih penting kegiatan pelayanannya ataupun lebih berkuasa di gereja dibanding unsur atau elemen gereja yang lainnya, misal: punguan naposobulung merasa lebih penting daripada punguan sekolah minggu sehingga kalau punguan naposobulung hendak mempergunakan sarana dan fasilitas gereja yang seharusnya pada saat itu dipergunakan punguan sekolah minggu maka tanpa perlu permisi terhadap punguan sekolah minggu maka punguan sekolah minggu harus “minggir” (mengalah secara tidak sukarela). Jikalau suasana kediktatoran penggunaan sarana dan fasilitas gereja terus terjadi, maka tujuan adanya sarana dan fasilitas gereja yang dapat dijadikan pengaruh baik dalam pelayanan gereja, justru berbalik menjadi memiliki pengaruh buruk dalam pelayanan gereja. Jangan anggap remeh masalah ini, pengalaman menyatakan tidak sedikit majelis atau jemaat yang “sakit hati” karena merasa dizalimi dalam penggunaan sarana dan fasilitas gereja.&lt;br /&gt;Sepengetahuan penulis, biasanya sarana dan fasilitas gereja yang tidak lain adalah aset gereja itu dikelola ada yang bersifat khusus maupun yang bersifat umum. Bersifat khusus artinya penggunaan sarana dan fasilitas gereja tersebut telah diserahkan sepenuhnya kepada unsur atau elemen tertentu, misal alat musik bisa diserahkan kepada misalnya kepada tim musik, bisa juga sekolah minggu, dan sebagainya. Namun bukan berarti unsur atau elemen gereja selain tim musik tidak dapat mempergunakan alat musik, sepanjang seijin yang diberi hak untuk menggunakan maka bisa saja unsur atau elemen gereja lain mempergunakan. Sedangkan bersifat umum adalah penggunaan sarana dan fasilitas gereja tersebut tidak diserahkan kepada elemen atau unsur gereja tertentu melainkan tetap dikelola oleh bagian perlengkapan umum gereja. Umumnya yang sering menimbulkan masalah adalah penggunaan sarana dan fasilitas gereja yang bersifat umum. Masalah timbul karena ada tumpang tindih atau tabrakan antar elemen atau unsur gereja dalam mempergunakan sarana dan fasilitas gereja tersebut. Penulis sendiri sewaktu masih terlibat dalam pelayanan naposo di HKBP Semper tidak sedikit mengalami kejadian tumpang tindih ini, misalnya ketika latihan untuk mempersiapkan natal, tidak sedikit naposo harus berbenturan dengan kegiatan sekolah minggu atau juga kegiatan rapat-rapat gereja. Kita tidak dapat membiarkan masalah ini terus terjadi, harus ada solusi untuk mencegah masalah ini terjadi. Diharapkan dengan solusi itu, maka keharmonisan internal gereja tetap dapat terjaga.&lt;br /&gt;Bagaimana caranya mensiasati atau mengorganisir agar sarana dan fasilitas gereja dapat dimaanfatkan secara maksimal dan terorganisir (tidak tumpang tindih/bertabrakan penggunaannya)? Tentunya adalah adanya pengorganisasian dalam bentuk aturan yang dibuat untuk penggunaan sarana dan fasilitas gereja tersebut. Aturan ini dibuat bukan untuk penghias saja melainkan diterapkan, dihormati oleh setiap elemen dan unsur gereja tanpa memandang siapa dia, apakah majelis atau jemaat, orangtua atau bukan orangtua, dan sebagainya. Intinya, tak boleh ada yang merasa lebih berkuasa dibanding aturan yang telah disepakati tersebut. Lalu, siapa yang harus membuat aturan? Siapa saja yang menjadi unsur atau elemen gereja bisa membuat aturan tersebut yang penting disepakati oleh seluruh elemen dan unsur gereja, tapi menurut penulis yang tepat membuat aturan adalah bidang perlengkapan umum gereja karena bidang perlengkapan umum gereja bertanggungjawab terhadap pengorganisasian fasilitas dan sarana gereja.&lt;br /&gt;Apa saja kira-kira isi aturan tersebut? Kembali lagi itu terserah masing-masing gereja, tapi jikalau penulis mengusulkan maka aturan itu harus mencakup sarana dan fasilitas gereja yang bersifat khusus dan umum. Untuk yang bersifat khusus, misalnya dibuat aturan bahwa setiap sarana dan fasilitas gereja harus dilaporkan keadaannya secara berkala kepada bidang perlengkapan umum gereja, juga diatur mengenai bagaimana pemeliharaan sarana dan fasilitas gereja yang bersifat khusus tersebut: apakah sepenuhnya menjadi tanggung jawab si pengguna alat atau juga menjadi tanggung jawab bidang perlengkapan gereja, dan sebagainya. Sedangkan yang bersifat umum, misalnya untuk penggunaan ruangan gereja dibuat aturan dan jadwal untuk penggunaan ruangan gereja.&lt;br /&gt;Menurut Penulis, Di HKBP Semper seharusnya telah ada sejak dahulu karena keterbatasan ruangan gereja di HKBP Semper. Penulis tidak tahu apakah sekarang telah ada jadwal pemakaian ruangan gereja di HKBP Semper atau belum, namun setahu penulis di beberapa gereja HKBP lain telah ada yang menggunakan jadwal pemakaian ruangan gereja, bahkan jadwal pemakaian ruangan gereja termasuk waktunya tersebut dinyatakan juga dalam warta jemaat sehingga semua orang mengetahui dan terikat terhadap pemakaian ruangan gereja. Juga harus diatur bahwa pemakaian ruangan gereja harus sesuai dengan kepentingan gereja, dalam artian kegiatan pelayanan gereja harus lebih diutamakan, tidak boleh ruangan gereja dipakai untuk kegiatan pribadi majelis atau jemaat tertentu apalagi dipergunakan untuk kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan pelayanan dan misi gereja.&lt;br /&gt;Selain aturan jadwal pemakaian ruangan gereja, harus diatur juga tanggungjawab penggunaan ruangan gereja, misal merapihkan kembali ruangan gereja yang dibersihkan. Tak jarang di HKBP Semper ada unsur atau elemen gereja yang menggunakan ruangan gereja tanpa merapihkannya, papan tulis atau whiteboard dibiarkan di ruangan gereja, kertas-kertas dibiarkan tergeletak di meja atau di kantung kursi, gelas-gelas kotor dan botol minuman dibiarkan saja dan sebagainya. Banyak dari kita berfikir nanti Koster gereja saja yang merapihkan atau membersihkan, cara berfikir seperti ini tidak benar, tidak mungkin tanggung jawab merapihkan sekaligus membersihkan dibebankan hanya kepada seorang Koster gereja. Sebagai jemaat Kristus, kita juga punya tanggungjawab memelihara gereja yang merupakan tempat kita beribadah kepada Tuhan. Tanggungjawab memelihara rumah Tuhan adalah tanggung jawab mulia karena kita melakukannya untuk Tuhan, bukan suatu pekerjaan hina sehingga kita merasa tidak pantas untuk melakukannya.&lt;br /&gt;Demikian uraian singkat ini. Semoga penggunaan sarana dan fasilitas gereja kita lebih terorganisir dan tertib di hari ke depan. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Benny Manurung, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Juli 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-4964039753941475077?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/4964039753941475077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=4964039753941475077&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/4964039753941475077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/4964039753941475077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/08/artikel-sekilas-uraian-penggunaan.html' title='ARTIKEL: SEKILAS URAIAN PENGGUNAAN SARANA DAN FASILITAS GEREJA SECARA TERORGANISIR DALAM PELAYANAN GEREJA'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-mxl8fZH9tI8/Tk8F-TYAwzI/AAAAAAAAAMQ/a_yoVcPUhjw/s72-c/IMG_2592.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-1481801318523857973</id><published>2011-08-05T06:55:00.002+07:00</published><updated>2011-08-05T07:07:23.130+07:00</updated><title type='text'>RENUNGAN: BERJIWA DAN BERTUBUH SEHAT</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;“Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja.” (Daniel 1:15)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;TIDAK ada keraguan bahwa keberadaan yang sehat secara jasmani (sebetulnya juga secara rohani) merupakan pemberian Allah yang patut kita syukuri dan kita jaga. Allah juga tentunya, menghendaki kita memiliki tubuh yang sehat dalam arti mampu bertahan menghadapi serangan aneka jenis penyakit dan sekaligus mampu melakukan aktivitas kita sebagaimana seharusnya. Mungkin yang jadi soal adalah justru tingkat keperdulian kita terhadap soal kesehatan ini, mulai dari pola hidup dan pola makan, sampai kepada upaya ekstra yang diperlukan semisal pemeriksaan kesehatan secara rutin atau rencana anggaran untuk tindakan pengobatan atau pencegahan datangnya penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesehatan adalah Kebutuhan Sampingan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Persoalan tentang kesehatan baru muncul jika ada yang sakit. Sepanjang masih aman, dalam arti tidak ada keluhan terhadap penyakit, tidak akan terdengar persoalan tentang kesehatan. Selama tidak ada serangan penyakit atau selama dalam keluarga kita tidak ada yang tertimpa penyakit maka kita tidak perlu memusingkan soal kesehatan kita. Bagi kita yang tempat bekerjanya juga ikut memberikan jaminan kesehatan (memperhatikan kebutuhan pengobatan) di satu sisi tidak perlu mengkhawatirkan lagi tentang kesehatan. Lebih berat justru bagi kita yang tempat bekerjanya tidak memberikan santunan berobat. Hal itu baru dirasakan ketika penyakit atau petaka benar-benar datang.&lt;br /&gt;Soal kesehatan lebih luas dari soal memikirkan dana kalau penyakit atau petaka tiba. Soal kesehatan adalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebutuhan manusia secara utuh. Piramid lima kebutuhan manusia dari Maslow memang tidak mencantumkan kesehatan. Maslow hanya mencantumkan ‘kebutuhan fisik’ yang asosiasinya mungkin terhadap kebutuhan akan pangan. Namun demikian, senyatanya, kebutuhan akan keberadaan yang sehat adalah termasuk (entah tersirat entah tidak) pada bagian yang pokok.&lt;br /&gt;Itulah juga yang kita yakini sebagai sikap kristiani. Yesus sendiri mengumpamakan diriNya sebagai tabib. Dalam pelayananNya kepada orang banyak Ia menyembuhkan banyak penyakit. Pemisahan penyakit fisik dan penyakit dosa tidak penting bagiNya. Yang terlebih penting adalah misi penyembuhan dan pemulihan umat manusia. Dengan demikian keberadaan yang sehat merupakan bagian dari misi kerajaan Allah yang telah dimulai oleh Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Manusia adalah Jiwa yang Bertubuh atau Tubuh yang Berjiwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semboyan Mensana in Corporesano, dari pengertian hurufiahnya seakan menekankan hubungan searah yaitu pengaruh dari keberadaan psikis terhadap keberadaan secara biologis. Pada kenyataannya kita melihat bahwa aspek psikis dan biologis dari manusia memiliki hubungan yang timbal balik. Dan, itulah juga yang hendak kita tekankan dalam pendekatan kita.&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk yang utuh. Keselamatan dari Allah juga kita yakini, hendak membawa keselamatan yang utuh. Itulah sebabnya dewasa ini makin dikumandangkan pelayanan yang menyeluruh (Holistic Ministry) di mana termasuk di dalamnya pelayanan kesehatan (Healing Ministry). Kita masih mengingat bagaimana pada awal perkembangan kekristenan di tanah Batak para pekabar Injil juga memperhatikan pelayanan kesehatan dengan cara mengadakan pengobatan, mendirikan pos-pos pengobatan sampai dengan rumah sakit.&lt;br /&gt;Orientasi hidup kekal tidak berarti menafikan kehidupan semasa masih di dunia. Orang percaya memandang hidup kekal sebagai tujuan utama dari kehidupannya pada masa kini. Dengan mengingat janji hidup kekal, orang percaya menata hidupnya pada masa ini sebagai kesempatan untuk memancarkan kehidupan yang telah dibaharui. Kehidupan yang telah dibaharui dengan semangat pemulihan ciptaan telah dimulai. Cara-cara hidup lama yang jauh dari rencana Allah harus ditinggalkan.&lt;br /&gt;Sekarang adalah saatnya bagi orang percaya untuk menampakkan hidup yang telah diperlengkapi dengan semangat pemulihan dan penyembuhan. Orang percaya terpanggil untuk membawa kesembuhan bagi kerusakan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kesembuhan yang dimaksud mencakup segala jenis penyakit dan kerusakan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Orang percaya ikut terpanggil untuk menghadirkan kembali suasana Taman Eden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menuju Kesembuhan Dunia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Panggilan untuk membawa kesembuhan kepada dunia ini juga menjadi tema besar dari Sidang gereja tingkat dunia beberapa tahun lalu yang diambil dari Wahyu 22:2: “…Untuk Menyembuhkan Bangsa-bangsa!” Dengan tema itu, gereja-gereja di seluruh dunia diserukan agar mengobarkan kembali semangat penyembuhan yang telah Yesus mulai pada pelayananNya di tengah-tengah orang banyak. &lt;br /&gt;Masa heroik Yesus yang menyentuh hati sanubari masyarakat harus kita lanjutkan. Ketergerakan hati Yesus melihat orang yang timpang dan buta, keaktipan Yesus untuk keluar dari Bait Suci untuk menyusuri tepi pantai, menaiki perahu dan mendaki lereng bukit, dan kerelaan Yesus untuk bertamu ke rumah-rumah harus kembali bergema. Namun, makna terdalam dari keteladanan itu bukan perulangan sensasi mujizat penyembuhan yang mencengangkan banyak orang. Bukan menghadirkan kembali mujizat Yesus terhadap orang buta dan tuli, bukan mengulang kembali memberi makan ribuan orang dengan modal beberapa potong roti, juga, bukan memaksakan agar orang percaya berada di perahu atau di tepi pantai atau di lereng bukit.&lt;br /&gt;Yang menjadi kata kunci adalah ketergerakan hati dan keperdulian. Bumi kita dipenuhi dengan rintihan dan keluhan anak manusia akan penyembuhan dan pemulihan. Bumi kita dihuni baik oleh orang-orang yang beruntung maupun juga orang-orang yang kurang beruntung. Terdapat sebagian orang-orang (dan bangsa-bangsa) yang memiliki keadaan yang lebih baik dalam arti berkelimpahan dari segi materi, teknologi, sumber daya, peradaban, dst. Sebaliknya terdapat pula orang-orang (dan bangsa-bangsa) yang kurang beruntung dalam arti tertinggal dari segi materi, ilmu pengetahuan dan teknologi, ketrampilan, sumber daya, dst.&lt;br /&gt;Panggilan kepada bangsa-bangsa yang besar untuk melirik bangsa-bangsa yang membutuhkan uluran tangan. Panggilan kepada gereja-gereja yang besar untuk melirik gereja-gereja kecil dan lemah yang membutuhkan uluran tangan. Panggilan kepada warga jemaat yang lebih beruntung untuk menoleh kepada sesama warga jemaat yang sedang membutuhkan perhatian dan uluran tangan. Dan…panggilan kepada segenap orang percaya untuk menampakkan sikap hidup yang perduli dan tulus kepada sesama ciptaan tanpa pamrih. &lt;br /&gt;Dengan semangat penyembuhan dunia, orang percaya akan selalu ikut secara aktip berbuat bagi dirinya maupun orang lain. Panggilan untuk penyembuhan dunia membuat orang percaya semakin kreatip untuk berbuat, dalam kaitan ini, mewujudkan dunia yang sehat yang dihuni oleh manusia yang sehat. Menyehatkan dunia adalah sebuah pekerjaan besar dan merupakan Mission Impossible bagi manusia tetapi telah dimulai oleh Yesus Sang Tabib yang Agung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gereja yang Mencanangkan Hidup Sehat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di tingkat jemaat, kita memiliki unit pelayanan yang kita sebut Seksi Kesehatan (yang bersama-sama dengan Seksi Kemasyarakatan, Seksi Pendidikan, dan Seksi Diakoni Sosial berada dalam Dewan Diakonia). Sejauh ini yang pernah dilakukan adalah mengadakan pengobatan gratis. Meski kegiatan itu bersifat kuratip, kita tetap bersyukur juga. Kita tentunya dapat pula mengembangkan pelayanan di bidang ini dengan berbagai cara pula. Misalnya, tindakan yang bersifat preventip, mengadakan kegiatan gerak jalan massal atau membuat penyuluhan tentang pola hidup sehat atau tentang penyuluhan tentang gizi. Namun yang utama bukanlah: asalkan ada program, sudah cukuplah!&lt;br /&gt;Kita hendak meraih sesuatu yang lebih dari sekadar membuat program di lingkungan Seksi Kesehatan. Kita, misalnya, ingin membuat pola hidup sehat sebagai bagian dari gaya hidup sebagaimana panggilan untuk ikut serta dalam pelayanan penyembuhan dunia merupakan bagian dari Misi Agung Sang Tabib!&lt;br /&gt;Hidup yang sehat adalah anugerah Allah! Mari kita sambut dan pelihara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. Maurixon Silitonga, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Agustus 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-1481801318523857973?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/1481801318523857973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=1481801318523857973&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/1481801318523857973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/1481801318523857973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/08/renungan-berjiwa-dan-bertubuh-sehat.html' title='RENUNGAN: BERJIWA DAN BERTUBUH SEHAT'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-5521431625923288882</id><published>2011-07-18T19:52:00.002+07:00</published><updated>2011-07-18T20:01:40.504+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: TRANSFIGURASI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Haruskah berubah ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Paulus berkata: Ketika aku kanak kanak , aku berkata kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang setelah aku dewasa aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu (1 Kor 13:11). Dalam percakapan orang dewasa dengan seorang anak dituntut pengertian, karena pengucapannya sering tidak pas, misalnya saja : seorang ayah mau berangkat ke-kantor, anaknya teriak , “Pa, minta itut !”, Papanya bilang, “ini buku kantor nak!”. Untung Mamanya dengar, dan langsung peluk anaknya, dan menjelaskan:  “Papa mau kekantor nak,  tidak boleh ikut!”. Seorang Ibu memang lebih banyak berkomunikasi dengan anak-anaknya, dan yang lebih mengerti bahasa kanak-kanak. Ayah anak itu mengira anaknya, “minta itu (buku kerja yang ada ditangan Papanya), rupanya yang dimaksud adalah : minta ikut !  Perkataan ini hanya merupakan contoh sederhana. Jika kita selalu mempergunakan perilaku, gaya dan cara berpikir kanak-kanak maka orang akan bosan berteman dengan kita dan akhirnya meninggalkan kita.&lt;br /&gt;Sekalipun Tuhan Yesus pernah menempatkan seorang anak pada posisi strategis ketika berbicara tentang : “kerajaan Allah” (Mark 10:15; Sesungguhnya barang siapa tidak menyambut kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk kedalamnya).” Hal itu menggambarkan keyakinan seorang anak terhadap orang tua-nya. Dia merasa aman dalam pelukan Ayahnya, dan menikmati semua asupan yang diberikan “suap demi suap”. Setiap tetesan ASI yang disuguhkan Ibunya, itulah yang memberi dia kehidupan. Demikian juga pertumbuhan seorang Kristen dewasa, harus ada ketaatan sejak awal pertumbuhan supaya mampu membedakan yang baik dan buruk. Meninggalkan sifat kanak-kanak masuk ke jenjang dewasa dan menjadikan Yesus Kristus sebagai sosok yang pantas diteladani. Menghormati Bapa surgawiNya dan mengasihi manusia yang berdosa.&lt;br /&gt;Tidak jauh berbeda dengan penerbit yang rindu untuk meningkatkan kualitas isi dari buku (bacaan) yang mereka terbitkan, tidak dinilai dari tampilan luarnya saja. Sekalipun “kemasan”  atau cover memegang peranan penting bagi mereka yang baru kenal. Jika seseorang tertarik dengan tampilan luarnya tetapi kecewa dengan isi; tidak berbobot, tidak membangun bahkan sama sekali tidak menyentuh jiwa pembacanya, jangan harap buku serupa dicari oleh pembaca. Begitu juga dengan seorang Ibu, mencoba memperbaiki penampilannya supaya disayangi suami dan anak anaknya; pergi kesalon, merapikan rambut, mengganti warna bibir dan melapis wajahnya dengan bedak yang mahal, tetapi kebiasaannya mengomel tidak berubah malah nambah. Suami dan anak-anaknya tidak mendapat keuntungan dari perubahan penampilan Ibu tersebut, mereka tetap saja kabur dari rumah dan tidak ada yang betah di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi Kristen dewasa, perubahan bentuk seperti apa yang perlu bagi kita?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Berhati hatilah dengan serigala berbulu domba&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menyebut diri sebagai nabi, tetapi hatinya penuh tipu muslihat (Munafik= muka nabi fikiran kotor). Sama seperti serigala berbulu domba yang masuk kedalam kandang domba, dengan maksud yang jahat. Seperti gembala yang tidak baik yang hanya mengambil keuntungan, menikmati susu dan bulunya, tanpa memperdulikan kepentingan dombanya. Tampilan luar sangat baik tetapi hatinya jahat ingin memberangus. Perubahan rupa yang sangat merugikan adalah : tidak jujur, menyimpan kedok dan mencari keuntungan untuk diri sendiri (perubahan hanya tampilan luar saja, namun dalamnya tetap). Sifat serakahnya dan keinginan memberangus domba tetap saja dipelihara.&lt;br /&gt;Hindarilah cara hidup serupa itu dan jangan bergaul dengan orang seperti itu. Keinginan untuk berubah dari kebiasaan yang salah kepada hal yang lebih baik harus ada tekad, dengan konsep yang jelas. Sadar bahwa keadaannya yang keos dan tak berguna tidak mungkin dipertahankan. Bagaimana mungkin orang yang membiasakan diri dengan yang jahat dapat melakukan hal yang baik ?  Satu satunya yang dapat memimpin kita keluar dari hidup serupa itu hanyalah pertobatan. Menyerahkan seluruh persoalan yang kita alami dan pasrah kepada Sang Penebus, sebab Dialah yang menjanjikan : “Akulah jalan kebenaran dan hidup, tidak ada yang sampai kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku “(Joh 14:6).&lt;br /&gt;Munculnya para pecundang, orang yang berkata-kata dengan hal yang baik tetapi pada kenyataannya tindakannya selalu curang dan menyakiti hati sesamanya. Berkata kata tentang kebaikan Allah dan mengklaim diri sebagai orang yang dikasihi Allah (band. Farisi dan ahli Taurat) tetapi tindakannya tidak manusiawi, tidak ada kasih. BahkanYesus yang selalu berusaha membela hak orang-orang yang termarjinalkan dianggap musuh. Yesus yang kesehariannya selalu rendah hati dan senantiasa mengagungkan kebesaran Allah, ingin mereka binasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Rela berkorban adalah pertobatan yang sesungguhnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apapun resiko dari perubahan hidup baru didalam Kristus harus siap menjalaninya. Paulus adalah orang yang ditangkap Yesus dalam perburuannya ketika hendak membinasakan orang Kristen. Yesus sendiri yang berperan : menjamah hatinya dan berseru “Saulus, Saulus; mengapa engkau menganiaya Aku (Kis. 9:4). Proses dari hari ke-hari harus dilalui dengan roh taat, sebab ada penderitaan, caci maki dan kecurigaan yang dilancarkan oleh orang-orang yang berada disekitar kita.&lt;br /&gt;Orang yang sudah menerima Yesus Kristus menjadi Tuhan dan juru selamatnya adalah orang yang sudah mengalami perubahan. Dari orang yang ragu-ragu menjadi optimis, orang yang menderita sakit, menjadi sembuh. Dari banyak kelemahan mereka bangkit menjadi orang yang berpengharapan. Yesus mengajarkan tentang kebenaran Allah yang tidak tertandingi, yang ada dalam diriNya. Sebab seluruh ajaranNya menyatu pada diriNya sendiri. Kebenaran Allah dinyatakan sebagaimana mestinya. Pandangan masa depan yang tidak pernah menggoyahkan semangat pelayananNya sekalipun harus melalui kematian diatas kayu salib.&lt;br /&gt;Adanya kelompok yang ingin memanfaatkan pengaruh nama Yesus dalam pengajarannya, mencoba pakai nama Yesus, tetapi hanya numpang popularitasnya saja, tidak dengan hati yang tulus, melainkan karena ada kepentingan. Tentang hal itu, Paulus berkata : tidak mengapa karena bagaimanapun juga Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur.(Flp 1:18). Pada prinsipnya keinginan berubah itu baik. Seseorang tidak mungkin mengubah dirinya menjadi lebih buruk. Sama seperti kupu-kupu, yang mengalami perubahan dari ulat yang rakus, bentuk tubuh yang tidak karuan, gendut dan menjijikkan. Setelah menutup diri dan berpuasa beberapa saat dalam kurungan kepompong, dia berubah menjadi lebih baik, indah dan lincah dengan sayap yang tipis menari-nari dialam bebas.&lt;br /&gt;Kehadiran kita sebagai Kristen dewasa dalam komunitas orang percaya, dan dilingkungan kerja dimana kita ada, akan membawa perubahan yang lebih membahagiakan bagi banyak jiwa.&lt;br /&gt;Syalom, Tuhan Yesus memberkati !!!!!!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. K.E. Limbong, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi April 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-5521431625923288882?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/5521431625923288882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=5521431625923288882&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/5521431625923288882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/5521431625923288882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/07/artikel-transfigurasi.html' title='ARTIKEL: TRANSFIGURASI'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-6208521600634846461</id><published>2011-07-17T21:21:00.002+07:00</published><updated>2011-07-17T21:25:37.853+07:00</updated><title type='text'>RENUNGAN: DOSA AROGANSI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;“Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan&lt;br /&gt;dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”&lt;br /&gt;(Matius 23:12)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“TOLAK Arogansi HKBP!”, “Bubarkan HKBP!” Demikian antara lain bunyi poster dari orang-orang yang berdemo di sekitar bundaran Hotel Indonesia pada bulan September tahun lalu. Kegiatan demo di bundaran HI itu berlangsung seminggu setelah warga HKBP se-jabodetabek melakukan Ibadah Syukuran di stadion olah raga Bekasi. Pada Ibadah Syukuran itu warga HKBP menolak kehadiran dari Perber yang tidak sesuai dengan UUD 45 yang menjamin kebebasan umat beragama untuk beribadah sesuai dengan kepercayaannya masing-masing dan warga HKBP juga menolak arogansi dari oknum-oknum yang dengan dalih Perber kerap menghambat aktivitas ibadah dari warga HKBP, contohnya warga jemaat HKBP dari Ciketing.&lt;br /&gt; Dari dua peristiwa itu kita menangkap ada dua pihak yang menggunakan kata ‘arogansi’. Pendemo di bundaran HI menuduh bahwa warga HKBP adalah arogan oleh karena menentang keberlakuan dari Perber. Sebaliknya warga HKBP juga menuduh bahwa orang-orang yang menghambat aktivitas ibadah HKBP di Ciketing adalah juga arogan. Apa sebetulnya arti kata ini?&lt;br /&gt; Masih dengan penggunaan istilah ‘arogansi’. Apakah dalam lingkup pergaulan masyarakat secara umum kita juga menjumpai penggunaan kata itu? Bukan tidak mungkin! Bisa saja terjadi saling tuding. Ada yang mengatakan bahwa kalangan mayoritas arogan. Sebaliknya ada yang mengatakan bahwa kaum minoritas juga arogan, makanya ada istilah tirani minoritas.&lt;br /&gt; Bagaimana dengan persekutuan internal gerejawi apakah ada kalangan yang dituding sebagai arogan? Tulisan ini tentunya tidak bertujuan untuk menghakimi kalangan-kalangan tertentu. Tulisan ini lebih bertujuan untuk mengajak kita melakukan refleksi bersama bahwa bahaya penyakit (dosa) arogansi bisa menjangkiti siapa saja. Ingat Bang Napi yang selalu berkata: “Waspadalah! Waspadalah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang Dimaksud Dengan Perilaku Arogan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang dimaksud dengan sikap arogan?&lt;br /&gt; Dalam KBBI kata ‘arogan’ disebut sebagai istilah Psikologi yang artinya ‘mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah’ dan sinonim dengan kata ‘sombong’ (menghargai diri secara berlebihan, meninggikan diri, berkata atau berbuat dengan congkak) dan ‘congkak’ (merasa dan bertindak dengan memperlihatkan diri sangat mulia [pandai, kaya, dsb]). Masih ada dua kata lagi yang juga sinonim yaitu: ‘pongah’ (sangat sombong atau angkuh [baik perbuatan maupun perkataan]) dan ‘angkuh’ (sifat suka memandang rendah kepada orang lain, tinggi hati).&lt;br /&gt; Dari sini kita melihat bahwa sikap arogan dapat ditunjukkan melalui perkataan atau perbuatan yang dilatarbelakangi oleh karena penilaian (penghargaan) diri yang melebihi takaran dan sebagai ikutannya memberi penilaian (penghargaan) yang kurang terhadap orang lain dan bahkan juga dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa. Kalau cuma sebatas ‘tinggi hati’ dan ‘kurang menghargai orang lain’ dampak dari sikap arogansi memang masih belum membahayakan, pada kenyataannya, perilaku arogan itu bisa menimbulkan masalah yang serius baik di dalam interaksi antar personal apa lagi kalau melebar kepada interaksi antar kelompok. Arogansi bisa berakibat kepada pemaksaan kehendak. Jika hanya sebatas merasa lebih mungkin tidak akan menimbulkan masalah. Yang perlu dicermati adalah bahwa perasaan lebih terhadap diri sendiri atau terhadap kelompok sendiri bisa menimbulkan tidak hanya pemaksaan kehendak, tapi juga perilaku yang tidak adil dan bahkan perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang Rentan Dengan Perilaku Arogan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang rentan berperilaku arogan? Apakah yang rentan berperilaku arogan adalah orang-orang yang memiliki status sosial tinggi?&lt;br /&gt; Dilihat dari definisi di atas, perilaku arogan itu bisa datang dari siapa saja, utamanya dari kalangan yang memang memiliki takaran lebih. Ukuran lebih bisa dilihat dari segi kualitas maupun kuantitas. Orang yang lebih pintar, lebih ahli, lebih berkedudukan, lebih cantik, lebih ganteng, lebih sukses, dst akan cenderung memiliki penghargaan diri yang lebih besar (bandingkan definisi: ‘penilaian diri yang melebihi takaran’). Kita perlu mewanti-wanti orang-orang dengan status sosial tinggi oleh karena kemapanannya dari segi penghasilan, kedudukan, kepintaran, keahlian, dll. Mereka terbilang sasaran empuk dari korban-korban dosa arogansi.  Perasaan superioritas atau tindakan yang memperlihatkan diri sangat mulia, sangat pandai atau sangat kaya amat mungkin muncul di kalangan orang-orang yang memang mendapat berkat lebih. Tapi apakah perasaan superioritas itu pada waktu yang sama juga disertai dengan sikap suka memaksa atau pongah, suka memandang rendah kepada orang lain, dan tinggi hati? Terlebih-lebih apakah perasaan superioritas itu kemudian akan menghasilkan perilaku yang tidak adil atau anarki? Jadi di sini, adanya perasaan lebih dari orang lain tidak selalu berdampak kepada pemaksaaan kehendak bahkan sampai melakukan anarki, minimal kekerasan simbolik! Tampaknya tidak boleh mencap bahwa keadaan lebih akan membuat yang bersangkutan menjadi arogan. &lt;br /&gt; Itu dari segi kualitas, dari segi kuantitas, orang-orang dengan populasi lebih besar, orang-orang dengan jumlah penganut lebih besar, komunitas yang terdiri dari etnis dengan jumlah lebih besar, dst juga akan cenderung memiliki penghargaan lebih besar terhadap kelompoknya.&lt;br /&gt; Dalam ruang lingkup kehidupan berbangsa, mungkin kita tidak boleh serta merta menuding bahwa teman-teman dari mayoritas adalah arogan. Kita perlu makin membina hubungan dengan teman mayoritas, barangkali kita belum banyak berkomunikasi dengan mereka. Dalam ruang lingkup kecil, mungkin perilaku arogan, tanpa disadari, bisa terjadi dalam diri kita pula meski belum sampai menimbulkan perilaku yang tidak adil dan perilaku anarkis pula.    &lt;br /&gt;Bagaimana dengan lingkungan pergaulan gerejawi? Tampaknya harus dikatakan ada peluang yang sama! Saya selalu tertarik untuk membanding-bandingkan irama kehidupan dan corak pergaulan di dunia sekuler dengan lingkungan gereja. Perilaku di tengah-tengah masyarakat umum, hemat saya, lebih kurang mempengaruhi (dan dipengaruhi – jadi ada timbal balik) dinamika perilaku di tengah-tengah interaksi internal keagamaan. Saya tidak mengatakan bahwa wajah republik ini identik dengan wajah gereja. Namun, etos kerja, budaya organisasi, corak pergaulan, roh aji mumpung, roh KKN, pragmatisme kepentingan sesaat, dst. sebagaimana dijumpai dalam dinamika kehidupan berbangsa juga terasakan anginnya di setiap lingkungan pergaulan, tak terkecuali di lingkup keagamaan. Saya juga tidak mengatakan: tidak ada lagi orang yang idealis di republik ini, semua telah pragmatis, semua cuma memikirkan kepentingan duniawi, itu diluar kewenangan saya! Yang menarik bagi saya adalah bahwa godaan sikap arogansi di lingkup pergaulan masyarakat secara umum bukan tidak mungkin juga terasakan suasananya di dalam gereja untuk tidak mengatakan lebih hebat lagi godaannya dalam gereja.&lt;br /&gt;Masih ada satu lagi, yang menarik untuk dipertimbangkan. Kenyataannya, status social setiap orang tidak selalu menetap. Bisa, bahkan sering terjadi, pergeseran status dari yang rendah kepada yang tinggi (demikian pula maupun sebaliknya dari tinggi kepada yang rendah). Dengan itu dapat dikatakan bahwa perilaku arogan bisa menjangkiti siapa saja, karena semua orang bisa tiba pada status kemapanan. (Entahkah masih ada pula kasus luar biasa di mana tanpa status kemapanan dimiliki perasaan superioritas???)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Contoh Perilaku Arogan Dan Peringatan Tentang Dosa Arogansi Dalam Alkitab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya tidak mudah untuk mendeteksi perilaku arogan dalam Alkitab. Hal itu antara lain dikarenakan, rasa superioritas dan kebanggaan umat maupun pribadi-pribadi yang kita baca dalam Alkitab menjadi samar jika dihubungkan dengan campur tangan ilahi. Jika kita mengutip lirik dari para dara yang melantunkan lagu rakyat yang membangga-banggakan Daud (tapi sebaliknya membuat hati Saul panas): ‘Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.’ (1 Samuel 18:7) maka kita tidak dapat menangkap adanya teks yang menunjukkan kearoganan Daud. Menyangkut kemenangannya atas Goliat dia justru berkata: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu…” (1 Sam 17:45-46).&lt;br /&gt; Masih dengan cerita Saul versus Daud, dalam 1 Samuel 24:1-23 kita mengikuti episode ke sekian di mana perburuan Saul atas Daud masih berlanjut. Namun pada satu kesempatan yang tidak terduga Daud sebetulnya punya kesempatan untuk berbuat jahat atau membalaskan perbuatan Saul dengan membunuhnya. Ganti lalu tangan (atau lebih tepat lalu pisau) yang ia lakukan cuma memotong punca jubah Saul dan berkata: ‘Dijauhkan TUHANlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.’ (24:7) Yang dilakukannya malah mencegah orang-orangnya dan tidak mengizinkan mereka menyerang Saul.&lt;br /&gt; Perilaku arogan Daud malah terjadi pada season berikutnya di 2 Samuel 24:1-17, di mana Daud merasa telah hebat dan menyuruh para panglima perangnya untuk menghitung rakyatnya. Akibatnya TUHAN marah dan Daud disuruh memilih satu dari tiga jenis hukuman: “Pergilah, katakanlah kepada Daud: Beginilah firman TUHAN: tiga perkara Kuhadapkan kepadamu; pilihlah salah satu dari padanya, maka Aku akan melakukannya kepadamu…Akan datangkah menimpa engkau tiga tahun kelaparan di negerimu? Atau maukah engkau melarikan diri tiga bulan lamanya dari hadapan lawanmu, sedang mereka itu mengejar engkau? Atau, akan adakah tiga hari penyakit sampar di negerimu? Maka sekarang, pikirkanlah dan timbanglah, jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku.’ (24:12-14).&lt;br /&gt;   Demikianlah kita mendengar dalam Perjanjian Baru permintaan Yakobus dan Yohanes kepada Yesus: ‘Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami…Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaanMu kelak, yang seorang di sebelah kananMu dan yang seorang lagi di sebelah kiriMu.’ (Markus 10:35,37). Dalam kaitan itulah Yesus berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.’ (Markus 10:41-45). Di sini kita melihat keinginan untuk menjadi superior. Tampaknya bahaya itu juga bisa mengancam umat kristiani maupun pelayan-pelayan Tuhan pada masa kini juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Obat Agar Jangan Jatuh Kepada Dosa Arogansi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya, Percaya Diri vs Kesombongan, Alan Loy McGinnis menuliskan bahwa ‘memandang diri kita dengan pandangan yang tepat akan membuat kesombongan menjadi sesuatu yang menggelikan…’ (hl. 192). Apakah sesungguhnya yang dapat disombongkan oleh umat kristiani? Tidak ada!&lt;br /&gt; Masih menurut McGinnis, penangkal dan obat agar tidak terjangkit penyakit (baca: dosa) Arogansi adalah Hukum Yang Terutama. Dengan berupaya untuk memenuhi Hukum Yang Terutama itu seseorang sedang berupaya ‘menggambarkan seluruh hidupnya telah menjadi satu dalam komitmen yang penuh sukacita dan penuh kasih…Kita berutang rasa syukur kepadaNya dan karena siapa Dia, bukan karena suatu keuntungan tertentu yang telah dianugerahkanNya kepada  kita. Penyembahan yang melampaui diri kita itu membuat kita menang atas godaan untuk menjadi terlalu sibuk dengan diri sendiri. Tetapi, tidak perlu diragukan lagi bahwa orang semacam itu menjadi luar biasa. Orang-orang yang percaya dengan sungguh-sungguh bukkanlah orang yang lemah. Sebaliknya, mereka benar-benar sangat kuat.’&lt;br /&gt; Dia melengkapkan lagi, ‘Memiliki hidup yang penuh ketaatan tidaklah berarti bahwa Anda harus berjalan dengan kepala tertunduk, terus-menerus meminta maaf, mengkritik diri sendiri, dan merendahkan diri sendiri: Aku tidak bisa mengingat nama-nama, Aku benar-benar minta maaf karena merepotkanmu, Aku tampaknya tidak pernah sampai tepat pada waktunya, Aku sangat lemah dalam hal ini.’ (hl. 191)&lt;br /&gt; Kita berbicara tentang bagaimana agar tidak jatuh kepada dosa arogansi, namun pada waktu yang sama kita juga tidak boleh jatuh pula kepada dosa (penyakit) minder!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. Maurixon Silitonga, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Maret 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-6208521600634846461?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/6208521600634846461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=6208521600634846461&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/6208521600634846461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/6208521600634846461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/07/renungan-dosa-arogansi.html' title='RENUNGAN: DOSA AROGANSI'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-1129256857203948215</id><published>2011-06-10T08:38:00.002+07:00</published><updated>2011-06-10T08:45:07.094+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: HIDUPLAH BERSAMA TUHAN MAKA HIDUPMU AKAN SELALU DIBERKATI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku. (Imamat 26 : 1 - 13)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I.     Pengantar &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengapa manusia mengalami penderitaan ?&lt;br /&gt;Ketika manusia masih menikmati kebahagiaan, hidup berkecukupan dan bebas dari rasa takut mereka tidak membutuhkan pertolongan. Adam dan Hawa melakukan aktivitasnya tanpa harus bertanya kepada Allah tentang makan dan minum dan menikmati keindahan alam sejauh mata memandang. Pergaulan juga merupakan hak penuh (mutlak), tidak ada yang terlarang. Tetapi ada satu syarat yang tidak bisa diabaikan, sebagai makhluk ciptaan, manusia harus taat kepada suara Allah yang menciptakan-Nya. Allah tidak melarang Hawa berteman dengan ular di taman Eden, tetapi jangan sampai pertemanan itu menjadikan manusia lupa diri dan melanggar perintah Allah. Dari banyak kebebasan untuk menikmati semua pemandangan dan menyantap buah-buahan yang disediakan Allah untuk manusia hanya satu yang tidak bisa dimakan bahkan merabanya saja 'tidak diperbolehkan". Tempatnya-pun sudah diberitahukan terlebih dahulu, tepatnya berada ditengah-tengah taman (Kej 3:3) dengan harapan manusia itu tidak salah ambil. Pada kenyataannya manusia jatuh kedalam pelanggaran bukan akibat salah ambil atau "khilaf melainkan dengan sengaja melanggar perintah Allah dan mendengar rayuan "iblis" si-ular tua itu. Manusia memilih jalan yang salah.&lt;br /&gt;Itulah dosa. Upah dosa adalah maut. Sedemikian cepatnya manusia itu masuk dalam perangkap pengaruh pergaulan bebas yang tidak sepadan. Barangkali inilah yang disebut oleh orang yang sudah berpengalaman, bahwa: Pergaulan yang tidak baik dapat merusak kebiasaan baik. Akibat kejatuhan manusia kedalam dosa itulah yang mengakibatkan penderitaan. Sejak itulah manusia berada dalam bayang-bayang maut dan mengalami berbagai-macam penderitaan. Termasuk kematian orang benar akibat iri hati (Kej 4:8 - Habil dibunuh Kain saudara kandungnya sendiri). Kematian, kelaparan dan sakit penyakit semakin merajalela. Sekalipun pengalaman kerja dan teknologi hasil temuan pikiran manusia semakin berkembang, tetapi penderitaan tidak bisa dihempang.&lt;br /&gt;Sebagai umat pilihan Allah "Israel" mendapat keistimewaan dimata Tuhan. Kerinduan umat itu untuk selalu beribadah dan mempersembahkan korban syukur dan permohonan akan pengampunan dosa merupakan bukti bahwa umat itu menyadari dosa kesalahannya dihadapan Tuhan. Berulangkali Allah menyampaikan Firman-Nya kepada hamba-hambaNya, supaya Israel bertobat dari dosa-dosanya dan supaya belajar berbuat baik dan hidup kudus dihadapan Allah.&lt;br /&gt;Allah memperbaiki kembali hubungan-Nya dengan Israel.  Melalui "Musa"  hamba-Nya.     Allah mengingatkan, apabila umat itu tidak lagi kembali kejalan yang salah, tidak menyembah berhala atau patung, tugu berhala atau batu berukir tetapi hanya kepada Allah, maka Israel akan diberkati. Kamu harus memelihara hari-hari SabatKu dan menghormati tempat kudus-Ku, Akulah Tuhan (Im 26:2). Janji penyertaan Tuhan, ditandai dengan: damai sejatera, hidup tenang dan dapat berbaring dan tidak dikejutkan oleh apapun. Allah sendiri yang akan meniadakan binatang buas dan menghentikan ancaman musuh dan pedang (ay 5-6)   Kelahiran Yesus Kristus, adalah karya keselamatan dari Allah, untuk semua alam ciptaan. Allah tidak menghendaki, manusia mati (binasa) didalam dosa, melainkan beroleh hidup yang kekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II.    Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.   Berkat sebagai upah ketaatan&lt;br /&gt;Musa sangat gigih memperjuangkan keteguhan iman bangsa Israel, agar tetap berpaut kepada Allah. Dia menyegarkan kenangan umat itu, akan pimpinan Allah sepanjang hidup mereka, ketika keluar dari rumah perbudakan Firaun di tanah Mesir dengan tangan yang kuat sehingga mereka selamat dan mengalami banyak pertolongan yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh siapapun. Peringatan itu merupakan kepentingan yang besar dalam perjalanan masa depan Israel. Kebutuhan mereka sebagai umat Allah bukan hanya sekedar hidup dan bertindak dengan sesuka hati. Selain bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari mereka wajib menaati hukum dan aturan yang sudah dinyatakan Tuhan secara khusus. Keindahan pengalaman berjalan dalam pimpinan Tuhan, selama berada dalam pengembaraan di-padang gurun, adalah peristiwa yang sangat menakjubkan. Saat mana Allah hadir dalam tiang awan untuk memberikan perlindungan dari terik matahari dan tiang api pada malam hari untuk memberi kehangatan. Keajaiban itu tidak mungkin dialami oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini jika bukan karena kasih setia Allah terhadap umat pilihan yang sangat dikasihi-Nya itu. Dikaitkan dengan semua itu sepatutnyalah Musa hamba Tuhan itu, memperjelas kesinambungan hubungan baik itu, antara Allah dan umat-Nya, agar Musa merasa aman saat Allah ada keberuntungan yang memungkinkan orang itu mempunyai peluang, untuk memberikan bantuan atau pertolongan bagi orang lain. (Asa gabe pasu-pasu hamu! Sumarihon naringkot didaging, lumobi ma dipartondion). Dikaitkan dengan kedatangan Yesus Kristus kedalam dunia ini, pertolongan tidak selamanya diartikan dalam bentuk materi, tetapi termasuk membangkitkan semangat hidup, pengampunan dosa, menawarkan kesembuhan, melenyapkan sakit-penyakit dan semua kelemahan. Harapan supaya menjadi bangsa yang diberkati dan menjadi berkat itulah kerinduan Allah, terhadap bangsa Israel yang harus dipersiapkan oleh Musa. Untuk memampukan Israel menerima berkat itu, ada beberapa syarat, yang harus ditaati, al:&lt;br /&gt;-penolakan terhadap semua bentuk penyembahan berhala&lt;br /&gt;-Sabat harus ditaati, dan&lt;br /&gt;-tempat kudus Tuhan harus dihormati.&lt;br /&gt;Berkat-berkat itu merupakan gambaran yang indah-indah. Yesaya dengan girang memberikan gambaran tentang kemakmuran dan kedamaian sebagai upah ketaatan kepada Allah. Tuhan akan memberikan hujan dan tanah akan memberikan hasilnya. Musim mengirik dan memetik akan berkelimpahan, akan berlangsung berbulan-bulan bukan berhari-hari. Bersamaan dengan kemakmuran itu akan ada damai sejahtera tidak ada yang dikejutkan oleh marabahaya atau kecelakaan. Tidak ada orang atau musuh yang menyakiti ataupun binatang yang dapat melukai atau merintangi mereka dalam beraktivitas. Semua itu dimungkinkan sebab Allah berpaling kepada mereka dan mengingat mereka. Allah menempatkan kemah suci-Nya ditengah-tengah umat itu dan tidak merasa bosan kepada mereka. Hal inilah yang harus dirindukan dan harus disadari oleh semua orang yang takut pada Tuhan, bahwa kehadiran Bait Alllah harus mengingatkan kita kepada berkat, pertolongan dan kemurahan Allah. Dengan demikian kita akan selalu rajin beribadah dan menghormati Allah dalam sikap hidup maupun tindakan sehari-hari. Barangkali hal inilah yang menjadikan motivasi bagi masyarakat Batak, sekalipun dikenal sebagai suku bangsa berwatak keras dan bergelimang dosa, karena ditantang kehidupan keras dengan berbagai profesi, tetapi selalu berjuang untuk mendirikan gerejanya dimanapun mereka tinggal.&lt;br /&gt;Sama halnya dengan Israel, mereka adalah umat yang berdosa, yang sepatutnya tidak disukai Tuhan. Tetapi jaminan kehadiran Allah, sebagai pemberi berkat kasih karunia (pasu-pasu pardagingon dohot pasu-pasu partondion), pengampunan dan kemurahan. Kehadiran Allah ditengah-tengah umatNya itulah satu-satunya cara Allah untuk menyucikan umat itu. Hal itu digambarkan dengan kehadiran kemah-suci dan ketaatan beribadah dan kesediaan memohonkan pengampunan. Kemahakuasaan Allah memungkinkan semua itu terjadi dan mengembalikan kebahagiaan umat itu, menjadi seperti taman Eden. Sebab Allah sendiri yang memberikan gambaran tentang tanah Kanaan kemana Allah akan memimpin mereka. Kanaan sebagai tanah yang subur "berlimpah susu dan madu". Yang berarti rancangan Allah adalah "rancangan damai sejahtera, dan kemakmuran" bagi seluruh umat yang disayangi itu. Dengan harapan, supaya mereka hidup berbahagia, bekerja dan beribadah kepada Allah. Semua umat percaya harus mau dipimpin oleh Roh Allah seperti Israel melalui hamba-hambaNya, agar memiliki roh yang taat dan setia melakukan hukum Tuhan. (Ingkon rade tu panogu-noguon ni Tuhan i: ringgas mangula ulaon huhut dibagasan haunduk-on, manopot bagas joro) sebagai bukti bahwa kita adalah milik Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Membebaskan Israel dari kuk perhambaan, adalah bagian dari "Karya Penyelamatan" Allah. Penyertaan Allah, memimpin Israel keluar dari rumah perbudakan Firaun di-tanah Mesir, memasuki tanah perjanjian adalah bukti kemahakuasaan Allah dan kesetiaan-Nya terhadap umat-Nya, bahwa "Dia" tidak menginginkan Israel menjadi budak. Hal ini bisa kita lihat pada kitab Kel 22:25; Im 25:25, 35, 39, 47 : orang Israel tidak bisa disamakan dengan bangsa asing. Seandainya diantaranya ada yang jatuh miskin, orang itu tidak diperbolehkan menjadi budak, tetapi harus dipekerjakan sebagai orang upahan. Yang berarti orang tersebut wajib mendapat upah yang layak untuk menyambung hidupnya. Apabila keterpurukan yang dia alami sudah sangat parah lalu menjual dirinya. Orang itu tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang (semau gue) ataupun sebagai budak belian, tetapi dia harus diperlakukan dengan murah hati, "sebagai buruh upahan" dan harus dibebaskan pada tahun Yobel, jika tahun ini telah tiba sebelum akhir 6 tahun pelayanannya (Kel 21:2-4; U115;12-13).&lt;br /&gt;Kenyataan yang bisa kita lihat dalam dalam sejarah perjalanan kehidupan B. Israel, sekalipun kemah Suci tetap hadir ditengahtengah "umat" itu, bahkan pada masa R. Salomo "pembangunan Bait Allah" yang sangat terkenal keindahan dan kemegahannya, namun penderitaan, kemiskinan dan perhambaan tidak luput dari umat itu. Adakalanya bangsa itu kalah perang, mengalami panen yang pahit dan berbagai penderitaan yang seringkali mengakibatkan umat itu dijadikan sindiran dan diolok-olok oleh bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Belajar dari semua itu ada beberapa catatan yang bisa kita lihat sejauh mana ketaatan dan kesetiaan Israel terhadap Allah yang sangat mengasihi mereka.&lt;br /&gt;Dalam kitab hakim-hakm kita melihat, sebelum penderitaan umat itu diberitakan seringkali diberitahukan terlebih dahulu, bahwa Israel : seringkali menyakiti hati Allah, al : menyembah  berhala pada zaman hakim-hakim (2:6-23); melakukan apa yang jahat di mata Tuhan (4:1 ; 6:1). Kesalahan yang sama, seringkali mereka lakukan, pada hal berulangkali Allah mengingatkan bangsa itu supaya setia melakukan hukum Tuhan. Yosua bahkan dengan tegas mengatakan :"terserahlah, apakah kalian mau setia atau tidak, tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Allah. Sebab Yosua melihat tantangan yang akan dihadapi oleh masyarakat global. Apabila sudah berada diseberang sungai Efrat, bergabung dengan bangsa-bangsa asing, hamba Tuhan itu sudah mulai meragukan keteguhan hati umat itu. Ada berbagai kemungkinan, mis: pengaruh yang datang dari berhala, seperti : allah orang Amori (Yosua 24:15) Kebiasaan buruk serupa itulah yang berlangsung terus dalam kehidupan B. Israel. Pengaruh yang datang dari lingkungan dimana mereka tinggal, akibat dari perkawinan campuran dengan pasangan yang tidak mengenal Alllah (tidak sepadan), dan diperparah oleh pemimpin yang berubah setia kepada Allah setelah bergelimang harta, mis: - nabi Ahia menubuatkan pecahnya kerajaan Israel sebab : Salomo telah meninggalkan Tuhan Allah-Nya dan tidak berlaku setia seperti Daud ayahnya. Salomo telah sujud menyembah kepada Asyotoret, dewi orang Sidon, kepada Kamos allah orang Moab dan kepada Milkom, allah bani Amon, dan tidak hidup menurut jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan dengan melakukan apa yang benar dimata Tuhan (1 Raja-raja 11:28-37).&lt;br /&gt;Lupa kacang akan kulitnya, adalah sebutan yang paling cocok, untuk ketidak setiaan Israel. Orang yang bisa lupa diri setelah hidupnya diberkati adalah cara hidup yang tidak disukai Tuhan. Sejak Israel terbagi dua (Utara dan Selatan), mereka mengalami berbagai macam penderitaan dan seringkali terperangkap menjadi tawanan (diperbudak) oleh penjajah.&lt;br /&gt;Kelahiran Yesus Kristus kedalam dunia, sudah lama dinanti-nanti. Israel berharap bahwa kadatangan Mesias adalah untuk membawa kemenangan bagi umat Allah dari penjajahan Roma. Namun, Allah tidak lagi mengkhususkan keselamatan itu kepada "Israel" saja, tetapi sudah direncanakan untuk membawa pembebasan dari dosa dunia dan kepada seluruh bangsa dibawah kolong langit. Sebab pengaruh dosa sudah menjalar kemana-mana dan dengan mudah bisa mempengaruhi semua orang dimuka-bumi. Pengaruh kejahatan, tidak bisa lagi dipercayakan kesalah satu bangsa, tetapi semua bangsa-bangsa didunia harus mengetahui khabar gembira itu, bahwa Yesus telah lahir. Anak Allah menjadi manusia&lt;br /&gt;Itulah cara Allah membebaskan setiap orang percaya dari maut. Agar manusia tidak mati binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Joh 3:16). Allah sendiri sudah menjanjikan akan mematahkan kuk perhambaan itu, maka wajiblah setiap orang percaya menjaga kekudusan dirinya. Anak Allah turun kedunia, mati di atas kayu salib, rela memberikan darahNya yang kudus untuk membasuh utang dosa manusia. Untuk itu, saling mengasihilah kamu sebab "Allah adalah kasih".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III.   Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kamu harus memelihara hari-hari Sabat-Ku dan menghormati tempat kudus-Ku, Akulah Tuhan. Ada banyak perobahan yang terjadi tentang cara-cara memberikan hormat kepada Allah setelah kita masuk dalam Perjanjian Baru. Menyembah Allah, tidak lagi wajib ke-Bait Allah yang di Yerusalem. Yesus sendiri mengatakan:- Allah itu Roh, dan barang siapa meyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24). Bukan lagi harus disalah satu tempat, melainkan dimanapun kita berada, wajib menyembah Allah. Mengucap syukur dan berterimakasih atas semua pertolongan dan kemurahan-Nya. Setiap orang percaya terpanggil untuk memuliakan Allah dengan sikap dan tindakan dan wajib turut berperan serta dalam setiap pembangunan Rumah Tuhan. Sekalipun Paulus mengatakan :-tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam didalam kamu (1 Kor 6:19), bukan berarti kita tidak membutuhkan Rumah Ibadah, tempat kita secara bersama-sama dengan sesama anak-anak Tuhan, untuk menyembah dan memuliakan Allah.&lt;br /&gt;Sekecil apapun yang bisa kita bawa kerumah Tuhan sebagai tanda hormat dan ucapan syukur sangat berharga dihadapan Tuhan. Ambil bagian dalam tugas pelayanan sesuai dengan bakat, talenta dan potensi dirimu adalah salah satu cara menghormati Tuhan. Menghormati tempat kudus Tuhan, termasuk kunjunganmu ke-gereja. Kesediaanmu mengajak sesama, dan seisi keluargamu, naik kerumah Tuhan juga merupakan bukti bahwa kamu adalah "anggota keluarga kerajaan Allah".&lt;br /&gt;Daya tarik yang paling berpengaruh adalah tingkah-laku dan ketulusan hati. (Jamita do parange, parange do jamita, Pdt. J. Sihombing - mantan Ephorus HKBP). Syalom ! Tuhan Yesus Memberkati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. K.E. Limbong, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Januari 2007)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-1129256857203948215?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/1129256857203948215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=1129256857203948215&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/1129256857203948215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/1129256857203948215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/06/artikel-hiduplah-bersama-tuhan-maka.html' title='ARTIKEL: HIDUPLAH BERSAMA TUHAN MAKA HIDUPMU AKAN SELALU DIBERKATI'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-7614065950826346177</id><published>2011-05-12T05:39:00.002+07:00</published><updated>2011-05-12T05:42:20.421+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: KREDIBILITAS AKADEMIK PENDETA DAN MAJELIS GEREJA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Majelis dan Pendeta mencapai jenjang pendidikan ada tamat SLTP, SMA, Sarjana Muda, Sarjana, Master, Doktor dan sebagian kecil ada yang Professor. Kita patut bangga jika hamba-hamba Tuhan kita mencapai predikatnya masing-masing sesuai dengan status professinya (Sintua, Guru Huria, Bibelvrou, Diakones, Evangelist, Pendeta, dll). Maka kesimpulannya pendidikan itu sangat penting dan dibutuhkan dalam semua aspek pelayanan berjemaat khususnya dalam berteologi. Pertanyaan bagi kita sejauhmana Majelis dan Pendeta layak dipercaya dalam pelayanan? tergantung sipelayanannya apakah dia komit melakukan pelayanannya atau tidak? Bisa saja dia hanya tamat SLTP tapi tugas pelayananya sesuai dengan uraian tugasnya dilakukan dengan baik atau bisa saja dia sudah mencapai sampai gelar Sarjana dalam pelayanan tidak bermoralitas dalam pelayananya. Dia hanya mencari kesempatan dalam kesempitan. “Jemaat itu bisa saja dibuat hanya sapi perahan”  Jadi saya tidak bisa menyalahkan sipelayannya tetapi apa yang sedang dillakukan dalam melayani baik di daerah tradisional, trasisi dan modern. Predikat pendidikan tidak menjamin suksesnya dia dalam pelayanan tetapi sesuatu bidang pelayanan harus dilakukan mulai dari hal-hal kecil sampai besar walaupun berdinamika sesuai dengan fungsinya masing-masing. Tapi semangat pelayanan jangan pudar karena Tuhan menjamin suksesnya dalam pelayanan berjemaat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;: Kredibilitas: Majelis dan Pendeta, mereka sama-sama hamba Tuhan baik ruang lingkup pelayanannya Gereja dan Weyk, Masyarakat dan dunia ini. Maka disanalah sipelayan berkecimpung melakukan pelayanan agar berita kesukaan tersiar keseluruh dunia ini. Tetapi bisa saja ada terjadi hambatan-hambatan. Lalu sikap sipelayan bagaimana? Apakah dia memiliki strategi pelayanan atau membeo dan berkamuflase karena tidak bias mengikuti lalu mulai mengelak dalam pelayanannya. Sebaiknya jangan lari dalam berbagai tantangan dan rintangan yang sedag dihadapinya. Karena konsep pelayanan yang saya tau  harus seperti teologi air, disaat ini dihambat tetapi harus melakukan pelayanan itu dengan sungguh-sungguh maka akan ada solusi dari halangan dan tantangan itu. Andalkan Kuasa Tuhan dalam menjalankan pelayanan itu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;: Jemaat adalah sasaran pelayanan. Jemaatpun harus menyadari bahwa sipelayan itu adalah manusia biasa juga yang memiliki keterbatasan. Walaupun sudah berpredikat sarjana atau Doktor belum tentu semua dikuasai bidang pelayanannya, di sinilah dibutuhkan kerjasama dan sama-sama kerja dalam mengdukung pelayanan itu baik warga dan sesama pelayan. Hati-hati jangan dibiarkan pelayanan itu tidak berjalan gara-gara menunggu system yang baku. Ternyata system itu tidak menjangkau pelayanan itu. Boleh saja kita ambil bagian agar berjalan pelayanan tersebut.  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;: Apa yang sudah disusun dalam aturan bermain HKBP ada yang baik tetapi belum tentu semua menjawab kebutuhan pelayanan. Di sinilah dibutuhkan pertemuan yang intens dalam mediskusikan tindakan nyata melayani sesuai kearifan lokal. Pasti berbeda medan pelayanan berbeda juga kebutuhan yang sedang dilayani. Sipelayan itu harus peka mencermati apa saja yang sedang dibutuhkan oleh umat yang sedang dilayaninya. Jangan memaksanakan kehendak: mungkin karena dianya sebagai uluan (pemimpin). Karena walaupun pendidikan kita sudah tinggi belum tentu semua bidang pelayanan itu kita kuasa (buat waktu dengar pendapat dengan jemaat) tetapi ingat ada buku paket HKBP yang mengatur mekanisme pelayanan kita. Sehingga berjalan sesuai jalur-jalur yang berjiwa peningkatan pelayanan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;: Kadang-kadang kredibilitas pelayan sudah luntur karena situasi medan pelayanan itu sendiri. Ada seorang pelayan berkata: andaikan saya di tempatkan di kota maka saya akan melakukan pelayanan yang berbasiskan jemaat. Ternyata setelah dia ditempatkan di kota tidak seperti yang diharapkannya terjadi, kesimpulannya jangan  bersandiwara dalam pelayanan. Lebih baik muai dari hal-hal yang sederhana tetapi bias berjalan pelayanan itu daripada kamu beranganangan (Berhayal) tetapi tidak menjadi kenyataan. Jauh lebih baik berbuat yang sederhana daripada tidak berbuat sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;: berbicara dengan Majelis ini Aturan dan Peraturan HKBP sesuai dengan Amandemen 2010 sudah membuka ruang bahwa semua yang ambil bagian dalam pelayanan sudah diberi kesempatan untuk majelis tetapi yang menbedakan majelis tahbisan dan non tahbisan. Maka tidak ada lagi alasan kita untuk tidak melakukan pelayanan itu secara holistik. Mari kita melayani bersama-sama demi peningkatan pelayanan di gereja kita masing-masing. Sesuai dengan kebutuhan pelayanan dan jangan menafikan pelayanan hal-hal kecil seperti pelayanan kepada anak sekolah Minggu.  Sekarang sepepnuhanya dikembalikan kepada pelayan Tahbisan keseriusannya melayani di jemaatnya walaupun berada di jemaat kecil atau jemaat yang besar. Jaga kredilitasmu dihadapan jemaat apalagi dihadaan Tuhan yang memberi kesempatan bagi kita melayani. Maka citra, kredibilitas, khararter dan dedikasi bagian integral si Pelayan dalam pelayanannya.  Kiranya pertolongan Tuhan yang menolong kita masing-masing. Ingat sehebat apapun predikat pendidikanmu sangat menolong dipelayanan  tetapi motto hidupmu harus: LONG LIFE EDUCATION (Belajar tidak mengenal usia: belajar seumur hidup).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. Haposan Sianturi, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Mei 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-7614065950826346177?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/7614065950826346177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=7614065950826346177&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/7614065950826346177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/7614065950826346177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/05/artikel-kredibilitas-akademik-pendeta.html' title='ARTIKEL: KREDIBILITAS AKADEMIK PENDETA DAN MAJELIS GEREJA'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-4516468889000119209</id><published>2011-04-19T10:41:00.001+07:00</published><updated>2011-04-19T10:45:05.999+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: FROM STUDENT TO WORKER</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di dalam perkembangan jaman sekarang ini, semakin kita sadari bahwa pendidikan sangatlah memegang peranan dalam mengembangkan diri, baik itu pendidikan formal maupun informal. Pendidikan dapat menjadi modal bagi seseorang untuk meraih cita-cita. Pendidikan yang seutuhnya dapat kita peroleh selagi kita duduk di bangku sekolah. Kemampuan hard skill dan soft skill dapat kita peroleh melalui berbagai mata pelajaran di sekolah. Lalu adakah keterkaitan antara pendidikan yang kita terima dengan pekerjaan yang akan kita dapatkan? Tentu ada dan sangat erat kaitan antara keduanya. Berikut akan kita lihat bersama-sama terlebih dahulu peran sekolah dan langkah dalam memasuki dunia kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peran Pendidikan Sekolah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“makin tinggi sekolahnya makin tinggi tingkat penguasaan ilmunya sehingga dipandang memiliki status yang tinggi di masyarakat”, demikian pernyataan ahli sosial mengenai peran pendidikan. Pada prinsipnya pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan status seseorang. Dari 3 (tiga) jalur pendidikan mulai dari informal, formal dan non formal, yang lebih menjanjikan adalah, jalur non formal dan formal. Hal ini ditandai dengan adanya orang mendapatkan pekerjaan selain keahlian juga secara formal memiliki ijasah/sertifikat tertentu.&lt;br /&gt;Melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan statusnya. Memperhatikan salah satu fungsi pendidikan adalah proses seleksi terjadi di segala bidang kehidupan baik di sekolah maupun di tempat-tempat kerja. Untuk masuk sekolah terjadi seleksi antara semua calon. Maksud seleksi tentu untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Dalam mencari pekerjaan atau untuk memangku suatu jabatan diperlukan juga seleksi tujuannya untuk memperoleh penghargaan dan dapat meningkatkan tenaga kerja yang cakap dan trampil sesuai dengan jabatan yang akan dipangkunya. Sekolah juga sebagai lembaga yang berfungsi melatih dan mengembangkan tenaga kerja. Sekolah mengajarkan bagaimana bertanggung jawab terhadap tugas, disiplin sesuai aturan-aturan yang telah ditetapkan. Melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan dan mengembangkan dirinya sehingga status sosialnya berubah. Menurut Syuhada (1988:126-131) Kebutuhan masyarakat akan pendidikan sangat penting sehingga dalam mengembangkan pendidikan perlu diperhatikan hal-hal berikut:&lt;br /&gt;1. Relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat&lt;br /&gt; Dewasa ini semakin dirasakan bahwa pendidikan belum menjawab kebutuhan masyarakat, sebab upaya-upaya pendidikan belum terkait secara nyata dengan lapangan kerja dalam masyarakat. Para pelajar, mahasiswa memasuki sekolah dan perguruan tinggi tanpa pemahaman yang jelas. Kebanyakan karena ikut-ikutan teman juga keinginan orang tua. Dampak negatif dari kesenjangan itu, banyak tamatan sekolah dan perguruan tinggi yang terpaksa menganggur atau memasuki lapangan pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Seharusnya diusahakan pendidikan itu dikembangkan ke arah pemenuhan kebutuhan masyarakat. Barangkali pernah mendengar konsep link and match yang dikembangkan dalam sekolah- sekolah kejuruan di mana diharapkan para lulusannya dapat langsung diserap dalam dunia kerja. Sebenarnya ide ini didasarkan kepada pentingnya pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;2. Panduan pendidikan dan latihan&lt;br /&gt; Sebagian masyarakat telah menyadari masih adanya kekurangan dari pendidikan formal di sekolah. Untuk melengkapi kekurangan-kekurangan tersebut perlu ada kegiatan pendidikan dan latihan di masyarakat. Sekarang ini memang sudah banyak pusat-pusat pendidikan dan latihan akan tetapi output-nya juga mengalami kondisi seperti dalam pendidikan formal. Mengapa keadaan seperti ini terjadi? Hal tersebut terjadi sebab peserta pendidikan dan latihan tidak memahami kegiatan-kegiatan yang diikuti. Akibatnya begitu selesai mengikuti kegiatan tidak bisa langsung siap bekerja. Kondisi seperti ini menimbulkan kekecewaan dalam masyarakat. Kekecewaan seperti itu dapat dihindari sekurang-kurangnya apabila pihak yang berkompeten baik pemerintah maupun swasta secara terbuka memberikan informasi yang jelas tentang lembaga-lembaga pendidikan dan latihan yang diselenggarakan kepada masyarakat luas baik lewat media massa maupun lembaga-pendidikan di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memasuki Dunia Kerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang tentunya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai dengan yang diinginkan. Namun banyak pencari kerja yang tidak mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja yang amat berbeda dengan sewaktu mereka di bangku sekolah atau kuliah. Hal ini mengakibatkan pencari kerja tidak tahu apa yang seharusnya mereka lakukan pada saat  berkompetisi untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Bahkan, pada saat mereka telah lulus pun juga belum mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Agar sukses memasuki dunia kerja kita harus mempersiapkan terlebih dahulu apa-apa yang mesti mereka persiapkan.&lt;br /&gt;Pertama-tama kita harus tahu pekerjaaan apa yang kita inginkan. Hal inilah yang harus kita pikirkan jauh-jauh hari bahkan ketika kita masih di bangku kuliah/ sekolah agar kita dapat menata langkah-langkah berikutnya untuk mencapai hal tersebut. Cita-cita yang kita miliki itu disesuaikan dengan kemampuan kita, baik daya intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ), maupun kemampuan ekonomi dan kemampuan- kemampuan lain yang mendukung cita-cita tersebut. Jika kemampuan atau persyaratan itu belum kita miliki, kita dapat menginstropeksi diri mampukah kita meraih kemampuan/ persyaratan itu? Jika mampu, maka kita dapat melanjutkan usaha kita untuk menggapai cita-cita tersebut.&lt;br /&gt;Tidak mustahil bahwa dalam perjalanannya kita mungkin mengubah cita-cita kita karena sesuatu hal. Jika kita ingin mengubah cita-cita tersebut, maka kita harus teliti dengan seksama apakah cita-cita baru tersebut lebih memungkinkan kita raih? Cukupkah kemampuan kita? Apakah masih punya waktu untuk mempersiapkannya?  Perubahan cita-cita juga dapat kita lakukan jika ketika kita hendak meraih cita-cita tersebut, ternyata terdapat hal utama yang tidak pernah kita pikirkan yang tidak dapat kita penuhi. Dalam menentukan cita-cita, kita juga harus mempertimbangkan pasar kerja mana yang amat dibutuhkan oleh masyarakat. Adalah wajar jika sekarang ini banyak calon mahasiswa berbondong-bondong menjadi guru karena lapang kerjanya dibuka lebar-lebar oleh pemerintah serta jaminan hidup yang tampaknya lebih baik dengan adanya Undang-undang Guru dan Dosen.&lt;br /&gt;Jika kita ingin menjadi seorang dokter yang handal misalnya, maka sejak kelas satu SMU harus mempersiapkan diri untuk dapat bersaing dengan calon mahasiswa lainnya untuk memasuki fakultas kedokteran. Langkah ini dilakukan karena kita tahu bahwa untuk masuk fakultas kedokteran itu harus bersaing dengan calon-calon mahasiswa yang notabene  rata-rata sangat pintar. Persiapan-persiapan yang harus dilakukan misalnya harus mampu masuk SMU bidang IPA dengan nilai tinggi. Kemudian kita harus belajar tekun bukan saja untuk mendapatkan nilai yang tinggi tetapi juga harus menguasai sebagian besar ilmu agar mampu lulus ujian dengan nilai yang tinggi dan lolos SPMB. Juga, kita harus menyiapkan dana yang memadai karena kita tahu bahwa kuliah di Fakultas Kedokteran biayanya cukup mahal. Setelah kita berhasil lolos ujian seleksi, perjuangan yang lebih berat tentu sudah menunggu. Di Fakultas Kedokteran pun kita harus membuat rencana yang tepat. Ini berkaitan dengan rencana IPK, lama studi, penguasaan ilmu, dan lain-lain yang diinginkan oleh kita sendiri. Pada saat kuliah ini kita membuat langkah ingin menjadi dokter yang bagaimana. Ingin jadi dokter spesialis apa? Jika kita sudah menentukan, maka kita harus mempersiapkan langkah-langkah apa yang harus kita lakukan agar cita- cita kita menjadi sukses. Dan masih banyak lagi usaha yang bisa kita lakukan selagi kita bersekolah untuk menggapai cita-cita tersebut.&lt;br /&gt;Setelah langkah-langkah untuk mencapai cita-cita itu telah kita tetapkan, maka kita harus mempersiapkan hal-hal  tertentu untuk memenuhi persyaratan yang ada. Jika kita setelah lulus ingin jadi pegawai, kita harus mempersiapkan hal-hal yang menjadi  persyaratannya. Dari persiapan metal, persiapan untuk menghadapi tes-tes baik tes tertulis, tes psikologi, tes wawancara dan lain sebagainya. Demikian pula jika kita ingin menjadi pegawai swasta. Jika kita ingin menjadi pengusaha sukses, kita juga harus melakukan persiapan-persiapan agar menjadi penguasaha yang sukses. Pada kesempatan ini saya ingin membahas persiapan-persiapan yang harus  dilakukan jika kita ingin merintis usaha.&lt;br /&gt;Di samping itu, ada banyak elemen kecakapan yang mesti dikuasai oleh setiap kita yang hendak memasuki dunia kerja, namun terdapat tiga modal dasar yang dianggap amat penting untuk dimiliki, antara lain:&lt;br /&gt;1. Karakter atau budi pekerti yang luhur atau integritas moral yang teguh. Inilah elemen yang selalu akan membuat kita mampu berkarya dalam naungan etika kerja yang kuat dan benar. Sebuah elemen paling kritikal dan mesti dirajut dalam setiap langkah kerja kita manakala kita hendak menjadi seorang profesional yang bermartabat.&lt;br /&gt;2. Positive mindset. Inilah elemen yang akan membuat kita selalu memandang diri kita dan lingkungan sekitar dengan kacamata yang positif. Sebuah elemen yang selalu membuat kita optimis dan yakin akan tercapainya sasaran kerja dan tujuan hidup yang telah dirancang. Sebuah etos kerja yang selalu melihat problem sebagai sebuah tantangan yang pasti ada solusinya, dan bukan sebagai media untuk berkeluh kesah. Etos atau mentalitas positive mindset ini pula yang akan membuat kita selalu bisa merajut kegigihan dan ketekunan dalam berusaha, dan kita tahu, kegigihan merupakan elemen kunci dalam menggapai setiap kesuksesan.&lt;br /&gt;3. Learning spirit atau semangat untuk terus mau belajar. Di tengah dinamika perubahan iklim usaha yang terus berkembang dan tantangan pekerjaan yang makin kompleks, kita dengan mudah bisa tersingkir jika kita enggan menebar benih untuk terus mau belajar mengembangkan diri. Bersikap terbuka, selalu memelihara constructive curiosity, serta rajin mengambil ilmu dari beragam sumber adalah elemen-elemen yang akan membuat kita terus bisa mengasah learning skill kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketiga elemen kecakapan yang disebutkan di atas seharusnya sudah kita miliki dalam masa kita belajar di sekolah, bukan hanya saat memasuki dunia kerja. Hal itu akan membantu kita di saat memasuki dunia kerja tidak lagi memiliki hambatan untuk memiliki kecakapan tersebut. Kecakapan tersebut akan memicu kita untuk berusaha sebaik mungkin dalam menggapai cita-cita. Lebih dari itu, semua usaha kita haruslah dilandasi iman bahwa kesempatan untuk memperoleh pendidikan adalah anugerah Tuhan semata sehingga kita memiliki motivasi yang benar dalam belajar yaitu semata-mata untuk menyenangkan hati Tuhan, membuat bangga orang tua, teman-teman, dan berguna bagi masyarakat. Tuhan menganugerahkan pendidikan ini untuk mempersiapkan kita menjadi pribadi yang siap Dia utus untuk berkarya dalam dunia kerja. Tidak ada yang sia-sia dalam masa pendidikan kita di sekolah. Semua Tuhan ijinkan terjadi untuk kebaikan kita di masa mendatang.&lt;br /&gt;Mungkin banyak yang berpikir bahwa ada perbedaan status yang disandang saat bersekolah dengan saat bekerja. Sebenarnya, tidak perbedaan signifikan dalam pribadi seseorang tersebut karena yang berubah hanyalah status pelajar menjadi pekerja. Baik pelajar ataupun pekerja harus memiliki integritas dan karakter yang kuat yang mencerminkan anak-anak Tuhan. Di mana pun Tuhan menempatkan kita dalam dunia kerja, kita harus siap untuk memberikan yang terbaik dan berkarya bagi-Nya, seperti nabi Yesaya yang siap untuk Tuhan utus (Yes. 6 : 8). Perubahan pola hidup, status, maupun kebiasaan hendaknya tidak mengubah prinsip kita dalam beriman di saat kita bekerja. Kiranya Tuhan yang selalu melengkapi kita dengan hati yang bijak dan penuh hikmat dalam menjalani semua tanggung jawab kita. Tuhan yesus memberkati pelayanan kita bersama di manapun kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;Yesus menginginkan daku bersinar bagi-Nya,&lt;br /&gt;di manapun ku berada, ‘ku mengenangkan-Nya.&lt;br /&gt;Bersinar, bersinar; itulah kehendak Yesus,&lt;br /&gt;bersinar, bersinar, aku bersinar terus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Leonardo Sitompul, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi April 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-4516468889000119209?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/4516468889000119209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=4516468889000119209&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/4516468889000119209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/4516468889000119209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/04/artikel-from-student-to-worker.html' title='ARTIKEL: FROM STUDENT TO WORKER'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-1755700550205431032</id><published>2011-04-05T12:39:00.002+07:00</published><updated>2011-04-05T12:44:10.159+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: KELUARGA MENJADI TERANG DI TENGAH MASYARAKAT</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mahatma Gandhi adalah seorang tokoh swadesi India, Beliau adalah seorang yang sangat mengagumi ajaran dari Jesus Kristus dan nyaris menjadi seorang Kristen. Dikatakan nyaris karena pada saat beliau akan menjadi Kristen setelah mendalami dan mempelajari Injil dengan tekun, tetapi beliau melihat bahwa penerapan dari penerimaan Injil tersebut dimasyarakat oleh orang-orang Kristen sangat berlainan dan jauh dari harapan beliau. Setelah melihat hal tersebutlah maka beliau membatalkan maksudnya untuk masuk Kristen, coba anda bayangkan apabila beliau jadi menerima injil, berapa puluh bahkan ratusan juta orang India yang menjadi pengikut Mahatma Gandhi saat itu bisa dipastikan akan mengenal Kristus karena apapun yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi pasti mereka ikuti karena apapun yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi pasti mereka ikuti karena bagi mereka Mahatma Gandhi adalah seorang Nabi yang harus ditiru dan diteladani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I. Keluarga Menjadi Terang Di Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pohon dikenal dari buahnya sedangkan orang dikenal dari perbuatannya, demikian bunyi pribahasa yang sudah kita kenal. Untuk menjadi terang di masyarakat itu perlu terlebih dahulu kita harus mempersiapkan diri dengan membangun suatu image terhadap diri kita sbb:&lt;br /&gt;1. Membangun dan meningkatkan rasa percaya diri atas keyakinan kita dengan tindakan positip.&lt;br /&gt;2. Membangun cara berpikir positip terhadap diri keluarga, anak-anak dan orang lain di sekitar kita apapun yang menjadi tindakan kita selalu mendapat perhatian dari orang-orang disekitar kita.&lt;br /&gt;3. Membangun dan mengembangkan keterampilan kita dan hasilnya sebagian dapat kita sumbangkan untuk masyarakat sekitar kita.&lt;br /&gt;4. Membangun hubungan balk dengan menerapkan keterampilan dan kemampuan kita itu kepada masyarakat sekitar bahwa keberadaan kita diperlukan oleh masyarakat dan kita juga membutuhkan mereka.&lt;br /&gt;5. Membangun keterampilan dan memberi sesuatu apakah itu bantuan tenaga, materi dan pemikiran atas sesuatu hat kepada masyarakat lingkungan kita selalu diperhitungkan mungkin ini hanya sebagai pendapat dimana pada saat gereja kita melaksanakan suatu pesta, apakah itu pesta Natal, pesta tahun barn atau pesta-pesta pembangunan lainnya maka masyarakat disekitar kita selalu membantu pengamanan pesta secara swadaya sehingga perjalanan pesta tidak terhalang oleh sesuatu hal apapun.&lt;br /&gt;6. Mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi dengan masyarakat sekitar sehingga dalam keadaan tertentu mereka dengan sukarela akan menawarkan diri memberi bantuan. Kita ambil contoh pada peristiwa Tanjung Priok beberapa belas tahun yang lalu, ada sekelompok orang yang saat itu berusaha merusak gereja HKBP Semper tetapi oleh saudara-saudara kita disekitar dengan keras menolak mereka untuk masuk ke komplek Kavling Tipar tempat domisili Gereja dan amanlah gereja kita dari pengerusakan padahal saat itu puluhan gereja di Jakarta sempat dirusak oleh massa. Hal ini disebabkan jemaat gereja dengan masyarakat sekitar sudah menyatu.&lt;br /&gt;7. Mengembangkan keterampilan dalam mengatasi kesulitan masyarakat sekitar. Keberadaan kita dengan kondisi masyarakat yang golongan menengah kebawah tentunya perlu suatu usaha untuk membantu mereka. Usaha-usaha RNHKBP Semper membantu dengan penjualan sembako murah, pengobatan gratis yang sudah dilaksanakan beberapa kali patut diacung jempol. Alangkah indahnya kalau hal tersebut lebih ditingkatkan dengan kerjasama yang lebih balk lagi dengan Dewan Diakonia terutama untuk tahun ini seperti telah sama-sama kita ketahui telah ditetapkan sebagai tahun Diakonia.&lt;br /&gt;8. Membangun komitmen dalam menghindari komplain dari masyarakat sekitar. Kita harus sama-sama perduli bahwa ketidak sadaran kita yang terlalu asyik latihan koor, latihan bermain musik atau hanya sekedar santai ber ha..ha.. hi..hi.. digereja pada malam hari sudah jam 22.00 adalah pasti mengganggu jam istirahat masyarakat sekitar yang sudah mulai masuk ketempat peraduan. Kadang-kadang masyarakat "menjaga perasaan" untuk itu kitalah yang harus terlebih dahulu menjaga perasaan masyarakat untuk mendisiplinkan diri untuk tetap mengakhiri suatu kegiatan tepat waktu.&lt;br /&gt;9. Membangun dan meningkatkan kesadaran atas, lingkungan hidup untuk daerah sekitar. Kita telah berusaha melestarikan penghijauan di komplek gereja kita dengan pencanangan tahun Diakonia 2009 pads tanggal 21 mei 2009 dimulai dengan kebaktian singkat didepan gereja kita dipimpin oleh Pendeta E. Tambunan, MTh. yang dihadiri oleh seluruh jemaat yang akan meengikuti kebaktian Pesta Peringatan Kenaikan Tuhan Jesus ke Surga. Kata sambutan dari ketua Dewan Diakonia St. Mijan Pakpahan dan doa syafaat oleh Ketua Dewan Marturia, Kamaruli Pohan Siahaan dan pencanangan pohon dikomandoi oleh Pendeta HKBP Ressort Semper Pdt. Maurixon Silitonga, MTh. dengan Pendeta diperbantukan di HKBP Ressort Semper Pdt. Elisa Tambunan, MTh. dan Ketua Dewan Diakonia bersama utusan 9 lunggu di HKBP Semper dan doa penutup oleh Pdt. Maurixon Silitonga, MTh, sekaligus setiap peserta memasukkan uang Rp 1000,- pada dua buah poti parasian yang dijaga oleh Casi M. br. Sitinjak dan Casi H. br Nababan. Kita telah ikuti menjadi pelaku dan peserta pencanangan tahun Diakonia tersebut. Dengan menanam 12 pohon dari satu juta yang direncanakan HKBP diseluruh dunia. Tentunya hal ini akan membuat lingkungan disekitar gereja kita akan lebih asri lagi. Untuk itu diperkarangan rumah kita sendiri juga harus kita tanam pepohonan sepanjang memungkinkan untuk mendukung hal tersebut. Bukankah kita sebagai keluarga juga harus berpartisipasi dalam mengantisipasi pemanasan global dewasa ini sebagai efek rumah kaca?.&lt;br /&gt;10. Membangun dan mengembangkan hubungan masyarakat yang terus menerus dengan lingkungan kita dimana hubungan tersebut menjadi saling membutuhkan satu sama lain. Tetangga adalah saudara kita yang paling dekat, untuk itu jadilah menjadi bagian dari mayarakat itu jangan mengurung diri dengan tembok tinggi pagar yang kokoh tetapi keluarlah dari tembok itu untuk bergaul dengan masyarakat sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II. Prinsip Hubungan Bermasyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi seorang yang Professional dalam hubungan bermasyarakat perlu menguasai beberapa prinsip-prinsip sbb:&lt;br /&gt;- Jadilah pribadi yang ramah kepada semua orang. Jangan hanya ramah kepada orang bersepatu dua tiga pasang / maksud kepada orang yang bersuara keras (orang yang sok jagoan).&lt;br /&gt;-   Jadilah pribadi yang memperhatikan dan menghargai orang lain.&lt;br /&gt;- Jadilah pendengar yang baik dengan memberi kesempatan kepada orang lain untuk memberikan pendapat atau tanggapannya. Dengan demikian anda dapat memberikan pendapat dengan jelas dan mantap. Sekarang menurut pendapat para ahli di USA bahwa porsi berbicara 35% dan mendengarkan 65%.&lt;br /&gt;-  Jadilah pribadi yang membangun semangat orang lain dan dapat memberikan motivasi sehingga menjadikan orang berprestasi lebih tinggi.&lt;br /&gt;-  Sedapat mungkin hindari debat kusir yang tidak berguna tetapi jelaskan sesuatu itu dengan bukti dan alasan yang dapat diterima oleh semua orang. Jangan anda berpikir bahwa jalan pikiran anda sama dengan semua orang.&lt;br /&gt;-  Hindari kebiasaan membenarkan diri sendiri, kalau anda salah jangan malu untuk mengakuinya karena semua orang pasti sesuatu waktu akan berbuat kesalahan baik karena lupa atau alpa.&lt;br /&gt;-  Hindari kebiasaan menyalahkan dan mengkritik orang lain terutama dibelakangnya tetapi untuk membuktikan kebenaran sesuatu silahkan dilaksanakan pada forum resmi, camkan dan bijaklah dalam bertindak.&lt;br /&gt;-  Biasakan membicarakan hal-hal yang diminati orang lain. Ingat jalan menuju hati seseorang adalah mengetahui dan membicarakan apa yang disenanginya.&lt;br /&gt;-  Biasakan membuat orang lain sebagai orang penting dan dihormati karena kalau anda baik kepada orang lain, maka anda paling baik kepada diri sendiri? (Dr. Lowis. Man).&lt;br /&gt; Biasakan menghormati pendapat orang lain sekalipun anda tidak setuju dan jangan mempertentangkannya karena kalau dia tetap ngotot berarti dia keras kepada tanpa mau menganalisa pendapat orang lain berarti sama saja dengan membuang energi.&lt;br /&gt;-  Biasakan berprinsip tetap dalam sesuatu masalah terutama suatu hal yang sudah sama-¬sama disepakati untuk dikerjakan. Merubah suatu prinsip pada pertengahan perjalanan sama saja dengan 'manusia yang tidak ada prinsip" oleng, terombang ambing seperti perahu yang kehilangan kemudi. Kalau orang Batak bilang harus "golom ria ria" artinya walaupun daun ria ria itu tajam tetapi kalau kita langsung pegang dengan keras maka ketajamannya akan luluh dalam genggaman tangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III. Menjadi Terang Memerlukan Proses&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi keluarga terang dimasyarakat tentunya tidak bisa langsung instant tetapi harus memerlukan waktu yang lebih lama, dan waktu yang lebih lama itulah yang menjadi proses sbb:&lt;br /&gt;1. Proses pertama adalah keluarga harus menjalin hubungan baik dengan masyarkat sekitar.&lt;br /&gt;2. Dengan menjalin hubungan baik maka kita akan melanjutkan pada proses kedua yaitu mengetahui apa dan siapa masyarakat sekitar itu.&lt;br /&gt;3. Dengan mengetahui kondisi dan keadaan masyarakat maka kita bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan mayarakat sekitar.&lt;br /&gt;4. Dengan berpartisipasi dalam masyarakat maka kita juga bisa memotivasi masyarakat untuk berbuat lebih banyak lagi sesuai kemampuan baik pemikiran maupun materi yang ada.&lt;br /&gt;5. Membangun hubungan baik harus secara terus menerus dan keluarga kita juga harus menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik dimata masyarakat. Berikan contoh yang baik sehingga masyarakat mengikuti contoh yang baik tersebut. Karena untuk menjadi terang ditengah masyarakat sekitar tidak harus selalu dengan materi yang melimpah tetapi tergantung dari bagaimana partisipasi kita didalam hidup bermasyarakat yang maju ini. Kalau anda telah melaksanakan proses ini maka anda telah diterima oleh masyarakat sekitar dimana anda berdomisili dan sebagai hasilnya anda akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat baik dalam suka maupun dalam keadaan kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi Negara sesuai dengan dampak perekonomian global yang semakin sulit maupun perekonomian setiap keluarga yang semakin berat maka kita harus pintar-pintar dalam mengatur ekonomi keluarga. Berpartisipasi sesuai dengan kemampuan yang ada adalah menjadi contoh yang baik ditengah mayarakat. Hindari perbuatan tercela dan menyinggung perasaan orang lain dan jadilah kita menjadi panutan. Kedamaian dan kesejahteraan berkeluarga, bertetangga, bergereja dan bermasyarakat diperlukan kesabaran,&lt;br /&gt;Kebijakan dan pengorbanan, Untuk itu berbuatlah sesuatu pada masyarakat sekitar karena Kota juga adalah bagian dari masyarakat tersebut. Berbuat baik ditengah masyarakat yang majemuk berarti anda telah melaksanakan Pekabaran Injil / marsending. Melaksanakan sebagian dari program Marturia karena melaksanakan Pekabaran Injil tidak harus berangkat ke pulau Rupat kepada orang-orang Akit untuk membuat mereka menjadi pengikut Jesus tetapi menyampaikan Amanat Agung agar orang mengenal Jesus dari perbuatan para pengikutnya. Untuk itu anda harus lebih mantap lagi bahwa Mahatma Gandhi abad ke-21 ini pasti tidak akan terjadi lagi. Yakin saja Tuhan pasti selalu bersama kita hari ini dan selanjutnya. Amin dan Horas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Kamaruli Pohan Siahaan, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Agustus 2009)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-1755700550205431032?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/1755700550205431032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=1755700550205431032&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/1755700550205431032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/1755700550205431032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/04/artikel-keluarga-menjadi-terang-di.html' title='ARTIKEL: KELUARGA MENJADI TERANG DI TENGAH MASYARAKAT'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-258165801221040980</id><published>2011-03-25T11:37:00.002+07:00</published><updated>2011-03-25T11:41:33.219+07:00</updated><title type='text'>RENUNGAN: KEJUJURAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa (Amsal 19:9)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I. Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang dapat melihat kejujuran dalam cerita bohong?&lt;br /&gt;Sebagai seorang Raja Israel yang pertama di Israel, berdasarkan garis keturunan, "Salomo" naik tahta tanpa pemberian karunia Allah. Namun demikian, Salomo menunjukkan kasihnya kepada Tuhan dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, Ayahnya. Karunia itu kemudian diperolehnya dalam penglihatannya di Gibeon. Tuhan menyodorkan kepadanya suatu pilihan.  Menyadari pekerjaannya sebagai seorang pemimpin yang belum berpengalaman ditengah-tengah umat Allah (Israel) bangsa yang besar itu, maka dia memohon hati yang paham membedakan antara yang baik dan yang jahat (1 Raj. 3 : 9)&lt;br /&gt;Salomo menyadari tanpa karunia Allah, seorang raja mustahil mampu menegakkan keadilan. Pada kenyataannya manusia seringkali menutupi kejujuran dengan kebohongan yang telah dipoles sedemikian bagus untuk memenangkan setiap persoalan yang dihadapi.&lt;br /&gt;Dalam waktu yang singkat setelah Salomo mendapat karunia Allah, dia diperhadapkan dengan pertengkaran 2 perempuan sundal dengan bayi mereka (1 Raj. 3 : 16). Dengan memenangkan salah satu diantaranya telah menjadi contoh yang luhur yang menunjukkan hikmah Salomo. Beberapa istilah Ibrani dan Yunani yang bisa kita samakan dengan kejujuran, kita uraikan demikian :&lt;br /&gt;-          Misypat berarti keputusan yang tepat.&lt;br /&gt;-          Isedaa (kejujuranku : Kej, 30 : 30), yakub memenuhi syarat-syarat perjanjiannya untuk menggembalakan domba Laban.&lt;br /&gt;Ada kalanya seseorang bisa selamat dari hukuman karena menghadirkan saksi dusta sehingga bagi banyak orang kepalsuan seolah-olah tertutupi. Bahkan di dalam peristiwa "kebun anggur Nabot" (1 Raj. 21:1- 29) Raja Ahab dan Izebel, muncul sebagai pemenang karena menghadirkan saksi dusta dan mengupah orang dursila untuk menyembur-nyemburkan kebohongan. Tetapi takhtanya tidak bertahan lama, yang paling mengenaskan Izebel mati terbunuh, mayatnya terinjak-injak dan darahnya dijilat anjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II. Keterangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salomo tampil sebagai seorang pemimpin yang sangat dikagumi. Dia muncul mengungguli sebayanya di Mesir, Arab, Kanaan, dan Edom. Dalam hal hikmat (1 Raj. 4 : 29 dab), Salomo menjadi penganjur Sastra Hikmat Israel. Tak ada masa lain lagi dari kerajaan Israel yang begitu berjaya. Amsal-amsalnya yang hebat ada 3.000 dan nyanyiannya 1.005. Dia berbicara tentang pepohonan, binatang seolah peneliti botani dan zoologi. Keberhasilan yang dicapainya termasuk memadu hubungan-hubungan internasional, kekayaan (dijamannya, di Yerusalem : emas sama dengan batu; 2 Tawarikh 1 : 15). Kemegahan bait suci dan banganan istananya didukung oleh para pelayannya yang terlatih, cara makan dan minum, semua itu menambah keharuman nama Salomo. Namun harus kita catat bahwa Salomo menempatkan takut akan Tuhan adalah sumber pengetahuan dan hikmat. Kejujuran sangat disanjungnya. Salomo menyadari bahwa : orang sesat adalah kekejian bagi Tuhan tetapi dengan orang jujur la (Allah) bergaul erat (Amsal 3 : 32).&lt;br /&gt;Ada kalanya dalam menghadapi situasi sulit seperti yang kita alami di negara kita saat ini berbicara tentang kejujuran adalah hal yang mustahil. Sudah menjadi kenyataan bahwa harapan yang sudah hampir pasti bisa gagal karena ketidak-jujuran. Hal serupa ini bisa kita temukan dikalangan aparat hukum, misalnya : untuk menangani kasus korupsi pada awalnya menggebu-gebu untuk memberantas korupsi, tidak berapa lama kemudian khabarnya nyaris tidak terdengar.&lt;br /&gt;Demikian juga dengan para pakar ekonomi, mereka tidak lagi mampu memberikan kepastian yang jujur tentang kemungkinan yang masih bisa diupayakan untuk mencegah kemerosotan ekonomi. Masyarakat seolah-olah tidak ada lagi penuntun yang dapat membimbing mereka keluar dari kesulitan yang mereka alami. Bahkan kekayaan alam Indonesia yang subur itu tidak lagi menjanjikan ketahanan pangan bagi bangsa ini. Untuk bisa keluar dari kesulitan yang kita hadapi sudah menjadi kewajiban kita sebagai warga masyarakat Indonesia harus mau tunduk di hadapan Tuhan. Jangan ada diantara kita yang memperburuk keadaan dengai mengatakan hal yang tidak benar yang belum kita tahu kepastian berita yang akan kita sampaikan. Sebagai warga gereja yang baik kita harus berdoa bagi semua pemimpin dan warga masyarakat bangsa ini. Kita semua harus mau berubah dari kebiasaan yang tidak baik. Hal menyakitkan yang sudah kita alami jangan lagi dibumbui dengan kata-kata dusta yang dapat rnenambah ketakutan dihati masyarakat kita. Masyarakat lemah sudah lelah oleh banyaknya isu ketakutan tentang politik, ekonomi, dan keamanan. Belum lagi ancaman kesehatan yang setiap saat bisa berganti, seperti : sapi gila, flu burung dan lain-lain. Padahal kita tahu makanan yang tersedia di pasar tidak banyak pilihan. Jika ada orang yang mencoba memanfaatkan situasi demikian untuk kepentingan pribadi atau golongan, ingatlah ada Allah yang melihat jauh kedalam lubuk hati setiap orang. Dialah yang akan membalasnya dan akan ternyata, bahwa : orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan akan binasa. Untuk itu apapun yang terjadi kita tidak perlu takut, percaya saja kepada Allah maka Dia akan bertindak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III. Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari keberhasilan Salomo sebagai seorang raja yang berhasil memimpin sebuah bangsa yang besar, maka ada beberapa catatan penting yang bisa kita lihat:&lt;br /&gt;-          tidak semua manusia lahir dengan bakat dan kemampuan yang hebat. Apa yang kira perlukan dalam melakoni kehidupan ini, Tuhan mengetahuinya. Dengan selalu menunjukkan kasihnya kepada Tuhan, Salomo diberikan karunia dan diberkati dalam menempuh setiap langkahnya. Sesederhana apapun penampilan dan cara berfikir kita, Tuhan pasti memampukan semua yang dikasihi-Nya dalam menempuh cita-cita yang dipergumulkan dalam permohonan dan doa kepada Allah.&lt;br /&gt;-          Kedekatan kepada Allah ditandai dengan kebaikan hati dan sikap adil, sebab Tuhan bergaul karib dengan orang yang jujur.&lt;br /&gt;-          Marilah belajar menciptakan ketenangan sekalipun orang-orang disekitar kita gelisah dan rusuh akibat berita yang tidak baik. Tetapi anak-anak Tuhan selalu menebar damai dan giat berkarya. SYALOOM!!!! TUHAN YESUS MEMBERKATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. K.E. Limbong, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi November&lt;/span&gt; 2005)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-258165801221040980?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/258165801221040980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=258165801221040980&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/258165801221040980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/258165801221040980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/03/renungan-kejujuran.html' title='RENUNGAN: KEJUJURAN'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-2350301563890507098</id><published>2011-03-25T11:30:00.001+07:00</published><updated>2011-03-25T11:32:18.528+07:00</updated><title type='text'>HUMOR</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ulangan 14 Februari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang siswa SMA malas mempersiapkan diri menghadapi ulangan pada malam Hari Kasih Sayang yang selalu ia rayakan bersama dengan pasangannya.&lt;br /&gt;Keesokan harinya, pada lembar jawaban ia hanya mampu menuliskan keluh kesahnya karena tidak belajar.&lt;br /&gt;"Soal-soal ini terlalu sukar. Cuma Tuhan yang bisa menjawabnya. Selamat Hari Kasih Sayang, Bu Guru"&lt;br /&gt;Ketika pulang sekolah, ia menerima hasil ulangan bertuliskan:&lt;br /&gt;"Tuhan dapat 100, kamu dapat 0, Selamat Hari Kasih Sayang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jurus Tak Ampuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Si Anton sedang membaca emailnya, dan ada artikel menarik tentang cara berkenalan dengan (baca: merayu) cewek. Salah satunya adalah dengan memulai perbincangan seperti berikut:&lt;br /&gt;Anton : Maaf, Mbak. Punya obeng, tidak?&lt;br /&gt;Cewek: Ha? Tidak!&lt;br /&gt;Anton : Kalau nomor HP punya, kan?&lt;br /&gt;Akhirnya, Anton ingin mencoba "rayuan maut" tersebut&lt;br /&gt;An : Maaf, Mbak. Punya obeng tidak?&lt;br /&gt;Cew : Punya .... Mau yang plus atau minus?&lt;br /&gt;An : Eh?!? Yang minus saja, Mbak. Kalau palu punya tidak?&lt;br /&gt;Cew : Punya juga, ... nih ....&lt;br /&gt;An : Kalau kunci inggris, ada tidak? (Dengan penuh&lt;br /&gt; pengharapan agar si cewek menjawab "tidak")&lt;br /&gt;Cew : Ooo ... itu juga ada ... dari ukuran 10 sampai 20. Mas mau&lt;br /&gt;yang mana?&lt;br /&gt;An : Langsung aja deh, Mbak. Punya nomor HP, tidak?&lt;br /&gt;Cew : Ooo ... ini .... (Sambil menyodorkan kartu nama dan brosur&lt;br /&gt;Ase Hardware). Kalau Mas butuh perkakas, hubungi saya saja. Saya  kebetulan di bagian penjualan Ase Hardware, pusat perkakas yang terlengkap. Ase Hardware gitu lho!&lt;br /&gt;An : Nasiiib.... (Sambil pergi dengan tertunduk lesu.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selalu Berbagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu sore itu Musa dan Kaleb datang terlambat ke Gereja, padahal saat itu adalah belajar sidi seperti biasa.&lt;br /&gt;Ketika mereka berdua dengan tergesa-gesa dan hampir bersamaan masuk ke kelas, sedangkan teman-teman lainnya sudah berada dalam kelas.&lt;br /&gt;" Musa, kenapa kamu datang terlambat? Bukankah amang sudah jauh-jauh hari berpesan supaya semua datang pada waktunya?" tegur amang pengajar sidi tersebut&lt;br /&gt;"Maaf, amang, saya ketiduran karena bermimpi," sahut musa  secara jujur.&lt;br /&gt;Grrrrr…seisi kelas tergelak dan tertawa.&lt;br /&gt;"Memangnya kamu mimpi apa?" tanya pengajar lagi.&lt;br /&gt;"Saya bermimpi dibawa malaikat jalan-jalan ke surga, amang…"&lt;br /&gt;"Hmmm… Nanti sesudah acara kamu ceritakan di depan kelas tentang mimpimu itu ya," kata pengajar setengah menyindir Musa.&lt;br /&gt;Lalu amang beralih kepada Kaleb, "Kamu, Kaleb, kenapa terlambat."&lt;br /&gt;Jawab Kaleb, "Aku diajak Musa dalam mimpinya itu, amang…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Februari 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-2350301563890507098?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/2350301563890507098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=2350301563890507098&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/2350301563890507098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/2350301563890507098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/03/humor.html' title='HUMOR'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-2151460310190090623</id><published>2011-03-11T10:13:00.002+07:00</published><updated>2011-03-11T10:19:36.784+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: PEMBINAAN MANTAN NAPOSOBULUNG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-8SunNrSfzTk/TXmUuvt7KiI/AAAAAAAAAME/hwIW4MeO8qU/s1600/IMG_4081.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-8SunNrSfzTk/TXmUuvt7KiI/AAAAAAAAAME/hwIW4MeO8qU/s200/IMG_4081.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5582656743906421282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Redaksi Narhasem meminta saya untuk menulis dengan topik seperti di atas. Berdasarkan pemahaman klasik, bahwa naposobulung adalah mereka yang belum kawin, maka mereka yang namanya mantan naposobulung ialah mereka yang sudah menikah. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, orang yang disebut mantan naposobulung ialah pasangan muda yang belum terlalu lama menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Flash Back&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gereja HKBP dengan tegas membagi anggota jemaatnya ke dalam beberapa kategori. Hal itu diatur di dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangganya. Kategori itu ialah: sekolah minggu, remaja, naposobulung, parompuan dan ama. Di sekolah minggu, ada anak laki dan perempuan. Demikian juga di remaja dan naposobulung. Tetapi setelah orang menikah, HKBP tidak lagi membina warganya dalam konteks laki dan perempuan. Terjadi pemisahan antara pria dan wanita. Kapan keluarga muda itu dapat pelayanan secara intens? HKBP tidak menyediakan sarana bagi keluarga muda mendapat pelayanan. Mungkin dianggap sudah cukup, melalui kebaktian sektor, atau lungguk, mungkin juga ada anggapan yang mengatakan bahwa biarlah mereka turut ambil bagian dalam pelayanan kategori parompuan dan kategori ama.&lt;br /&gt;Tetapi, kenyataan yang sangat kasat mata di hadapan kita ialah: sangat tidak banyak pasangan suami isteri yang terlibat dalam kegiatan kategorial. Jika sang isteri aktif di seksi parompuan, sangat tidak pasti, sang bapa akan aktif di seksi ama. Kenyataan pun mengatakan bahwa dalam kebaktian-kebaktian sektor, sangat jarang keluarga muda datang ke dalam kebaktian tersebut. Lalu, kapan  mereka mendapatkan pelayanan yang intens?&lt;br /&gt;Hal ini diperparah lagi dengan fakta yang mengatakan tidak adanya konseling nikah yang intens diadakan Gereja HKBP untuk pasangan yang akan menikah. Di HKBP Menteng, memang diadakan. Tetapi itu hanya dua kali pertemuan dengan pendeta. Bandingkan dengan Gereja GKI yang mengadakan konseling nikah selama satu tahun! Jika penulis tidak salah, HKBP Menganggap, anggota  jemaat yang sudah sidi, dianggap sudah dewasa imannya. Oleh karena itu, pembinaan kepada anggota jemaat, cukup melalui porsi yang sudah ada sejak zaman para missionar melayani di Tanah Batak.&lt;br /&gt;Kenyataan tidak! Bukan lagi rahasia, anggota jemaat HKBP yang baru menikah, telah cerai di pengadilan. Kita harus mengadakan satu pelayanan yang intens kepada keluarga-keluarga muda HKBP yang sekarang sedang menghadapi masalah yang jauh lebih sulit dari para orang tua mereka di puluhan tahun yang lalu. Sebagai jawaban atas kebutuhan itu, penulis mengadakan penelahan Alkitab bagi pasangan muda ini di HKBP Menteng Jakarta. Sekarang ini, ada keluarga muda yang turut ambil bagian di dalamnya terdapat 20 kepala keluarga. Syarat yang harus dipenuhi untuk dapat turut ambil bagian di dalam penelahan Alkitab ini ialah: mereka yang hadir, haruslah pasangan suami isteri. Karena itu, kami menyebut PA itu PA Pasutri, akronim untuk pasangan suami isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;UUD Pernikahan Kristen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alkitab mengatakan bahwa keluarga adalah institusi yang Allah dirikan di dunia ini. Oleh karena itu, setiap orang yang mau mendirikan keluarga, mereka harus memahami apa dan bagaimana keluarga itu dijalankan sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah untuk satu keluarga. Oleh karena itu, pembinaan yang sangat mendasar pun harus diberikan kepada pasangan baru itu yakni: memahami dengan benar makna dari ayat yang disebut orang sebagai undang-undang dasar pernikahan Kristen. Nas itu adalah Kej. 2:24. Di sana sangat jelas dikatakan bahwa mereka yang menikah itu dulunya terdiri dari dua pribadi, sekarang menjadi satu. Demikianlah Tuhan Yesus menafsirkan ayat itu dalam kitab Injil.&lt;br /&gt;Prinsip yang dipakai Alkitab di dalam membangun senantiasa merusak lebih dahulu, barulah dibentuk sesuatu yang baru! Hal ini sangat jelas disuarakan nabi Yeremia pada bangsa Israel. Kita membacanya dalam Yer. 1:10. Yeremia diperintahkan untuk mencabut, merobohkan, baru kemudian membangun dan menaman. Tatkala kedua pribadi yang mempersatukan diri dalam pernikahan, mereka memiliki pribadi yang unik! Agar kedua pribadi itu dapat dipersatukan dalam ikatan yang kudus, maka hal pertama yang harus dilakukan ialah: menanggalkan pribadi yang lama, lalu bersama-sama mengenakan pribadi yang baru di dalam Tuhan. Proses menanggalkan yang lama itu kita sebut dengan istilah: mencabut, merobohkan. Sementara mengenakan pribadi yang baru kita sebut dengan istilah: membangun dan menanam.&lt;br /&gt;Picasso, seorang maestro di bidang seni lukis pernah mengatakan: "setiap karya seni dimulai dengan tindakan pengrusakan". Dari sesuatu yang dihancurkan, dirusak, keluarlah satu karya senih yang indah. Jika kita ingin membangun sebuah rumah tangga yang indah dan berseni, maka hal yang pertama harus kita lakukan ialah: merusak, atau meninggalkan pola kehidupan yang lama, dan bersama dengan pasangan kita, mulai mengenakan yang baru. Untuk itu, diperlukan proses belajar bersama. Tidak akan terjadi pengrusakan, atau proses menanggalkan, bilamana hanya satu sisi dari keluarga itu yang belajar. Itulah sebabnya kita harus mengadakan pembinaan secara bersama untuk pasangan suami dan isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cara Berpikir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada orang yang mengatakan bahwa perilaku orang ditentukan oleh pola pikir manusia itu sendiri. Tatkala kita bertindak, perilaku kita akan menjadi acuan dari tindak tanduk kita. Di sisi lain, dunia kita sekarang ini sudah sangat kental terkontaminasi 'roh' individualisme. Sementara di sisi lain, Alkitab mengajarkan kepada kita, 'roh' yang seharusnya bekerja di dalam diri kita ialah: 'roh kolektivisme'. Alkitab mengatakan bahwa persekutuan orang percaya itu digambarkan sebagai 'tubuh Kristus'. Para orang tua kita masih hidup dalam roh kolektivisme itu, sekalipun roh individualisme telah merasuk ke dalam hati mereka. Adat Batak yang mengajarkan kolektivisme, menjadi sarana bagi mereka untuk memupuk roh kolektivisme di dalam diri mereka. Kita dengan pasti, anak muda sekarang ini, tidak lagi berada di bawah pengaruh adat Batak yang intens. Sekarang ini, pergaulan anak muda Batak lebih banyak dengan orang di luar suku Batak. Inter relasi dengan orang di luar suku Batak, membuka mata hati mereka tentang pilihan lain di dalam hidup ini, di luar orang Batak.&lt;br /&gt;Marilah kita melihat salah satu contoh kecil. Tatkala seseorang menikah, ia tidak sendiri lagi. Di dalam dirinya telah didepositkan pasangannya. Apalagi tatkala ia telah punya anak. Ia telah menjadi amani/nai anu! Kemana pun, ia pergi, pada hakekatnya anak dan isteri/suami itu, turut bersama dengan dia. Ingat, ia sudah berubah nama. Namanya sekarang ialah: bapanya/ibunya anu! Namun, karena produk dari roh individualisme, orang tetap merasa ia sendiri, tatkala ia berada di kantor, di luar rumah. Oleh karena itu, perilaku mereka tetap mengacu kepada pribadi mereka sebelum menikah. Pola seperti ini seharusnya dirusak! Melalui kerusakan pola pikir seperti itu, maka tiap-tiap orang akan belajar untuk mengenakan pola pikir yang baru. Pola pikir baru itu ialah: aku adalah satu pribadi yang di dalam diriku, ada isteri/suami dan anak-anak.&lt;br /&gt;Pola yang dipakai orang Batak dalam memahami dirinya sebagai satu pribadi yang di dalamnya ada kolektivitas, pada hakekatnya adalah pola yang juga diajarkan Alkitab untuk diterapkan setiap orang Kristen. Kita salah satu contoh yang diajarkan kepada kita oleh Rasul Paulus dalam surat Efesus. "buanglah dusta dan berkatalah benar seorang terhadap yang lain, karena kita adalah sesama anggota" demikian kata Rasul Paulus dalam Ef. 4:25. Mengapa saya tidak perlu berdusta kepada sesama? Asumsi yang dipakai Rasul Paulus ialah: kita adalah anggota tubuh Kristus. Jadi, tatkala saya mendustai orang Kristen, maka pada hakekatnya, saya mendustai diri sendiri. Prinsip ini sangat pas dipraktekkan di dalam hidup rumah tangga.&lt;br /&gt;Alkitab mengatakan bahwa suami mengasihi isterinya seperti ia mengasihi tubuhnya sendiri. Jika setiap suami atau isteri memahami bahwa partnernya adalah bagian yang tak terpisahkan dari dirinya sendiri, maka takkan ada dusta di antara mereka. Dusta tidak menguntungkan orang yang saling mengasihi. Oleh karena itu, dusta adalah sesuatu yang merugikan diri sendiri. Hal ini sangat benar, jika landasan dari relasi di dalam keluarga adalah kasih.&lt;br /&gt;Sisi lain yang dibahas Paulus dalam pasal yang sama dalam surat yang sudah kita kutip di atas ialah masalah marah. Marah di dalam konteks kasih, punya batas. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa marah itu harus berakhir jika matahari terbenam. Bukankah hal yang sama harus dilaksanakan di dalam kehidupan berkeluarga? Sisi yang ketiga diutarakan Paulus dalam pasal itu ialah: soal mencuri dan bekerja. Hal-hal ini menjadi bagian hidup yang sangat pas untuk diterapkan dalam konteks hidup berkeluarga dalam perspektif kolektifisme. Kita berpikir, masalah berdusta, marah dan mencuri adalah masalah pribadi kita semata-mata, tanpa ada korelasinya dalam persekutuan keluarga kita. Alkitab mengatakan masalah itu tidaklah seperti yang kita perkirakan. Pola pikir seperti itu perlu mendapatkan perubahan.&lt;br /&gt;Dalam rangka merubah pola pikir inilah, kita mengadakan pelayanan yang intens kepada para pasangan muda ini. Melalui pelayanan yang berkesinambungan, maka setahap demi setahap, diharapkan roh kolektivisme itu akan mengairi hati dari tiap-tiap keluarga muda yang tidak lagi tertarik kepada adat Batak yang menaburkan pola pikir kolektivisme yang sangat Kristen! Jika tidak ada counter attack terhadap pengaruh individualisme yang begitu menggerogoti hati kita, maka ditakutkan, akan ada degradasi iman yang sangat deras menggerus kehidupan beriman anggota jemaat di masa mendatang. Roh individualisme pada akhirnya mendewakan diri sendiri. Produknya yang terburuk ialah: tidak ada lagi tempat untuk Tuhan di dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menyatu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sisi kedua dari undang-undang dasar pernikahan Kristen sebagaimana telah kita bicarakan di atas mengatakan bahwa orang yang menikah itu akan menyatu dengan isterinya. Setelah meninggalkan, sekarang datanglah bagian kedua, yakni: menyatu. Dua pribadi menjadi satu. Penyatuan ini merupakan pekerjaan yang tersulit di dalam hidup ini. Ada orang menjalani proses ini di sepanjang hidupnya. Gambaran yang paling agung yang pernah didemonstrasikan di dunia ini, tentang penyatuan ialah: Allah menjadi manusia! Untuk bisa menjadi manusia, Yesus mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba. Proses ini menjadi acuan bagi kita untuk mempersatukan diri di dalam satu keluarga yang memuliakan Tuhan di dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;Bilamana kita perhatikan dengan seksama, langkah yang diambil Tuhan Yesus dalam rangka menjadi manusia, sebagaimana diuraikan Paulus dalam surat Filipi, maka kita akan menemukan pola yang sama seperti diutarakan di atas. Yesus mengosongkan diri lebih dahulu, lalu Ia mengambil rupa seorang hamba. Kita menggarisbawahi kata mengambil rupa. Inilah tindakan yang kita perlukan untuk diterapkan di dalam hidup pernikahan Kristen. Tiap pribadi yang telah mengikatkan diri dalam pernikahan yang kudus itu, perlu 'mengambil rupa'  menjadi seorang isteri dan seorang suami yang telah dipersatukan Allah.&lt;br /&gt;Bila proses 'mengambil rupa'  ini berlanjut, maka langkah berikutnya adalah: merendahkan diri dan taat. Ketaatan adalah sesuatu yang dipelajari. Ketaatan tidak ada dengan sendirinya di dalam hidup kita. Pada hakekatnya kita adalah pemberontak. Untuk ini, kita perlu mengadakan pembinaan yang intens, agar selangkah demi selangkah, ketaatan itu akan terakulturasi di dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bersekutu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Langkah ketiga dalam undang undang pernikahan Kristen itu ialah: persekutuan. Secara harfiah dikatakan menjadi satu daging. Seks adalah persekutuan yang paling intim dalam kehidupan manusia. Tetapi sekarang, dalam kehidupan manusia yang sangat individualistis, seks menjadi sesuatu yang hanya bersifat daging semata-mata. Allah mendisain seks menjadi satu sarana bagi manusia untuk memahami eksistensinya sebagai manusia dalam gambar Allah. Alkitab mengatakan bahwa seks adalah sebuah misteri. Tatkala seks diobral sebagaimana dilakukan dunia barat khususnya,maka misterinya pun hilang.&lt;br /&gt;Persekutuan yang bersifat rohani inilah yang harus dipelajari setiap pasangan Kristen yang mengikatkan diri dalam pernikahan kudus. Mempelajari hal ini, tidaklah berakhir dalam tempo yang singkat. Oleh karena itu, belajar untuk menikmati persekutuan dalam nikah yang kudus adalah sebuah proses belajar seumur hidup. Oleh karena itu pula, pembinaan terhadap pasangan Kristen pun haruslah dilakukan seumur hidup pula.&lt;br /&gt;Apalagi Tuhan telah mengaruniakan anak kepada kita. Seorang hamba Tuhan yang melayani dalam konseling keluarga Kristen mengatakan bahwa tiap anak membawa sebuah amplop dari Tuhan, tatkala ia hadir di dunia ini. Tidak ada seorang pun yang dapat membuka amplop itu, kecuali dirinya sendiri. Para orang tua diminta agar mereka mendidik anak itu sedemikian rupa, agar di masa depannya, ia akan dimampukan untuk membuka amplop tersebut. Di dalam amplop itu, ada tertulis rencana Allah bagi masa depannya.&lt;br /&gt;Musa menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa Israel, agar setiap orang tua mempergunakan segala kesempatan untuk mengajarkan firman Tuhan yang telah mereka terima kepada anak-anaknya. Kita pun menerima firman itu melalui Gereja-Nya yang kudus. Pola persekutuan seperti ini harus diciptakan alagi dunia sekarang sudah sangat individualis. Bahkan orang sekarang ini telah memisahkan dirinya bahkan dengan anaknya sendiri. Strutur keluarga sekarang sudah sangat berbeda dengan para pendahulu kita. Anak adalah bagian tak terpisahkan dari dalam kehidupan orang tua. Itu dulu. Sekarang anak adalah bagian dari persekutuan keluarga yang diikat oleh norma yang sangat rapuh. Ikatan itu mungkin hanya dalam konteks hukum atau norma dalam masyarakat. Tatkala kepentingan pribadi sangat mendesak, kepentingan anak mendapatkan porsi yang paling akhir dalam hal mengambil keputusan.&lt;br /&gt;Untuk menangkal semua hal-hal yang negatif produk dari zaman ini, kita sangat memutuhkan sebuah wadah untuk membina keutuhan keluarga. Orang dapat mengasah dan diasah dalam wadah itu. Semoga HKBP dapat melihat kebutuhan warganya dalam hal pembinaan terhadap keluarga-keluarga muda yang sekarang sedang mengalami pertempuran dahsyat dengan 'roh zaman' ini. Jika mereka kalah dalam pertempuran itu, maka masa depan Gereja pun tidak dapat dibayangkan. Sebab, anak-anak mereka inilah yang akan menentukan masa depan Gereja HKBP. Marilah kita merintis jalan yang akan mereka tempuh dengan selamat dan dalam damai sejahtera Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah St. Hotman Ch. Siahaan, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Juli 2008)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-2151460310190090623?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/2151460310190090623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=2151460310190090623&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/2151460310190090623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/2151460310190090623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/03/artikel-pembinaan-mantan-naposobulung.html' title='ARTIKEL: PEMBINAAN MANTAN NAPOSOBULUNG'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-8SunNrSfzTk/TXmUuvt7KiI/AAAAAAAAAME/hwIW4MeO8qU/s72-c/IMG_4081.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-5142491338381743734</id><published>2011-03-09T19:11:00.004+07:00</published><updated>2011-03-09T19:20:47.593+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: TELAAH SINGKAT SIKAP AROGAN YANG DITEMUI DALAM PELAYANAN DI GEREJA BERKULTUR BATAK YANG BERSUMBER DARI KEKAYAAN DAN STATUS PERKAWINAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-3_aJraOGhEk/TXdwLYNMQ1I/AAAAAAAAAL8/lXkbT9qMS5E/s1600/Parheheon%2BSKM.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-3_aJraOGhEk/TXdwLYNMQ1I/AAAAAAAAAL8/lXkbT9qMS5E/s200/Parheheon%2BSKM.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5582053603927671634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di setiap organisasi apapun, baik organisasi di gereja maupun non-gereja selalu saja muncul sikap arogan. Sebenarnya, tidak ada organisasi yang menyatakan bahwa organisasinya adalah organisasi yang arogan ataupun bercorak arogan, namun karena organisasi tersebut dalam kesehariannya dijalankan oleh manusia maka sikap arogan yang menjadi salah satu ciri dari perilaku manusia yang telah jatuh dalam dosa kerap kali bermunculan. Termasuk juga organisasi gereja, walaupun setiap minggu seluruh jemaat mendapatkan siraman Firman Tuhan setiap minggu dan juga menyatakan pengakuan dosa dalam setiap kebaktian minggu, hal tersebut tidak meniadakan munculnya sikap arogan dalam keseharian pelayanan di gereja. Tulisan singkat ini bermaksud membagikan pemahaman dan pengalaman penulis terhadap sikap arogan yang ditemui penulis dalam pelayanan di gereja batak, tentu kurang lebih 75 persen pengalaman ini didapat dari keikutsertaan penulis dalam pelayanan terdahulu di punguan naposobulung di HKBP Semper, selebihnya mungkin yang penulis alami dan ketahui dari pengalaman di resort, distrik dan juga mendengar sharing dari teman-teman naposobulung lain. Tulisan ini tidak bermaksud menjelek-jelekan gereja atau seseorang, tetapi tulisan ini dibuat dengan maksud sebagai bahan koreksi dan masukan untuk pengembangan pelayanan di gereja, khususnya gereja berkultur batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I. Definisi Arogan Dan Karateristik Arogansi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBI), arogan berarti sombong dan congkak. Lebih lanjut menurut KBI, secara psikologi, arogan itu mempunyai perasaan superiotas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah. Menurut penulis, superiotas adalah perasaan yang merasa lebih dibanding orang lain, padahal belum tentu lebih dan kalaupun ada kelebihan tidak perlu disewenangkan atau dilebih-lebihkan. Hal-hal yang sering dilebihkan tetapi belum tentu lebih yang menjadi karakteristik arogansi misalnya “lebih tinggi”, “lebih kuat”, “lebih memiliki kuasa/pengaruh”, “lebih hebat”, “lebih mengetahui atau lebih pandai atau lebih jago”, “lebih benar” dibanding orang lain dan sebagainya. Arogansi membuat manusia tidak dapat memandang dirinya dan juga manusia lain secara utuh. Sadar atau tidak ketika kita bertindak arogan, kita telah membuat perbedaan manusia yang seharusnya setara menjadi berkasta.&lt;br /&gt;Sebagai telah penulis singgung diatas, perasaan arogan ini banyak sekali ditemui di masyarakat, di tempat perkuliahan yang intelektualitas menjadi “tuhan”nya pun sering ditemui sikap arogan, mis. ketika pertama kali masuk kuliah, sering dilakukan orientasi pengenalan kampus yang dilakukan oleh senior terhadap junior yang baru masuk. Walaupun tidak tertulis, senior secara lisan selalu menyatakan slogan-slogan: “Pasal 1 senior tidak pernah salah; Pasal 2 Jika senior salah, lihat Pasal 1). Dengan slogan ini, senior bisa berbuat semaunya terhadap juniornya. Slogan ini juga menunjukan bahwa arogansi sudah bertumbuh kembang dalam masyarakat dan mereka yang ada “diatas” menikmati dan tanpa sadar ikut serta dalam melembagakan sikap arogansi ini. Sikap Arogansi sadar atau tidak sadar pun muncul, tumbuh dan berkembang dengan baik dalam gereja batak. Sepertinya, jemaat dan juga parhalado kadang menikmati sikap-sikap arogansi tersebut. Sikap Arogan yang ditemui dalam pelayanan gereja batak tidak terlepas dari pemahaman atas budaya batak yang selama ini menjadi pegangan bagi jemaat gereja batak. Walaupun, kekristenan telah masuk dalam sejarah bangsa Batak, namun budaya batak pra-kristen yang tidak sesuai dengan falsafah iman Kristen masih kental dalam kehidupan jemaat gereja Batak. Memang tidak mudah merubah ini, tetapi kita yang telah mengenal Allah harus terus memperjuangkan perubahan ini, agar kita bisa hidup seturut dengan kehendak Allah. Dalam tulisan ini, akan dibahas sikap-sikap arogansi yang bersumber dari kekayaan dan status perkawinan, serta bagaimana arogansi itu menurut Firman Tuhan. Sebenarnya, selain kekayaan dan status perkawinan, terdapat juga arogansi yang bersumber dari segi lain, misalnya dari segi jenis kelamin, umur, pendidikan dan sebagainya. Namun karena keterbatasan waktu yang diberikan penulis oleh Tim Buletin Narhasem, penulis dengan lancang menyunat permintaan Tim Buletin Narhasem tersebut, penulis mohon maaf untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II. Sikap Arogan Yang Ditemui Dalam Pelayanan Gereja Berkultur Batak  Yang Bersumber Dari Kekayaan Dan Status Perkawinan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;IIA. Arogansi yang bersumber dari kekayaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hamoraon (kekayaan) sering dijadikan tujuan hidup manusia. Tak terlepas manusia batak. Manusia Batak sangat mendambakan kekayaan, dengan kekayaan maka dapat dikatakan kita telah memperoleh kesuksesan hidup. Dengan kekayaan, kita dapat mengadakan pesta-pesta adat mewah yang secara tidak langsung dapat menaikan harkat dan martabat di tengah-tengah komunitas Batak. Karenanya, orang Batak umumnya sangat ingin anaknya menjadi orang kaya dikemudian hari. Tidak sedikit sewaktu anak-anak kita diiming-imingi kekayaan supaya rajin belajar. Iming-iming itu dilakukan berulang-ulang sehingga tanpa sadar tertanam dalam hati kita bahwa kekayaanlah yang menjadi tujuan indah dalam kehidupan. Makanya, sewaktu remaja dan naposo kita berjuang untuk mendapatkan kerjaan yang bagus yang tidak lain adalah pekerjaan yang dapat mendapatkan materi atau uang yang banyak. Salahkah kita jikalau berambisi mencari kekayaan yang sebanyak-banyaknya? Tidak, sepanjang kekayaan itu dipakai untuk kemuliaan Tuhan, dalam hal ini tidak dijadikan alat untuk menunjukan arogansi dalam pelayanan gereja. Kita harus akui materi memang diperlukan dalam pelayanan gereja. Karenanya, kita juga berdoa kepada Tuhan agar Tuhan berkenan melimpahkan berkat jasmani kepada jemaat kita. Penulis akan memberikan contoh sikap arogansi yang bersumber dari kekayaan jemaat dan sikap arogansi yang bersumber dari kekayaan gereja.&lt;br /&gt;Pernah dalam suatu pesta parheheon di acara kebaktian minggu sewaktu naposo dulu, saya melihat sendiri ada suatu keluarga yang bukan jemaat HKBP Semper meminta sakramen babtisan kudus secara khusus untuk anaknya (bukan di acara babtisan yang ditetapkan sebelumnya). Mungkin dia harus membabtiskan anaknya karena pendeta resort waktu itu sedang melayani di acara kebaktian di HKBP Semper. Mereka diperlakukan secara “sangat” khusus. Mereka diberikan reservasi 2 baris bangku untuk keluarga besarnya dan rombongannya yang ikut hadir, padahal seharusnya reservasi hanya cukup diberikan kepada kedua orangtua anak yang dibabtiskan saja. Bahkan, opung dari anak yang dibabtis, yang kebetulan seorang sintua yang telah pensiun di HKBP dipersilahkan duduk menghadap jemaat di sebelah pendeta resort yang sedang bertugas, padahal setahu saya pada waktu itu yang duduk disebelah pendeta yang berkhotbah adalah guru huria. Saya merasa orang ini adalah orang yang memiliki kekayaan yang lebih dari jemaat lainnya dan saya dengar sudah banyak sekali uangnya yang telah dipergunakan untuk pelayanan gereja sehingga sepertinya gereja sudah memiliki banyak hutang dan karenanya gereja pantas memperlakukan mereka secara istimewa. Ini hanya dugaan saya, sekali lagi saya menduga, namun jikalau dugaan saya ini benar, maka pada waktu itu kita telah menunjukan contoh arogansi dalam pelayanan. Mari kita berfikir sebaliknya, jikalau ada jemaat miskin meminta babtisan kudus secara khusus kepada pihak gereja kita pada waktu itu, apakah gereja kita akan memberikannya? Jikalau memberikannya apakah dilakukan di kebaktian pagi atau di kebaktian sore saja supaya tidak menggangu kepadatan acara parheheon di kebaktian minggu pada waktu itu? Kemudian juga, apakah gereja akan menyediakan reservasi khusus buat mereka seperti reservasi yang diberikan kepada keluarga kaya yang membabtiskan anaknya seperti contoh diatas? Jikalau, kita menjawab ya atau dengan kata lain tidak membedakan perlakuan terhadap keluarga kaya dan keluarga miskin yang meminta pelayanan dari gereja maka pendapat saya yang menyatakan adanya arogansi pelayanan yang bersumber dari kekayaan adalah pendapat yang keliru.&lt;br /&gt;Contoh pengalaman lain, sikap arogansi yang bersumber dari kekayaan gereja. Ada parhalado yang mengeluh dan menyatakan di depan pengurus naposo pada waktu itu bahwa jumlah persembahan kebaktian naposo tidak sebanding dengan biaya mengadakan kebaktian naposo sehingga kebaktian naposo perlu ditinjau lagi keberadaannya. Penulis sempat terperanjat dan gusar ketika mendengar langsung ucapan ini, mengapa ada pemikiran bahwa pelayanan naposo tidak boleh “merugikan” kekayaan gereja. Berapa sih ruginya “kekayaan” gereja dibanding biaya mengadakan pesta-pesta gereja yang belum tentu maksimal faedahnya dengan pelayanan gereja? Tak sadarkah parhalado pada waktu itu bahwa naposo itu perlu pembinaan yang sejalan dengan jiwa mudanya sehingga pelayanan itu mengena dan berpengaruh kuat dalam jiwa naposo. Naposo dan anak-anak itu masa depan gereja, kalau kita tidak membina naposo dan anak-anak atau membina tapi pelayanan tersebut tidak mengena ke jiwa mereka jangan harapkan gereja kita di masa mendatang dapat tegak berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;IIB. Arogansi yang bersumber dari perkawinan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ketidaksukaan banyak naposo sewaktu naposo kalau harkat dan martabat naposo direndahkan karena dia seorang naposo. Padahal banyak sekali Firman Tuhan yang bercerita mengenai injil yang memanggil dan memakai kaum muda dalam pelayanan gereja, sebut saja Daud, Musa, Timotius dan sebagainya. Namun di kalangan gereja berkultur batak, jangan harap naposo memperoleh kedudukan yang seimbang dalam pelayanan di gereja. Kondisi ini tercipta karena adat batak sangat membedakan sekali antara orang yang sudah kawin dan orang yang belum kawin. Hanya orang-orang yang sudah kawin saja yang dapat menerima memiliki posisi penting dan memiliki jambar (bagian) dalam acara-acara adat batak, sementara orang yang belum kawin, walaupun umurnya sudah lanjut, tetap saja tidak mendapatkan jambar apapun. Dalam tulisan ini, saya tidak mau mengkritisi adat batak, tetapi tolong jangan bawa-bawa aturan di adat batak mengenai perkawinan tersebut dengan aturan di gereja yang seharusnya tidak membeda-bedakan manusia dari status perkawinannya. Pendapat penulis ini jangan diartikan saya anti adat batak, banyak adat batak yang baik dan mencerahkan kehidupan saya dan saya bangga dan bersyukur menjadi orang batak, apalagi batak kristen.&lt;br /&gt;Perhatikan dalam kepanitian-kepanitian gereja berkultur batak, setidaknya yang saya alami, posisi-posisi strategis selalu diberikan kepada orang tua, naposo hanya diberikan posisi-posisi pelayanan yang “parhobas” misalnya penerima tamu, pembantu umum atau hiburan dan paling tinggi menjadi salah satu wakil sekretaris supaya bisa disuruh menjadi pengetik, pokoknya ujung-ujungnya “holan parhobas”. Sedangkan posisi strategis sebagai salah satu penentu kebijakan selalu diserahkan kepada orang tua.  Memang, sejatinya posisi apapun adalah parhobas, yaitu melayani Tuhan dan tidak ada pembedaan melayani Tuhan apapun jenis posisi pelayanannya. Tetapi, janganlah mengangkat atau meletakan posisi orang dalam pelayanan dengan secara tidak langsung memastikan dahulu status perkawinannya sudah atau belum. Lihat kemampuan dan komitmennya, itu yang penting. Tidak ada dasar landasannya yang menyatakan suatu kepanitiaan gereja akan berjalan dengan baik kalau dipimpin oleh orang-orang yang telah kawin. Kawin dan tidak kawin tidak dapat dijadikan landasan untuk menentukan posisi pelayanan di gereja, setiap jemaat yang mengasihi Tuhan, memiliki kemampuan dan komitmen yang baik, statusnya sudah kawin maupun belum kawin, menurut penulis dapat terlibat dalam jenis pelayanan apapun di gereja, termasuk posisi pelayanan yang strategis. Memang ada orang yang sudah kawin memiliki kemampuan dan komitmen baik dalam pelayanan, penulis setuju kalau mereka diberi posisi strategis dalam pelayanan, tetapi menurut penulis ada juga naposo yang memiliki kemampuan dan komitmen yang tidak kalah bahkan melebihi orang yang telah kawin sehingga layak diberi posisi pelayanan yang penting baginya.&lt;br /&gt;Satu hal, penulis juga bersyukur kalau HKBP telah berani mengangkat sintua dari kalangan naposo, itu adalah terobosan yang baik dan semoga ini dapat diterapkan dengan maksimal di gereja berkultur batak. Percayalah, banyak potensi dan semangat kemudaan yang diperlukan dalam pelayanan di gereja berkultur batak. Sayang kalau hal ini disia-siakan. Terobosan ini secara tidak langsung mau menyatakan HKBP sebagai salah satu gereja berkultur batak sudah mengakui kemampuan naposo dalam terlibat aktif dalam pelayanan gereja yang bersifat strategis. Kalau menjadi sintua saja sudah boleh, kenapa terlibat dalam posisi strategis kepanitiaan belum bisa? Bisa donk...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III. Arogansi Menurut Alkitab dan Bagaimana Seharusnya Pelayan Bersikap?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah dijelaskan diatas arogansi adalah sifat sombong dan congkak. Secara tegas dikatakan dalam Amsal 21:4 bahwa hati yang sombong adalah pelita orang fasik dan itu adalah dosa. Demikian pula dalam Amsal 6:16-17 secara tegas Allah menyatakan kesombongan adalah salah satu dari tujuh perkara yang paling dibenci oleh Tuhan. Karenanya dalam dalam Yakobus 4:6 tersurat Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Sehingga, tidak ada tempatnya arogansi dalam kehidupan orang percaya. Memang bukan berarti dengan menjadi Kristen otomatis sikap-sikap arogansi itu akan hilang atau akan mudah kita hilangkan dalam diri kita. Mengilangkan arogansi dalam kehidupan manusia termasuk pelayan adalah suatu proses penjang yang kadang membuat hati kita menangis, namun jika kita terbuka untuk dikoreksi dan diperbaharui Tuhan maka Tuhan akan memampukan kita menjadi orang yang menjauhkan arogansi dalam kehidupan kita. Tinggal kita, maukah kita berusaha menjauhkan sikap arogansi dalam kehidupan kita?&lt;br /&gt;Contoh tokoh-tokoh Alkitab yang tidak bersikap arogan antara lain adalah Yusuf dan Tuhan Yesus sendiri. Yusuf tidak arogan kepada saudara-saudaranya yang telah mencampakan dia, dia tetap mengasihi dan rendah hati walau hukum memungkinkan dia pada waktu itu untuk menghukum saudara-saudaranya yang mencampakkan dia. Walau dia seorang pejabat tinggi di Mesir pada waktu itu yang memiliki kuasa yang tinggi, dia tidak menggunakan kuasanya untuk berlaku arogan kepada saudara-saudaranya tersebut, melainkan kuasanya dipakai untuk menyatakan kasih dan kerendah-hatian. Lebih lagi Tuhan Yesus, dia rela disiksa dan akhirnya mati demi dosa manusia. Tak ternilai pengorbanan dan teladan rendah hati yang ditunjukan Tuhan Yesus.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kita, apakah ada cara agar kita melepaskan dan menjauhkan diri dari sikap arogansi? Tentu ada, sebagai langkah awal bagi pelayan untuk menjauhkan sikap arogansi adalah marilah kita memeriksa dan menyadari siapa diri kita di hadapan Tuhan. Kita adalah manusia berdosa yang dilayakkan Tuhan menerima pengampunan dosa dan diperkenankan Tuhan menjadi pelayannya, maka marilah pelayan Tuhan memegahkan keselamatan Tuhan sebagai hal yang istimewa dan tidak tertandingi dengan apapun juga. Kita harus memiliki pikiran bahwa keselamatan dari Tuhan melebihi harta kita, melebihi aturan-aturan dunia yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, melebihi adat-adat batak yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, bahkan melebihi orang-orang yang kita kasihi sekalipun. Dengan memiliki pemahaman ini maka niscaya kita akan menjauhkan diri dari arogansi walaupun harta kita banyak atau status kita telah kawin atau umur kita jauh lebih tua atau karena pendidikan kita sangat tinggi, dan sebagainya. Langkah selanjutnya adalah, marilah kita mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan kita atau setidaknya marilah memperlakukan orang lain seperti memperlakukan diri kita sendiri. Yang “berlebih”, janganlah menggunakan kelebihannya untuk menunjukan superioritasnya terhadap orang lain, tetapi tetap mengasihi dan rendah hati kepada yang “berkekurangan”. Tuhan Memberkati kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Benny Manurung, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Maret 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-5142491338381743734?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/5142491338381743734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=5142491338381743734&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/5142491338381743734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/5142491338381743734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/03/artikel-telaah-singkat-sikap-arogan.html' title='ARTIKEL: TELAAH SINGKAT SIKAP AROGAN YANG DITEMUI DALAM PELAYANAN DI GEREJA BERKULTUR BATAK YANG BERSUMBER DARI KEKAYAAN DAN STATUS PERKAWINAN'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-3_aJraOGhEk/TXdwLYNMQ1I/AAAAAAAAAL8/lXkbT9qMS5E/s72-c/Parheheon%2BSKM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-2233117372431154244</id><published>2011-03-01T20:24:00.003+07:00</published><updated>2011-03-01T20:32:10.251+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: KENDALA DAN SOLUSI PEMBANGUNAN GEREJA DI INDONESIA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-yiE5WHi51k0/TWz1Qk0hQpI/AAAAAAAAAL0/N95aoeuME_4/s1600/IMG_3061.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-yiE5WHi51k0/TWz1Qk0hQpI/AAAAAAAAAL0/N95aoeuME_4/s200/IMG_3061.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5579103703515873938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Warga negara Republik Indonesia yang berlatarbelakang aneka ragam suku, bahasa, budaya dan agama disebut sebagaii bangsa yang Bhineka Tunggal Ika. Untuk mempertahankan dan menciptakan keutuhan kesatuan bangsa yang bhineka itu; para pemuka-pemuka bangsa telah menetapkan dasar dan tatanan hidup bernegara dan berbangsa (bermasyarakat), yaitu Pancasila dan UUD 1945.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Istimewa dalam hal mengenai toleransi beragama, pada UUD 1945 pasal 29 ayat 2 disebut : Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya masing-masing. Pada UUD pasal 28 E disebut (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadah menurut agamanya; memilih pendidikan dan pengajaran dst. (2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nurani. Pada UUD pasal 28 J dikatakan : setiap orang wajib menghormati hak azasi orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat dan bernegara.&lt;br /&gt;Berlandaskan pengamalan dan pengkhayatan Pancasila dan UUD 45; Kerukunan umat beragama masih terbilang utuh sampai tahun 1950 ditengah-tengah negara ini walaupun ada gerakan segelintir orang yang mau menjadikan negara ini menjadi negara Islam. Pembangunan rumah ibadah maupun gedung sekolah dapat berdiri dimana-mana tanpa ada gangguan. Sebab pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat benar-benar berjiwa nasionalis, Pancasilais dan normatif.&lt;br /&gt;Tetapi seiring dengan perkembangan jaman modern, nilai-nilai hidup yang berlandaskan Pancasilais dan yang bertatanan kepada UUD 1945 semakin memudar. Akibatnya tampillah di negara ini para cendekiawan yang menanamkan dan melakukan praktek intoleransi dan diskriminasi di tengah-tengah pemerintahan dan masyarakat. Oleh karena penyebaran virus intoleransi dan diskriminasi tersebut kaum mayoritas tampil menjadi penguasa atas kaum minoritas. Pancasila dan UUD 1945 tersebut diatas bukan lagi sebagai landasan dan tatanan hidup warga negara ini. Pengekangan jiwa Pancasila dan UUD 1945 terjadi oleh Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri no. 1/1976 tentang tata cara penyiaran Agama dan bantuan luar negeri kepada lembaga keagamaan di Indonesia dan pendirian rumah ibadah. SKB ini diterbitkan dengan dalih menghempang pengrusakan rumah ibadah. SKB itu disebutkan bukan penghempang tetapi dalam prakteknya SKB telah menjadi pemicu konflik antar umat beragama. Hal itu  terbukti dari pengrusakan rumah ibadah yang semakin menjadi-jadi setelah diterbitkan SKB Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri no. 8/2006 dan no. 9/2006 yang mengatur pendirian tempat peribadatan. Isi SKB ini menggambarkan adanya pengakuan hak-hak warga mayoritas atas warga minoritas. Pada SKB itu ada dituliskan apabila ada 90 warga sesuai dengan KTP (40 KK) yang membutuhkan tempat rumah ibadat, harus mendapatkan dukungan masyarakat paling sedikit 60 orang yang disahkan Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), Kelurahan, Kecamatan. Pertanyaan: Mengapa harus ada persetujuan atau dukungan masyarakat sekitar? Mengapa tidak cukup surat yang disyahkan aparat pemerintah? Bukankah yang membutuhkan rumah ibadah itu warga negara yang mempunyai hak yang sama dengan mereka dan dapat mendirikan tempat rumah ibadahnya di tanahnya sendiri? Kaum minoritas itu bukan pendatang atau penompang di negerinya sendiri. Hak dan Kebebasannya beribadah dan membangun tempat beribadat telah dijamin UUD 45. Oleh sebab itu, SKB telah mematikan jiwa UUD 45.&lt;br /&gt;Kemudian permohonan yang ditanda tangani aparat pemerintahan itu disampaikan ke Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB). Anggota FKUB lebih banyak dari warga mayoritas sehingga dalam pengambilan keputusan selalu yang mayoritas yang berkuasa dan menang. Memang ada dituliskan dalam SKB tersebut : kalau dukungan warga tidak sampai 60 orang padahal pengguna sudah memenuhi keperluan nyata maka pemerintah akan memfasilitasinya. Rumusan ini hanya tinggal tulisan sebab permohonan yang telah direkomendasikan FKUB tidak diindahkan oleh Bupati selaku pejabat yang berwewenang menerbitkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) pembangunan rumah ibadat.  Malah ada Walikota yang arogan mencabut IMB pembangunan gereja yang sudah ada tetapi tidak mendapat teguran dari Gubernur atau Presiden.&lt;br /&gt;Jadi, SKB Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri tidak memuluskan pembangunan gereja di Indonesia; mengapa praktek intoleransi, diskriminasi dan kekerasan terus terjadi dalam kebebasan beragama di Indonesia! Penyelenggara negara dan partai politik tidak mampu menjamin kebebasan beragama/berkeyakinan dan tidak paham prinsip fundamental hak asasi manusia yang menjadi hak konstitusional warga negara. Tercatat 216 peristiwa-peristiwa pelanggaran kebebasan beragama. Terdapat 103 tindakan negara yang melibatkan penyelengara negara sebagai aktor. Dari jumlah itu 24 adalah tindakan pembiaran dan 79 adalah tindakan aktif, termasuk pernyataan pejabat publik yang provokatif dan mengundang terjadinya kekerasan. Pemerintah pusat baru bertindak setelah situasi meruncing dan Pemerintah daerah tidak melakukan apa-apa (Kompas, selasa 25 Januari 2011 hal 16).&lt;br /&gt;Selain daripada kendala pembangunan sarana peribadatan yang diakibatkan oknum-oknum pemerintah yang tidak nasionalis dan Pancasilais tersebut, kendala timbul pada grass-root (masyarakat golongan bawah). Tokoh-tokoh agama dan warga masing-masing agama tidak komunikatif sehingga terbangun sifat saling mencurigai, cemburu, irihati, saling menjelek-jelekkan dan membenci. Pada grass-root terbangun opini:&lt;br /&gt;a) Komunitas mayoritas tidak menghendaki lokasi rumah ibadah berada di tengah-tengah mereka. Berdirinya rumah ibadah itu dianggap sebagai sarana penyiaran agama bagi yang lain dan mengganggu pada masyarakat sekitar.  Mereka tidak menyadari bahwa gangguan itu belum seberapa kalau dibandingkan dengan gangguan Adzan dan penutupan jalan  yang mereka perbuat.&lt;br /&gt;b) Kehadiran komunitas minoritas ditegah-tengah mereka menimbulkan iri hati dan kecemburuan karena alasan kesenjangan ekonomi. Karena kaum minoritas yang lebih ulet, terampil dan mampu bekerja keras sehingga mereka memiliki tingkat sosial ekonomi yang lebih tinggi. Kesenjangan itu sering memicu konflik walaupun sifatnya tidak masuk akal.&lt;br /&gt;c) Dalam masalah perkawinan yang berbeda agama seolah-olah ada pemaksaan untuk pindah agama di gereja. Padahal dalam gereja tidak dikenal istilah pemaksaan; harus berdasarkan kesadaran yang tulus. Sehubungan dengan perkawinan ini, disinyalir ada usaha untuk merusak muda-mudi kristen. Dengan pikiran : kawini dia, ikuti dulu sesaat agamanya, kemudian tinggalkan dia.&lt;br /&gt;d) Oleh karena kepentingan politik, ada ormas yang menjadikan agama sebagai kendaraannya. Dalam menggolkan maksudnya diciptakan trik-trik supaya terjadi benturan pada grass-root. Dibentuk kelompok/forum/laskar-laskar yang brutal sebagai pembela kaum mayoritas. Mereka melebihi aparat keamanan dalam setiap aksinya. Merekalah yang tampil terdepan sebagai pengawas SKB yang menghampang pembangunan gereja dan pengerusakan tempat ibadah yang belum memiliki IMB.&lt;br /&gt;e) Mereka iri dan cemburu atas perbedaan nilai sosial budaya yang nampak pada orang Kristen Batak dikala terjadi suasana suka dan duka maupun dalam hubungan kekerabatan yang diikat kasih dan parmargaon. Mereka mengetahui bahwa marga itu adalah salah satu sarana yang menguatkan kesatuan dan keakraban. Oleh sebab itu, ada usaha untuk menghilangkan marga supaya kesatuan dan keakraban itu lambat laun memudar. Mereka menganjurkan (mamaksakan) supaya marga jangan dituliskan pada akte kelahiran. Jangan mau. Tidak ada nama tanpa marga pada orang Kristen Batak sampai akhir jaman.&lt;br /&gt;Mencari solusi mengatasi kendala pembangunan gereja akan mengalami proses yang rumit. Karena masalah itu tidak terlepas dari cara cara mafia hukum dan kebohongan pemerintah sebagai yang disuarakan oleh tokoh-tokoh lintas agama. Suara dan isi tulisan sungguh baik tetapi tindakan dan perbuatan tidak mencerminkan pengamalan Pancasila dan UUD 1945. Mereka bukan pengayom menegakkan Bhineka Tungal Ika. Mereka adalah serigala yang berbulu domba. Oleh sebab itu, seluruh umat kristiani yang berbaju jirahkan kebenaran, keadilan dan kejujuran harus berani menyampaikan suara kenabian baik secara langsung maupun melalui media elektronik menegur oknum-oknum pemerintah yang tidak berwibawa. Supaya mereka bertobat untuk menjalankan hukum secara adil dan benar. Kendala IMB gereja akan dapat diatasi jikalau ada ketegasan dari aparat pemerintahan  mulai dari Presidan sampai kepada Kepala Rukun Tetangga (KRT). Kalau seluruh aparat pemerintahan berjiwa nasionalis –Pancasilais yang secara tegas menindak oknum-oknum dan melarang/menghapuskan ormas-ormas pengacau di negeri ini, cita-cita bangsa yang sejahtera dan damai akan terwujud.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, marilah kita doakan mereka. Tunjukkanlah rasa hormat dan loyalitasmu kepada pemerintah yang berwibawa dan taatilah peraturan yang berlaku. Lakukanlah kewajibanmu. Jadilah garam dan terang di tengah-tengah lingkungan mu. Menjadi pribadi yang komunikatif kepada sesamamu. Tampillah memancarkan sinar yang menyenangkan. Jangan norak oleh karena keberadaanmu. Jadilah saluran kasih Tuhan terhadap orang-orang yang ada disekitarmu supaya kebencian, iri hati dan kecemburuan hilang oleh karena kebaikanmu. Jauhkanlah rintangan-rintangan yang ditimbulkan perpecahan didalam gereja karena perpecahan itu sering menjadi satu alasan untuk tidak memberikan IMB. Hadapilah kenyataan hidup ini dengan berani. Jangan kecut. Tidak akan ada yang dapat melenyapkan gereja dari muka bumi ini walaupun dengan terpaksa harus menghadapai aneka ragam kesulitan. Ingatlah apa yang dikatakan Tuhan Yesus : “Lihatlah, Aku mengutus kamu seperti domba ketengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Matius 10 : 16)”.&lt;br /&gt;Hadapilah keadaan itu. Badai akan berlalu sebab; Tuhan akan berperang untuk mu dan kamu akan diam saja (Keluaran 14 : 14). Pembangunan gereja akan menjadi kenyataan sebab urusannya ditangan Tuhan. Dengan diam saja bukan berarti no action tetapi kita diingatkan supaya jangan bersandar pada pikiran dan  kemampuanmu, tetapi tunjukkanlah buah-buah imanmu terhadap pemerintah maupun masyarakat sekitarmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. Pangauan Purba, Sm.Th., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Februari 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-2233117372431154244?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/2233117372431154244/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=2233117372431154244&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/2233117372431154244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/2233117372431154244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/03/artikel-kendala-dan-solusi-pembangunan.html' title='ARTIKEL: KENDALA DAN SOLUSI PEMBANGUNAN GEREJA DI INDONESIA'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-yiE5WHi51k0/TWz1Qk0hQpI/AAAAAAAAAL0/N95aoeuME_4/s72-c/IMG_3061.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-8653062920884362575</id><published>2011-02-28T17:47:00.005+07:00</published><updated>2011-02-28T17:58:40.692+07:00</updated><title type='text'>RENUNGAN: FUNGSI YANG SEBENARNYA DARI BAIT ALLAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-t0i3kWdjr04/TWt_u7nZg9I/AAAAAAAAALs/HrX94lJzcHM/s1600/IMG_1660.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-t0i3kWdjr04/TWt_u7nZg9I/AAAAAAAAALs/HrX94lJzcHM/s200/IMG_1660.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5578693007682143186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Matius 21 : 12-17)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;(12) Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedangan merparti (13) dan berkata kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” (14) Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya. (15) Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuat-Nya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: “Hosana bagi Anak Daud!”, hati mereka sangat jengkel, (16) lalu mereka berkata kepada-Nya: “Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?” (17) Lalu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota ke Betania dan bermalam di situ.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus!&lt;br /&gt;Panggilan untuk mengembalikan suatu tempat, jabatan atau pekerjaan pada fungsi yang sebenarnya adalah tugas yang tidak gampang untuk dilakukan dan tidak bisa ditawar-tawar. Di satu pihak, terjadinya pergeseran fungsi yang sebenarnya dari suatu tempat, jabatan atau pekerjaan disebabkan adanya pemahaman yang keliru tentang keberadaan dan fungsi suatu tempat, jabatan atau pekerjaan sehingga mengakibatkan tindakan pelewengan dan penyalahgunaan. Di pihak lain, pergeseran terjadi disebabkan adanya kepentingan suatu kelompok atau golongan yang lebih atau hanya mementingkan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan orang banyak. Hal ini dapat kita saksikan dengan jelas dan nyata di negeri kita ini. Sejak terjadinya pergeseran pemerintahan di negeri kita pada tahun 1998 yang lalu (setelah lengsernya pemerintahan Orde Baru) hingga pada saat ini, seluruh elemen masyarakat negeri kita berjuang dan berusaha keras untuk mengembalikan semua lembaga dan perangkat pemerintahan di negeri ini pada fungsi yang sebenarnya. Namun, upaya-upaya yang dilakukan yang telah menelan korban jiwa dan kerugian yang tidak terhitung untuk mengembalikan semua lembaga dan perangkat pemerintahan negeri ini pada fungsi yang sebenarnya, tidak berjalan dengan baik dan lancar. Tantangan dan hambatan pada umumnya datang dari kelompok-kelompok status quo yang tidak menghendaki semua lembaga dan perangkat pemerintahan negeri ini berjalan dengan baik dan benar sesuai dengan fungsinya.&lt;br /&gt;Pergeseran suatu tempat, jabatan atau pekerjaan dari fungsi yang sebenarnya bukanlah hal yang terjadi secara tidak disengaja, melainkan secara disengaja. Pergeseran itu tentu dilakukan oleh orang-orang yang hendak mencari keuntungan bagi diri sendiri. Demikian halnya dengan pergeseran fungsi Bait Allah di Yerusalem pada zaman Yesus, sehingga Yesus menyucikan Bait Allah dan mengembalikannya pada fungsi yang sebenarnya. Peristiwa itu terjadi setelah Yesus tiba di Yerusalem. Ketika Yesus masuk ke dalam Bait Allah, Yesus melihat orang-orang yang berjual beli, para penukar uang dan pedagang merpati di halaman Bait Allah. Yesus sangat terkejut dan marah melihat keadaan itu. Halaman itu seharusnya menjadi tempat yang tenang bagi orang-orang asing yang percaya kepada Allah. Menurut peraturan agama Yahudi, orang-orang asing yang menjadi percaya kepada Allah hanya bisa berada di halaman itu, mereka tidak bisa masuk ke halaman-halaman lain. Bagi Yesus, suasana jual-beli itu telah mengganggu kelangsungan peribadahan orang-orang asing yang ditentukan beribadah di halaman itu.&lt;br /&gt;Di samping itu, para penjual dan penukar uang berlaku tidak jujur. Ada peraturan yang mengatakan bahwa pajak Bait Allah harus dibayar dengan mata uang khusus yang dibuat dari perak. Pada zaman itu mata uang Romawi dipakai di negeri Israel. Namun, sebelum orang-orang membayar pajak Bait Allah, mata uang Romawi itu harus ditukar terlebih dahulu, dan Yesus melihat bahwa para penukar menipu dan sangat curang terhadap para pengunjung yang datang beribadah ke Bait Allah. Demikian juga, setiap orang yang datang ke Bait Allah hendak mempersembahkan merparti dan hewan-hewan lainnya sebagai korban ucapan syukur kepada Allah dan sebagai korban permohonan pengampunan dosa mereka kepada Allah. Tetapi jika mereka membawa merpati atau hewannya sendiri, maka besar kemungkinan para imam di Bait Allah akan menolak merpati atau hewan itu karena dianggap haram. Oleh karena itu, orang-orang yang datang harus membeli merpati atau hewan lainnya yang telah disediakan di halama Bait Allah itu, dan Yesus melihat bahwa harga yang ditetapkan para penjual terlampau tinggi. Pendek kata, para imam di Bait Allah pada masa itu telah menggunakan agama secara nyata sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan bagi diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;Jemaat Tuhan Yesus Kristus,&lt;br /&gt;Melihat keadaan itu, Yesus sangat marah sekali. Oleh karena itu, Dia mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah itu. Dia menjungkirbalikkan meja-meja para penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati, dan berkata kepada mereka, “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun”(ayat 13). Mengapa Yesus berbuat demikian? Apakah Dia berpikir bahwa dengan menjungkirbalikkan meja-meja para penukar uang dan bangku-bangku para pedagang merpati dan hewan-hewan, Dia akan menghentikan perdagangan yang tidak adil atau tidak jujur di Bait Allah itu? Pastilah tidak. Yesus tahu bahwa orang-orang itu akan kembali melanjutkan perdagangannya. Mungkin pada esok harinya, mereka akan lebih berhati-hati supaya terhindar dari gangguan, tetapi kebiasaan-kebiasaan mereka tetap sama.&lt;br /&gt;Apa yang mendorong Yesus sehingga Dia bertindak menyucikan Bait Allah? Yesus hendak memperlihatkan bahwa Bait Allah itu, menurut kehendak Allah, harus digunakan sebagai RUMAH DOA. Tindakan Yesus menyucikan Bait Allah bukanlah tindakan sensasional atau mencari masalah terhadap imam-imam dan ahli-ahli Taurat. Tindakan Yesus itu seturut dengan firman Allah yang disuarakan oleh nabi Yesaya, “mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa” (Yesaya 56:7). Ini berarti bahwa umat Israel dipanggil untuk beribadah di Bait Allah, bukan untuk berdagang. Tindakan Yesus juga mengingatkan mereka dengan nubuatan nabi Maleakhi, “... Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! ... Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu ... Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN” (3:1-3). Singkatnya, penyucian Bait Allah yang dilakukan oleh Yesus adalah bagian dari panggilan-Nya di dunia ini, dan kesucian yang dituntut oleh Allah atas umat-Nya sangat berbeda dengan kesucian yang dimengerti oleh para imam dan ahli-ahli Taurat pada zaman itu.&lt;br /&gt;Saudara-Saudara yang terkasih,&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, tindakan penyucian Bait Allah yang dilakukan Yesus bertujuan untuk mengembalikan Bait Allah pada fungsi yang sebenarnya. Tindakan itu tidak hanya berimplikasi bagi umat Allah pada masa itu, tetapi juga bagi kita pada masa kini. Bait Allah adalah tempat bagi setiap orang untuk bersekutu dengan Allah, memuji dan menyembah Allah secara benar, tempat untuk mengenal lebih jelas tentang kehendak dan hakikat Allah. Bait Allah adalah rumah doa, tempat bagi setiap orang untuk menyampaikan segala permohonannya kepada Allah, dan tempat untuk mengetahui kehendak Allah bagi kehidupan umat-Nya. Ini berarti bahwa setiap orang yang datang ke Bait Allah harus benar-benar memiliki motivasi untuk bersekutu, memuji dan memuliakan Allah, menyampaikan segala permohonannya kepada Allah dan berusaha memahami kehendak dan maksud Allah dalam kehidupannya. Setiap orang yang memiliki motivasi yang demikian (baik imam-imam yang bertugas di Bait Allah maupun orang-orang yang datang beribadah) tidak akan menyalahgunakan fungsi Bait Allah bagi dirinya sendiri atau bagi orang lain. Bahkan setiap orang yang memiliki motivasi yang demikian tidak akan membiarkan terjadinya penyimpangan terhadap fungsi Bait Allah itu sendiri.&lt;br /&gt;Pada masa kini, gereja-gereja di berbagai tempat pastilah tidak menyediakan tempat bagi orang-orang yang berjual beli sama seperti di Bait Allah di Yerusalem pada zaman Yesus. Namun demikian, tidak berarti bahwa di gereja-gereja pada masa kini tidak terjadi penyimpangan fungsi dari Bait Allah. Penyimpangan fungsi Bait Allah atau Gereja pada masa kini dapat terjadi jika orang-orang yang datang ke Gereja bertujuan untuk dipuji dan dihormati oleh orang lain, atau hanya mengikuti kegiatan-kegiatan seremonial semata tetapi tidak mengalami pertobatan dalam hidupnya, atau bertujuan untuk mendapat keuntungan-keuntungan bagi diri sendiri dalam setiap pelayanan di gereja. Hal-hal itu tentu bertentangan dengan maksud dan tujuan penyucian Bait Allah yang dilakukan oleh Yesus. Bahkan rasul Paulus dengan tegas mengatakan, “... demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1). Oleh karena itu, sebagaimana Yesus telah melakukan penyucian Bait Allah, demikian juga kita yang adalah pengikut-pengikut Kristus, bahwa kita memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menjaga kesucian Bait Allah. Tugas menjaga dan memelihara kesucian Bait Allah haruslah tampak pada motivasi dan tindakan kita pribadi lepas pribadi dalam hubungan kita yang benar dengan Allah, dan juga kegiatan-kegiatan pelayanan jemaat harus bertujuan untuk membangunan persekutuan dengan Allah dan memiliki hubungan yang benar dengan Allah.&lt;br /&gt;Saudara-Saudara yang terkasih,&lt;br /&gt;Tindakan penyucian Bait Allah yang dilakukan oleh Yesus tidak hanya mengusir semua orang yang melakukan transaksi perdagangan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga menyatakan perbuatan kasih Allah yakni menyembuhkan orang-orang buta dan orang-orang timpang yang berada di pelataran Bait Allah. Mereka adalah orang-orang yang duduk minta sedekah dari orang-orang yang masuk ke Bait Allah. Menurut peraturan agama Yahudi pada zaman itu, orang-orang cacat tidak boleh masuk ke Bait Allah, karena kesucian Bait Allah tercemar oleh kehadiran orang-orang seperti mereka. Tetapi, Yesus tidak mengindahkan peraturan itu. Bagi Yesus, kesucian yang dituntut oleh Allah berhubungan dengan pengharapan orang-orang cacat, orang-orang hina dan yang tidak diperhitungkan oleh imam-imam dan ahli-ahli Taurat pada masa itu. Jika Bait Allah itu sesungguhnya bersifat suci, maka di tempat tersebut orang-orang yang mempunyai kebutuhan dan pengharapan harus diterima dan disambut. Tindakan penyembuhan yang diperbuat oleh Yesus terhadap orang-orang buta dan orang-orang timpang di Bait Allah telah memberikan pengharapan baru bagi mereka untuk menjalani kehidupan mereka. Namun, sangat disayangkan, penyembuhan yang dilakukan Yesus kepada mereka yang dianggap “mencemarkan” Bait Allah, tidak disambut dengan penuh sukacita oleh imam-imam dan ahli-ahli Taurat, melainkan sebaliknya mreka sangat jengkel. Para imam dan ahli-ahli Taurat sangat jengkel karena Yesus telah menyatakan fungsi kesucian dari Bait Allah itu sendiri.&lt;br /&gt;Saudara-saudara yang terkasih,&lt;br /&gt;Di samping, mengembalikan fungsi Bait Allah sebagai rumah doa (tempat bersekutu antara umat dengan Allah) dan sebagai tempat untuk memperoleh semangat dan pengharapan baru bagi umat untuk menjalani kehidupan, maka tindakan penyucian yang diperbuat oleh Yesus berkenaan juga dengan hidup yang bersukacita dan berbahagia yang dituntut oleh Allah bagi setiap orang yang datang ke Bait-Nya. Ketika Yesus menyucikan Bait Allah itu dan melakukan penyembuhan terhadap orang-orang yang sakit yang berada di pelataran Bait Allah itu, anak-anak yang berada di Bait Allah berseru, “Hosana bagi Anak Daud” (ay. 15). Seruan anak-anak itu menjadi bukti dari kesucian Bait Allah. Namun, sekali lagi, hati imam-imam dan ahli-ahli Taurat sangat jengkel mendengar seruan anak-anak itu. Terhadap sikap hati yang sangat jengkel dari imam-imam dan ahli-ahli Taurat, Yesus mengutip satu ayat dari Mazmur 8:3 yang mengatakan, “Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian.”  Ini menunjukkan bahwa kesucian Bait Allah (Gereja) telah membawa setiap orang untuk mengalami hubungan yang benar dengan Allah, memberikan pengharapan baru dalam kehidupan dengan sesama manusia, dan memperlihatkan hidup yang penuh sukacita dalam kehidupannya. Tidak ada respons lain yang memungkinkan. Ini berarti bahwa jika anggota jemaat sungguh-sungguh hidup dalam kesucian, maka hidup yang penuh sukacita dan kebahagiaan harus menjadi ciri atau sifat setiap anggota jemaat Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara yang dikasih Tuhan Yesus Kristus,&lt;br /&gt;DOA, PENGHARAPAN dan SUKACITA merupaakn implikasi-implikasi kesucian yang dituntut oleh Allah dari Gereja-Nya. Marilah kita semua berusaha agar ketiga sifat itu selalu terdapat dalam jemaat kita. Tuhan memberkati kita. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. Elisa Tambunan, M.Th., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Februari 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-8653062920884362575?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/8653062920884362575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=8653062920884362575&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/8653062920884362575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/8653062920884362575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/02/renungan-fungsi-yang-sebenarnya-dari.html' title='RENUNGAN: FUNGSI YANG SEBENARNYA DARI BAIT ALLAH'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-t0i3kWdjr04/TWt_u7nZg9I/AAAAAAAAALs/HrX94lJzcHM/s72-c/IMG_1660.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-9218730959158217278</id><published>2011-02-28T17:41:00.003+07:00</published><updated>2011-02-28T17:45:22.094+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: HUMOR</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hadiah Tahun Baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada saat tahun baru, seorang cucu yang sayang dan perhatian kepada neneknya berkunjung menemuinya...&lt;br /&gt;Cucu : "Nek, apa kabar?"&lt;br /&gt;Nenek : "Baik cu... kamu bawa oleh-oleh apa?"&lt;br /&gt;Cucu : "Ini nek, aku bawa kalender tahun ini."&lt;br /&gt;Nenek : "Aduuh cu, kamu kok baik amat... enggak usah repot-repot cu, wong tahun kemaren kalendernya juga masih bagus kok..."&lt;br /&gt;Cucu : "????"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komitmen Tahun Baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2009: Aku berkomitmen untuk selalu bangun pagi pukul 05.00 lalu bersaat teduh.&lt;br /&gt;Tahun 2010: Karena aku tidak bisa menjalankan komitmenku pada tahun 2009, maka tahun 2010 ini aku akan menjalankannya.&lt;br /&gt;Tahun 2011: Aku mempertimbangkan kembali komitmenku tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pembangunan Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, berkumpullah para duta wisata dari berbagai negara untuk mempresentasikan tujuh bangunan keajaiban dunia dalam kategori bangunan tercepat.&lt;br /&gt;Mesir: Dahulu bangsa kami membangun sebuah piramida yang megah selama 50 tahun.&lt;br /&gt;Cina: Wah, kalah donk .... Kalau bangsa Cina membangun Tembok Cina dalam waktu 10 tahun.&lt;br /&gt;India: Nehi ... nehi ... nehi ..., kalian semua masih kalah. Kami bangun Tajmahal dalam waktu 5 tahun.&lt;br /&gt;Belanda: Nei, kalian kalah semua, kami bangun damp cukup sebulan.&lt;br /&gt;Indonesia: Bah ..., semua kelamaan! Bangsa kami bangun seribu candi Prambanan hanya dalam waktu semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kiper Hebat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang pria sedang berjalan di sudut kota Manchester, dia mendengar seorang wanita berteriak disertai asap yang membumbung dari arah teriakan wanita tersebut. Dia berlari menuju ke bangunan itu dan melihat banyak orang mengerumuni pemandangan yang mencekam.&lt;br /&gt;Di pinggir jendela dari bangunan tingkat sepuluh yang terbakar, terlihat seorang wanita dengan sebuah guci antik di tangannya. Ia berteriak minta tolong.&lt;br /&gt;Pria itu berteriak, "Cepat turun pakai tangga darurat!"&lt;br /&gt;Wanita itu membalas, "Aku tidak bisa meninggalkan guci antik peninggalan nenek buyutku ini!"&lt;br /&gt;Pria itu berteriak lagi, "Lempar gucimu ke bawah, aku akan menangkapnya!"&lt;br /&gt;Jawab si wanita, "Tidak! Tidak! Guci ini nanti bisa pecah!"&lt;br /&gt;Pria ini berkata, "Bu! Aku penjaga gawang Inggris! Aku tidak pernah kebobolan! Aku belum pernah gagal menangkap apa pun!"&lt;br /&gt;Kemudian pria itu menunjukkan gayanya menangkap bola, membuat semua orang kagum.&lt;br /&gt;Setelah berpikir dengan cepat, sang wanita berkata, "Ok! Aku percaya kamu! Ini, tangkap!"&lt;br /&gt;Maka si wanita melemparkan guci antiknya ke arah pria itu. Sang pria dengan sigap menangkap guci itu dengan tangan kanannya. Kemudian diletakkannya guci itu di atas tanah, lalu dia mundur ke belakang sejauh 2 meter. Pelan tapi pasti, dia berlari ke arah guci itu, dan... menendangnya sejauh 60 meter!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Humor ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Januari 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-9218730959158217278?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/9218730959158217278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=9218730959158217278&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/9218730959158217278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/9218730959158217278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/02/humor.html' title='ARTIKEL: HUMOR'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-6314728564351534542</id><published>2011-02-22T13:32:00.002+07:00</published><updated>2011-02-22T13:36:12.138+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: TREND GOTHIC BAGI ANAK TUHAN: YES OR NO?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permulaan Gothic&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gothic pada awalnya adalah sebutan untuk orang-orang Goth. Orang Goth ini merupakan kumpulan orang yang tinggal di Eropa Utara dan pada jaman kekaisaran Roma pada abad ke-2, lalu mereka menduduki daerah Jerman, Spanyol, dan Italia. Bangsa Goth menjadi ejekan bagi bangsa Barbar Utara, dan pada abad ke-16 julukan Gothic diberikan pada sebuah gaya Arsitektur dan gaya artistik yang ada pada jaman pertengahan.&lt;br /&gt;Gaya Gothic Architecture ini menjadi sebuah idealisme pada abad ke-18 dan ke-19, bersama Romanticism, memulai munculnya kebangkitan gaya Gothic, dimulai dari Britania, pada akhirnya gaya ini menyebar sampai ke Amerika tengah dan Eropa Continental.&lt;br /&gt;Para pekerja di ke-susastraan akhirnya menyelidiki latar belakang lahirnya gaya Gothic ini, pada akhirnya menghasilkan cerita fiksi Gothic. Akhirnya pada tahun 1980-an, melalui penyelidikan itu, melahirkan kebudayaan Gothic, gaya musik Gothic, gaya (fashion) Gothic, event, dan lainnya. Dari sejarah diatas, dapat kita gambarkan bahwa budaya Gothic itu sendiri berawal dari sisi diskriminasi, yang berbau kegelapan, kemuraman, dan pengkotak-kotakan. Yang berarti seperti membentuk komunitas baru yang merasa tidak sejalan dan tidak se-filosofi dengan komunitas yang lebih besar atau umum.&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan kalau gaya Gothic ini merupakan gaya pengikut setan, namun sejauh ini belum ada fakta konkrit, yang penulis tahu, tentang itu. Mungkin gaya Gothic ini hanyalah sebagai alat yang dipakai oleh sebagian orang untuk menyampaikan filosofinya (yang berbau tentang ajaran setan) melalui musik, fashion, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karakteristik gaya (fashion Gothic)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut para ahli   karakteristik gaya (fashion) Gothic :&lt;br /&gt;• Simon Reynolds : muka yang pucat, rambut hitam, baju yang berkerut, tapi stovepipe (topi yang biasa digunakan pesulap), jaket kulit, aksesoris pakaian, perhiasan mistis (tulang, tengkorak, dll) rata terbuat dari perak.&lt;br /&gt;• Ted Polhemus : bunga beludru hitam, jaket berwarna merah tua atau ungu, aksosoris dengan tali ketat, sarung tangan, dan perhiasan mistis.&lt;br /&gt;• Maxim Furek : Goth merupakan pemberontakan terhadap gaya dandanan yang rapi pada era disco tahun 1970-an, dan perlawanan terhadap warna pastel dan extravagance pada tahun 1980-an. Rambut hitam, dandanan yang gelap, dan kelihatan pucat adalah gambaran dasar dari gaya fashion Gothic. Sepintas gaya Gothic ini dilihat dari dandanannya akan terlihat sebagai gaya Victorian modern.&lt;br /&gt;Gaya Gothic juga mengalami perkembangan. Gaya Gothic yang sekarang tidak se-ekstrim gaya Gothic awal yang sangat menyolok. Tapi sudah ada sentuhan dari fashion lain. Sehingga lebih menarik di mata anak-anak muda. Gaya Gothic ini juga mempunyai kemiripan gaya dengan gaya fashion Heavy Metal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gaya Gothic Dimata Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anak muda cenderung melihat gaya Gothic ini sebagai sesuatu hal yang langka. Pandangan pertama melihat gaya Gothic sebagai gaya yang unik. Jika dia merasa pas dengan gaya itu, dia pasti tertarik dengan gaya itu, yang bisa menampung keinginannya dalam berbusana. Jadi dia lambat laun akan mencoba melihat, mencari tahu, dan pada akhirnya menggunakan gaya itu. Pandangan lainnya, melihat gaya Gothic sebagai hal yang kurang penting, bahkan risih jika melihat gaya itu, apalagi untuk memakainya. Di mata masyarakat sendiri, sebagian besar masyarakat, sudah pasti antipati dengan gaya ini, karena secara fisik memang kelihatan seperti gaya preman dan biasanya menjaga jarak dengan mereka yang menggunakan gaya ini. Karena memang trend Gothic ini berasal dan marak di daerah Eropa dan Amerika, jadi budaya Gothic yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat Indonesia terlihat sedikit “memaksa”. Kelihatan tidak telalu cocok jika dipakai di Indonesia yang sifatnya lebih sopan, kekeluargaan, dan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saran Bagi Anak Tuhan Yang Menggunakan Trend Gothic&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam 1 Kor. 6 : 19 dikatakan : ”atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”. Jadi sekarang apakah gaya Gothic itu merusak tubuh (secara fisik maupun pemikiran kita) yang sudah di berikan Tuhan kepada kita? Sudah memuliakan Allah atau belum? Tergantung dari motivasi orang itu yang menggunakan gaya tersebut. Seperti dibahas di atas, ada yang beranggapan bahwa gaya Gothic ini berbau pemujaan terhadap setan, nah kalau bisa kita menjaga sikap kita. Jangan sampai kita di cap sebagai pemuja setan, hanya karena kita menggunakan gaya Gothic. Dengan semakin berkembangnya gaya Gothic ini, mulai bermunculan ide-ide baru untuk menindik, menato, cat rambut, dan lainnya. Ini juga harus dihindari, lagi-lagi untuk menjaga tubuh yang Tuhan anugerahkan kepada kita&lt;br /&gt;Sebenarnya penulis bukanlah seorang profesional atau ahli dalam dunia fashion, bahkan bisa dibilang cuek, tapi penulis akan mencoba melihat dari sisi lainnya. Menurut penulis masalah pemakaian trend Gothic dalam keseharian adalah masalah ”penting ga penting”. Akan terlihat berlebihan (atau bahasa anak jakarta-nya : lebeh :p) untuk berdandan atau merias diri dengan gaya Gothic kalau memang hanya untuk keluar rumah, berkumpul dengan teman-teman, nongkrong di warung. Beda ceritanya jika memang ada event khusus untuk pecinta gaya Gothic, mungkin sebagai apresiasi kita sebagai pecinta gaya Gothic, maka wajar kita menggunakan gaya tersebut.  Nah, untuk penggunaan di dalam gereja? Penulis menyarankan yang simpel-simpel saja (ga ribet).&lt;br /&gt;Terakhir, ”jadi trend Gothic-nya diikuti ga ya?” Ya tergantung anda. Sebaiknya bergaya atau berdandan yang wajar saja. ”Jadi ga usah nih?” Untuk menghargai, boleh-boleh saja. Karena jika melihat pendapat dari Maxim Furek diatas, itu menandakan, jika tidak ada gaya Gothic pada masa 1970-an yang lalu mungkin gaya kita sekarang masih menggunakan warna-warna terang atau pastel (alias : norak, kalau kata anak jakarta :p). Yang pasti, setiap apa yang kita lakukan, dalam hal ini tentang gaya berpakaian, tidak boleh merusak apa yang telah Tuhan berikan kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Ridho Cristian Satdes Limbong, S.T., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Januari 2011)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-6314728564351534542?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/6314728564351534542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=6314728564351534542&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/6314728564351534542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/6314728564351534542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/02/artikel-trend-gothic-bagi-anak-tuhan.html' title='ARTIKEL: TREND GOTHIC BAGI ANAK TUHAN: YES OR NO?'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-5883167291648432904</id><published>2011-02-02T20:31:00.002+07:00</published><updated>2011-02-02T20:40:13.907+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: KEUANGAN DI GEREJA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sering kita menjumpai beberapa pertanyaan dan pernyataan ketika berbicara tentang keuangan di gereja. Pertanyaan dan pernyataan itu antara lain: Siapa yang mengelola keuangan di gereja? Kemana uang gereja diperuntukkan? Darimana uang di gereja di dapatkan? Sehingga oleh pertanyaan dan pernyataan itu muncul berbagai macam pikiran dan pendapat. Ada yang mengatakan bahwa gereja tidak perlu terlalu memikirkan uang, sehingga ketika seorang pelayan (baca: pendeta) berbicara mengenai keuangan dituduh menjadi "mata duitan” dan ketika seorang petugas kebaktian menerima 'transport” dianggap tidak etis, Ada juga anggapan bahwa mengenai keuangan sepertinya tugas dan tanggung jawab dari majelis, sehingga kadangkala majelis mengganggap soal keluar masuk uang di gereja menjadi 'haknya', Ada pula gereja yang tidak mengikutsertakan pendetanya memikirkan soal keuangan, yang penting pendeta tersebut konsentrasi dan benar-benar memikirkan soal pelayanan yang menyangkut kerohanian saja.&lt;br /&gt; Harus diakui, keuangan di gereja adalah pokok yang sangat sulit dan bukanlah merupakan pokok bahasan yang paling disukai di kalangan gereja dan orang Kristen, Namun keuangan di gareja juga merupakan salah satu pokok-pokok yang paling penting, Sebab keuangan juga merupakan soal pemberian, di mana salah satu pokok ajaran dari kekristenan adalah soal "memberi", Memang bisa saja memberi itu bukan hanya berkisar soal uang, bisa juga tenaga, pikiran waktu dan lain sebagainya. Tapi dalam hal ini kita mau berbicara secara khusus menyangkut keuangan.&lt;br /&gt; Kita menghadapi kenyataan bahwa kita mempunyai krisis keuangan di gereja, dan kita seringkali juga menjadi korban kampanye curang organisasi-organisasi Kristen yang berusaha untuk mendapatkan uang Kristen kita. Sebagai seorang Kristen yang sudah bertahun-tahun terdaftar dalam sebuah keanggotaan gereja, mungkin anda salah seorang yang menjadi bulan-bulanan untuk dimintai sumbangan, Berbagai macam cara dan usaha pun sering kita lihat dan dengar dari orang-orang dan kalangan tertentu yang mungkin memakai nama kekristenan berbicara dan mengumpulkan uang. Mulai dari buku-buku, sovenir-souvenir, barang-barang yang dianggap suci, lambang-lambang kekristenan, lagu-lagu rohani dan banyak lagi, sering dijadikan alat dan sarana untuk mengumpulkan uang.&lt;br /&gt; Bujuk rayu, bahkan manipulasi dan tipu muslihat-pun sadar tanpa sadar sudah terjadi di kalangan keagamaan atau barangkali gereja juga sudah ikut-ikutan? Dan kita bisa lihat sebagai perbandingan di negara kita, bahwa ternyata dari semua departemen yang ada di Indonesia, ternyata di departemen agama-lah yang paling banyak terjadi 'korupsi’, Kita juga perlu mengingat, bahwa salah satu persoalan munculnya aliran protestan pada zaman Reformasi Gereja adalah karena masalah uang.&lt;br /&gt; Sebagai pendeta, saya pernah mendengar arahan-arahan, membaca buku-buku dan melihat kenyataan langsung bahwa banyak cara-cara ‘licik' yang menurut saya tidak sesuai dengan tuntutan alkitab untuk mendapatkan uang di gereja, Kambing hitam perkunjungan jemaat, potret-potret kemiskinan, berita-berita penginjilan, ucapan-ucapan selamat, sering dijadikan topeng untuk meraup keuangan. Bahkan belakangan ini, pendeta atau majelis pun menjadi sasaran penipuan uang, Dengan cara telepon gelap yang mengatakan ada yang mau menyumbang pembangunan gereja, tapi sebelum uang dicairkan, terlebih dahulu mentransfer uang sejumlah tertentu, Tapi uang sudah ditransfer, namun bantuan tak kunjung datang.&lt;br /&gt; Tambahan lagi, ada gereja-gereja tertentu dan bahkan pelayan-pelayannya yang berpihak kepada orang-orang kaya, Sehingga di dalam gereja (meskipun tidak semua) sepertinya orang-orang kayalah yang menetapkan aturan-aturan di gereja. John Murray mengatakan, "Mungkin hanya sedikit kelemahan yang merusak ketulusan gereja bila dibandingkan dengan kelemahan lebih memihak orang-orang kaya, Gereja telah berkompromi dengan kejahatan-kejahatan orang-orang kaya itu, sebab takut kehilangan sumbangan mereka, Suara gereja telah dibungkam oleh karena menghormati orang-orang, dan disiplin teleh dikorbankan karena takluk kepada pengaruh keduniawian. Ada lagi gereja-gereja tertentu yang merasa persepuluhan sangatlah penting untuk menggerakkan anggota-anggota jemaatnya untuk memberikan sebagaimana mestinya. Walaupun persepuluhan itu tidak diajarakan dalam Perjanjian Baru, tambahan lagi zaman sekarang ini kekaburan akan jumlah persepuluhan membuat kebingungan yang besar. Sepersepuluh dari gaji pokok atau semua penghasilan? Penekanan persepuluhan itu sangat penting dirasakan gereja tersebut, sebab jika tidak demikian, mereka takut kas gereja menjadi minus. Melihat berbagai macam masalah-masalah yang nyata dan tidak nyata terjadi di kalangan orang Kristen pun gereja dewasa ini, perlu kita memperhatikan beberapa hal tentang uang di gereja, bagaimana memberi dan mengelola uang tersebut? Sehingga tidak lagi terjadi cara-cara yang kurang baik dan manipulasi masalah keuangan di gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.   Rencana Dan Anggaran (Luk 14 : 28 - 30)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak bisa dipungkiri bahwa dalam setiap program dan rencana dalam suatu perkumpulan dan organisasi untuk melakukan suatu kegiatan, tidak terlepas dari anggaran dan biaya yang dibutuhkan. Itu sebabnya Yesus sendiri pun berkata bahwa dalam Lukas 14:28-30 tentang soal membuat anggaran biaya, supaya progam rencana dan pekerjaan itu dapat terealisasi dengan baik. Dalam gereja pun ini sangat diperlukan. Program dan rencana itu harus benar-benar dipertimbangkan dan dirancangkan sesuai dengan anggaran. Artinya, supaya program itu dapat terlaksana dengan baik, di samping tidak terjadi keragu-raguan dan ketakutan akan anggaran, Tambahan lagi, agar jangan ada istilah "melihat keadaan" atau "melihat apa yang terjadi" ("mamereng na tupa disi", kata orang Batak). Sering memang kita menghadapi kenyataan bahwa gereja atau pun kumpulan anggota jemaat sering membuat program dadakan, sehingga timbul berbagai macam persoalan. Penolakan program dan proposal oleh Majelis, kegiatan yang asal-asalan, dana yang tidak cukup, manipulasi anggaran, dan banyak lagi kejadian akibat dari program dadakan tersebut Secara khusus di gereja HKBP, sebagian besar sering terjadi "manipulasi dana" dalam proposal oleh beberapa kumpulan atau kategorial, Merasa anggaran biaya dan proposal yang diajukan hanya 50% yang akan disetujui oleh Majelis, anggota kategorial pun membuat 'proposal bayangan', Artinya, dana yang sebenarnya dibutuhkan hanya 5 juta, supaya dana tercapai, maka dibuat 'proposal bayangan'. Dibuatlah kebutuhan yang macam-macam, sehingga mencapai 10 juta, sehingga ketika proposal hanya disetujui 50%, tidak ada persoalan, karena memang dana sebenarnya yang dibutuhkan hanyalah 5 juta. Tambahan lagi, karena anggaran yang dibutuhkan cukup banyak karena adanya program dadakan, terjadilah kegiatan pengumpulan dana yang aneh-aneh. Lelang-lelang di gereja yang berbau penodongan (pemaksaan), bazar-bazar yang mengaburkan arti bazar, penjualan makanan oleh kaum ibu dan muda-mudi, kertas-kertas undangan dengan nilai-nilai tertentu, kupon-kupon dengan iming-iming door prize, kunjungan-kunjungan team kepada donateur-donateur, dan lain sebagainya. Memang benar, kita tidak membatasi kuasa Tuhan dan orang-orang atau anggota jemaat yang tergerak untuk memberikan dana atau uang secara dadakan kepada gereja, Namun perlu diingatkan, bahwa supaya tidak terjadi kesemberautan dan kekacauan bahkan tidak terlaksananya program, untuk itulah perlunya rencana program dan anggaran tersebut yang dapat dibuat secara terperinci sedikitnya sekali dalam setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.   Diakonia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai Tri Tugas Panggilan Gereja (Koinonia, Marturia, Diakonia), memang tidak dapat dipungkiri bahwa diakonia sangat membutuhkan dana (uang) yang banyak, Sebab di satu sisi, pelayanan yang efektif adalah pelayanan yang menyentuh dan dapat dirasakan secara nyata dan langsung, Sebagai contoh, seorang pengkhotbah yang memberitakan Injil di kolong jembatan dengan berkhotbah secara menggebu-gebu dan luar biasa selama satu jam tidak begitu di dengar dan diperhatikan orang, Tetapi ketika pengkhotbah itu datang ke kolong jembatan dengan membawa beberapa bungkus nasi campur, orang akan datang berkerumun dan berebutan untuk mendapatkan nasi tersebut, Dan memang berbicara soal diakonia di gereja bukanlah berbicara soal keuntungan ataupun pemasukan untuk gereja. Tapi diakonia adalah benar-benar pelayanan dan kerugian bahkan pengeluaran bagi gereja, Untuk itulah perlu pengertian yang jelas bagi gereja dan anggota jemaatnya supaya bersama-sama memberikan perhatian dan bantuan bagi progam pelaksanaan diakonia di gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.   Kerelaan Dan Sukacita Memberi, Bukan Paksaan (2 Kor 9 : 7)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menyadari pentingnya dana (uang) di gereja, untuk itulah perlunya kesadaran yang sangat bagi anggota jemaat untuk memperhatikan dan memberikan bantuan, Namun hal yang harus dicamkan dan diingat, bahwa memberi bagi gereja hendaklah jangan karena paksaan atau pun bujukan-bujukan, Tapi biarlah pemberian itu didorong oleh keyakinan dan kerelaan bahwa apa yang dimiliki adalah berkat dari Tuhan. Dan berkat itu juga dipergunakan sebagai berkat bagi orang lain. Janganlah kiranya kita memberi supaya dikenal orang, supaya dipuji-puji, supaya dihormati, Tapi biarlah kita memberi oleh karena dorongan iman dan keyakinan sebagaimana pemahaman tentang berkat ; 1. General Grace (berkat umum = hujan, oksigen, matahari, dsb, yang diberikan kepada semua orang, yang baik dan yang jahat) 2. Special Grace (berkat spesial= yang diberikan bagi orang-orang tertentu), Mungkin kitalah orang tertentu itu, karena tidak semua orang punya uang banyak, tidak semua orang punya pekerjaan dan penghasilan yang baik. Untuk ituah kita perlu mengingat berkat spesial itu, dan mengembalikannya dengan kerelaan dan sukacita untuk pekerjaan dan kemuliaan Tuhan di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.   Kumpulkan Dan Sisihkan (1 Kor 16 :1 -2)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tentang memberi uang ataupun yang lainnya untuk gereja, sering tanpa sadar kita memberikannya dari "sisa-sisa" yang kita miliki, Memang Tuhan tidak menginginkan kita memberikan semua yang kita miliki sehingga kita menjadi miskin dan tidak punya apa-apa lagi. Tapi Tuhan menginginkan, supaya kita benar-benar ‘menyisihkan’ apa yang kita miliki untuk pekerjaanNya melalui gerejaNya, bahkan dikatakan: berikaniah yang terbaik untuk kemuliaan Tuhan. Kita sering menganggap remeh bahkan lupa untuk mengumpulkan atau menyisihkan sebagian uang atau yang kita miliki untuk pelayanan kerajaan Tuhan. Kita lebih sering mementingkan kebutuhan pribadi kita, menyisihkan untuk kesenangan ataupun kebutuhan yang kadangkala tidak masuk akal, Ingatlah bahwa yang kita sisihkan itu bukanlah soal besar kecil atau sedikit dan banyaknya (5+2:5000=12, matematika Alkitab, 5 roti dan 2 ikan dimakan 5000 orang dan sisa 12 keranjang), Hal penting adalah bagaimana kita benar-benar mengingat dan menyisihkannya untuk persembahan kita bagi pelayanan dan pekerjaan di tengah-tengah gereja,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.   Bukan Hamba Uang (Ibrani 13 : 5)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memang uang sangat dibutuhkan dalam pelayanan di gereja, Tapi uang bukanlah tujuan utama dari gereja. Artinya bukan setiap kegiatan yang dilakukan oleh gereja semata-mata bertujuan untuk mengumpulkan uang, Inilah mungkin yang sering kita lihat, bahwa dibalik kegiatan yang dilakukan gereja ada suatu maksud tersembunyi untuk menghasilkan dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, Pesta-pesta dan kegiatan gereja yang kurang menghasilkan uang yang banyak sering dianggap tidak berhasil Panitia dituduh gagal ketika kegiatan yang dilakukannya tidak mencapai target yang telah ditentukan. Para pelayan merasa tidak diperhatikan ketika transport atau amplop ucapan syukur tidak di dapat dari suatu pelayanan, Bahkan tarif-tarif pembicara dan pengkhotbah pun muncul dimana-mana, Kita tidak boleh mengukur suatu keberhasilan pelayanan di tengah-tengah gereja dengan uang. Janganlah pengurus gereja merasa berhasil dalam pelayanan ketika mereka bisa mengumpulkan uang yang banyak atau saldo kas gereja berlimpah-limpah. Keberhasilan pelayanan gereja adalah dimana pekerjaan dan pelayanan di tengah-tengah gereja itu bisa dilakukan seefektif mungkin. Sebagaimana saya pernah mendengar dari rekan saya seorang pendeta di sebuah gereja berkata dengan bangga : "pelayanan saya dan majelis di gereja ini cukup luar biasa dan mendapat respon dari anggota jemaat, sehingga kami punya saldo kas gereja sampai Rp.150 juta", Namun saya melihat bahwa gereja mereka sepertinya mau roboh, anggota jemaatnya banyak yang putus sekolah karena tidak punya biaya, kegiatan yang ada di gereja tersebut hanya sebatas kegiatan rutinitas, sosial bagi jemaat yang sakit dan yang mengalami bencana atau kemalangan tidak berjalan, Di dalam hati saya tersenyum dan berkata : "Ini pendeta dan Majelis gimana, berarti mereka tidak bisa membuat program, berarti mereka tidak bekerja melakukan pelayanan", Untuk apa saldo banyak tapi kegiatan pelayanan tidak berjalan efektif dan maksimal Sebab gereja yang bergerak dan punya kegiatan pelayanan yang banyak membutuhkan dana yang banyak, bukan saldo yang banyak, Jadi gereja yang baik bukan di ukur dari banyaknya uang atau saldo kas gerejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.   Kewajiban Memberi (Mat 17 : 24 ; 22:20)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada anggapan beberapa orang, bahwa soal memberi uang kepada gereja adalah tanggung jawab orang-orang tertentu, Sebagian pengurus gereja maupun majelis merasa tidak punya kewajiban untuk ikut ambil bagian dalam memberikan materi atau uangnya, sebab mereka merasa telah memberikan tenaga dan waktu mereka, Sehingga ketika ada kebutuhan dan keperluan dana di gereja sering nama-nama majelis tidak didaftarkan, Kita mungkin perlu mengingat kembali ceritera dimana Yesus dan murid-muridNya membayar bea untuk Bait Allah, Dia tidak berkata, bahwa Dia adalah Tuhan dan tidak perlu membayar atau memberikan bea ke Bait Allah, tapi justru Yesus memberikan tauladan kepada murid-muridNya dan juga kepada orang banyak bahwa penting memberikan bea kepada Bait Allah. Memberikan bea ke gereja adalah menjadi tanggung jawab semua anggota jemaat. Sebagaimana Yesus juga memperingatkan tentang membayar pajak, demikian juga kita diingatkan untuk membayarkan yang patut kepada gereja kita. Tidak terlepas dari anggota jemaat maupun penatua atau pengurus gereja, semua berkewajiban untuk membayarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Memberi Berkat Diberi Kelimpahan (Amsai 11:24)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memberi kepada gereja bukanlah soai untung rugi, tapi benar-benar didorong oleh iman dan keyakinan bahwa apa yang kita dapatkan adalah dari berkat Allah yang berkelimpahan. Jadi tidak perlu takut, dan tidak perlu memikirkan untug rugi jikalau mau memberi ke gereja. Jangan kita memberi hanya karena ada maksud atau tujuan tertentu yang ingin kita dapatkan dari gereja. Tapi tidak salah jika kita memberi dengan keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan berkat yang berkelimpahan. Ada pepatah orang Batak yang mengatakan ;"dibuang-buang ganda, diholit-holit mago" (ditabur semakin berkelimpahan, diirit semakin kekurangan), Sebagaimana Amsal 11:24 berkata bahwa ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya, namun ada yang menghemat secara luar biasa tapi selalu kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8. Apa Yang Kamu Tabur Dan Kamu Beri (Luk 6 : 38)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana keyakinan memberi akan diberi berkat kelimpahan, demikian pula Yesus berbieara soal apa yang kita tabur dan ukurkan, demikian juga yang kita tuai dan peroleh, Ketika kita mengirit memberi kepada Tuhan melalui gereja, maka Tuhan juga akan mengirit memberikan berkatNya kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9.   Memberi Adalah Pengorbanan (Mark 12 : 41 - 44)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memang sangat sukar berbicara tentang hal memberi, walaupun ajaran kekristenan mengatakan adalah lebih baik memberi daripada menerima, Namun banyak orang merasa rugi memberikan apa yang dimilikinya, ia merasa sudah capek berusaha dan bekerja, maka adalah wajar kalau dia sendiri menikmati hasil jerih-payahnya, Memberi adalah pengorbanan, sebab apa yang kita miliki dan mungkin juga yang kita butuhkan harus kita korbankan untuk orang lain, Sebagaimana seorang janda yang memberi sedikit dari kekurangannya, daripada orang kaya yang memberi banyak dari kelimpahannya (Mark 12:41-44), Yesus memperingatkan bahwa janda itulah yang mengorbankan banyak, la mengorbankan semua yang ada padanya, bahkan seluruh nafkahnya. Itulah prinsip memberi, bahwa memberi haruslah dengan pengorbanan yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10. Setia Dalam Segala Perkara (Luk 16 : 10)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pemahaman yang mengatakan bahwa memberi uang kepada gereja adalah hanya menjadi tanggung jawab orang-orang yang mempunyai duit yang banyak saja. Sehingga orang yang tidak mempunyai duit yang banyak merasa tidak perlu dan bahkan pura-pura tidak perduli untuk memberikan uangnya yang sedikit itu, Tambahan lagi, gereja juga ikut-ikutan, membuat daftar-daftar penyumbang atau pengumpul dana hanya sebatas orang-orang tertentu, Untuk itulah perlu diingatkan, bahwa memberi ke gereja bukanlah hanya tanggung jawab orang tertentu atau kelompok berduit saja, sebab kalau yang sedikit saja tidak kita hiraukan, tentu Allah tidak akan memberikan yang banyak, Sama halnya dengan pengelolaan keuangan di gereja, uang gereja yang sedikit itu kalau tidak kita kelola dengan baik, bagaimana dengan uang gereja yang banyak? Dan ini juga sering dijumpai dalam gereja, ada anggota jemaat yang malas memberi sumbangan atau bantuan, karena merasa pengurus gereja tidak mempergunakan pemberian itu dengan baik dan benar.&lt;br /&gt;Dari pernyataan-pernyataan di atas, kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa memang sudah saatnya kita peka terhadap soal keuangan di gereja, Bagaimana memberikan dan mengelolanya dengan baik dan benar. Hendaklah gereja tidak terpengaruh oleh trik-trik atau topeng-topeng yang menghalalkan segala cara untuk mengumpulkan uang di gereja, Dan sebaliknya, kita semua juga disadarkan bahwa dana (uang) memang sangat dibutuhkan sebagai dukungan dalam berbagai pelayanan di tengah-tengah gereja, sehingga kita benar-benar merasa bertanggung jawab, rela dan penuh sukacita memberikannya untuk pelayanan melalui gerejanya. Keterbukaan atau transparansi juga dibutuhkan dalam hal keuangan di gereja, karena dengan demikian kita semua bisa mengetahui kebutuhan gereja kita, Di samping itu, transparansi tersebut menghindarkan kita dari cara-cara dan pengelolaan yang mungkin kurang jujur. Keuangan di gereja bukanlah menjadi tanggung jawab dan untuk kepentingan orang-orang tertentu saja, tapi juga menjadi tanggung jawab kita bersama dan untuk kepentingan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. Mangara Rinaldo Situmorang, S.Th., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Agustus 2005)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-5883167291648432904?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/5883167291648432904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=5883167291648432904&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/5883167291648432904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/5883167291648432904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/02/artikel-keuangan-di-gereja.html' title='ARTIKEL: KEUANGAN DI GEREJA'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-7453095777937129840</id><published>2011-01-28T07:03:00.002+07:00</published><updated>2011-01-28T07:19:18.286+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: KELUARGA KRISTEN DAN TANTANGANNYA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam tatanan sosial kemasyarakaan, istilah keluarga biasa digunakan untuk menunjukkan unit atau institusi terkecil dalam masyarakat, yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang belum menikah (nuclear family). Namun kadang-kadang istilah keluarga juga digunakan untuk menunjukkan unit sosial yang lebih luas lagi, tidak terbatas pada ayah, ibu dan anak, tetapi juga mencakup; kakek – nenek, paman - bibi keponakan dan sanak keluarga lainnya (extended family). Karena itu dalam tulisan yang sederhana ini baiklah kita batasi, bahwa keluarga yang dimaksud adalah yang terdiri dari ayah, ibu dan anak (nuclear family).&lt;br /&gt;Keluarga sebagai unit sosial terkecil mempunyai peranan yang sangat menentukan. Boleh dikatakan sejahtera atau tidaknya suatu masyarakat, tergantung pada sejahtera tidaknya keluarga-keluarga yang ada dalam masyarakat tersebut. Lagi pula keluarga mempunyai panggilan yang luhur yaitu menyediakan tempat dan suasana cintakasih yang timbal balik antara suami dan istri, antara orang tua dan anak, sehingga setiap anggota keluarga dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang dewasa.&lt;br /&gt;Dalam realitasnya sudahkah keluarga-keluarga dalam masyarkat kita menikmati kesejahteraan, baik jasmani maupun rohani? Mungkin kita akan segera menjawab “belum” karena masih banyak keluarga yang miskin sehingga mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan pokok, baik dalam hal makanan., perumahan maupun dalam hal kesehatan dan pendidikan Demikian pula dengan cinta kasih yang menjadi dasar perkawinan (keluarga), mengalami banyak goncangan yang disebabkan oleh banyak masalah yang timbul dalam perkawinan itu, sehingga banyak keluarga yang retak atau bahkan berantakan karena perceraian (broken home). Karena begitu banyaknya persoalan yang dihadapi keluarga, maka marilah kita lihat beberapa kontribusi pemikiran tentang landasan mendasar sebuah keluarga dalam perspektif iman Kristen agar keluarga itu dapat menghadapi tantangan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Cinta Sebagai Dasar Pernikahan Dalam Membentuk Keluarga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam Alkitab kita melihat bahwa pernikahan Kristen yang merupakan cikal bakal sebuah keluarga, merupakan suatu peraturan yang ditetapkan oleh Allah. Pernikahan adalah tata tertib suci yang di terapkan oleh Allah, sang khalik, Dasar Alkitabiahnya kita temukan dalam Kejadian 2:24, “ Seorang la.ki-laki  meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga  keduanya menjadi satu daging". Tentu agar pernikahan, itu langgeng dan bahagia haruslah memiliki dasar saling mencintai. Cinta yang dimaksud bukanlah cinta buta, cinta monyet, cinta kilat atau cinta yang lain. Tetapi dengan meminjam istiiah para filsuf Yunani yang menggunakan beberapa istilah untuk menyatakan perasaan cinta. Istilah “eros" dipakai untuk menunjukkan pengertian cinta yang menyangkut daya tarik seksual (Cinta asmara). Eros mendapat perwujudan konkritnya dalam rasa ketertarikan jasmaniah (tergila gila), sentuhan, pelukan dan sebagainya, yang pada akhirnya memuncak dalam persetubuhan. Istilah "philia" di gunakan untuk menunjukkan pengertian cinta persahabatan dimana kedua belah pihak saling menyukai karena persahabatan. Kasih philia ini terwujud dalam rasa simpati, keakraban, senang melakukan sesuatu secara bersama-sama atau senang bila berdekatan entah hanya ngomong ngomong atau bercenda gurau. Istalah “storge” adalah kasih karena pertalian darah. Sedangkan istilah "agape” dipakai untuk menunjukkan pengertian cinta kasih kepada sesama manusia. Agape mendapat bentuk konkritnya dalam saling tolong menolong, saling memaafkan, saling menghargai dan saling menerima kelemahan dan kelebihan masing masing, Kasih Agape ini berasal dari Tuhan, yang hanya dapat dimiliki dan diungkapkan oleh seseorang yang telah menghayati kasih Tuhan terlebih dahulu. Dengan memperhatikan istilah-istilah tadi maka dapatlah kita simpulkan bahwa dasar-dasar, sebuah pernikahan keluarga Kristen haruslah kasih (cinta) agape. Sebab acap kali dalam sebuah keluarga dibutuhkan saling memaafkan, saling menerima dan saling mengampuni dan daya mengampuni itu hanya kita temukan dalam kasih Agape yang tenvujud dalam diri Yesus Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Tantangan Keluarga Oleh Karena Roh Modernisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Peradaban modern dengan industrialisasinya, membawa banyak perubahan bagi keluarga. Tentu keluarga Kristen termasuk didalamnya. Pertama tama karena modernisasi juga terjadi pergeseran dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Dalam masyarakat agraris hubungan kekekrabatan keluarga sangat erat sekali, sebab keluarga merupakan keluarga besar (extended family). Tinggal dalam satu rumah bersama, mencari makan bersama dan dimakan bersama. Sedang dalam masyarakat industri keluarga hanya berarti ayah, ibu dan anak yang belum menikah (nuclear family). Mereka harus bertanggung jawab atas keluarganya sendiri sendiri. Karena pola kehidupan berubah, maka dengan sendirinya peranan masing masing anggota keluarga juga mengalami perubahan. Dalam masyarakat agraris peranan ayah sangat dominan, istri hanya sebagai pembantu dan anak-anak adalah obyek yang harus tunduk sepenuhnya kepada ayah. Dalam masyarakat industri, karena ada kemajuan dibidang pendidikan, maka istri tidak lagi hanya sebagai pembantu, tetapi sebagai partner. Demikian juga hubungan orang tua dan anak sudah menjadi lebih demokratis. Tetapi seiring dengan itu, salah satu sisi negatif dari modernisasi adalah: mengagungkan individualisme dan sekularisme. "Aku" dan “kebutuhan materialnya" merupakan pusat dari segala atau boleh dikatakan sebagai nilai tertinggi, sehingga Tuhan dan sesama manusia kurang mendapat tempat. Maka keberhasilan hidup sesesorang tidak diukur dan bagaimana ia mewujudkan nilai-nilai ke-Kristenan dan nilai nilai kemanusiaan dalam hidup sehari hari, tetapi diukur dari pangkal, kekayaan dan harta benda.&lt;br /&gt;Pandangan semacam ini membuat orang cenderung berlomba mencari keuntungan yang sebesar-besarnya demi pengumpulan harta benda, bahkan. tidak jarang menjadi serakah, sebab yang terpenting adalah hasil yang dicapai. Nilai-nilai lain dikesampingkan, termasuk nilai ke-Kristenan. Karena Tuhan dikesampingkan maka penghayatan imanpun semakin mengendor. Ini terlihat dan slogan yang sering kita dengar (awalnya slogan ini adalah dari barat) apa saja boleh dilakukan asal itu baik bagimu dan menyenangkan bagimu (ethic of permissveness). Kecenderungan ini menjadi nyata dalam kritik-kritik terhadap struktur perkawinan dan keluarga. Maka muncullah perkawinan kelompok, perkawinan homo seks dan lesbian, perkawinan percobaan atau kumpul kebo, pertukaran pasangan, hubungan seks bebas diluar pernikahan, meningkatnya perceraian dan lain sebagainya. Semua ini mempunyai dampak langsung dalam kehidupan keluarga, sehingga keluarga mengalami banyak kesulitan dalam memenuhi panggilannya yang luhur. Kesulitan tidak hanya di jumpai dalam hubungan suami istri saja, tetapi juga dalam mendidik anak. Zaman dulu norma-norma jelas, sekarang ini dengan banyaknya informasi dari media masa, perilaku mana yang boleh dan tidak menjadi relatif. Pendek kata sekarang ini perkawinan dan keluarga sedang mengalami guncangan sebagai akibat dan perbenturan antara nilai nilai lama dengan nilai nilai yang datang dengan teknologi modern. Maka untuk menyikapi hal yang demikian setiap keluarga Kristen harus kembali kepemahaman Alkitab tentang keluarga (back to the bibie).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Keluarga Sebagai Persekutuan Yang Hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam Alkitab jelas Tuhan menghendaki bahwa keluarga itu harus menjadi persekutuan yang hidup. Dalam kitab Ulangan (Ul 6: 6-1 0), sangat jelas dikatakan bahwa keluarga adalah sebagai pusat pengajaran apa yang diimani. Disana tidak ada dikatakan bahwa tugas mengajar dan mengasuh adalah tugas ibu, tetapi mengajarkan apa yang di imani (dalam hal ini iman Kristen) ini adalah menjadi tugas bersama dan kedua orang tua. Tanpa memberikan benteng yang kuat (pembekalan iman) di tengah-tengah keluarga, maka besar kemungkinan anggota keluarga itu bisa terseret kepada arus negatif dari modernisasi Ada bebberapa hal yang tidak boleh hilang dari keluarga Kristen dalam situasi yang bagaimanapun antara lain :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;1. Kasih &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kasih yang dimaksud adalah kasih agape yang bersumber dari Allah sendiri. Kasih ini sesuatu yang mutlak ada (tidak boleh ditawar-tawar) melebihi hal-hal yang lain. Sumbernya hanya satu yakni dari Yesus Kristus sendiri (Yoh 14:27). Kasih inilah yang memungkinkan suami dan istri dan semua anggota keluarga mampu memikul tanggung jawab yang berat, saling berbagi, saling menolong, saling menegur dengan lemah lembut, saling menopang dan saling mengampuni, Sebab acapkaili dibutuhkan pengampunan dalam sebuah keluarga.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;2.   Kesetiaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini juga merupakan kebajikan yang utama. Kesetiaan merupakan kemauan atau kesediaan semua pihak dalam keluarga untuk membina tali persaudaraan yang rukun, sehingga tidak terputus oleh alasan apapun. Dalam tiap tiap kelurga pasti ada pencobaan, masalah dan pergumulan. Maka jika tidak di topang oleh kesetiaan bisa saja kelurga itu tercerai berai. Meneladani kesetiaan Yesus Kristus kepada Bapa demikianlah setiap anggota keluarga hidup dalam kesetiaan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;3. Hormat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hormat artinya. saling menghargai satu dengan yang lain. Hormat berarti memandang tiap anggota keluarga sebagai anugerah Tuhan yang harus disyukuri. Hormat berarti, saling mengakui bahwa pasangan suami istri dan anak anak memiliki kelemahan. dan kekurangan masing-masing. Menyadari bahwa manusia tidak akan ada yang sempurna, sehingga tidak ada yang menjadi angkuh, sombong, tinggi hati dan mengagungkan superioritasnya. Kita, sama sama orang berdosa dan lemah di hadapan Allah. Tidak boleh tidak, siapapun dan bagaimanapun kehebatan seseorang mengatur keluarga, selalu ada saja persoalan yang timbul dalam keluarga. Itulah dinamika keluarga. Namun yang menjadi persoalan adalah: bagaimana kita menghadapi setiap persoalan keluarga itu. Haruskah kita 'pecah kongsi’ andaikata dalam keluarga ada persoalan yang pelik? Tuhanlah yang menjadi landasan  keluarga, tidak ada satu lembagapun di dunia yang dapat menceraiberaikan keluarga itu. Dan tujuan akhir keluarga bukanlah harta tetapi adalah damai sejahtera (bnd, Mazmur 133:1). Dan ingatlah: Lebih baik sekerat roti yang kering, disertai ketentraman, daripada makan daging serumah disertai  dengan perbantahan (Amsal 17 : 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Daftar Bacaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Pelaksanaan UU Perkawinan dalam perspektif Kristen (Pdt. Weinata Sairin dan Pdt.Dr.JM.Pattiasina)&lt;br /&gt;2. Teologi Pernikahan (Pdt. Rudolf Pasaribu)&lt;br /&gt;3. Keluarga dalam dunia Modern (Drs. Hasisubrata, MA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. Samuel Sitompul, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Oktober 2005)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-7453095777937129840?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/7453095777937129840/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=7453095777937129840&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/7453095777937129840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/7453095777937129840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/01/artikel-keluarga-kristen-dan.html' title='ARTIKEL: KELUARGA KRISTEN DAN TANTANGANNYA'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-6623856185980569795</id><published>2011-01-20T16:12:00.003+07:00</published><updated>2011-01-21T11:44:23.416+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: DEWASA DI DALAM KRISTUS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda memperhatikan sebatang pohon secara keseluruhan? Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana cara pohon itu bertahan hidup, terutama di tengah teriknya musim panas? Permukaan tanah terlihat keras dan kering; rumput mati dan menghitam; tidak ada setitik air pun terlihat. Namun, pohon itu tetap tegak berdiri, kuat, hijau, dan hidup karena nun jauh di bawah permukaan tanah ada air pemberi kehidupan yang dapat diserap oleh akarnya. Pohon-pohon tumbuh hampir secara ajaib karena adanya sumber makanan yang tersembunyi.&lt;br /&gt;Kebanyakan orang Kristen ingin mendapatkan rahasia untuk bertahan hidup tidak seorangpun dari kita yang ingin gagal saat berada di bawah tekanan yang berat, atau kehilangan iman dan keyakinan akan Allah saat keadaan menjadi sulit. &lt;br /&gt;Bahkan, bukan hanya sekedar ingin bertahan hidup, melainkan menanjak semakin maju dan  dewasa dalam pertumbuhan rohani kita menuju citra yang sempurna seperti Kristus. Paulus  menyerukan dalam Kol 1:28-29 demikian “Dialah (Kristuslah) yang kami beritakan, apabila  tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat,  untuk  memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan (yun.teleios, means mature, adult) dalam  Kristus.” Dalam Efesus 4:13  dinyatakan pula bahwa tujuan pertumbuhan rohani setiap  orang percaya adalah “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan  yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang  sesuai dengan kepenuhan Kristus.” Anthony A.Hoekema mengatakan bahwa “pola dari  pengudusan hidup kita sebagai orang percaya adalah keserupaan dengan Kristus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa Sesungguhnya Rahasia Dari Pertumbuhan Rohani Kristen?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Baca Mazmur 1:1-6.&lt;br /&gt;Penulis Mazmur 1 menggambarkan sebatang pohon dengan daun-daunnya yang hijau dan buahnya yang banyak (ay.3) Rahasia kehidupannya adalah aliran air di dekatnya. Penulis itu juga menggambarkan orang-orang yang tetap hidup dan bertumbuh, bahkan saat angin kering bertiup. [ Sangat berbeda dengan kehidupan orang fasik yang digambarkan seperti sekam yang ditiup angin (ay.4), tidak berguna, sia-sia, dan hanya bersifat sementara.] Rahasia dari kehidupan orang-orang percaya adalah kebiasaan mereka untuk mencari makan dari Firman Allah. Pemazmur mengatakan “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik’ yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” (ay.1-2).&lt;br /&gt;Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa aspek terpenting dalam kehidupan para pengikut Kristus adalah pertemuan teratur dengan Allah yang hidup melalui ALKITAB DAN DOA.&lt;br /&gt;“Kesuksesan” hidup seorang Kristen dicapai hanya saat Roh Kudus Allah bekerja dalam diri kita, maka kita bisa menjadi makin serupa dengan Kristus. &lt;br /&gt;Malcomm Muggeridge berkata “Tujuan sebenarnya dari keberadaan kita di dunia ini adalah, secara sederhana, mencari Allah, dan dalam proses pencarian itu, menemukan Dia, dan setelah menemukan Dia, mengasihiNya…”&lt;br /&gt;Manusia memiliki tiga keinginan dasar dalam dirinya : untuk mengerti apa yang “betul-betul nyata” di balik segala pengalaman fisik dan materiil, untuk merasa memiliki makna, dan untuk bisa diterima sebagai bagian dari sebuah komunitas. Pencarian akan ketiga hal inilah yang membentuk kerohanian kita dan manusia mencoba membangun kerohanian mereka dengan cara yang berbeda-beda. Inti dari Kabar Baik (Berita Injil) yang dibawa oleh Yesus adalah bahwa ketiga keinginan ini terpuaskan sepenuhnya dalam suatu hubungan dengan Allah yang hidup. Landasan menjadi seorang Kristen bukanlah apa yang Anda ketahui atau lakukan, tetapi siapa yang Anda ketahui bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan Anda yang paling mendasar. Yesus sendiri berkata, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3)&lt;br /&gt;Kita hidup di dalam era informasi. Teknologi komunikasi canggih sudah menjadi bagian hidup sehari-hari dengan kemudahan melakukan akses ke internet dan email, telepon genggam, dan siaran TV melalui satelit, membuat seisi dunia seolah-olah menjadi sangat dekatdan sangat kecil. Namun, yang jauh lebih besar lagi dari berbagai bentuk kontak ini adalah bahwa kita bisa mengenal Allah yang berkuasa atas sejarah, pencipta kehidupan, dan menjadi sahabatNyabisa mendekat kepadaNya bagaikan seorang anak kecil kepada orang tua yang mengasihinya. Tuhan Yesus memungkinkan hal ini terjadi bagi kita saat Dia mati di kayu salib 2000 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;Kerohanian kristiani adalah bagaimana memelihara hubungan dengan Allah ini dan memiliki dua bagian utama. Di satu  “sisi mata uang” adalah adanya kerinduan yang makin besar untuk secara aktif membangun hubungan persekutuan yang lebih kuat melalui “disiplin” kehidupan kristiani, terutama melalui pemahaman dan penerapan Alkitab dan doa. Di “sisi mata uang” lainnya adalah adanya kehidupan yang penuh tindakan kasih dan ketaatan yang menunjukkan makin menguatnya hubungan persekutuan itu. &lt;br /&gt;Eugene Peterson pernah berkata “Setiap kata dalam teks Alkitab adalah sebuah jendela atau pintu yang membawa kita keluar dari gubuk kayu keberadaan kita ke penyataan Allah yang menakjubkan di angkasa dan samudera, di pepohonan dan bunga, dalam kitab Yesaya dan Yohanes, dan pada akhir puncaknya, Yesus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alkitab: Buku Yang Sangat Istimewa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak suara yang berteriak menuntut perhatian kitainternet dan televisi, radio dan video, iklan, display toko, media cetak, teman-teman, dan masyarakat di sekitar kita. Kepada siap kita perlu memberikan perhatian? Mana yang benar-benar penting?&lt;br /&gt;Ketika hidup kita menjadi  semakin didominasi oleh nilai-nilai dan perkara duniawi yang bertentangan dengan jalan Allah, sangat penting bagi kita untuk mendengarkan suara yang paling patut diperhitungkan, suara Allah yang hidup. Allah berkomunikasi dengan kita melalui berbagai caramelalui ciptaan, melalui peristiwa-peristiwa, dan melalui orang-orang lain. Tetapi, cara Allah berbicara kepada kita yang paling utama adalah melalui Alkitab. Itulah sebabnya Alkitab disebut sebagai “FIRMAN ALLAH”. Alkitab lebih dari sekedar catatan bagaimana Allah berurusan dengan manusia; Alkitab adalah kunci pertumbuhan orang Kristen. Melalui pembacaan Alkitab, kita bisa mempelajari sifat-sifat dan kepeduliaan Allah. Kita bisa mengenal Dia dengan lebih baik lagi, belajar bagaimana menyelaraskan jalan kita dengan jalanNya. Paulus meringkaskan nilai penting Alkitab kepada Timotius dan kepada kita :&lt;br /&gt;“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan  kesalahan, memperbaiki kelakuan, an mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian,  tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”&lt;br /&gt;(2 Tim 3:16-17).&lt;br /&gt;Jika kita harus menjadi umat Allah seperti yang dimaksudkanNya, kita perlu membiarkan hidup kita dibentuk olehNya. Melalui pembacaan Alkitab, kita menjadi partisipan-partisipan (rekan kerja) dalam rencana Allah bagi kita dan bagi dunia. Bertemu dengan Allah dalam pembacaan Alkitab akan menuntun kita untuk ingin berespons kepadanya dengan berbagai cara : pertama-tama dalam doa, yang kemudian melimpah keluar menjadi tindakan yang penuh ketaatan dan kasih di dalam dunia. Allah telah menempatkan kita di dunia untuk menjadi anggota masyarakat, bertindak sebagai “garam” dan “terang”. Garam memberi rasa bagi makanan, berfungsi sebagai pembersih dan pengawet. Di masa lalu, garam bahkan berfungsi sebagai pupuk. Terang mengenyahkan kegelapan dan menunjukkan keindahan (lihat Mt.5:!3-16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Komitmen Kita: Menyediakan Waktu Bagi Tuhan Melalui Saat teduh Dan Pendalaman Alkitab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melewatkan waktu bersama Allah adalah dasar dari kehidupan Kristen yang sama pentingnya seperti makanan dan air bagi daya tahan fisik kita. Justru karena sibuknya hidup kita, maka sangat beralasan jika kita menjadualkan suatu pertemuan teratur dengan Allah, mengijinkan Dia berbicara kepada kita di tengah segala tekanan dan kekuatiran yang sedang kita hadapi. Dengan menenggelamkan diri dalam pemeliharaan Allah, kita menempatkan diri kita di tempat yang seharusnya, untuk tidak tercengkeram oleh kesibukan kita.&lt;br /&gt;Bill Hybels berkata :&lt;br /&gt;“Itulah sebabnya saya membuat komitmen untuk menyediakan waktu setengah sampai satu jam setiap pagi di suatu tempat sepi bersama Tuhan. Ini merupakan sejumlah kecil disiplin rohani yang pernah saya tetapkan, dan saya tidak tergoda untuk meninggalkannya sebab hal itu telah membuat hidup saya lebih kaya.&lt;br /&gt;Setelah saya merenungkan hari yang telah saya lalui dan menuliskan doa-doa, jiwa saya menjadi teduh dan siap untuk menerima. Saat itulah saya menuliskan huruf “M” untuk “Mendengarkan” pada secarik kertas dan melingkarinya. Lalu saya duduk dengan tenang dan mengatakan “Sekarang, Tuhan, aku mengundang Engkau untuk berbicara kepadaku melalui Roh KudusMu.&lt;br /&gt;Saat-saat bersama Allah yang terjadi kemudian merupakan saat-saat yang benar-benar berarti.&lt;br /&gt;Kuasa muncul dari diam; kekuatan muncul dari keheningan. Keputusan-keputuasan yang  mengubah seluruh kehidupan muncul pada saat-saat yang paling kudus ketika Anda  berdiam diri di hadapan Allah.” (Yes 30:15-17)&lt;br /&gt;Yang penting bukanlah mengikuti metode tertentu, tetapi menemukan cara yang cocok bagi Anda. Buatlah rancangan umum sebuah pendekatan yang dapat meneduhkan pikiran dan tubuh anda yang bergolak, melembutkan hati, serta memampukan Anda mendengarkan suara Allah yang lembut dan teduh. Lalu, saat Anda sudah terpusat dan terfokus kepada Allah, undanglah Dia untuk berbicara kepada Anda.&lt;br /&gt;Jadi, jika Anda sulit menyisihkan waktu untuk bersekutu dengan Allah secara disiplin, mungkin Anda perlu memeriksa kembali prioritas-prioritas Anda. Tanyakan kepada diri Anda, “Apakah aku sungguh-sungguh ingin memiliki suatu persekutuan yang hidup dengan Allah? Prioritas seperti apa yang bisa kuberikan untuk hal ini?”&lt;br /&gt;Marilah kita memiliki komitmen seperti yang dimiliki oleh nabi Ezra dalam EZRA 7:10 yakni : “Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.”&lt;br /&gt;Firman Tuhan memberikan peringatan kepada kita :&lt;br /&gt;“Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila  kamu mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini,  dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu yang kuperintahkan  kepadamu pada hari ini dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal.”&lt;br /&gt;(Ulangan 11:26-28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ingin menjadi seorang pribadi yang dewasa di dalam Kristus (Kol 2:6-7), maka marilah kita menjadikan Firman Allah dan doa menjadi sarana utama yang tidak pernah hilang (hendaklah selalu menjadi bagian utama) dalam kehidupan kekeristenan kita. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Joni W. Simatupang, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem edisi Februari 2006)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-6623856185980569795?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/6623856185980569795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=6623856185980569795&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/6623856185980569795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/6623856185980569795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/01/artikel-dewasa-di-dalam-kristus.html' title='ARTIKEL: DEWASA DI DALAM KRISTUS'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-3972364017677502118</id><published>2011-01-10T09:18:00.003+07:00</published><updated>2011-01-10T09:21:57.698+07:00</updated><title type='text'>RENUNGAN: KESETIAAN MUTLAK HANYA KEPADA ALLAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada Tuhan, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah ; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah diseberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan (Yosua24:15)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siapakah yang layak disembah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seruan Josua untuk menjauhkan penyembahan kepada "allah" lain kecuali "Dia" Allah yang hidup. Josua cukup bijaksana dalam menyatakan bahwa ada kemungkinan memilih : atau Allah yang kepadanya nenek moyang Israel beribadah di seberang Sungai Efrat yakni Ur, orang kasdim; atau allah orang Amori yang negerinya mereka diami, dan inilah yang menjadi pencobaan yang terus menerus dalam sejarah kemudian dari Israel. Namun demikian Josua menyatakan pilihannya yang tak dapat diganggu gugat. Bukan saja untuk dirinya sendiri tetapi sekaligus merupakan komitmen keluarga. Sebagai kepala keluarga Josua memastikan bahwa wibawanya sebagai seorang kepala keluarga. Allah yang hidup itu pasti menguatkan dia dalam memenangkan pilihannya bersama dengan seisi rumahnya. Sebelum Josua menggantikan kedudukan Musa memimpin bangsa Israel memasuki tanah Kanaan, Josua dikenal mempunyai wibawa dan disiplin yang baik serta seorang Abdi yang tSaat. (Kel 39 : 40 ; 40:2,6,7). Waktu musa pergi sendirian menghadap Allah di Gunung Sinai, Josua siaga menanti dikemah pertemuan. la sudah belajar menantikan Jahweh. Tahun-tahun berikutnya sifat sabar dan kelembutan Musa turut membina kepribadian Josua (Kel.24:13 ;32 : 17; 33:11 ;Bilanganll :28)&lt;br /&gt;Dalam lingkungan sanak keluarganya : Yosua bin Nun,cucu Elisama bin Amihud kepala Suku Efraim (I Tawarih 7 : 27 ;Bil 1: 10) disebut Hosea artinya Keselamatan. Musa menambahkan nama Ilahi (Yehosyua) dalam bahasa Indonesia menjadi Yosua. Nama Yunani lesous (Yesus).&lt;br /&gt;Dalam kerjasama : Pada zaman Keluaran Yosua masih muda (Kel 33 : 11), Musa memilih dia menjadi pembantu pribadinya dan memberi perintah membantu pasukan yang terdiri dari suku-suku yang belum terorganisir, untuk memukul mundur tentara Amalek yang datang menyerang (Kel 17). Sebagai wakil suku Efraim dalam tim penyelidik Kanaan yang berangkat dari Kadesy, Yosua mendukung anjuran Kaleb (yang tertua dan menjadi pemimpin) Dalam hal ini kita melihat bahwa Yosua memiliki wibawa kepemimpinan sebab dia berangkat dari sebuah pribadi yang taat dan mau dipimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masa-masa pembentukan kepribadian Yosua telah dimulai dari rumah keluarga (saat bersama dengan sanak saudaranya). Yosua dikenal sebagai orang yang berperangai baik dengan sebutan Hosea artinya keselamatan, sebutan itu berulang-ulang dipakai dalam suku Efraim (! Tawarikh 27,20 ; 2 Raj 17,1; Hosea 1:1). Saat Musa memanggilnya dalam usianya yang masih muda dan setelah resmi menjadi pemimpin sebagai pengganti Musa menjadi panglima Tentara setingkat dengan ke Imam an Eleazar. Secara wajar ditekankan kepemimpinan Yosua, waktu itu usianya sudah 70 tahun. Proses perjalanan waktu yang cukup lama ditempuhnya dengan perjuangan tidak kenal lelah, namun dia selalu menempatkan Allah ditempat utama. Yosua berprinsip satu-satunya Allah yang patut disembah adalah Allah sendiri. Untuk itu dia memastikan dirinya dengan seisi rumah tangganya selalu beribadah kepada Allah. Ada banyak keluarga dimana pimpinan keluarga itu tidak lagi mempunyai wibawa menempatkan dirinya sebagai kepala keluarga. maka akan kita temukan dalam satu keluarga ada beberapa agama. Pertemuan anak-anak dengan teman sekolah, teman kerja, dan persahabatan di luar rumah memungkinkan seorang anak menemukan teman hidup dengan pasangan yang berbeda agama . Persoalan yang sama telah ditemukan Yosua ditengah-tengah bangsa Israel, tetapi dia tidak ragu-ragu menyatakan keputusannya. Untuk mendapatkan kwalitas kepribadian yang seperti itu Yosua telah memperlihatkan kepada kita beberapa hal yang patut kita teladani, antara lain :&lt;br /&gt;1. Melatih diri sejak usia muda, dalam keluarga sebagai anak yang disukai oleh seluruh anggota keluarganya dengan berperilaku yang baik. Rajin belajar dan menghindari pergaulan dari orang yang tidak seiman. Bisa berteman tetapi jangan sampai mempengaruhi kepercayaan kita kepada Allah, janganlah sia-siakan pengorbanan Jesus Kristus diatas kayu salib, sekalipun pada zamannya Yosua, Yesus Kristus belum lahir. tetapi melalui tuntunan Roh Allah Musa dipakaiNya memilih Yosua sebagai pemimpin bangsa Israel. Pencipta lagu "Amaging Grace" adalah seorang kelasi Kapal yang bertobat setelah pemuda. Dia adalah anak seorang janda yang taat beribadah kepada Allah namun karena hidupnya miskin, anaknya tersebut memberontak kepada Allah dalam usia remaja, dia meninggalkan Allah dan tidak mau beribadah sebab dia berfikir jika Allah itu pengasih, mengapa membiarkan keluarga kami hidup menderita. Jadilah dia anak keras kepala, pemberontak dan tidak mau berdoa dengan profesi sebagai awak kapal. Ketika badai melanda kapalnya. ombak besar memporakporandakan kapalnya ditengah lautan dia berteriak memohon pertolongan Allah akhirnya dia selamat dan bertobat. Jika demikian mengapa tidak tetap hidup baik dan taat kepada Allah jika telah mengetahuinya?. Hal inilah yang akan diperjuangkan Yosua dalam keluarganya.&lt;br /&gt;2. Kepribadian Yosua yang sedemikian kuat tidak datang dengan sendirinya tetapi membutuhkan latihan. Kerjasama yang baik antara Yosua yang masih muda dengan Musa yang lebih tua sebagai pembimbing terjalin kasih yang mesra, bersahabat dan saling pengertian. Yosua adalah seorang yang penurut dan rajin belajar. selalu siap membantu Musa dalam tugas pelayanannya sementara di pihak Musa, dia adalah seorang hamba Tuhan yang penuh kasih sayang dan panjang sabar. Saat Musa menghadap Allah, Yosua tidak banyak komentar, dia diam di kemah menunjukkan ketaatannya. Hampir semua tokoh-tokoh Alkitab yang dipakai Allah memiliki Roh yang taat. Yunus yang mencoba menentang Allah, dia tidak langsung dipakai Allah, Yunus terlebih dahulu dibentuk selama tiga hari dalam perut ikan, barulah Allah memakainya untuk menyampaikan firmanNya. Yesus sendiri sabagai Anak Allah, Dia taat kepada BapaNya sekalipun harus melalui penderitaan diatas kayu salib. Hal serupa itulah yang tertanam dalam diri Yosua dan menguatkan komitmennya dan berjanji akan menjadikan Allah yang dia kenal sejak usia muda dan tetap menjadi Allah seisi keluarganya, dia meyakinkan dirinya dan semua anggota masyarakat yang bersama-sama dengan dia akan tetap beribadah kepada Allah.&lt;br /&gt;3. Yosua tetap merasakan pemeliharaan Tuhan hingga dihari tua. Dalam usia 70 tahun dia sudah menjadi pemimpin demikian juga Kaleb yang sudah berusia 85 tahun. Keduanya masih tetap dipakai Allah bahkan jabatannya semakin baik sementara semua teman seusianya yang lahir di tanah Mesir sudah meninggal di padang gurun karena berbagai kutuk akibat dosa pemberontakan bangsa itu kepada Allah. Hal itu menguatkan kesetiaan Yosua kepada Allah dan tidak ada lagi keraguan bahwa Allah yang mengasihinya adalah satu-satunya penyelamat yang mampu membebaskan semua umat manusia dari pergumulannya. Yosua tidak meragukan kebaikan Allah, dia berjanji tetap setia hingga ajal menjemput. (Dipangkilalahon ibana do nasa tarsirang be ngoluna sian Tuhan i- Jahowa do Debata sasada Ibana do sioloanmu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan perjalanan waktu yang semakin sarat dengan berbagai persoalan, manusia itu semakin takut dengan ancaman kegagalan. Takut dianggap tidak modern, ketinggalan atau kuno jika harus memaksakan anak harus hidup beriman seperti orangtuanya. Dari pihak orangtua ada keraguan jika dituduh sebagai orang yang tidak memberikan kebebasan kepada anak. Dari pihak anak ada kebanggaan jika memiliki pilihan yang berbeda dengan orangtua. Banyak orangtua yang menutup mata terhadap kesalahan anak sekalipun sudah melangkah keluar dari kewajaran, dia hanya mampu berkata : Orang muda sekarang tidak mau lagi dipaksa (boha ma bahenon, lomona ma nunga balga, rohana ma disi). Banyak orangtua yang tidak mampu menegakkan wibawanya sebagai kepala keluarga, perbedaan agama ditengah-tengah rumah tanggannya dianggapnya sebagai toleransi beragama, padahal sebagai umat Kristen dia tahu bahwa jalan satu-satunya untuk masuk dalam Kerajaan Allah tidak ada jalan lain kalau tidak melalui Aku, kata Yesus (Yoh 14 : 6). Kwalitas iman Yosua harus melalui proses ketaatan kepada Allah dimulai sejak usia muda dan tetap memohon pertolongan sepanjang hidupnya. Kokoh dalam pendirian dan tidak mau dipengaruhi oleh orang-orang yang memberontak kepada Allah. Dia selalu bersyukur akan pemeliharaan Allah.&lt;br /&gt;Yosua tetap meyakini pemeliharaan Allah dan akan tetap berlanjut hingga masa putih rambutnya dan hilang kekuatannya tetapi kasih setia Allah akan selalu baru dan berkesinambungan hingga ke generasi anak cucunya dikemudian hari. Komitmen Yosua sebaiknya menjadi komitmen kita juga, baik sebagai orangtua maupun anak : Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. K.E. Limbong, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Oktober 2005)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-3972364017677502118?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/3972364017677502118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=3972364017677502118&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/3972364017677502118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/3972364017677502118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/01/renungan-kesetiaan-mutlak-hanya-kepada.html' title='RENUNGAN: KESETIAAN MUTLAK HANYA KEPADA ALLAH'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-2762453229225365080</id><published>2011-01-02T07:18:00.003+07:00</published><updated>2011-01-02T09:42:32.936+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: MASA DEPAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/TR_Gxl6_7BI/AAAAAAAAAK4/FcZbVcHr9I0/s1600/IMG_5235.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/TR_Gxl6_7BI/AAAAAAAAAK4/FcZbVcHr9I0/s200/IMG_5235.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5557379020493941778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pak Siahaan adalah Guru Bahasa Indonesia kelas 1 penulis pada SMP Negeri Sipirok tahun 1956. Beliau berpesan sesuai pepatah yang mengatakan : Berakit rakit ke hulu, berenang renang ketepian, bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian. Pesan itu sangat terpatri dalam ingatan penulis dan diterapkan selama sekolah, walaupun kadang-kadang hampir hampir tidak sanggup lagi memikulnya karena terlalu berat. Maklum saja dengan ekonomi orang tua yang menjadi petani di kampung dan sudah sendiri lagi ditinggal suaminya pergi ke alam baka. Tentunya untuk merubah cita-cita, ambisi dan mimpi tersebut menjadi kenyataan bukan semudah membalik telapak tangan malahan ada orang bijak mengatakan : kalau anda mau keras kepada diri anda sekarang, maka situasi akan lembut kepada anda nanti tetapi kalau anda lemah kepada diri anda sekarang maka situasi akan keras kepada diri anda nanti.&lt;br /&gt;Mungkin pendapat yang dua itu tadi bagi anak anak muda zaman sekarang tidak sesuai lagi karena sudah kuno, tua dan tidak relevan lagi diterapkan karena mereka sudah mempunyai motto : bersenang senang selagi masih muda, bekerja mendapatkan banyak uang dan kalau sudah tua mati harus masuk sorga. Wah…wah…wah… enak sekali bukan ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I. Persiapan Diri Mencapai Cita-Cita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk seorang anak Sekolah Minggu kepada mereka diajukan pertanyaan sebagai berikut :: Apa cita-citanya nanti sesudah besar maka tanpa berpikir panjang mereka akan menjawab kalau saya sudah besar nanti maka saya akan menjadi Dokter, Insinyur, Polisi, Tentara, Guru, Pendeta, Pilot Kapal Terbang dan sebagainya. Dan tidak ada yang menjawab menjadi petani, padahal sekarang banyak yang menjadi petani berdasi, juga profesi supir tidak ada yang bercita-cita begitu, padahal ada supir pesawat terbang dan lain-lain.&lt;br /&gt;Pendapat spontan tadi terjadi karena mereka terobsesi dengan apa yang mereka lihat dan alami sehari hari dan akhirnya nanti ditengah jalan mereka akan menyadari bahwa cita-cita tersebut tercapai harus melalui proses dan proses tersebut sangat panjang dan melelahkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Mengenal dan lebih memahami tingkat kemampuan diri sendiri dimana kita bercita-cita jadi insinyur ternyata kemampuan kita lebih condong ke hafalan baik untuk bidang Ekonomi maupun Hukum, Bahasa dan lain-lain. Dengan menyadari demikian maka kita tidak boleh “langsung putus asa“ tetapi harus berani berubah haluan sesuai dengan kemampuan tadi.&lt;br /&gt;2. Mengenal dan lebih memahami kemampuan keuangan orang tua. Untuk menjalani suatu proses menjadikan cita-cita jadi kenyataan, kemampuan orang tua harus menjadi satu barometer. Seorang orang tua akan memberikan apa yang dibutuhkan anak-anaknya untuk mencapai cita-cita terutama untuk anak laki-laki pertama. Dengan harapan kalau dia sudah berhasil maka dia bisa membantu adik-adiknya untuk mengikuti jejaknya.&lt;br /&gt;3. Membangun dan meningkatkan rasa percaya diri dimana dia yakin bahwa dia akan bisa menyelesaikan pendidikannya sesuai harapan, untuk itu dia akan lebih sungguh-sungguh lagi belajar demi cita-cita tersebut. Dan kalau dia sudah mencapainya maka dia akan sungguh untuk mengamalkannya.&lt;br /&gt;4. Membangunkan dan meningkatkan sikap positif atas cita-cita dan jalan yang ditempuh untuk mencapainya karena dia yakin, sikap sangat menentukan 90% keberhasilan ditentukan oleh sikap positif.&lt;br /&gt;5. Membangun dan meningkatkan ilmu pengetahuan sebagai modal untuk mencapai cita-cita tersebut, berarti harus belajar sungguh sungguh karena itulah jalan satu satunya.&lt;br /&gt;6. Membangun dan meningkatkan keterampilan agar selalu bisa eksis dalam segala cuaca dan kebutuhan dalam pekerjaan.&lt;br /&gt;7. Meningkatkan kemampuan berbahasa asing minimal dua bahasa, dewasa ini kala ingin menggapai cita-cita terutama bahasa Inggris ditambah dengan salah satu bahasa asing lainnya seperti Bahasa Jepang, China (Hokkian, Hakka atau Mandarin) Perancis, Jerman, Rusia atau Belanda, secara aktif.&lt;br /&gt;Dengan pelaksanaan 7 hal tadi maka persiapan diri kita dalam menghadapi pesaing pesaing kita untuk mencapai cita-cita sudah didepan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II. Mengenai Pekerjaan Dan Hidup Berkeluarga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a. Mengenai Pekerjaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kondisi perekonomian dunia dewasa ini yang diterpa oleh Krisis Ekonomi Global keseluruh dunia yang dimulai dengan bangkrutnya usaha usaha dibidang keuangan atau perbankan, asuransi (American Insurance Group atau A.I.G.) dan usaha dibidang permobilan seperti General Motor atau G.M.&lt;br /&gt;Krisis tersebut juga ikut melanda Indonesia dengan kesulitan pemasaran hasil industri di Amerika dan Eropa, berpindahnya para pemodal dari Indonesia ke Vietnam, dimana disana diberikan banyak kemudahan kemudahan bagi para pengusaha untuk berproduksi.&lt;br /&gt;Dengan demikian adanya pendapat sementara pihak yang mengatakan bahwa pengangguran atau pencari kerja di Indonesia mencapai 40 juta orang. Membuat peta persaingan untuk mendapatkan pekerjaan semakin ketat.&lt;br /&gt;Untuk menyiasati kondisi tersebut seorang calon pegawai atau pegawai harus :&lt;br /&gt;- Kita tidak lagi harus idealis dengan pekerjaan yang dicita-citakan sejak kita kecil dan telah dipersiapkan secara matang didalam pendidikan. Misalnya seorang yang sejak kecil bercita-cita menjadi insinyur pertanian dan telah mempersiapkan diri untuk itu dengan sekolah di Institute Pertanian Bogor. Sesudah pendidikan selesai, lowongan kerja pegawai negeri dibidang pertanian tidak ada walaupun sudah ditunggu selama dua tahun maka ada perusahaan swasta yang membuka lowongan untuk dibidang kelapa sawit maka cita-cita dengan kenyataan harus ada penyesuaian, tidak harus menjadi pegawai negeri itu saja.&lt;br /&gt;- Kita harus berfikir positif atas pekerjaan dan perusahaan tempat kita bekerja. Memang kadang-kadang ketidakpuasan kepada perusahaan, atasan, rekan kerja, pasti selalu ada dan sewaktu waktu muncul. Tetapi harus kita ingat bahwa kita adalah bawahan yang menjadi bagian dari organisasi. Ketidakpuasan harus kita imbangi dengan kerja keras dan bukan dengan kemalasan. Pekerjaan yang paling enak adalah pekerjaan yang kita buat, dirikan dan usahakan sendiri. Kita bisa bebas mau kerja mau tidur, mau gaji besar dan lain lain., tergantung kita termasuk kalau perusahaan kita bangkrut.&lt;br /&gt;- Kita selalu meningkatkan kemampuan sesuai dengan bidang yang kita geluti. Sehingga apabila kita mengalami kesulitan kita sudah bisa mengatasinya dengan mencari jalan keluar. Harus kita ingat bahwa baik ilmu pengetahuan maupun keterampilan harus selalu ditingkatkan karena hal tersebut sangat cepat berubah.&lt;br /&gt;- Kita harus membangun mentalitas pemenang agar lebih siap menghadapi tantangan dan kesulitan serta pesaing bisnis yang lebih kompetitif dewasa ini.&lt;br /&gt;- Kita harus lebih menyadari, mengenal dan memahami kekuatan dalam diri sendiri sebagai suatu potensi yang harus dikembangkan. Untuk itu kita harus merasa bahwa pekerjaan yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari harus dianggap suatu pekerjaan baru agar kita lebih berhati-hati karena adanya anggapan atas suatu pekerjaan yang sudah menjadi runtinitas menimbulkan adanya suatu ketidak hati hatian, kecerobohan, yang dapat merugikan perusahaan dan juga karir anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b. Hidup Berkeluarga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semua orang pernah “bermimpikan” kelak kalau sudah tiba waktunya akan berkeluarga dan hidup bahagia. Tentunya hidup berkeluarga yang bahagia itu harus didasari beberapa hal antara lain :&lt;br /&gt;- Telah mempunayai rencana yang matang dengan mempersiapkan diri dengan adanya dasar pendidikan yang lumayan, adanya pekerjaan yang tetap atau penghasilan tetap agar tidak ketergantungan pada orang tua atau orang lain.&lt;br /&gt;- Didasari dengan Iman yang sama agar dalam kehidupan berkeluarga tidak ada masalah satu sama lain kalau hanya dengan dasar cinta saja perkawinan dilembagakan maka pada hari-hari kemudian pasti akan terjadi percikan-percikan api yang lama kelamaan akan ada kemungkinan membesar apabila tidak cepat diatasi.&lt;br /&gt;- Keluarga juga harus selalu mendukung pekerjaan suami kalau istri tidak bekerja. Apabila keduanya adalah orang pekerja maka keduanya harus saling mendukung dan saling menghormati atas profesi masing-masing. Dan jangan lupa bahwa keluarga adalah segalanya. Terutama untuk para isteri yang jabatan penghasilannya lebih besar dari suami “ada indikasi kadang kadang” suka merendahkan suaminya. Dalam keluarga Kristiani hal ini tidak pantas terjadi, bukankah dalam janji perkawinan satu sama lain harus saling menghormati?&lt;br /&gt;- Masing-masing dalam keluarga harus saling membangun dan meningkatkan antusiasme, motivasi, dan komitmen dalam kelangsungan perkawinan. Bahwa sekali masuk dalam perkawinan tidak ada lagi tiket untuk kembali (only one ticket) kata orang sono.&lt;br /&gt;- Setiap masalah yang timbul harus diselesaikan dengan baik dan dicari jalan keluar dan semua masalah pasti ada jalan keluar apabila kedua belah pihak sepakat. Hidup berkeluarga adalah merupakan suatu “team work” yang tangguh antara suami isteri dan anak-anak, dalam suatu kondisi yang paling sakit sekalipun dalam keluarga, kalau keluarga itu sudah menjadi satu team work yang tangguh maka mereka akan keluar sebagai pemenang. Untuk itu harus ada keterpaduan dalam bentuk tindakan yang berazaskan kebersamaan, kekeluargaan dalam suatu system tertentu. Suami menjadi ketua team, dan dibantu oleh isteri dan anak-anak sebagai anggota team. Keberhasilan team adalah karena usaha bersama. Kalau prinsip ini kita tetap pertahankan maka rumah tangga kita akan menjadi acuan bagi keluarga lain. Dengan demikian kita sudah melaksanakan sebagian tugas Marturia, tidak harus berangkat ke pulau Enggano atau ke Pulau Rupat Marsending. Harus dimulai dari keluarga baru, meningkat kelingkungan keluarga besar dan selanjutnya dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III. Pelayanan Ke Gereja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang pasti mempunyai kesempatan yang sama untuk memberikan pelayanan kepada gerejanya. Tetapi setiap orang “memuat batasan sendiri“ dalam memberikan pelayanan kepada gerejanya sendiri. Dia membangun batasan bahwa kesibukan sehari hari sudah tidak memungkinkan untuk mengikuti salah satu aktivitas gereja. Dengan alasan kesibukan ini maka dia sudah bebas dengan aktifitas pelayanan gereja. Tetapi ada juga orang dengan kesibukan yang padat dalam pekerjaannya sehari-hari, Dia masih berusaha membagi waktu untuk mengikuti salah satu aktifitas gereja dan hal itu tidak membuat gangguan atas pekerjaannya baik di kantor maupun dalam usahanya.&lt;br /&gt;Sebenarnya dasar seseorang untuk memberikan pelayanan kepada gerejanya ada beberapa sebab :&lt;br /&gt;- Adanya usaha pendidikan dari orang tua dengan selalu setiap minggu membawa anak-anaknya sejak kecil untuk mengikuti sekolah minggu.&lt;br /&gt;- Adanya kesediaan orang tua untuk mendidik sendiri anak-anaknya agar lebih tertarik ke gereja dengan bercerita sewaktu perihal cerita-cerita Alkitab.&lt;br /&gt;- Adanya kebiasaan keluarga berkumpul setiap sekali seminggu untuk melakukan kebaktian sendiri keluarga di rumah.&lt;br /&gt;- Adanya kesediaan orang tua mengajari anak-anak dengan kebiasaan berdoa sebelum tidur dan sesudah bangun pagi dan setiap akan memulai makan.&lt;br /&gt;- Adanya ajakan orang lain diluar keluarga untuk mengikuti acara-acara di gereja&lt;br /&gt;- Adanya keinginan sendiri yang keluar dari hati yang paling dalam bahwa dia ingin berbuat sesuatu untuk gerejanya walaupun tidak ada dukungan atau dorongan dari orang tua.&lt;br /&gt;- Adanya kata kata bijak yang di setir oleh Presiden Amerika John F. Kennedy dalam versi gereja.&lt;br /&gt;“Jangan Tanya apa yang diberikan oleh gereja kepada-mu tetapi tanyakan pada dirimu apa yang dapat kamu berikan kepada gereja mu ? “&lt;br /&gt;Usaha untuk membiasakan anak anak sejak kecil agar mencintai gerejanya adalah sesuatu tindakan yang bijak karena kalau sudah besar, maka dia besar akan menolak atau melawan, kalau sudah begitu siapa yang patut disalahkan? Disalahkan tidak ada gunanya, disesalkan juga sami mawon. Ibu penulis sewaktu penulis kecil selalu berpesan dengan berbahasa Batak Angkola sebagai berikut :“ hatiha menek do hayu I bisa di dung dung, muda dung gondang matipul do I “&lt;br /&gt;Terjemahan bebas : kayu harus sejak kecil dibiasakan dilengkungkan sebab kalau sudah besar dilengkungkan pasti dia patah. Falsaafah ini cukup sederhana tetapi bermakna sangat dalam kalau kita mau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita kadang-kadang, sekali lagi kadang-kadang selalu menuntut hak (authority) kita kepada gereja agar dilayani lebih baik, cara marjamita yang harus sesuai dengan selera, harus didengar keluhan dan usul kita juga lupa akan kewajiban (responsibility) kita kepada gereja. Kewajiban kita bukan hanya datang marminggu, membayar iuran bulanan dan kewajiban-kewajiban lain tetapi lebih besar dari situ adalah harus memberikan yang terbaik kepada gereja karena pemilik gereja adalah Tuhan Jesus Kristus, Raja Gereja. Jangan lagi ada pemikiran bahwa nantilah sesudah pensiun saja akan aktif di gereja. Ya bagus apabila masih …………. Sempat. Masa tinggal sisa sisa hidup diberikan pada Raja Gereja. Apakah beliau nanti tidak marah ..? Udahlah muali saja sekarang mumpung masih sempat atau bisa ………………. Tidak sempat sama sekali.&lt;br /&gt;Tuhan selalu memberikan kesempatan kepada kita, tinggal kita sekarang mau mempergunakannya kesempatan itu atau tidak, terserah kita saja kok…..&lt;br /&gt;Than selalu bersama kita, Amin dan Horas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah K. Pohan Siahaan, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Juli 2009)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-2762453229225365080?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/2762453229225365080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=2762453229225365080&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/2762453229225365080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/2762453229225365080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2011/01/artikel-masa-depan.html' title='ARTIKEL: MASA DEPAN'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/TR_Gxl6_7BI/AAAAAAAAAK4/FcZbVcHr9I0/s72-c/IMG_5235.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-3867127097363911350</id><published>2010-12-22T13:04:00.000+07:00</published><updated>2010-12-22T13:11:47.349+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: MEMAHAMI PERUMPAMAAN YESUS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Farisi Dalam Diri Kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Tuhan masuk ke dalam surga. Ia heran karena banyak orang di sana sementara ketika Dia mengintip neraka keadaannya sepi.”Ini tidak boleh terjadi! Untuk apa neraka dibuat jika tidak ditempati?”&lt;br /&gt;Dia lalu memanggil malaikat Gabriel supaya menyuruh semua orang menghadap takhta-Nya. Sesudah semua berkumpul, Tuhan memerintahkan Gabriel untuk membaca Dasa Titah.&lt;br /&gt;Selesai hukum pertama dibacakan, Tuhan berkata, “Siapa yang melanggar hukum ini, sekarang juga pergi ke neraka!”. Sejumlah orang pergi dengan sedih. Demikian juga sesudah hukum kedua, ketiga, sampai ke enam dibacakan, penghuni surga sudah berkurang separuh. Giliran hukum ketujuh dibacakan surga menjadi sepi. Semua telah pindah ke neraka kecuali satu orang tua, gemuk dan botak serta hitam pula.&lt;br /&gt;Tuhan tidak menghendaki hal ini. Dia lalu memerintahkan semua orang yang di neraka untuk kembali. Hal ini membuat orang tua tadi menjadi marah. “Ini tidak adil! Mengapa dulu Tuhan tidak mengatakan hal ini? Kalau saja kutahu, saya sudah . . . .”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apakah Perumpamaan Itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perumpamaan adalah alat yang digunakan untuk mempermudah orang lain memahami sebuah maksud atau konsep atau ide.&lt;br /&gt;Perumpamaan itu seumpama pembanding. Ia kita taruh berdampingan dengan apa yang hendak kita sampaikan supaya dengan itu orang dapat terbantu untuk memahami apa yang kita maksudkan. Itulah arti kata parabole (perumpamaan dalam bahasa Yunani) yang sering kita temukan dalam pengajaran Yesus untuk mengajarkan sebuah kebenaran.&lt;br /&gt;Sebenarnya kita juga sering menggunakan perumpamaan kalau kita sedang berdiskusi atau beradu argumentasi dengan teman kita. Ketika kita mengatakan “begini loh contohnya” atau “gimana ya supaya lo bisa ngerti”, maka sebenarnya kita sedang berbicara tentang perumpamaan juga.&lt;br /&gt;Dalam cerita teks di atas diberikan sebuah contoh (Dari A. de Mello SJ, Burung Berkicau, Cipta Loka Caraka, halaman 148). Apa yang mau dijelaskan contoh tersebut?&lt;br /&gt;Contoh tersebut dengan gaya karikatural mencoba berbicara tentang orang Farisi, bagaimana mereka merasa benar dan sombong serta menutup pintu bagi pertobatan atau keselamatan orang lain. Contoh itu bisa menjadi sindiran bagi kita yang mempunyai pola pandang yang sama. Ketika kita merasa bangga dengan moralitas yang kita miliki dan dengan itu seperti memandang rendah orang lain maka kita telah jatuh ke dalam sikap seorang Farisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yesus dan Perumpamaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengajaran-Nya, Yesus sering menggunakan perumpamaan. Hal itu dimaksudkan supaya pendengar-Nya dapat memahami pengajaran-Nya dengan lebih mudah.&lt;br /&gt;Ingatlah bahwa apa yang hendak diajarkan oleh Yesus adalah tentang Kerajaan Allah serta karya penyelamatan yang Allah lakukan.&lt;br /&gt;Seorang manusia dengan segala kelemahan dan keterbatasannya akan sulit sekali (bahkan mungkin mustahil) memahami sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya. Sadar akan hal itu, Yesus menggunakan perumpamaan dalam pengajaran-Nya. Lihatlah bagaimana Dia mengajar tentang Kerajaan Sorga dalam Matius 13: 24-30. Pengajaran-Nya dimulai dengan kalimat: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama . . . .”. Demikian juga pada perikop-perikop berikutnya.&lt;br /&gt;Kebiasaan Yesus ini adalah sebuah pengajaran tersendiri bagi siapa saja yang terpanggil menjadi pengkhotbah, penceramah, pendamping remaja dan naposo bulung serta guru sekolah minggu. Buat apa mengajar jika pendengar tidak mengerti. Supaya pendengar terbantu, maka menggunakan perumpamaan atau ilustrasi adalah hal yang bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Studi Kasus 1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lukas 12:13-21, Orang Kaya yang Bodoh.&lt;br /&gt;Perikop ini bercerita tentang seseorang yang berselisih dengan saudaranya mengenai harta warisan. Barangkali ia merasa diperlakukan tidak adil atau hak-haknya tidak dipenuhi. Karena itu ia meminta jasa baik Tuhan Yesus agar menasihati saudaranya itu.&lt;br /&gt;Untuk itu Yesus berumpama.&lt;br /&gt;Apa yang mau diajarkan?&lt;br /&gt;Yesus hendak mengatakan supaya pengikut-pengikut-Nya tidak berorientasi kepada uang, materi, harta kekayaan saja. Sepanjang itu masih dilakukan, ia akan terlibat dalam perselisihan, permusuhan, bahkan yang paling celaka, ia lupa mempersiapkan hal terpenting dalam hidupnya: keselamatan! Orang tidak akan membawa materi apa pun ke dalam kehidupan yang kekal itu. Karena itu mengapa orang hanya mementingkan materi seperti yang dilakukan orang-orang dari dunia ini?&lt;br /&gt;Simaklah ucapan Yesus sebagai tekanan dalam perumpamaan itu (ayat 20), “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?&lt;br /&gt;Dengan perumpamaan ini pendengar diharapkan akan lebih mudah menangkap apa yang dimaksudkan oleh Yesus. Sekarang ini misalnya, ketika orientasi kita terpaku hanya kepada materi, kekayaan, bagaimana hidup senang jika memiliki banyak uang dan karena itu cepatlah selesaikan kuliah supaya bisa segera mencari uang, dst dst, maka akan sulit merubah mindset seperti itu. Membaca perumpamaan Yesus ini diharapkan akan membuat kita tiba pada satu kesimpulan, “Benar juga yah . . . kalau kita sesudah capek-capek kuliah, bekerja, mengejar materi, materi, materi dan melupakan kehidupan kekal, padahal sesudah semuanya itu terkumpul langsung game over  apalagi yang tersisa . . .?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Studi Kasus 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mat 18: 23-35, Perumpamaan tentang Pengampunan.&lt;br /&gt;Perikop ini bercerita tentang seseorang yang diampuni hutangnya ( debt bisa juga berarti dosa/kesalahan) sebesar 10.000 talenta (uang dalam jumlah yang sangat besar, setara dengan kira-kira 10.000 (talenta) x 6.000 (dinar. 1 talenta = 6000 dinar) x 50.000 rupiah (1 dinar = upah kerja sehari di Indonesia sekarang ini) = 3 trilyun rupiah. Tetapi ketika ia bertemu dengan orang yang berhutang padanya sebesar 100 dinar (setara dengan 5 juta rupiah), ia bertindak dengan begitu kejamnya. Dengan kejamnya, ia menangkap, mencekik dan menjebloskan orang itu ke dalam penjara.&lt;br /&gt;Apa yang mau diajarkan?&lt;br /&gt;Perumpamaan itu disampaikan Yesus untuk menjawab pertanyaan Petrus, “Sampai berapa kali kita harus mengampuni orang lain? Tujuh kali?”. Maka Yesus menjawab, “Tujuh puluh kali tujuh kali!”. Ini bukan sekadar 490 kali, tetapi sebenarnya tidak terbatas.&lt;br /&gt;Yesus mengajar kita pengikut-Nya supaya tidak hanya mampu untuk mengampuni, tetapi harus hidup dalam pengampunan! Janganlah kesalahan kecil dari seorang teman kita diingat-ingat tetapi pengampunan luar biasa yang dilakukan Yesus di kayu salib terhadap dosa-dosa kita tidak berbekas sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memahami perumpamaan Yesus memang tidak selalu mudah. Beruntung bahwa perumpamaan tentang penabur dalam Matius 13 masih diterangkan secara rinci. Ada perumpamaan yang jika tidak hati-hati dibaca dan dipahami akan berbahaya karena bertentangan dengan nilai-nilai yang kita pelihara. Contohnya adalah Lukas 16: 1-9, Bendahara yang Tidak Jujur. Pertanyaan yang spontan keluar dari mulut kita seusai membaca perumpamaan itu ialah, “Apa bener . . . yang seperti itu boleh dilakuin?&lt;br /&gt;Ada juga, memang, perumpamaan yang dibuat sedemikian rupa supaya tertutup bagi orang yang tidak mau menerimanya, atau orang-orang durhaka. Markus 4: 11, 12 berkata, "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun."&lt;br /&gt;Yesus tidak memaksudkan hal seperti itu bagi kita. Ia menggunakan perumpamaan supaya kita terbantu memahami ajaran-Nya dan mempercayai-Nya. Buku-buku ilmu tafsir dapat membantu untuk memahami perumpamaan Yesus dengan baik. Tetapi di atas segalanya, rahasia untuk memahami perumpamaan Yesus adalah dengan tidak pernah memisahkan Yesus dengan perumpamaan-Nya. Perumpamaan Yesus hanya dapat dipahami jika kita menerima Dia, karena di dalam Dia lah Kerajaan Allah hadir di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. Bilman Simanungkalit, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi April 2008)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-3867127097363911350?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/3867127097363911350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=3867127097363911350&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/3867127097363911350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/3867127097363911350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2010/12/artikel-memahami-perumpamaan-yesus.html' title='ARTIKEL: MEMAHAMI PERUMPAMAAN YESUS'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-1545827175918044003</id><published>2010-12-21T11:51:00.002+07:00</published><updated>2010-12-21T11:55:03.384+07:00</updated><title type='text'>RENUNGAN: IMAN YANG KOKOH DIBANGUN DI ATAS KRISTUS (KOLOSE 2:7)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;“ 2 : 7 Hendaklah kamu berakar didalam Dia dan dibangun diatas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah di ajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I. Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Layaknya seorang Rasul yang diutus Allah untuk memberitakan injil, Paulus bukan hanya melayani masyarakat Yahudi.  Jika masyarakat Yahudi menolak injil –kadang-kadang dengan kekerasan- maka pemberitaan dialihkan  kepada masyarakat non-Yahudi.  Sama halnya ketika  Paulus terpanggil untuk memulai tugas penginjilan, dampak perjumpaannya dengan Kristus yang bangkit, memberikan bukti yang melimpah.  Bersama dengan Barnabas dalam hitungan setahun saja, mereka sudah mengalami berkat yang menonjol.  Ternyata masyarakat non Yahudi banjir   memasuki gereja Kristen.  Yang perlu kita lihat dalam system pekabaran injil yang dijalankan Paulus selalu berpedoman kepada Pimpinan Roh kudus.  Misalnya Paulus harus menuju ke utara “Galatia Utara” karena Roh Kudus melarang ke wilayah barat kemungkinan itulah yang menggerakkan Paulus untuk mengirimkan suratnya ke jemaat di kolose, sekalipun Paulus tidak secara langsung mendirikan jemaat di kolose.  Namun dugaan yang bisa diterima dan yang paling mungkin adalah  : Bahwa orang yang membawa ajaran Kristen disana adalah Epafras orang kolose yang mendapat pengajaran dari Paulus.&lt;br /&gt;Adapun penduduk kota ini terdiri dari : Unsur Yahudi, Yunani dan Frigia, barangkali campuran ini terdapat juga dalam gereja (Jemaat Kolose).  Latar belakang yang demikian agaknya menjadikan jemaat di kolose ini subur bagi macam-macam ajaran sesat yang di tentang Paulus dalam suratnya.  Untuk itulah Paulus menyarankan agar jemaat itu harus sepenuhnya hidup di dalam ajaran Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II. Penjelasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun diatas Dia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Orang yang hidup di daerah pertanian sangat paham apa arti “akar” bagi kelangsungan hidup tanaman.  Jika bibit kopi ditebar di daerah yang berbatu-batu dan tanahnya tipis, itu harus segera di pindahkan kedalam “polybag” yang sudah di isi dengan tanah subur (Kompos) yang bebas hama.  Kalau tidak, bibit kopi itu akan segera layu.&lt;br /&gt;Demikianlah Paulus mewaspadai keselamatan orang Kristen yang akan segera layu jika tidak segera berpindah kepada ajaran dari Firman Tuhan.  Sebab Yesus Kristuslah satu-satunya Juruslamat yang mampu menjamin keselamatan manusia hingga masuk ke rumah Bapa di sorga.  Jika hanya menyebut diri sebagai Kristen di dalam KTP, tetapi tidak pernah ke gereja dan tidak ada waktu untuk berdoa mustahil bisa merasakan kedamaian.&lt;br /&gt;Orang seperti itu akan mudah putus asa dan hidup terombang-ambing.  Akhirnya dan menjadi pecandu rokok, minum minuman keras dan sejenisnya.  Apalagi saat-saat sekarang  orang-orang muda sangat gampang tersinggung dengan alasan tidak ada lapangan kerja, BBM naik dan orang tua tidak bisa memberikan uang kantong yang cukup.&lt;br /&gt;Dibangun diatas Dia berarti : selalu di sirami oleh firman Allah, setiap hari selalu ada kerinduan  untuk bersaat teduh, doa pribadi dan berdoa syafaat bersama dengan saudara seiman lainnya.  Jika ada hal yang sulit dihadapi dan tidak melarikan diri kepada rokok atau minuman.&lt;br /&gt;Membangun komunikasi yang baik dengan seisi keluarga kalau orang tua bingung, anak-anak yang memberi dukungan, kalau anak-anak yang menghadapi persoalan, orang tua yang memberikan arahan.  Seisi keluarga selalu punya waktu untuk membaca Firman Tuhan.  Siraman rohani yang demikian, akan menjadikan keluarga Kristen semakin kuat dan bertumbuh didalam Kristus (Lam magodang di bagasan Hata ni Debata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Hendaklah kamu bertambah teguh di dalam iman yang telah diajarkan kepadamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada sebahagian orang jika menghadapi soal yang sulit, dia mencari obat penenang, kemudian tidur. Padahal setelah bangun tidur dia tetap menghadapi soal yang sama dan akhirnya dia jadi bertambah sakit kepala.  Seharusnya dia memohon pertolongan  Roh Kudus, agar mendapat jalan keluar.  Jika seorang Kristen menghadapi kesulitan, tidak baik kembali kepada ajaran nenek moyang atau filsafat yang kosong, melainkan belajar merendahkan diri di hadapan Tuhan dan memohon agar Tuhan saja yang memberikan terang kasihNya.  Sama dengan seseorang yang mencari rumah saudaranya ditengah keramaian kota.  Yang harus di ingatnya adalah alamat yang tepat sesuai dengan yang sudah diberitahukan, janganlah asal melangkah tanpa alamat yang jelas. &lt;br /&gt;Demikian juga dengan iman kita terhadap Yesus Kristus, jika ada tawaran memakai nama lain misalnya : Dukun, atau sumangot n ompu harus kita tolak.  Sebab yang diajarkan kepada kita bukan ajaran seperti itu.  Tetapi iman yang teguh, yang dibangun hanya di dalam nama Yesus.&lt;br /&gt;Tawaran sesaat bukan hanya terjadi  pada zaman dahulu, sekarang inipun orang muda sudah ada yang di bawa berziarah ke makam orang sakti supaya bisa mendapatkan pekerjaan.  Orang Kristen yang demikian juga harus di tegur, sama seperti Paulus mengingatkan jemaat di Kolose.  Ingatlah yang di ajarkan kepadamu, teknologi canggih juga tidak selamanya benar, sering terjadi bahwa kehebatan dunia modern bisa lumpuh dengan kekuatan Allah, dan justru hal seperti itulah yang sering kita alami.  Maka sehebat apapun cita-cita dan kerinduan kita, tetaplah ingat jika Tuhan tidak merestui semua hal itu tidak berarti apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3 Hendaklah hatimu melimpah dengan ucapan syukur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen yang benar harus mampu mengucap syukur setiap saat (senantiasa) ucapan terima kasih yang tulus sama dengan  tarikan nafas orang sehat, wajar, tulus dan tidak dibuat-buat.&lt;br /&gt;Dalam PL “Pujian” antara lain : halal, berarti “riuh” di hubungkan dengan perbuatan dan sikap dan raga; dan “zamar”  dihubungkan dengan memainkan atau menyanyikan dengan disertai musik.&lt;br /&gt;Dalam PB, menggunakan kata eukharistein – barangkali ini adalah kata pujian yang paling cocok, mengandung arti “terima kasih” orang yang memujilebih akrab dengan yang di puji.&lt;br /&gt;Kecenderungan manusia sekarang, sebagai akibat kesibukan yang luar biasa ucapan syukur bisa dianggap terlalu gampang misalnya : hanya dengan sebatas melambaikan tangan kepada orang yang memberikan pertolongan kepadanya, sambil mengucapkan “terima kasih” yah! Padahal tanpa orang tersebut mungkin dia tidak bisa beraktivitas sepanjang hari.  Hal seperti itu bisa kita lihat, misalnya : dalam hubungan tukang pikul dengan pemilik barang.  Barangkali pemilik  barang berfikir, toh sudah kuberikan upah.   Akhirnya dia melupakan hubungan itu dan tidak mengerti apa arti ucapan terima kasihnya.&lt;br /&gt;Ada lagi orang yang menganggap ucapan terima kasih  dan syukur itu sungguh agung.  Harus dihadiri hula-hula atau orang yang sangat dihormati. Sehingga harus ada parjambaran (tudu-tudu sipanganon) barulah bisa bersyukur.&lt;br /&gt;Orang – orang yang demikian, kita lihat hadir di gereja hanya waktu anaknya mau di babtis, naik sidi atau menikah, barulah memotong kerbau pendek (B2), dan semua handai taulan di  undang untuk makan bersama.  Hal seperti itulah yang ingin di luruskan melalui tulisan Paulus ke jemaat di kolose ini dan sekaligus menjadi koreksi bagi warga  jemaat HKBP Dewasa ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III. Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang Kristen modern kita sebaiknya  meneladani sikap keterbukaan yang dimiliki Paulus.  Dia tidak hanya meratapi penderitaannya sebagai orang yang dipenjarakan.  Tidak hanya memperdulikan nama besarnya dalam lingkungan gereja yang pernah dilayaninya saja.  Tetapi Paulus membuka hatinya kepada suara Roh Kudus sehingga dia bertanggung jawab untuk mengirimkan surat penggembalaannya kepada jemaat-jemaat lemah yang di anggapnya sangat membutuhkan dukungannya sekalipun hanya melalui pesan singkat lewat tulisan yang bisa dikirimkannya, seperti kepada jemaat Kolose.&lt;br /&gt;-Hal yang sama bisa kita lakukan, sekecil apapun perhatian yang bisa kita berikan kepada orang-orang di sekitar kita.mungkin lewat ajakan kepada kenalan, sahabat, saudara seiman lainnnya agar ikut serta menghadiri  ibadah sebagai Siraman Rohani yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan iman yang sehat.&lt;br /&gt;-Mengajak saudara kita yang lemah yang sedang menghadapi persoalan untuk doa bersama.  Memberikan jalan keluar semampu kita sebagai tanda persahabatan.  Dengan demikian kita telah berupaya mendampingi dia pada saat keputus-asaan sudah mengancam sebab dalam kesendirian atau keterasingan, banyak orang yang menempuh jalan sesat.&lt;br /&gt;-Hanya orang yang hidup dalam Kristus yang mampu mengatasi setiap persoalan, mampu memberikan pertolongan kepada orang lain.  Orang Kristen yang demikianlah yang dapat merasakan pertolongan Tuhan setiap saat sehingga hatinya selalu melimpah dengan syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. KE Limbong, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Januari 2006)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-1545827175918044003?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/1545827175918044003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=1545827175918044003&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/1545827175918044003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/1545827175918044003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2010/12/renungan-iman-yang-kokoh-dibangun-di.html' title='RENUNGAN: IMAN YANG KOKOH DIBANGUN DI ATAS KRISTUS (KOLOSE 2:7)'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-7939221129901950723</id><published>2010-12-18T08:01:00.002+07:00</published><updated>2010-12-18T08:07:35.327+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: TETAP "BOAN SADA NARI" TU JESUS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah memasuki minggu Advent 2008 berarti kita sudah berada pada pengujung tahun 2008 yang telah ditetapkan HKBP sebagai tahun Marturia. Hiruk pikuk tahun Marturia yang telah dicanangkan oleh Ephorus HKBP pada tgl 27 Januari 2008 di HKBP Tanah Tinggi Jl. Let. Jen. Suprapto Jakarta sudah hampir berakhir karena tahun 2009 yang akan datang oleh HKBP sudah ditetapkan sebagai tahun Diakonia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Marsending Ekstern&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita telah sama-sama mengetahui bahwa tugas penting (salah satunya) orang-orang percaya kepada Yesus adalah harus melaksanakan amanah agung Tuhan Yesus yaitu tugas Marturia memberitakan tentang Injil dan memuridkan orang-orang yang belum mengenal Yesus&lt;br /&gt;untuk menjadi murid Yesus Kristus seperti tertulis dalam Matius 28 : 19, “Karena itu pergilah, jadilah semua bangsa dan muridKu dan babtislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Rohul  Kudus.&lt;br /&gt;Tahun 2008 ini yang oleh HKBP telah dicoba dan diusahakan untuk mengembalikan jemaat HKBP “kembali demam marsending” seperti dahulu dimana para parsending yang diberangkatkan memberitakan Injil tersebut tidak mengalami hambatan biaya.&lt;br /&gt;Tahun 2011 mandatang HKBP akan berjubileum 150 tahun hanya sayang pada  tahun–tahun belakangan ini sepenuhnya mengerjakan tanggung jawab itu secara maksimal. Pangilan Tuhan Yesus untuk mengabarkan berita kesukaan kepada semua umat belum dilaksanakan secara terus-menerus. Adapun usaha-usaha yang  telah dilaksanakan dalam pemberitaan Injil tersebut, dibeberapa tempat belum  dilaksanakan secara tuntas dengan sepenuhnya. Terbukti dibeberapa tempat dimana mereka yang sudah menerima Injil tersebut kemudian meninggalkan keyakinanya dan pindah ke agama lain. Seharusnya apabila mereka sudah diutus menjadi pembawa Injil di daerahnya baik sebagai guru huria, evanggelis dan lain–lain  maka penghidupnya juga harus dilengkapi layaknya gaji guru huria yang ada diterima tepat waktu. Tidak ada lagi penduduk setempat yang sudah dididik dan diangkat menjadi guru huria harus mengembalikan surat baptisnya hanya karena merasa tidak diperhatikan alias kecewa setiap orang yang baru pulang dari Pulau Enggano dan Pulau Rupat apakah dia pendeta evangelis atau volunteer selalu bercerita perihal guru huria atau pendeta yang bertugas disana tetapi hal yang sangat memprihatinkan tersebut selalu itu-itu saja tanpa ada perubahan dari tahun ke tahun. Seharusnya adalah perubahan dari pengambil keputusan HKBP sebagi respon atas kesulitan–kesulitan yang ada. Misalnya gaji yang rendah bisa diangkat lebih tinggi.&lt;br /&gt;Juga penerimaan dilaksanakan sekali sebulan jangan sampai sekali 3 atau  4 bulan. Buatlah model Bantuan Langsung Tunai (BLT)-nya pemerintah. Karena tugas mereka adalah mencari dan membawa mereka yang belum mengenal Yesus dan mengembalakan domba-domba agar keyakinannya lebih stabil. Lain halnya dengan para gembala-gembala, domba-domba yang di kota besar mereka mengembalakan domba yang sudah ’’martoras’’ itupun apakah dari domba-domba itu banyak yang dijala orang lain belum tentu mereka pikirkan. Kita juga prihatin atas para gembala–gembala domba yang bekerja di desa atau di pelosok yang ada tetapi mereka toh masih ada sawah atau kebun huria yang bisa menambah kebutuhan sehari-hari.&lt;br /&gt;Coba kita kembalikan semangat marsending itu model dulu tetapi dalam bentuk sekarang dimana jemaat HKBP baik tua-muda, anak–anak yang saat ini jumlahnya 3,5 juta orang. Setiap orang diminta Rp.1000,- (seribu rupiah) uang marsendingnya berarti terkumpul 3,5 milyar dari  jumlah tersebut. Mungkin tidak semuanya tertagih tetapi yang jelas jumlahnya bisa sama karena orang ada yang memberikan Rp. 1000,- atau Rp. 10.000,- atau Rp. 100.000,- dan seterusnya. Uang tersebut masukan ke deposito abadi dan jasa depositonya cukup untuk  mengaji para  parsending yang ada di pulau–pulau terpencil tadi. Bisa dicoba kalau ada kemauan tetapi  kalau kita langsung menjatuhkan vonis ’’susah’’ ya apa mau di kata.&lt;br /&gt;Ya sudahlah, kalau kita terbiasa soal sending Enggano itu sudah kuno dan membosankan tetapi bagi penulis tersebut tidak pernah membosankan karena pada tahun 1950-an apabila ada pendeta yang datang berkotbah di kampung saya HKBP Hutaraja dan pendeta tersebut baru datang dari tempat-tempat penginjilan seperti Pulau Nias, Pulau Mentawai, Pulau Enggano. Orang-orang kubu di perbatasan Jambi dan Sumatra Selatan. Mereka bercerita atas pengalaman mereka baik pada saat bercakap-cakap di teras gereja sambil menunggu jemaat perminggu maupun saat berkotbah, saya selalu mengikutinya dengan serius. Bagi saya mereka adalah menjadi hero, pahalwan dan penegak panji-panji Kristus. Dan apabila ibu saya mengatakan bahwa ayam jantan  jara-jara (ayam jantan menjelang dewasa) peliharaan saya ditunjuk untuk sending, maka ayam tersebut akan saya pelihara dengan teliti dan nanti kalau besar dijual dan uangnya akan langsung diserahkan sending ke gereja melalui Ompung Sintua Taroli Siregar. Itu dulu cerita lama dan katanya sudah tidak relavan lagi dengan jaman ayeuna terserah aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II. Marsending Intern&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perihal marsending ekstern tadi tidak usah pergi ke Pulau Rupat dan Pulau Enggano tetapi menganti ongkos kita kesanalah kita berikan ke sending gereja (Marturia) agar bisa dipergunakan secukupnya sesuai dengan tujuannya. Sesungguhnya di dalam keluarga Batak sendiri terutama di kota-kota besar banyak yang perlu disendingi seperti orang-orang yang karena pekerjaanya sehari-hari mereka tidak sempat ke gereja. Oleh karena kesibukan pekerjaannya, ke penjara, ke rumah sakit dan lain-lain adalah tempat-tempat yang memerlukan perhatian serius. Jangan sampai tim pendoa gereja tetangga datang terlebih dahulu mendoakan jemaat kita di rumah sakit dari pada parhalado gereja kita sendiri, juga jemaat kita yang jarang ke gereja atau kepertangiangan lunggu perlu dikunjungi dan minta agar ikut aktif pada kebaktian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III.    Sending Tugas Kita Semua dan Selamanya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;           Sesuai dengan pembahasaan Pendeta Leodunan Sibarani, M.Th dalam impolani Jamita 2008 atas tema tahun Marturia HKBP 2008, yaitu Johanes 15:16, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu dan Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaku, diberikannya kepadamu.” Dari ayat ini beliau menyatakan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Allah yang memilih&lt;br /&gt;Karena Allah yang memilih diminta kepada semua kita untuk melaksanakan tugas sesuai dengan amanah tersebut. Adalah anugerah Allah yang sangat besar atas pemilihan tersebut dan merupakan tanggung jawab yang besar adalah suatu tugas jemaat gereja dan gereja sendiri untuk membawa setiap orang kepada Yesus hari ini, besok dan selamanya.&lt;br /&gt;2. Supaya pergi.&lt;br /&gt;Kita disuruh berjalan bersama Yesus memberitakan Injil berita kesukaan. Keberangkatan bukan karena usaha sendiri, kemampuan dan kekuatan sendiri tetapi hanya oleh karena anugerah  dari yang memberi anugerah dan mengangkatnya sebagai sahabatnya.&lt;br /&gt;3. Menghasilkan buah.&lt;br /&gt;Buah yang baik diperoleh apabila berbuah satu batang dengan rantingnya. Demikian juga dengan jemaat gereja agar tetap menjaga hidup didalam kemurnian memuji dan persembahan dengan persekutuan bersama Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahun Marturia telah diambang keberlaluan tetapi Marturia (Marsending) tidak berhenti sampai di sini tetapi harus terus-menerus sesuai dengan amanah agung tersebut :&lt;br /&gt;1. Menjadi saksi nama Tuhan Yesus Kristus untuk selamanya yang sesuai dengan amanah yang telah diterima.&lt;br /&gt;2. Menjadi  contoh dalam tindakan dan perbuatan yang diterapkan dalam hidup sehari-hari dan menjadi contoh di lingkungan masing–masing .&lt;br /&gt;3. Menjadi satu dalam keluarga Allah.&lt;br /&gt;Dengan terpilihnya menjadi satu dalam keluarga Allah berati kita  telah menjadi pewaris kerajaan Allah yaitu harta yang kekal yang telah disediakan untuk pengikut Allah sampai akhir zaman.&lt;br /&gt;Tahun Marturia telah kita lalui dan laksanakan tetapi semangat Marturia harus tetap kita terapkan dalam hidup sehari-hari .&lt;br /&gt;Selamat menjalani minggu-minggu Advent. Selamat Natal dan Tahun Baru  2009. Apabila ada salah kata dalam perjalanan setahun ini dalam tulisan kami dalam Buletin narhasem ini, mohon dimaafkan dan khusus  kepada tim bulletin Narhasem, Selamat Natal dan Tahun Baru. Tuhan selalu memberkati kita semuanya. Amin dan  horas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Kamaruli Pohan Siahaan, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Desember 2008)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-7939221129901950723?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/7939221129901950723/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=7939221129901950723&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/7939221129901950723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/7939221129901950723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2010/12/artikel-tetap-boan-sada-nari-tu-jesus.html' title='ARTIKEL: TETAP &quot;BOAN SADA NARI&quot; TU JESUS'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-756413186369312693</id><published>2010-12-18T07:10:00.002+07:00</published><updated>2010-12-18T07:13:14.567+07:00</updated><title type='text'>RENUNGAN: BERJIWA DAN BERTUMBUH SEHAT</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;“Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja.”&lt;br /&gt;(Daniel 1:15)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;TIDAK ada keraguan bahwa keberadaan yang sehat secara jasmani (sebetulnya juga secara rohani) merupakan pemberian Allah yang patut kita syukuri dan kita jaga. Allah juga tentunya, menghendaki kita memiliki tubuh yang sehat dalam arti mampu bertahan menghadapi serangan aneka jenis penyakit dan sekaligus mampu melakukan aktivitas kita sebagaimana seharusnya. Mungkin yang jadi soal adalah justru tingkat keperdulian kita terhadap soal kesehatan ini, mulai dari pola hidup dan pola makan, sampai kepada upaya ekstra yang diperlukan semisal pemeriksaan kesehatan secara rutin atau rencana anggaran untuk tindakan pengobatan atau pencegahan datangnya penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesehatan adalah Kebutuhan Sampingan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Persoalan tentang kesehatan baru muncul jika ada yang sakit. Sepanjang masih aman, dalam arti tidak ada keluhan terhadap penyakit, tidak akan terdengar persoalan tentang kesehatan. Selama tidak ada serangan penyakit atau selama dalam keluarga kita tidak ada yang tertimpa penyakit maka kita tidak perlu memusingkan soal kesehatan kita. Bagi kita yang tempat bekerjanya juga ikut memberikan jaminan kesehatan (memperhatikan kebutuhan pengobatan) di satu sisi tidak perlu mengkhawatirkan lagi tentang kesehatan. Lebih berat justru bagi kita yang tempat bekerjanya tidak memberikan santunan berobat. Hal itu baru dirasakan ketika penyakit atau petaka benar-benar datang.&lt;br /&gt;Soal kesehatan lebih luas dari soal memikirkan dana kalau penyakit atau petaka tiba. Soal kesehatan adalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebutuhan manusia secara utuh. Piramid lima kebutuhan manusia dari Maslow memang tidak mencantumkan kesehatan. Maslow hanya mencantumkan ‘kebutuhan fisik’ yang asosiasinya mungkin terhadap kebutuhan akan pangan. Namun demikian, senyatanya, kebutuhan akan keberadaan yang sehat adalah termasuk (entah tersirat entah tidak) pada bagian yang pokok.&lt;br /&gt;Itulah juga yang kita yakini sebagai sikap kristiani. Yesus sendiri mengumpamakan diriNya sebagai tabib. Dalam pelayananNya kepada orang banyak Ia menyembuhkan banyak penyakit. Pemisahan penyakit fisik dan penyakit dosa tidak penting bagiNya. Yang terlebih penting adalah misi penyembuhan dan pemulihan umat manusia. Dengan demikian keberadaan yang sehat merupakan bagian dari misi kerajaan Allah yang telah dimulai oleh Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Manusia adalah Jiwa yang Bertubuh atau Tubuh yang Berjiwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semboyan Mensana in Corporesano, dari pengertian hurufiahnya seakan menekankan hubungan searah yaitu pengaruh dari keberadaan psikis terhadap keberadaan secara biologis. Pada kenyataannya kita melihat bahwa aspek psikis dan biologis dari manusia memiliki hubungan yang timbal balik. Dan, itulah juga yang hendak kita tekankan dalam pendekatan kita.&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk yang utuh. Keselamatan dari Allah juga kita yakini, hendak membawa keselamatan yang utuh. Itulah sebabnya dewasa ini makin dikumandangkan pelayanan yang menyeluruh (Holistic Ministry) di mana termasuk di dalamnya pelayanan kesehatan (Healing Ministry). Kita masih mengingat bagaimana pada awal perkembangan kekristenan di tanah Batak para pekabar Injil juga memperhatikan pelayanan kesehatan dengan cara mengadakan pengobatan, mendirikan pos-pos pengobatan sampai dengan rumah sakit.&lt;br /&gt;Orientasi hidup kekal tidak berarti menafikan kehidupan semasa masih di dunia. Orang percaya memandang hidup kekal sebagai tujuan utama dari kehidupannya pada masa kini. Dengan mengingat janji hidup kekal, orang percaya menata hidupnya pada masa ini sebagai kesempatan untuk memancarkan kehidupan yang telah dibaharui. Kehidupan yang telah dibaharui dengan semangat pemulihan ciptaan telah dimulai. Cara-cara hidup lama yang jauh dari rencana Allah harus ditinggalkan.&lt;br /&gt;Sekarang adalah saatnya bagi orang percaya untuk menampakkan hidup yang telah diperlengkapi dengan semangat pemulihan dan penyembuhan. Orang percaya terpanggil untuk membawa kesembuhan bagi kerusakan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kesembuhan yang dimaksud mencakup segala jenis penyakit dan kerusakan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Orang percaya ikut terpanggil untuk menghadirkan kembali suasana Taman Eden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menuju Kesembuhan Dunia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Panggilan untuk membawa kesembuhan kepada dunia ini juga menjadi tema besar dari Sidang gereja tingkat dunia beberapa tahun lalu yang diambil dari Wahyu 22:2: “…Untuk Menyembuhkan Bangsa-bangsa!” Dengan tema itu, gereja-gereja di seluruh dunia diserukan agar mengobarkan kembali semangat penyembuhan yang telah Yesus mulai pada pelayananNya di tengah-tengah orang banyak. &lt;br /&gt;Masa heroik Yesus yang menyentuh hati sanubari masyarakat harus kita lanjutkan. Ketergerakan hati Yesus melihat orang yang timpang dan buta, keaktipan Yesus untuk keluar dari Bait Suci untuk menyusuri tepi pantai, menaiki perahu dan mendaki lereng bukit, dan kerelaan Yesus untuk bertamu ke rumah-rumah harus kembali bergema. Namun, makna terdalam dari keteladanan itu bukan perulangan sensasi mujizat penyembuhan yang mencengangkan banyak orang. Bukan menghadirkan kembali mujizat Yesus terhadap orang buta dan tuli, bukan mengulang kembali memberi makan ribuan orang dengan modal beberapa potong roti, juga, bukan memaksakan agar orang percaya berada di perahu atau di tepi pantai atau di lereng bukit.&lt;br /&gt;Yang menjadi kata kunci adalah ketergerakan hati dan keperdulian. Bumi kita dipenuhi dengan rintihan dan keluhan anak manusia akan penyembuhan dan pemulihan. Bumi kita dihuni baik oleh orang-orang yang beruntung maupun juga orang-orang yang kurang beruntung. Terdapat sebagian orang-orang (dan bangsa-bangsa) yang memiliki keadaan yang lebih baik dalam arti berkelimpahan dari segi materi, teknologi, sumber daya, peradaban, dst. Sebaliknya terdapat pula orang-orang (dan bangsa-bangsa) yang kurang beruntung dalam arti tertinggal dari segi materi, ilmu pengetahuan dan teknologi, ketrampilan, sumber daya, dst.&lt;br /&gt;Panggilan kepada bangsa-bangsa yang besar untuk melirik bangsa-bangsa yang membutuhkan uluran tangan. Panggilan kepada gereja-gereja yang besar untuk melirik gereja-gereja kecil dan lemah yang membutuhkan uluran tangan. Panggilan kepada warga jemaat yang lebih beruntung untuk menoleh kepada sesama warga jemaat yang sedang membutuhkan perhatian dan uluran tangan. Dan…panggilan kepada segenap orang percaya untuk menampakkan sikap hidup yang perduli dan tulus kepada sesama ciptaan tanpa pamrih. &lt;br /&gt;Dengan semangat penyembuhan dunia, orang percaya akan selalu ikut secara aktip berbuat bagi dirinya maupun orang lain. Panggilan untuk penyembuhan dunia membuat orang percaya semakin kreatip untuk berbuat, dalam kaitan ini, mewujudkan dunia yang sehat yang dihuni oleh manusia yang sehat. Menyehatkan dunia adalah sebuah pekerjaan besar dan merupakan Mission Impossible bagi manusia tetapi telah dimulai oleh Yesus Sang Tabib yang Agung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gereja yang Mencanangkan Hidup Sehat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di tingkat jemaat, kita memiliki unit pelayanan yang kita sebut Seksi Kesehatan (yang bersama-sama dengan Seksi Kemasyarakatan, Seksi Pendidikan, dan Seksi Diakoni Sosial berada dalam Dewan Diakonia). Sejauh ini yang pernah dilakukan adalah mengadakan pengobatan gratis. Meski kegiatan itu bersifat kuratip, kita tetap bersyukur juga. Kita tentunya dapat pula mengembangkan pelayanan di bidang ini dengan berbagai cara pula. Misalnya, tindakan yang bersifat preventip, mengadakan kegiatan gerak jalan massal atau membuat penyuluhan tentang pola hidup sehat atau tentang penyuluhan tentang gizi. Namun yang utama bukanlah: asalkan ada program, sudah cukuplah!&lt;br /&gt;Kita hendak meraih sesuatu yang lebih dari sekadar membuat program di lingkungan Seksi Kesehatan. Kita, misalnya, ingin membuat pola hidup sehat sebagai bagian dari gaya hidup sebagaimana panggilan untuk ikut serta dalam pelayanan penyembuhan dunia merupakan bagian dari Misi Agung Sang Tabib!&lt;br /&gt;Hidup yang sehat adalah anugerah Allah! Mari kita sambut dan pelihara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. Maurixon Silitonga, M.Th., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Agustus 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-756413186369312693?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/756413186369312693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=756413186369312693&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/756413186369312693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/756413186369312693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2010/12/renungan-berjiwa-dan-bertumbuh-sehat.html' title='RENUNGAN: BERJIWA DAN BERTUMBUH SEHAT'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-7234959775874322425</id><published>2010-12-17T22:51:00.002+07:00</published><updated>2010-12-17T22:55:10.905+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: BUSANA PENGANTIN KRISTUS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya yang berjudul “Dress for success” Jhon Molloy menunjukkan pentingnya peran pakaian dalam menunjang kesuksesan, khususnya para sekretaris. Dia mengatakan, jika anda ingin sukses berdadanlah sesuai dengan selera pimpinan anda. Pernyataan itu mengisyaratkan pentingnya memperhatikan pakaian dalam menjalankan tugas. Kalau dalam konteks pekerjaan sehari-hari begitu diperhatikan soal pakaian, dalam konteks kekristenan (hubungan kita dengan Tuhan) juga tidak kalah pentingnya. Untuk itulah redaksi Narhasem mengangkat topic “Youth Fashion”, dengan tujuan setiap orang Kristen, khususnya kaum muda memahami bagaimana dia tampil dan apa saja yang menjadi hal penting untuk dikenakan sebagai bukti pengikut Kristus.&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini perhatian kita terfokus pada busana “pengantin Allah” dalam arti kiasan yang akan menggambarkan bagaimana “penampilan seorang Kristen” yang dinakamakan “pengantin Allah”. Karena itu kita harus sadar siapakah kita di hadapan Tuhan. Kesadaran seperti ini akan memampukan kita menjalankan fungsi sebagaimana mestinya dan inklud di dalamnya bagaimana “pakaian”yang seharusnya kita kenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Orang Kristen /Jemaat adalah “pengantin” Tuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gambaran hubungan umat dengan Tuhan dalam Alkitab memiliki banyak segi, dan masing-masing memiliki makna sesuai dengan konteks nas yang menggambarkan hal tersebut. Di dalam Perjanjian Lama, gambaran hubungan umat dengan Allah secara khusus dan khas dilukiskan dalam kitab Nabi Hosea. Keluarga Hosea sebagai gambaran bagaimana dinamika hubungan Allah dengan umat Israel. Di dalam hubungan tersebut terjadi penghianatan, namun Tuhan tetap menunggu dan menghendaki pemulihan hubungan “suami-istri” tersebut berlangsung dalam kesetiaan dan kejujuran.(Hosea 1-2)  Di dalam kitab Kidung Agung  dengan syair yang indah juga digambarkan hubungan Tuhan dengan umatnya, yang dikiaskan dengan mempelai laki-laki dan perempuan yang saling puji-memuji (Kidung Agung  1-4)&lt;br /&gt;Di dalam Perjanjian Baru, khususnya surat Paulus ke Jemaat Efesus ( Ef.5:29-33)menggambarkan betapa indah dan besar rahasia hubungan Kristus dengan umatNya, seperti hubungan suami dan istri. Kristus akan merawat jemaatNya seperti merawat diriNya sendiri.  Menjadi mempelai bagi Kristus tidak berbicara mengenai seberapa besar keberadaan, kedudukan, jabatan, maupun prestasi kita dalam dunia ini, tetapi berbicara mengenai  seberapa besar dan dalamnya kita hidup dalam kebenaran yang Tuhan inginkan untuk kita hidupi dalam dunia ini.&lt;br /&gt;Di dalam kitab Wahyu kiasan untuk Jemaat juga digambarkan sebagai Pengantin Perempuan. Hal ini pertama-tama terdapat di dalam Wahyu 19:7-8, dihubungkan dengan Perjamuan kawin anak Domba. Jemaat Allah sejati ditampilkan  sebagai seorang perempuan yang mengenakan gaun pengantin putih bersih. Sementara Babel ditampilkan sebagai seorang pengantin yang memakai pakaian indah saja. Maksud kiasan ini mau membandingkan yang salah dan yang benar. Selanjutnya dalam Wahyu 21:9 gambaran Jemaat sebagai pengantin Kristus dihubungkan dengan Yerusalem yang sorgawi, dengan penampilannya yang memakai permata-permata yang berkilauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pakaian Pengantin Tuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Buku Ende HKBP No. 31:2 menggambarkan pakaian yang layak bagi Tuhan,&lt;br /&gt;“Songon dia paheanku mandapothon Debata? Unduk serep ni rohangku ido abit na tama. Dung adong na songon i tau ma au di Tuhanki”&lt;br /&gt;Mengacu kepada syair lagu tersebut, ada dua hal yang ditekankan menjadi pakaian orang Kristen yang dikehendaki Tuhan yakni: ketaatan kepada Tuhan dan kerendahan hati. Syair lagu ini mengindikasikan adanya kecenderungan masyarakat mempersoalkan pakaian dalam arti pisik yang melekat pada tubuh seseorang dalam hubungannya dengan ibadah kepada Tuhan.  Oleh keterbatasan kemampuan untuk memenuhi jenis dan mode pakaian yang dianggap layak untuk dipakai ke gereja, akhirnya seseorang itu mengurungkan niatnya untuk beribadah kepada Tuhan. Tanpa menyepelekan jenis dan bentuk pakaian yang umumnya dipakai ke gereja, lagu ini mengingatkan orang Kristen agar tidak hanya memperhatikan pakaian secara fisik, pakaian dalam arti sikap tidak kalah pentingnya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu marilah kita menanggalkan cara hidup yang lama seperti kita menanggalkan baju yang sudah tua, kenakanlah pakaian yang baru sebagai bukti bahwa kita telah hidup baru di dalam Kristus (bnd. 2 Kor.5:17)&lt;br /&gt;1. Hidup dalam kebenaran dan kesucian&lt;br /&gt;Di dalam Epesus 4:24 rasul Paulus mengatakan kepada orang Kristen agar mengenakan manusia baru yang di dalamnya terdapat kebenaran dan kesucian. Paulus melihat bahwa hidup di luar Kristus, ada 3 yang mengerikan, yakni: pertama, seseorang tidak sadar bahwa dirinya berdosa. Hal ini terjadi karena hatinya yang telah membatu.Kedua,manusia tidak kenal malu dan tidak punya sopan santun.Ketiga,tergantung pada hawa nafsu dan tidak perduli kepada orang lain. Hidup dalam kebenaran, berarti Kristus yang menjadi ukuran, sebab Kristus-lah kebenaran itu sendiri (Yoh.14:6) Dengan bercermin kepada Kristus, ada dua konsekuensinya:pertama, kita akan senantiasa dapat melihat keberdosaan kita yang menyebabkan kita seharusnya menjadi seteru Allah. Tetapi di dalam Kristus yang adalah pembenaran kita, Ia melayakkan kita sebagai anak Allah dengan mengampuni dan menyucikan kita dari dosa dengan darah-Nya. Artinya, kita akan menjadi orang-orang yang tau diri dan senantiasa mawas diri terhadap segala macam godaan dan hasutan iblis untuk merusak “pakaian” kita. Hidup suci bukan berarti kita dapat menyucikan diri kita sendiri, melainkan Kristus yang menyucikan diri kita dan menyatakan kita tahir/suci. Maka yang kedua,adalah hidup beda dengan dunia. Dalam istilah yang lain Paulus mengatakan:” Jangan menjadi serupa dengan dunia”(Roma 12:1-2) Dengan kata lain kualitas hidup orang Kristen memiliki nilai plus dibandingkan dengan yang lain. Seluruh hidupnya dipersembahkan untuk Tuhan. Artinya, pekerjaan yang ditekuni sehari-hari merupakan sarana bagi dirinya untuk menunjukkan penyerahan dirinya secara total kepada Allah. Kesadaran ini akan memotifasi diri kita untuk bekerja, belajar, mencari nafkah dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab, sehingga berkat Tuhan akan memungkinkan kualitas hasilnya juga baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengenakan Perlengkapan senjata Allah&lt;br /&gt;Orang Kristen di dunia tidak hanya berhadapan dengan situasi kehidupan yang normal-normal saja. Tetapi sebagaimana digambarkan Paulus, akan berhadapan dengan kuasa-kuasa gelap yang melayang-layang di udara. Untuk itu orang Kristen perlu memiliki “pakaian” yang siap pakai untuk situasi seperti itu, agar dapat berdiri teguh dan kuat.&lt;br /&gt;Ikat pinggang kebenaran. Orang Kristen akan bebas bergerak dan tidak ragu-ragu, karena kebenaran Kristus ada di dalam dirinya dan menjadi patokan dalam hidupnya&lt;br /&gt;Bajuzirah keadilan. Baju zirah ini adalah sebagai penangkal serangan yang menimpa, seperti anak panah. Keadilan berarti hidup dalam hubungan yang benar dengan Allah dan sesame manusia. Jika kita hidup sedemikian rupa menurut kebenaran Tuhan, itu akan menangkis tuduhan yang dilontarkan terhadap kita. Tutur kata saja tidak dapat menahan tuduhan yang dilontarkan atas diri kita, tetapi kehidupan yang sungguh baik akan mampu menangkis tuduhan itu.&lt;br /&gt;Kasut kaki: kerelaan memberitakan Injil. Orang Kristen yang memakai kasut ini, senantiasa membawa kabar sukacita, menyebarkan kasih di tengah perselisihan, menyebarkan damai di tengah peperangan, membawa terang di tengah kegelapan, membawa penghiburan di tengah dukacita, membawa pembebasan di tengah penindasan dan perbudakan.&lt;br /&gt;Perisai  Iman akan memampukan kita menghadapi cobaan yang diibaratkan seperti anak panah. Iman kepada Kristus itulah perisai. Berjalan berdampingan dengan Kristus, kita akan diselamatkan dari setiap pencobaan&lt;br /&gt;Ketopong Keselamatan. Keselamatan yang diberikan Kristus kepada kita akan meyakinkan kita terhadap pengampunan-Nya, sekaligus menguatkan kita untuk melawan dosa/mengalahkan hawa nafsu jahat&lt;br /&gt;Pedang roh, Firman Allah. Firman Allah menjadi senjata kita untuk menahan serangan dosa dan bekal mengalahkan dunia.&lt;br /&gt;Doa. Inilah menurut Paulus senjata yang terbesar. Hidup tanpa doa ibarat lampu tanpa minyak, maka doa merupakan “nafas iman” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Orang Kristen merupakan pengantin Kristus. Untuk itu hendaklah masing-masing mengevaluasi dirinya apakah pakaiannya sesuai dengan jati dirinya sebagai pengantin Kristus? Marilah kita memperhatikan bagaimana seharusnya kita hidup, sebab melalui sikap, tutur kata dan perbuatan kita, orang lain dapat membaca siapakah kita sebenarnya (bnd. 2 Kor.3:2-3) Berdandanlah dengan baik sesuai dengan kehendak sang Mempelai yaitu Kristus. Solideo Glori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. Daniel Napitupulu, M.Min., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Desember 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-7234959775874322425?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/7234959775874322425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=7234959775874322425&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/7234959775874322425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/7234959775874322425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2010/12/artikel-busana-pengantin-kristus.html' title='ARTIKEL: BUSANA PENGANTIN KRISTUS'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-569479021874748580</id><published>2010-12-16T11:01:00.002+07:00</published><updated>2010-12-16T11:04:42.261+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: ORANG BATAK DAN RITUAL AKHIR TAHUN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Identitas Batak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;R.W Liddle menyatakan, bahwa sebelum abad ke-20 di Sumatera bagian utara tidak terdapat kelompok etnis sebagai satuan sosial yang koheren. Menurutnya sampai abad ke-19, interaksi sosial di daerah itu hanya terbatas pada hubungan antar individu, antar kelompok kekerabatan, atau antar kampung. Dan hampir tidak ada kesadaran untuk menjadi bagian dari satuan-satuan sosial dan politik yang lebih besar. Pendapat lain mengemukakan, bahwa munculnya kesadaran mengenai sebuah keluarga besar Batak baru terjadi pada zaman kolonial. Dalam disertasinya J. Pardede mengemukakan bahwa istilah "Tanah Batak" dan "rakyat Batak" diciptakan oleh pihak asing. Sebaliknya, Siti Omas Manurung, seorang Toba istri dari putra pendeta Batak menyatakan, bahwa sebelum kedatangan Belanda, semua orang baik Karo maupun Simalungun mengakui dirinya sebagai Batak, dan Belandalah yang telah membuat terpisahnya kelompok-kelompok tersebut. Sebuah mitos yang memiliki berbagai macam versi menyatakan, bahwa Pusuk Bukit, salah satu puncak di barat Danau Toba, adalah tempat "kelahiran" bangsa Batak. Selain itu mitos-mitos tersebut juga menyatakan bahwa nenek moyang orang Batak berasal dari Samosir.&lt;br /&gt;Terbentuknya masyarakat Batak yang tersusun dari berbagai macam marga, sebagian disebabkan karena adanya migrasi keluarga-keluarga dari wilayah lain di Sumatra. Penelitian penting tentang tradisi Karo dilakukan oleh J.H Neumann, berdasarkan sastra lisan dan transkripsi dua naskah setempat, yaitu Pustaka Kembaren dan Pustaka Ginting. Menurut Pusatak Kembaren, daerah asal marga Kembaren dari Pagaruyung di Minangkabau. Orang Tamil diperkirakan juga menjadi unsur pembentuk masyarakat Karo. Hal ini terlihat dari banyaknya nama marga Karo yang diturunkan dari Bahasa Tamil. Orang-orang Tamil yang menjadi pedagang di pantai barat, lari ke pedalaman Sumatera akibat serangan pasukan Minangkabau yang datang pada abad ke-14 untuk menguasai Barus.&lt;br /&gt;Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini merupakan sebuah terma kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli, Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah Karo, Pakpak, Toba, Simalungun, Mandailing, dan Angkola.&lt;br /&gt;Sebagian besar orang Batak menganut agama Kristen dan sebagian lagi beragama Islam. Tetapi ada pula yang menganut agama Malim (pengikutnya biasa disebut dengan Parmalim) dan juga penganut kepercayaan animisme (disebut Pelebegu atau Parbegu), walaupun kini jumlah penganut kedua ajaran ini sudah semakin berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Orang Batak dan Ritualnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan kepercayaan mereka masing-masing disaat memasuki pergantian akhir tahun mulai malam tiga puluh satu sampai tanggal, 01 setiap awal tahun, menurut pengamantan penulis ada banyak kita jumpai kolaborasi seremonial yang diprakarsai secara pribadi atau kelompok, baik sebagai suku batak atau suku yang lain, baik bangsa Indonesia atau bangsa lain, mereka melakukan acara dipergantian tahun. Tetapi saya lebih membatasi diri untuk membahas suku Batak dan Ritualnya diakhir Tahun, hal ini sesuai dengan permohonan saudari Uli Panjaitan melalui SMS yang disampaikan di awal bulan Nopember 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Batak suasana akhir tahun memiliki arti tersendiri, pertama: moment penting untuk mensyukuri (manghamauliatehon) kepada Tuhan atas berkat karuniaNya yang menyertai mereka dari awal dan akhir Tahun yang sedang kita jalani. Kedua: Kesempatan bagi suku Batak mengevaluasi (mangarujiruji) selama perjalanan satu tahun. Ketiga: Kesempatan: bermaaf-maafan antara anak terhadap orangtua, antara suami istri, antara yang lebih tua kepada yang lebih muda, dll, keempat: Kesempatan bermohon (mangido) agar disertai Tuhan menapaki tahun baru. Semua ini dilakukan dalam bentuk acara khusus seperti lebih dulu diawali makan bersama (resepsi) atau ibadah akhir tahun, adanya suatu pertemuan. Namun tidak sedikit orang Batak menyempatkan waktunya reatreat ke suatu tempat  untuk refreshing dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Semuanya itu sah-sah saja sepanjang dalam koridor yang baik janganlah konsumerisme, tetapi harus hemat-isme, lebih baik buka hatimu bersedekah bagi orang-orang yang membutuhkan uluran tangan daripada hanya menghambur-hamburkan materi untuk dirimu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Akhir Tahun Sebagai Perenungan Untuk Memasuki Awal Tahun Baru &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku! hanya dalam hitungan jam kita semua akan meninggalkan tahun 2010 dan memasuki tahun baru 2011, bagi HKBP adalah tahun Yobel dimana HKBP genap berjubelium 150 tahun. Setelah I.L Nomemmsen berhasil menginjili suku Batak.  Semua orang (mungkin juga termasuk anda dan saya) sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk merayakan pergantian tahun ini dengan ibadah sesuai dengan iman percayanya, tetapi ada juga yang meniup terompet bersama keluarga di rumah masing-masing. Bahkan ada sebagian orang yang telah mempersiapkan liburan akhir tahun dari jauh-jauh hari sebelumnya, baik itu liburan di dalam negeri maupun yang mau melancong ke negeri orang. Semua tempat hiburan dan hotel-hotel berbintang sampai penginapan melati dipastikan akan kebanjiran pengunjung yang ingin merayakan pergantian tahun. Bagitu juga dengan pesta yang diadakan mulai dari pesta kembang api dan terompet yang berlimpah dengan jamuan serta hidangan yang serba mewah.&lt;br /&gt;Memang tidak ada yang salah dengan berbagai macam tingkah polah orang dalam menyambut dan merayakan pergantian tahun selam itu tidak mengganggu dan merugikan orang lain. Tetapi ada baiknya kita merenung lagi, apakah memang harus dengan perayaan seperti yang selama ini kita lakukan untuk menyambut tahun baru ? Karena hakekatnya menyambut pergantian tahun adalah untuk introspeksi diri, melihat kembali apakah selama setahun ini kita telah melakukan sesuatu yang berarti baik itu untuk diri sendiri maupun untuk orang banyak. Apakah kehidupan kita sudah lebih baik dari tahun sebelumnya baik itu yang menyangkut kehidupan dunia maupun akhirat. Karena dalam tekad manusia yang memiliki visi, bahwa :&lt;br /&gt;“hari ini lebih baik dari hari kemaren, itulah tanda orang yang beruntung”&lt;br /&gt;“hari ini sama dengan hari kemaren, itulah tanda orang yang merugi”&lt;br /&gt;“hari ini lebih jelek dari hari kemaren, itulah tanda orang yang celaka”&lt;br /&gt;Termasuk dalam golongan yang manakah kita ?&lt;br /&gt;Maka alangkah baiknya di akhir tahun ini mempersiapkan diri kita untuk menyambut tahun baru,  kembali merenung dan mawas diri tentang apa yang telah kita lakukan dan perbuat selama setahun ini serta mempersiapkan segala sesuatunya untuk berbuat yang lebih baik di tahun depan. Jangan sampai kita termasuk kedalam golongan orang yang “celaka” tapi kita orang yanghidup dalam karunia Tuhan (Sola Gratia).&lt;br /&gt;Sebelum mengakhiri tulisan ini, ijinkan penulis member kontribusi untuk rekan Remaja dan pemuda; banggalah sebagai orang batak, jangan gadaikan margamu karena berbagai kepentingan. Ingat akhir tahun adalah suatu kesempatan untuk mengkaji ulang, apakah sudah maksimal kamu berbuat yang seturut dengan kehendak Tuhan? Jangan tunda-tunda melakukan pekerjaanmu. Lakukanlah…! Lupakanlah dan berdamailah masa lalumu…diakhir tahun ini kembalikan semangatmu, singsingkan lenganmu untuk membangun dirimu, bangsa dan gereja kita. Penulis mohon maaf bila ada tutur kataku yang tidak berkenan.&lt;br /&gt;Kutipan firman Tuhan untuk menggugah iman percaya kita: dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. (Epesus 4: 24), sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15: 5c). Selamat menyambut tahun baru. Shalom.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. Haposan Sianturi, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Desember 2010) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-569479021874748580?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/569479021874748580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=569479021874748580&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/569479021874748580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/569479021874748580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2010/12/artikel-orang-batak-dan-ritual-akhir.html' title='ARTIKEL: ORANG BATAK DAN RITUAL AKHIR TAHUN'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-8655083254573567592</id><published>2010-12-04T09:48:00.003+07:00</published><updated>2010-12-04T09:52:02.804+07:00</updated><title type='text'>RENUNGAN: KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS BERMANFAAT DALAM PELAYANAN UNTUK "MEMBANGUN GEREJA"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh; Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(1 Kor. 12:4- 5)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dampak perjumpaan Paulus dengan Kristus yang sudah bangkit, yang dialaminya dalam kesadaran yang mantap, adalah merupakan bukti yang melimpah, yang menurut Lukas mutlak sebagai mujizat. Dimana bagi manusia hal itu tidak mungkin terjadi, "seorang musuh dipakai Kristus menjadi rasul-Nya" (Kis. 9, 22, dan 26).&lt;br /&gt;Paulus sendiri menyadari panggilan-Nya sehingga dia tidak kenal lelah sekalipun harus menembus medan yang sulit (bahaya di laut, berupa ombak besar dan ancaman binatang buas dan ular berbisa di daratan), semua itu dilaluinya dengan tabah agar Firman Allah disampaikan kemana Tuhan memimpinnya.&lt;br /&gt;Sebagai seorang rasul sekaligus menjadi gembala atas jiwa-jiwa yang sudah diselamatkan oeh darah Kristus, Paulus selalu siap siaga untuk mewaspadai ancaman yang ingin menghancurkan kesatuan setiap orang percaya.&lt;br /&gt;Bagi jemaat di Korintus kemungkinan untuk bisa goyah selalu ada, dimana masyarakat Korintus terdiri dari latar belakang yang berbeda-beda. Jemaat itu sebahagian beranggotakan beberapa orang Yahudi, tapi yang menonjol ialah non-Yahudi dan mantan penyembah berhala, berlatar belakang jahat. Jemaat Kristen di Korintus menikmati keamanan yang lebih baik dibandingkan Paulus.&lt;br /&gt;Secara sosial, jemaat mencakup wawasan yang luas. Namun masih ditemukan garis pemisah antara si kaya dan si miskin, sebagian besar bukanlah bangsawan atau berpendidikan tinggi, namun terdapat lagak pretensi sosial dan intelektual dalam jemaat (bd. E.A. Judge, The Social Pattern of Christian Groups in the First Century, 1960 him. 49-61).&lt;br /&gt;Mereka senang mendengar pidato yang muluk-muluk sambil membanding-bandingkan kehebatan berbicara dari guru-guru palsu. Jemaat di Korintus sangat memanjakan pendengarannya dengan berita-berita yang memiliki keunggulan. Dengan dasar itu jemaat berusaha membanding-bandingkan guru-guru mereka atas dasar yang palsu, dan nama-nama yang bermacam-macam itu mereka pakai sebagai seruan perang (memecah belah kesatuan di tengah-tengah jemaat).&lt;br /&gt;Alasan inilah yang dilihat oleh Paulus untuk segera mengirimkan surat kepada jemaat di Korintus. Jika masing-masing anggota jemaat menyadari keberadaan-Nya sebagai orang berdosa yang sudah dibasuh oleh darah Kristus maka dosa kekafiran harus ditanggalkan. Namun inilah yang sulit : sebagian dari kepercayaan mereka terhadap Kristus memang sungguh-sungguh, tapi mereka juga benar-benar percaya kepada roh-roh jahat. Paulus menegaskan, tidak ada pilihan lain bagi setiap orang Kristen selain percaya kepada Kristus yang membawa keselamatan dan menolak semua ajaran yang menyesatkan.&lt;br /&gt;Semua orang yang memberitakan kebenaran firman Allah tidak untuk dibanding-bandingkan melainkan harus mampu menerima ajaran yang memperkaya pengalaman rohani bagi setiap warga jemaat, karunia Rohani yang menyertai pelayanan "para saudara" adalah pemberian illah.&lt;br /&gt;Hanya satu Tuhan yang mengerjakan semua itu dan memberikan dengan cuma-cuma bagi setiap orang yang telah dipilih Allah secara khusus. Untuk itu saling menerimalah kamu sebagai teman sekerja Allah. Terimalah perbedaan saudara-Mu sebagai kekayaan kemurahan Allah, bukan untuk diperdebatkan atau sebagai seruan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penjelasan&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu roh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karunia adalah pemberian. Ada beberapa kata Yunani untuk pemberian terutama sekali pemberian Allah yang telah diberikan kepada manusia:&lt;br /&gt;- Dorea (Cuma-cuma, hadiah) - pemberian Ilahi. Kadang-kadang berarti keselamatan (Rom 5 : 15,17)&lt;br /&gt;-    Dosis : setiap pemberian yang baik&lt;br /&gt;-    Dorema : setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas.&lt;br /&gt;Dan satu lagi ialah kharisma, dapat digunakan mengenai 'karunia baik' Allah yaitu : hidup yang kekal (Rom. 6 : 23), penggunaannya yang khas ialah untuk karunia-karunia rohani, yaitu karunia-karunia yang diberikan Roh Kudus kepada orang-orang tertentu.&lt;br /&gt;Setiap orang percaya diperlengkapi dengan kasih karunia Allah untuk saling melengkapi sebagai pengurus yang baik (1 Petrus 4:10-11) ditengah-tengah persekutuan orang Kristen.&lt;br /&gt;Setiap orang harus mempertanggung-jawabkan karunia yang dipercayakan Allah kepada-Nya demi keutuhan bersama dan demi kebaikan kita juga. Dengan demikian nama Allah dipermuliakan.&lt;br /&gt;Sikap yang selama ini hanya sebagai pendengar dan penonton kemudian membuat perbandingan siapa yang lebih hebat tidaklah baik. Tetapi semua warga jemaat harus terlibat (ikut serta, ambil bagian) dalam tugas pelayanan.&lt;br /&gt;Menurut Petrus, hidup orang Kristen, haruslah demikian :&lt;br /&gt;- Jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa (selalu ada waktu untuk berdoa).&lt;br /&gt;- Berilah tumpangan seorang akan yang lain tanpa bersungut-sungut&lt;br /&gt;- Masing-masing terlibat dalam pelayanan (memimpin doa, mengajarkan Firman Allah, melaksanakan sakramen, menaikkan puji-pujian dan ucapan syukur, dsb)&lt;br /&gt;Paulus sangat menyadari kerugian yang akan dialami jemaat di Korintus jika mereka hanya bersoal-jawab diseputar kehebatan pemberita-pemberita injil dan kekaguman mereka terhadap tanda-tanda mujizat yang diadakan oleh orang-orang tertentu.&lt;br /&gt;Mereka bisa terjebak dalam kegiatan yang dilancarkan oleh ahli filsafat dunia dan pidato yang muluk-muluk (1 Kor. 1 : 20).&lt;br /&gt;Cara hidup yang demikian tidak membawa mereka kepada keselamatan melainkan akan semakin jauh dan kembali kedunia kekafiran. Penggunaan karunia-karunia Roh Kudus (seperti : menyembuhkan orang sakit, memberitakan firman Allah, melenyapkan kelemahan dan kemampuan berbahasa Roh, (yun . glossolalia) semua itu harus bertujuan untuk membangun jemaat bukan untuk memecah belah kesatuan yang sudah ada.&lt;br /&gt;Adalah tugas setiap orang percaya untuk memohon petunjuk Allah, supaya ikut serta melayani sesuai dengan cara kuasa Allah. Karunia Allah yang bisa dialami seseorang tidak secara otomatis bisa dipelajari dan ditiru oleh orang lain. Kerinduan untuk bisa sama seperti idola kita adalah baik, jika kita mau belajar mencoba dan berlatih, tetapi jangan kecewa dan menjadi putus asa jika tidak bisa seperti impian kita. Sebab sudah menjadi kenyataan bahwa anak seorang pengkhotbah tidak selamanya bisa berkhotbah, anak seorang pemusik tidak selamanya bisa bermain musik. Kemungkinan untuk menjadi bisa selalu ada tetapi jangan tinggalkan gereja, jika bahasa doamu tidak sebaik teman atau orang disekitarmu. Berlatihlah dan minta petunjuk Tuhan mungkin kamu akan lebih cocok jika ambil bagian dalam memandu pujian atau singer (song leader), dan banyak contoh lainnya.&lt;br /&gt;Anak-anak Tuhan harus terampil dalam memakai karunia Allah yang dipercayakan kepada perorangan, jangan hanya ikut-ikutan. Tetapi berlatihlan dan bagi waktumu baik-baik.&lt;br /&gt;Jangan hanya membanding-bandingkan kehebatan gereja lain, pembicara dari sekte lain, sementara dirimu tidak pernah bisa belajar dengan sungguh-sungguh untuk mempergunakan karunia Allah yang sudah dipercayakan kepada-Mu. Adalah baik mengenal kemampuan diri kita sendiri untuk kita persembahkan kepada Allah dan kita pakai dalam pelayanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Dan ada rupa-rupa pelayan tetapi satu Tuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ikut ambil bagian dalam "Karunia Pelayanan", praktis adalah tanggung jawab setiap orang Kristen. Sekalipun tidak melalui pendidikan di Sekolah Tinggi Theologia, kita selalu mempunyai kesempatan untuk belajar firman Tuhan dan memohon pertolongan Roh Kudus. Dalam hal ini ada beberapa hal yang harus kita perhatikan, a.l :&lt;br /&gt;(1) Karunia kekuasaan.&lt;br /&gt;a.   Iman (yun . pistis)&lt;br /&gt;Yang dimaksud bukan iman yang menyelamatkan melainkan tingkat iman, dengan mana dilaksanakan perbuatan khusus yang mengherankan (Mat. 19 : 17)&lt;br /&gt;Saat mana murid-murid mempertanyakan Jesusp mengapa mereka tidak mampu mengusir setan. Jawab Jesus : "karena kamu kurang percaya".&lt;br /&gt;Dalam kitab Ibrani 11 : 33 - 40 tertulis, bahwa sejak PL banyak orang muda yang mengalami pertolongan dan karunia Allah yang hebat (Gideon, Daniel, Daud, dan banyak lagi orang percaya lainnya): Mampu memimpin peperangan dan luput dari mata pedang sekalipun hanya memakai persenjataan yang sangat sederhana, selamat dari mulut singa-singa yang kelaparan, memadamkan api yang dahsyat, beroleh kekuatan dan bebas dari kecemasan di masa -masa sulit. Demikian juga ibu-ibu menerima kembali anaknya yang sudah mati.&lt;br /&gt;Namun demikian jika saja "doa yang kita persembahkan " yang selama ini kita imani, tetapi belum terkabul, janganlah putus harapan, mungkin Allah mempunyai rencana yang jauh lebih indah sesuai dengan waktu dan cara Allah.&lt;br /&gt;b.   Karunia untuk menyembuhkan (yun.kharismata iamat6n), diberikan untuk melakukan tanda mujizat dan memulihkan kesehatan.&lt;br /&gt;c.   Mengerjakan mujizat (energemata dunameon) har.melakukan kekuasaan. Karunia ini memberikan kesanggupan untuk mempertunjukkan berbagai mujizat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Karunia seperasaan&lt;br /&gt;a. Pelayanan (yun. Antilepseis) artinya: pertolongan yang diberikan kepada orang lemah oleh golongan kuat termasuk: melayani orang sakit dan yang berkekurangan.&lt;br /&gt;b. Pemberi sedekah yang murah hati (yun. ho metadidous)&lt;br /&gt;c. Seorang yang menunjukkan kemurahan (yun. Ho eleon)&lt;br /&gt;d. Jabatan pelayanan (yun.diakonia), lih. I. Tim 3:1-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Karunia mengelola.&lt;br /&gt;a. Kepemimpinan (yun.kuberneseis) yaitu: karunia kekuasaan untuk memimpin.&lt;br /&gt;b. Siapa yang memberi pimpinan (yun.ho proistamenos) diterjemahkan:"ia yang membantu" suatu karunia seperasaan.&lt;br /&gt;Karunia seperti merasul, bernubuat dan mengajar dipakai dalam pelayanan yang teratur. Karunia yang lain dinyatakan berseling- seling (waktu-waktu tertentu). Karunia-karunia kadang-kadang merupakan pelepasan atau peningkatan bakat yang wajar.&lt;br /&gt;Adapun karunia-karunia rohani yang kita peroleh berasal dari Allah (mis: mengajar/kemampuan mendidik orang untuk memantapkan bakatnya dalam bidang masing-masing, mengasihi, bermurah hati, dan berbagai perbuatan baik lainnya) semua itu berasal dari Allah. Dengan demikian harus dipakai untuk memuliakan Allah, bukan untuk disombongkan atau meremehkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada berbagai-bagai karunia yang diberikan Allah kepada setiap orang percaya. Karunia-karunia itu harus kita mantapkan dengan selalu memohon pertolongan Allah, supaya:&lt;br /&gt;1. Membaharui sikap kita agar tidak jatuh dalam kesombongan di saat kita mengalami sukacita karena suatu keberhasilan.&lt;br /&gt;2. Memohon pertolongan roh kudus, menerangi hati kita di kala kabut kegelapan menutupi pengenalan kita akan karunia yang sudah kita terima. Mungkin diakibatkan rasa cemburu atau iri hati dengan karunia yang dimiliki orang lain.&lt;br /&gt;3. Bersyukurlah untuk setiap karunia rohani yang bisa kita persembahkan untuk membangun kebersamaan dalam gereja Tuhan. Baling membangun dan saling melengkapi itulah yang patut dalam persekutuan setiap orang percaya. Syaloom Tuhan Yesus memberkati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Pdt. K.E. Limbong, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Maret 2006)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-8655083254573567592?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/8655083254573567592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=8655083254573567592&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/8655083254573567592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/8655083254573567592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2010/12/renungan-karunia-karunia-roh-kudus.html' title='RENUNGAN: KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS BERMANFAAT DALAM PELAYANAN UNTUK &quot;MEMBANGUN GEREJA&quot;'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-5206282483423947963</id><published>2010-11-24T10:10:00.002+07:00</published><updated>2010-11-24T10:17:08.337+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: STEP BY STEP MENYUSUN PROGRAM HURIA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Era globalisasi dan perdagangan bebas dewasa ini juga melanda gereja–gereja yang ada, juga setiap gereja–gereja tidak terkecuali HKBP dalam meningkatkan pelayanan kepada jemaatnya mereka juga sudah mempersiapkan Program dan Anggaran gereja yang canggih dan mumpuni yang menjadi patokan dalam pelaksanaan tugas sehari–hari dengan Aturan dan Peraturan yang ada. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa walaupun sudah dibuat Program dan Anggaran Gereja tetapi kadang–kadang ada juga halangan untuk tidak terlaksana sesuai dengan kondisi yang ada. Program dan Anggaran Huria yang bagaimanapun canggih dan indahnya dalam pelaksanaan selalu tergantung pada mereka yang melaksanakannya.&lt;br /&gt;Program Huria terdiri dari :&lt;br /&gt;I. Program kerja.&lt;br /&gt;a. Pelayanan.&lt;br /&gt;b. Keanggotaan.&lt;br /&gt;c. Program Rutin Gereja.&lt;br /&gt;II.  Anggaran Pemasukan dan Pengeluaran Gereja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kapan Program Dibuat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun yang lalu kalau kita berbicara soal Program Huria atau gereja untuk satu tahun dimana pada bulan Desember seharusnya sudah selesai diolah dan tepat tanggal 1 Januari tahun berikutnya maka Program Huria (gereja) untuk tahun tersebut telah benar–benar dimulai.&lt;br /&gt;Kenyataan kadang–kadang sampai bulan Februari atau bulan Maret baru Program Huria tersebut masuk ke Rapat Umum Pemegang saham alias  dibahas pada Rapat Huria atau Jemaat dan bulan berikutnya baru benar–benar dilaksanakan. Kalau ditanya program yang dilaksanakan antara Januari sampai dengan Februari itu apa dan program kalau ada yang mengusulkan agar program dan anggaran tersebut telah selesai dibahas pada bulan Desember dan diberlakukan mulai tanggal 1 Januari tahun berjalan maka jawabnya adalah Program Huria tidak sama tidak sama dengan Program Perusahaan atau Program Pemerintah ”jawabnya datar”. Seharusnya memang sebelum tanggal 1 Januari atau 31 Desember setiap tahunnya Program Huria sudah terhidang diatas meja dan tanggal 1 Januari setiap tahunnya sudah harus diberlakukan.&lt;br /&gt;Penulis terpaksa diam karena ingat lagi kata–kata lanjutannya ”yang waras eling” katanya. Syukur pada beberapa tahun terakhir ini Program Huria sudah benar–benar 1 Januari sudah mulai dilaksanakan malahan ada lompatan jauh kedepan yaitu disesuaikan dengan tutup tahun parhuriaan tutup buku Program Huria tahun 2010 adalah pada minggu tanggal 21 November 2010 pada minggu Parningotan ni angka namonding dengan tema Patar do saluhutua di ari paruhuman i. Dan program Huria tahun 2010 dimulai pada Minggu Advent tanggal 28 November 2010 dengan tema ”Naroma raja ni hatigoran i. Bravo HKBP Semper.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Isi Program&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Program Huria itu dibuat sesuai dengan kebutuhan yang ada dalam meningkatkan pelayanan kepada jemaat berupa.&lt;br /&gt;1. Pelayanan Jemaat.&lt;br /&gt;Dalam rangka pelayanan kepada jemaat dan meningkatkan komunikasi antara Parhalado (Anggota Majelis + Pendeta) kepada jemaatnya maka setiap Anggota Majelis yang melayani Jemaat didalam wilayah atau lunggu pelayanannya harus menetapkan siapa–siapa yang harus dilayani oleh seorang Majelis atau Parhalado dalam setiap lunggunya. Idealnya untuk seorang Parhalado cukup melayani 10–15 Kepala Keluarga. Hal ini dimaksudkan agar terjalin komunikasi yang lebih baik. Ingat bahwa anggota majelis itu adalah pelayan part timer bukan pelayanan full timer.&lt;br /&gt;2. Keanggotaan.&lt;br /&gt;Menjadi Anggota Gereja adalah mereka yang terdaftar dalam Taft Register (Buku Godang Gereja). Dalam buku itu jelas ditulis nama dan marga, tanggal lahir, dibaptis, lepas sidi, perkawinan, dan apakah sudah pindah ke gereja lain atau meninggal, atau mereka yang datang dalam gereja lain sesuai dengan ketentuan.&lt;br /&gt;3. Program Rutin Gereja.&lt;br /&gt;Program rutin ini sudah baku dan tidak berubah setiap tahun hanya ada variasi saja seperti Kebaktian Minggu, Kebaktian Lunggu (lingkungan) Baptis, Sidi, Perkawinan, Perjamuan Kudus, Pesta Gereja, Pastoral, Perihal Anggota Majelis, dan lain–lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siapa Dan Apa Yang Dipersiapkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Program Huria disetiap bulan September sudah diwartakan agar setiap Dewan yang ada dan Majelis Perbendaharaan dan Administrasi Gereja sudah mempersiapkan Program Huria untuk tahun berikutnya yaitu.&lt;br /&gt;A. Setiap seksi yang ada pada setiap Dewan baik Dewan Koinonia, Dewan Marturia dan Dewan Diakonia&lt;br /&gt;B. Majelis Perbendaharaan dan Administrasi Gereja (MPA).&lt;br /&gt;Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah :&lt;br /&gt;Setiap seksi yang ada dalam Dewan harus mengadakan rapat yang dihadiri setiap anggota seksi anggota Dewan yang dipimpin oleh Ketua Dewan masing-masing.&lt;br /&gt;Hal–hal yang dibahas adalah :&lt;br /&gt;1) Evaluasi atas pelaksanaan program dalam tahun berjalan dan kalau ada program yang tertunda harus dibahas pada rapat tersebut dan jalan keluarnya dan apabila tertunda karena sesuatu hal apakah masih relevan dilaksanakan tahun yang akan datang.&lt;br /&gt;2) Bagaimana dengan program yang sebelumnya tidak terprogram tetapi harus dilaksanakan berupa crash program. Hal ini bisa terjadi dan tentunya telah diputuskan dalam Rapat Parhalado Partohonan sesuai dengan kebutuhan mendesak. Berarti program itu terlaksana bisa dengan menambah anggaran atau menswitch anggaran lainnya sepanjang memungkinkan atau menunda program lainnya yang dianggap tidak mendesak.&lt;br /&gt;3) Hasil evakuasi dan Rencana kerja anggaran untuk tahun berikutnya yang telah direncanakan sebelumnya dan hal–hal yang tertunda maka Ketua Seksi masing-masing dalam Dewan yang ada membahas diantara seksi dan keputusan disampaikan kepada Ketua Dewan.&lt;br /&gt;4) Ketua Dewan mempelajarinya dan membahas dan Anggota Dewan dan ketua-ketua seksi masing–masing dan hasilnya disampaikan ke Pemimpin Jemaat.&lt;br /&gt;5) Dari Pemimpin Jemaat diserahkan ke Ketua Majelis Perbendaharaan dan Administrasi (MPA) untuk disusun sesuai dengan Dewan-Dewan yang ada dan program dari setiap seksi sesuai Dewan masing-masing dan juga rencana kerja dan Anggaran dari MPA.&lt;br /&gt;6) MPA mempersiapkan dua hal dalam penyusunan program tersebut yaitu:&lt;br /&gt;a. Bab I  adalah setiap seksi per Dewan dan MPA.&lt;br /&gt;b. Bab II  adalah pemasukan yang direncanakan untuk tahun berikutnya sumber dan jumlahnya secara terperinci.&lt;br /&gt;c. Bab III adalah rencana kerja dan sekaligus anggarannya secara terperinci menurut seksi–seksi pada dewan–dewan dan MPA.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.  Langkah – langkah berikutnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semua Rencana kerja dan anggaran atau pemasukan dan pengeluaran secara rinci akan dibahas pada Rapat Khusus Parhalado Namartohonan satu persatu lengkap dengan undangan rapat dan materi atau pokok bahasan situasi rapat. Pada rapat itu akan terjadi tawar menawar, adu argumentasi dan kadang-kadang ada juga yang menunjukan arogansi apa itu kemampuan atau kekerasan suara dan bisa juga kadang-kadang ”jugul” Misalnya sudah disepakati dalam salah tata tertib rapat adalah dimana ketua rapat mempertanyakan atau melemparkan sesuatu ”point” untuk ditanggapi oleh seluruh peserta rapat. Oleh si A diberikan pendapat tentunya ditunjukan kepada ketua rapat. Kemudian oleh si B diberikan tanggapan atas pendapat si A inilah yang Penulis yang maksudkan ”jugul” tadi karena ketua rapat meminta agar diberikan pendapat setiap orang bukan menanggapi pendapat orang lain. Rapat model begini yang membuat pembahasan program bertele – tele untuk itu diperlukan :&lt;br /&gt;a. Adanya ketegasan atas tata tertib yang ada dan tidak boleh ada penyimpangan dari tata tertib itu.&lt;br /&gt;b. Pemimpin rapat harus tegas dalam kepemimpinan tidak boleh ada kecenderungan kepada ”teman dekat” atau orang kaya atau orang yang suaranya keras. Perlu diingat bahwa masalah yang dibahas point-pointnya ada ratusan. Dan rapat lebih dari 6 jam pasti tidak efektif lagi dan usahakan cukup satu hari saja.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.  Langkah Selanjutnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai dibahas seluruh Rencana Kerja dan Anggaran maka hasil rapat ini dikembalikan ke MPA untuk diketik kembali dan sesuai dengan hasil rapat yang ada. Hasil ketikan tersebut akan dibahas oleh seluruh Anggota MPA dipimpin oleh Pendeta Ressort untuk koreksi dan kelengkapan. Setelah selesai maka MPA meminta kepada Pimpinan Gereja sbb:&lt;br /&gt;a. Kapan diadakan rapat huria untuk membahas program yang ada dihadiri oleh Pemimpin Jemaat Parhalado, Ketua-ketua Dewan dan Anggota Ketua Seksi dan Angggota-anggota Ketua dan Anggota MPA.dan seluruh jemaat yang diwakili oleh perwakilan lunggu.&lt;br /&gt;b. MPA mempersiapkan undangan dan sekaligus dimasukkan dalam Warta Jemaat yang dianda tangani oleh Pemimpin Jemaat. Dan undangan harus disampaikan kepada semua pihak.&lt;br /&gt;c. Penyampaian undangan sebaiknya dilampirkan bahan bahasan pada rapat agar bisa dipelajari terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.  Pelaksanaan Rapat Huria&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan pengalaman atas kehadiran peserta maka rapat seyogyanya dilaksanalan hari Minggu sesudah kebaktian siang. Kehadiran para Parhalado disini seharusnya ditegaskan oleh Pimpinan Rapat ”harus hadir” agar Para Jemaat pun rajin dan bersemangat untuk membahasnya. Jangan nanti sesudah rapat dimulai dan Para Parhalado sudah selesai menghitung uang persembahan satu persatu kabur pulang dengan alasan ”ada yang perlu” termasuk para Parhalado yang juga Anggota-anggota Dewan. Mungkin mereka berpendapat bahwa Ketua-ketua Dewan dan Ketua-ketua Seksi terutama Pimpinan Jemaat sudah ada? Atau ada ang berpendapat dengan alasan ”ada pekerjaan yang perlu”. Pendapat seperti ini setiap Rapat Huria pasti akan selalu dan selalu terjadi. Mungkin mereka pikir peserta rapat ini hanya orang-orang yang tidak ada keperluan atau orang yang tidak ada kerjaan barangkali atau sebaiknya khusus untuk hari minggu Rapat Huria itu setiap Parhalado sudah mempersiapkan waktunya bersama jemaat untuk membahas Program Huria. Mengingat rapat dimulai jam 12.00 maka sudah otomatis harus dipersiapkan ” sesuai etiket” makan siang untuk peserta dan nanti jam 15.00 juga harus dipersiapkan snack untuk rehat siang lengkap dengan teh atau kopi. Dalam rapat umum para pemegang saham ini Pemimpin Rapat harus tegas dalam memimpin rapat agar pembahasan tidak berlarut larut atau melebar dari pokok bahasan. Kalau rapat melebihi jam 19.00 maka anggota MPA harus jeli melihat bahwa para peserta rapat harus diberi makan agar jangan nanti pulang kerumah menjadi sakit karena terlambat makan dirumah. Rapat biasanya dibuka dengan Ende, Doa, membaca Ayat dan Doa Penutup. Kemudian Ketua Rapat membaca Aturan dan Peraturan HKBP atas Rapat Huria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  Setelah seluruh materi dibahas dan telah didapat kesepakatan maka rapat ditutup oleh Pemimpin rapat dengan kata penutup, Ende, Doa Bapak kami dan Amin. Hasil rapat itu nantinya akan ditangani oleh Ketua Rapat, Perwakilan Jemaat–jemaat 3 orang dan Pimpinan Jemaat. Apabila sudah selesai diketik ulang dan ditandatangani oleh yang berhak maka hasilnya harus disampaikan kepada para peserta atau yang mewakili.&lt;br /&gt;Dengan selesainya dibukukan dan diedarkan hasil Rapat Huria tersebut maka Program Huria itulah yang menjadi pedoman bagi seluruh unsur–unsur yang ada dalam huria untuk melakanakan tugas pelayanan dalam Gereja untuk tahun berjalan tersebut dengan harapan semua semua berjalan sesuai rencana. Tuhan bersama kita dan selamat bekerja. Amin dan Horas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Kamaruli Pohan Siahaan,tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi November 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6252381993745231687-5206282483423947963?l=buletin-narhasem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/feeds/5206282483423947963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6252381993745231687&amp;postID=5206282483423947963&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/5206282483423947963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6252381993745231687/posts/default/5206282483423947963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buletin-narhasem.blogspot.com/2010/11/artikel-step-by-step-menyusun-program.html' title='ARTIKEL: STEP BY STEP MENYUSUN PROGRAM HURIA'/><author><name>BULETIN NARHASEM</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07552375045130178404</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_e6r6jVM4ROw/Shdb34MN89I/AAAAAAAAAB8/-EKH_uKzAYg/S220/3215_1117558188358_1509112735_280276_4316456_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6252381993745231687.post-1899469517322658874</id><published>2010-11-23T07:21:00.002+07:00</published><updated>2010-11-23T07:27:28.148+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL: ATLIT GEREJA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sekilas Tentang Atlit Gereja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terkuaknya gereja pada pelayanan dan datangnya persaingan antar gereja dengan menawarkan berbagai macam suasana 'emosional' telah menghasilkan lingkungan kompetitif dalam hidup bergereja. Hal ini, mengakibatkan ibarat gereja - gereja tampak seperti dalam pertandingan di arena olimpiade. Dan tuntutan, setiap gereja adalah memenangkan pertandingan di setiap cabang olahraga. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali gereja mempersiapkan diri dan 'berdandan '. Gereja yang tau 'bagaimana berdandan ' dan 'mengapa berdandan ' adalah gereja yang tau tentang perubahan. Gereja yang mengerti-perubahan adalah gereja pembelajar.&lt;br /&gt;Gereja Pembelajar tau perbedaan antara sukses dan gagal, antara gereja hebat dan biasa-biasa saja, dan ini hanya dipisahkan oleh sebuah garis tipis - yaitu: "Apakah orang-orang dalam gereja (baca: Atlit Gereja) berlomba-lomba mewujudkan hasil melalui pertanggungjawaban individu - orang percaya". Bila ini tidak ada, berarti gereja itu lamban untuk bertumbuh. Padahal, kita tahu bahwa, pertumbuhan gereja berada pada orang-orang yang mau beIajar dan mengembangkan potensi yang Allah sudah tanamkan di dalam gereja. Bila ada gereja (baca: jemaat) senang pada kemapanan saat ini dan bersikap arogan, padahal ia tidak tahu banyak tentang perkembangan dunia luar - maka gereja itu akan tergelincir pada status 'dinosaurus’. Inilah sikap yang dengan cepat bisa membuat sebuah gereja dapat bertatanan rendah dan standar hidup kualitas iman jemaat merosot dratis. Agar itu tidak terjadi, gereja membutuhkan para ‘atlit gereja’ yaitu Jemaat  yang mau belajar dan berlatih terus-menerus.&lt;br /&gt;Dewasa ini, gereja membutuhkan orang-orang yang mau mengembangkan kualitas diri untuk mewujudkan hasil dan memposisikan diri 'di atas garis ' standar yang biasa-biasa saja. Artinya: para "atlit gereja" harus berani mengembangkan "daerah nyaman (comfort zone)" untuk berlatih dan bermainnya — melakukan diluar kebiasaannya. Menurut J. W. Von Goetthe: "yang menyenangkan dalam hidup ini adalah bukan melakukan hal-hal yang kita sukai (itu biasa), justru menyukai hal-hal yang kita lakukan (nah ini baru luar biasa).. Para atlit harus tahu bahwa, tidak mungkin mendapatkan hasil yang lebih besar dengan cara melakukan hal yang sama - begitu-begitu saja. Ini namanya insanity - alias ‘sinting'. Jadi, apa yang harus dilakukan oleh seorang atlit? — Mencari peluang-peluang baru sebagai solusi dan bersedia menerima perubahan. Dan itu juga yang Tuhan minta dalam hidup kita untuk terus-menerus "memperbaharui hidup " orang percaya.&lt;br /&gt;Tidak ada pilihan bagi para atlit gereja selain melakukan dan / atau tidak melakukan sama sekali. Kesediaan menyediakan waktu untuk berlatih dan setia melakukan prinsip-prinsip dasar tanpa mengenal lelah adalah bagian dari hidup para atlit gereja.. Termaksud "berani gagal" dalam berlatih dan bertanding. Yang penting "Jangan pernah berhenti bermain". Belajar...., berlatih...... bertanding....... dan evaluasi merupakan aktivitas yang terus-menerus dengan varian metodenya.&lt;br /&gt;Sebagai atlit gereja - kita dapat belajar dari atlit gereja yang lain. Ini penting!. Khususnya, yang memiliki "denominasi" yang sama. Terutama pada Gereja-gereja Kristen yang terhimpun dalam satu wadah yang namanya SINODE dan /atau KLASIS. Bagaimana mereka melakukan menjadikan gerejanya hebat - yang membuat jemaatnya berbondong-bondong mau belajar dan ber¬tanding dalam kancah pelayanan. Termasuk gereja kecil di pedesaan, mereka telah berbicara dan melakukan hampir dalam setiap ajang cabang olahraga. Mereka telah mensejajarkan peran dan fungsi dirinya setara terhadap gereja lain dengan gejolak perubahan-perubahan yang ada. Mereka adalah orang-orang yang memiliki rasa optimis, memiliki rasa percaya diri, dan antusiasme yang tinggi. ItuIah yang membuat image bahwa, "Anak-anak Allah dan gereja " mampu berkiprah di setiap cabang olahraga apapun. Kini, tinggal komitmen Jemaat-jemaat di  Gereja sebagai "Atlit Gereja" adakah mereka ingin melakukan yang terbaik untuk gerejanya. Karena, jemaat yang adalah 'atlit gereja' merupakan asset dan modal utama bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja, Dan Tuhan Yesus sebagai pemiliknya. Adakah Anda sebagai 'atlit' merasa kuatir dalam melayani di gereja membuat hidup Anda gagal di bidang yang lainnya?. Tentu Doa Jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fokus Diri Atlit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menjadi focus Anda dalam "melayani" sehingga, sebagai atlit gereja -- Anda mempunyai kekhasan hasrat yang kuat untuk berprestasi. Coba renungkan dari pertanyaan-pertanyaan ini: Pertama, Mengapa begitu sedikit orang yang hidup sesuai dengan potensinya?; Kedua, Mengapa begitu banyak orang berpikir 'negative' dan 'pesisme' mengenai dirinya?; Ketiga, Bagaimana Anda 'memproyeksikan' diri kedepan dalam pemikiran dan bayangkan kehidupan yang ideal?; Keempat, Apakah Anda ingin melakukan sesuatu yang hanya dilakukan oleh sedikit orang?. Mengapa Anda ingin melakukannya?. Temukanlah pada sesuatu yang dapat melayani. Fokus Atlit, juga berkembang, dan menghasil-lebih banyak. Yaitu, jemaat semua jawaban itu dan focuskan memberikan motivasi diri dalam membawa gereja menjadi sehat, kan kader-kader atau murid yang yang mensikapi "karya Allah" dengan benar dan merespon panggilan gereja untuk melayani.&lt;br /&gt;Memang, ini tidak mudah - pasti akan mengalami benturan-benturan. Tetapi, yakinlah bahwa, potensi/talenta atlit pemberian Allah - adalah asset utama - bila dikelola dengan baik dapat menjadi "saluran berkat” atau tempat belajar bagi orang lain. Kini, maukah itu menjadi fokus para atlit yang meyertai semangat menghadapi piranti-piranti pelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sikap Atlit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan gereja mencapai peringkat atas hanya dapat diraih dari kesungguhan jemaat selaku atlit melakukan kegiatan pelayanan dengan baik. Tidak dapat dipungkiri, bahwa dalam 'kompetisi' berbagai "denominasi" gereja dewasa ini, standar prestasi dari semua kontestan (yaitu: para atlit gereja) merupakan hal penting.&lt;br /&gt;Sesungguhnya, perbedaan yang sangat menentukan antara pemain terbaik dan seteru terdekatnya diperkirakan oleh banyak ahli merupakan factor psikologis utama. Misalnya: Kedewasaan Iman. Sikap, Pola Pikir, dan Mental para atlit gereja. Faktor-faktor tersebut merupakan kajian psikologi para atlit gereja yang dapat menentukan menang dan /atau kalah.&lt;br /&gt;Ada 4 faktor pokok yang dapat menentukan para atlit gereja mencapai 'sukses':&lt;br /&gt;Pertama: Sebagai titik awal (starting point) dimulai dengan Sikap (Attitudes) pribadi atlit itu. la harus mempunyai rasa sikap saya butuh untuk... ( Need to... ), sikap ingin untuk ....( Want to..), saya dapat lakukan ( Can do...), dan akan lakukan... ( Will do.....).&lt;br /&gt;Kedua: Sikap Pembelajar {Leaner) yaitu, seorang atlit terus-menerus meningkatkan pengetahuannya. Menambah wawasan / berpikir koseptual, dan senang sharing / diskusi (bukan gossip) dengan atlit-atlit yang lain. Dengan kata lain, seorang atlit gereja harus "haus akan ilmu pengetahuan ", sehingga mampu menciptakan dan menyesuaikan diri dengan perubahan situasi yang ada.&lt;br /&gt;Ketiga, Seorang atlit harus mempunyai sikap rasa senang berlatih. Memperbanyak jam latihan. Praktek..., praktek...., praktek dengan mendapat arahan dari diri sendiri dan /atau pun melalui orang lain. Apa pun bentuk latihan para atlit bukan lagi merupakan keharusan atau yang semestinya seorang atlit berlatih, melainkan suatu sikap ketetapan tanggungjawab pribadi sebagai atlit gereja. Jadi, jangan pernah berlatih 'setengah hati' bila ingin mencapai sukses dalam memenuhi panggilan gereja.&lt;br /&gt;Keempat: Seorang atlit harus mempunyai Sikap sang Juara. Semakin dekat atlit mencapai peringkat atas, semakin dekat perbaikan yang dapat dilakukan. Para atlit dalam memburu keunggulan yang dapat diraih — idealnya harus mempunyai kepentingan yang berorientasi pada hasil positif. (Causing Positive Results). Tentu, ini tidak mudah. Oleh karena itu para atlit secara teratur mengasah mata gergaji potensinya sampai pada tingkatan ketajaman tertentu.&lt;br /&gt;Atlit yang mengutamakan prestasi (Achievement driven athlete) memerlukan perkembangan jangka panjang—kosistensi tindakan. Sasaran pada kemajuan yang ajeg dalam jangka panjang, berarti latihan terus-menerus. Dan ini bisa saja sampai pada temuan potensi baru yang membawa pada prestasi (Achieve new level of performance). Semua ini dapat memungkinkan terjadi bila setiap individu atlit punyai sikap dan visi yang jelas untuk menjadi pemain yang terbaik dalam bidangnya, apapun cabang olahraga yang ditekuninya.&lt;br /&gt;Keempat Sikap diatas merupakan pemantauan dari suatu siklus pengembangan kualitas diri atlit (Cycle of Self Development) dalam mencapai prestasi. Obsesi untuk mengetahui seberapa efektivitas para atlit dapat diukur dari perputaran siklus-cycle tersebut. Dalam hal ini juga bisa berguna sebagai target motivasional para atlit. Oleh karena itu, data statistic, angka-angka, nilai, prosentase, waktu, dan data pe.rbandingan tentang pesaing adalah hal yang penting diketahui oleh atlit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melatih Diri Sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman saya tempat yang "ideal" untuk melatih diri dalam meningkatkan kualitas potensi (baca: talenta) diri adalah gereja. Tidak ada unsur paksaan dan semua yang dilakukan berdasarkan kesadaran. Tingkat kesadaran itu tidak pada tingginya pendidikan dan banyaknya pengetahuan yang orang miliki, tetapi pada tingkat "pemahaman iman". Maka, tidak heran gereja bukan sebagai tempat pilihan untuk jemaat melatih diri dalam   penentuan memaknai hidup. Padahal, gereja dapat membuat hidup menjadi salah satu inspirasi, cukup hanya dengan memiliki keberanian dan kesadaran sehingga hidup menjadi lebih bermakna. Anda dan saya sebagai atlit mempunyai otoritas memilih untuk terus melatih diri dan / atau tidak sama sekali. Saya kira, hanya visi, realisme pribadi, rencana tindakan, dan komitmen yang membedakannya antar atlit/anggota jemaat.&lt;br /&gt;Melatih diri: "Menjadi yang terbaik pasti butuh pengorbanan— baik waktu, tenaga (mau bersusah payah), pikiran ( upaya kreatifltas ), dan dana/uang. Kini, bertanyalah pada diri sendiri pengorbanan apa yang atlit&lt;br /&gt;persiapkan untuk memperoleh keberhasilan.&lt;br /&gt;Ada unsur-unsur pokok yang perlu diperhatikan saat melatih diri sendiri dan tim dalam mengembangkan keterampilan, yaitu:&lt;br /&gt;• Memberi tolok ukur (benchmark) keterampi¬lan atlit setiap menghasilkan kontribusi hasil.&lt;br /&gt;• Mengenali dan membentuk suasana positif untuk mening¬katkan potensi atau talenta.&lt;br /&gt;• Menciptakan metode/cara-cara/pendekatan baru—kreatif.&lt;br /&gt;• Menetapkan sarana/alat-alat bantu atlit berlatih.&lt;br /&gt;• Menetapkan 'penilaian' untuk motivasi kinerja individu dan tim.&lt;br /&gt;Biasanya, "ide-ide" yang disukai dan datang dari diri atlit acapkali lebih antusias untuk dilaku¬kan. Bisa saja, kesadaran datang dari sini.-selama mereka "mau". Mau bukti?. Coba saja!!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kunci Penetapan Sasaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Agar berdampak maksimal. maka atlit perlu merencanakan program sasaran pribadinya. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan vitalitas antara aktivitas lainnya dalam kehidupan.atlit. Selain itu, para atlit sungguh-sungguh menyediakan waktu-bukan sisa waktu yang ada untuk pelayanan gereja.&lt;br /&gt;Keyakinan untuk meretas belenggu kegagalan dengan melayani di gereja— perlu menetapkan sasaran pribadi yang efektif, misalnya dengan cara:&lt;br /&gt;=&gt; Kenali diri Anda: “Realisme", saat ini seperti apa dan tetapkan dimasa depan maunya seperti apa.&lt;br /&gt;=&gt; Buatlah sasaran khusus: Pilihlah prioritas dan tentukan kerangka waktu.&lt;br /&gt;=&gt; Buatlah sasaran itu menantang: Idealnya, sasaran menuntut upaya yang gigih dan merasa streg dengan kemungkinannya.&lt;br /&gt;=&gt; Buatlah sasaran itu positif dan luwes dan Komitmen / disiplin untuk melakukannya.&lt;br /&gt;=&gt; Tulislah sasaran: Kembangkan daftar terperinci mengenai kemungkinan seluruh sasaran. Bagilah tujuan besar menjadi yang lebih kecil.&lt;br /&gt;Semua penetapan sasaran ini adalah cara menciptakan keunggulan - untuk menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;Dan penetapan sasaran ini juga merupakan piranti potensial untuk menggerakkan orang dan mendaya gunakan sumber daya. Kini, tetap¬kan sasaran Anda dan lakukanlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jadikan Standar Kualitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hasil bisa saja salah arah. Kemenangan bukanlah segala-galanya. Fokus rerpenting terletak pada kualitas tim pelayanan; diukur dari standar pribadi seorang atlit.&lt;br /&gt;Peningkatan standar pelayanan gereja bisa dilihat sebagai bagian proses persiapan yang matang dan menuntut tim dan individu atlit memecahkan rekor yang sama. Tentukan standar kualitas pelayanan dan sosialisasikan. Dan pastikan, orang lain tidak curiga atas standar pelayanan yang Anda lakukan. Karena, jika tidak, akan menimbulkan rentan relasi antar atlit dan tentu ini mengganggu pelayanan secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Stadar kualitas pelayanan memperhatikan rincian yang sekecil-kecilnya. Kemampuan mengorganisir diri untuk rnembangkitkan peluang sukses yang maksimal.&lt;br /&gt;Bertindak 'diluar zona' (daerah nyaman -Comfort Zone) merupakan suatu tindakan yang insprasional. Dan biasanya membutuhkan:&lt;br /&gt;• Energi Fokus /Antusiasme.&lt;br /&gt;• Berani Menerima Resiko.&lt;br /&gt;• Memiliki Keyakinan /Optimis&lt;br /&gt;• Berorientasi Hasil&lt;br /&gt;• Membangun Habit Baru.&lt;br /&gt;• Berpikir Positif-Ada Keinginan untuk mencoba&lt;br /&gt;Gereja yang berorientasi target, seperti seni memanah menuntut kemampuan mempertahankan konsentrasi terhadap target ketika berhadapan dengan aneka hambatan /gangguan internal dan eksternal, seperti keengganan atas kesadaran ikutserta kegiatan, dan hembusan angin dari luar mengenai keimanan.&lt;br /&gt;Banyak tugas gereja yang menuntut "fungsi dan peran " atlit (jemaat) untuk membangun gerejanya. Fokus pada target dan konsentrasi pada solusi adalah jawaban untuk mengelola sebuah masalah. Jemaat sebagai pelaku gereja menentukan rekor keberhasilan gereja yang diraih melalui proses waktu dan tindakan-tindakan individu jemaat.&lt;br /&gt;Keterlibatan para atlit secara menyeluruh, berani mengambil risiko, dan sungguh-sungguh mendayagunakan kehandalan (powerful) menjadikan gereja pada zona perubahan yang melampaui standar biasa-biasa saja.. Terutama perubahan dalam persepsi bahwa. melayani di gereja membuat semuanya gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengukur Segala Sesuatu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika olahragawan berlatih untuk olimpiade, mereka pasti  mempunyai satu tujuan dalam benaknya. Untuk memenangkan medali emas. Tak seorangpun menjalani latihan yang sulit selama bertahun-tahun cuma untuk mengidamkan medali perunggu. Hal yang sama terjadi dalam “gereja" Anda. Anda harus berjuang menjadi yang terbaik. Untuk melakukan itu, Anda harus memperbaiki yang terbaik daripribadi Anda— terus-menerus.&lt;br /&gt;Untuk mencapai perbaikan nyata, Anda harus terus-menerus mengukur kinerja pelayanan Anda, jika tidak Anda tidak mempunyai gagasan kemajuan anda. Dalam "gereja"seperti: "kualitas, kuantitas, biaya, waktu, dan kecepatan adalah factor kunci untuk mengikuti perubahan atau perkembangan. Patokannya adalah rata-rata gereja -gereja yang sudah "maju”. Kita dapat belajar dari mereka. Ini dapat mengilhami cara kita melakukan pelayanan gereja melalui kegiatan-kegiatan yang kita ciptakan— dan dapat mengukur dengan macam-macam bentuk pengukurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kendala Atlit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kendala atlit yang paling berat datang dari dalam diri sendiri, yaitu: "Rasa Malas". Kalahkan musuh (rasa malas) dari dalam —banyak atlit lebih khawatir dengan lawan seperti ini daripada yang lain. Mengungguli 'musuh dari dalam' sama dengan kemampuan pimpin diri (self-direction) yang lebih baik. Artinya; mengkonfrontasikan "rasa malas (negativitas)" berhadapan dengan "motivasi diri (positivitas)".&lt;br /&gt;Kendala lain adalah: "Rasa Takut". Atlit lebih senang cari aman dan nyaman'. Tidak mau menerima tanggungjawab—tak pernah menyandarkan diri pada bakat -karunia Sang Khalik. Mengapa begitu sedikit atlit yang hidup sesuai dengan potensinya?. Ada banyak alasan atlit tidak mengembangkan potensinya dan tidak melakukan sesuatu. Satu diantaranya adalah: "takut mencoba, takut gagal, dan takut pengorbanan diri". Akibatnya, banyak atlit hanya menonton dan komentar tentang sesuatu yang dilihatnya - ketimbang melakukan permainan dan menciptakan solusi-soiusi yang baru untuk mencapai prestasi.&lt;br /&gt;Ada atlit gereja (Jemaat) ingin me¬layani tetapi ia sudah berpikir negatif terlebih dahulu tentang dirinya dan lingkungannya. Merasa tidak mampu, tidak punya ini-itu, merasa dirinya orang 'bodoh', dan lainnya. Atasilah pemikiran negatif dan gantilah, semuanya, dengan pandangan yang lebih positif. Singkirkan sikap pesimis tetapi tetaplah pada sentuhan realitas dengan penuh optimisme. Karena hanya dengan demikian, para atlit dapat memisahkan motivasi dari tekanan situasi dirinya. Bedakan tantangan dari tekanan (hambatan) yang tak perlu. Kenalilah ragam hal ini dari keadaan. Kini, yang penting adakah kamauan Anda mencoba maka, semua akan terjadi dengan sendirinya, Ubahlah "kendala" menjadi "peluang". Jadilah optimis secara realities. Dan sediakan waktu untuk selaln-mengelolah diri Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Penulis adalah Puthut D. Rahardjo, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Oktober 2005)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1'
