Selasa, 19 Mei 2009

ARTIKEL: BAGAIMANA KITA MERASAKAN KEHADIRAN ALLAH???

Allah yang kita sembah dan kita percaya adalah Allah yang Maha Hadir dalam kehidupan kita. Allah itu Roh sehingga tidak terbatas ruang dan waktu. Dia hadir dan menyertai kita bukan saja di saat-saat suka tapi juga di saat-saat duka. Namun berbicara hal “merasakan kehadiran Allah” adalah hal yang eksklusif dan menguatkan iman yang dirasakan oleh orang-orang percaya. Mengapa eksklusif? Karena kebenaran mutlak bahwa Allah Maha Hadir mungkin tidak mampu diyakini dan dialami oleh semua orang. Hanya orang-orang yang hidup di dalam kebenaran Firman dan kasihNya yang dapat sungguh merasakan kehadiran Allah dan campur tangan Allah dalam setiap detil kehidupannya.
Kebanyakan orang memahami “merasakan kehadiran Allah” yaitu pada saat kita sedang hening dalam saat teduh, berdoa sendiri di dalam kamar, saat melakukan penyembahan, berdoa puasa, saat mengaku dosa, dll. Dengan kata lain merasakan kehadiran Allah kita gambarkan lewat ritual-ritual ibadah yang sering kita lakukan. Memang hal ini ada benarnya karena saat-saat khusuk biasanya kita dapat “lebih merasakan” kehadiran Allah, ada perasaan damai sejahtera, sukacita, ketenangan, dll. Untuk itu setiap orang percaya penting menjaga waktu bersekutu pribadi dengan Tuhan yang bukan sekedar aktivitas namun menikmatinya seperti analogi Bapa dan anak, hubungan yang erat dan dinamis.
Merasakan kehadiran Allah adalah hal yang eksklusif, dan menguatkan iman artinya hal ini bukan sekedar apa yang kita rasakan atau mungkin situasi yang membuat kita terhanyut dalam emosi seperti misalnya suasana ibadah yang sangat mengesankan sehingga kita mengklaim kita merasakan kehadiran Allah tapi setelah kita kembali dalam kehidupan kita sehari-hari, kita lupa apa yang kita rasakan, kita lupa apa yang kita doakan, semuanya tertinggal di tempat ibadah. Merasakan kehadiran Allah adalah impact dari sikap hidup dan komitmen kita untuk tetap berada di dalam kehendakNya. Merasakan kehadiran Allah dalam ritual-ritual ibadah adalah baik namun hendaknya kita sebagai orang percaya merindukan perkara yang lebih tinggi lagi yaitu merasakan kehadiran Allah secara nyata lewat pengalaman rohani bersama Tuhan. Coba kita renungkan sejenak, pikirkanlahlah 1 hal saja dimana kita merasakan Allah hadir dalam hidup kita misalnya menolong kita dalam ujian di sekolah/di kampus, saat kita sembuh dari sakit, atau kita dikuatkan saat kita kehilangan orang yang kita kasihi,dll. Saat-saat seperti itu, kita bukan hanya merasakan kehadiran Allah tapi iman kita juga makin diteguhkan oleh Allah. Kita dapat melewati saat-saat yang sulit dalam kehidupan kita dan dimampukan mengucap syukur dengan tulus kepada Allah.
Namun karena kesibukan kita atau banyaknya pergumulan dan permasalahan yang kita hadapi, kita kadang menjadi lemah. Kita sebagai orang kristen hanya mengaku seorang kristen tapi iman kita mungkin tidak bertumbuh makin dewasa dan pengalaman rohani bersama Tuhan sangat minim bahkan tidak sedikit yang merasa tidak butuh hal itu. Seorang remaja/pemuda yang telah terbiasa nyontek dan berbuat curang dalam pendidikannya adalah orang-orang yang belum merasakan kehadiran Allah, begitu juga mereka yang hanya memuasakan hawa nafsunya saja dengan pergaulan bebas, mabuk-mabukan, mencuri, suka membohongi orang lain adalah orang-orang yang mustahil mengatakan mereka merasakan kehadiran Allah.
Merasakan kehadiran Allah adalah pengalaman rohani yang dapat menguatkan iman kita dan itu akan nampak dari sikap hidup kita, prinsip hidup yang kita pegang dan bagaimana kita menjalani hidup ini. Bila kita dapat merasakan kehadiran Allah dalam hidup kita, maka kita akan menjadi orang-orang yang makin mengasihiNya dan berkomitmen untuk hidup berpadanan dengan kehendakNya. Hidup ini akan terasa lebih hidup karena kita meyakini ada Allah yang senantiasa menopang kehidupan kita dan tidak akan meninggalkan kita. Bila kita belum mengalami pengalaman rohani ini, mintalah pada Tuhan agar Tuhan mengaruniakannya pada kita.
Bila kita dapat merasakan kehadiran Allah dalam hidup kita maka kita akan dimampukan untuk mengucap syukur senantiasa kepadaNya, bagaimanapun keadaan kita, apapun yang kita miliki, mengucap syukur dalam segala hal. Kita juga akan dipimpin oleh Tuhan agar kuat saat menghadapi godaan dan nafsu dunia, dan masih banyak lagi pengalaman rohani yang dapat kita alami bersama Tuhan.
Pada akhirnya bila kita bertanya, bagaimana kita dapat merasakan kehadiran Tuhan? Jawabannya adalah bila kita hidup takut akan Allah. Dengan sikap hidup ini, maka kita mengimani bahwa Allah itu ada, Maha Hadir dan menjadi pemimpin hidup kita, kita tidak akan mau menghabiskan sisa hidup kita dengan hidup yang sembrono dan mendukakan hati Tuhan. Merasakan kehadiran Allah adalah refleksi pengenalan kita akan Allah yang kita sembah. Bila kita rindu ingin makin mengenalNya maka kita akan senang/gemar membaca FirmanNya, Bila kita makin mengenal Allah maka kita akan menyadari siapa diri kita yang tiada artinya di hadapan Allah dan kita hidup hanya sementara di dunia. Akan muncul sikap bahwa kita membutuhkan Allah dalam hidup kita dan kita rindu Allah berkarya dalam hidup kita. Kita akan menjadi orang-orang yang berpengharapan walaupun disekitar kita dipenuhi oleh orang-orang yang putus asa dan hilang pengharapan, kita akan menjadi orang-orang yang tegar dan penuh kasih walaupun harapan dan cita-cita kita belum tercapai ataupun kita disakiti dan dikhianati oleh orang lain. Ada begitu banyak kekayaan rohani yang dapat kita nikmati di dalam hubungan yang akrab dengan Allah saat kita sungguh-sungguh merasakan kehadiranNya. Kekayaan rohani itu jauh lebih berharga dibandingkan dengan kekayaan duniawi karena Allah sedang mempersiapkan kita untuk kehidupan yang kekal.
Marilah kita minta kepada Allah agar tiap saat kita dapat merasakan kehadiranNya dalam hidup kita. Kita dapat mulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana yaitu membaca FirmanNya setiap hari, berdoa dan bersyukur setiap waktu, dan melakukan FirmanNya dalam hidup kita. Tuhan pasti akan menolong kita.

(Penulis adalah Eva C. Hutasoit, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Januari 2007)

1 komentar:

Lasma mengatakan...

sebagai masukan...klo takut akan TUHAN bener juga sih,tapi terkadang membuat kita melakukan segala sesuatu dengan di bawah tekanan takut akan TUHAN..

coba di bandingkan dengan Mencintai TUHAN..saat kita sudah bisa mencintai TUHAN maka dalam kehidupan kita akan menaati perintahnya karena takut mengecewakan TUHAN yang sangat kita cintai n di jalankan dengan rilex...

bener juga,kadang2 kita merasa kan hadirat TUHAN klo lagi dalam masalah atau meminta sesuatu...saat smuanya terkabulkan, kita senang sendiri dan tidak sadar klo itulah hadirat Bapa yang paling luar biasa,,saat doa kita di jawab..

nice topik