Selasa, 14 Juli 2009

ARTIKEL: MENEMUKAN KEHENDAK ALLAH

Sering orang berkata, “Apa yang akan terjadi di masa depan, terjadilah.” Sepintas ungkapan ini mengkomunikasikan semacam fatalisme yang tidak memberi jalan keluar. Teologi agama lain sering kali menyebut peristiwa tertentu itu sebagai “kehendak Allah”. Mari kita melihat beberapa prinsip tentang ‘kehendak Allah’ dalam hubungannya dengan penggapaian masa depan:
Pertama, kehendak Allah (Ibr.10:5-7,9; I Yoh.2:17) harus dimengerti dengan satu dasar pengertian yang paling penting, yaitu Allah kita adalah Allah yang berdaulat!. Yesus Kristus memberikan kedaulatan Allah terhadap masa depan dengan berkata, “bukan kehendak-Ku yang jadi, melainkan kehendakMulah yang jadi (Mark.14:36; Luk.22:42). Jika kita mengakui kedaulatan Allah dan mengakui diri kita hanya sebagai salah satu ciptaan-Nya yang kecil dan seharusnya hidup di dalam ketaatan akan pengaturan tangan Allah, barulah kita mempunyai kemungkinan hidup sebagai orang Kristen yang mau menjalankan kehendak Allah masa kini dan masa depan.
Kedua, ada tiga karya Allah yang paling besar: Allah yang sejadi adalah Allah yang mencipta, menebus, dan yang mewahyukan Diri. Kita harus menyerahkan kehendak dan masa depan kita ke dalam kehendak-Nya. Mati dan hidup kita ditentukan oleh Tuhan.
Ketiga, ada beberapa tingkatan dalam kehendak Allah yang berdaulat:
1. Rencana Allah. Orang Kristen harus mengerti bahwa Bapa kita di sorga mempunyai rencana yang baik bagi kita (Rom.8:29). Berdoalah baik-baik, agar hidup kita sesuai dengan rencana Allah. Allah mempunyai rencana dan rencana Allah mempunyai prinsip-prinsip yang harus dipelajari hanya dari Kitab Suci;
2. Pengaturan Allah. Selain merencanakan, Allah juga menginginkan agar rencana-Nya berhasil dan digenapi. Pengaturan Allah kadang-kadang sesuai dengan keinginan kita, tetapi kadang-kadang sama sekali berlawanan dengan keinginan kita. Pengaturan Tuhan membawa kita kepada keindahan yang akan kita temukan di dalam rencana Allah;
3. Pimpinan Allah. Roh kudus memimpin manusia, sehingga manusia mengetahui bagaimana berjalan menurut kehendak Allah. Roh kudus memimpin tempramen atau karakter dan segala sesuatu yang ada pada kita menuju ke arah yang benar. Dengan demikian, potensi diri kita disalurkan dengan baik. Kehendak Allah dan pimpinan Roh Kudus adalah dua hal yang berbeda: a. Pimpinan Roh Kudus bersangkut paut dengan pribadi seseorang (personal), sedangkan kehendak Allah adalah hal yang global (universal), b. Pimpinan Roh Kudus ada di dalam wadah sejarah yang bersifat dibatasi oleh waktu, sedangkan kehendak Allah itu ada dari kekal sampai kekal; c. Kehendak Allah bersifat mutlak, pimpinan Roh Kudus bersifat relatif. Pimpinan Roh Kudus membawa individu yang berada di dalam satu waktu yang sementara, kembali kepada rencana Allah yang global, mutlak dan kekal. Dengan demikian, orang yang dipimpin Roh Kudus menjalankan kehendak Allah. Contoh kehendak Allah, kabarkan Injil keseluruh dunia, Pimpinan Roh kudus memimpin orang mengabarkan injil melalui profesi sebagai pendeta, penginjil, pengajar, awam, dsb. Kita akan tahu bagaimana Tuhan memimpin, jika kita taat kepada firman-Nya;
4. Ijin Allah. Kadang-kadang apa yang Allah perbolehkan bagi kita, bukanlah kehendakNya yang paling indah; dan
5. Allah membiarkan. Orang yang dibiarkan Allah akhirnya akan dibuang dan dihukum oleh Allah sampai binasa
Keempat, ada beberapa langkah-langkah mencari kehendak Allah (I Yoh.3:19,20; Kol.3:15; 1 kor.6:12;1 Kor.10:23,24,31; Yoh.7:17). Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk menjalankan kehendak Allah lebih daripada memiliki karunia dan talenta dan memakai nama-Nya di dalam melakukan pelayanan.
1. Tidak ada jalan pintas untuk mengenal kehendak Allah. Tidak ada jalan pendek. Yang ada adalah menurut jalan yang sudah ditetapkan dalam prinsip-prinsip Alkitab! Jikalau manusia tidak mungkin mengenal kehendak Allah, maka Allah tidak perlu mewahyukan Alkitab kepada kita. Allah tidak perlu susah payah melewati ±1600 tahun dengan 40 orang nabi dan rasul mencatatkan-Nya bagi kita masing-masing. Mengenal kehendak Allah secara tepat dan total melalui membaca Alkitab secara keseluruhan, bukan cepat-cepat. Adalah bijak apabila kita menuruti nasihat John Calvin yang mengatakan “Pada waktu Allah menutup mulut-Nya yang kudus, saya akan berhenti untuk bertanya.” Tanda kerohanian yang baik terlihat pada orang-orang yang mencari kehendak Allah yang sudah dinyatakan dalam kehendakNya yang dapat dikenali. Adalah orang yang cinta Tuhan yang merenungnkan hukum Allah siang dan malam. Pada waktu kita diminta untuk dipimpin oleh Roh Kudus, kita harus ingat bahwa yang terutama dikerjakan oleh Roh Kudus adalah memimpin kita kepada kebenaran. Kita dipanggil untuk hidup berdasarkan setiap Firman Tuhan yang keluar dari mulut Allah. Apa yang telah dinyatakan oleh Allah merupakan urusan, bahkan urusan kita yang utama,
2. Mengenal Kehendak Allah secara Total. Apa yang Allah inginkan agar manusia mengerti kehendak dan rencananya secara total? a.Menjadi murid yang mau mendengar dan taat. Yang terpenting adalah mendengar Firman Tuhan dan prinsip-prinsip Alkitab untuk mengenal rencana Allah secara total. Langkah pertama yang penting adalah menetapkan dulu untuk taat, b.Berada di dalam jalur Alkitab. Tidak mungkin ada sesuatu yang dikatakan kehendak Tuhan tetapi bertentangan dan di luar jalur Kitab Suci;
3. Jangan mengabaikan prinsip-prinsip Alkitab. Alkitab memang tidak menyatakan berbagai hal secara jelas, tetapi Paulus memberikan 3 prinsip Alkitab terhadap hal-hal demikian: 1). Aku boleh berbuat segala sesuatu, tetapi harus memuliakan Allah, 2). Apakah yang saya lakukan ini berfaedah dan membangun orang lain?, 3). Tidak ada ikatan yang akan membatasi atau membelenggu;
4. Sejahtera Kristus memerintah di dalam hati. Hati nurani kita yang sudah dubaharui dan dibersihkan oleh darah Yesus Kristus akan menjadi hati yang peka terhadap suara Roh Kudus;
5. Proses pengujian. Cari kehendak Allah dalam suatu pengujian dengan berdoa setia tanpa pengaruh dengan unsur luar;
6. Berdiskusi dan rendah hati mencari pengertian dari mereka yang dewasa rohaninya; dan
7. Tunggu dan sabar akan waktu Tuhan. Kadang-kadang semua prinsip sudah kita jalankan dan tidak ada yang terlanggar, tetapi kita mesti menunggu sampai suatu hari kita akan jelas mengerti waktu Tuhan untuk bertindak.
Kelima, penggenapan kehendak Allah (Ibr.10:7, Luk.22:42-43, Kis.13:36. Ibr.10:36). Memang tidak mudah untuk mengetahui kehendak Tuhan. Jika kehendak Tuhan tidak dinyatakan kepada kita dan kita tidak mempunyai kerelaan untuk taat, maka Roh Kudus tidak akan menyatakan kehendak Allah ke dalam hati kita masing-masing. Tetapi Roh Kudus akan memimpin kita melalui Kitab Suci yang sudah Tuhan wahyukan kepada kita. Kita akan melihat contoh bagaimana Kristus menjalankan kehendak ALLAH:
1. Seumur hidup berjalan dalam kehendak Allah. Yesus datang dengan satu tujuan: menjalankan kehendak Allah! Ini merupakan suatu contoh, suatu keutuhan arti hidup bagi setiap orang yang hidup di dalam Yesus Kristus. Jikalau kita mengatakan “Kita di dalam Kristus”, tetapi kiat tidak meneladani Tuhan kita, itu adalah omong kosong! Jikalau kita mengatakan bahwa kita milik Kristus, tetapi kita tidak menjalankan apa yang dijalankan oleh Yesus, itu bohong! Gereja dan setiap orang Kristen hendaklah melihat teladan yang paling sempurna, teladan manusia sejati, dimana di dalam DIA Allah berkenan. Allah berkata, ”Lihatlah HambaKu yang Kupilih, yang Kuperkenan.” Di dalam DIA terdapat perjalanan kehendak Allah;
2. Memprioritaskan Kehendak Allah. Teladan Tuhan Yesus dalam Doa Bapa Kami, “Jadilah KehendakMu di bumi seperti di sorga.”,
3. Tidak menjalankan kehendak sendiri. Tuhan Yesus di dalam seluruh tutur kata, tingkah laku dan perbuatan, sama sekali tidak mau melakukan kehendak-Nya sendiri; 4
4. Taat di dalam pergumulan. Hidup itu ada pasang surutnya. Tidak ada hari-hari yang terus terang benderang. Kadang-kadang matahari bersinar, kadang-kadang berawan gelap. Kadang-kadang hujan deras dan angin ribut datang. Jangan mengira hidup kita lancar terus. Kadang-kadang melayani Tuhan lancar sekali, kadang-kadang pelayanan kita seperti tidak digubris, tidak ada respons yang baik. Seperti yang dikatakan oleh Martin Luther, bahwa “pengenalan kita kepada Allah dan kehendak-Nya tidak akan pernah maju tanpa pergumulan, pertentangan dan pencobaan”. Allah megijinkan semuanya itu terjadi untuk membuat kita semakin mengenal Dia dengan kuat kuasaNya;
5. Taat sampai mati. Ia telah menyimpulkan seluruh hidupNya dengan cara doa yang begitu taat kepada Tuahn. “Bapa, jika Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaKu, tetapi bukan kehendakKu, tetapi kehendakMu yang terjadi.” (Luk.22:42). Yesus berdoa karena Ia harus meminum cawan murka Allah. Yesus meneladankan suatu kehidupan yang total taat, yang menjadi “wakil kedua” umat manusia. Di taman Eden kita mendengar seruan di dalam hati manusia: “Bukan kehendakMu, tetapi kehendakKu yang terjadi”. Sebaliknya di taman Getsemani kita mendengar seruan Manusia kedua: “Bukan kehendakKu, tetapi kehendakMu yang terjadi”. Cawan murka Allah betul-betul tidak Tuhan singkirkan. Berarti, kadang-kadang doa kita tidak dikabulkan oleh Tuhan. Tuhan memang tidak menyingkirkan cawan itu, tetapi Tuhan memberikan kekuatan agar Yesus meminum cawan itu hingga tetes terakhir demi menanggung dosa kita. Inilah teladan Tuhan kita, teladan Penebus kita. Dari keadaan seperti ini, kita baru tahu bagaimana hidup menjadi orang yang menjalankan kehendak Tuhan.
Sudahkah saudara rela menjadi Seorang Kristen yang memikul Salib, menyangkal diri, ikut Dia, dan mau menjalankan kehendak Tuhan? Sudahkah saudara menyediakan hati untuk menyingkirkan segala kamauan sendiri dan kemauan Setan yang selalu mengganggu dan merongrong hidup saudara? Maukah saudara mengundang Tuhan Yesus untuk masuk ke dalam ahti saudara dan meminta Dia memimpin hidup saudara? Maukah saudara menyerahkan masa depan Saudara kepada Tuhan Yesus, baik di dalam perkuliahan, pekerjaan, jodoh, pernikahan, dan di dalam semua bidang kehidupan saudara untuk Dia pimpin? Pada alkhirnya, jikalau kita mau menyerahkan semuanya kepada Dia, maka kita akan menggapai masa depan yang sesuai dengan kehendak Allah, yang akhirnya semua hormat, pujian dan kemuliaan kembali kepada Dia, Allah Tritunggal Yang Esa. Amin!

(Penulis adalah Ps. Joner Sihombing, S.E., M.Div., disadur dari buku “Bagaimana Mengetahui Kehendak Allah?”—Pdt. DR. Stephen Tong, dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Mei 2004)

Jumat, 03 Juli 2009

RENUNGAN: SAMUEL MENJADI PELAYAN TUHAN

"Lalu pulanglah Elkana ke Rama, tetapi anak itu menjadi
pelayan Tuhan dibawah pengawasan Imam Eli" (I Samuel 2 : 11)

Samuel adalah jawaban doa dari seorang wanita mandul yang bernama Hana. Elkana suaminya sangat mengasihinya. Kedua orang ini takut akan Allah. Pada waktu-waktu tertentu mereka mengunjungi Silo untuk beribadat. Namun perasaan Hana jauh dari perasaan bahagia karena Penina madunya, istri kedua Elkana menyakiti hatinya. Poligami diperkenankan menurut hukum Musa (Ulangan 21,15-17) tetapi hal itu bukanlah kehendak Allah (band. Matius 19, 3-18). Hal itu dapat menyebabkan kedukaan yang besar, sebab kemandulan bagi wanita Israel merupakan kehinaan.
Pengalaman pahit dan tekanan yang dialami oleh Hana sebagai wanita mandul, itulah yang mendorong dia menyerukan permohonan doa khusus kepada Tuhan Allah agar ia dianugrahi seorang putra. Hana bernazar bahwa apabila dia dianugrahi seorang anak, akan dipersembahkan kepada Allah sejak masa kanak-kanak. Keputusan itu menyatakan dengan jelas bahwa Samuel adalah alat istimewa Allah, bukan saja bagi Hana tetapi juga untuk segenap bangsa Israel.

1. Samuel bertumbuh dalam pengawasan Imam Eli
Kelahiran Samuel bukanlah kelahiran biasa, namun menunjukkan ketulusan orangtuanya untuk menepati janjinya kepada Tuhan. Sungguh luar biasa, anak yang sejak lama dirindukan, dipergumulkan dan dinanti-nantikan, justru diberikan kepada Tuhan dalam usia yang masih sangat muda (habis disapih/cerai susu kira-kira 2 tahun). Sesungguhnya Hana masih ada kesempatan memperpanjang waktu bersama dengan Samuel anaknya dengan banyak alasan, misalnya menunggu pandai bicara, mengerti baik dan buruk atau alasan kemanusiaan yang lain. Namun Hana konsekwen dengan janjinya kepada Allah dan Elkana suaminya tidak menghalangi ketulusannya. Demikianlah Samuel diserahkan ke rumah Tuhan dan diasuh dalam pengawasan Imam Eli. Secara materi Hana tidak ambil keuntungan sebab apa yang patut dia berikan sebagai persembahan kepada Allah dibawanya dengan tulus tanpa banyak komentar. Seekor sapi, satu efa tepung (36 liter) dan sebuyung anggur (fsl 1:24). Dalam kunjungan selanjutnya, Hana dan suaminya datang setiap tahun dan membawa jubah kecil dan korban sembelihan tahunan. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa dalam usia kanak-kanak Samuel telah dianugrahi Wahyu Ilahi tentang kejatuhan keluarga Eli (3:21).

2. Mengapa Allah tidak memanggil anak-anak Imam Eli?
Bagian yang sangat menarik dari Samuel dalam usianya yang masih muda disimpulkan dalam I Samuel 2: 26. "Tetapi Samuel yang masih muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik dihadapan Tuhan maupun dihadapan manusia. Selanjutnya "Samuel terpanggi F'(fsl 3) dimana Allah sendiri mau berbicara kepadanya,dengan memanggil namanya : Samuel ! Samuel!. Dia sendiri tidak tahu bahwa tu adalah suara Allah. Dia datang kepada Imam Eli dan berkata : "Ya Bapa, bukankah bapa memanggil aku?. Tetapi Eli berkata: "Aku tidak memanggil" tidurlah kembali. Suara itu memanggil Samuel hingga ketiga kalinya dan berfikir bahwa suara itu adalah suara Imam Eli. Barulah Eli mengerti bahwa itu adalah suara Allah. Akhirnya Imam Eli menyarankan kepada Samuel : Bila suara itu masih memanggil engkau, katakanlah : Berbicaralah Tuhan, sebab hambaMu ini mendengar. Itulah proses panggilan Allah terhadap Samuel. Disini yang sangat menyakitkan adalah justru Samuel harus memberitahukan hukuman Allah terhadap Keluarga Eli atas dosa dan kejahatan anak-anaknya dimana Hofhi dan Pinehas tidak lagi mengindahkan Tuhan, atau pun batas hak para Imam terhadap bangsa itu.
Allah mengatakan, bahwa anak Eli itu telah menghujat Allah tetapi dia tidak memarahi mereka. Sebab itu Aku telah bersumpah kepada keluarga Eli, bahwa dosa keluarga Eli takkan dihapuskan dengan korban sajian untuk selama-lamanya. Hal ini menjadikan Samuel terdiam, dia tidak memberitahukanmya kepada kepada Imam Eli, hingga Imam Eli berkata . '”jangan engkau sembunyikan kepadaku. Kiranya beginilah Allah menghukum engkau, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika engkau menyembunyikan sepatah katapun kepadaku, dari apa yang disampaikanNya kepadamu itu. Barulah Samuel memberitahukan semua itu kepada Imam Eli.
Hal ini bisa jadi pelajaran kita semua: bahwa tidak selamanya anak-anak seorang Imam otomatis menjadi orang-orang yang disukai Tuhan jika orangtuanya tidak berusaha mengajarkan hal-hal yang baik dan mengimbangi dengan kontrol waktu atau pengawasan dari orangtua itu sendiri. Sebaliknya tidak semua anak orang awam bisa mengenal perintah Tuhan jika orangtua tidak berusaha untuk mengajarkannya kepada anaknya tersebut. Usaha orangtua "Samuel 'yang takut kepada Tuhan, itulah yang menjadikan Samuel berharga dimata Tuhan. Dengan demikian semua orangtua mempunyai peran yang sama terhadap masa depan anak-anaknya, baik parhalado (Pdt, Gr, Bv, Diakones, Evanggelis dan Sintua) demikian juga kaum awam (Ruas ni Huria). Parhalado dan Ruas ni Huria harus bertanggungjawab terhadap keselamatan jiwa anak-anaknya dan memperkenalkannya kepada keselamatan yang dari pada Allah sendiri. Sebab jika kelakuan seorang anak yang sudah sampai menyakiti hati Tuhan, maka Allah akan mendatangkan bencana. Hukuman atas dosa kejahatan manusia berlaku bagi semua orang, baik parhalado (Imam) maupun warga jemaat (awam). Inilah alasan yang kuat mengapa anak-anak Eli tidak dikenan Allah. Tuhan menolak Hofili dan Pinehas karena menghujat Allah dengan perilaku yang tidak dikehendaki Tuhan (dursila).

3. Remaja dan Naposobulung HKBP Terpanggil Menjadi Pelayan Tuhan
Ada kesalahan yang tidak disadari oleh Imam Eli sebagai orangtua. Saat Hofhi dan Pinehas tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu kemah pertemuan, ia hanya berkata :Kenapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dan segenap bangsa ini tentang perbuatanmu yang jahat itu. Janganlah begitu anak-anakku (fsl 2:23-24). Anak-anak itu tidak lagi mendengar nasehat Eli karena Allah hendak mematikannya. Sebab dosa pelanggaran mereka sudah sedemikian besar,tetapi nasehat Imam Eli ringan saja (tidak memarahi mereka, band. 3:13).
Sangat berbeda dengan Samuel yang tercatat sebagai:
a. Hakim terakhir dan terbesar (Kis 13:20)
b. Yang pertama dari antara para Nabi (Kis 13:24)
c. Pada zaman Perj.Lama dianggap tokoh terbesar sesudah Musa (Yer 15,1)
d. Dalam ke Imaman sebagai pengganti Imam Eli, hanya dia yang diberi wewenang mempersembahkan korban (I Sam.l3:13)
Kepada "Remaja dan Naposobulung HKBP Semper", sekarang kamu bisa mengambil hikmatnya sebagai pelajaran bagi dirimu, mau seperti anak-anak Eli (Hofni dan Pinehas) atau Samuel?. Orang-orang muda tersebut berada di rumah Tuhan: Anak-anak Eli (Hofiii dan Pinehas) menikmati enaknya saja, tidak menjaga kekudusan dirinya dan tidak mengindahkan tegoran manusia dan orangtuanya. Akhirnya dibinasakan Allah. Sementara Samuel melayani Tuhan dengan tulus dan selalu mendengar perintah orangtua (kesediaannya datang kepada Eli yang dianggapnya sebagai bapa, saat suara itu datang, itulah yang merupakan awal dari pengenalannya akan suara Tuhan) dan akhirnya dia dipakai oleh Tuhan secara luar biasa.
Untuk itu kita diajak melayani Tuhan dengan tulus hati melalui potensi (Talenta) yang ada dalam diri kita masing-masing sebagai persembahan yang harum bagi Tuhan. Mari kita saling memberi dukungan dan saling menghargai, sebab dihadapan Tuhan kita adalah sama. Perbuatan baik dan dosa pelanggaran kita tidak terkecuali, akan dicatat dan tidak bisa diganggu gugat, baik parhalado (Imam) maupun awam (warga jemaat) dihadapan Tuhan tidak ada yang tesembunyi, sebab Dia adalah yang Maha Tahu. Oleh sebab itu mari kita manfaatkan masa muda kita untuk memuliakan Tuhan. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati! Syalom.

(Penulis adalah Pdt. Kalvin Effendy Limbong –Mantan Pendeta HKBP Resort Semper-, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Maret 2005)