Sabtu, 09 Januari 2010

RENUNGAN: ANEKA PRAKARSA DAN BANYAK DOA

“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;
Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri;
Engkau mengerti pikiranku dari jauh.

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku,
Ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
Lihatlah, apakah jalanku sderong,
Dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”
(Mazmur 139:1-24)

Pendahuluan
Setelah Paskah, yang merupakan perayaan kristiani terbesar, pada bulan Mei ini kita menoleh pada perayaan Hari Kenaikan Yesus yang tampil biasa-biasa saja. Namun kesan lahiriah yang adem tetap menyimpan berita yang hangat dan…tetap mengandung pesan praktis. Itulah antara lain yang hendak kita gali lewat kolom ini.
Tahun Diakonia masih merupakan agenda kita pada bulan-bulan ini. Kita telah membagikan buku Seri Doa Keluarga yang sedianya merupakan konsumsi masa Passion. Menyongsong Hari Kenaikan, kita perlu mengupayakan bentuk-bentuk kegiatan diakonal yang berarti.
Meja redaksi Narhasem mengangkat tema doa. Hal itu tetap relevan mengingat keberlanjutan dari misi Yesus dan penyertaanNya – dengan cara yang baru - yang tetap pada masa penantian gereja akan kedatanganNya kedua kali.

Siklus Hari Raya Gerejawi
Ibarat rites des passages (ritual kehidupan: lahir, masa kanak-kanak, pancaroba, dewasa, menikah dan meninggal) demikianlah gereja kita memusatkan siklus Hari Raya Gerejawi pada peristiwa Kristus (Natal, PelayananNya, PenderitaanNya dan Kebangkitannya). Rangkaian peristiwa yang dimaksud diawali dengan peristiwa kelahiranNya dan memuncak pada peristiwa kematian dan KebangkitanNya. Rangkaian kejadian tentang Kristus dari lahir sampai bangkit yang disebut sebagai peristiwa Kristus ini amat penting bagi perwujudan misi penyelamatan dunia yang telah ditentukan Allah sejak awal.
Namun demikian peristiwa Kebangkitan Kristus tidak mengakhiri ritual gereja. Peristiwa Kristus bukan merupakan rangkaian peristiwa yang berdiri sendiri. I tidak dapat dipisahkan dari peristiwa Turunnya Roh Kudus untuk melanjutkan apa yang telah dimulai oleh Yesus. Oleh sebab itu ibadah umat kristiani tidak berhenti pada peristiwa Kristus.
Semula, pada awal abad ke-4 perayaan Hari Kenaikan digabung dengan perayaan Turunnya Roh Kudus. Namun kemudian, pada akhir abad ke-4, Kenaikan Yesus dimajukan sepuluh harisebelum perayaan Tuirunnya Roh Kudus. Perayaan Hari Kenaikan Yesus jatuh pada hari ke-40 setelah Kebangkitan dan aperayaana Turunnya Roh Kudus jatuh pada hari ke-50 sesudah Kebangkitan Yesus. Itu sebabnya disebut juga sebagai hari Pentakosta.
Penamaan Hari Turunnya Roh Kudus sebagai Hari Pentakosta (yang secara hurufiah berarti “lima puluh”) bukan sesuatu yang kebetulan. Hal itu terkait dengan perkembangan awal Kekristenan sebagai kelanjutan (atau lebih tepat pembaharuan) dari Keyahudian. Sebagaimana pada awalnya (pada masa peralihan) orang Kristen beribadah dua kali seminggu (yaitu sekaligus pada hari Sabtu/Sabbat dan pada hari Minggu) maka demikianlah pada awalnya orang Kristen mengadopsi dua Hari Raya besar dalam Keyahudian yaitu: Hari Paskah dan Hari Pentakosta. Hari Paskah, yang dalam Keyahudian dirayakan sebagai perayaan mengenang pembebasan umat Israel dari Mesir melalui Musa, oleh Kekristenan diadopsi dan dirayakan dengan makna baru sebagai peristiwa penebusan umat manusia dari kematian, dosa dan Iblis oleh Yesus (Paskah Kristen dulunya jatuh pada hari Jumat/Kematian, tapi kini lebih ditekankan pada hari Kebangkitan Yesus. Hal itu tidak mengapa oleh karena peristiwa KebangkitanYesus tidak dapat dipisahkan dari KematianNya).
Demikianlah selanjutnya, Hari Pentakosta yang oleh Keyahudian dirayakan sebagai hari panen yang selalu jatuh pada hari ke-50 sesudah Paskah Yahudi (yang digabung dengan Hari Raya Roti Tidak Beragi), oleh Kekristenan diganti sebagai perayaan Hari Turunnya Roh Kudus. Tentang ini D.G. Dix berkata:
“Jika Paskah didramatisasikan sebagai penebusan abadi dari Allah, maka Pentakosta didramatisasikan sebagai penetapan orang Kristen sebagai milik Allah oleh Roh Kudus. Dengan demikian karya penebusan dari Allah itu menjadi efektif.” (R. Rachman, 2003: hl. 89).
Dengan demikian siklus Hari Raya Gerejawi kristiani bukanlah sebuah rangkaian tata perayaan tahunan yang sekali jadi. Ada proses selama berabad-abad sebelum menjadi sistem yang baku. Rangkaian perayaan tahunan ini selanjutnya tidak menyangkal perjalanan dan perkembangan gereja sebagai organisme yang hidup dan berada di tengah-tengah dunia nyata dengan persoalannya yang khas pula. Dengan tema peristiwa Kristus dan kesinambungan kehadiran serta misiNya, umat kristiani merayakan kehadirannya (lewat ritual maupun lewat pelayanannya) di tengah-tengtah dunia ini sebagai umat yang telah melihat peristiwa Kristus yang ajaib dan akan memberitakan peristiwa itu kepada dunia ini.

Pesan Kenaikan Yesus
Setidaknya ada dua hal yang hendak ditekankan dari perayaan Kenaikan Yesus yaitu: Yesus akan datang kembali dan Yesus tetap hadir dalam persekutuan kristiani. Aspek yang pertama memang menebarkan suasana haru yang amat dirasakan kesebelas murid Yesus ketika itu. Mereka tidak bias merasakan lagi pendampingan sebagaimana layaknya dulu: muka dengan muka. Tidak ada lagi yang menampakkan diri di tengah-tengah amereka. Tidak ada lagi Yesus yang memecah roti dan menjenguk mereka ketika kesulitan menjala ikan di danau. Namun demikian suasana haru segera diganti dengan penghiburan dan harapan akan kedatangan Tuhan kedua kali. Bagi Allah tidak ada janji yang tidak terpenuhi. Kedatangan Yesus kedua kali sama pastinya dengan kedatangan matahari pagi. Tidak ada tempat untuk ragu-ragu. Tidak ada waktu untuk bersedih. Ganti keharuan, saatnya untuk menatap masa depan yang sedang menjelang. Sejarah Kerajaan Allah terus melangkah maju. Naiknya Yesus ke surga tidak menghentikan misiNya. Tugas-tugas kerajaan akan dilanjutkan. Dari sini kita masuk kepada aspek yang kedua.
Yang lebih penting lagi adalah bahwa Yesus ternyata tetap hadir dalam perwujudan dan gerak perkembangan Kerajaan Allah. Ia hadir dalam cara berada yang baru di tengah-tengah persekutuan. Meski tanpa visualisasi tubuh yang sudah bangkit namun kuat kuasanya terasakan. Para murid tidak apernah merasa ditinggal sendiri. Tetap ada yang mendampingi. Tetap ada yang menghibur dan menolong. Tetap ada penguatan dan malahan…keajaiban. Tiap-tiap hari adalah pemberitaan Kerajaan Allah yang bergerak pasti serta pendapat dukungan dan penyertaan Allah.
Yesus telah naik, berarti Yesus tidak menampakkan diri lagi kepada kesebelas murid seperti yang Ia lakukan pada pasca kebangkitan. Yang lebih ajaib lagi adalah bahwa Yesus telah naik maka para murid dan orang-orang percaya akan mendapat penyertaan yang amat penting. Di mana Injil diberitakan di sana Yesus hadir. Di mana ada pelayanan di dalam nama Yesus – sekecil apapun itu – maka di sana akan ada penyertaan dan kuat kuasaNya! Siapa takut?

HKBP Semper Merayakan Hari Kenaikan
Menurut tencana, pencangan Tahun Diakonia Distrik 21 Jakarta 3 akan dilaksanakan pada Hari Kenaikan Yesus. Pada saat itu pula gereja kita (HKBP Semper) akan mengadakan penanaman pohon. Dengan itu perayaan Hari Kenaikan Yesus kali ini memberi suasana yang lebih khas yaitu berkaitan dengan agenda pelayanan diakonal yang diharapkan menggema di seluruh jemaat-jemaat HKBP di dalam dan luar negeri. Bagaimana gemanya di HKBP Semper?
Kita merencanakan untuk meluncurkan Tahun Diakonia di jemaat kita bersamaan dengana peluncurannya di tingkat distrik. Kita berharap dapat melakukan penanaman pohon pada Hari H tersebut. Kalau boleh pada waktu yang sama akan digiatkan Poti Parasian kita. Semua peserta ibadah dihimbau untuk memasukkan lembaran seribu ke Poti Parasian mulai pada hari Kenaikan Yesus. Hari H ini diharapkan dapat membakal semangat diakonal gereja kita untuk kemudian membuahkan karya-karya diakonal secara berkesinambungan.
Ada lima prioritas karya diakonal yand ddengungkan di distrik kita yaitu: penanaman pohon, membentuk koperasi, membentuk komisi beasiswa, mendirikan TK dan membuat pos kesehatan (setidaknya membuat pengobatan gratis atau melaksanakan hari donor darah). Dari percakapan yang pernah dilakukan, yang paling mendesak di gereja kita adalah membentuk koperasi dan mendirikan komisi beasiswa. Kita akan menantikan kemungkinan realisasinya.

Inspirasi dari Doa Pemazmur
Di manakah peranan doa gereja dalam tugas-tugas diakonalnya maupun di dalam kehadirannya yang utuh sebagai pengikut Tuhan yang sudah naik ke surga?
Praktek doa memiliki banyak aspek yang tidak mudah untuk diselesaikan dalam satu artikel saja. Tulisan ini juga tidak bermaksud sampai ke sana. Untuk kebutuhan renungan kita akan disoroti hal-hal yang amat menggelitik dari praktek doa Pemazmur (utamanya dengan melihat pasal 139!)
Dari Mazmur pasal 139 kita menangkap sikap si pendoa berhadapan dengan Allah. Dia tidak dapat melupakan begitu saja apa yang telah Allah perbuat baginya. Malahan dia justru berlama-lama dengan uraian rasa takjubnya (sampai 18 ayat: ayat 1-18) sebelum menyampaikan permohonannya (dalam ayat 19-24). Kita melihat bagaimana si pendoa tidak dapat menyembunyikan perasaan dan pengalamannya, dengan kata lain: sikap rohnya dalam mengingat-ingat apa yang selama ini dia alami bersama Allah. Rasa takjub, sikap hormat, suasana hati yang amat tergantung, harapan yang kuat tertuang dalam kata-kata yang meluncur lancar. Si pendoa berkeyakinan: tidak ada bagian dari tubuhnya dan bagian dari jiwanya yang luput dari perhatian dan pengasihan Allah. Tidak ada rentang waktu yang luput, bahkan sejak dalam kandungan. Tidak ada hal yang mencemaskan, bahkan keberadaan di dalam rahim, tempat jika ada masalah tidak ada yang bias kita ketahui dan perbuat oleh karena tempatnya di dalam sana, bahkan di situpun Allah turut mengetahui dan berbuat. Bahkan sampai di dunia orang mati! Si pendoa memperlihatkan bagaimana praktek doa tidak dapat dipisahkan dari hubungan timbal balik antara si pendoa dengan Allahnya. Hampir tidak mungkin untuk menyampaikan permohonan tanpa adanya hubungan yang hidup denganNya.

Penutup
Gereja pasca Kenaikan Yesus hadir menjadi saksi-saksi iman. Gereja tidak tidak hanya menjadi saksi tapi juga menjadi pelaku yang ambil bagian dalam misi mulia penyelamatan dunia secaara utuh. Dunia diciptakan Allah. Allah mengiuti dan memasuki sejarah dunia serta memprakarsai upaya pemulihan dunia melalui perwujudan misi Yesus. Misi Yesus telah mulai dan tidak berhenti oleh karena kenaikanNya. Yesus tetap menyertai misi. Yesus bahkan yang melaksanakana melalui gerejaNya.
Perjalanan gereja pasca Kenaikan Yesus adalah hari-hari yang amat penting oleh karena pada saat itu gereja terpanggil untuk bersaksi, bersekutu dan melayani. Gereja hendak melayani dunia ini sebagai Yesus melayani. Gereja bersaksi kepada dunia ini sebagaimana Yesus bersaksi. Gereja tetap bersekutu dengan Yesus, tapi kali ini dengan cara berada Yesus yang baru.

(Penulis adalah Pdt. Maurixon Silitonga, M.Th., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Mei 2009)

Rabu, 06 Januari 2010

ARTIKEL: ARTI DAN MAKNA KEMATIAN DITINJAU DARI SUDUT AGAMA-AGAMA DAN TEOLOGIS

I. Pendahuluan
Mungkin semua orang tahu, bahwasanya semua makhluk dimuka bumi ini akan mengalami namanya ‘Kematian’. Namun banyak orang-orang yang tak sadar bahwa mereka hidup di dunia ini hanya sesaat, mereka hanya menikmati hidup ini terus menerus serasa mereka akan hidup selamanya. Namun yang perlu diketahui semua perbuatan dimuka bumi ini akan dipertanggung jawabkan. Banyak orang meninggal tiba-tiba. Umur manusia itu tidak ada yang tahu. Kalau sudah waktunya, mau tak mau harus menghadapi hal yang namanya kematian. Cara menghadapi kematian masing-masing orang berbeda-beda. Namun intinya mereka akan tetap menghadapi kematian pada akhirnya.
Kematian itu sendiri, kita tahu, sudah menjadi bagian integral dalam diri manusia. Seperti sajak Soebagio Sastrowardojo “kematian jadi akrab, seakan kawan berkelakar yang mengajak tertawa”. Dia begitu intim, begitu dekat, bahkan mungkin melekat. Tapi dia tak seperti sajak-sajak yang menganggap kematian sesuatu yang pasti……tapi nanti! Dan nanti itu bisa berarti sebuah jarak, sesuatu yang belum sampai untuk digapai. “Mati adalah kebalikan dari hidup”. Jadi selama arti mati adalah kebalikan dari hidup, maka tanda-tanda kematian berarti merupakan kebalikan dari tanda-tanda kehidupan, yang nampak dengan hilangnya kesadaran dan kehendak, tiadanya penginderaan, gerak, dan pernapasan, serta berhentinya pertumbuhan dan kebutuhan akan makanan.
Kematian adalah akhir dari kehidupan, ketiadaan nyawa dalam organisme biologis. Semua makhluk hidup pada akhirnya mati secara permanen, baik dari penyebab alami seperti penyakit atau dari penyebab tidak alami seperti kecelakaan. Setelah kematian tubuh makhluk hidup mengalami pembusukan. Semua orang tidak akan tahu apa itu kematian, bagaimana rasa kematian, dll. Sampai orang itu merasakan kematian. Bisa saja kematian itu adalah hal yang menyenangkan, atau bisa saja itu hal yang paling mengerikan yang ada didunia.
Ada pepatah seperti ini "when life ends, the mistery of life begins". Jadi, orang-orang akan memulai hidup setelah kematian. Hidup baru setelah habis kematian itu masih misteri, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Yang mengetahuinya hanyalah orang-orang yang sudah merasakan kematian. Andai saja orang-orang yang meninggal itu dapat berbicara. Pasti mereka sudah bercerita apa itu kematian. Namun tidak ada orang yang dapat berbicara setelah meninggal. Kematian itu misteri yang tak akan terpecahkan. Yang dapat kita lakukan sekarang hanyalah berbuat kebaikan, agar mendapatkan kehidupan yang layak di kehidupan yang akan datang. Yaitu kehidupan setelah kematian.

II. Terminologi
Apa definisi ‘kematian’? Suatu pertanyaan sederhana yang kedengarannya sangat gampang untuk dijawab. Kalau seseorang tahu apa definisi ‘kehidupan’, secara
otomatis ia dapat mendefinisikan kematian. Sebab, definisi kematian tidak lain adalah kebalikan dari definisi kehidupan itu sendiri.
Kematian dalam PL berasal dari kata ‘Muth’, bentuk kata kerja yang artinya mematikan, memusnahkan. Dan dalam bentuk kata benda disebut dengan ‘Maweth’, yang dipergunakan dalam arti kematian, yang mati, yang musnah. Kata ini menunjukkan akhir keberadaan segala sesuatu ciptaan Allah sehingga tidak bergerak dan terjadi dalam proses waktu yang singkat.[1] Sedangkan dalam PB, kematian berasal dari kata ‘Teleute’ yang artinya mati (Mat. 2:15). Namun yang sering dipakai adalah kata ‘thanatos’ yang artinya kematian atau proses kematian, atau juga dapat diartikan sebagai pemisah dari jiwa, yang dengan demikian merupakan akhir dari kehidupan, baik yang mati secara alamiah maupun secara kekerasan (Yoh. 11:13 ; Kis. 2:24). Dan dalam arti ini, kata tersebut dihubungkan dengan tempat atau lokasi orang mati di dunia bawah yang diselubungi oleh kegelapan, kebodohan, dan kegelapan dosa (Band. Mat. 4:16). Tetapi juga dipakai kata ‘apothneskein’, infinitif dari tethneka yang artinya adalah kematian (Band. Flp 1:21).[2] Dari beberapa istilah-istilah yang dipakai untuk maut atau kematian dalam Alkitab nampaknya agak berbeda, namun secara umum diakui bahwa maut adalah yang mengerikan dan membinasakan hidup. Hanya Allah saja yang dikecualikan dari maut (1 Tim. 6:16 ; 1 Kor. 15:53-54), maut itu ditakuti manusia dan tidak disukai oleh karena berbahaya bagi hidup.[3] Tetapi Kristus memberikan jaminan bagi manusia (orang percaya) yaitu kehidupan setelah kematian melalui kemenangan untuk menaklukkan maut dengan kebangkitanNya.
Ada beberapa penyebab mengapa orang itu mengalami kematian, yaitu:[4]
- Seiring penuaan usia makhluk hidup, tubuh mereka akan perlahan-lahan mulai berhenti bekerja.
- Jika tubuh tidak mampu melawan penyakit, atau tidak diobati.
- Kecelakaan seperti tenggelam, tertabrak, dan terjatuh dari ketinggian.
- Lingkungan dengan suhu yang sangat dingin atau yang terlalu panas.
- Pendarahan yang diakibatkan luka yang parah.
- Kekurangan makanan, air, udara dan perlindungan.
- Diserang dan dimakan (pembunuhan).
- Infeksi dari gigitan hewan berbisa maupun hewan yang terinfeksi virus berbahaya.
- Kematian disaat tidak terbangun dari tidur.
- Kematian sebelum lahir, karena perawatan janin yang tidak benar.

III. Kematian Menurut Ajaran Agama-Agama
1. Agama Kristen
Kitab Suci memandang kematian sebagai hal yang alami (Maz. 49:11-12) dan sebagai akibat dosa (Kej. 3:19). Kematian adalah musuh terakhir yang harus dikalahkan (1 Kor. 15:26).[5] Kematian ialah perpisahan antara tubuh dan roh. Jiwa atau kesadaran tubuh yang tidak memiliki roh (Yoh. 2:2). Tubuh bersifat sementara atau fana (Rom. 6:12), sedangkan jiwa atau roh kekal (Mat. 10:28). Karena itu, kematian bukan merupakan akhir dari kisah kehidupan manusia. Ketika manusia mati, tubuh insanilah yang berakhir atau lenyap, sedangkan jiwa atau roh manusia tetap hidup. Tidak dapat dikatakan bahwa dengan kematian segalanya hilang tidak berbekas. Sebab pandangan itu memaksa kita juga beranggapan bahwa segala bagian kemanusiaan, entah bagian jasmaniah, entah bagian psikologi atau segala perbuatan dan hasil usaha manusia itu hanya akan menuju kehancuran belaka.[6]
Jiwa orang-orang yang berada di dalam Kristus akan menerima keselamatan roh pergi ke sorga (1 Kor. 5:5), sedangkan jiwa-jiwa yang menolak Yesus akan masuk ke dalam siksaan api neraka (1 Ptr. 3:20). Sesudah itu mereka dihukum untuk selama-lamanya kelautan api kekal (Why 20:15).[7] Katolik Roma, percaya bahwa setelah kematian, jiwa orang yang meninggal berada di tempat penantian, dan jiwa itu dibersihkan sebelum masuk ke dalam ssorga. Protestan, mempercayai bahwa seseorang Kristen akan mati dan jiwanya langsung pergi bertemu Allah di sorga. Jiwa itu menantikan saat dibangkitkan dan kerajaan Kristus akan didirikan di dunia.
Ajaran kitab suci mengenai masalah kematian tidak seragam, melainkan cukup bervariasi, sesuai dengan perubahan pemahaman serta keyakinan bangsa Israel, umat Yahudi dan jemaat Kristen seiring dengan perkembangan dan pengetahuan dan kepercayaan manusia sepanjang sejarah kitab suci. Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas 5 ( lima ) ajaran pokok kitab suci mengenai masalah kematian, yaitu:
- Kematian sebagai akhir kehidupan
Menurut pandangan ini, kematian merupakan akhir yang normal dari kehidupan manusia. Sebagai suatu makhluk hidup yang fana, pada akhirnya manusia memang harus mati (Kej. 3:19). Allah memberikan nafas hidup kepada manusia (Kej. 2:7), supaya mereka dapat hidup untuk jangka waktu tertentu, tetapi tidak untuk selama-lamanya (Kej. 3:22), jikalau sudah sampai pada batas akhir hidupnya, maka manusia akan mati dan pergi “.....menempuh jalan segala yang fana” (Yos. 23:14 ; 1 Raj. 2:2).
- Kematian sebagai lawan kehidupan
Menurut pandangan ini, kehidupan itu selalu ditandai dengan kebaradaan nafas, sedangkan kematian ditandai dengan ketiadaan nafas. Selama suatu makhluk masih bernafas, ia dapat bergerak dan berkomunikasi dengan makhluk-makhluk lain. Tetapi apabila ia sudah tidak bernafas lagi, maka ia sama sekali tidak dapat lagi bergerak dan berkomunikasi dengan pihak lain. Dalam pandangan bangsa Israel , hidup berarti bernafas (Kej. 2:7), sementara mati berarti tidak bernafas lagi (Kej. 35:18).
- Kematian sebagai perusak kehidupan
Menurut pandangan ini, kematian merupakan suatu kekuatan perusak kehidupan manusia. Mazmur menggambarkan kematian sebagai suatu kekuatan perusak dalam bentuk ‘banjir’ yang setiap saat mengancam seperti ‘musuh’ yang menyerbu masuk melalui jendela untuk membinasakan manusia (Yer. 9:21-22). Hosea melukiskan kematian sebagai ‘binatang buas’ yang mengintip dan siap menerkam mangsanya (Hos. 13:7-8). Kadang pula kematian digambarkan sebagai malaikat pemusnah, hantu malam, senjata serangga yang mempunyai sengat: berupa dosa, sehingga dapat menyebabkan kebinasaan bagi manusia.
ΓΌ Kematian sebagai tidur lelap
Menurut pandangan ini, kematian merupakan suatu tidur lelap dan tak pernah bangun lagi. Yeremia juga melukiskan kematian manusia sebagai “jatuh tertidur untuk selama-lamanya, tidak akan bangun-bangun lagi” (Yer. 51:39-57). Anggapan ini juga dianut dalam kitab-kitab lainnya.[8]

2. Agama Islam
Maut atau mati adalah terpisahnya “roh dari zat, jiwa dari badan atau keluarnya roh dari badan atau jasmani. Pada akhirnya, maut adalah akhir dari kehidupan dan sekaligus awal kehidupan (yang baru). Jadi maut bukan kesudahan, kehancuran atau kemusnahan. Maut adalah suatu peralihan dari suatu dunia ke dunia lainnya. Maut dialami manusia hanya sekali. Hal ini digambarkan dalam firman-Nya yang artinya mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya (surga), kecuali mati di dunia (QS.44-56)”.[9] Umat manusia hidup di dunia ini sangat terbatas dan tidak bertahan lama. Setiap manusia mesti mengalami akhir kehidupan itu, yang sering disebut dengan kematian. Hal ini dinyatakan secara tegas Al-Quranul Karim pada S. Ali ‘Imran: 185; “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan baru pada hari kiamatlah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia beruntung. Kehidupan ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”.
Kematian itu sesuatu yang mesti terjadi pada seseorang, walaupun ia berusaha menghindari kematian atau berusaha bersembunyi dan berlindung di tempat yang dikira aman. Seseorang tidak dapat lari dan menjauhi kematian. Kematian merupakan awal atau pintu gerbang menuju kehidupan. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa sesungguhnya kematian itu sebenarnya kehidupan. Artinya, jika seseorang ingin hidup terus menerus, maka ia harus mengalami kematian terlebih dahulu. Tanpa kematian tidak akan ada kehidupan abadi. Atau dalam istilah Al-Qur;an, orang yang mati disebutkan “kembali kepada sang pencipta”. Manusia terbagi atas dua unsur yaitu roh/jiwa dan tubuh (jasad) adalah unsur tanah/bumi. Roh atau nyawa manusia adalah zat halus, yang pada waktu mati meninggalkan tubuhnya yang kasar itu. Surat Al-Zumar ayat 47 menggambarkan bahwa kematian sama dengan tidur. Lebih lanjut hadis nabi Muhammad saw, mengatakan: “tidur adalah saudara mati”. Di surga tiada mati, sehingga tiada pula tidur.[10]
Menurut agama Islam, kematian itu adalah perpisahan antara roh dan jasad (tubuh) dan selanjutnya dikubur, tidak lama kemudian akan rusak dan hancur menjadi tanah. Setiap orang pasti takut untuk mati karena akan berpisah dari segala yang disayanginya. Mati berarti pergantian hidup jasad (tubuh) dengan hidup di akhirat, sebagaimana halnya lahir adalah pergantian hidup dalam kandungan ibu dengan hidup di alam bebas. Merasakan mati berarti perasaan bercerai badan dengan rohnya. Imam An-Nasabuni mengatakan bahwa diri (jiwa) seseorang itu selamanya tetap dan yang berubah-ubah itu hanyalah badannya yang kasar. Seseorang itu sejak kecilnya sampai masa tuanya akan mendapati jiwanya yang muda itu juga sampai tua.[11] Dalam Al-Qur’an Allah menjelaskan bahwa jika ajal seseorang sudah datang, maka tidak ada seorang pun yang dapat mengatur atau memajukannya.[12]

3. Agama Budha
Sang Budha bersabda “Kehidupan tidak pasti, namun kematian itu pasti”. Kematian pasti akan datang dan merupakan suatu hal yang wajar, serta harus dihadapi oleh setiap makhluk. Definisi kematian menurut agama Budha tidak hanya sekedar ditentukan oleh unsur-unsur jasmaniah, entah itu paru-paru, jantung ataupun otak. Ketakberfungsian ketiga organ itu hanya merupakan gejala ‘akibat’ atau ‘pertanda’ yang tampak dari kematian, bukan kematian itu sendiri. Faktor terpenting yang menentukan kematian ialah unsur-unsur batiniah suatu makhluk hidup. Walaupun organ-organ tertentu masih berfungsi sebagaimana layaknya secara alamiah ataupun melalui bantuan peralatan medis. Seseorang dapat dikatakan mati apabila kesadaran ajal (cuticitta) telah muncul dalam dirinya. Begitu muncul sesaat, kesadaran ajal akan langsung padam. Pada unsur jasmaniah, kematian ditandai dengan terputusnya kemampuan hidup.
Ada 3 (tiga) jenis kematian dalam agama Budha:
- Khanika Marana : Yaitu kematian atau kepadaman unsur-unsur batiniah dan jasmaniah pada tiap-tiap akhir (bhanga). Kematian ini biasanya disebabkan oleh habisnya usia (ayukkhaya), karena habisnya akibat perbuatan pendukung (kammakkhaya) yaitu kematian yang disebabkan oleh habisnya tenaga karma yang telah membuat terjadinya kelahiran dari makhluk yang meninggal tersebut, karena habisnya usia serta akibat perbuatan pendukung (ubhayakkhaya), dan karena terputus oleh kecelakaan, bencana atau malapetaka (upacchedaka). Keempat macam ini bisa diumpamakan seperti empat sebab kepadaman pelita, yaitu karena habisnya sumbu, habisnya bahan bakar, habisnya sumbu serta bahan bakar, dan karena tertiup angin.
- Sammuti Marana : Kematian makhluk hidup berdasarkan persepakatan umum yang dipakai oleh masyarakat dunia.
- Samuccheda Marana : Kematian mutlak yang merupakan keterputusan daur penderitaan para Arahanta.
Kematian menurut definisi yang terdapat dalam kitab suci agama Budha adalah hancurnya Khanda. Khanda adalah lima kelompok yang terdiri dari pencerapan, perasaan, bentuk-bentuk pikiran, kesadaran dan tubuh jasmani manusia atau materi. Keempat kelompok pertama merupakan kelompok batin atau ‘nama’ yang membentuk suatu kesatuan kesadaran. Sedangkan kelompok kelima yaitu jasmani manusia atau materi merupakan ‘rupa’, yakni kelompok fisik atau materi. Gabungan batin dan jasmani inilah yang disebut individu, pribadi atau ego.
Sang Budha menjelaskan bahwa kelompok ini bukan suatu pribadi lagi, melainkan suatu serial dari proses fisik dan mental yang tidak akan diam tetapi akan terus mengalir. Maka kelompok-kelompok ini akan muncul dan lenyap secara berturut-turut hanya dalam waktu yang sekejap. Masa berlangsungnya kelompok-kelompok mental ini sangat singkat sedemikian rupa, sehingga selama satu kaitan cahaya halilintar telah terjadi beribu-ribu bentuk pikiran atau saat berpikir yang berturutan dalam pikiran kita.
Peranan kematian adalah untuk menyadarkan setiap manusia akan akhir kehidupannya, bahwa betapa tinggi pun tempatnya, apapun bantuan teknologi atau ilmu kedokteran yang dimilikinya, pada akhirnya tetap harus mengalami hal yang sama yaitu di dalam kubur atau menjadi segenggam debu. Tetapi ini bukanlah akhir dari kehidupan dan kematian, karena proses kelahiran dan kematian akan terus berlangsung hingga kita mencapai kesempurnaan batin. Kematian itu selalu diikuti oleh peleburan dalam kematian itu, atau jika orang dapat melakukan tumimbal lahir ke dalam kehidupan (alam) yang ia ingini, maka tidak ada orang takut kepada kematian. Bahkan mungkin keinginan untuk mati bila seseorang makhluk telah merasa bosan hidup dalam suatu kehidupan, lalu ingin memasuki kehidupan baru.[13] Kata Anitya berarti kekal. Doktrin ini mengajarkan bahwa di dalam dunia tiada sesuatu yang kekal, semuanya adalah fana.[14]

4. Agama Hindu
Menurut agama Hindu, kematian itu merupakan saat yang sangat penting, bahkan saat menentukan arti kehidupan seseorang. Kematian akan memberikan arti pada segala usaha dan kemeriahan yang kita dapatkan selama mungkin 20-an tahun kita hidup, mungkin 40-an tahun kita hidup, mungkin 60-an tahun kita hidup, atau mungkin hanya beberapa kerlipan mata kita hidup di dunia ini. Oleh karena itulah dianjurkan agar orang segera mengingat Tuhan Yang Maha Esa pada saat meninggal.
Agama Hindu mempunyai keyakinan bahwa dengan mengingat dan bersujud pada Tuhan disaat meninggalkan badan kasar adalah sangat menentukan tempat yang akan dituju di alam sana . Kesempatan untuk ingat Tuhan pada detik-detik kematian bukanlah hadiah atas tidak melakukan apa-apa. Ia merupakan hasil dari pembiasaan menyebut, memanggil, memuja dan menyembah, mengingat, meneriakkan dan menyerahkan diri menyeluruh kepada Tuhan. Tidak perlu berbangga diri jika memiliki ketenangan menyambut kematian, tanpa harus membiasakan diri membawa kesadaran kepada-Nya setiap hari. Hanya dengan membiasakan kesadaran ingat Tuhan pada saat meninggal akan terjadi, dan ia akan mampu mengantarkan kita ke tempat yang indah dalam spiritual.
Sesungguhnya kematian dan kehidupan secara fundamental bukanlah pengalaman-pengalaman yang tersendiri, yang terisolasi dari yang lain. Manakala ingatan masih bertahan, ini kita sebut tidur. Bila ingatan hilang sama sekali, disebut mati.[15] Setiap orang Hindu mengharapkan agar mati di dekat sungai Gangga supaya tulang-tulang dan abu mereka dapat tenggelam di dalam air. Sehingga mereka dapat mengakhiri lingkaran kehidupan kembali.[16]

5. Agama Suku Batak
- Konsep Kematian Menurut Budaya Batak: Agama leluhur mengajarkan bahwa manusia memiliki tubuh dan roh. Kehidupan dari diri seseorang itu sangat ditentukan oleh kondisi rohnya. Artinya, selama roh itu berdiam dalam dirinya maka orang tersebut akan hidup. Roh yang dimaksud dalam hal ini adalah ‘tondi’. Apabila tondi (roh) tersebut meninggalkan tubuh dari manusia itu maka manusia tersebut akan mati, inilah yang disebut dengan kematian. Karena itu, orang Batak sangat mementingkan urusan pemeliharaan kondisi tondinya (rohnya).[17] Dalam budaya Batak juga ada pemahaman bahwa orang yang meninggal itu dikatakan dengan “Na dialap ompungna do i”. Dengan anggapan ini, maka orang Batak mengatakan “martondi na mangolu, marbegu na mate” (yang masih hidup memiliki roh dan yang telah mati menjadi hantu). Hal inilah dijelaskan karena orang Batak percaya bahwa jika seseorang telah meninggal, maka “daging gabe tano, hosa gabe alogo, tondi gabe begu” (daging jadi tanah, nafas jadi angin, roh jadi hantu).[18]
- Hubungan Orang Hidup dengan Orang Mati Menurut Budaya Batak: Dalam hal ini akan dijelaskan, apakah ada hubungan antara orang yang sudah mati dengan orang yang masih hidup. Budaya Batak meyakini bahwa jelas ada hubungan antara orang mati dengan orang hidup. Bagaimana orang yang masih hidup itu meyakini masih adanya hubungan yang masih terjalin melalui roh orang mati tersebut. Hal ini dapat dikatakan dengan adanya pemahaman Batak bahwa roh tersebut dapat hadir ke dalam kehidupan orang yang masih hidup. Kehadiran roh menurut kepercayaan lama terlihat dengan adanya pembuatan patung-patung leluhur di atas tugu atau makamnya. Hal ini memiliki bukti bahwa hingga sampai sekarang ini masih ada diantar orang Kristen Batak yang melaksanakan ritus-ritus di kuburan sebagai tanda bahwa masih melekat pemahaman akan hubungannya dengan orang mati. Dengan memberi makanan di atas makamnya atau di atas lemari supaya dimakan roh tersebut. Selain itu juga, dengan berziarah ke kuburan dan mencuci muka (marsuap) dikuburan tersebut. Serta tindakan berziarah atau membangun tugu sering didorong setelah adanya mimpi yang dialami oleh seorang anggota keluarga, di mana dalam mimpi itu diingatkan atau ditegur ataupun diperintahkan oleh roh tersebut untuk membangun kuburan/tugu yang baik bagi roh itu. Hubungan itu tercermin di dalam berbagai upacara adat yang dilakukan terhadap orang-orang yang akan dan telah mati.[19]
- Keberadaan Orang Mati Menurut Budaya Batak: Kematian merupakan perpindahan hidup dari dunia fisik ke dalam dunia kematian. Pada masa peralihan ini, maka roh orang mati itu harus dijaga keselamatannya dari segala gangguan roh-roh jahat. Kebahagiaan roh orang mati ditentukan dari penghormatan yang akan diterimanya di dalam dunia orang mati, penghormatan ini didasarkan apakah dia dikuburkan secara adat dengan baik atau tidak. Apabila dikuburkan secara adat dengan baik, maka kematiannya akan diberangkatkan dengan baik oleh masyarakat adat yang hidup di dunia. Kalau dia mendapatkan penghormatan yang baik dari masyarakat adat yang hidup, maka dia juga akan diterima dengan penghormatan di dunia orang mati. Sebaliknya, kalau dia tidak diberangkatkan dengan baik oleh orang yang masih di dunia, maka roh orang itu juga tidak akan diterima baik di dunia orang mati.[20]

IV. Pandangan Teologis
Jika kita hanya mengejar hal-hal duniawi maka kita telah melepaskan diri kita dari sumber kehidupan. Untuk menghadapi kematian, kita harus sadar bahwa kita hidup sebagai orang berdosa dalam kematian. Dalam PL , kematian berarti akhir kesudahan dari keberadaan seseorang (2 Sam. 12:15 ; 14:14). Manusia diciptakan dari tanah dan mereka akan kembali menjadi debu (Kej. 3:19). Jiwa diartikan sebagai sheol (hades)[21] yang tidak ada lagi kehidupan di luar daripadanya. Manusia yang mati pergi ke hades (ruang antara kematian dan penghakiman akhir). Maka sangat bertentangan dan ditolak kalau ada yang mengatakan masih ada hubungan antara orang mati dengan orang hidup.[22]
Apakah penyebab kematian? Paulus berkata bahwa upah dosa adalah maut/kematian (Rom. 6:23). Dasar pandangan tersebut yaitu iblis merupakan penguasa kematian (Ibr. 2:14), walaupun sebenarnya Allah sendirilah yang mampu menghancurkan tubuh dan jiwa dalam dunia kematian (Mat. 10:28 ; Why 2:23). Dalam PB, penyebab kematian merupakan hal yang teologis. Kematian itu universal dan hal tersebut merupakan keuniversalan kesalahan manusia dan jalan manusia untuk pengampunan,
Dari pembahasan-pembahasan di atas, tergambar bahwa kematian dalam PB bukanlah sebagai proses yang alamiah, tetapi sebagai peristiwa sejarah yang mengakibatkan manusia masuk ke dalam keberdosaannya. Pernyataan tentang kematian Kristus di kayu salib merupakan cerita keselamatan dan selalu berhubungan dengan kebangkitan dan kemenangan atau hidup baru bagi orang-orang percaya. Intinya adalah bahwa Allah sendiri merendahkan diri dan menanggalkan kemuliaanNya dalam kematian, yang justru dalam kematian itu, Ia menunjukkan diri sebagai Tuhan dan Allah yang hidup.[23] Kematian Kristus adalah keuntungan bagi manusia (1 Tes. 5:10 ; Ibr. 2:9-10), kematian Kristus adalah bagi Hukum Taurat ( Rom. 7:4), bagi dosa (2 Kor. 5:21), dan bagi kematian kita (2 Tim. 1:10). Kematian Allah berarti final dari segala keberadaan keilahian yang dipahami di dalam sistem metafisik kuno dunia.[24]
Kematian bagi orang percaya adalah kekuatan dalam hidup persekutuan dengan Tuhan bukan hanya sebagai satu hal akhir dari hidup. Kematian adalah pintu menuju hidup kekal yaitu kelepasan dari segala dosa menuju hidup kepada kehidupan bersama Allah.[25] Untuk itu, maka kematian menurut pandangan Kristen harus didasarkan pada ciri:
- Kematian adalah suatu hal yang alamiah yaitu manusia mengambil bagian dalam struktur kehidupan keseluruhan yang kompleks.
- Kematian adalah suatu hukuman, hukuman untuk dosa (Rom. 6:21-ff).
- Kematian adalah panggilan untuk pulang kepada manusia. Bukan hanya sebagai hukuman tapi juga kabar sukacita, bukan hanya sebagai pengadilan tapi juga penebusan (Flp. 1:23).
Ada juga ”kematian jasmani” yang bertitik tolak pada Kej. 3:19, kembali lagi menjadi debu/tanah. Roh dan nafas Allah ditarik kembali; debu kembali menjadi tanah atau tubuh dan roh kembali kepada Allah (Pengk. 12:7).[26] Orang yang mati di dalam Tuhan dikatakan orang yang berbahagia (Why. 14:13). Kematiannya sementara karena akan disusul dengan kebangkitan. Percaya dalam kebangkitan adalah sangat sederhana dan justru sama seperti hidup dari salib sebagai peristiwa keselamatan, salib merupakan simbol bukti sejarah kebangkitan melalui kenaikkan Kristus dari kematian. Melalui peristiwa keselamatan ini, maka Allah ditinggikan karena Anak-Nya yang tunggal telah mati demi keselamatan manusia.[27]

V. Kesimpulan
Semua manusia harus menyadari suatu fakta bahwa semua manusia akan mengalami kematian. Musuh yang sangat ditakuti dan selalu dihindari oleh manusia adalah kematian. Kematian adalah masa yang terjadi kepada setiap orang. Tidak ada orang yang dapat menyangkal adanya kematian, sebab kehidupan dan kematian adalah milik Allah. Kematian membuat perceraian antara daging dan roh, sehingga hubungan dengan Allah terpisahkan karena dosa dan kematian. Agama Kristen dan Islam tidak mempercayai akan adanya re-inkarnasi sesudah kematian, tetapi agama Hindu dan Budha mempercayainya. Kematian itu merupakan awal dan pintu gerbang menuju kehidupan. Tanpa kematian tidak akan ada kehidupan abadi.
Sebagai orang Kristen kita percaya, dan kita tahu, bahwa kematian bukan akhir dari suatu keberadaan atau kehidupan, namun hal itu tetap merupakan suatu perpisahan dari orang-orang disekitar kita pada masa hidup. Itu adalah akhir dari suatu hubungan yang mempunyai arti istimewa bagi kita dalam kenidupan ini. Langkah pertama dalam memperoleh perspektif yang tepat ialah dengan mengakui bahwa Allah berdaulat dalam semua masalah kehidupan dan kematian, karena Dia telah menunjukkan karya-karya keselamatan untuk menaklukan maut dan kematian. Keyakinan adanya kehidupan setelah kematian merupakan suatu sumber rasa aman, optimisme, dan pemulihan rohani bagi seseorang (1 Yohanes 3:2). Tidak ada suatu pun yang menawarkan lebih banyak kekuatan dan dorongan dari pada keyakinan bahwa ada suatu kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang menggunakan masa sekarang untuk mempersiapkan hidup dalam kekekalan.
Bila Anda yakin pada bukti adanya kehidupan setelah kematian, ingatlah Alkitab berkata bahwa Kristus mati untuk melunasi hutang-hutang dosa kita, dan bahwa semua orang yang percaya kepadaNya akan menerima karunia pengampunan dan kehidupan kekal. Keselamatan yang ditawarkan kristus bukanlah upah untuk usaha kita, tetapi suatu anugerah bagi mereka yang melalui bukti-bukti tersebut, percaya kepadaNya.

Catatan Kaki:
[1] J.H. Bavinc, The International Standard Bible Encyclopedia Vol. III, hlm. 811
[2] G. Kittel, Theological Dictionary of The New Testament Vol. III, (WB Eerdmans Publishing Company, Grand Rapids, Michigan, 1977), hlm. 14
[3] K. Riedel, Kamus Istilah Teologi Perjanjian Baru, (Jakarta : BPK-GM, 1951), hlm. 126
[4] Dosen UIN Malang http://puspek-averroes.org/2008/08/03/pluralisme-dan-dialog-antarumat-beragama/22 September 2009
[5] Gerald O’Colins,SJ & Edward G. Farrugia,SJ, terj. Suharyo,Pr, Kamus Teologi, (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm. 137
[6] Michael Keene, Agama-Agama Dunia, ( Yogyakarta : Kanisius, 2006), hlm. 141
[7] Eugene H.Merrill, Numbers, The Bible Knowledge Commentary, (Wheaton: Victor Books, 1985), hlm.235
[8] P.Hendrik Njiolah,Pr, Misteri Kematian Manusia, ( Yogyakarta : Yayasan Pustaka Nusatama, 2003) hlm.16-33
[9] Ensiklopedia Islam 3, ( Jakarta : PT. Ichtisar Baru Van Hoeve, 1994), hlm. 211-212
[10] http://www.2.bp.blogspot.com
[11] KH.ABD.Muthilb Mohyiddin, Tahap-tahap Kehidupan Manusia Menurut Pandangan Islam, ( Jakarta : Gunung Jati), hlm. 73
[12] Muhammadin AS , Tata cara Merawat Jenazah, ( Yogyakarta : PT.Pustaka Insan Madani, 2007) hlm.1-2
[13] Upasika Pandita Abhayahema, Viija-Dhamma (Jakarta: Yayasan Sekta Jaya Abadi, 1991), hlm. 131
[14] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Budha, ( Jakarta : BPK-GM, 2005), hlm. 73
[15] http://www. Anatta gotama [SMTP: anattagotama@yahoo.com]
[16] Michael Keene, Op-Cit, hlm. 29
[17] Hanry James Silalahi, Pandangan Injil Terhadap Upacara Adat Batak, ( Medan : Kawasan Missi Kristus, 2000), hlm. 65
[18] E. M. Tambunan, Sekelum: Mengenai Masyarakat Toba dan Sekitarnya, (Bandung: Tarsito, 1982), hlm. 71
[19] Ibid, hlm. 146
[20] Ibid, hlm. 150-153
[21] C. Barth, Teologi Perjanjian Lama 1, ( Jakarta : BPK-GM, 2006), hlm. 79
[22] Andar Lumbantobing, Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak, (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm.548
[23] Chifford Green (peny.), Karl Barth: Teolog Kemerdekaan (Kumpulan Cuplikan Karya Karl Barth), (Jakarta: BPK-GM, 1998), hlm. 124
[24] Walter J. Bildstein, Secularization The Theology of Jhon A. T. Robinson, A Radical Response, (Romae: Pontificiam Universitatem S. Thomae De Urbe, 1972), hlm. 48
[25] Walter A. Alwell, Evangelical Dictionary of Theology, (Michigan: Baker Book House, 1986) hlm.198
[26] H. Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK-GM, 1982), hlm. 245
[27] Francis Pieper, Christian Dogmatis Vol. I, (Missouri: Concordia Publishing Hous Saint Louis, 1950), hlm. 548-549

(Penulis adalah Pdt. F.H.B. Siregar, S.Th., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi November 2009)