Jumat, 06 November 2009

ARTIKEL: HKBP MENYONGSONG ULTAH 150 TAHUN

Luapan sukacita dalam mensyukuri bertambahnya usia senantiasa menjadi moment yang tidak terlupakan. Ucapan selamat yang disertai dengan doa dan harapan membuat semakin sempurna rasa kebahagiaan. Tekad untuk meraih masa depan yang lebih baik dirasakan semakin membara karena adanya dukungan dari banyak orang yang mengasihi.
Sesuai dengan Rencana Strategis HKBP (Renstra), yang menjadikan tahun 2010 sebagai tahun Sekretariat HKBP dan merupakan tahun Pra Jubelium 150 tahun HKBP pada 7 Oktober 2011, ucapan “SELAMAT ULANG TAHUN 150 TAHUN HKBP” akan terdengar diberikan banyak orang, Gereja maupun lembaga-lembaga pendidikan untuk sukacita besar ini. Persiapan untuk menyambut perayaan ulang tahun tersebut tentunya sudah dilakukan HKBP jauh-jauh hari sebelumnya. Sebagai Gereja yang besar dan tertua di Indonesia, pertambahan usia akan selalu mengajak HKBP untuk mengingat sejarah berdirinya yang penuh dengan perjuangan dan usaha-usaha untuk menjadikan HKBP sebagai lembaga keagamaan yang dapat mewujudkan kasih Allah sehingga dunia sekitar menjadi diberkati.
Secara khusus dalam menjalankan misi dan visi pelayanan HKBP, dalam Rapat Pendeta HKBP, 3-7 Agustus 2009 yang mengangkat tema “Hendaklah kamu murah hati seperti Bapamu murah hati” (Lukas 6:36) dan Sub Tema “Pendeta HKBP terpanggil meningkatkan kebersamaan terhadap sesama Partohonan dan memberdayakan anggota jemaat menjadi berkat di tengah Gereja, masyarakat, dan bangsa pada Era Global”, tersirat suatu hasrat agar HKBP tetap eksis dalam menyikapi perubahan zaman di arus globalisasi. Itu akan dapat terlaksana dengan adanya kesatuan pandangan (komitmen) para pendeta/pelayan HKBP sebagai perangkat utama dalam mewujudkan tujuan kehadiran HKBP di dunia. Arus globalisasi yang membuat terjadinya perubahan-perubahan secara radikal dan tidak terbatas telah mengakibatkan terjadinya perubahan perilaku, budaya bahkan peradaban dunia secara drastis. Perubahan-perubahan mendasar dalam aspek kehidupan menuntut para Pendeta HKBP dapat berperan sebagai “pemberi jalan keluar” atas semua persoalan yang dihadapi jemaat. Perubahan ini menantang para pendeta HKBP untuk membenahi diri dalam misi pelayanannya agar tidak larut dalam ritus peribadahan tetapi siap memasuki, mendampingi, menyikapi, serta menguatkan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan jemaat.
Keberadaan HKBP di tengah-tengah dunia yang berubah begitu cepat dan dibarengi dengan munculnya persoalan-persoalan zaman telah menghadirkan suatu pertanyaan besar “perubahan apakah yang dibawa HKBP (pendeta)” untuk keadaan dunia yang lebih baik? Bagaimanakah pelayanan HKBP dilakukan sejalan dengan arus globalisasi ? HKBP harus menggumulinya dan menyikapinya dalam “terang Firman Allah” dan dipahami dengan pendekatan kontekstual. Arus globalisasi telah membuat HKBP tidak sekedar merenungkan situasi zaman yang terus berubah tetapi menjadi tantangan bagi para pendeta HKBP dalam konteks berKoinonia, berMarturia dan Berdiakonia. Memberdayakan jemaat dengan mengembangkan segala potensi yang ada adalah kekuatan besar pelayanan para pendeta HKBP dalam menghadapi perubahan-perubahan zaman akibat era globalisai. Artinya jemaatpun harus disadarkan atas realitas yang terjadi dan menolong mereka dalam memberikan solusi. Tentunya dalam pemberdayaan jemaat ini harus mengacu pada Karya Penyelamatan Allah dalam relasi dinamis dengan konteks kehidupan yaitu kedatangan Kerajaan Allah di dunia.
Dalam pelayanannya, HKBP harus mampu menemukan integritas pelayanan sebagai saksi Kristus yakni yang mampu menterjemahkan kabar keselamatan dalam realitas dan tantangan global. Membangun komunitas jemaat sebagai kekuatan spiritualitas, menumbuhkan semangat penginjilan dan tanggung jawab dalam diri jemaat ditiap sektor kehidupan, serta memperjuangkan kaum miskin, tersingkir, tertindas sebagai tindakan keberpihakan Gereja (Lukas :18-19). Ini juga yang dilakukan Tuhan Yesus semasa hidupNya, memperjuangkan hak-hak orang-orang yang tersingkirkan dan terabaikan oleh dunia. Pelayanan Tuhan Yesus tidak hanya bersifat ke dalam (internal) yaitu yang hanya memperhatikan umatNya (Israel) tetapi juga bersifat keluar (eksternal) yaitu bagi bangsa-bangsa lain sehingga karya keselamatan bisa dimiliki oleh semua orang.
Sebagaimana realitas arus global yang memaksa dan membuka pengaktualisasian pelayanan yang sesungguhnya membuat HKBP dalam menyongsong 150 tahun kehadirannya di dunia harus segera memperlengkapi diri menjadi Gereja yang peduli dan siap untuk melayani ditengah-tengah perubahan yang ada. Kesatuan komitmen para pelayan (Pendeta, Guru, Diakones, Bibelvrow) dan kekuatan komunitas jemaat yang didasarkan atas panggilan Allah sebagai “garam dan terang dunia” akan memampukan HKBP melakukan banyak hal yang berguna bagi kemanusiaan dan menjadi hormat kemuliaan bagi Tuhan Yesus Kristus, Amen !

(Penulis adalah Pdt. Linda Christine Lumbantobing, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Oktober 2009)

Jumat, 30 Oktober 2009

ARTIKEL: ALL ABOUT SIDI (5W+1H) DAN APA HUBUNGAN SIDI DENGAN PRASYARAT NIKAH

Katekisasi Sidi (sebutan yang sering disebut dalam bahasa Batak: Parguru Manghatindanghon Haporseaon-PMH) kesempatan mendalami firman Tuhan sekaligus membangun karakter seorang remaja agar lebih dewasa mengikuti Tuhan Yesus Kristus dengan setia. Maka menurut hemat saya harus diberi kesempatan bagi mereka mengikuti pembelajaran sesuai dengan silabus (Kurikulum) yang dipersiapkan Gereja masing-masing. Pemahaman sebahagian orang bahwa katekisasi sidi kesempatan untuk mendapatkan ijin menikah, ada juga yang mengasumsikan memperoleh sertifikat lepas tanggung jawab dari orang tuanya. Yang benar bahwa dalam Katekisasi sidi sebenarnya bukanlah hal itu tetapi adanya suatu masa pembinaan bagi remaja agar menjadi lebih dewasa iman untuk melakukan kewajiban sebagai pengikut Kristus. Maka dia harus dibimbing agar semakin mengenal Yesus Kristus dan kabar sukacita dalam Alkitab, bertumbuh dalam kepercayaan dan pengakuan iman kristen, hidup secara kristiani dengan pimpinan Yesus menghadapi hari-hari dengan sukacita yang baru, bertujuan dan berpengharapan sebagai umat Allah. Sehingga semakin tau membedakan mana yang baik dilakukan dan mana yang jahat yang mau ditinggalkan. Sekarang perlu menyimak satu persatu tentang Katekisasi Sidi gereja melakukan pembinaan warga gereja sejak dini agar peserta sidi dulu, sekarang dan akan datang semakin mantap wawasannya sesuai dengan iman kepercayaannya teguh dan tidak luntur ditelan jaman.

1. What (apa) itu sidi?
Sejak anak-anak sudah ada baptisan kudus yang dilakukan, mereka sudah dipanggil ikut masuk dalam persekutuan Kristen mewarisi kehidupan kekal. Selanjutnya menjadi tanggungjawab orang tua untuk mengajarkan firman Tuhan bagi putra-putri mereka, namun kenyataannya tidak sedikit orang tua yang lupa akan tugas dan tanggungjawabnya. Gereja sebagai institusi yang memiliki peranan penting terpanggil melakukan pembelajaran agar anak dipersiapkan secara dewasa baik jasmani dan dewasa iman. Saya mengutip Aturan dan Peraturan HKBP (AP HKBP) pasal 5 point 6 “Gereja melaksanakan pelajaran Sidi bagi mereka yang akan mengaku imannya.. Ketika akan mengakhiri pelajaran itu, Pendetalah yang mengevaluasi hasil belajar mereka di hadapan pelayanan tahbisan dan orang tuanya masing-masing.. Mereka mengaku imannya di hadapan jemaat pada kebaktian Minggu sesuai dengan tatacara yang tertulis dalam Agenda HKBP”. Maka sidi yang dilaksanakan di Gereja HKBP memperkenalkan Tuhan yang Maha Kuasa, pencipta, pemelihara, dan penguasa atas segala sesuatu. Yesus Kristus penyelamaat dan Roh Kudus adalah yang menguduskan hati manusia untuk percaya kepada karya keselamatan Kristus. Agar mereka mengerti akan tugas dan tanggungjawabnya sebagai jemaat Kristus kepada Tuhan dan sesama manusia, membangun karakter agar mengasihi Tuhan dan sesama sehingga hidup mereka menjadi persembahan ibadah yang murni dan sejati bagi Tuhan, dan lain sebagainya. Maka yang menerima pembelajaran sidi itu sebaiknya orang yang memasuki usia 13-20 tahun. Masa inilah yang sangat rentan dan bergejolak dalam memasuki panca robah dimana perilakunya bisa berubah-ubah setiap waktu, maka kehadiran Gereja sangat memiliki peranan penting mendampingi kehidupan dalam membangun karakter yang utuh.

2. Why (mengapa) harus sidi?
Kesempatan baik bagi si Putra-putri Gereka dituntun dan dibina untuk menselaraskan gerak kehidupannya kepada Tuhan yang memberi berkat baginya. Maka pembelajaran sidi adalah moment yang pas dalam mengawali pentingnya mengajarkan dan menanamkan pengenalan Tuhan melalui karya-karyaNya, mengajarkan khatehismus karangan Marthin Luther yang terdiri dari : Hukum Taurat, kesaksian iman orang Kristen, Doa Bapa kami, Baptisan Kudus, perjamuan Kudus, doa berisi ringkas, padat dan jelas, mengajarkan sejarah Gereja dan perkembangan-perkembangan masa kini, belajar buku ende dan bahkan pengetahuan umum skop yang lebih luas. Sebaiknya orangtua dan anak dapat saling menopang agar dapat mengikuti pembelajaran sidi itu selama satu tahun. Artinya kurikulum yang sudah dipersiapkan harus diikuti agar suatu saat menjadi jemaat yang matang. Pengalaman penulis di berbagai gereja mulai gereja yang berada di desa dan gereja yang berada kota hampir sama, usul-usul orang tua yang berkembang agar anaknya dapat menerima peneguhan sidi tanpa menerima pembelajaran Sidi karena merekapun katanya menerima pendidikan Agama di sekolah mereka, melalui tulisan ini saya tegaskan tidak bisa disamakan bahan ajar di sekolah dengan pembelajaran Katekisasi sidi mungkin ada muatannya yang sama tetapi ada banyak ketidaksamaannya yang tidak diajarkan di sekolah mereka. Saranku rubalah paradigmu yang salah dan sebaiknya semua yang belum sidi usianya sudah memenuhi syarat segeralah mengikuti pembelajan sidi dimana gereja atau ambil surat pengantar dari gereja asalmu agar bisa kamu mengikuti pembelajaran sidi di mana saudara berada dalam posisi sekarang, pasti ada manfaatnya sekarang dan akan datang khususnya tentang kesaksian imanmu dan kesetiaan kepada Tuhan Allah.

3. When (kapan) mengikuti pembelajaran sidi?
Di dalam buku bahan ajar di Katekisasi sidi HKBP bahwa yang telah berusia 13-20 tahun dapat mengikuti pembelajaran sidi dan lamanya katekiasasi sidi 12 bulan (satu tahun) atau biasa dirumuskan 120 x pertemuan dan sekali pertemuan lamanya 45-60 menit. Tetapi sampai saat ini masih ada kita jumpai yang belum katekisasi sidi diatas usia 20 tahun maka pimpinan jemaat harus memiliki tanggungjawab penuh atas keberadaan mereka. Penulis pernah mengadakan katekisasi khusus bagi mereka yang sudah bekerja dan katekiasasi kilat bagi mereka yang akan segera meried dan mereka akan menerima pembelajaran khusus karena satu hal dan lain hal. Nah...penulis menyarankan kepada pimpinan jemaat setempat janganlah ada yang menerima sidi tanpa pernah diajari sebaiknya minimal 3 bulan sebelum mereka sidi dan perlu dikomunikasikan dengan baik kepada warga jemaat agar merekapun tau apa yang mau kita lakukan jemaat yang belum sempat menerima pembelajaran sidi.

4. Where (dimana) menerima pembelajaran sidi?
Bagi saya pada saat memasuki usia 13-20 tahun sebaiknya di gereja asalnya segera mengikuti katekisasi sidi tetapi kalau sudah meninggalkan kampung halamannya mungkin karena alasan kuliah dan alasan tapi belum menerima sidi sebaiknya di mana gereja yang paling dekat menerima bahan ajar setelah diterimalah surat keterangan dari Pendeta Resort atau pimpinan jemaatnya! Agar mereka dapat menerima pembelajaran sidi di gereja yang terdekat. Alasannya kenapa harus seperti itu karena itu kesempatan baginya memperdalam firman Tuhan melalui bahan ajar katekisasi sidi. Tetapi ada juga budaya rasa malu kalau usianya sudah di atas 25 tahun sudah mulai enggan mengikutinya, temuan yang terjadi dalam pelayanan pada saat mau menikah, itulah kesempatan baginya, bisa saja itu karena terpaksa dia harus mengikuti! Karena syarat mau menikah di gereja Protestant harus lebih dahulu sidi. Kadang-kadang keadaan ini memprihatinkan, sebaiknya harus dipersiapkan dirinya menjadi jemaat yang taat akan aturan yang berlaku di gerejanya.

5. Who (Siapa) yang akan disidikan?
Pertanyaan ini agak pelik untuk dijawab karena belum semua warga jemaat memahami secara bersama orang yang mengikuti pembelajaran sidilah yang pastas menerima peneguhan sidi. Kadang-kadang temuan yang terjadi sepertinya tidak dapat ditolerir kebenarannya, bagi penulis menyarankan sebaiknya orang tua harus satu visi berama majelis dan pelayan full timer, setiap yang menerima pembelajaran sidilah yang menerima peneguhan sidikan. Maukah kita konsisten melakukannya? Atau suka-suka kita aja. Bisa itu mengundang masalah baru dan bahkan sampai meng-kambing-hitamkan yang lain demi kepentinganmu. Imbauan penulis, dengan jiwa besar setiap yang mengikuti bahan ajar sidi yang layak menerima peneguhan sidi. Mari kita serius melakukannya.

6. How (Bagaimana) orang yang menerima peneguhan sidi?
Pertama: memiliki komitmen agar menjadi pengikut Kristus yang menunjukkan curi teladan. Kedua: Siap bertarung mempertarungkan iman percayanya agar hidupnya tetap dikendalikan firman Tuhan, dan pedoman hidupnya selalu beralaskan firman Tuhan. Ketiga: tidak mudah diombang ambingkan oleh arus jaman yang cepat berubah-ubah.

7. Lalu, hubungan sidi dengan prasyarat menikah?
Bagi gereja protestan khususnya HKBP orang yang sudah menerima peneguhan sidi adalah yang layak memasuki jenjang pernikahan kudus. Adapun alasan yang pertama: penulis merumuskan mereka sudah dikategorikan dapat bertumbuh secara jasmani dan bertumbuh secara spritual sesuai dengan iman percayanya. Kedua: pembinaan selama pembelajaran sidi membentuk pola berpikir semakin kritis membaca tanda-tanda jaman. Ketiga: menunjukkan kesetiaan dalam kehidupannya dan berpengharapan penuh melalui sola fide (hanya karena iman), sola scriptura (hanya karena firman Tuhan), sola Gratia (hanya karena anugerah) menjadi baro meter hidupannya. Jika dibandingka dengan dogma Katolik bahwa syarat menikah adalah orang yang mengikuti katakumen, persis sama dengan gereja protestan. Nah sekarang: rekan-rekan yang belum sidikan dan sudah memenuhi syarat putuskan sekarang juga segera daftarkan diri anda untuk mengikuti bahan ajar katekisasi sidi. Ingat pada saat sidilah kamu dapat dibentuk ke arah yang lebih baik melalui kesaksian imanmu. Sebenarnya anda beruntung kalau sudah sidi: status anda menjadi jemaat dewasa, dapat menerima perjamuan kudus, sudah dapat melanjutkan jenjang pernikahan menikah, tapi yang lebih luar biasa menjadi warga kerajaan Allah sekarang dan akan datang! Kesaksian imanmulah sebagai kata kuncinya dalam mengikuti Tuhan. Dimanakah itu kamu dapat raih? Melalui pembelajaran sidi? Makanya berulang-ulang kutegaskan: Kamu harus menjadi peserta sidi yang baik, itulah kesempatan menerima pembinaan dari hamba-hambaNya. Selamat menjadi peserta sidi yang serius dan konsisten. Ajaklah saudara dan rekanmu untuk mengikuti pembelajaran sidi. Horas (Hanya Oleh Karena AnugerahNya Saja).

(Penulis adalah Pdt. Haposan Sianturi, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi September 2009)