Sabtu, 30 Januari 2010

ARTIKEL: STRATEGI KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF

PENDAHULUAN
Belajarlah dari semut kata seorang pengkhotbah pada suatu kebaktian Minggu. Tetapi khusus untuk judul tulisan ini menurut penulis perlu juga ada contoh lain yaitu belajarlah dari si Tikko. Si Tikko adalah kerbau betina besar dan gagah dan diberi nama si Tikko karena tanduknya besar dan ujungnya tajam dan bentuknya setengah bundar (Tikko=bulat). Dia adalah semacam panglima perang untuk rombongan kerbau sebanyak 20 ekor milik Ja kampung di Hutaraja zaman baheula. Kalau saat kawanan kerbau ini dimanfaatkan untuk mangalonca sawah (melunakan sawah menjadi gembur) maka si Tikko selalu didepan dan rombongannya akan patuh mengikuti dari belakang. Jadi kita yang mengiringi rombongan ini tidak perlu berlelah untuk mencambuknya cukup hanya dengan komando ompung Ja kampung pasti beres. Saat mereka mau pulang kandang saat gerimis dan sudah sore seekor haimau besar menghadang rombongan dari semak belukar, dalam sekejap sesuai komando si Tikko mereka langsung membentuk lingkaran model bulatan jam dengan anak-anak dibelakang ekor masing-masing termasuk ompung ja kampung. Dengan mencari model kerbau yang dianggap lemah harimau berkeliling, tetapi Si Tikko sudah siap disana membantu dan melihat harimau bertindak begitu juga Si Tikko langsung menyerang harimau tersebut dan saking takutnya harimau itu meloncat kesemak semak dilembah. Tikko merupakan pemimpin yang kuat, tegas dan bijaksana bisa menyusun pertahanan dengan mengatur kerbau-kerbau yang kuat dan diselingi yang lemah kalau ada yang tidak mau diatur maka langsung ditanduk. Juga dia memberi contoh dengan berjalan dimuka sebagai komandan barisan. Kalau Anda sedang meginap di Hotel Tor Sibohi di Hutaraja apabila anda duduk diteras hotel anda memandang kearah timur maka anda akan melihat kandangnya Si Tikko di pinggang gunung Tor Simago mago. Selanjutnya sebagai seorang Pemimpin untuk mencapai suatu hasil kerja yang maksimal maka dia harus mempunyai strategi suatu kepemimpinan yang efektif seperti dibawah ini.

I. PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA (SDM)
Pengembangan SDM yang ada dari SDM yang tradisional ke SDM yang dinamis yang dapat berkembang dimaksudkan untuk meningkatkan prestasi kerja seseorang sesuai dengan potensi-potensi yang dimiliki dan pada periode tertentu diadakan penilaian untuk mengetahui sejauh mana hasil penerapan dilaksanakan sesuai harapan (Appraisal). Bilamana anda ingin merencanakan sesuatu untuk satu tahun kemuka, sebarlah benih. Bila anda ingin merencanakan untuk sepuluh tahun, tanamlah pohon, dan apabila Anda ingin merencanakan sesuatu untuk seumur hidup, kembangkanlah manusia begitulah apa yang dikatakan oleh filosof Cina kuno: Quan Ziguan. Jadi dapat kita lihat bahwa pentingnya pengembagan Sumber Daya Manusia itu sudah ada sejak zaman dahulu Prestasi kerja yang berhasil dicapai suatu perusahaan tidak terlepas dari prestasi kerja manusia. Kesempurnaan karenanya dapat dicapai dengan pelatihan dan pegembangan Sumber Daya Manusia yang terus menerus secara berkesinambungan. Pelatihan dan pengembangan dapat membantu meningkatkan efekifitas organisasi melalui peningkatan efektifitas individu. Selanjutnya ini karena meyangkut peningkatan prestasi kerja pegawai saat ini dan peningkatan kemampuan potensial yang mereka miliki sejalan dengan pertumbuhan organisasi dan bertambahnya permintaan akan kemampuan pegawai pegawainya. Untuk mengkelola dan mengembangkan Sumber Daya Manusia secara efektif, kebutuhan akan pelatihan dan pengembangan hendaknya diidentifikasi dan dipenuhi secara efektif dan sistematis yang luas. Penilaian atas karya merupakan dasar dari proses ini, kecuali apabila prestasi kerja saat ini dimulai kurang berdasarkan kriteria-kriteria tertentu maka kelemahan-kelemahan dalam berprestasi yang tidak sesuai dengan harapan (target) perlu dikaji ulang, sebagai contoh : Perusahaan penerbangan SIA dengan kode SQ dari negeri pulau kecil Singapura. SIA adalah perusahaan penerbangan nomor satu didunia dengan pesawat-pesawat yang banyak menjelajah udara seluruh dunia, juga pesawat-pesawat model terbaru yang tidak dapat menerbangi antar negerinya sendiri tetapi dapat menerbangi udara hampir seantero dunia. Kalaupun ada penerbang regular kekutub utara dan kutub selatan maka merekalah (SIA) yang paling pertama mendaftar. Bagaimana perusahaan tersebut bisa semaju itu? Jawabnya ialah: setiap pegawai SIA baik pegawai yang paling rendah sampai kepada puncak pimpinan harus mengikuti pelatihan dan pengembangan dirinya sekali setahun tanpa kecuali. Dan harus dilaksanakan apakah itu didalam maupun diluar negeri.Tidak tanggung-tanggung biaya pelatihan dan pengembangan dicadangkan 10 % dari anggaran rutin perusahaan dan diawasi dengan sangat ketat. Jadilah mereka no 1 didunia padahal dinegaranya sendiri hanya satu saja bandaranya (untuk sipil maksudnya) dimana kalau seorang ingin terbang dengan pesawat komersil didalam negerinya sampai kiamat pun tidak akan terlaksana, lebih bagus dia bermimpi akan terbang dengan pesawat komersil ke Antartika kalau umurnya panjang. Untuk mencapai hasil tersebut diatas dipergunakan beberapa hal:
1. Mengadakan pendekatan dengan cara yang paling efektip. Pengalaman-pengalaman praktek dan penilaian empiris menurut De Vries 1981 menyatakan bahwa system penilaian prestasi kerja yang paling efektip didasari oleh:
a. Tuas atau objektip yang ditentukan terlebih dahulu.
b. Penilaian atas hasil yang dicapai.
c. Pemeriksaan atas perbedaan-perbedaan yang terjadi.
d.Tindakan atas perbedaan-perbedaan itu.
Pemindahan dapat berupa pelatihan dan pengembangan untuk memperbaiki kekeliruan-kekeliruan. Juga bisa diadakan penyuluhan-penyuluhan atau pengarahan.
2. Mengadakan penilaian atas prestasi kerja (Appraisal). Penilaian atas prestasi kerja dapat memiliki satu atau lebih dari tiga kegunaan menurut Rande 1984 sbb:
a. Penilaian sering digunakan untuk menentukan imbalan sehingga upah atau bonus digerakkan menuju atau sesuai dengan prestasi kerja.
b. Penilaian prestasi kerja digunakan untuk meningkatkan prestasi saat ini terutama
dimana ada kelemahan-kelemahan.
c. Penilaian sering digunakan untuk dasar menilai potensi yaitu apa yang dapat dilakukan oleh seseorang apabila diberikan kesempatan untuk jabatan yang lebih tinggi.

II. MENJADI MOTIVATOR
Dapat memotivasi bawahannya untuk bekerja lebih baik sesuai dengan goal perusahaan (institusi) sbb:
Unsur manusia didalam management saat ini ada 4 teori yang popular dan sangat terkenal saat ini:
1. Douglas Mc. Gregor :Theory x dan Theory y.
2. Abraham Maslow :Hierarchy of needs.
3. Frederick Herzberg : Motivation Hygiene theory.
4. Black dan Mouton: The management grid.
Untuk itu mari kita lihat ke 4 theory ini dengan penjelasan sbb:
1. Theory x dan y.
a. Theory x adalah dikenal sebagai konsep management secara konvensional yang memanfaatkan tenaga manusia untuk kebutuhan-kebutuhan organisasi/perusahaan/institusi. Menurut theory ini pada umumnya manusia suka malas. Untuk itu dia harus dipaksa dan lebih suka untuk diatur dan menghendaki perlindungan dari segalanya.
b. Theory y.
Pengeluaran tenaga adalah wajar, mereka menurut theory ini mengatur dirinya untuk mencapai tujuan juga mereka belajar dibawah kondisi sebagaimana mestinya dan sanggup memecahkan masalah-masalah organisasi.
2. Hierarchy of Needs.
Teori ini menyatakan bahwa orang terpaksa harus puas mulai dari yang paling dasar meningkat kepada hal yang paling rumit juga berusaha untuk memenuhi kebutuhan yang paling bawah sampai kepada kebutuhan yang paling tinggi seperti kebutuhan fisiologis kebutuhan keamanan, kebutuhan akan rasa memilki/dimiliki, kebutuhan akan rasa penghargaan dan kebutuhan akan aktualisasi diri.
3. Theory Moivation- Higiene.
Theory ini mengklasifikasikan faktor pengisi pekerjaan sebaga pemberi kepuasan atau hal-hal memberi seseorang kepuasan. Faktor penggugat disebut sebagai pemberi ketidakpuasan. Dia menemukan bahwa lawan dari kepuasan dalam pekerjaan itu adalah bukan ketidakpuasan, sebagai penggantinya adalah tidak puas. Sebaiknya lawan dari ketidakpuasan itu adalah bukan tidak adanya ketidakpuasan meskipun hal itu berarti kepuasan. Karena sesuatu hal tidak menyebabkan ketidakpuasan bukan berarti mengikuti suatu hal tersebut mengakibatkan kepuasaan.
4. Theory The management Grid.
Menurut theory ini bahwa setiap manager memiliki sebuah gaya kepemimpinan yang dapat dilihat, yang maksud hal ini didasari oleh tingkat perhatiannya terhadap pekerjaan dan terhadap bawahannya yang menghasilkan suatu produk atau pelayananan. Pada salah satu ujung spektrum adala seorang manager yang hanya berminat terhadap pengeluaran hal dari pekerjaan sedangkan pada ujung yang lainnya adalah manager yang memanjakan bawahannya pada beban biaya, dapat mengalahkan pekerjaan.

III. DAPAT MENDELEGASIKAN WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB PEKERJAAN SESUAI JOB
Delegasi adalah penyelesaian suatu pekerjaan melalui orang lain. Tugas seorang pemimpin adalah memperhatikan bahwa seluruh usaha berjalan dengan baik dan lancar melalui usaha dari bawahannya, untuk itu ia harus mendelegasikan sebagian dari wewenang dan tanggung jawabnya kepada bawahannya sesuai dengan job masing masing. Walaupun penanggung jawab terakhir adalah top management. Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab ini memberikan keuntungan sbb:
1. Top pimpinan tidak harus dibebani lagi dengan aktifitas yang kecil karena sudah dibebankan pada setiap unit yang ada.
2. Bawahan akan berusaha bekerja lebih baik lagi karena sudah diberikan wewenang dan tanggung jawab penuh atas pekerjaan sesuai dengan job masing-masing dan jabatan yang ada (merasa di wongke).
3. Bawahan akan berusaha menambah ilmu dan pengetahuannya demi mempelancar tugas dan pekerjaan sehari hari.
4. Bawahan akan lebih hati-hati dan teliti lagi dalam melaksanakan tugas karena apabila terjadi keliruan maka dia sendiri akan mendapat hukuman.
Dengan demikian dalam pelaksanaan program kerja dan anggaran (goal yang akan dicapai perusahaan) bisa diawasi melalui pemimpin unit masing-masing. Pendelegasian tugas-tugas berat dan memperbesar tanggung jawab bawahan biasanya merupakan pendekatan yang berguna dalam pengembangan kepribadian. Sebenarnya tidak ada cara yang lebih baik untuk mengembangkan kepemimpinan selain memberikan tugas yang membutuhkan tanggung jawab dan membiarkan orang itu mengerjakannya sendiri, Survey atas 208 eksekutif dan pejabat senior oleh Charles Margerison menghasilkan laporan bahwa pengaruh-pengaruh terpenting dalam perjalanan karir mereka sebelum berusia 35 tahun. Adalah perluasan tugas dan wawasan oleh atasan langsung mereka dengan memberikan pengalaman kepemimpinan, tanggung jawab menyeluruh bagi tugas-tugas terpenting dan meminta pengalaman diberbagai bidang.

IV. DAPAT MELAKSANAKAN PENGAWASAN ATAS GOALS YANG ADA
Pimpinan dan bawahan yang ada bergabung untuk menyusun kesepakatan yang menyangkut goals (sasaran dari Institusi /organisasi yang ada). Sasaran yang mana secara terbuka didiskusikan dan disepakati pada kecenderungan yang lebih menuju titik temu dari pada sasaran yang tidak jelas. Hasil kesepakatan itu menjadi efektif untuk prestasi kerja.
1. Proses Pengawasan.
Pengawasan atas sasaran setiap unit yang telah disepakati prosesnya sbb:
1. Penetapan standard prestasi kerja atas sasaran yang ada.
2. Pengukuran prestasi kerja yang nyata.
3. Membandingkan kenyataan terhadap standard prestasi kerja.
4. Adanya penetapan variasi diantara batas hasil yang sudah dicapai yang masih bisa ditolelir dan variatif diluar batas yang masih bisa ditolelir.
5. Adanya pengambilan tindakan korektif sesuai dengan pengevaluasian ulang (review) mencangkup :
a) Apakah melebihi sasaran jauh diatas target yang ada dan mengapa demikian harus ditemukan fakor penyebabnya.
b) Sasaran mencapai seluruh target tetapi hanya berkisar target tersebut.
c) Sasaran tercapai hanya pada unit tertentu saja sedang unit lainnya tidak.
d) Semua unit tidak mencapai sasaran termasuk sasaran yang kritis.
Dari hasil pengawasan ini maka pada semester berikutnya perlu diadakan evaluasi atas sasaran dan hasi kerja untuk Revisi Program dan Anggaran berikutnya dengan menutup titik-titik lemah yang ada dan menggiatkan unit-unit yang ada untuk semester berikutnya.Dengan demikian revisi progam dan anggaran harus dilaksanakan.

V. TEGAS DALAM TINDAKAN DAN BIJAK ATAS KEPUTUSAN
Sebagai pemimpin masa kini dan masa yang akan datang seorang pemimpin agar mencamkan beberapa hal dibawah ini :
1. Kenali bahwa apa yang anda lakukan mungkin akan lebih penting artinya daripada apa yang anda katakan dalam peran pemimpin tersebut. Lakukanlah usah-usaha secara sadar untuk menggunakan sikap perilaku kepemimpinan yang efekif setiap saat.
2. Tekankan usaha-usaha persuasif dan pemberian saran-saran sebanyak mungkin. Gunakanlah cara paksaan (misalnya dengan ancaman ataupun pemberian sanksi) hanya apabila diperlukan saja untuk memastikan diperolehnya kerja saja dan dukungan yang amat penting untuk kemajuan kelompok.
3. Sambutlah kekuasaan atau kekuatan itu dan digunakan secara bijaksana dalam usaha pencapaian hasil organisasi yang positif dan bukan kearah penonjolan pibadi. Guna mencapai dan memelihara kemampuan untuk mempengaruhi arah tindakan itu cobalah pelihara berbagai sumber yang dapat memberikan kekuatan ataupun kekuasaan tersebut.
4. Kembangkanlah keterampilan komunikasi anda itu melalui pelajaran dan praktek. Orang-orang kompeten yang pendiam kemungkinan juga tidak akan dikenali. Oleh karena itu, cobalah agar kita peka terhadap peluang untuk mendemonstrasikan kemampuan-kemampuan persuasif anda tersebut.
5. Kenalilah batas-batas otorita formal anda dan juga ketergantungan anda akan anak buah (dan rekan sejawat) dalam hal pemberian dukungan. Bangunlah hubungan pasif yang saling menguntungkan. tekankanlah usaha-usaha persuasif dalam membangun pengaruh.
6. Kenalilah bahwa memimpin itu bukan merupakan sesuatu hal yang statis, ataupun fenomena satu arah saja. sadarilah bahwa anda itu mempengaruhi dan juga dipengaruhi oleh orang lain. Sadari pula bahwa hal ini merupakan serangkaian proses yang melibatkan berbagai transaksi sepanjang waktu. kembangkanlah hubungan yang saling memberikan keuntungan baik bagi anda maupun bagi anak buah anda.
7. Sadarilah tentang faktor-faktor kekuatan intern maupun ekstern yang menghambat sikap perilaku anda, khususnya dalam hal interaksi anda dengan anak buah anda. Anda akan menjadi lebih efektif dalam usaha-usaha memberikan pengaruh apabila hal terlihat sah oleh orang-orang yang terkena tindakan-tindakan anda tersebut.
8. Kenalilah bahwa hasil-hasil itu seringkali tergantung kepada lebih dari satu segi seperti halnya keterampilan atupun usaha-usaha anak buah kita saja, karena hal itu juga mencakup pembatas-pembatas kontekstual dan sikap perilaku kepemimpinan anda sendiri. Berusaha dalam segala sifat-siifat yang selaras antara anda dan anak buah anda serta dilakukan baik secara prestasi individual ataupun secara prestasi kelompok.
9. Berusahalah agar kita sensitif terhadap batas-batas posisi otoritas kita. Usahakan untuk mengembangkan suatu kewenangan pribadi yang dapat menggambarkan peran-peran ataupun posisi-posisi yang spesifik. Kenali segera perubahan-perubahan situasi yang menuntut penyelesaian dalam kaitan hubungan antara pemimpin dan pengikutnya.
10. Kenali kenyataan adanya konflik kepentingan tersebut sebagai sesuatu yang normal untuk para anak buah anda. Nyatakanlah pemahaman anda tersebut dengan cara mendiskusikan dilema potensial itu secara terbuka. Kembangkan suatu pengharapan yang jelas yang dapat membantu meminimalisir perilaku yang berpengaruh kurang baik bagi terciptanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan.
11. Dapatkanlah penghormatan dari bawahan anda dan ciptakanlah serta pertahankan kepercayaan terhadap diri anda itu dengan cara menyediakan sumber daya sumber daya yang diperlukan dan memuatkan usaha-usaha kita dalam pencapaian sasaran kelompok. Tonjolkanlah prestasi prestasi pencapaian individual maupun kelompok.
12. Perlihatkan perhatian yang nyata terhadap tugas-tugas dan produktivitas sebagaimana juga terhadap faktor-faktor manusia dan hubungan antar mereka. Jadilah pribadi yang senang mendukung dan membantu terciptanya interaksi tersebut, tekankan kepada sasaran-sasaran dan bantulah anggota-anggota kelompok tersebut untuk dapat mencapai hal itu.
13. Usahakanlah agar anda dapat berlaku seluwes mungkin. Sesuaikanlah pola sikap perilaku anda agar dapat sesuai dengan situasi termasuk dengan para pengikut anda. Namun demikian juga usahakanlah untuk tetap pada kerangka pola sikap perilaku yang menyenangkan baik diri anda sendiri. Terlampau berusaha untuk menyesuaikan diri dengan dasar-dasar yang sesungguhnya tidak selaras dengan dasar pola sikap tingkah laku anda akan dapat megakibatkan suatu konsekuensi yang negatif.

PENUTUP
Sebagai penutup dari tulisan ini dapat kita simpulkan bagaimana strategi kepemimpinan yang efektif untuk masa kini dan masa yang akan datang. Kita belajar dari kepemimpinan masa lampau dimana keefektifan kepemimpinan seseorang tergantung dari antara lain:
1. Mau belajar dari kondisi lapangan karena setiap tempat mempunyai karakter yang berbeda atau perilaku manusianya.
2. Mempunyai modal ilmu yang lebih tinggi dari lingkungan perihal pengalaman bisa belajar dari orang-orang sekitar, Learning by doing and teaching by example.
3. Mempunyai ketegasan dalam bertindak untuk kelancaran goals yang akan dicapai. Kalau ada kesalahan pelaksanaan bisa diperbaiki sesuai dengan tujuan.
4. Bijak dalam bertindak terhadap semua komponen yang ada jangan peraturan atau kesepakatan hanya berlaku bagi orang-orang tertentu dan bagi yang lainnya bisa diatur sesuai selera dan ingat bahwa keputusan diambil, oleh orang yang hadir bukan oleh orang yang tidak hadir.
5. Melaksanakan tugas adalah suatu pengabdian mempunyai talenta yang berbeda sesuai dengan pemberian Tuhan. Memegang sesuatu tidak boleh seperti Maniop banggar taraso milas dipalua tetapi harus “golom ria ria” (tidak diterjemahkan) pegang dengan keras maka ria-ria yang pinggirannya sangat tajam tersebut akan lumat dan hancur didalam genggaman kita. Tidak percaya boleh coba walaupun itu “hanya petuah” dari nenek moyang kita tetapi masih relevan untuk diterapkan dalam kepemimpinan masa kini. Setiap hari mempunyai masalah sendiri untuk itu sesuai dengan pesan pada Buku Tulis tahun 1950 an tertulis sebagai berikut : Don’t wait till tomorrow what you can do today.Tuhan tetap bersama kita semuanya, Amin dan Horas.

(Penulis adalah Kamaruli Pohan Siahaan, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Januari 2010)

Sabtu, 16 Januari 2010

ARTIKEL: MENGAJAR ANAK BERDOA

Doa adalah suatu hak istimewa kita yang sebenarnya Tuhan berikan untuk setiap anak-anakNya. Allah menghendaki adanya hubungan yang erat dengan anak-anakNya. Dan satu cara yang Allah inginkan untuk membangun hubungan tersebut adalah DOA.
Doa bukan saja menjadi salah satu cara untuk berkomunikasi dengan Allah, melainkan juga merupakan wujud kebergantungan kita kepada Allah. Oleh karena itu, para guru Sekolah Minggu, orang tua dan para pelayan anak perlu mengajarkan prinsip-prinsip doa yang benar kepada anak-anak agar mereka dapat mengalami pertumbuhan rohani yang sehat pula dalam doa. Beberapa hal berikut ini merupakan hal-hal yang dapat kita sampaikan mengenai doa kepada anak-anak, dan kita dapat mengembangkannya sendiri menurut kebutuhan dalam pelayanan kita.
a. Allah mengasihimu—tanpa syarat; Dia ingin mendengar dan menjawab doamu.
Anak-anak harus diyakinkan bahwa Allah selalu mendengarkan doa mereka, bahkan jika mereka baru saja melakukan hal-hal yang tidak disenangiNya, Allah akan mengampuni mereka. Allah selalu tahu apa yang ada di dalam hati kita. Sangat penting untuk selalu jujur dan benar, terutama di hadapan Allah.

b. Apakah doa itu?
1. Sangat penting untuk mengajarkan kepada anak bahwa doa kita bukanlah sekedar permohonan untuk mendapatkan segala sesuatu yang kita mau dari Tuhan. Doa adalah cara yang Tuhan pakai untuk menyatakan kehendakNya di dunia ini. Caranya adalah dengan berkomunikasi dengan umatNya. Doa dapat mencakup seluruh dunia dan seakan-akan menyatukan dunia dengan surga.
2. Doa menyatakan dengan bebas apa yang ada di dalam hati kita kepada Tuhan. Komunikasi ini berkembang sesuai dengan semakin intimnya hubungan kita dengan Tuhan. Doa adalah menceritakan kepada Tuhan segala ketakutan, kekuatiran, dan perhatian kita. Hal tersebut berarti kita bercerita kepada Tuhan tentang masalah, kebutuhan, atau hal-hal yang tidak kita mengerti. Dengan doa, kita juga mengucap syukur kepada Tuhan. Doa adalah percakapan kita dengan Tuhan. Kita dapat berbicara kepadaNya seperti kita berbicara kepada teman kita.

c. Apakah Tuhan selalu menjawab doa kita?
Ya, Tuhan selalu menjawabnya, tetapi jawabanNya tidak selalu sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Dia dapat berkata: ‘Ya’. ‘Tidak’, atau ‘tunggu’. Tuhan menjawab doa kita untuk memberikan apa yang benar-benar kita butuhkan dan diberikanNya di waktu yang tepat. Kadang waktunya tidak sesuai dengan waktu kita, tetapi Tuhan tahu bahwa penting bagi kita untuk menunggu. Dia selalu tahu apa yang kita inginkan dan kita dapat mempercayai bahwa Dia akan melakukan apa yang terbaik untuk kita.

d. Bagaimana seharusnya kita berdoa?
1. Di dalam nama Tuhan Yesus.
Hal yang paling penting dalam mengajarkan doa kepada anak-anak adalah bahwa doa harus selalu dilakukan dalam nama Tuhan Yesus. “dan apa juga yang kamu minta dalam namaKu, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya” (Yohanes 14:13-14).
2. Bagian-bagian dalam doa
Tidak ada suatu aturan/pola tertentu mengenai doa, tetapi hal tersebut dapat menolong anak-anak. Beberapa orang dewasa membagi doa ke dalam beberapa bagian yaitu doa penyembahan (adoration), pengakuan dosa (confession), ucapan syukur (thanksgiving), atau permohonan (supplication). Untuk anak-anak, kita dapat menyampaikannya dengan kata-kata yang lebih sederhana untuk membagi doa, misalnya memuji dan menyembah Tuhan, mengakui dosa-dosa kita, berterima kasih kepada Tuhan, berdoa untuk kebutuhan orang lain, dan berdoa untuk kebutuhan pribadi kita.

e. Kapan seharusnya kita berdoa?
Beberapa anak tahu dan memiliki waktu-waktu tertentu untuk berdoa, sebelum makan dan tidur di malam hari. Saat mereka telah menyadari bahwa Allah selalu mendengarkan mereka dan Dia tidak pernah berlibur atau tertidur, itu berarti anak sudah siap untuk menerima pengajaran bahwa kita dapat berbicara dengan Tuhan di waktu-waktu tertentu, atau sesering mungkin. Penting bagi anak untuk mengetahui bahwa mereka dapat berbicara kepada Tuhan kapan saja mereka membutuhkan atau kapan saja mereka ingin menyatakan sukacita atau ucapan syukur mereka. Penting pula bagi mereka untuk tahu bahwa ada waktu-waktu khusus yang bisa ditetapkan untuk berdoa secara pribadi dan ada waktu lain dimana kita perlu berdoa bersama-sama dengan orang lain.
Satu cara yang baik untuk memberikan ilustrasi bahwa doa pribadi dapat dilakukan setiap saat adalah dengan menyatakan teladan Yesus, yang memiliki waktu yang berbeda-beda untuk berdoa. Beberapa diantaranya adalah doa pagi (Mrk 1:35), doa sore (Mrk 6:46-47), dan doa malam (Luk 6:12).

f. Apakah cara kita berdoa itu penting?
Ya, kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh, dengan diam-diam, dan dengan penuh hormat.
Berdoa secara sungguh-sungguh berarti berdoa dengan kata-kata yang jelas, di mana kita hanya mengatakan apa yang akan kita maksudkan untuk kita ucapkan. Ini juga berarti kita tidak mencoba untuk menggunakan bahasa yang berpura-pura atau kata-kata yang lucu. Kita menceritakan apa pun yang ada dalam pikiran kita dalam kata-kata yang biasanya kita gunakan karena Dia mengasihi dan mengenal kita, serta berkeinginan untuk memperhatikan kita.
Berdoa secara diam-diam berarti melakukan sikap berdoa sendirian. (Beberapa orang menyebutnya dengan ‘SaatTeduh’.) Hal tersebut berarti setiap hari kita meluangkan waktu untuk berbicara dengan Tuhan, semuanya dari diri kita sendiri. Kita berdoa tidak terbatas hanya pada saat berada di gereja, makan, atau menjelang tidur bersama ibu dan ayah.
Berdoa dengan penuh hormat berarti menempatkan Allah sebagai Allah. Hal itu berarti kita tidak menjelaskan doa kita atau bertindak seolah-olah kita bodoh. Kita berbicara kepada Tuhan, Pencipta semuanya, Tuhan atas jagad raya, dan Tuhan atas segala tuan sehingga kita harus menunjukkan rasa hormat kepadaNya.

Mengajar anak berdoa
Berdoa atau mendidik anak untuk bisa berdoa dengan baik adalah sangat penting, karena kita sendiri juga sudah merasakan manfaatnya. Tetapi masalahnya kapan mau dimulai atau bagaimana caranya kita memulai itu yang kadang-kadang banyak orang tua cukup kesulitan. Sebenarnya bagaimana mengajar anak untuk bisa berdoa sendiri? Semua itu tentu perlu bertahap. Anak perlu dibiasakan berdoa sejak kecil, kalau menunggu mereka remaja baru diajarkan berdoa mungkin ada rasa malu atau rasa segan bagi anak-anak tersebut. Karena itu perlu mengajarkan anak berdoa sejak dini, sejak kecil.
Bagaimana mengajar anak berdoa, untuk berbicara pada sesuatu yang dia sendiri tidak lihat? Pertama-tama yang perlu kita perhatikan adalah contoh dari orang tua lebih dulu, meskipun anak-anak ini mengerti berdoa, berkata-kata kepada sesuatu pribadi yang tidak kelihatan langsung, tetapi sikap berdoa itu mungkin yang perlu kita ajarkan dan kita contohkan terlebih dulu. Bukan yang terutama orang tua menjelaskan dulu kepada siapa kita berdoa dan sebagainya, karena itu tidak relevan dan tidak akan dimengerti oleh anak, tetapi justru akan menimbulkan berbagai pertanyaan yang kurang perlu. Jadi, pertama-tama adalah kita mengajarkan kebiasaan berdoa lebih dulu.
Perihal berdoa ini sebenarnya kita bisa ajarkan kepada anak sejak anak itu masih bayi, saat dia belum mengerti apa-apa. Misalnya waktu kita menggendong anak-anak, kita mengajak mereka bercakap-cakap, kadang-kadang di dalam percakapan ini kita tanya sendiri, kita jawab sendiri dan di antara itu kita selipkan doa-doa kita. Dengan demikian anak-anak ini meskipun belum mengerti, tapi mereka menghayati suasana doa dan kemudian ketika anak tersebut semakin besar, ketika mereka sudah bisa diajak berkomunikasi meskipun mereka belum bisa berbahasa atau berbicara dengan bahasa yang kita gunakan, mereka kita ajak untuk misalnya melipat tangan, menutup mata dalam sikap berdoa dan kita sendiri yang berkata-kata. Peran ibu sangatlah besar karena anak lebih banyak waktunya dengan ibu. Ayah juga penting. Kelihatannya memang ayah tidak sering, mungkin tidak sering merawat bayi seperti ibunya, tetapi ayah juga perlu mendoakan anaknya, terutama waktu malam anak mau tidur, ayah bisa mengajak anaknya untuk berdoa.
Pada waktu anak-anak masih sangat muda dan mulai bisa berkata-kata, sesuai pola pikir anak yang sederhana, kita bisa mengajarkan misalnya Terima kasih Tuhan atau Terima kasih Bapa, amin! Ketika anak bertambah besar dan dia semakin banyak perbendaharaan katanya kita boleh tambahkan lebih panjang lagi.
Yang penting disini adalah kita menanamkan sikap berdoa dulu waktu kecil dan ada baiknya ketika anak-anak sudah mulai berkata-kata, anak diajak untuk menghafal doa. Demikianlah perkembangannya, jadi anak-anak mendoakan temannya, mendoakan kakaknya atau adiknya, mendoakan ayah ibunya.
Biasanya sekalipun anak sudah terbiasa memimpin doa di rumahnya sendiri,kadang-kadang bila ada temannya atau saudaranya yang menginap di rumah, anak menjadi enggan berdoa. Dalam hal ini, mungkin kita bisa berikan contoh lebih dulu, kita katakan bahwa setiap orang di sini memimpin doa secara bergiliran. Jadi ayahnya berdoa lebih dulu dengan kata-kata yang pendek, singkat, supaya anak tidak minder, kemudian ibunya juga berdoa dan kemudian giliran anak dan kemudian tamunya. Jadi dengan cara ini, anak-anak lebih tertolong dari rasa malunya. Kalau cara demikian tidak bias dijalankan orang tua dapat memimpin doa, “OK, mungkin kamu masih malu ya”, kita berdoa sama-sama, jadi ayah atau ibu yang memimpin doa kemudian diikuti oleh anak-anak.
Sikap doa yang perlu kita ajarkan pada anak-anak adalah ketika sering kali anak-anak ini kerena mereka suka bermain, sehingga mereka tidak bersikap hormat. Kita harus ajarkan kepada mereka bahwa sikap hormat waktu berdoa sangat penting dan kemudian juga kita harus ajarkan tentang kerendahan hati dan kekudusan waktu kita berdoa di hadapan Tuhan. Kita ingat saja waktu Yesus memberi perumpamaan tentang membandingkan kehidupan doa orang Farisi dengan pemungut cukai, di sana mengajarkan tentang kerendahan hati seorang pemukut cukai yang doanya diterima oleh Tuhan. Demikian juga tentang kekudusan, ketika ada dosa di dalam diri kita, kita tidak bisa berdoa dengan baik di hadapan Tuhan.
Anak-anak mempunyai daya ingat yang cukup kuat. Tuhan Yesus mengajarkan sebuah doa yang cukup panjang mungkin bagi anak-anak, yaitu Doa Bapa Kami. Pada sekolah Kristen/katolik anak diajar menghafalkan sebuah doa. Hal ini memang perlu dilakukan. Contoh Doa Bapa Kami memberitahukan bagaimana seharusnya kita berdoa. Paling sedikit di sana banyak prinsip-prinsip yang kita bisa pegang dengan demikian kita juga akan lebih mudah mengajarkan anak-anak bagaimana seharusnya berdoa dan apa saja yang perlu ada di dalam suatu doa.
Untuk menghindari dampak anak sudah hafal doa lalu diucapkan seperti otomatis, kita juga harus membiasakan anak juga untuk berdoa secara bebas. Jadi kita berusaha melatih mereka untuk berdoa mengucapkan apa saja kepada Tuhan. Kita katakan kepada mereka bahwa Tuhan itu adalah selain Dia itu Raja di atas segala raja yang kita harus betul-betul hormati, kita harus hidup kudus di hadapanNya sebelum kita berdoa, tetapi dia juga sayang kepada anak-anak. Dia juga dekat kepada anak-anak dan Dia juga mengasihi kita semua, Dia adalah seorang Bapak yang penuh kasih. Kita sebagai anak Tuhan boleh meminta apa saja dan boleh berkata-kata apa saja sama seperti anak-anak berkata-kata kepada ayah ibunya sendiri. Dan kemudian kita juga perlu tegaskan kepada anak-anak bahwa Yesus itu sangat menghargai anak-anak. Dengan demikian anak-anak yang polos, yang selalu berdoa dengan kejujuran hatinya ini merasa dikuatkan dan mereka akan lebih berani untuk mengucapkan doa, meskipun dengan kesalahan-kesalahan kita harus maklumi itu. Seorang anak memimpin doa makan, tetapi ada juga saudara-saudaranya di situ. Ditengah-tengah doanya mungkin dia kehabisan kata-kata, lalu terdiam, tidak bias melanjutkan doanya. Saudara-saudaranya mentertawakan. Sikap orang tua sangat penting dalam hal ini. Bila anak belum ditertawakan oleh saudaranya, begitu anak ini terdiam, kemudian ditunggu sementara waktu, orang tua boleh membantu dengan melanjutkannya kemudian langsung diakhiri. Bila dia sudah ditertawakan saudaranya, orang tua wajib untuk mendidik, mengatakan kepada anak-anak yang lain, jangan ditertawakan karena kita semua tidak ada yang berdoa dengan sempurna dan Alkitab mengatakan Roh Kudus sering kali membantu kita berdoa dalam kata-kata yang kita sendiri tidak bisa ucapkan. Kita katakan bahwa kita harus betul-betul hormat di hadapan Tuhan dan bahwa Tuhan menghargai apapun doa kita, meskipun itu dengan ada kesalahan-kesalahan seperti itu. Kita juga harus memuji anak ini bahwa bagaimanapun juga kamu sudah berusaha dengan baik dan Tuhan menghargai doa kamu, tidak sempurna tidak apa-apa. Seperti kamu belajar di sekolah, semua harus ada tahap demi tahap pembelajaran.
Dengan berdoa, anak ini akan selalu merasa dia harus hidup di hadapan Tuhan dan tidak bisa lari dari hadirat Tuhan. Dan ketika dia dewasa ada kemungkinan dia akan mengingat masa-masa indah ini dimana dia berdoa bersama keluarganya, dia diajarkan untuk berdoa. Kita tidak selalu bisa mengawasi anak-anak kita, tetapi kalau anak-anak kita terbiasa hidup di dalam doa dia akan hidup di hadapan Tuhan dan Tuhan sendiri yang akan mengawasi dia pada saat kita tidak bisa mengawasi kehidupan mereka.
Apa yang dilakukan anak dalam doanya di masa kecil mempunyai dampak di masa depannya. Pasti ada kenangan yang indah ketika anak ini berdoa, misalnya suatu ketika mereka meragukan apakah doa saya didengar, mungkin juga ketika tumbuh remaja mereka berpikir apakah Tuhan sungguh-sungguh ada, dsb. Tetapi kenangan-kenangan ini akan mengingatkan mereka, ada doa-doa yang pernah dijawab, ada doa yang membuat kita semua merasa terharu dan itu yang diharapkan akan menjadikan anak-anak kita itu selalu ingat untuk hidup di dalam doa.
Pada waktu anak meminta sesuatu mainan atau lainnya, ingin mendapatkan sesuatu, orang tuanya berkata agar anak berdoa kepada Tuhan. Namun kita tidak boleh menjanjikan pada anak bahwa apa yang didoakan itu pasti akan terkabul. Kita semua harus belajar pada doa Tuhan Yesus di Getsemani, dimana Dia berdoa agar Dia tidak usah minum cawan pahit itu, tetapi biar kehendak Tuhan yang terjadi. Jadi ketika anak-anak sering kali mengajukan keinginan kekanak-kanakannya akan suatu mainan, kita katakan bahwa kalau misalnya sesuatu itu mungkin berbahaya, mungkin tidak berguna atau kadang-kadang Tuhan memikirkan sesuatu yang lebih dari itu, maka ada kemungkinan permintaan itu tidak dipenuhi. Dan dalam situasi demikian kita bisa mengajar kepada anak-anak untuk lebih berpikir secara dewasa, untuk menahan diri, dan berdoa tidak hanya sekedar memuaskan hawa nafsu seperti yang dikatakan oleh Alkitab.
Sebaliknya, bila doa anak ini sudah terkabul, kita bisa katakan bahwa kita harus mengucap syukur. Karena sering kali kita mengajar anak untuk berdoa waktu dia sakit dan kita sering kali lupa ketika anak itu sudah sembuh kita minta anak untuk mengucap syukur. Disinilah kita mengingatkan bahwa ketika anak sudah sembuh kita Tuhan sudah menjawab doa, meskipun itu misalnya lewat dokter dsb, tetapi yang jelas bahwa Tuhan memberikan kekuatan untuk sembuh, karena banyak orang juga tidak bisa sembuh. Dan kemudian kita mengajak anak itu berdoa dan mengucap syukur dengan demikian anak ini tahu bahwa doanya sudah dikabulkan.
I Samuel 1:27-28, “Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku, apa yang ku minta daripadaNya. Maka akupun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan, lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada Tuhan’. Ayat ini mengisahkan tentang Hana yang mendapat anak yaitu Samuel dan dia mengucap syukur. Sikap Hana tersebut penting bagi orang tua yaitu bagaimana orang tua ini menyerahkan anak-anaknya kepada Tuhan. Di dalam doanya orang tua mengatakan demikian, seumur hidup terserah anak saya mau dipakai Tuhan seperti apa. Sikap demikian penting sekali.
Sekarang kita lebih mengerti sangat pentingnya kehidupan doa dan kita semua juga akan memulai bagaimanapun sulitnya, bagaimanapun beratnya, tetapi itulah panggilan yang Tuhan berikan kepada kita, Saat Ini!
Selamat menjalani kehidupan doa bersama keluarga!

(Penulis adalah Monalita Hutabarat, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Mei 2009)