Kamis, 12 Januari 2012

ARTIKEL: MEMBENTUK EKSISTENSI PELAYANAN REMAJA DAN NAPOSOBULUNG DI GEREJA (HKBP SEMPER)

1. High-Impact Pelayanan Remaja dan Naposobulung
Tidak habis-habisnya syukur bagi Tuhan Yesus Kristus, yang telah menganugerahkan kesempatan untuk melayani-NYA pada masa saya remaja dan naposobulung di Gereja HKBP Semper. Suatu pengalaman yang sangat berharga dan tidak akan pernah terlupakan, karena dampaknya sangatlah besar (high-impact), bukan hanya sesaat atau hanya pada saat melayani, akan tetapi sampai dengan hari ini dan bahkan sampai sepanjang masa. Nilai dari pelayanan itu tidaklah dapat dibandingkan dengan apapun juga, bahkan dengan emas dan perak. Pelayanan di kepengurusan (kepanitiaan) Remaja dan Naposobulung (R NHKBP) sejak tahun 1995 sampai dengan 2002 (+/- 8 tahun) telah meninggalkan banyak kesan yang mendalam bersama dengan Tuhan. Suatu pengalaman rohani yang membentuk kepribadian, mental dan cara berfikir yang diubahkan oleh Tuhan untuk mengarahkan hidup ini memiliki nilai (value) sesuai dengan perintah Tuhan di dalam Alkitab yaitu MENGASIHI TUHAN ALLAH DAN MENGASIHI SESAMA. Itulah makna atau intisari dari segala pelayanan Remaja dan Naposobulung.
Apa yang membuat pelayanan ini begitu bernilai? Berikut beberapa aktivitas pelayanan pada waktu itu:
a. Mengunjungi Amang Sintua yang Sedang Sakit
Betapa tidak kami terharu ketika mengunjungi Amang Sintua Sarumpaet (Almarhum) yang pada waktu itu sedang menderita penyakit stroke di rumahnya. Penyakit yang membuat beliau tidak dapat beraktivitas normal karena sebagian tubuhnya mengalami kelumpuhan. Pada waktu itu kami bawakan sebuah T-Shirt, kemudian mengenakannya di hadapan seluruh Naposobulung yang berkunjung. Beliau tersenyum dan tertawa bahagia. Setelah itu kami menyanyikan sebuah lagu rohani yang selalu dibawakan beliau ketika mengajari kami sidi, “Andaikan Yesus, Kau Bukan Milikku (KJ No.300) Ketika kami menyanyikannya, beliau tersenyum dan terharu karena bahagia. Peristiwa itu sangatlah berkesan. Secara pribadi, saya sangat terharu melihat beliau bahagia.
b. Penjualan Pakaian Bekas Layak Pakai ke Marunda
Betapa tidak kami bahagia ketika melihat wajah para nelayan, istri nelayan dan anak-anak nelayan di daerah Marunda, tersenyum ketika mereka dapat membeli pakaian-pakaian yang kami jual sangat murah. Pakaian-pakaian yang menurut kami sudah bekas tetapi masih bagus-bagus. Menurut informasi yang kami terima saat itu (tahun 1995/1996), setiap hari penghasilan mereka hanya sekitar Rp5.000 – Rp10.000 per keluarga. Anggota keluarga mereka rata-rata 4-5 orang. Oleh karena itu, harga pakaian kami hanya kisaran rata-rata Rp500 sampai dengan yang termahal Rp5.000. Berbondong-bondong para nelayan itu datang untuk mendapatkan baju, celana, jaket dsb. Pakaian yang menurut kami sudah bekas, tetapi bagi mereka sangat bagus untuk dikenakan. Bapak ketua RT-nya berkata, “Jangan sungkan-sungkan kembali lagi ke sini. Pasti kami berikan ijin untuk jualannya”. Setiap kami akan datang, biasanya pengurus masjid selalu mengumumkan melalui pengeras suara “toa” kepada masyarakat sekitar.
c. Kunjungan ke Panti Asuhan KDM dan Yayasan Bangun
Betapa tidak kami bahagia ketika mengunjugi panti asuhan Kampus Diakonia Modern (KDM) di Kampung Raden, Pondok Gede, Bekasi dan panti asuhan Yayasan Bangun, di Tanjung Priok. Berbagi kebahagiaan bersama dengan mereka dalam makan siang dan bermain dalam kelompok. Ada beberapa orang yang pada akhirnya kami ketahui latar belakangnya, karena orang tuanya memang sudah tidak ada, atau orang tuanya tidak bertanggung jawab. Badan dan rambut mereka berbau tidak sedap (maaf kata), karena memang mereka jarang mandi. Mereka juga ada yang “ingusan” (maaf kata), membuat kami sebetulnya merasa tidak nyaman. Namun, justru itulah kebahagiaannya, menyatu dengan mereka ditengah-tengah ketidaknyamanan, membuat kami merenung, bahwa “Sang Bayi” Yesus pun lahir di kandang domba yang jauh dari steril dan bersih, apalagi wangi. Dengan kunjungan itu, kita diajarkan bahwa banyak anak-anak terlantar yang membutuhkan Kasih Tuhan melalui uluran tangan kita. Meski anak-anak itu “hina” sekalipun, tetapi mereka tetapi berharga di mata Tuhan.
d. Mengunjungi Jemaat yang Sakit
Betapa tidak kami pilu ketika mengunjungi beberapa jemaat yang sakit di rawat di rumah maupun di rumah sakit. Yang sakit dari mulai remaja sampai dengan orang tua, bahkan yang sudah mendapatkan gelar “Ompung”. Mereka membutuhkan dukungan secara mental psikologis yang membuat mereka lebih bersemangat menjalani hari-harinya ditengah kesakitan. Bahkan ada yang sudah dinyatakan kanker ganas dan menurut dokter sudah tidak dapat disembuhkan. Kami berdoa bersama untuk memohon kesembuhan dari Tuhan. Di dalam doa ada kedamaian dan pengharapan. Itulah yang ingin kami bagikan kepada jemaat-jemaat yang sakit tersebut. Meskipun demikian, jemaat yang sakit pada akhirnya ada yang meninggal karena tidak tertolong lagi namun ada juga yang sembuh, itu adalah anugerah Tuhan.
e. Festival Paduan Suara Naposobulung se-DKI Jakarta
Apa lagi yang membuat pelayanan ini begitu bernilai? Betapa tidak kami sangat bersukacita ketika Paduan Suara (Koor) kami dinyatakan sebagai Juara III pada Festival Paduan Suara Naposobulung se-DKI Jakarta, yang waktu itu diselenggarakan oleh NHKBP Tebet. Bisa dibayangkan siapakah kami “HKBP Semper” ditengah-tengah gereja-gereja HKBP yang “besar” di Jakarta ini. Kami juga tidak memiliki pelatih profesional pada waktu itu. Dengan talenta yang ada di dalam punguan Naposobulung, kami berusaha memaksimalkannya untuk mempersembahkan dua buah lagu pujian kepada Tuhan, “Sang Pemilik Kehidupan”. Lagu yang kami bawakan pada waktu itu adalah “Kristus, Penolong Umat yang Percaya” (KJ No.254) dan “Great is Thy Faithfulness”. Yang terpenting adalah proses menjadi juaranya, bukan juara itu sendiri. Kami berlatih +/- 2,5 bulan untuk mempersiapkan diri secara fisik dan mental. Dari segi penilaian teknis, kami berusaha semaksimal mungkin menguasai lagu-lagu tersebut, menghayatinya dalam ekspresi, dan yang terpenting menyatukan suara kami, sehingga suara Sopran, Alto, Tenor dan Bass hanya terdengar 4 suara saja, meskipun kami ada +/- 25 orang. Tidaklah mudah untuk menghasilkan Koor yang berkualitas. Dibutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan materi. Namun sekali lagi betapa indahnya bernyanyi memuji Tuhan dalam Koor yang memiliki kualitas tinggi dan penuh dengan kesatuan serta penghayatan.
f. Pekan Olah Raga dan Seni
Betapa tidak kami sangat bersukacita ketika R-NHKBP Semper mengadakan Pekan Olah Raga dan Seni (PORSENI). Setiap lunggu bersatu menampilkan talenta yang mereka miliki dalam olah raga dan seni. Beberapa cabang olahraga yang diperlombakan, seperti sepak bola, tenis meja, bulu tangkis, lari, catur dan catur jawa. Kesenian yang ditampilkan adalah lomba vokal group dan Cerdas Cermat Alkitab. Indah sekali rasanya ditengah-tengah semangat persaingan namun ada kesatuan di antara kami. Kami bisa saling mengenal satu dengan lainnya dari tujuh atau delapan lunggu di HKBP Semper yang berpartisipasi. Anggota R-NHKBP yang sebelumnya belum dikenal, menjadi kami kenal. Bahkan dari antara mereka, saat tulisan ini dilansir, ada yang sudah dan sedang menjadi pengurus Remaja dan Naposobulung HKBP Semper. Itulah salah satu buah dari pelayanan, bertambahnya jiwa yang rela menyerahkan dirinya melayani Tuhan Yesus Kristus.
g. Bible Camp Pelajar Sidi dan Kamp Pelayanan
Yang tidak kalah pentingnya adalah kegiatan Bible Camp Pelajar Sidi dan Kamp Pelayanan. Dua agenda yang sangat penting dalam membina para remaja dan naposobulung sebelum mereka terjun ke dunia pelayanan di HKBP Semper. Mereka dibagikan mengenai “Arti Keselamatan” dilanjutkan dengan “Arti Pelayanan”, kemudian bagaimana “Karakter Seorang Pelayan” dan “Dinamika Kelompok” untuk bersinergi dalam melayani Tuhan. Sungguh sangat berkesan dalam hati, dan akan terus terpatri apa yang sudah didapatkan pada waktu itu. Semua Firman Tuhan yang dipaparkan sesi demi sesi memberikan bekal yang abadi dan bernilai tinggi dalam mengarungi kehidupan ke depan, bukan hanya pada waktu melayani di gereja HKBP Semper tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari di keluarga, sekolah, kampus dan dunia pekerjaan.
h. BULETIN NARHASEM
Yang terakhir tetapi bukan berarti yang paling kecil artinya adalah BULETIN NARHASEM, Buletin kita tercinta ini. Siapakah yang rela mengerjakannya? Remaja dan Naposobulung, bukan? Ya, merekalah yang mengurusinya. Ucapan syukur yang sangat mendalam, karena Buletin ini masih eksis sampai dengan saat ini. Di tengah usianya yang hampir memasuki tahun ke-8, Buletin ini sudah banyak menjadi berkat bagi pembacanya. Sangat besar anugerah Tuhan bagi tim redaksi Buletin ini. Yang tidak kalah pentingnya adalah Tuhan selalu memberikan orang-orang yang rela mengorbankan dirinya untuk menjadi tim redaksi, penulis dan editor dari Buletin ini. Sesuai dengan motto dari Buletin ini “BULETIN NARHASEM FOR THE GLORY OF THE LORD”. Biarlah terus nama Tuhan Yesus ditinggikan, dimuliakan dan diagungkan. Biarlah semakin banyak orang yang mengenal Dia, “Sang Juru Selamat”. Dan semakin banyak orang yang datang kepadaMU untuk melayani.
Masih banyak lagi kegiatan-kegiatan pelayanan R-NHKBP selain yang saya sharingkan di atas. Kegiatan-kegiatan rutin seperti Kebaktian Bulanan, Koor, Perseketuan Doa Syafaat dll. Semua itu bernilai tinggi. Tetapi karena keterbatasan ruang dan waktu, maka saya hanya menceritakan sebagian saja. Kalau para pembaca, khususnya R-NHKBP ingin mengetahui lebih dalam bisa langsung bergabung ke dalamnya. Segera hubungi pengurus R-NHKBP. Jangan tunggu. Nikmatilah kasih dan kuasaNYA dalam pelayanan yang bernilai tinggi dan kekal. Jangan berkata Anda masih muda, Anda tidak layak. Karena pelayanan adalah anugerahNYA semata.
Pelayanan R-NHKBP Semper sudah banyak memberikan dampak (high-impact) yang mungkin secara kasat mata tidaklah kelihatan. Ya, karena memang pelayanan ini adalah pelayanan rohani. Pelayanan yang dampaknya adalah bagi jiwa/roh seseorang yang membentuk iman percaya kepada Tuhan semakin teguh dan tak tergoyahkan di tengah-tengah dunia ini. Dampak pelayanan itu bukan hanya bagi remaja dan naposobulung itu sendiri, tetapi juga bagi jemaat secara luas. Mungkin ada dari antara pembaca artikel ini merasakan apa yang dirasakan oleh penulis. Puji Tuhan! Saksikanlah itu di tengah-tengah kehidupan Anda dengan terus menjadi pelayannya baik di keluarga maupun pekerjaan dan masyarakat, dimana Anda tinggal. Teruslah berikan dukungan bagi punguan R-NHKBP Semper, melalui dukungan moral, pemikiran dan materi.

2. Mengapa Naposobulung menjadi “Kerdil”
Satu hal yang sudah menjadi persepsi keliru di tengah-tengah jemaat HKBP adalah Naposobulung akan dianggap eksis dan berarti jika setiap minggu aktif mengisi acara dalam Kebaktian Umum berbahasa Batak. Jika Naposobulung tidak mengisi acara Koor, maka Naposobulung dianggap tidak eksis dan lesu. Naposobulung yang bagus adalah jika mereka kelihatan oleh jemaat memiliki anggota Koor yang banyak secara kuantitas. Oh, alangkah kerdilnya pemikiran seperti itu. Pemikiran yang secara tidak langsung telah “mengkerdilkan” peranan dan fungsi R-NHKBP di tengah-tengah jemaat. Bukankah Koor itu hanya sebagian kecil saja dari aktivitas R-NHKBP. Sekali lagi saya pertegas, hanya sebagian kecil saja.
Oleh karena itu, marilah kita coba berfikir yang lebih besar terhadap R-NHKBP. Sudah banyak yang penulis sharingkan di atas, yang memiliki makna mendalam dan sangat bernilai tinggi dan kekal. Marilah kita ubah persepsi kita yang kerdil itu. Bangunlah kembali Remaja dan Naposobulung ini menjadi sebuah punguan yang berkualitas dan besar. Bukan mengedepankan kuantitas dan Koor semata.

3. Eksistensi Pelayanan R-NHKBP adalah Menjadi Garam dan Terang
Paragraf ini ditujukan khusus bagi seluruh rekan-rekan Remaja dan Naposobulung terkasih.
Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, penulis ingin kembali mengingatkan bahwa eksistensi punguan R-NHKBP adalah kembali kepada visi yang mulia. Menjadi garam dan terang. Bagi keluarga, jemaat, masyarakat sekitar dan masyarakt luas. Kepakanlah sayapmu jauh lebih luas lagi. Jangan monoton dalam melayaniNya. Jangan berkutat hanya di dalam saja. Berkreasilah lebih tinggi lagi. Berdayakanlah seluruh potensi dan talenta yang ada pada R-NHKBP. Manfaatkanlah waktu yang singkat ini. Paling maksimal hanya 10 tahun rekan-rekan dapat melayani sebagai R-NHKBP. Setelah itu rekan-rekan akan menjadi seorang suami/isteri, bapak/ibu dalam keluarga kecilmu. Bangunlah kembali suatu punguan R-NHKBP dengan visi yang kuat dan konsistenlah dalam menjalani visi tersebut sampai dengan garis akhir. Kiranya Tuhan Yesus Kristus, “Sang Gembala Agung” akan senantiasa memimpin, melindungi dan memberkati rekan-rekan untuk terus maju dan tak lelah melayaniNya. Karena sesungguhnya kepada kita telah diberikan Anugerah KESELAMATAN dan kita semua wajib mengerjakan KESELAMATAN itu sampai MARANATHA. Amin.

(Penulis adalah Maurice Nainggolan, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Januari 2012)

Sabtu, 24 Desember 2011

ARTIKEL: KEMATIAN DAN KEBANGKITAN MENURUT IMAN KRISTEN

Kematian dan Kebangkitan Menurut Iman Kristen
Makna dan maksud peringatan Orang yang menginggal Dulia Dalam Kalender Gerejawi HKBP

1. Pendahuluan
Saudara Uly br. Panjaitan meminta saya untuk menulis sebuah tema menyangkut kematian terutama dalam hubungannya dengan peringatan tentang orang yang meninggal dunia. Hal ini juga dikaitkan sehubungan dengan semakin mendekatnya Kalender Gerejawi kita – HKBP - ke Minggu-minggu akhir, yakni Ujung Taon Parhuriaon sekaligus dirangkai dengan Parningotan Di Angka Na Monding. Hal ini dimaksudkan untuk mengisi rubrik di Majalah NARHASEM yang diterbitkan oleh Naposobulung dan Remaja HKBP Resort Semper, Jakarta.
Sebagai bentuk dukungan moral dan spiritual terhadap kemajuan penerbitan Majalah NARHASEM ini, Penulis menyanggupi untuk menuliskan pokok yang dimintakan oleh pengelolanya dengan formulasi judul sebagaimana dibuatkan di atas: Kematian dan Kebangkitan Menurut Iman Kristen.

2. Teologia Kematian
Secara umum baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru kematian dipandang sebagai sesuatu peristiwa yang mengakhiri kehidupan dari dalam dunia ini, yakni yang “memisahkan” jiwa (roh atau tondi) dari dalam tubuh . Kalau kita berbicara tentang ‘kematian’, maka kita harus membedakan antara ‘kematian jasmani’ dengan ‘kematian rohani’. Kedua bentuk kematian ini sama-sama berbahaya terhadap manusia meskipun pada kenyataannya kematian jasmanilah yang paling ditakuti oleh manusia. Sesungguhnya – menurut iman Kristen - kematian rohanilah yang seharusnya paling ditakuti oleh manusia sedangkan kematian jasmani hanya awal menuju kehidupan yang kekal. Untuk jelasnya mari kita ikuti uraian berikut ini:
I. Kematian Jasmani
Menurut Alkitab kematian adalah hasil atau akibat dari dosa manusia. Dalam Kejadian 2:17 Allah telah mengingatkan manusia (Adam) bahwa pada hari engkau memakannya maka engkau mati. Demikian juga Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa oleh seorang manusia maka dosa memasuki dunia ini, dan oleh karena itu juga dosa melahirkan kematian (Rom 5:12), dan upah dosa adalah maut (Roma 6:23)
(1) Dalam Perjanjian Lama
Agama Jahudi tua sangat sedikit memberi perhatian dan pengajaran terhadap kematian fisik ini, tetapi menerima kematian itu sebagai bagian dari hidup; selain itu agama Jahudi tua juga sangat kurang memberi perhatian terhadap hidup di balik kematian. Agama Jahudi tua mempercayai bahwa apabila jiwa (roh=tondi) telah keluar dari dalam tubuh maka ia akan pergi ke Sheol atau Hades (Maz.88:12; 86:13; Amsal 15:24). Kematian dipandang sebagai akibat dosa sebagaimana kita temukan dalam Kejadian 3:19, 22.
Kemudian dalam perkembangan agama Jahudi selanjutnya, misalnya pada saat penulisan Kitab Daniel sekitar tahun 350 BC sudah mulai ada keyakinan orang Jahudi terhadap kebangkitan orang mati dan seterusnya kemudian ada pengadilan atas semua perbuatan ketika masih hidup dahulu dan upah perbuatan baik. Sebelum masa Hesekiel dan Daniel ada sedikit kepercayaan akan adanya kehidupan yang kekal bagi perseorangan. Namun secara umum orang Israel dari generasi ke generasi berikutnya mempercayai adanya hidup yang kekal. Misalnya dalam Hosea 6:1-3 yang kedengarnya bersifat pribadi tetapi sudah menunjuk kepada keseluruhan orang Israel. Hal itu dilatarbelakngi pemikiran bahwa manusia itu adalah makhluk hidup, dan bukan jiwa yang mengalami inkarnasi sebagai mana dalam filsafat Gerika dan agama Hindu.
(2) Dalam Perjanjian Baru. Kematian selalu disangkut-pautkan dengan kuasa dosa sebagaimana tertulis dalam Roma 5:12 “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa”. Kematian adalah suatu kuasa yang sangat dimusuhi oleh segenap manusia. Kematian adalah kuasa iblis yang dikalahkan oleh Tuhan Yesus ketika Dia mati dan bangkit kembali dari kuburNya. Paulus berulangkali menyatakan: Siapa saja yang percaya kepada kematian dan kebangkitanNya maka kematian itu tidak lagi menjadi kuasa yang mengerikan dan yang merusak baginya (Rom 6-9 dan 1 Kor 15). Memang manusia akan mati secara fisik, tetapi secara rohani orang percaya akan memperoleh kehidupan yang kekal dari balik kematian itu. Oleh karena itu baik kematian ataupun kehidupan tidak akan dapat meniadakan kita dari tangan Allah.
b. Mati sekali hidup dua kali atau mati dua kali hidup sekali.
Orang Kristen yang mati secara jasmani tetapi beriman kepada Kristus Yesus hanya akan berpisah dengan sanak keluarga, tetapi akan mengharapkan hidup yang kekal di balik kematiannya. Mereka hanya akan “mati sekali tetapi hidup dua kali” .
(1) Kematian Rohani
Berita tentang kematian pertama sekali kita dengar di Taman Eden dalam Kejadian 2:17 “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" . Kenyataannya , Adam dan Hawa memakan buah pohon yang dilarang Allah untuk dimakan, dan mereka tidak mati secara jasmani. Lalu apa yang terjadi buat mereka? Apakah Firman Tuhan meleset? Atau mungkin ……berbohong?
Tentu tidak! Kematian pasti terjadi. Tetapi kematian yang dimaksudkan di sini adalah kematian rohani yang mencakup beberapa fenomena yang sangat buruk bagi kehidupan manusia, yakni:
 Pengusiran Adam / Hawa dari Taman Eden. Adam dan Hawa yang ditempatkan Allah di Eden pada jaman in illo tempore (sebelum kejatuhan ke dalam dosa) adalah berada dalam suasana keemasan, penuh kebahagiaan, tidak ada ratapan, keluhan, tanpa sukacita. Sejak saat itu manusia harus hidup menderita sebab berikutnya akan terjadi hukuman Allah
 Putusnya hubungan manusia dengan Allah. Orang yang tidak memliki hubungan dengan Allah adalah orang yang sudah mati. Yesus pernah menegor orang Jahudi dan mengumpamakan mereka dengan kuburan yang dikapur, karena meskipun mereka hidup tetapi sesungguhnya sudah mati karena mereka tidak hidup di dalam iman (Matius Matius 23:27 “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih,..”
 Kematian yang kekal. Manusia tidak lama ikut mewarisi kehidupan yang kekal yang disediakan oleh Allah. Dan untuk kehidupan yang kekal inilah nantinya Yesus datang ke dunia merajut kembali hidup yang kekal yang telah dirusak oleh dosa manusia
Orang yang hidup dalam dosa atau kita sebut “mati secara rohani”, nanti ketika ia mati jasmani akan mengalami “hidup sekali tetapi mati dua kali” yakni mati pada waktu kehidupannya berakhir dan mati karena tidak mendapat kehidupan yang kekal di sorga.

2. Kebangkitan Orang Mati Menurut Alkitab
a. Perjanjian Lama sudah mengajarkan pengharapan akan kebangkitan orang mati. Bagi orang-orang PL maut adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari, tidak dapat ditiadakan. Tiap orang akan mengalami kematian. Dalam Maz.88:11, Tuhan Allah tidak akan membuat orang tidak bisa mati (bd. Pengkhotbah 9:5, 7, 9 yang mengatakan bahwa orang hidup tahu bahwa ia akan mati kelak. Maut dipandang sebagai pemutusan, yang tampak memisahkan orang dari pada segala hubungannya. Manusia kembali kepada debu (Maz.90:3). Bahkan, maut dipandang sebagai suatu hukuman Allah terhadap dosa. Maka Musa mengatakan bahwa karena murka Tuhan, manusia binasa (Maz. 90:7).
Pemahaman inilah yang menjadikan manusia takut terhadap kematian. Mereka berharap jangan sampai mati pada pertengahan umurnya (Maz. 102:24,25), dan mereka yakin bahwa umur orang jahat disingkatkan (Amsal 10:27). Orang-orang mati memandang bahwa kematian berarti turun atau memasuki ‘syeul’ (yang diterjemahkan dengan alam ‘barzach’) yaitu alam maut, atau dunia maut, tempat orang mati, tempat yang dikuasai oleh maut, yang letaknya dipandang di dalam tanah (1 Sam 2:6; Yes 7:11; 28:18). Yang memasuki tempat ini bukan hanya orang jahat, tetapi juga orang beriman (Jakub : Kej.37:35 di sini diterjemahkan dengan ‘ke kubur’).
b. Perjanjian Baru.
Dalam PB keyakinan akan kebangkitan orang mati itu makin jelas, hal itu disebabkan karena karya Tuhan Yesus Kristus. Dalam Yoh. 11:25 Tuhan Yesus berkata: “Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati…..”. Kata-kata ini menunjukkan bahwa Kristus sendirilah kebangkitan dan hidup itu. Ia bukan hanya bangkit dari maut dan kemudian hidup; Ia bukan hanya membangkitkan dan menghidupkan orang mati (mis: Lazarus, putri Jairus dan pemuda dari kota Nain). Tetapi firman itu memberi arti bahwa kebangkitan dan hidup memiliki dasar dan akar serta memanifestasi dalam diri Yesus Kristus. Keduanya, kebangkitan dan hidup berada di bawah kuasaNya: Ia-lah Penghulu hayat (Kis Ras. 3:15; Batak : ‘partogi tu hangoluan’).
Oleh hakekat diriNya yang demikian maka kebangkitan adalah pusat segala sesuatu dan menguasai segala sesuatu (1 Kor. 15:12-34). Dengan kebangkitanNya, Kristus melenyapkan maut dan melahirkan hidup yang tiada berkesudahan (2 Tim 1:10). Kebangkitan Yesus bukan sesuatu hal yang berdiri sendiri tanpa hubungan dengan apapun. Yang bangkit itu adalah Kepala Gereja; dan Gereja itu adalah tubuhNya sendiri. Jika Kepala bangkit, tentu tidak hanya sebagian-sebagian, tubuh dan anggota-anggota tubuh lainnya juga akan mengikut Kepalanya. Kristuslah yang sulung dari kebangkitan itu, dan akan diikuti yang lain (Kol 1:18; Wahyu 1:5). Itu sebabnya Paulus berkata: “Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya” (1 Kor. 15:23). Jadi Allah yang sudah membangkitkan Tuhan Yesus Kristus dari antara orang mati, juga akan membangkitkan orang beriman dengan kuasaNya (1 Kor 6:14; 2 Kor 4:14). Jadi kebangkitan orang beriman pada akhir jaman ini kepada hidup yang kekal adalah suatu kenyataan yang tidak bisa diragu-ragukan, sebab Kristus sudah bangkit dari antara orang mati.
c. Tubuh Rohani Orang Yang Dibangkitkan. Dalam 1 Kor 15:44 disebut bahwa orang beriman yang sudah dibangkitkan dari antara orang mati itu akan mendapat tubuh rohani. Di sana disebutkan : “Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah”.
Pada 1 Kor 15:45 manusia pertama yaitu Adam adalah nyawa hidup sedang Adam Kedua (terakhir) yakni Yesus Kristus adalah roh yang menghidupkan. Itu sebabnya, semua orang yang percaya padaNya (Adam kedua itu!) akan mendapat kehidupan baru dari padaNya. Dalam 1 Kor 2:14 orang duniawi tidak menerima barang yang daripada Roh Allah. Yang dimaksudkan di sini ‘orang duniawi’ adalah orang yang keadaannya menurut kodratnya, yang hanya memiliki hidup, tetapi tidak punya kuasa menghidupkan. Sedangkan orang rohaniah adalah orang yang hidupnya punya pertalian dengan Pemberi hidup itu oleh Roh Kudus; orang yang hidupnya menjadi tempat kediaman dari pada Roh Kudus, menjadi rumah rohani (1 Petr. 2:5), yang hidupnya dikuasai oleh Roh Kudus.
Kelak orang beriman akan dikaruniai tubuh yang rohani, yakni tubuh yang memiliki kekuatan dan daya dari Roh Kudus secara sempaurna. Dalam Rom 8:11 kehidupan kembali tubuh kita yang fana ini dihubungkan dengan Roh Kudus yang sudah berada di dalam diri orang beriman. Sebab di sana disebutkan bahwa jika Roh Dia, yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati itu diam di dalam diri kita, maka Ia itu, yang membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuh kita yang fana ini.
Bagaimana perubahan dari ‘tubuh yang fana’ kepada ‘tubuh yang baru’ ini tidak pernah diterangkan dengan jelas. Orang beriman akan menjadi serupa dengan gambar AnakNya (Rom 8:29). Untuk membuatnya serupa dengan tubuh Anak itu adalah pekerjaan Roh Kudus yang tidak mungkin kita pahami. Demikianlah kelak pada hari kebangkitan orang-orang beriman akan dijadikan serupa dengan hidupNya; tubuh kita yang fana akan diubahkan seperti tubuhNya yang sudah dimuliakan
Jadi, keselamatan itu nantinya bukan hanya pada nyawa orang beriman. Artinya bukan hanya ‘aku’nya atau ‘bathinnya' orang beriman; bukan juga hanya tubuh atau hidup lahiriahnya. Tetapi seluruh hidupnya manusia itu, atau manusia seutuhnya, lahir dan juga bathin, tubuh dan jiwanya. Keduanya, jasmani dan rohaniah dimasukkan ke dalam harapan keselamatan yang sempurna

3. Makna Peringatan Orang yang meninggal Dunia
Gereja HKBP masih terus mempertahankan satu tradisi lama yang disebut dengan “Parningotan Di Angka Na Monding” yang di-Indonesiakan dengan “Peringatan Orang Meninggal”. Kita tidak tahu kapan mulai tradisi ini di HKBP, diperkirakan sudah sejak awal dilakukan acara khusus ini di dalam kalender gerejawi HKBP. Salah satu dari 52 minggu-minggu dalam satu tahun diperuntukkan mengingat orang yang meninggal. Pada acara ini semua nama-nama warga jemaat yang meninggal selama masa kurun waktu 52 minggu yang lalu (mulai dari Minggu Ujung Taon Parhurian yang lalu hingga Ujung Taon pada tahun berjalan ini) dibacakan, dan keluarga-keluarga yang mereka tinggalkan - yang pasti masih dalam keadaan berduka - didoakan secara khusus agar terhibur.
Mungkin akan muncul pertanyaan, terutama dari kalangan warga jemaat yang masih muda (bahkan warga jemaat yang sudah tua pun belum tentu sudah précis memahami hal ini!), apa arti, makna dan tujuan acara ini dilakukan oleh pihak gereja? Bukankah dengan demikian perasaan pilu dan duka nestapa akan dibangkitkan kembali bagi keluarga yang ditinggalkan apalagi dengan menyebut nama-nama serta hari/tanggal wafat mereka, dan kemudian ada di antara keluarga yang menangis meraung-raung dalam acara itu?
Konfessi (Pernyataan Iman) HKBP yang dirumuskan pada Tahun 1951 Pasal 16 TENTANG PERINGATAN ORANG MENINGGAL menyatakan demikian:
Kita percaya dan menyaksikan:
Manusia telah tentu satu kali mati dan kemudian daripada itu datang hukuman (Ibr 9: 27). Mereka itu akan berhenti dari kelelahannya (Wahyu 14: 53). Dan Yesus Kristuslah Tuhan dari orang-orang yang mati dan yang hidup. Dalam kita mengadakan peringatan kepada orang yang mati, kita mengingat pula akhir kita sendiri dan menguatkan pengharapan kita pada persekutuan orang-orang percaya, yang menetapkan hati kita di dalam pergumulan hidup ini (Wahyu 7: 9 – 17)
Dengan ajaran ini kita menolak dan melawan ajaran animisme yang mengatakan: Roh-roh dari orang-orang mati masih dapat bergaul dengan manusia. Demikian pula ajaran yang mengatakan: Roh dari yang mati tinggal di kuburnya. Juga kita tolak ajaran dari Gereja Katholik Roma yang mengajarkan tentang api ujian (vagevuur) yang harus dialami seberapa lama untuk membersihkan roh orang mati, sebelum tiba kepada hidup yang kekal dan orang dapat melakukan missa untuk orang mati dan memdoakan orang mati itu supaya lebih cepat terlepas dari api itu.
Demikian pula doa kepada roh dari orang-orang kudus dan yang mengharapkan bahwa kekuatan dan kekudusan orang itu dapat turun dari kuburan, pakaian, barang atau tulang-tulangnya (relikwi).
Dari rumusan Konfessi HKBP di atas jelas bagi kita bahwa tujuan peringatan orang meninggal dulia ini bukanlah seperti yang dikatakan oleh pepatah orang Batak: “parigatrigat bulung gaol pasigatsigat hinalungun parungkarrungkar sidangolon”. Artinya bukan untuk membangkit-bangkitkan rasa duka cita yang mendalam buat keluarga yang ditinggalkan. Tetapi inti dari pada peringatan ini hendaklah menuju kepada kemenangan orang percaya atas maut dan kematian. Yesus Kristus telah mengalahkan kematian ketika Ia bangkit, dan kebangkitanNya menjadi buah sulung atas kebangkitan orang percaya. Lengkapnya demikian pernyatan kitab 1 Kor. 15:20+23 “20 Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. 23 Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya”.
Perlu dijelaskan, meskipun nama-nama orang yang meninggal tahun itu dibacakan, sesungguhnya bukan nama-nama mereka itu yang menjadi tekanan; bukan mengingat pribadi-pribadi masing-masing orang yang meninggal dunia tadi yang lebih penting. Tetapi untuk mengingatkan kita akan hari kematian kita semua manusia kelak. Siapapun di antara kita yang masih hidup sekarang akan pasti mengalami kematian itu, sebab kematian itu adalah ‘jodoh’ kita semua. Semua kita sedang menunggu giliran alias ‘antri’ memenuhi panggilan kematian itu. Itu sebabnya ada ungkapan Latin yang mengatakan MEMENTOMORI artinya “Ingatlah akan hari kematianmu!”. Jangan lupa bahwa saya dan saudara semua pasti akan dijemput oleh kematian itu. Itu sebabnya harus sudah mempersiapkan diri sebelum kematian itu sungguh-sungguh nyata terjadi bagi hidup kita. Dan untuk itu pulalah Acara Peringatan Orang Yang Meninggal Dunia” terus dilanjutkan oleh tradisi gereja HKBP agar warganya tetap ingat dan peduli akan saat-saat kematiannya kelak. Dan apabila hal itu sungguh terjadi, tidak putus asa, tidak mengutuki Tuhan. Tentu keluarga yang ditinggal oleh orang mati itu pasti akan menangis dan bersedih; rasa pilu akan ‘memukul’ juga, tetapi bukan lagi seperti dukacita seorang yang tidak percaya, tetapi duka cita seorang yang punya pengharapan bahwa kelak orang yang mati dalam nama Tuhan Yesus itu akan berkumpul di Sorga bersama sekalian orang-orang tebusanNya.

4. Renungan Untuk Memperkuat Iman
Kenyataanya kita selalu menakuti kematian. Itu wajar sebab kematian itu akan mengakhiri segala sesuatuanya tentang hidup manusia itu. Namun yang tidak wajar adalah apabila kita secara berlebihan menakuti kematian itu. Adalah merupakan ketakutan yang berlebihan terhadap kematian itu apabila masih selalu kita ucapkan “santabi jabu on…..nunga monding si Anu!”. Kita ‘marsantabi’ terhadap kematian, apa itu wajar? Yang benar aja, kan?. Mungkin dalam hati kita, kematian tidak akan terjadi lagi kepada penghuni rumah ini apabila kita marsantabi (?) Atau, kematian tidak lagi ‘marah’ kepada kita apabila kita sudah ‘menghormatinya’? Tidak! Kematian akan datang juga meskipun berulang kali kita marsantabi kepada kematian itu. Kematian tidak akan dapat ditunda-tunda – termasuk oleh kemajuan teknologi manapun di dunia ini - apabila Tuhan sudah menghendakinya. Atau sebaliknya kematian tidak akan dapat menjemput manusia meskipun manusia itu menghendakinya terjadi dalam hidupnya. Itu sebabnya banyak orang yang berusaha membunuh dirinya dengan minum racun atau melompat dari tempat tinggi tidak mati-mati, karena bukan di sana kuncinya. Mati-hidupnya kita tetap berada di tangan Tuhan. Kita syukurilah kehidupan yang masih ada pada kita ini. Dan bila Tuhan masih mengijinkan kita hidup hingga hari ini, Tuhan menghendaki agar kita berbuah, bermakna, berarti buat orang lain, gereja dan bangsa kita. Syalom!

(Penulis adalah Pdt. Rudolf Pasaribu, S.Th., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Nopember 2009)