Sabtu, 10 Juli 2010

RENUNGAN: PENGAKUAN IMAN RASULI (EZRA 10:1-5)

Pada suatu kali Yesus pernah bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Siman bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat. 16:13-17; Mrk. 8: 27-29; Luk. 9:18-20).
Pertanyaan Yesus mengenai siapa diri-Nya menurut pandangan orang banyak dan para murid adalah suatu pertanyaan yang sederhana dan acapkali terabaikan. Mungkin karena berbagai tanda mujizat yang dilakukan oleh Yesus sehingga orang banyak dan beberapa murid-Nya ketika itu hanya terkesimak dan tidak tiba pada pengenalan akan siapa Yesus sebenarnya. Namun, pertanyaan itu telah membawa Simon Petrus pada suatu pengakuan yang sangat mendasar dan menentukan perjalanan hidupnya dalam mengikut dan melayani-Nya.
Sama seperti Simon Petrus dan para murid lainnya, kita dipanggil untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Kita dipanggil agar mengaku kepercayaan itu di muka umum, sehingga menjadi saksi-saksi Kristus, dengan perkataan dan perbuatan dan segala tingkah laku kita, dalam hidup kita sehari-hari. Kata “mengaku” berasal dari “aku”. Ketika aku percaya, kita menegaskan: biar bagaimanapun anggapan dan sikap orang lain, apapun juga yang terjadi di dalam kehidupan saya, bagaimanapun juga akibat-akibatnya, aku ini mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, aku ini hendak taat kepada-Nya dan menyerahkan hidupku kepada-Nya. Jadi hal mengaku adalah perbuatan pribadi yang sangat tegas.
Tetapi orang yang mengaku demikian, tidak membuatnya sendirian! Pengakuan Iman Rasuli (dinamakan demikian bukanlah karena rasul-rasul yang menulisnya) memang dimulai dengan ucapan “aku percaya”. Tetapi kata “aku” itu sebenarnya adalah Gereja. Ini berarti bahwa kita mengaku kepercayaan kita “bersama-sama dengan Gereja segala abad dan tempat”.
Gereja berdasarkan pada kesaksian para rasul. Apakah kesaksian para rasul itu? Para rasul telah melihat dan bertemu dengan Yesus orang Nazaret, lalu percaya kepada-Nya. Mereka telah melihat dan bertemu dengan Yesus yang disalibkan dan bangkit pula, lalu mereka yakin serta mengaku Yesus orang Nazaret ini adalah Mesias atau Kristus itu! Dialah Nabi yang sesungguhnya. Ia memberitakan kebenaran yang dari Allah, bakan Ia sendirilah Kebenaran itu (Yoh. 14:6). Dialah Iman yang sebenarnya: Ia memperdamaikan umat manusia dengan Allah (2 Kor 5:18; Ef. 2:14-18). Dialah Raja, yang kerajaan-Nya tak akan binasa (Mat. 28:18; Flp 2:9-11).
Gereja Kristen berdasarkan pada iman dan kesaksian para rasul, bahwa Yesus itulah Kristus. Demikianlah pengakuan iman yang paling tua dan paling pendek: Yesus itulah Kristus! Pengakuan itu kemudian diperluas dan terjadilah misalnya Pengakuan Iman Rasuli yang terdiri dari tiga bagian, yaitu: mengenal Allah Bapa dan pekerjaan-Nya, mengenai Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya, mengenai Roh Kudus dan pekerjaan-Nya. Dengan demikian, bila kita mengikarkan Pengakuan Iman Rasuli, berarti kita mengakui dan mempercayai sepenuhnya kemutlakan dan kemahakuasaan, kedaulatan, dan keesaan harkat Allah. Pengakuan dan kepercayaan akan Allah yang Esa, adalah pengakuan dan kepercayaan kepada Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Kita mengakui keberadaan Allah dalam hubungan-Nya dengan manusia dan khususnya dengan keselamatan manusia. Pengakuan ini sesuai dengan Alkitab di mana Allah Yang Esa menyatakan diri sebagai tiga Oknum. Namun demikian hanya ada satu Allah. Dan orang Kristen tidak percaya bahwa ada tiga Allah (lih. Ul. 6:3; Yoh. 10:30; Yak. 2;19).
Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
Mengikrarkan pengakuan iman rasuli dalam suatu kebaktian gerejani tidaklah semata-mata mengakuinya sebagai asas kepercayaan kita, tetapi juga menyatakan sikap kita terhadap Tuhan bahwa kita bersedia hidup dalam persekutuan dengan Tuhan dengan menaruh kepercayaan sepenuh-penuhnya kepada Dia. Jadi, iman itu lebih dari pada mengakui adanya Tuhan, menjadi orang yang beragama atau beribadat, menyetujui sejumlah kebenaran tentang ketuhanan, memenuhi berbagai-bagai syarat agama, menjalankan hidup yang baik atau menjadi orang jujur. Bahkan, iman itu lebih daripada menghormati Alkitab. Boleh jadi seseorang berpendapat bahwa semuanya telah terjadi dan akan terjadi tepat sebagaimana di dalam Alkitab. Tetapi pendirian itupun tidak menjamin adanya iman yang hidup! Mengapa tidak? Karena kita tidak percaya kepada sesuatu, melainkan kepada Seorang, yakni Yesus Kristus, dan karena itu kepada Allah yang hidup. Ini berarti bahwa iman kita harus menjadi nyata dalam hidup kita sehari-hari. Harus ada bukti-bukti, bahwa kita hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, bahwa kita taat kepada-Nya, menanyakan kehendak-Nya, menjadi saksi-saksi-Nya, berpegang kepada janji-Nya, mempercayakan diri kita sepenuh-penuhnya kepada-Nya, baik pada kehidupan masa kini maupun pada masa yang akan datang.
Namun, Allah menentang sikap hidup kita sehari-hari yang bertolak belakang dengan iman kita kepada-Nya. Allah tidak membenarkan sikap hidup yang mendua atau munafik dalam diri orang yang mengaku percaya kepada-Nya. Bahkan, Allah telah menyatakan dengan tegas melalui hamba-hamba-Nya dan memberikan perintah dan ketetapan-Nya untuk menjadi pedoman bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya dalam menjalani hidup dan kehidupan di dalam dunia ini. Setiap orang yang tidak hidup seturut dengan kepercayaanan kepada Allah dan tidak mengindahkan segala perintah dan ketetapan Allah, maka Allah akan menghukum orang itu.
Nabi Ezra, yang bertugas di tengah-tengah umat Israel di Yerusalem, baik yang tidak terbuang ke Babel maupun yang telah kembali dari pembuangan Babel, menyuarakan agar umat tersebut tidak terpuruk dan frustrasi dengan situasi dan keadaan yang mereka alami, tetapi menjadikan segala pengalaman mereka menjadi suatu kekuatan untuk bangkit memulai kehidupan yang baru dalam iman dan ketaatan kepada Allah. Tuhan Allah tidak meninggalkan mereka. Dalam keadaan mereka yang sangat memprihatinkan itu, Allah tetap memperhatikan dan menolong mereka melalui para penguasa untuk membantu memperbaiki Bait Suci yang telah hancur dan membangun kembali kota Yerusalem yang telah porak poranda (lih. Ezra 3-7). Oleh karena kasih setia, kebaikan, dan kemurahan Allah atas umat-Nya, seyogianyalah umat tersebut menunjukkkan perilaku dan tingkah laku sehari-hari yang sesuai dengan perintah dan kehendak Allah. Namun, hal itu tidak diperlihatkan oleh umat Israel.
Tindakan Ezra berdoa, dan mengaku dosa, sambil menangis dengan bersujud di depan rumah Allah (10:1), dikarenakan berita yang diterimanya mengenai perilaku dan tingkah laku orang-orang Israel awam, para imam dan orang-orang Lewi yang tidak memisahkan diri dari penduduk negeri dengan segala kekejiannya. Mereka telah mengambil isteri dari antara anak perempuan penduduk negeri itu untuk diri mereka sendiri dan untuk anak-anak mereka, sehingga bercampurlah benih yang kudus dengan penduduk negeri, bahkan para pemuka dan penguasa yang lebih dahulu melakukan perbuatan tidak setia itu (9:1-2). Ketika mendengar berita itu, Ezra mengoyakkan pakaiannya dan jubahnya dan mencabut rambut kepalanya dan janggutnya dan duduk tertegun. Biasa kita bayangkan bagaimana sakitnya Ezra menyiksa dirinya sendiri karena perbuatan tidak setia dari orang-orang buangan itu.
Sikap dan doa Ezra kepada Allah yang menyatakan betapa kasih karunia Allah nyata dalam hidup mereka tetapi tidak direspons dengan baik oleh sebagian umat Israel ketika itu (Esra 9:8-15), telah menggugah hati jemaah orang Israel yang sangat besar jumlahnya untuk berkumpul di rumah Allah untuk mengakui segala perbuatan mereka yang tidak setia kepada Allah, yakni telah memperisteri perempuan asing dari antara penduduk negeri. Pengakuan mereka atas perbuatan yang tidak setia kepada Allah dibuktikan dengan berjanji bahwa mereka akan mengusir semua perempuan asing dengan anak-anak yang dilahirkan mereka. Pengakuan mereka atas perbuatan yang tidak setia kepada Allah, juga sekaligus memperbaharui iman dan perjanjian mereka kepada Allah bahwa akan bertindak (berperilaku dan bertingkah laku) sesuai dengan hukum Taurat. Mereka juga bersumpah akan berbuat menurut perkataan yang mereka sumpahkan itu!
Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
Sama seperti umat Israel yang baru kembali dari buangan yang tidak mengindahkan perintah dan ketetapan Allah untuk hidup kudus dan setia di hadapan Allah, demikian juga banyak hal (rayuan dan godaan) yang menantang kita untuk tidak menjaga kekudusan dan kesetiaan kita kepada Allah dalam perilaku dan tingkah laku kita sehari-hari. Dunia yang kita tempati, dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sadar atau tidak sadar telah membawa kita kepada perilaku dan tingkah laku yang tidak seturut dengan perintah dan ketetapan Allah. Di tengah-tengah situasi dan kondisi demikian, kita hendaknya tetap waspada dan berjaga-jaga dalam menghadapi setiap rayuan dan godaan itu. Iman kita kepada Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, tidak dapat dipisahkan dari seluruh perilaku dan tingkah laku kita sehari-hari. Oleh karena itu, tidak ada kata komfromi atau tawar-menawar dengan segala nilai-nilai dan norma-norma yang ditampilkan di dalam dunia ini. Iman kita kepada Allah Tritunggal membawa kita kepada sikap yang benar dan tepat dalam menilai dan membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, yang tidak sesuai dengan perintah dan ketetapan Allah.
Sebagaimana nabi Ezra mengingatkan umat Israel pada masa itu agar mereka memperlihatkan kesetiaan dan kekudusan mereka dengan meninggalkan perbuatan tidak setia terhadap Allah oleh karena belas kasihan Allah atas mereka, demikian juga kita, hendaknya tetap mengingat belas kasih dan kemurahan Allah atas hidup masing-masing, agar kita tidak menyimpang dari perintah dan ketetapan Allah, tetapi kita tetap berusaha menunjukkan hidup yang kudus, benar dan tidak bercacat di hadapan Allah. Dan di sinilah letaknya bahwa karena Tuhan Allah telah menganurahkan kita iman (kepercayaan) kepada-Nya, maka jawaban kita adalah senantiasa hidup sesuai dengan kasih karunia-Nya: hidup dalam perintah dan ketetapan-Nya, mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita, dan melakukan segala kehendak-Nya atas hidup kita. Maukah Saudara taat dan setia kepada Allah? Tuhan memberkati kita. Amin.

(Penulis adalah Pdt. Elisa Tambunan, M.Th., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Juli 2010)

Tidak ada komentar: