Rabu, 30 November 2011

ARTIKEL: SINAMOT, ACUAN MATERIIL HARGA DIRI

Banyak anak muda Batak sekarang ini, terutama yang sedang persiapan membangun rumah tangga baru, dipusingkan dengan serba serbi paradaton yang harus mereka ikuti dalam pernikahan, salah satunya adalah Sinamot. Fakta membuktikan ada pernikahan yang tertunda, bahkan tidak jadi dilangsungkan, karena Sinamot yang tidak disepakati. Bagi orang yang tidak memahami adat Batak memang jadi terlihat aneh, karena dianggap hal yang tidak relevan lagi di jaman modern seperti sekarang ini. Tapi bagi kita yang memang sudah dilahirkan sebagai orang Batak, maka mencoba memahaminya menjadi penting, agar kita tidak salah jalan dan tidak cepat-cepat menyimpulkan. Apa sih sesungguhnya Sinamot itu?

Esensi Sinamot
Dari pengalaman dan hasil observasi penulis, setidaknya ada tiga hal yang menjadi esensi dari Sinamot.
Pertama, Sinamot adalah tanda “penghormatan” keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. Sebagian dari kita mungkin mengikuti berita di media massa tentang bagaimana keluarga Joy Tobing yang “merasa” sangat dihina dengan kiriman sekantung daging dari pihak keluarga pria yang katanya adalah Sinamot. Ingat, bahwa selain bentuk dan nilainya, maka proses yang harus berlangsung untuk disepakatinya Sinamot juga harus disepakati dan dilakukan dengan benar dan dengan tata cara yang diakui secara adat Batak. Oleh karena itu, berdasarkan konsep “suhi ni ampang na opat” (empat unsur utama dalam pernikahan secara adat Batak) keberadaan “Tulang” (saudara laki-laki ibu) juga diikutsertakan dan menjadi bagian penting dalam proses pernikahan itu.
Kedua, Sinamot adalah “bukti” atas komitmen terjadinya pernikahan secara adat. Artinya bukti atas janji pernikahan. Dalam adat Batak pernikahan bukan hanya menikahkan dua orang laki-laki dan perempuan, tapi juga “menikahkan” dua keluarga besar. Oleh karena itu keluarga besar masing-masing calon pengantin juga harus mengetahui, melihat dan menyepakati bukti itu. Karena pada akhirnya yang berkomitmen untuk terjadinya pernikahan adalah kedua keluarga besar itu. Artinya bahwa yang berkomitmen untuk mengikatkan diri satu sama lain adalah marga-marga yang terkait di dalamnya yang diwakili oleh kedua keluarga besar itu. Itulah makanya orang non-Batak seringkali terkagum-kagum kalau melihat jumlah yang datang saat pernikahan orang Batak. Sampai-sampai saat ini seringkali harus dilakukan dua acara terpisah, yaitu acara pernikahan secara adat dan acara resepsi yang mengundang rekan-rekan yang Non-Batak. Karena kalau disatukan akan menyulitkan pihak gedung untuk menampung. Menampung orang yang datang, dan menampung mobil-mobil yang harus parkir.
Ketiga, Sinamot adalah “kesepakatan” atau perjanjian. Hukum adat mengakui adanya kesepakatan secara lisan. Dengan demikian ucapan yang keluar dari mulut seseorang sudah dianggap sebagai ikatan. Berbeda dengan hukum modern yang dilakukan secara tertulis. Demikian juga dengan janji pernikahan. Dengan dibuktikan melalui Sinamot, maka pernikahan itu menjadi terikat secara adat, dan selanjutnya menjadi ikatan perjanjian di antara kedua belah pihak.

Keluhuran Nilai Sinamot Terdegradasi
Namun yang repotnya, ketiga esensi di atas akhir-akhir ini telah mengalami degradasi. Baik karena kurangnya pemahaman keluarga besar calon mempelai tentang proses berlangsungnya Sinamot, juga karena pemahaman yang salah dari banyak orang Batak sekarang ini yang menganggap Adat Batak itu kepanjangan dari cara-cara animisme atau dinamisme belaka. Lalu semakin banyak keluarga batak yang mulai terkooptasi oleh nilai-nilai materialisme dan hedonisme. Sehingga bagi mereka lebih penting nilai rupiahnya, daripada esensi penghormatannya. Lebih penting tingginya nilai Sinamot, daripada esensi dari komitmen pernikahan antara dua keluarga besar. Banyak orang berlomba-lomba untuk menaikkan besarnya Sinamot, supaya dilihat lebih hebat, lebih tinggi derajatnya dari keluarga yang Sinamot nya lebih rendah. Jadi sebenarnya sekarang ini ada faktor kompetisi harga diri orang Batak dalam Sinamot. Harga diri orang Batak saat ini seringkali diukur dari berapa besar Sinamot nya, bukan dari proses bagaimana Sinamot itu dilakukan secara benar dari perspektif keabsahan adatnya. Sinamot sekarang ini seringkali mengorbankan masa depan keluarga yang baru. Karena banyak keluarga yang melangsungkan pernikahan adat Batak secara jor-joran menaikkan Sinamot dan berpesta besar-besaran meskipun harus mengutang sana sini, dan menjual beberapa aset penting dari keluarga. Lalu selesai acara pasangan yang baru ini tidak memiliki “modal” yang cukup untuk memulai hidupnya. Akhirnya yang terjadi adalah si keluarga baru ini harus terseok-seok.
Situasi inilah yang akhirnya menjadi beban anak-anak muda Batak sekarang ini untuk memutuskan menikah, karena persepsi orang Batak yang terlanjur salah terhadap Sinamot. Pasangan muda yang akan menikah selalu “dihantui” oleh pertanyaan dari anggota keluarga: “berapa Sinamot mu”. Bukan lagi pertanyaan seputar bagaimana persiapan mental mu, sudah berapa kali mengikuti bimbingan pra nikah di gereja, atau bagaimana rencana kalian setelah menikah. Keagungan nilai pernikahan mulai digusur oleh seberapa besar acara yang akan dibuat. Seberapa banyak tamu yang akan diundang. Acara pernikahan Batak sekarang ini mulai bergeser dari yang tadinya perikatan dua keluarga dalam adat Batak, ke arah penyelamatan muka keluarga dengan Sinamot yang sebesar mungkin. Sinamot sudah mulai bergeser dari penghormatan antar keluarga besar menjadi sekedar transaksional semata. Sinamot seringkali akhirnya direduksi menjadi sekedar jual beli belaka.

Lalu Bagaimana?
Pertanyaan ini akhirnya harus dikembalikan kepada kita orang Batak. Sebab orang Batak memang terkenal dengan percaya dirinya yang tinggi. Bahkan seringkali tidak sadar akhirnya sampai pada ego yang tinggi. Kita harus jujur dengan itu. Semua maunya jadi raja. Ai sian bontian do au nunga raja...begitu kata kita. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan percaya diri yang tinggi. Tapi ketika itu sudah menyentuh ego yang membabi buta demi sekadar harga diri, sebaiknya kita mulai slowing down. Anak-anak muda harus berani bilang ke keluarga besar bahwa mempersiapkan kehidupan setelah menikah jauh lebih penting dari sekadar acara pernikahan sehari. Adat penting, Sinamot penting. Tetapi jangan sampai nilai-nilainya digeser menjadi pemuasan ego keluarga semata. Anak-anak muda Batak saat ini harus berani meluruskan cara pandang orang tua yang terhalusinasi oleh kepentingan harga diri sesaat. Kembalikanlah adat pada tempat dan nilai-nilai yang sesungguhnya. Besar kecilnya acara adat sesungguhnya bukan diukur dari jumlah uang yang digelontorkan, tetapi kelengkapan seluruh proses yang telah dilewati dengan benar dan kebesaran hati para anggota keluarga yang terlibat. Kebesaran hati untuk menerima apa yang ada, tidak berlebihan, dan tidak perlu mengorbankan masa depan keluarga muda yang baru meniti kehidupan rumah tangganya.

(Penulis adalah St. Mangara Sidabutar, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi November 2011)

Kamis, 27 Oktober 2011

RENUNGAN: DASAR KEHIDUPAN YANG HARMONIS ADALAH MENGASIHI (ROMA 12:9-12)

Paulus adalah salah seorang yang dipakai Allah sebagai Rasul untuk mengabarkan kabar baik kepada orang-orang di zaman itu. Kabar baik tentang Kristus, sekaligus pengajaran Firman dalam bentuk, misalnya nasihat. Pada dasarnya, perikop ini menjabarkan ayat 1-2 di pasal awal, yaitu berupa nasihat yang diberikan Paulus kepada semua anggota jemaat. Ay. 9-12 adalah nasihat yang disampaikan tentang pergaulan dengan orang-orang Kristen dan mengenai pergaulan dengan orang-orang non Kristen, ay.14-21. Keduanya tetap berdasar atas nilai atau unsur “ Kasih dan Perbuatan”.ay. 9 “Hendaklah kasih itu jangan berpura-pura hindarilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Kata “pura-pura” artinya main sandiwara atau lebih dekat kepada bersikap munafik., “Jauhilah” artinya = menjijikkan bahkan lebih kuat Dari pada menjauhi bahkan membenci kejahatan. “Lakukanlah atau lebih tepat berpeganglah”
Kalimat ini adalah satu bagian yang sangat sejajar dalam maknanya. Makna kasih yang hendak ditunjukkan dalam nats ini adalah menunjuk kasih yang nyata (berbuat). Keberadaan kasih itu yang sebenarnya dan bukan yang setengah-setengah dalam konsep dan perbuatan atas dasar kasih dan perbuatan, hendak menunjukkan bahwa Kasih itu tidaklah merupakan suatu konsep tetapi nyata dalam perbuatan….artinya, didalam kasih tidak ada kejahatan sebab dalam kasih ada kebencian (pada kejahatan) dan selalu berpihak (berpegang dan melakukan) pada yang baik. Kata kasih yang dimaksudkan dalam hal ini adalah AGAPE, yaitu Kasih Allah yang telah dicurahkanNya, dalam hati kita manusia oleh Roh Kudus. Hal ini menyatakan juga bahwa Kasih yang dimaksudkan sangat bertolak belakang dengan kepurapuraan, kasih yang diharapkan dapat ditunjukkan secara nyata dan mampu memancar dalam perbuatan kita. Dalam bentuk kasih diperlukan adalah sebuah komitmen. Oleh karena itu kasih tidak ada gunanya tanpa perwujudan atau tindakan yang nyata.
Ay. 10 “ Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat”.
Kata kasih kembali lagi diungkapkan dalam ayat ini. Kasih dalam hal ini diarahkan bagi terwujudnya kasih dalam ruang lingkup persaudaraan (sesama orang Kristen). Kasih menjadi unsur utama atau dasar bagi kehidupan serta dalam hidup persekutuan bersama. Kasih dan penghormatan adalah dua hal yang berbeda. Penghormatan belum tentu mengandung kasih, tetapi di dalam kasih terkandung unsur penghormatan atau rasa hormat (sebagai sesama). Kasih itu membawa manusia kepada kerendahan hati untuk dapat hidup saling menghormati satu dengan yang lain. Kata kasih yang diperdengarkan dalam kata aslinya berarti cinta yang mesra. Apapun yang menjadi ceritanya adalah bahwa kasih itu perlu diwujud nyatakan dalam hubungan sebagai saudara ( sesama Kristen atau non Kristen). Disini yang hendak dikatakan adalah supaya orang-orang Kristen mampu menempatkan kasih Allah itu dalam hubungannya dengan sesama dengan menghormati satu dengan yang lainnya.
Ay. 11 “ Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala- nyala dan layanilah Tuhan”.
Kerajinan adalah salah satu bagian yang menjadi sisi kehidupan manusia . Setiap orang Kristen memerlukannya. Kitab suci selalu mengajak agar kerajinan manusia jangan mengendor. Ini ditemukan dalam Tuhan Yesus sendiri. Kerajinan adalah bagian hidup yang perlu dihidupkan sehingga menghasilkan suatu gerakan yang hebat. Semangat manusia kapan sajapun dapat mengendor dengan berjalanya waktu. Tetapi disini, hendaklah roh manusia itu menyala-nyala, mendidih atau berkobar-kobar supaya kerajinan itu hidup. Sebab, roh manusia hanya dapat memiliki kerajinan, semangat dan gerakan oleh pengaruh Roh Kudus. Ia adalah roh yang berkuasa atas roh manusia. Dalam hal ini, manusia hendaknyalah mengarahkan rohnya dalam kesungguhan dan ketaatannya pada Kuasa Roh. dengan begitu roh akan dimampukan hidup dan melayani Allah.
Ay.12. “ Bersukacitalah dalam Pengharapan , sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa”.
• Pengharapan adalah salah satu sikap hidup orang percaya. Pengharapan yang dimaksud bukanlah agar kita bahagia, agar kita sehat, berbudi dan agar kita berumur panjang. Yang dimaksud adalah pengharapan akan kedatangan dunia yang baru, akan kebangkitan dan kehidupan bersama Kristus.
• Kata kesesakan dalam bahasa aslinya berarti kesengsaraan.. Kesengsaraan yang dimaksud adalah” kesengsaraan orang – orang percaya” yang melakukan kehendak Allah. Sebab kesengsaraan itu tidak terpisahkan dari kehidupan orang percaya (Yoh. 16:33), kesengsaraan yang dimaksud adalah karena melakukan kehendakNya.
• Kata bertekun “ Secara khusus di dalam doa”. Bila demikian , bukan hanya sekedar berdoa tetapi juga menuntut ketekunan didalamnya, karena doa dalam ketekunan menjadikan komunikasi kita dengan Allah tidak terputus.
Alkitab adalah buku berisikan Firman Allah yang mengatur kehidupan umat. Allah menghendaki hidup yang sesuai dengan kehendakNya, baik yang hidup pada masa lampau maupun jaman sekarang. Allah adalah sumber segala hidup dan Dia sendiri adalah Kasih. Jemaat didalam nats ini, memiliki sebuah PERINTAH UTAMA yaitu “ untuk hidup dalam kasih”. Di dalam kasih, dalam persaudaraan, keharmonisan dan penghormatan yang mereka mimpikan akan terwujud. Bila demikian, kehidupan umat saat ini tentu kembali di pertanyakan. Apa perintah utama dalam hidup kita sekarang ini bila dilihat dari tantangan dan perkembangan jaman. Disisi lain apa makna hidup kita sebagai jemaat bila di perhadapkan dengan segala realitas- realitas pada masa kini.Memang pengikut Kristus selalu diperhadapkan dengan banyak perkara.(“Banyak perkara yang tak dapat kita mengerti , mengapakah harus terjadi.. di dalam kehidupan ini.... Satu perkara yang kita simpan dalam hati tiada satupun kan terjadi, tanpa Allah perduli. Allah mengerti,.. Allah perduli segala persoalan yang kita hadapi tak akan pernah dibiarkannya kita bergumul sendiri sebab Allah mengerti.”) tetapi apakah perkara itu membuat kita kalah dan tidak menyatakan kasih yang sesungguhnya di dalam kehidupan kita? saudara-saudaraku Kekasih dalam Kristus Yesus:
Secara khusus 150 tahun HKBP, Allah yang kita kenal mengerti tentang persoalan kita, Allah yang kita kenal mengetahui apapun yang menjadi beban kita namun hendaklah dalam semua itu kita saling menguatkan serta mengasihi karena itu adalah buah dalam persaudaraan menurut Alkitab. Di mana kita sekarang ini menempatkan alkitab sebagai aturan hidup bersama, Allah yang dulu menyatakan Kasih dan kebenaranNya untuk membawa orang Batak mengenal Firman Tuhan tetap ada sekarang bekerja dan melihat hidup kita. Allah mau kehidupan Jemaat HKBP dalam usia 150 hendaknya saling mengasihi, tetap bertumbuh seturut dengan Firmanya dan mari kita menjalin kasih sebagaimana Yesus mengasihi kita sampai saat ini. Amin

(Penulis adalah Pdt. L. br. Simanjuntak, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Oktober 2011)