Senin, 05 Januari 2009

ARTIKEL: MAKNA DAN ARTI TANDA AJAIB MENURUT INJIL YOHANES

Pendahuluan
Melalui tanda ajaib yang dibuat oleh Tuhan Yesus dalam kitab – kitab Injil mempunyai arti dan makna yang dalam bagi orang yang percaya kepadaNya. Dalam hal ini penyaji akan mencoba membahas arti dan makna tanda–tanda ajaib tersebut dalam kitab Injil Yohannes, sebagaimana dikatakan dalam Yoh 20:30-31, bahwa menurut Yohannes banyak tanda (mujizat) yang Yesus telah buat di depan murid–muridnya, maupun di hadapan khalayak ramai.
Kata “ajaib“ dapat diartikan, suatu kejadian yang aneh yang ganjil, sebab kejadian itu tidak terjadi sebagaimana biasa. Dalam kamus An Indonesian-English Dictionary, untuk menjelaskan kata “Ajaib“ disebut “miracle” yang dapat diartikan dengan kata “ajaib dan mujizat”. Dengan pemahaman ini maka kata “ajaib” yang dimaksud dalam sajian ini adalah mujizat- mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus pada masa hidupNya di dunia. Dalam bahasa Inggris selain dari pada “miracle” juga terdapat kata – kata yang lain, yang sering dipergunakan untuk menunjuk kepada pengertian “mujizat“ yaitu “sign“ (tanda bukti), “Wonder“ (mujizat, keajaiban, keheranan) “Work“ (pekerjaan) dan “mighty Work“ (pekerjaan yang sangat besar). Di dalam Alkitab dinyatakan bahwa mujizat itu adalah hasil pekerjaan Allah yang luar biasa (Kel. 7:3, Ul. 4:34-35, Yoh. 3:2, 9: 32-33, 10:38, dll).

Peranan mujizat dalam Injil Yohannes
Injil Yohannes lebih tertarik memakai kata “semeion“ (tanda mujizat) yang sejajar dengan mukadimah dari Injil itu sendiri, bahwa Firman telah menjadi daging diam diantara kita dan telah melihat kemulianNya yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran (Yoh.1:14) “Semeion“ itu adalah sebagai hasil tindakan pribadi yang nampak dari penggabungan kata “semeion dan poiei“ (Wahyu 13:13, 16:14, 19:20). “Semeion“ dengan oknum yang melakukannya tidak dapat dipisahkan sebab “semeion“ itu mengandung sifat dari oknum tersebut. Tentang “semeia“ Yesus ini, Nikodemus mengatakan bahwa tidak seorangpun dapat melakukan mujizat, bilamana Allah besertaNya (Yoh. 3:2). Ucapan orang–orang parisi dalam menanggapi penyembuhan seorang buta pada hari sabat dapat dimengerti bahwa tidak mungkin bagi seorang berdosa melakukan mujizat seperti itu (Yoh 9:16b). Hal pokok bukanlah pada kwantitas “semeia” itu dan bukan pula pada kemegahannya, melainkan kwalitetnya yang berdasar pada maksud pembuatan mujizat itu. Dengan kata lain Injil Yohannes memakai istilah “semeion“ terbatas hanya pada Yesus. Injil Yohannes membentangkan suatu tujuan yang praktis supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya Kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya (Yoh. 20:31). Orang–orang percaya boleh menerima bahwa mujizat adalah suatu kejadian yang supernatural atau yang juga natural yang didalamnya nampak pernyataan Allah. Baik mijizat yang disebut melanggar hukum alam, pada pokoknya mujizat itu berhubungan dengan iman, hal ini nampak apabila iman/kepercayaan itu sebagai dasar untuk melihat mujizat tersebut.
Untuk memahami mujjizat, lebih baik dimulai dengan fakta–fakta yang terdapat dalam sejarah Injil dalam PB. Peristiwa yang disertai dengan mujizat sejak dari awal hingga akhir cerita seluruhnnya melampaui hukum alam: Yesus lahir dari seorang dara dan kelahiranNya diberitakan oleh malaikat kepada IbuNya dan kepada Yusuf tunangannya (Mat dan Luk). Yesus menderita mati disalibkan sebagai manusia biasa, tetapi pada hari ketiga bangkit dari kubur dan tinggal bersama–sama murid–muridNya selama 40 hari (Kis. 1:3). Dan akhirnya Dia naik ke sorga. Disamping itu, Yesus juga membuat keajaiban–keajaiban selama pelayananNya di dunia.
Dalam Injil keempat mujizat selalu disebut “tanda“ dan ditempat–tempat lain dalam Perjanjian Baru kata “mujizat“ atau “keajaiban“ selalu dihubungkan dengan kata tanda–tanda dan keajaiban selalu digunakan bersama, seakan–akan mengajar kita bahwa mujizat–mujizat tidak hanya berhubungan dengan kemampuan menimbulkan keheranan kepada para pendengar dan pembaca, tetapi juga karena apa yang ditandakanNya.
Jadi mujizat–mujizat itu adalah tanda–tanda zaman Mesias, seperti telah di nubuatkan dalam Perjanjian Lama, sebab bukankah telah tertulis dalam Yes.35:5, pada waktu itu mata orang–orang buta akan dicelikkan, telinga orang akan di buka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti Rusa dan mulut orang bisu akan bersorai–sorai.
Injil Yohannes secara khusus mengembangkan makna dari pada mujizat–mujizat Yesus sebagai “semeion“ (2:11), dimana Yohannes tidak menyebut“ dunameis “ atau “ kuat kuasa “ tetapi tanda – tanda mujizat.
Dengan demikian istilah “mujizat“ dapat dipergunakan kepada peristiwa–peristiwa yang beraneka jenis, seperti pekerjaan Allah dalam penciptaan, pengalaman – pengalaman pribadi manusia yang mengherankan yang ditunjuk sebagai “ tanda “.
Iman adalah jawaban manusia kepada pengertiannya sendiri terhadap pernyataan Allah, tetapi iman disini tidak sama dengan intelektualitas manusia. Yohannes dengan jelas menghubungkan iman/kepercayaan itu dengan “semeia“ Yesus. Artinya bahwa iman didalam Yesus selalu berarti juga sebagai iman kepada Allah sebagai Bapa (Yoh. 12:44, Yoh. 14:1), artinya bahwa Yesus sendiri mengatakan bahwa Dia ada dalam satu kesatuan dengan Allah, BapaNya itu.
Ketika Yesus memperkenalkan diri sebagai yang membuat mujizat dan ketika Yesus mengerjakan MujizatNya (Yoh. 11:1) dan yang menyebabkan kematianNya (Yoh. 11:45), semuanya itu menunjukkan identitas Yesus sebagai Anak Allah yang berasal dari Allah. Allah yang di kenal melalui pekerjaan–pekerjaan Yesus, serta Allah yang membuat mujizat–mujizat di Mesir kepada bangsa Israel, atas dasar hubungan iman bangsa itu kepada Allah. Allah juga mempergunakan manusia sebagai alatNya dalam menafsirkan perbuatanNya dan dengan kuasaNya mengatakan identitas Allah dan kehendakNya. Di dalam Injil Yohannes, Yesus menguraikan pekerjaanNya yang menunjuk kepada diriNya sendiri dan juga kepada BapaNya, yang nampak dalam “erga” yang diperbuat oleh Yesus (bd. Yoh.5:17). Di dalam Injil Yohannes di tegaskan dengan jelas bahwa “semeia“ Yesus itu adalah oleh karena kuasa Allah, seperti yang terdapat dalam Yoh. 12:37b ff. Yoh. 12:37b ff ini adalah yang di kutip dari Yes. 53:1 sebagai dasarnya, yang mengatakan bahwa hubungan antara Allah dengan kejadian–kejadian yang dilakukan oleh yesus di ikat oleh “semeia“. Dengan kata lain, atas dasar Yes. 53:1, hubungan Allah dengan Yesus dinyatakan melalui “semeia“ itu dihubungkan dengan tangan Allah.

Tanda Ajaib sebagai pertanda kehadiran Kerajaan Allah
Menurut kesaksian keempat Injil ada empat macam perbuatan ajaib yang dilakukan Yesus sebagai proklamasi dalam bentuk tindakan yang menunjuk kepada kehadiran Kerajaan Allah di dalam diriNya :
1. Ia menyembuhkan orang–orang sakit
2. Ia mengusir roh jahat
3. Ia menaklukkan kekuatan atau hukum alam
4. Ia membangkitkan orang–orang mati
Injil–injil Sinoptik lebih banyak membicarakan tentang Kerajaan jika di bandingkan dengan Injil Yohannes. Hal ini nampak dalam ikhtisar ketiga Injil–injil Sinoptik. Markus mengikhtisarkan pemberitaan Yesus, dalam pasal 1:15
“……..…………..datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kataNya “ waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil !”
Demikian juga dengan Matius, dalam pasal 4:23, 9:35
Yesus berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah–rumah Ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah………….. (4:23)
Demikian juga halnya dengan Lukas , dalam pasal 4 : 43
“…………………Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah aku di utus”.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Istilah Kerajaan Allah itu menyangkut keseluruhan pemberitaan Yesus maupun rasul–rasulNya. Injil Yohannes tidak begitu tertarik memakai istilah Kerajaan di dalam kesaksiannya tentang Kerajaan Allah, namun dia lebih cenderung memakai istilah “hidup kekal“, yaitu hidup kekal yang ada dalam Kerajaan Allah. Jadi hidup kekal itu adalah ekwivalen untuk kehadiran Kerajaan Allah dalam Injil–injil Sinoptik. “Bisa saja ia beranggapan bahwa pokok ini telah di bicarakan, tetapi keterangan yang lebih mungkin ialah bahwa ia secara khusus telah menyusun pengajaran tentang Kerajaan dalam kitab–kitab Injil Sinoptik.
Maka dengan melihat perbuatan Yesus yang ajaib ini, nampaklah di dalamnya tercantum ringkasan dari segala sesuatu yang sejak purbakala menjadi pokok nubuatan Perjanjian Lama serta pengharapan bangsa Israel tentang masa depan, bahwa Kerajaan itu akan membawa pelepasan dan juga penghakiman. Dan di atas dasar pengakuan bahwa Allah adalah Raja sekarang ini juga, maka timbullah pengharapan yang penuh, bahwa Dia kelak akan menjadi Raja dalam arti yang luas dan mendalam, bahkan yang lebih definitif dan kekal adanya.
Pemberitaan Yesus tentang Kerajaan Allah itu, terkandung bentuk dan inti ungkapan yang khas dari pada seluruh pernyataanNya tentang Allah. Dengan kata lain melalui perbuatan tanda ajaib Yesus, Di dalam Injil Yohannes, Kerajaan Allah itu lebih terarah lagi, bahwa Kerajaan Allah itu membawa keselamatan, dan telah datang dengan membawa hidup yang kekal.
Schmidt dengan mengambil kata “Luio Bxgideix“ membuat suatu ungkapan yang menarik, untuk menjelaskan hubungan Yesus dengan Kerajaan Allah. Dikatakan bahwa diri Yesus sendirilah Kerajaan sorga dan di dalam pribadiNya. Jadi melalui perbuatan tanda ajaib Yesus berarti Allah mulai berkuasa, dan mulai melaksanakan perintahNya atas segala bangsa. PemerintahanNya akan membawa keadilan, keselamatan, dan perlindungan bagi orang–orang miskin, sakit, hina, tertindas, janda–janda dan yatim–piatu. Sehingga bila pengertian ini di hubungkan dengan istilah “Kerajaan Allah dekat“ hal itu berarti Allah itu dekat, Allah datang untuk melepaskan umatnya dari penderitaan. Dan bila Allah datang, maka manusia tidak akan tinggal diam atau tetap dalam dosanya yang memisahkanya dari Allah, sebab Allah datang dan ingin bersekutu dengan manusia, karena itu manusia juga harus mempersiapkan diri dan menyesuaikan dirinya kepada kedatanganNya. Jadi dengan uraian ini dapat dipahami bahwa menurut Injil Yohannes Kerajaan Allah itu lebih menunjuk kepada Yesus, Yesus yang memperkenalkan diriNya sebagai hidup dan kebangkitan (11:25).
Dengan percaya kepada Yesus maka telah diperoleh hidup yang kekal, karena percaya kepada Yesus berarti menjadi milik Yesus (Yoh. 1:4, 11: 25, 14:19) dan sebaliknya apa yang dimiliki Yesus (hidup kekal) akan menjadi milik orang yang percaya. W.G.Kummel menghubungkan “kesudah-datangan“ dan “keakan-datangan“ Kerajaan Allah. Di dalam konsepsinya Kummel mengatakan Yesus melihat kehadiranNya sebagai pemenuh eskatalogi. Kehadiran Yesus dimengerti sebagai periode khusus di dalam keselamatan dari Allah. Sejarah di lihatnya sebagai periode menuju akhir keselamatan eskatalogi yang telah di genapi di dalam diri Yesus. Semua ini menandakan saat yang futuris pada saat Yesus mengadakan perumpamaan tentang kerajaan Allah. Presentis dan futuris di hubungkan sebagai kehadiran (present) penggenapan yang membawa pemenuhan janji (futuris).
Dari keseluruhan tanda ajaib Yesus yang tertera dalam Injil Yohannes maka penyaji melihat bahwa mujizat kebangkitan Lazarus adalah merupakan puncak dari ketujuh mujizat. Sesuai dengan tafsiran Injil Yohannes, bahwa pembangkitan Lazarus dari mati dikaitkan kepada kebangkitan yang akarnya adalah dalam diri Yesus sendiri. Dalam peristiwa kebangkitan itu Yesus berkata : “Akulah kebangkitan dan hidup………... (Yoh. 11:25a)”. Melalui pengajaran ini bahwa Yesus menghubungkan diriNya dalam kebangkitan dan hidup. Hal ini menunjukkan kepada kebenaran bahwa hidup yang ada padaNya adalah hidup yang presentis yaitu hidup yang kekal seperti yang disebutkanNya dalam Yoh. 1:4, 3:15. Yesus penjelmaan logos yang merupakan dasar kehidupan dari segala yang hidup. Dia adalah Anak yang kepadaNya Allah memberikan hidup,dengan maksud agar manusia dapat mencapai hidup melalui percaya kepadaNya (bd. Yoh.3:36, 5:24, 8:51) Yesus juga membangkitkan orang–orang percaya dari kematian (Yoh.5:21, 28, 6:39). Dalam Yoh 5:21-25 dikatakan bahwa ia akan menghidupkan orang mati, yang mana melalui mujizat ini nampak penggenapan ungkapanNya itu. Sama seperti Bapa membangkitkan orang mati, demikian juga Anak menghidupkan barang siapa yang di kehendakiNya. Dan kini sudah tiba saatnya orang yang ada dalam kubur mendengar suara Anak Allah yang tentu saja hanya orang yang percaya yang dapat menerima dan mengerti tanda-tanda yang dilakukan Yesus.
Sebelum Yesus membangkitkan Lazarus Ia lebih dulu berdoa, mengucap syukur. Hal ini menyatakan ketergantunganNya kepada BapaNya, bahwa pembangkitan Lazarus itu ada didalam kehendak Bapanya. Sehingga dengan pembangkitan Lazarus itu, Yesus menuntut agar dunia mengakui bahwa Bapa di sorga yang mengutusnya. Di dalam doaNya itu ditandaskan bahwa mujizat yang akan diperbuatNya bukan dari diriNya sendiri. Hal ini yang membedakan mujizat–mujizat yang diperbuat Yesus dari mujizat–mujizat yang diperbuat oleh akrobatis yang mengandalkan kemampuan diri sendiri.

Kesimpulan
- Suatu tanda ajaib dalam Injil tidak pernah menjadi tujuan pokok dari karya TuhanYesus
- Injil Yohannes tidak memakai kata “Sulvmeis“ untuk menjelaskan tanda ajaib yang diperbuat Yesus , namun dia memakai kata “Gnmeiov” (tanda mujizat)yang berarti bahwa munculnya mujizat bukan berarti/bermaksud untuk mengandalkan kekuasaan dan kebolehan diri sendiri, melainkan supaya manusia percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, sehingga oleh Iman manusia, manusia akan memperoleh hidup di dalam namaNya.
- Melalui tanda ajaib Yesus maka nampaklah kemuliaan Allah Bapa di surga, sebagai Allah yang mengutusnya di dunia.
- Untuk menjelaskan hubungan tanda ajaib Yesus dengan Kerajaan Allah, Yohannes lebih cenderung memakai kata “hidup yang kekal“, yakni hidup yang kekal dalam Kerajaan Allah. Hidup yang kekal yang telah hadir bersama–sama dengan Kristus.
- Akhirnya thema pokok dalam tanda–tanda ajaib Yesus adalah pertanda hadirnya Kerajaan Allah (present) dan akan disempurnakan pada masa eskaton.

(Penulis adalah Pdt. Drs. B. Hutahean, M.Div., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Desember 2004)

ARTIKEL: PROBLEMATIKA DUNIA KERJA

Dulu, waktu saya masih duduk di bangku sekolah, saya sangat ingin cepat-cepat bekerja. Dibenak saya, bila saya sudah kerja, saya tidak perlu belajar malam-malam untuk menghadapi ujian-ujian sekolah lagi. Saya akan mengenakan setelan baju kerja yang bagus dan menyandang tas kerja saya. Saya akan menempati meja dan kursi, tempat saya menyelesaikan tugas-tugas saya, dan memperoleh penghasilan yang besar tentunya. Kalau saya berjumpa dengan teman yang menanyakan kabar saya, saya dengan bangga akan menjawab “saya sudah bekerja di perusahaan x “. Dan bila jam pulang kantor tiba, saya akan kembali ke rumah. Wuihh…senang sekali rasanya.,tampaknya sangat mudah sekali. Itu adalah salah satu pandangan seseorang mengenai dunia kerja. Tetapi apakah hanya sebatas itu? Apakah sebenarnya arti dari “BEKERJA” itu?

Arti Bekerja
Ada yang mengatakan, bekerja adalah melakukan aktivitas/kegiatan tertentu untuk menghasilkan sesuatu, bisa material, spritual, kepuasan diri, dll. Bekerja juga merupakan suatu bentuk tanggung jawab kita kepada orang tua yang sudah menyekolahkan kita, setelah lulus kita harus bisa bekerja dan tidak tergantung lagi pada orang tua.
Semboyan berbahasa latin “Ora et Labora” sering diartikan : selain berdoa perlu bekerja, selain bekerja perlu berdoa. Tetapi ternyata artinya bukan hanya sebatas itu. Labora bukan hanya berarti bekerja, melainkan labora berarti bekerja keras. Dari situlah timbul kata bahasa Inggris “Laborius”, yang berarti “rajin atau menyediakan banyak waktu”.
Dalam Alkitab, bekerja keras diperlihatkan sebagai kebalikan dari kemalasan. Kemalasan bukan sekedar sifat jelek, melainkan dianggap sebagai kejahatan dan dosa yang daripadanya manusia harus bertobat. Jadi, Ora et Labora seharusnya tidak hanya merupakan semboyan saja, tetapi suatu mentalitas kerja keras yang harus kita miliki.

Untuk Apa Bekerja?
Setiap orang mempunyai alasan mengapa ia ingin bekerja. Umumnya, kita bekerja untuk:
1. mendapatkan penghasilan /mencari nafkah. Andaikan kita mewarisi kekayaan 1 juta US dollar, mungkin kegiatan dan tujuan bekerja kita berbeda dengan saat ini.
2. bisa mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang sudah kita pelajari (meskipun tidak selalu dunia kerja kita berhubungan dengan ilmu yang kita dapat di sekolah atau kuliah).
3. mendapat karier yang bagus, jabatan dan penghasilan plus fasilitas yang bagus sehingga status sosialpun meningkat.
4. mengembangkan potensi diri: menambah wawasan, pergaulan/relasi dan ilmu yang terus berkembang.

BEKERJA, selama ini dan seterusnya merupakan perhatian utama sebagian besar manusia. Kerja memenuhi setidaknya 2 kebutuhan utama ~ keamanan dalam hal keuangan dan kepuasan emosi.
Sebagian besar orang ingin mengerjakan tugas mereka dengan baik; dan menyadari bahwa orang dapat mempelajari ketrampilan kerja yang lebih efektif lagi.

Mengapa kita sebagai pekerja perlu belajar bagaimana meningkatkan ketrampilan kerja dasar kita? Pertama, karena dengan melakukan pekerjaan yang lebih baik cenderung membuat kita merasa lebih baik. Kedua, karena pasar kerja terus menjadi lebih kompetitif, kita lebih mungkin berhasil dalam pekerjaan kita bila kita bekerja dengan baik. Pekerja yang memperlihatkan keefektifan pribadi yang meningkat pada bidang kerja diharapkan akan memperoleh promosi dan kepuasan kerja yang lebih tinggi. Ketiga, pekerja tanpa bayaran seperti ibu rumah tangga dan pekerja sukarela akan mendapat keuntungan dengan mengetahui bahwa mereka memanfaatkan waktu mereka dan melatih ketrampilan mereka sampai batas optimum.

Problematika dunia kerja
Dalam dunia kerja, memang kita tidak menemukan ujian-ujian seperti pada masa sekolah, tetapi kita akan sering dihadapkan dengan berbagai problema yang ada di tempat kita bekerja, seperti sebagai berikut:
1. Tidak sesuainya ilmu yang dipelajari dengan pekerjaan. Karena sulitnya mendapat pekerjaan, kita sering bersedia mengambil pekerjaan yang ada dihadapan kita, meskipun berbeda dengan disiplin ilmu kita. Ini membuat kita lebih sulit melaksanakan apa yang menjadi tugas-tugas kita.
2. Persaingan dengan teman kerja. Beda banget antara dunia sekolah dan dunia kerja, dimana ada persaingan untuk suatu posisi tertentu. Sering menghalalkan segala cara, dari memuji-muji atasan sampai menjelek-jelekkan teman demi mendapat simpati atasan.
3. Masalah dengan atasan. Ada 2 aspek yang sering menjadi masalah antara pekerja dan atasannya yaitu kepercayaan dan respek. Kepercayaan, yang berarti bahwa kita bisa dipercaya untuk menjalankan tugas kita secara efektif dan tepat pada waktunya. Respek, atasan akan memberikan respek kepada kita untuk pekerjaan yang kita lakukan dengan baik. Mungkin sekali atasan memang tidak menyukai kita, tetapi tetap memberi respek kepada kita dan pekerjaan kita.
4. Tidak bisa berekspresi/mengembangkan potensi diri karena di perusahaan sudah ada rule/aturan tertentu dan ada orang-orang yang mengatur.
5. Kejenuhan, masalah yang kerap muncul. Sebagian besar pekerjaan memiliki aspek pengulangan dan kebosanan yang benar-benar harus dikerjakan. Terlebih bila kita sudah bekerja dalam waktu yang cukup lama dalam satu perusahaan dengan pekerjaan yang bersifat rutinitas.
6. Interaksi sosial yang kompleks dengan individu lain yang memiliki pola pikir/karakter yang berbeda-beda dan memiliki kepentingan atau tujuan yang berbeda pula. Hal ini sering menyebabkan adanya kesalahpahaman dan menjadi hambatan yang cukup berarti.
7. Beban tugas yang terlalu berat, sehingga dapat mempengaruhi kondisi otak, hati maupun jiwa menjadi tidak seimbang, yang mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit akibat bekerja (fisik maupun non fisik), terlebih lagi apabila kita terlalu larut dalam ruwetnya masalah pekerjaan.
8. Ketidakhadiran pekerja. Bila kita mengambil waktu kerja karena sakit atau karena merasa sedikit tidak enak badan, bertanyalah pada diri sendiri apa yang salah dalam situasi kerja kita. Apa yang mendorong kita tidak hadir sewaktu kita sebenarnya fit untuk bekerja? Kita semua bisa saja mengalami hari-hari yang suram hingga menyedihkan. Namun, bila hari-hari ini terjadi setiap minggu pasti ada yang tidak beres.
9. Kelesuan kerja adalah kondisi yang sangat riil yang bisa menurunkan produktivitas kerja kita. Orang menjadi lesu bila mereka tidak lagi mengalami tantangan ataupun tidak lagi memperoleh kepuasan dari kerja mereka, misalnya karena kurangnya penghargaan terhadap hasil kerja mereka.

Apa yang bisa kita upayakan untuk semua problema tersebut?
1. Bila pekerjaan yang saat ini Tuhan berikan kepada kita tidak sesuai dengan disiplin ilmu kita, yang pasti kita harus mau terus belajar dan tidak perlu malu bertanya/belajar dari orang yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya dari kita.
2. Suasana persaingan dengan menjatuhkan teman sangat tidak menyenangkan. Janganlah kita berpikir untuk berbuat demikian juga, tetaplah bekerja dengan sebaik-baiknya dan bersikap professional, menghormati setiap orang yang kita jumpai di lingkungan kantor.
3. Atasan dan teman kerja kita akan menaruh respek pada kemampuan kita bila kita menunjukkan kualitas kita: bersikaplah antusias terhadap pekerjaan; kerjakan yang terbaik yang bisa dilakukan setiap hari; Bekerjalah sungguh-sungguh, bersikaplah bisa diandalkan, selesaikan pekerjaan pada waktunya; bersikaplah inovatif, carilah cara-cara yang bisa kita gunakan untuk meningkatkan diri dan pekerjaan kita; bersedialah untuk menerima tanggung jawab tambahan. Atasan mungkin ingin mendelegasikan tugas baru untuk mendorong pertumbuhan dalam pekerjaan kita; Sadarilah keterbatasan kita, bila kita ragu mengenai kemampuan kita untuk melaksanakan suatu tugas yang sudah ditetapkan, mintalah bantuan yang semestinya; Bersikaplah luwes dan bisa menyesuaikan diri. Bila suatu masalah kerja yang mendesak muncul atau bila waktu lembur diperlukan, bersikaplah kooperatif. Bila tujuan ini tampaknya tidak mungkin kita capai, amatilah teman sekerja yang mendapat respek dari atasan kita. Apakah yang dilakukan rekan kita ini untuk mendapatkan respek tersebut? Kita hidup dalam laboratorium manusia dan pelajaran berharga bisa dipelajari setiap hari dari orang-orang disekitar kita. Pengamatan yang cermat bisa membuat setiap hari sebagai suatu langkah maju dalam mengelola atasan kita secara lebih konstruktif.
4. Setiap kita mempunyai pemikiran-pemikiran idealis yang ingin diterapkan dalam pekerjaaj kita. Namun, kita juga harus patuh pada aturan main dan budaya kerja yang berlaku dimana tempat kita bekerja meskipun bertentangan dengan pikiran idealistis kita sebagai individu. Kita harus belajar untuk menjadi cukup fleksibel dan bekerja sebaik-baiknya.
5. Untuk mengatasi kejenuhan cobalah lakukan sejumlah variasi dari pekerjaan kita. Ambillah peranan aktif dalam pengambilan keputusan bila mungkin; mintalah tanggung jawab yang lebih besar dalam pekerjaan kita; carilah tantangan baru, buatlah variasi dalam melakukan tugas/pekerjaan, misalnya biasanya membuat tabel horizontal, ganti dengan tabel vertical; ikuti kursus pendidikan yang berhubungan dengan pekerjaan untuk memperbaharui ketrampilan kita; rencanakan ganjaran untuk pencapaian target kerja yang spesifik. Berfokuslah pada ganjaran ini sebagai perangsang untuk menyelesaikan tugas-tugas yang membosankan; Siapkan surat pernyataan resmi yang bisa kita berikan kepada diri sendiri untuk ketekunan dan kegigihan dalam menghadapi kebosanan absolut. Humor membuat kebosanan bisa lebih ditoleransi dan cepat berlalu; atau ambillah cuti panjang, biasanya cuti 4 hari cukup membuat kita kembali merindukan pekerjaan-pekerjaan kita.
6. Dalam memupuk interaksi dengan orang lain, ada beberapa hal yang bisa kita upayakan: a. berikanlah apa yang patut kita berikan pada atasan dan bawahan (vertical) dan berikanlah apa yang patut kita berikan pada rekan sekerja (horizontal); b. binalah hubungan baik dengan siapa saja, intinya, pintar-pintarlah membawa diri; c. layanilah sebaik mungkin semua permintaan dari siapa saja (vertical dan horizontal), sepanjang permintaan tersebut sesuai dengan kapasitas kita; d. mengalahlah pada perbedaan-perbedaan yang tidak prinsipil; e. bersikap baik dalam berbicara dan menulis (termasuk email) akan membuat orang lain nyaman dan tidak merasa terancam. Biasanya orang lain bersikap negatif (tidak kooperatif, tersinggung, mengkritik, marah, menyerang dan bahkan berusaha menjatuhkan kita) dikarenakan merasa dirinya terancam. Ini adalah naluriah semua mahluk hidup, termasuk kita manusia.
7. Bila beban pekerjaan sudah terasa terlalu berat, kita harus kembali menyadari bahwasanya masalah selalu ada dalam pekerjaan, yang penting bagaimana kita menghadapinya dengan tidak sembarangan, tetapi dengan hati yang tenang. Ingatlah, masalah selalu ada didalam pekerjaan, tetapi kita harus menganggap masalah itu bukan sebagai beban, melainkan adalah sesuatu yang wajar terjadi dalam hidup.
8. Mungkin sulit untuk menemukan penyebab masalah ketidakhadiran. Kadang kita memendam masalah dalam-dalam karena masalah tersebut menimbulkan ancaman yang kuat dan serius terhadap kepercayaan diri atau harga diri kita. Bila kita merasa ada masalah dan tidak dapat mengidentifikasikannya, bicaralah dengan seorang teman dekat yang mengenal kita dengan baik. Bicarakan rencana yang akan mendorong kehadiran kerja yang bisa diandalkan.
9. Untuk menghadapi kelesuan kerja luangkanlah sedikit waktu untuk beristirahat sepanjang hari, berlatihlah untuk rileks secara fisik, mental dan emosional; ambillah liburan berkala; pertahankan hubungan erat dengan pekerja lain untuk membicarakan masalah kerja yang lazim dan memperoleh dukungan teman sekerja; buatlah pekerjaan kita bervariasi sebanyak mungkin. Hindari rutinitas kerja dimana setiap jam dari hari kita menjadi bisa diramalkan seluruhnya; pertahankan keterlibatan aktif terhadap minat luar dan hobi untuk memberi sejumlah keragaman dan kegairahan pada kehidupan kita; bicarakanlah mengenai perasaan kita, yang baik maupun yang buruk, dengan teman dekat di tempat kerja dan keluarga. Jangan menyimpan emosi yang kuat; Bila mulai menderita penyakit yang tidak jelas, kesulitan tidur dan hubungan yang terganggu dengan rekan kerja, bicaralah dengan psikolog mengenai pengalaman di tempat kerja. Pastikan untuk menyebutkan setiap ketidakpuasan yang dirasakan sekarang.

Jadi, Bagaimana cara kita meningkatkan produktivitas?
Kita sungguh perlu meningkatkan produktivitas kita dengan cara: bekerjalah menurut rencana harian; carilah apa yang memungkinkan kita bisa gunakan secara produktif waktu yang semula tidak terpakai; mulailah suatu arsip pelaksanaan untuk menghubungi secara berkala orang-orang yang penting bagi kerja kita. Usahakan mencatat informasi latar belakang, kejadian istimewa dan barangkali bahkan ulang tahun penting pada kartu arsip kita; latihlah menempatkan diri kita pada posisi orang yang kita hadapi dan lihatlah diri kita dari perspektif mereka, Dapatkah kita mengarahkan mereka secara lebih positif? Dapatkah kita membuat mereka merasa lebih positif dalam hubungan mereka dengan kita?; berbicaralah dengan orang yang berpengalaman dalam bidang kerja kita dan cobalah strategi yang mereka gunakan untuk meningkatkan produktivitas mereka; dan perbaharuilah ketrampilan kerja kita!

Sulitkah?
Ya, kita tahu semua itu tidaklah sedemikian mudahnya diterapkan, tetapi kita bisa menghadapi tantangan itu. Itulah sikap yang benar: menghadapi tantangannya dan mengantisipasikan bukan saja kerja keras, melainkan juga sukses.
“ Saya bisa menerima kegagalan. Semua orang bisa gagal, tetapi saya tidak bisa menerima dengan tidak mencoba”(Michael Jordan). Kata kunci dalam kutipan Jordan di atas adalah menerima. Seandainyapun kita gagal dalam suatu tugas, kalau kita telah mengupayakannya dengan sebaik-baiknya, karakter kita menjadi lebih kuat. Itu juga memberikan teladan kepada orang lain. Ujung-ujungnya, kegagalan kita yang sementara itu akan berkontribusi bagi sukses kita maupun sukses mereka-mereka yang setelah kita. Akhirnya, Semoga Berhasil dalam Pekerjaan Anda dan Beranikanlah Diri untuk Meraih Sukses!
Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Timotius 4:7)

(Penulis adalah Monalita Hutabarat, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Mei 2007