Kamis, 24 Desember 2009

RENUNGAN: ADVENT DAN VISI BARU

“…Tutur kata orang yang mendengar firman Allah,
dan yang beroleh pengenalan akan Yang Mahatinggi,
yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa,
sambil rebah, namun dengan mata tersingkap,..
bintang terbit dari Yakub…”
(Bilangan 24:15-17)

Catatan Awal
X KOTA BERIMAN! X adalah Kota BERadab, Indah dan nyaMAN! Ini contoh dari sebuah pencitraan sebuah kota. Pada masa ini tampaknya tidak ada kota yang tidak berupaya untuk menciptakan pencitraan yang positip. Yogya yang kota pelajar juga ingin memulihkan pencitraannya yang pernah ada. Bagaimana dengan pencitraan gereja?

Gereja Butuh Visi Baru
Tidak ada kota atau desa atau perusahaan atau apa saja yang tinggal diam. Semua seakan terbangun untuk menata diri. Untuk penataan yang lebih terencana dan efektip dibutuhkan kejelasan konsep. Itulah yang kita sebut dengan Visi.
Kebutuhan akan Visi lahir dari kesadaran akan perjuangan dari sembarang komunitas yang ingin eksist. Tidak hanya sekadar eksist tapi mendapat tempat di hati masyarakat. Banyak pelajaran kita petik dari dunia bisnis yang selalu berusaha untuk mencuri hati dari pengguna produk. Pemerintah kota juga harus mencuri hati warganya kalau kota itu ingin hidup. Tidak sekadar hidup! Tapi bagaimana agar kota menjadi lebih hidup. Biar saja orang bilang, pasti tujuannya agar pembayar PBB makin lancar. Itu hukum alam, kok! Untuk menggugah hati warga perlu sejumlah cara!
Kita yang berkecimpung dalam ranah gereja juga ikutan membedah Visi. Ah, sepertinya kita ketinggalan kereta melulu. Setelah yang lain ngomong SOP, kita agak hati-hati menyeminarkan tentang SOP. Setelah diluar banyak yang rame tentang perlunya pengawasan penggunaan sumber-sumber daya yang dimiliki sebuah organisasi maka kita pun agak tersipu-sipu mulai terhenyak dan berkata, ya kita juga perlu pengawasan. Tampaknya setan-setan tidak cuma mau menggoda para birokrat sekuler tapi juga para anggota jemaat yang terkenal penyumbang dan tanpa pamrih pun mau diganggu oleh si penggoda iman dengan cara apa saja.
Lalu kita yang pencinta gereja akhirnya melakukan mawas diri. Kita mendapat tugas ganda, di satu sisi mencari pembenaran untuk apa yang akan kerjakan dan di sisi lain menyatukan daya untuk memaksimalkan apa yang sedang kita kerjakan. Itulah kesulitan kita. Kita tidak bisa bergerak tanpa kepastian moral. Lebih tepat: kepastian dasar berpijak!
Nah, ini harus dipermudah. Kalau tadi kita ingin mengadopsi cara luar (cara kota atau cara perusahaan) yang ternyata terus-menerus membenahi diri dengan pencitraan baru, dengan mengasah Visi, dst, lantas, kita tidak bisa legowo sebelum yang satu ini dituntaskan: apakah jika cara-cara itu kita tiru bisa kita pertanggungjawabkan secara iman? Di sini tugas ganda itu!

Tugas Visioner Gereja
Untuk berkali-kali, kita harus malah menjadi tersenyum lebar selebar-lebarnya. Begitu kerap terjadi. Teman-teman dari LSM amat bergairah untuk memperjuangkan saudara-saudara kita yang beruntung padahal ternyata itu mestinya tugas gereja. Para pejuang idealisme bangsa demikian getol membisingi birokrat kita untuk membawa bangsa ini ke negeri yang amat kita impikan (sebetulnya bukan utopia!).
Bukankah dari dulu kita selalu terperangkap kepada Mission Impossible. Yang buta melihat, yang tuli mendengar, yang lumpuh berjalan! Itu gawenya Allah. Manalah bisa pendeta kita yang begitu!
Tampaknya kita tidak perlu bertele-tele di sini. Kita yang gereja, juga punya tugas visioner! Kita punya hutang untuk diledakkan. Jangan tunggu sampai menjadi bom waktu. Waktu ternyata ada di pihak kita. Jaman ketidakmungkinan menjadi jaman kemungkinan. Ada sejumlah perjalanan gereja yang amat mencengangkan. Ternyata bukan soal otot dan… juga bukan soal otak! Bukan gagah perkasa! Dan juga bukan kepintaran atau ke-lihay-an!
Kita telah berada di tengah-tengah jaman yang amat menentukan. Ini adalah saat untuk menjadi gereja atau tidak sama sekali. Tidak cukup bagi kita hanya berdecak kagum atas prestasi keagamaan dari gereja lain yang kita lihat sebagai berkat eskhatologis! Kita juga gereja!
Mengapa kita mendiamkan saja selama ini visi akan kemenangan Yesus atas segala sesuatu? Dia adalah pelayan di dalam gereja! Tapi Dia adalah juga pelayan di dunia! Dia tidak untuk gereja, tapi untuk dunia!
Detik-detik waktu yang hendak menaruh segala sesuatu di bawah wilayah ketergerakan hati Sang Khalik makin tegas. Tidak ada bisikan yang hilang. Semua menjadi semakin nyaring untuk menyuarakan: Kita hidup dalam dunia yang satu! Kita tinggal dalam dunia yang diciptakan oleh Allah yang satu! Kita memiliki medan pelayanan di dunia yang satu! Kita memperoleh Yesus yang satu untuk semua dan sekali untuk selamanya!

Catatan Penutup!
Dengan Minggu Advent kita memasuki kalender gerejawi yang baru. Tema-tema yang diangkat dalam kotbah adalah tema tentang penantian kedatangan Yesus. Tema kedatangan itu selanjutnya dapat pula dijabarkan meliputi: kedatanganNya pertama, kedatanganNya kedua, kedatanganNya dalam hidup kita dan kedatangan perayaan Natal. Intinya adalah: kedatangan Yesus dalam hidup kita, baik dalam arti menebus, menggugah hati kita maupun dalam arti membela kita pada hari penghakiman kelak adalah peristiwa perwujudan rencana Allah di dalam hidup kita. Allah punya rencana, bagaimana pun cara Dia dalam memulai, melanjutkan sampai kepada menyempurnakannya. Satu hal: gereja diikutsertakan sebagai mitraNya, dan di sana kita ikut serta.
Yesus sudah datang pertama kali dan akan datang kembali untuk menyempurnakan perwujudan rencana Allah. Rencana Allah adalah rencana pemulihan. Benar, panggilan pemulihan di dunia ini bersifat sementara dan tidak sempurna. Namun setiap yang berasal dari Allah adalah mulia. Sama seperti bahwa kehidupan kita selama di dunia ini adalah sementara, namun demikian ia tetap merupakan kehidupan yang ajaib dan patut disyukuri, maka demikian juga panggilan pemulihan yang Allah canangkan selama kita hidup di dunia ini tetap merupakan keajaiban ilahi. Siapa yang tidak mau ikutan dalam panggilan ilahi yang demikian mulia? Itulah Visi gereja yang baru: kita diberdayakan untuk menjadi saksinya pada abad ke-duapuluh satu ini!

(Penulis adalah Pdt. Maurixon Silitonga, M.Th., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Desember 2009)

Tidak ada komentar: