Sabtu, 24 Desember 2011

ARTIKEL: KEMATIAN DAN KEBANGKITAN MENURUT IMAN KRISTEN

Kematian dan Kebangkitan Menurut Iman Kristen
Makna dan maksud peringatan Orang yang menginggal Dulia Dalam Kalender Gerejawi HKBP

1. Pendahuluan
Saudara Uly br. Panjaitan meminta saya untuk menulis sebuah tema menyangkut kematian terutama dalam hubungannya dengan peringatan tentang orang yang meninggal dunia. Hal ini juga dikaitkan sehubungan dengan semakin mendekatnya Kalender Gerejawi kita – HKBP - ke Minggu-minggu akhir, yakni Ujung Taon Parhuriaon sekaligus dirangkai dengan Parningotan Di Angka Na Monding. Hal ini dimaksudkan untuk mengisi rubrik di Majalah NARHASEM yang diterbitkan oleh Naposobulung dan Remaja HKBP Resort Semper, Jakarta.
Sebagai bentuk dukungan moral dan spiritual terhadap kemajuan penerbitan Majalah NARHASEM ini, Penulis menyanggupi untuk menuliskan pokok yang dimintakan oleh pengelolanya dengan formulasi judul sebagaimana dibuatkan di atas: Kematian dan Kebangkitan Menurut Iman Kristen.

2. Teologia Kematian
Secara umum baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru kematian dipandang sebagai sesuatu peristiwa yang mengakhiri kehidupan dari dalam dunia ini, yakni yang “memisahkan” jiwa (roh atau tondi) dari dalam tubuh . Kalau kita berbicara tentang ‘kematian’, maka kita harus membedakan antara ‘kematian jasmani’ dengan ‘kematian rohani’. Kedua bentuk kematian ini sama-sama berbahaya terhadap manusia meskipun pada kenyataannya kematian jasmanilah yang paling ditakuti oleh manusia. Sesungguhnya – menurut iman Kristen - kematian rohanilah yang seharusnya paling ditakuti oleh manusia sedangkan kematian jasmani hanya awal menuju kehidupan yang kekal. Untuk jelasnya mari kita ikuti uraian berikut ini:
I. Kematian Jasmani
Menurut Alkitab kematian adalah hasil atau akibat dari dosa manusia. Dalam Kejadian 2:17 Allah telah mengingatkan manusia (Adam) bahwa pada hari engkau memakannya maka engkau mati. Demikian juga Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa oleh seorang manusia maka dosa memasuki dunia ini, dan oleh karena itu juga dosa melahirkan kematian (Rom 5:12), dan upah dosa adalah maut (Roma 6:23)
(1) Dalam Perjanjian Lama
Agama Jahudi tua sangat sedikit memberi perhatian dan pengajaran terhadap kematian fisik ini, tetapi menerima kematian itu sebagai bagian dari hidup; selain itu agama Jahudi tua juga sangat kurang memberi perhatian terhadap hidup di balik kematian. Agama Jahudi tua mempercayai bahwa apabila jiwa (roh=tondi) telah keluar dari dalam tubuh maka ia akan pergi ke Sheol atau Hades (Maz.88:12; 86:13; Amsal 15:24). Kematian dipandang sebagai akibat dosa sebagaimana kita temukan dalam Kejadian 3:19, 22.
Kemudian dalam perkembangan agama Jahudi selanjutnya, misalnya pada saat penulisan Kitab Daniel sekitar tahun 350 BC sudah mulai ada keyakinan orang Jahudi terhadap kebangkitan orang mati dan seterusnya kemudian ada pengadilan atas semua perbuatan ketika masih hidup dahulu dan upah perbuatan baik. Sebelum masa Hesekiel dan Daniel ada sedikit kepercayaan akan adanya kehidupan yang kekal bagi perseorangan. Namun secara umum orang Israel dari generasi ke generasi berikutnya mempercayai adanya hidup yang kekal. Misalnya dalam Hosea 6:1-3 yang kedengarnya bersifat pribadi tetapi sudah menunjuk kepada keseluruhan orang Israel. Hal itu dilatarbelakngi pemikiran bahwa manusia itu adalah makhluk hidup, dan bukan jiwa yang mengalami inkarnasi sebagai mana dalam filsafat Gerika dan agama Hindu.
(2) Dalam Perjanjian Baru. Kematian selalu disangkut-pautkan dengan kuasa dosa sebagaimana tertulis dalam Roma 5:12 “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa”. Kematian adalah suatu kuasa yang sangat dimusuhi oleh segenap manusia. Kematian adalah kuasa iblis yang dikalahkan oleh Tuhan Yesus ketika Dia mati dan bangkit kembali dari kuburNya. Paulus berulangkali menyatakan: Siapa saja yang percaya kepada kematian dan kebangkitanNya maka kematian itu tidak lagi menjadi kuasa yang mengerikan dan yang merusak baginya (Rom 6-9 dan 1 Kor 15). Memang manusia akan mati secara fisik, tetapi secara rohani orang percaya akan memperoleh kehidupan yang kekal dari balik kematian itu. Oleh karena itu baik kematian ataupun kehidupan tidak akan dapat meniadakan kita dari tangan Allah.
b. Mati sekali hidup dua kali atau mati dua kali hidup sekali.
Orang Kristen yang mati secara jasmani tetapi beriman kepada Kristus Yesus hanya akan berpisah dengan sanak keluarga, tetapi akan mengharapkan hidup yang kekal di balik kematiannya. Mereka hanya akan “mati sekali tetapi hidup dua kali” .
(1) Kematian Rohani
Berita tentang kematian pertama sekali kita dengar di Taman Eden dalam Kejadian 2:17 “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" . Kenyataannya , Adam dan Hawa memakan buah pohon yang dilarang Allah untuk dimakan, dan mereka tidak mati secara jasmani. Lalu apa yang terjadi buat mereka? Apakah Firman Tuhan meleset? Atau mungkin ……berbohong?
Tentu tidak! Kematian pasti terjadi. Tetapi kematian yang dimaksudkan di sini adalah kematian rohani yang mencakup beberapa fenomena yang sangat buruk bagi kehidupan manusia, yakni:
 Pengusiran Adam / Hawa dari Taman Eden. Adam dan Hawa yang ditempatkan Allah di Eden pada jaman in illo tempore (sebelum kejatuhan ke dalam dosa) adalah berada dalam suasana keemasan, penuh kebahagiaan, tidak ada ratapan, keluhan, tanpa sukacita. Sejak saat itu manusia harus hidup menderita sebab berikutnya akan terjadi hukuman Allah
 Putusnya hubungan manusia dengan Allah. Orang yang tidak memliki hubungan dengan Allah adalah orang yang sudah mati. Yesus pernah menegor orang Jahudi dan mengumpamakan mereka dengan kuburan yang dikapur, karena meskipun mereka hidup tetapi sesungguhnya sudah mati karena mereka tidak hidup di dalam iman (Matius Matius 23:27 “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih,..”
 Kematian yang kekal. Manusia tidak lama ikut mewarisi kehidupan yang kekal yang disediakan oleh Allah. Dan untuk kehidupan yang kekal inilah nantinya Yesus datang ke dunia merajut kembali hidup yang kekal yang telah dirusak oleh dosa manusia
Orang yang hidup dalam dosa atau kita sebut “mati secara rohani”, nanti ketika ia mati jasmani akan mengalami “hidup sekali tetapi mati dua kali” yakni mati pada waktu kehidupannya berakhir dan mati karena tidak mendapat kehidupan yang kekal di sorga.

2. Kebangkitan Orang Mati Menurut Alkitab
a. Perjanjian Lama sudah mengajarkan pengharapan akan kebangkitan orang mati. Bagi orang-orang PL maut adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari, tidak dapat ditiadakan. Tiap orang akan mengalami kematian. Dalam Maz.88:11, Tuhan Allah tidak akan membuat orang tidak bisa mati (bd. Pengkhotbah 9:5, 7, 9 yang mengatakan bahwa orang hidup tahu bahwa ia akan mati kelak. Maut dipandang sebagai pemutusan, yang tampak memisahkan orang dari pada segala hubungannya. Manusia kembali kepada debu (Maz.90:3). Bahkan, maut dipandang sebagai suatu hukuman Allah terhadap dosa. Maka Musa mengatakan bahwa karena murka Tuhan, manusia binasa (Maz. 90:7).
Pemahaman inilah yang menjadikan manusia takut terhadap kematian. Mereka berharap jangan sampai mati pada pertengahan umurnya (Maz. 102:24,25), dan mereka yakin bahwa umur orang jahat disingkatkan (Amsal 10:27). Orang-orang mati memandang bahwa kematian berarti turun atau memasuki ‘syeul’ (yang diterjemahkan dengan alam ‘barzach’) yaitu alam maut, atau dunia maut, tempat orang mati, tempat yang dikuasai oleh maut, yang letaknya dipandang di dalam tanah (1 Sam 2:6; Yes 7:11; 28:18). Yang memasuki tempat ini bukan hanya orang jahat, tetapi juga orang beriman (Jakub : Kej.37:35 di sini diterjemahkan dengan ‘ke kubur’).
b. Perjanjian Baru.
Dalam PB keyakinan akan kebangkitan orang mati itu makin jelas, hal itu disebabkan karena karya Tuhan Yesus Kristus. Dalam Yoh. 11:25 Tuhan Yesus berkata: “Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati…..”. Kata-kata ini menunjukkan bahwa Kristus sendirilah kebangkitan dan hidup itu. Ia bukan hanya bangkit dari maut dan kemudian hidup; Ia bukan hanya membangkitkan dan menghidupkan orang mati (mis: Lazarus, putri Jairus dan pemuda dari kota Nain). Tetapi firman itu memberi arti bahwa kebangkitan dan hidup memiliki dasar dan akar serta memanifestasi dalam diri Yesus Kristus. Keduanya, kebangkitan dan hidup berada di bawah kuasaNya: Ia-lah Penghulu hayat (Kis Ras. 3:15; Batak : ‘partogi tu hangoluan’).
Oleh hakekat diriNya yang demikian maka kebangkitan adalah pusat segala sesuatu dan menguasai segala sesuatu (1 Kor. 15:12-34). Dengan kebangkitanNya, Kristus melenyapkan maut dan melahirkan hidup yang tiada berkesudahan (2 Tim 1:10). Kebangkitan Yesus bukan sesuatu hal yang berdiri sendiri tanpa hubungan dengan apapun. Yang bangkit itu adalah Kepala Gereja; dan Gereja itu adalah tubuhNya sendiri. Jika Kepala bangkit, tentu tidak hanya sebagian-sebagian, tubuh dan anggota-anggota tubuh lainnya juga akan mengikut Kepalanya. Kristuslah yang sulung dari kebangkitan itu, dan akan diikuti yang lain (Kol 1:18; Wahyu 1:5). Itu sebabnya Paulus berkata: “Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya” (1 Kor. 15:23). Jadi Allah yang sudah membangkitkan Tuhan Yesus Kristus dari antara orang mati, juga akan membangkitkan orang beriman dengan kuasaNya (1 Kor 6:14; 2 Kor 4:14). Jadi kebangkitan orang beriman pada akhir jaman ini kepada hidup yang kekal adalah suatu kenyataan yang tidak bisa diragu-ragukan, sebab Kristus sudah bangkit dari antara orang mati.
c. Tubuh Rohani Orang Yang Dibangkitkan. Dalam 1 Kor 15:44 disebut bahwa orang beriman yang sudah dibangkitkan dari antara orang mati itu akan mendapat tubuh rohani. Di sana disebutkan : “Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah”.
Pada 1 Kor 15:45 manusia pertama yaitu Adam adalah nyawa hidup sedang Adam Kedua (terakhir) yakni Yesus Kristus adalah roh yang menghidupkan. Itu sebabnya, semua orang yang percaya padaNya (Adam kedua itu!) akan mendapat kehidupan baru dari padaNya. Dalam 1 Kor 2:14 orang duniawi tidak menerima barang yang daripada Roh Allah. Yang dimaksudkan di sini ‘orang duniawi’ adalah orang yang keadaannya menurut kodratnya, yang hanya memiliki hidup, tetapi tidak punya kuasa menghidupkan. Sedangkan orang rohaniah adalah orang yang hidupnya punya pertalian dengan Pemberi hidup itu oleh Roh Kudus; orang yang hidupnya menjadi tempat kediaman dari pada Roh Kudus, menjadi rumah rohani (1 Petr. 2:5), yang hidupnya dikuasai oleh Roh Kudus.
Kelak orang beriman akan dikaruniai tubuh yang rohani, yakni tubuh yang memiliki kekuatan dan daya dari Roh Kudus secara sempaurna. Dalam Rom 8:11 kehidupan kembali tubuh kita yang fana ini dihubungkan dengan Roh Kudus yang sudah berada di dalam diri orang beriman. Sebab di sana disebutkan bahwa jika Roh Dia, yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati itu diam di dalam diri kita, maka Ia itu, yang membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuh kita yang fana ini.
Bagaimana perubahan dari ‘tubuh yang fana’ kepada ‘tubuh yang baru’ ini tidak pernah diterangkan dengan jelas. Orang beriman akan menjadi serupa dengan gambar AnakNya (Rom 8:29). Untuk membuatnya serupa dengan tubuh Anak itu adalah pekerjaan Roh Kudus yang tidak mungkin kita pahami. Demikianlah kelak pada hari kebangkitan orang-orang beriman akan dijadikan serupa dengan hidupNya; tubuh kita yang fana akan diubahkan seperti tubuhNya yang sudah dimuliakan
Jadi, keselamatan itu nantinya bukan hanya pada nyawa orang beriman. Artinya bukan hanya ‘aku’nya atau ‘bathinnya' orang beriman; bukan juga hanya tubuh atau hidup lahiriahnya. Tetapi seluruh hidupnya manusia itu, atau manusia seutuhnya, lahir dan juga bathin, tubuh dan jiwanya. Keduanya, jasmani dan rohaniah dimasukkan ke dalam harapan keselamatan yang sempurna

3. Makna Peringatan Orang yang meninggal Dunia
Gereja HKBP masih terus mempertahankan satu tradisi lama yang disebut dengan “Parningotan Di Angka Na Monding” yang di-Indonesiakan dengan “Peringatan Orang Meninggal”. Kita tidak tahu kapan mulai tradisi ini di HKBP, diperkirakan sudah sejak awal dilakukan acara khusus ini di dalam kalender gerejawi HKBP. Salah satu dari 52 minggu-minggu dalam satu tahun diperuntukkan mengingat orang yang meninggal. Pada acara ini semua nama-nama warga jemaat yang meninggal selama masa kurun waktu 52 minggu yang lalu (mulai dari Minggu Ujung Taon Parhurian yang lalu hingga Ujung Taon pada tahun berjalan ini) dibacakan, dan keluarga-keluarga yang mereka tinggalkan - yang pasti masih dalam keadaan berduka - didoakan secara khusus agar terhibur.
Mungkin akan muncul pertanyaan, terutama dari kalangan warga jemaat yang masih muda (bahkan warga jemaat yang sudah tua pun belum tentu sudah précis memahami hal ini!), apa arti, makna dan tujuan acara ini dilakukan oleh pihak gereja? Bukankah dengan demikian perasaan pilu dan duka nestapa akan dibangkitkan kembali bagi keluarga yang ditinggalkan apalagi dengan menyebut nama-nama serta hari/tanggal wafat mereka, dan kemudian ada di antara keluarga yang menangis meraung-raung dalam acara itu?
Konfessi (Pernyataan Iman) HKBP yang dirumuskan pada Tahun 1951 Pasal 16 TENTANG PERINGATAN ORANG MENINGGAL menyatakan demikian:
Kita percaya dan menyaksikan:
Manusia telah tentu satu kali mati dan kemudian daripada itu datang hukuman (Ibr 9: 27). Mereka itu akan berhenti dari kelelahannya (Wahyu 14: 53). Dan Yesus Kristuslah Tuhan dari orang-orang yang mati dan yang hidup. Dalam kita mengadakan peringatan kepada orang yang mati, kita mengingat pula akhir kita sendiri dan menguatkan pengharapan kita pada persekutuan orang-orang percaya, yang menetapkan hati kita di dalam pergumulan hidup ini (Wahyu 7: 9 – 17)
Dengan ajaran ini kita menolak dan melawan ajaran animisme yang mengatakan: Roh-roh dari orang-orang mati masih dapat bergaul dengan manusia. Demikian pula ajaran yang mengatakan: Roh dari yang mati tinggal di kuburnya. Juga kita tolak ajaran dari Gereja Katholik Roma yang mengajarkan tentang api ujian (vagevuur) yang harus dialami seberapa lama untuk membersihkan roh orang mati, sebelum tiba kepada hidup yang kekal dan orang dapat melakukan missa untuk orang mati dan memdoakan orang mati itu supaya lebih cepat terlepas dari api itu.
Demikian pula doa kepada roh dari orang-orang kudus dan yang mengharapkan bahwa kekuatan dan kekudusan orang itu dapat turun dari kuburan, pakaian, barang atau tulang-tulangnya (relikwi).
Dari rumusan Konfessi HKBP di atas jelas bagi kita bahwa tujuan peringatan orang meninggal dulia ini bukanlah seperti yang dikatakan oleh pepatah orang Batak: “parigatrigat bulung gaol pasigatsigat hinalungun parungkarrungkar sidangolon”. Artinya bukan untuk membangkit-bangkitkan rasa duka cita yang mendalam buat keluarga yang ditinggalkan. Tetapi inti dari pada peringatan ini hendaklah menuju kepada kemenangan orang percaya atas maut dan kematian. Yesus Kristus telah mengalahkan kematian ketika Ia bangkit, dan kebangkitanNya menjadi buah sulung atas kebangkitan orang percaya. Lengkapnya demikian pernyatan kitab 1 Kor. 15:20+23 “20 Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. 23 Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya”.
Perlu dijelaskan, meskipun nama-nama orang yang meninggal tahun itu dibacakan, sesungguhnya bukan nama-nama mereka itu yang menjadi tekanan; bukan mengingat pribadi-pribadi masing-masing orang yang meninggal dunia tadi yang lebih penting. Tetapi untuk mengingatkan kita akan hari kematian kita semua manusia kelak. Siapapun di antara kita yang masih hidup sekarang akan pasti mengalami kematian itu, sebab kematian itu adalah ‘jodoh’ kita semua. Semua kita sedang menunggu giliran alias ‘antri’ memenuhi panggilan kematian itu. Itu sebabnya ada ungkapan Latin yang mengatakan MEMENTOMORI artinya “Ingatlah akan hari kematianmu!”. Jangan lupa bahwa saya dan saudara semua pasti akan dijemput oleh kematian itu. Itu sebabnya harus sudah mempersiapkan diri sebelum kematian itu sungguh-sungguh nyata terjadi bagi hidup kita. Dan untuk itu pulalah Acara Peringatan Orang Yang Meninggal Dunia” terus dilanjutkan oleh tradisi gereja HKBP agar warganya tetap ingat dan peduli akan saat-saat kematiannya kelak. Dan apabila hal itu sungguh terjadi, tidak putus asa, tidak mengutuki Tuhan. Tentu keluarga yang ditinggal oleh orang mati itu pasti akan menangis dan bersedih; rasa pilu akan ‘memukul’ juga, tetapi bukan lagi seperti dukacita seorang yang tidak percaya, tetapi duka cita seorang yang punya pengharapan bahwa kelak orang yang mati dalam nama Tuhan Yesus itu akan berkumpul di Sorga bersama sekalian orang-orang tebusanNya.

4. Renungan Untuk Memperkuat Iman
Kenyataanya kita selalu menakuti kematian. Itu wajar sebab kematian itu akan mengakhiri segala sesuatuanya tentang hidup manusia itu. Namun yang tidak wajar adalah apabila kita secara berlebihan menakuti kematian itu. Adalah merupakan ketakutan yang berlebihan terhadap kematian itu apabila masih selalu kita ucapkan “santabi jabu on…..nunga monding si Anu!”. Kita ‘marsantabi’ terhadap kematian, apa itu wajar? Yang benar aja, kan?. Mungkin dalam hati kita, kematian tidak akan terjadi lagi kepada penghuni rumah ini apabila kita marsantabi (?) Atau, kematian tidak lagi ‘marah’ kepada kita apabila kita sudah ‘menghormatinya’? Tidak! Kematian akan datang juga meskipun berulang kali kita marsantabi kepada kematian itu. Kematian tidak akan dapat ditunda-tunda – termasuk oleh kemajuan teknologi manapun di dunia ini - apabila Tuhan sudah menghendakinya. Atau sebaliknya kematian tidak akan dapat menjemput manusia meskipun manusia itu menghendakinya terjadi dalam hidupnya. Itu sebabnya banyak orang yang berusaha membunuh dirinya dengan minum racun atau melompat dari tempat tinggi tidak mati-mati, karena bukan di sana kuncinya. Mati-hidupnya kita tetap berada di tangan Tuhan. Kita syukurilah kehidupan yang masih ada pada kita ini. Dan bila Tuhan masih mengijinkan kita hidup hingga hari ini, Tuhan menghendaki agar kita berbuah, bermakna, berarti buat orang lain, gereja dan bangsa kita. Syalom!

(Penulis adalah Pdt. Rudolf Pasaribu, S.Th., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Nopember 2009)

Rabu, 30 November 2011

ARTIKEL: SINAMOT, ACUAN MATERIIL HARGA DIRI

Banyak anak muda Batak sekarang ini, terutama yang sedang persiapan membangun rumah tangga baru, dipusingkan dengan serba serbi paradaton yang harus mereka ikuti dalam pernikahan, salah satunya adalah Sinamot. Fakta membuktikan ada pernikahan yang tertunda, bahkan tidak jadi dilangsungkan, karena Sinamot yang tidak disepakati. Bagi orang yang tidak memahami adat Batak memang jadi terlihat aneh, karena dianggap hal yang tidak relevan lagi di jaman modern seperti sekarang ini. Tapi bagi kita yang memang sudah dilahirkan sebagai orang Batak, maka mencoba memahaminya menjadi penting, agar kita tidak salah jalan dan tidak cepat-cepat menyimpulkan. Apa sih sesungguhnya Sinamot itu?

Esensi Sinamot
Dari pengalaman dan hasil observasi penulis, setidaknya ada tiga hal yang menjadi esensi dari Sinamot.
Pertama, Sinamot adalah tanda “penghormatan” keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. Sebagian dari kita mungkin mengikuti berita di media massa tentang bagaimana keluarga Joy Tobing yang “merasa” sangat dihina dengan kiriman sekantung daging dari pihak keluarga pria yang katanya adalah Sinamot. Ingat, bahwa selain bentuk dan nilainya, maka proses yang harus berlangsung untuk disepakatinya Sinamot juga harus disepakati dan dilakukan dengan benar dan dengan tata cara yang diakui secara adat Batak. Oleh karena itu, berdasarkan konsep “suhi ni ampang na opat” (empat unsur utama dalam pernikahan secara adat Batak) keberadaan “Tulang” (saudara laki-laki ibu) juga diikutsertakan dan menjadi bagian penting dalam proses pernikahan itu.
Kedua, Sinamot adalah “bukti” atas komitmen terjadinya pernikahan secara adat. Artinya bukti atas janji pernikahan. Dalam adat Batak pernikahan bukan hanya menikahkan dua orang laki-laki dan perempuan, tapi juga “menikahkan” dua keluarga besar. Oleh karena itu keluarga besar masing-masing calon pengantin juga harus mengetahui, melihat dan menyepakati bukti itu. Karena pada akhirnya yang berkomitmen untuk terjadinya pernikahan adalah kedua keluarga besar itu. Artinya bahwa yang berkomitmen untuk mengikatkan diri satu sama lain adalah marga-marga yang terkait di dalamnya yang diwakili oleh kedua keluarga besar itu. Itulah makanya orang non-Batak seringkali terkagum-kagum kalau melihat jumlah yang datang saat pernikahan orang Batak. Sampai-sampai saat ini seringkali harus dilakukan dua acara terpisah, yaitu acara pernikahan secara adat dan acara resepsi yang mengundang rekan-rekan yang Non-Batak. Karena kalau disatukan akan menyulitkan pihak gedung untuk menampung. Menampung orang yang datang, dan menampung mobil-mobil yang harus parkir.
Ketiga, Sinamot adalah “kesepakatan” atau perjanjian. Hukum adat mengakui adanya kesepakatan secara lisan. Dengan demikian ucapan yang keluar dari mulut seseorang sudah dianggap sebagai ikatan. Berbeda dengan hukum modern yang dilakukan secara tertulis. Demikian juga dengan janji pernikahan. Dengan dibuktikan melalui Sinamot, maka pernikahan itu menjadi terikat secara adat, dan selanjutnya menjadi ikatan perjanjian di antara kedua belah pihak.

Keluhuran Nilai Sinamot Terdegradasi
Namun yang repotnya, ketiga esensi di atas akhir-akhir ini telah mengalami degradasi. Baik karena kurangnya pemahaman keluarga besar calon mempelai tentang proses berlangsungnya Sinamot, juga karena pemahaman yang salah dari banyak orang Batak sekarang ini yang menganggap Adat Batak itu kepanjangan dari cara-cara animisme atau dinamisme belaka. Lalu semakin banyak keluarga batak yang mulai terkooptasi oleh nilai-nilai materialisme dan hedonisme. Sehingga bagi mereka lebih penting nilai rupiahnya, daripada esensi penghormatannya. Lebih penting tingginya nilai Sinamot, daripada esensi dari komitmen pernikahan antara dua keluarga besar. Banyak orang berlomba-lomba untuk menaikkan besarnya Sinamot, supaya dilihat lebih hebat, lebih tinggi derajatnya dari keluarga yang Sinamot nya lebih rendah. Jadi sebenarnya sekarang ini ada faktor kompetisi harga diri orang Batak dalam Sinamot. Harga diri orang Batak saat ini seringkali diukur dari berapa besar Sinamot nya, bukan dari proses bagaimana Sinamot itu dilakukan secara benar dari perspektif keabsahan adatnya. Sinamot sekarang ini seringkali mengorbankan masa depan keluarga yang baru. Karena banyak keluarga yang melangsungkan pernikahan adat Batak secara jor-joran menaikkan Sinamot dan berpesta besar-besaran meskipun harus mengutang sana sini, dan menjual beberapa aset penting dari keluarga. Lalu selesai acara pasangan yang baru ini tidak memiliki “modal” yang cukup untuk memulai hidupnya. Akhirnya yang terjadi adalah si keluarga baru ini harus terseok-seok.
Situasi inilah yang akhirnya menjadi beban anak-anak muda Batak sekarang ini untuk memutuskan menikah, karena persepsi orang Batak yang terlanjur salah terhadap Sinamot. Pasangan muda yang akan menikah selalu “dihantui” oleh pertanyaan dari anggota keluarga: “berapa Sinamot mu”. Bukan lagi pertanyaan seputar bagaimana persiapan mental mu, sudah berapa kali mengikuti bimbingan pra nikah di gereja, atau bagaimana rencana kalian setelah menikah. Keagungan nilai pernikahan mulai digusur oleh seberapa besar acara yang akan dibuat. Seberapa banyak tamu yang akan diundang. Acara pernikahan Batak sekarang ini mulai bergeser dari yang tadinya perikatan dua keluarga dalam adat Batak, ke arah penyelamatan muka keluarga dengan Sinamot yang sebesar mungkin. Sinamot sudah mulai bergeser dari penghormatan antar keluarga besar menjadi sekedar transaksional semata. Sinamot seringkali akhirnya direduksi menjadi sekedar jual beli belaka.

Lalu Bagaimana?
Pertanyaan ini akhirnya harus dikembalikan kepada kita orang Batak. Sebab orang Batak memang terkenal dengan percaya dirinya yang tinggi. Bahkan seringkali tidak sadar akhirnya sampai pada ego yang tinggi. Kita harus jujur dengan itu. Semua maunya jadi raja. Ai sian bontian do au nunga raja...begitu kata kita. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan percaya diri yang tinggi. Tapi ketika itu sudah menyentuh ego yang membabi buta demi sekadar harga diri, sebaiknya kita mulai slowing down. Anak-anak muda harus berani bilang ke keluarga besar bahwa mempersiapkan kehidupan setelah menikah jauh lebih penting dari sekadar acara pernikahan sehari. Adat penting, Sinamot penting. Tetapi jangan sampai nilai-nilainya digeser menjadi pemuasan ego keluarga semata. Anak-anak muda Batak saat ini harus berani meluruskan cara pandang orang tua yang terhalusinasi oleh kepentingan harga diri sesaat. Kembalikanlah adat pada tempat dan nilai-nilai yang sesungguhnya. Besar kecilnya acara adat sesungguhnya bukan diukur dari jumlah uang yang digelontorkan, tetapi kelengkapan seluruh proses yang telah dilewati dengan benar dan kebesaran hati para anggota keluarga yang terlibat. Kebesaran hati untuk menerima apa yang ada, tidak berlebihan, dan tidak perlu mengorbankan masa depan keluarga muda yang baru meniti kehidupan rumah tangganya.

(Penulis adalah St. Mangara Sidabutar, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi November 2011)