Senin, 31 Mei 2010

ARTIKEL: KEJUJURAN

Bergumul! Itulah kata yang pantas untuk menggambarkan perasaan saya ketika harus menuliskan artikel ini. Kalau mau jujur pada diri sendiri dan kepada Tuhan, tidak ada manusia yang benar-benar jujur dalam hidupnya. Barang sekali waktu, mungkin saja baginya “tergelincir” kepada sikap tidak jujur, kepada orang-orang di sekitarnya, kepada diri sendiri dan terutama kepada Tuhan. Mungkin manusia / orang lain dapat ditipu, dibohongi dengan kelihaian bersandiwara, namun biasanya hati nurani dan terutama Tuhan tidak dapat dibohongi. Jika kita amati orang yang sedang bersikap tidak jujur, “body language” – nya akan menunjukkan kegelisahan dan gamang berhadapan dengan orang lain, sekalipun dia telah mengusahakan sebaik-baiknya untuk bersikap wajar. Orang yang tidak jujur itupun akan mengalami jantung berdebar dan fikiran yang tidak tenang. Kadang kala disertai wajah yang pucat pasi atau merah padam. Saya yakin setiap orang pernah mengalami gejala-gejala tersebut ketika bersikap tidak jujur. Namun seberapa besar pengaruh sikap tidak jujur yang telah dilakukannya terhadap dirinya ditentukan oleh seberapa peka dia mendengar suara hati nuraninya (Bhs. Batak: panggora ni roha).
“Memang lidah ‘tak bertulang, ‘tak terbatas kata-kata……lain di bibir lain di hati….”, adalah sepenggal syair dari lagu yang menggambarkan ke-tidak jujur-an. Lidah yang tidak bertulang dapat meliuk-liuk dan “menari” dengan elastis di dalam mulut pemilikknya hingga keluarlah kata-kata yang diinginkan oleh sang empunya lidah. Keinginan untuk mengungkapkan kata-kata apapun berasal dari hati dan dengan koordinasi otak lidah mengeluarkan kata-kata tersebut. Bumi dan seluruh isinya – yang sejak mulanya diciptakan Tuhan sempurna (Kej. 1: 31) kini dipenuhi oleh ke-tidak jujur-an. Semakin langka manusia jujur ditemui di bumi ini. Mengapa? Jawabannya harus dirunut kepada kisah pencintaan. Tidak lama setelah Allah memberkati seluruh ciptaannya yang “sungguh amat baik” itu, manusia pertama – Adam – telah mengawali record orang yang tidak jujur. Bukannya mengakui kealpaannya kepada Tuhan, Adam justru melemparkan kesalalahan kepada Hawa – Istrrinya (Kej. 3). Inilah tonggak sejarah kejatuhan manusia kedalam dosa. Dosa menyebabkan manusia menjadi tidak benar dan tidak layak di hadapan Tuhan. Ke-tidak layak-an ini menyebabkan manusia selalu berusaha untuk membenarkan dan melayakkan dirinya sekalipun harus menggunakan cara-cara yang tidak jujur. Kain mengikuti jejak ayahnya, setelah membunuh Habil – adiknya, Kain tidak jujur kepada Tuhan atas darah adiknya (Kej. 4, 8 – 9). Kejahatan manusia makin meraja-lela, sehingga Tuhan menyesal telah menciptakan manusia di bumi (Kej. 6,6-7).
Abraham yang bergelar “Bapa semua orang Percaya” juga pernah tidak jujur mengenai status Sara, istrinya – yang diakuinya sebagai adiknya – ketika berhadapan dengan Abimelekh, demi alasan keamanan (Kej. 20:1-2 . 11). Yakub juga tidak jujur terhadap kakaknya Esau. Dengan penuh kecurangan Yakub menukarkan sekerat roti dan semangkuk bubur kacang merah dengan hak kesulungan. Kemudian bersekongkol dengan ibunya – Ribka, merebut berkat kesulungan dari Ishak – ayahnya yang telah tua dan rabun (Kej. 25:29-34; 27:1-29). Yakub kemudian melanjutkan daftar panjang orang yang tidak jujur dengan mengelabui Laban – mertuanya demi mendapatkan ternak (Kej. 30). Miryam – kakak Musa, Saudara-saudara Yusuf bahkan Musapun ikut menambah panjang daftar orang-orang yang pernah berlaku tidak jujur dalam hidupnya. Alasan manusia cenderung berlaku tidak jujur beragam, baik untuk menyelamatkan diri, atau dilatar-belakangi oleh iri dan dengki. Mahkamah Agama juga berdusta untuk menutupi kredibilitas mereka pasca kebangkitan Yesaus (Matius 28:11-15). Jemaat Yahudi yang tidak mampu berdebat dengan Stefanus juga menyebar fitnah hingga Stefanus diadili sebelum akhirnya mati Martyr. Dari sejarah ini tampaklah bahwa sebuah ke-tidak jujur-an akan melahirkan ke-tidak jujur-an yang baru dan seterusnya. Dosa yang menjadi akarnya Akibat ke- tidak jujur-an beragam, bahkan ada yang sampai berujung pada kematian, misalnya seperti kisah Ananias dan Safira – yang mati karena tidak jujur terhadap persembahan (uang Gereja).
Begitupun, Alkitab juga mencatat sejarah orang-orang jujur, yang bahkan harus menderita karena kejujurannya. Sebutlah Yusuf yang harus dipenjara karena tidak mau melayani keinginan Istri Fotifar yang tidak dapat menguasai nafsunya. Yohanes Pembaptis juga menjadi korban “konspirasi” pembunuhan Herodias – istri Herodes karena tidak mau kompromi dengan ke-tidak jujur-an (Matius 14).
Namun yang pasti, semakin tua usia bumi ini, kejahatan manusia semakin banyak ragam dan versinya. Dosa yang semula menjadi akarnya telah berkembang biak dengan pesat. Hitam bisa diubah menjadi putih, yang benar bisa menjadi salah, korban justru menjadi terdakwa…. Itulah kenyataan yang ada saat ini. Kejujuran seakan menjadi “barang langka” yang dapat ditemui ditengah-tengah masyarakat dewasa ini. Manusia seakan-akan menjadi tuli, tidak peka lagi mendengar suara hati, dan sepertinya tidak lagi takut akan Tuhan. Hampir semua sendi kehidupan manusia telah dihinggapi oleh “radang” ke-tidak jujur-an. Ironisnya “penyakit” tidak jujur ikut mewabah sampai ke tengah lembaga yang bersifat Rohani. Namun itu bukanlah kejutan atau hal baru. Pada zaman Yesus – pun hal tersebut sudah terjadi dan dilakukan oleh para pemuka agama seperti Orang Farisi dan Ahli Taurat.
Sama seperti Adam yang begitu lihai memutar-balikkan fakta, generasi muda yang mengaku dirinya “anak Tuhan” juga ikut terjangkit “virus” ke-tidak jujur-an. Semakin berani dan semakin banyak generasi muda yang memakai dalih “pelayanan” untuk menutupi ke-tidak jujur-annya. Dosa diawali dari mendustai orangtua dengan alasan “persekutuan di Gereja”, padahal waktu dipakai untuk kepentingan lain yang sama sekali jauh dari kegiatan rohani seakan menjadi trend (walau tidak semua generasi muda seperti itu). Karena kegiatan yang menyimpang, dibutuhkan budget yang lebih dari anggaran yang tersedia. Akibatnya lahirlah dosa baru untuk menutupi “kekurangan anggaran” dengan segala cara. Termasuk memakai alasan kebutuhan study, buku, iuran ini – itu di sekolah/ kampus, dan sebagainya – merupakan cara-cara yang dihalalkan demi tercapainya keinginan. Akibatnya Dosa yang berawal dari dusta kecil berkembang menjadi besar dan semakin besar, hingga akhirnya menjadi Monster yang membuat tidur tidak nyenyak karena harus pusing mencari alasan menutupi dosa sebelumnya.
Ternyata ke-tidak jujur-an lebih banyak efek negatifnya. Sehingga alangkah baiknya jika mulai sekarang kita memutuskan mata rantai ke-tidak jujuran itu sebelum akhirnya menjadi “momok” menakutkan yang akan membelenggu kehidupan kita. Adalah sulit merubah tabiat yang telah menjadi habitat. Namun kita bisa, jika mau bertobat dan menyerahkan diri dengan rendah hati kepada Tuhan. Biarkan Tuhan yang akan membentuk kita menurut rencananya. Sekalipun dalam proses penggemblengan itu kita mungkin harus menderita, ya… karena harus meninggalkan kebiasaan buruk yang terlanjur menjadi kesenangan atau mungkin harus dikucilkan dari “kelompok” atau “genk” yang terlanjur kita anggap sebagai komunitas gaul.. Anak Tuhan bisa tetap gaul, sekalipun tidak harus hidup dengan cara-cara yang bertentangan dengan kehendak Bapa. Intinya, kita harus berani jujur pada diri sendiri, sebelum kita jujur kepada sesama, sehingga ketika Tuhan yang maha Tahu meneropong ke dalam nurani kita, tidak menemukan secercahpun bibit dosa ke-tidak jujur-an di sana. Semoga generasi muda boleh ambil bagian dalam rencana pemulihan alam kepada fitrah semula jadi. Selamat hidup jujur….!

(Penulis adalah Pdt. Pauline br. Sirait. S.Th., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Nopember 2005)

ARTIKEL: APAKAH ANGGOTA JEMAAT HKBP DIPERBOLEHKAN MENIKAH DENGAN ANGGOTA JEMAAT ROMA KATOLIK?

01. Pengantar
Sudah tidak rahasia lagi, bahwa sejak ratusan tahun yang lalu, gereja Luhteran (Protestan) dan Gereja Roma Katolik (GRK) memiliki paham yang berbeda secara mendasar, yakni sekitar pembenaran oleh Iman. Bagi Lutheran konsep pembenaran hanya karena iman, sedang bagi GRK seseorang dapat dibenarkan melalui jasa-jasanya yang dipersembahkan demi pembangunan gereja. Perbedaan ini mempengaruhi sendi-sendi kehidupan bergereja dan interaksi kedua denominasi gereja, salah satu di antaranya berkaitan dengan pernikahan. HKBP sebagai bagian dari gereja-gereja Lutheran menganut pemahaman yang sama. Makanya selama ini, HKBP tidak pernah memperbolehkan anggota jemaatnya menikah dengan anggota GRK (kalau ada yang menikah, si mempelai tersebut dikucilkan dari keanggotaan di HKBP).
Tetapi setelah adanya pernyataan bersama antara pimpinan Gereja RK dan gereja Lutheran beberapa tahun yang lalu, keadaan menjadi berubah. Sebagian jemaat HKBP menerima dengan terbuka pernikahan antara mempelai yang berasal dari GRK dengan anggota jemaat HKBP, tetapi sebagian masih ada yang belum mengakui keabsahannya dan mengucilkan anggota jemaat yang menikah dengan anggota jemaat RK. Artinya, masih terdapat sikap yang mendua dari HKBP.Untuk itulah dirasa penting mengangkat persoalan ini dalam tulisan ini, agar dengan bijaksana setiap anggota jemaat memahami dan menyikapi proses pernikahan antar denominasi ini dengan benar.

02. Sekilas Kesepakatan gereja RK dengan gereja Lutheran
Kesepakatan antara Gereja Lutheran Dunia (Lutheran World Federation) dengan Gereja RK ditandatangani bersama pada tanggal 31 Oktober 1999, oleh pihak LWF yang diwakili oleh Bishop Christian Krause dan Rev. Dr. Ismail Noko, dan dari pihak gereja RK diwakili Edward Idris, Cardinal Cassidy. Isi kesepakatan itu adalah tentang ajaran “Pembenaran oleh Iman” (Joint Declaration on The Doctrin of Justification). Pernyataan ini menunjukkan kesepahaman kedua denominasi gereja bahwa dalam iman Kristiani, kita hidup dan dibenarkan oleh Allah bukan berdasarkan apa yang telah kita lakukan (jasa), tetapi berdasarkan anugerah dan kasih Allah yang kita terima dalam iman.
Kesepakatan ini merupakan pintu untuk saling menerima, saling mengakui di antara kedua denominasi gereja. Namun demikian, bukan seluruhnya ajaran gereja RK yang otomatis diterima oleh gereja Lutheran. Sebab, gereja Lutheran tidak mengakui adanya 7 (tujuh) Sakramen, termasuk soal kitab-kitab Deutrokanonik yang membedakan jumlah isi Alkitab yang dipakai Lutheran dengan RK. Karena itu adalah naif, bila secara otomatis kita mengatakan bahwa Lutheran dengan RK sama. Namun tembok pemisah utama yang selama ini membedakan kita dengan RK kini sudah dibuka, dan kita dapat bertemu, saling menerima dan mengakui satu dengan yang lain, namun tidak melupakan ciri khas masing-masing.

03. Apakah diperbolehkan Pernikahan antardenominasi ini?
Dari pernyataan kesepakatan bersama yang telah ditandatangani di atas, pada dasarnya pernikahan antardenominasi (HKBP dan GRK) telah dapat diterima, dan ini telah disepakati pada rapat pendeta HKBP tanggal 1-5 Agustus 2005 yang lalu. Hanya saja perlu dilakukan penggembalaan khusus bagi anggota jemaat yang menikah dalam konteks antardenominasi ini. Hal ini penting, mengingat masih ada perbedaan dalam hal pelaksanaan liturgi pernikahan antara HKBP dengan GRK.
Bagi mereka perlu dijelaskan secara mendetail bentuk dan tatacara pernikahan dalam gereja HKBP, demikian juga dari pihak GRK, agar masing-masing saling memahami perbedaan dan persamaan liturgi dimaksud, dengan demikian mereka dapat menghayati makna yang mendalam dari pernikahan dimaksud. Bagi HKBP pernikahan tidak dipandang sebagai sakramen, sedangkan bagi GRK itu merupakan bagian dari sakramen.
Mengingat masih ada beberapa hal yang perlu diperjelas dalam kesepakatan bersama antara Lutheran dan GRK (antara lain: apakah anggota jemaat GRK yang nikah dengan anggota jemaat HKBP harus naik sidi? ), rapat Pendeta HKBP menyepakati perlunya penjelasan yang lebih mendalam (lewat Komisi teologi dan komisi Liturgi) dari pimpinan HKBP dan dijemaatkan ke seluruh jemaat HKBP. Semoga dengan penjelasan yang singkat dan sederhana ini dapat membantu anggota jemaat HKBP agar tidak lagi enggan atau takut dalam menjalin hubungan cintakasih (menikah) dengan anggota jemaat GRK. Kiranya Roh Kudus yang satu itu memampukan semua anggota jemaat (termasuk pada pelayan gereja) untuk saling memahami dan bersedia saling menerima dalam perbedaan, sepanjang tidak menyimpang dari ajaran Alkitab.

(Penulis adalah Pdt. Daniel Napitupulu, M.M., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi September 2005)