Rabu, 04 Agustus 2010

RENUNGAN: PERSEMBAHAN SEORANG JANDA (MARKUS 12:14-44)

I. Pengantar
Apakah persembahan itu? Teori asal mula persembahan tidak terbatas hanya pada bangsa Israel diantara bangsa-bangsa purba. Zaman bapak-bapak leluhur ada beberapa jenis korban persembahan, antara lain:
1. Minkha: Korban sajian (Kej 4 : 3-4)
2. ‘Ola: Korban bakaran (Kej 8 : 20)
3. Zevakhim : Korban Sembelihan. "Zevakh" makanan persekutuan berupa daging korban persembahan memateraikan perjanjian (Kej 31 : 54)
Tuhan Yesus tidak mempermasalahkan nama dan bentuk persembahan yang dibawa orang-orang kedalam Bait Allah Tetapi Ia memperhatikan jauh ke dalam lubuk hati orang yang membawa persembahan itu Yesus melihat ketulusan dan kerendahan hati janda miskin yang membawa persembahan kedalam rumah Tuhan. Dorongan-dorongan yang mempengaruhi pemberi itulah yang menentukan nilai persembahan tersebut (II Korintus 8 : 12), bukan berat ringannya "nilai mata uang" yang diberikan.

II. Keterangan
A. Bagaimanakah pandangan Alkitab terhadap janda ?
Secara umum para janda berada pada posisi orang-orang lemah yang patut di lindungi Dalam PL ada beberapa hal penting yang menyinggung tentang kepedulian terhadap janda,yaitu :
1. Disejajarkan dengan orang-orang yang tidak mampu (Kel 22 : 22)
2. Layak mendapat perlindungan (Ulangan 10 : 18) dan penghiburan (Ayub 29 : 13)
3. Allah adalah pelindung dan pembela para janda (Maz 68 : 6 ; Amsal 15 : 25)
Dalam PB dapat kita lihat seperti dibawah ini :
1. Para janda tidak bisa diabaikan (Kis 6 : 1)
2. Para janda harus dihormati dan layak mendapat kunjungan (I Timotius 5:3; Yak 1 : 27)
3. Janda itu sendiri wajib menjaga kehormatan dan kekudusan dirinya (I Tim 5 : 14 )
Tuhan Yesus sendiri menegor orang-orang munafik dan tindakan yang tak terpuji dari orang Farisi karena menelan rumah janda-janda, dengan berpakaian kehormatan mereka mengambil keuntungan dari kelemahan para janda dan tidak mampu memberikan perlindungan (Mark 12 : 40). Mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang tetapi hatinya jahat. Yesus mengangkat topik "janda miskin yang tulus hati” datang kerumah Tuhan membawa persembahan. Dalam penglihatan Yesus "janda" itu sendirian saja mempersembahkan seluruh miliknya kepada Allah Dia yakin akan campur tangan Allah yang terus menerus memelihara hidupnya. Allah yang diyakininya mampu memberikan perlindungan kepadanya Janda itu tidak menjadikan "kemiskinannya” menjadi alasan untuk menghentikan langkahnya datang ke rumah Tuhan membawa persembahan. Menurut pengamatan Yesus persembahan sebesar 2 peser (Yun : Lepta, mata uang tembaga yang paling kecil nilainya), jauh lebih berharga dari pada semua uang yang dimasukkan kedalam peti persembahan.

B. Apakah yang sepatutnya diperoleh seorang janda dari masyarakat di sekitamya ?
Seorang janda dalam lingkungan masyarakat dimana dia tinggal, tidak selamanya dikategorikan miskin, sebab adakalanya penghasilan seorang janda karena ketrampilan yang dimiliki menjadikan kehidupannya lebih sejahtera dari keluarga yang masih utuh (suami-isteri yang masih lengkap). Justru para janda yang sudah lama ditinggal suami banyak diantara mereka mengalami pertolongan Tuhan yang luar biasa karena keteguhan hatinya yang selalu berserah kepada Tuhan (Gumodang do pasu-pasu ni Debata tu Ina namabalu, ai Jahowa do na gabe Ama di nasida, sumarihon huhut mangondihon ngoluna dohot keluargana). Demikian juga janda yang ditinggal suami dalam keadaan terhitung mampu, namun demikian para janda wajib dilindungi. Kesejahteraan hidup seorang janda tidak hanya dilihat dari kepemilikan barang-barang dunia (wujud bendawi) saja, sebab dengan memiliki semuanya itu bukan berarti seorang janda bebas dari ancaman kejahatan dan penderitaan, Paulus menyarankan para janda “yang benar-benar" (janda yang tidak punya sanak saudara) harus giat dan mantap dalam kewajiban-kewajiban gereja, wajib diberi tugas khusus dan menjadi tanggung jawab gereja. Daftar janda harus dibuat, yang didaftarkan hanya mereka yang berusia 60 tahun dan telah terbukti bekerja dengan baik, misalnya : mengasuh anak, bersedia memberi tumpangan dan menolong saudara seiman yang kesusahan (1 Tim. 5:9- 10). Secara garis besarnya kita sudah melihat penderitaan para janda yang hidup miskin maupun yang tergolong dalam kategori keluarga mampu, namun demikian penderitaan yang mereka alami tetap saja ada, untuk itu disarankan dari pihak gereja dan masyarakat setempat harus memberikan simpati dan perlindungan. Beberapa alasan ini sangat mendukung seorang janda miskin tidak wajib membawa persembahan kerumah Tuhan sebab mereka adalah tanggungan Gereja. Tetapi ketulusan seorang janda miskin yang membawa persembahan senilai “dua peser" mendapat nilai tertinggi dimata Tuhan Yesus dibandingkan dengan semua persembahan yang ada dalam tempat persembahan dirumah Tuhan.

III. Penutup
Bagaimanakah Yesus dapat tahu akan banyaknya persembahan janda itu, dapat dikatakan bahwa mungkin la mengetahui dengan alat-alat yang biasa saja, hal itu tidak dikatakan. Bagi kita orang percaya, kita meyakini bahwa Yesus adalah Anak Allah, kita meyakini bahwa la mampu melihat jauh kedalam lubuk hati kita dan setiap orang yang percaya kepada-Nya, yang datang membawa persembahan kerumah Tuhan. Bagi Yesus bukan besar kecilnya nilai uang yang dipersembahkan tetapi dorongan-dorongan yang menyentuh hatinya untuk menyerahkan persembahan yang tulus kepada Tuhan.
Hakekat dari segala persembahan yang sebenarnya adalah pengorbanan, dan nilai tiap persembahan adalah relatip, tidak mutlak. Namun demikian setiap orang wajib memberikan persembahan yang menyenangkan hati Tuhan dan harum dihadapan-Nya. Jika janda miskin mampu memberikan dua peser dengan hati yang tulus, bagaimanakah seorang warga gereja yang baik memberikan persembahan?

(Penulis adalah Pdt. KE Limbong, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Agustus 2005)

Senin, 02 Agustus 2010

ARTIKEL: DICARI KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI

"Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa. ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya " (Yesus Kristus, Markus 10:43-44).

"Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan Firman Allah kepadamu. Perhatianlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka" (Penulis surat Ibrani, 13:7).

"Leaders are made, they 're made right at home " (Andar Ismail)

Kutipan di atas memperlihatkan kepada kita bahwa pembahasan mengenai kepernimpinan sudah berumur panjang dan berbagai penjelasan mengenai hal itu sudah banyak dilakukan dari dahulu hingga kini, sebab pemahaman dan praktik yang benar mengenai kepemimpinan tersebut sangat berpengaruh dan dibutuhkan dalam kehidupan manusia itu sendiri. Tentulah ada banyak pemimpin yang kita ketahui dan temui dalam kehidupan sehari-hari, baik pemimpin formal maupun pemimpin informal, pemimpin sekuler maupun pemimpin rohani atau agama. Namun yang kurang di negara kita bukanlah pemimpin, melainkan orang yang berkualitas memimpin dan yang menjalankan peran kepemimpinan dengan baik. Dengan demikian tampaklah secara, jelas bahwa terdapat perbedaan hakiki antara pemimpin dan kepemimpinan. Seorang pemimpin belum tentu berjiwa kepemimpinan dan belum tentu menjalankan peran kepemimpinan. Sebaliknya seorang yang berkualitas memimpin dan yang menyumbangkan peran kepemimpinannya belum tentu dan tidak harus berjabatan pemimpin.
Sepanjang sejarah manusia dan sepanjang sejarah umat Kristen (sepanjang sejarah gereja) Tuhan selalu memakai berbagai pemimpin umat yang dijadikan atau diajak bekerjasama oleh Tuhan dalam karya penyelamatan umat manusia, untuk menjadi pemimpin-pemimpin umat Tuhan. Namun demikian kita juga melihat bahwa para pemimpin itu tidak selamanya mampu memimpin dan setia kepada Tuhan. Banyak diantara mereka yang menyeleweng, menyimpang dari kehendak Tuhan sehingga membawa kehancuran dan kesengsaraan kepada umat Tuhan yang dipimpinnya. Dalam keadaan demikian diperlukan pemimpin-pemimpin baru yang dapat mengembalikan kebenaran dan keadilan dalam masyarakat. Pemimpin yang baru itu juga harus membebaskan rakyat dari kemiskinan, ketertindasan dan kesengsaraan mereka dengan jalan kembali kepada hukum dan perintah Tuhan, untuk mengembalikan kesejahteraan umat Tuhan.
Namun realitas keseharian kita acapkali menyaksikan kecenderungan seorang pemimpin untuk mempertahankan kekuasaannya demi kepentingannya sendiri. Orang mati-matian dan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan atau melanggengkan kekuasaan, bahkan kalau perlu dengan memakai strategi katak (menjilat ke atas, menekan ke bawah). Secara singkat dapat dikatakan, para pemimpin cenderung untuk memperpanjang masa kekuasaannya, Tak heran dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah langsung (Pikadasung) pada bulan Juni - Juli 2005 yang lalu, latar belakang calon kepala daerah memang didominasi oleh mantan kepala daerah yang pernah memimpin di periode sebelumnya. Dari 125 daerah yang dipantau, sekitar 86 % atau 107 calon berlatar belakang mantan kepala daerah setempat, Bagaimana hasilnya? Ketika Pilkada usai digeiar, hasilnya pun sesuai dugaan semula. Dari 107 calon yang mengikuti pertarungan, sebanyak 48 mantan bupati/walikota (45 %) akhimya berhasil menang. Mereka tersebar baik di kabupaten atau kota di Jawa maupun luar Jawa (lihat Harian KOMPAS, edisi Kamis, 11 Agustus 2005, hlm. 5). Data tersebut dapat mengindikasikan salah satu kecenderungan para pemimpin (baca: para penguasa) untuk mempertahankan tampuk kekuasaannya. Selain itu, di mana-mana orang ingin menambah muatan kekuasaannya, jabatan rangkap di sana-sini, misalnya. Semuanya bemuara pada tindakan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang semakin menggurita dan akhirnya membudaya.
Oleh karena itu siapa pun yang yang menjadi pemimpin, godaannya adalah sama. Menjadi pemimpin bukan hanya berarti menjalankan peran kepemimpinan, melainkan menjalankan kekuasaan. Itulah godaannya. Sebagai anggota kelompok yang memerankan peran kepemimpinan ia sibuk dengan kontribusi group viability dan goal achievement, tetapi ketika ia sudah menjadi pemimpin ia menjadi sibuk dengan mengumpulkan kekuasaan, melanggengkan kekuasaan bahkan menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi atau koalisi kelompoknya. Kenyataan ini akan menjadi sangat jauh berbeda bila diperbandingkan dengan model kepemimpinan yang diteladankan oleh Kristus.

Kristus Sebagai Acuan Kepemimpinan
Sekitar 20 sampai 30 tahun seusai hidup dan karya Kristus di bumi, dalam surat-surat Rasul Paulus dalam Perjanjian Baru banyak mengacu kepada Kristus sebagai teladan kepemimpinan Paulus menyebut bahwa Kristus berkedudukan dan berkekuasaan "dalam rupa Allah" (Filipi 2:6). Lalu Paulus bersaksi tentang apa yang diperbuat oleh Kristus dengan kedudukan dan kekuasaanNya itu, yaitu:"... walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba ... merendahkan diriNya dan taat" (Filipi 2 : 6 - 8). Di sini Paulus menekankan tentang kualitas kepemimpinan Kristus, yakni: Tidak mempertahankan kekuasaan yang dimilikiNya melainkan mengambil jalan mengosongkan diri (Yunani : kenosis) dari kekuasaan. Inilah model kepemimpinan Kristus yang unik. Namun sejauh mana model kepemimpinan Kristus ini diimplementasikan dalam gerak kehidupan sehari-harinya? Di sinilah akan tampak jurang besar diantara keduanya.

Kepemimpinan Kristiani: Melayani dan Menperbarui
Dapat dikatakan bahwa kepemimpinan yang sesuai dengan jiwa kristiani yang mampu membawa pembaruan haruslah pertama-tama mempunyai dan memberlakukan prinsip kepemimpinan sebagai "pelayanan", sebagai wujud pengosongan din dari kekuasaan semena-mena: sebagimana yang diajarkan oleh Tuban Yesus Kristus: "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani..." (Markus ]0:45). Hal ini merupakan conditio sine qua non bagi pemimpin Kristen sepanjang masa. Artinya ini merupakan suatu keharusan mutlak, tidak boleh tidak, tidak boleh ditawar-tawar lagi. Karena "kepemimpinan Kristiani" yang "melayani dan membawa pembaruan" itulah yang kita perlukan. Lalu bagaimanakah ciri- ciri atau tanda-tanda dari kepemimpinan yang melayani dan membawa pembaruan itu?
Perlu dicatat bahwa kepemimpinan yang melayani sebagaimana yang dicontohkan oleh Tuhan Yesus bukan berarti bahwa pemimpin itu harus menjadi pelayan. Ini suatu kekeliruan dalam menafsirkan ajaran Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sebagai pemimpin tidak bertindak sebagai peiayan; namun mementingkan atau mendahulukan kepentingan orang-orang yang dipimpinNya, bukan kepentinganNya sendiri. la mementingkan misiNya dan berani mengambil risiko yang terkait dengan misi atau tugasNya itu. Hal inilah yang perlu dan seharusnya kita teladani. Seringkali - atau terlampau sering ? - seorang pemimpin hanya mau yang enaknya saja, tanpa mau menempuh risiko dan tidak berani menanggung risiko. Bahkan segala daya upayanya dikerahkan untuk menghindar dari risiko pekerjaannya walaupun risiko tersebut sudah menjadi tanggung jawabnya. Pada akhirya risiko itu dialihkan kepada pihak-pihak yang dijadikan sebagai 'kambing hitam”, mempraktekkan ilmu selamat demi menyelamatkan dirinya sendiri. Bagaimana dengan para pemimpin gereja-gereja kita ? Apakah para pemimpin gereja berani mengambil risiko dari misinya, untuk menyuarakan suara nabiahnya di tengah-tengah pergumulan bangsa dan negara ini ? Untuk berani mengambil risiko tentulah diperlukan kepribadian yang kuat dan keyakinan yang tangguh, percaya serta iman yang tak tergoyahkan. Dengan demikian setiap pemimpin gereja - di atas nasional maupun lokal - mampu mengejawantahkan identitas kekristenan sebagai garam dan terang dunia (Matius 5:13-14) sebagai kontribusinya dalam pembaruan bangsa dan negara yang kita cintai ini.
Kepemimpinan yang melayani juga berarti "memampukan dan memberdayakan" orang-orang yang dipimpin; bukan sebaliknya menekan, merendahkan dan meremehkan yang dipimpinnya. Orang yang dipimpin juga perlu diberdayakan (bukan diperdayakan) dengan seefektif mungkin sesuai dengan job description yang telah disepakati bersama dan mengadakan pendelegasian tugas sesuai dengan posisi dan fungsinya masing-masing. Jika hal ini dapat berlaku efektif tentunya akan mendukung integritas kepemimpinan si pemimpin itu sendiri. Dalam kaitan ini ada baiknya kita melihat tiga prinsip yang dirumuskan oleh Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan nasional kita. Prinsip tersebut: "Ing ngarsah sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Pemimpin berada di depan untuk memberi suri teladan, ditengah untuk menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, di belakang untuk memberi kekuatan (dunamis) atau memberdayakan (empowering) mereka yang dipimpinnya. Tuhan Yesus sebenarnya telah terlebih dahulu mempraktikkan apa yang dirumuskan Ki Hadjar Dewantara itu.
Kepempinan kristiani yang efektif setidak-tidaknya - atau sedapat-dapatnya - haruslah melaksanakan prinsip-prinsip ssbagaimana yang telah diuraikan di atas. Jadi jelaslah bahwa untuk menjadi pemimpin yang efektif tidak mesti selalu berada (menempatkan diri) di depan atau harus selalu "leading" dan berlagak menjadi seorang “big boss”. Tetapi yang lebih penting dari itu adalah perlu juga memberikan kesejukan dan rasa aman pada mereka yang dipimpin, karena mereka tahu ada 'backing' di belakangnya. Jadi, pemimpin yang melayani juga haruslah menjadi contoh, menjadi teladan dalam sikap dan perilaku, jujur dan konsisten dalam kata dan perbuatan, satunya kata dan perbuatan, bukannya berkata "begini" tetapi tindakannya "begitu". Selain itu, pemimpin yang melayani harus mampu juga "mangun karsa" pada mereka yang dipimpin atau menumbuhkan imajinasi dan kreativitas mereka yang dipimpinnya; bukan sebaliknya menekan. meremehkan atau mematikan ide-ide dan kreativitas dari yang dipimpinnya.
Jadi, seorang pemimpin efektif yang melayani (pemimpin kristiani) sudah semestinya mempunyai rasa percaya diri (self- confidence) yang kuat sehingga tidak takut disaingi atau kalah bersaing dari mereka yang dipimpinnya. Tidak takut tergeser kedudukannya oleh mereka yang dipimpinnya, bekas bawahan atau bekas muridnya. Bahkan sebagai pemimpin kristiani yang baik, bisa menjadi seperti Yohanes Pembaptis yang bersaksi tentang Tuhan Yesus: "la harus makin besar tetapi aku harus makin kecil (Yohanes 3:30). Sebagai pemimpin kristiani orang harus berani dan mampu "work oneself out of the job", untuk digantikan oleh mereka yang lebih baik atau oleh generasi berikutnya yang telah dipersiapkannya. Pemimpin diperlukan bukan hanya untuk satu masa atau periode tertentu saja, oleh sebab itu regenerasi atau kaderisasi kepemimpinan perlu dipersiapkan secara matang sehingga peralihan tongkat estafet kepemimpinan dapat berjalan mulus dan efektif.
Kita betul-betul mengharapkan munculnya para pemimpin yang dapat membawa pembaruan di tengah-tengah gereja maupun di dalam masyarakat luas - seperti yang kita harapkan dan cita-citakan. Pemimpin-pemimpin seperti itu mesti dipersiapkan dan mempersiapkan diri dengan cukup melalui banyaknya pembelajaran dan pengalaman. Oleh karena itu sangat penting bagi gereja-gereja untuk memperhatikan lembaga pendidikan dan pembinaan calon-calon pengerjanya, lembaga pendidikan teologi agar betul-betul dapat mempersiapkan tenaga gereja secara tepat guna. Demikian juga upaya Pembinaan Warga Gereja (PWG) agar terus diintensifkan pelaksanaanya untuk membentuk warga jemaat yang tangguh menghadapi berbagai tantangan perubahan zaman. Selain itu, pendidikan umum dari aras paling rendah sampai ke aras paling tinggi perlu sekali mendapat perhatian agar dapat melaksanakan pendidikan dengan baik, efektif dan efisien. Kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat harus didukung dan dianjurkan sedini mungkin dalam pendidikan, setiap inovasi dan kreativitas haruslah dihargai, Dengan demikian integritas pribadi dapat dipupuk dan ditumbuh kembangkan; tidak hanya berkutat pada upaya menghadapi gonta-ganti kurikulum pendidikan nasional semata.
Oleh karena itu amat penting bagi calon-calon pemimpin gereja dan masyarakat di masa depan untuk mempersiapkan diri, melatih dan menggembleng diri untuk menjadi pemimpin-pemimpin profesional mandiri yang berorientasi pelayanan, Konteks dan situasi kita sekarang ini dan di masa depan mengharuskan gereja-gereja dan angkatan muda kristiani (termasuk Remaja dan N-HKBP di dalamnya tentunya) untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) sebaik dan sedini mungkin supaya nantinya dapat membawa pembaruan di tengah-tengah kehidupan gereja, masyarakat bangsa dan negara kita di masa depan. Kita sebenamya perlu lebih sistematik, terencana serta terkoordinir - secara nasional maupun Iokal - dalam mempersiapkan SDM kita bagi kepemimpinan kristiani yang melayani dan membawa pembaruan ke masa depan yang lebih baik. Itulah tujuan kita bersama.

(Penulis adalah Pdt. Herwin Simarmata, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi September 2005)