Senin, 19 Juli 2010

ARTIKEL: BELAJAR DARI SINODE GODANG DAN RAPAT PENDETA

Pengantar
Sinode Godang HKBP di Seminarium Sipoholon tanggal 1-7 September 2008 telah berhasil memilih pimpinan pusat HKBP. Mulai dari Ephorus, para kepala departemen, sekretaris jenderal, dan juga para praeses. Namun Sinode Godang sebagai lembaga pengambil kebijakan dan keputusan tertinggi di gereja HKBP telah menyuarakan agar semua pendeta, semua huria-huria pagaran dan sabungan harus memikirkan secara integral dan holistik untuk menyempurnai Aturan dan Peraturan tahun 2002 yang kita miliki saat ini. Kita tidak bias memasung diri dan menutup rapat-rapat pancaindera terhadap kecenderungan perubahan untuk elatisitas dan jawaban teologis HKBP kepada tantangan jaman yang masih terabaikan. Demikian juga hasil Rapat Pendeta Sedunia HKBP yang baru-baru dilaksanakan di tempat yang sama, benar-benar memberikan harapan dan cuara yang cerah bagi sepak terjang HKBP ke masa depan.
Ditinjau dari aspek antropologis telah diketahui semua orang Batak adanya Dalihan na Tolu, di mana ketiga piranti dan elemen di dalamnya memiliki porsi, tanggung jawab, dan posisi berbeda-beda, namun saling melengkapi dan saling mengisi sehingga suatu hajatan atau pesta dapat berlangsung apik serta elegan. Kita membutuhkan hal demikian. Yang satu melengkapi yang lain, yang lain mengontrol yang satu, dan seterusnya sehingga HKBP dapat bertumbuh dan berkembang di tengah tantangan jaman menjadi besar, kembali kepada fitrah di era 1980-an,”HKBP na bolon i”. Karena itu saat ini kita sangat membutuhkan nilai profetis dan suara kenabian, bukan suara denting uang, untuk mengoperasi pelbagai “tetanus” yang menggerogoti dari dalam yang akan melumpuhkan di masa depan. Pekikan Martin Luther yang menyatakan “No way for money, Yes for Savior” menjadi parallel dengan dengungan suara yang didendangkan Lutheran World Federation di Amerika Latin bahwa gereja harus menjadi tantangan jaman. Jika tidak maka gereja akan menjadi candu, dan itu otomatis membuktikan kesahihan dalil Marx.

Orientasi Arah dan Strategi HKBP
Tidak semua warga jemaat mendapat AP Baru HKBP bahkan ada juga pendeta yang tidak mendapatkan AP tersebut dan otomatis menyulitkan warga jemaat untuk memahami langkah-langkah strategis penatalayanan HKBP. Sulitnya AP baru HKBP tidak dapat diketahui penyebabnya, yang jelas bagi kita adalah HKBP dengan visi dan misi baru mau melangkah untuk memasuki jaman baru. Mengapa disebut jaman baru? Pertama visi dan misi HKBP dapat dikatakan baru. Kedua, HKBP telah melakukan restrukturalisasi dengan kembali ke dalam tripanji pelayanan gereja yakni koinonia (persekutuan), diakonia (pelayanan), dan marturia (kesaksian). Semua departemen dari pusat sampai tingkat huria harus mengacu ke sana sehingga mereka berfusi. Orietasi HKBP tentang strategi penatalayanan dapat dilihat dalam AP baru. Dalam AP baru ditulis visi sebagai “HKBP berkembang menjadi gereja yang inklusif, dialogis, dan terbuka, serta mampu dan bertenaga mengembangkan kehidupan yang bermutu di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus, bersama-sama dengan semua orang di dalam masyarakat global, terutama masyarakat Kristen, demi kemuliaan Allah Bapa yang mahakuasa”. Sedang misi ditulis, ”HKBP berusaha meningkatkan mutu segenap warga masyarakat, terutama warga HKBP, melalui pelayanan-pelayanan gereja yang bermutu agar mampu melaksanakan amanat Tuhan Yesus dalam segenap perilaku kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, maupun kehidupan bersama segenap masyarakat manusia di tingkat lokal dan nasional, di tingkat regional dan global dalam menghadapi tantangan abad 21”. Pemakaian istilah “terbuka”, “inklusif”, dan “dialogis” dalam visi tersebut merupakan sesuatu yang baru dan perlu mendapat perhatian. Visi tersebut akan terlihat dalam serangkaan tema dalam Sinode Godang. Misal tema Sinode Godang tahun 2002 adalah “Menjadi kesembuhan bagi bangsa-bangsa” (Wahyu 22:2) dan dalam Sinode Godang tahun 2004 mengambil tema, “TUHAN Allah memberangkatkan dengan damai dan sukacita” (Yesaya 55:12). Dengan itu istilah “terbuka” dapat ditafsirkan bahwa gereja HKBP membuka pintu bagi semua bangsa tanpa diskriminasi untuk menjadi pengikut Kristus dan semakin meninggalkan corak identitas kentalnya yang terkait dengan adat Batak Toba. Itu artinya HKBP sudah terbuka dan dapat menerima semua manusia lintas budaya, padahal tumpuan kekuatan HKBP justru terletak pada identitas khas yang di jaman globalisasi justru sangat diperlukan.
Pandangan terbuka demikian harus segera mendapat penjelasan dan menjadi program penatalayanan penting HKBP untuk dapat melayani para penderita ketergantungan narkoba, penderita HIV AIDS, para korban penggusuran, melakukan pembelaan kepada kaum tani dan nelayan, dan semua korban dari proses pembangunan dan dampak globalisasi sesuai rujukan istilah “global” dalam visi dan misi HKBP. Sebab visi dan misi HKBP tersebut berarti menempatkan posisi gereja HKBP dalam kancah globalisasi. Pertarungan globalisasi saat ini bukan hanya mengambil titik berat pada mutu atau kualitas sebagaimana disebut dalam misi HKBP atau semangat kompetitif, namun juga bertarung dalam hegemoni global. Pemikiran demikian akan membawa kita kepada suatu pertanyaan logis dan relevan, “Seberapa besar pengaruh HKBP dalam konteks lokal (skop propinsi Sumatera Utara), nasional (skop negara Indonesia), dan global (skop dunia internasional)? Pertanyaan ini sangat relevan untuk memikirkan posisi peranan dan pengaruh yang tepat bagi HKBP dalam ke tiga tingkatan di atas. Faktor penentu kekuatan dominan HKBP justru terletak pada kekayaan budaya Batak Toba sebagai aset terbuka HKBP untuk melakukan hegemoni dunia. Karena itu setelah penetapan AP baru HKBP seharusnya diikuti dengan tindakan formulasi lanjutan yang memuat tentang orientasi langkah, dan strategi HKBP menghadapi tantangan dalam abad ke 21. Bagian ini tentu menjadi tanggung jawab bersama, antara pimpinan dan warga HKBP untuk memberikan kontribusi peranan dan pengaruh bagaimana yang bisa dimainkan gereja HKBP. Nah, tentu perlu kajian-kajian strategis dalam wujud seminar- seminar, pembentukan tim pakar, dan perancangan program-program realitis dalam menerjemahkan AP baru tersebut.
Pertanyaan bagi kita adalah apa makna “dialogis” dan “inklusif”? Apakah dialogis dapat diartikan bahwa HKBP siap membuka dialog dan bersedia menjadi fasilitasi dialog bila diperlukan warga Batak Toba atau sukubangsa lain? Ataukah pengartian dialogis dimaksud sebagai penyeimbangan aspirasi warga gereja dan pimpinan dalam hal-hal yang menyinggung tentang teologi praktis. Bila hal itu dimaksud maka warga perlu memberi masukan-masukan kepada pimpinan gereja tentang realitas kebutuhan dan harapan masing-masing warga HKBP. Bagian ini kemudian dirumuskan sehingga menghasilkan penatalayanan yang dialogis. Penatalayanan dialogis menjadi kekuatan penting mengimbangi pola inklusif. Tapi kita juga belum paham maksud dari istilah “inklusif”, apakah itu terkait dengan sikap gereja berdasar teologi inklusif untuk tidak mengambil bentuk pluralistik? Kesenjangan pemikiran dari AP baru kepada realitas penatalayanan inilah menjadi pemikiran penting bagi kontemplatif kita saat ini sehingga kita bias berpacu dengan waktu untuk mengelaborasi dan menentukan jawaban-jawaban teolgis yang memadai terhadap jeritan-jeritan jemaat, dan kecenderungan terhadap perubahan jaman, termasuk pergeseran dan pertarungan ideologis yang akan terjadi.
Yesus Kristus mengajak semua jemaat HKBP untuk melakukan pembelajaran sehingga suatu saat dapat mencapai taraf aktualisasi diri di mana HKBP dapat menyatakan “YA, dan atau TIDAK” terhadap realitas sosialnya. Belajar dari Yesus yang selalu berani untuk mengubah strategi dan orientasi dalam memberi jawaban teologis terhadap elemen-elemen masyarakat Yahudi pada jamanNya; kepada kaum Tora, Eseni, Saduki, Zealot, para imam Sanhendrin, serta rakyat jelata yang benar-benar terbangun kehidupannya. Yesus menyebut Herodes Antipas IV sebagai serigala berbulu domba, sangat berbahaya dan merusak harmonisasi kehidupan. Yesus juga banyak mengritisi pola kehidupan dan keberimanan para imam. Yesus juga memberi solusi terhadap kemelaratan hidup, dan degrasi sosial yang dihadapi umatNya pada jamanNya. Namun saya sependapat dengan teolog John Dominic Crossan yang menyatakan ada 2 teknis strategi yang diterapkanNya di dalam penatalayananNya. Pertama Dia selalu rendah hati dan lembut sehingga mau bersantap makan bersama masyarakat marjinal (orang miskin, yang tertindas, tertawan, yang terbuang, yang sakit AIDS, busung lapar, dst). Pola ini disebut Crossan sebagai “open commensality”,”duduk satu meja untuk makan bersama”. Artinya kita harus bias dan mau duduk bersama, berdialog dan berkata-kata untuk mencari solusi dalam ruang pelayanan. Seringkali hal ini jarang dilakukan bahkan mulai tak digubris. Kedua Yesus melulu dengan kuasa mumpuni melakukan upaya-upaya penyehatan dan penyembuhan (free healing). Dalam konteks jaman kita, hal ini dapat kita lakukan dengan menerima serta memanusiakan orang-orang yang selama ini dianggap sampah masyarakat. Misal menerima orang-orang pengidap AIDS, menghibur orang-orang terkena PHK sehingga dapat fungsional di masyarakat.

Tantangan HKBP: Dunia dan Jaman Baru
Dunia modern sebagai akselerasi kekuatan industrialisasi, kapitalisasi, dan rasionalitas telah mendorong kelahiran globalisasi. Ketiga kekuatan itu melihat faktor sekat berupa teritorial sebagai batas negara dan menjadi penghalang utama suatu tindakan ekonomi. Karena itu perlu suatu wadah yang disebut globalisasi. Globalisasi menentukan peranan dan pengaruh satu pihak terhadap pihak lain berdasar perdagangan dan teknologi informasi. Globalisasi tidak hanya menghilangkan sekat batas (borderness) dengan membentuk suatu “kampung dunia” (global village) walau bersandar pada prinsip persaingan sehat dan mutu unggulan, namun bisa menjadi ancaman berupa terjadinya “penjarahan global” (global pillage) terhadap sumber daya alam yang masih dimiliki negara-negara berkembang seperti Indonesia. Kasus-kasus illegal logging (penebangan hutan secara liar), impor sembako secara besar-besaran seperti kasus impor gula sekarang, sampai ke bentuk pinjaman hutang berjangka dapat dilihat sebagai wujud penjarahan global. Persaingan saat ini tidak hanya berdasarkan pada kekuatan rasionalitas, dalam arti kecerdikan dan kelihaian, namun harus juga didukung oleh perangkat infrastruktur seperti kekuatan modal uang dan kebijakan-kebijakan berupan aturan hukum yang jelas dan adil. Karena itu rasanya tidak logis bila ada pihak menyatakan persaingan sehat. Negara-negara maju telah memiliki itu sehingga tidak terjadi hal yang merugikan warganya, misal adanya subsidi bagi kalangan petani sedang di negara kita belum kuat rasa kepedulian baik secara kolektif maupun individu. Perlindungan terhadap semua produk dalam negeri dan hak-hak warga negara menjadi sangat relevan untuk tetap mempertahankan identitas diri. Dampak globalisasi dapat merusak citra identitas diri tanpa terkecuali, termasuk warga gereja HKBP. Karena itu kajian terhadap dampak globalisasi sudah perlu mendapat perhatian HKBP untuk dapat mengambil langkah konstruktif dan strategis bagi warganya sebagai agenda penting pasca-sinode godang 2004 ini agar HKBP tetap terpelihara menjadi HKBP. Pencitraan kekuatan HKBP harus mulai dilakukan dengan serangkaian perlindungan, advokasi, penguatan rakyat desa, dan pembentukan jaringan kota-desa. Bagian ini akan sejalan dengan UU No 22 dan No 25 tahun 1999 tentang otonomi daerah. Citra gereja sebagai pengayom dan moral force sangat dibutuhkan warga arus bawah. Dalam era globalisasi, kekuatan pencitraan juga dibutuhkan agar gereja tetap terbuka bagi semua umat yang membutuhkan perlindungan baik secara sosial, budaya, maupun politik. Transisi internal HKBP sejak sinode rekonsiliasi tahun 1998 dengan tetap mengayomi seluruh warga gereja HKBP telah menyibukkan HKBP sehingga transisi dari masa silam dengan 2 AP yang dipakai kepada tiba-tiba muncul napas pembaharuan rasanya menjadi pergumulan aktual HKBP. HKBP cukup konkret membaca situasi lokal, nasional dan global dengan merumuskannya menjadi visi, namun hendaknya visi dan misi itu dapat diejawantahkan ke dalam kenyataan penatalayanan gereja HKBP. Namun kita harus menyadari sungguh-sungguh bahwa AP baru HKBP memberi kekuatan baru dan membawa warga gereja menuju jaman baru. Dalam rangka memasuki jaman baru itulah warga dan pimpinan HKBP harus mempersiapkan menghadapi era perubahan dan persiapan menghadapi tantangan dari jaman ini, yakni dampak globalisasi. Tumpuan pelayanan pada tiap keluarga dan tiap individu warga HKBP merupakan titik sentral penguatan partisipasi warga, sebagaimana diisyaratkan dalam makna tema Sinode Godang tahun ini. “TUHAN Allah memberangkatkan dengan damai dan sukacita” memberi kekuatan unggulan sebagai berkat dan diharapkan warga HKBP mampu membawa serta menjadi berkat bagi orang lain. Makna ungkapan itu senada dengan ungkapan Tuhan Yesus yang selalu memberi amanat untuk pergi dan pergi. Misal dalam Matius 10:7, ”Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat”, juga dalam amanat agung di Markus 16:15, “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk”. Corak pelayanan Tuhan Yesus adalah corak bekerja dan talenta bekerja dalam melayani DIA ada pada semua warga gereja, bukan dengan hanya berkata-kata. Selamat bersinode-godang HKBP.

(Penulis adalah Pdt. Melvin Simanjuntak, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Oktober 2009)

Rabu, 14 Juli 2010

ARTIKEL: KETIKA TUHAN MENJAWAB

Ajarku mengerti, segala rencana-Mu.
Ajarku berserah, hanya pada-Mu.
Pimpinlah jalanku, dalam terang firman-Mu.
Ajarku berharap hanya pada-Mu.

Dalam sebuah pertemuan doa syafaat naposobulung HKBP Semper, lagu tersebut dinyanyikan sebagai lagu penutup. Sebuah lagu yang mengajak untuk belajar. Belajar mengerti rencana Tuhan, belajar berserah pada Tuhan dan belajar berharap hanya pada Tuhan. Sebuah proses pembelajaran yang tidak mudah.

Berdoa
Setiap kita pasti pernah berdoa, berbicara dan bercakap-cakap dengan Tuhan. Dalam percakapan itu, kita menyampaikan seluruh isi hati kita kepada-Nya, termasuk kekhawatiran kita. Kekhawatiran dari hal-hal kecil sampai hal yang besar. Tapi sering kali setelah kita berdoa kekhawatiran itu semakin besar. Kekhawatiran yang membuat kita cemas, gelisah, tidak tenang, stress dan lain-lain. Mengapa begitu? Karena doa yang kita lakukan hanyalah komunikasi satu arah. Kita hanya berbicara kepada Tuhan menyampaikan setiap pergumulan kita termasuk jawaban yang kita harapkan untuk Tuhan kabulkan. Kita khawatir jangan-jangan Tuhan tidak menjawab sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Doa adalah komunikasi kita dengan Tuhan. Sebuah percakapan pribadi dua arah dimana kita menyampaikan pergumulan kita kepadaNya dan mendengarkan tanggapanNya sebagai pribadi yang memiliki kehidupan kita. Kemudian kita bersedia untuk menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Tuhan. Tetapi yang sering terjadi adalah kita selalu berharap Tuhan menjawab doa sesuai dengan apa yang menjadi kehendak dan harapan kita. Oleh sebab itulah doa sebuah proses belajar yang tidak mudah, karena tidak mudah untuk mengerti apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup kita. (Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu (Yesaya 55:8-9))
Rancangan kita bukanlah rancangan Tuhan, namun apapun yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita pastinya rancangan damai sejahtera. Oleh sebab itu Ia meminta kepada kita berseru dan berdoa kepadanya meminta apa yang menjadi pergumulan hidup kita. Dan Tuhan sendiri berjanji akan mengabulkan doa kita, jika kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya (1 Yohanes 5:14).

Lalu apa yang harus kita pelajari ketika Tuhan menjawab doa-doa kita.

Ketika Tuhan menjawab “YA”

Beberapa tahun yang lalu dalam pertemuan doa syafaat naposobulung HKBP Semper, salah satu pokok doanya adalah teman hidup. Kami berdoa agar kakak-kakak dan abang-abang diberikan teman hidup yang sesuai dengan rencana Tuhan. Hingga saatnya tiba, satu persatu kakak-kakak dan abang-abang mengucapkan janji di depan altar dengan pasangannya masing-masing.
Beberapa waktu setelah satu persatu dari mereka meninggalkan punguan naposobulung, sebagai pengurus NHKBP Semper kami bingung dan panik karena jumlah anggota mengalami penurunan. Hal tersebut tentunya berdampak pula pada jumlah anggota paduan suara yang bernyanyi pada kebaktian setiap Minggunya. Jumlah anggota yang tidak banyak lagi itu mendapat sorotan dari parhalado dan menjadi bahan diskusi kami.
Bingung dan panik, respon pengurus NHKBP Semper atas sebuah doa yang dijawab Tuhan. Sebuah sikap yang menunjukkan ketidaksiapan menerima jawaban doa. Tentunya saat berdoa, kami berdoa dengan iman dan mempercayai bahwa Tuhan pasti menjawab doa kami. Namun kami tidak menyiapkan hati bahwa saat kakak-kakak dan abang-abang mendapatkan pasangan hidupnya masing-masing tentu mereka harus meninggalkan naposobulung. Seharusnya setelah berdoa kami bekerja keras (ora et labora), melakukan perekrutan kepada rekan-rekan naposobulung yang belum aktif sehingga saat kakak-kakak dan abang-abang meninggalkan punguan naposobulung, tidak mempengaruhi jumlah anggota naposobulung.

Ketika Tuhan Menjawab “Tunggu”
Menunggu merupakan sebuah kegiatan yang membosankan. Kita bisa melihat ekspresi orang-orang yang bosan menunggu kedatangan pesawat yang tertunda, menunggu antrian di bank, menunggu antrian di dokter sampai menunggu kedatangan seorang kekasih (wah…, kalo yang ini tentunya bukan hanya bosan tapi plus kesal dan marah juga ya…)
Saat kita berdoa meminta sesuatu, terkadang kita pun harus menunggu. Kita harus menunggu saat kita meminta kesembuhan seorang yang kita kasihi, kita harus menunggu saat meminta pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat kita, kita harus menunggu saat meminta seorang pasangan hidup yang cocok, kita harus menunggu saat meminta pertumbuhan dan perkembangan yang baik untuk anak-anak kita, kita harus menunggu saat meminta agar pelayanan yang kita kerjakan saat ini menghasilkan buah, kita harus menunggu saat kita meminta pemulihan atas bangsa dan negara kita, dan banyak hal lain yang harus kita tunggu setelah kita meminta dan berdoa.
Lalu bagaimana sikap kita saat menunggu? Apakah kita menunggu dengan bersabar dan menyerahkan sepenuhnya pada kehendak Tuhan? Atau kita lebih sering menunjukkan kebosanan, kekesalan bahkan kemarahan pada Tuhan karena doa kita terlalu lama dijawab. Tapi bagaimana sikap Abraham saat menunggu janji yang pernah dikatakan Tuhan kepadanya?
Dalam Kejadian 15 dituliskan tentang perjanjian keturunan antara Abram dan Allah. Abram merasakan ketakutan dan kekhawatiran karena jika ia meninggal tidak akan ada yang menjadi ahli warisnya, kerena ia tidak mempunyai keturunan. Tapi Tuhan menguatkan Abram dan berkata, “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang……, demikianlah banyaknya nanti keturunanmu”. (Dalam perikop tersebut tidak dituliskan berapa usia Abram pada saat itu. Kemungkinan ia belum berusia 86 tahun, karena dalam Kejadian 16 dituliskan Abram berusia 86 tahun ketika Hagar-hamba Sarai isterinya, melahirkan Ismael.)
Saat Abraham berumur 99 tahun Allah mengulangi janjiNya kepada Abraham, bahwa ia akan beranak cucu sangat banyak dan akan menjadi bapa sejumlah bangsa besar (Kej. 17). Kemudian Allah menepati janjiNya, maka mengandunglah Sara-istrinya yang berusia 90 tahun dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ishak. Abraham berusia 100 tahun saat Ishak lahir. Selama lebih dari 14 tahun Abraham menunggu penggenapan janji Tuhan. Abraham menunggu dengan sabar dan menyerahkan sepenuhnya pada Allah. Ia mempercayai apa yang Allah janjikan kepadaNya, dan ia menerima buah dari yang ia percayai.
Selain kisah kepercayaan Abraham, cerita tentang setangkai bunga dan seekor kupu-kupu berikut mengajarkan kita untuk beriman dan percaya saat menunggu jawaban doa.

Once there was a man who asked God for a flower and a butterfly. But instead God gave him a cactus and a caterpillar. The man was sad, he didn’t understand, why his request was mistaken. Then he thought : Oh, well God had too many people to care for… And decided not to question.

After some time, the man went to check up on his request that he had left forgotten. To his surprise, from the thorny and ugly cactus a beautiful flower had grown. And the unsightly caterpillar had been transformed in to the most beautiful butterfly. God always does things right. His way is always the best way, even if to us it seems all wrong.

If you asked God for one thing and received another, TRUST….. You can be sure that He will always give you what you need, at the appropriate time.

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11 : 1). Bersabar, berserah, berharap dan tetap beriman/percaya, merupakan sikap yang harus kita tunjukkan saat menunggu jawaban doa. (sebuah pelajaran yang tidak mudah)

Ketika Tuhan Menjawab “Tidak”
Setelah sekian lama berdoa, ternyata doa-doa kita tidak dijawab Tuhan. Apa yang kita minta Tuhan tidak pernah memberikannya. Maka, kita perlu memeriksa hati kita apakah kita sudah berdoa sesuai dengan kehendak Tuhan, atau kita salah berdoa karena yang kita minta hanyalah keinginan-keinginan untuk memuaskan hawa nafsu kita sendiri oleh sebab itulah kita tidak menerima apa-apa (Yakobus 4 : 3)
Lalu apakah kita marah dan kecewa pada Tuhan saat doa-doa kita tidak dijawabNya? Untuk itulah kita perlu belajar mengerti kehendak dan rencana Tuhan. Belajar untuk untuk tidak hanya memikirkan kehendak kita sendiri saat berdoa, tetapi bagaimana kita mau menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Tuhan. Karena jawaban yang Ia berikan tidak hanya sekedar solusi dari setiap pergumulan kita. Jawaban “tidak” yang Ia berikan mengajarkan kita untuk memperdalam iman dan kepercayaan kita pada hikmat-Nya dan memperkuat kita pada kedaulatan-Nya.

Penutup
Saat kita berdoa tentu kita tidak mengetahui apa yang akan Tuhan berikan untuk jawaban doa kita. Namun yang harus diyakini, Tuhan pasti menjawab setiap doa-doa kita, entah dijawab dengan “ya”, “tunggu” atau pun “tidak”. Apapun jawaban yang Ia berikan, itulah yang terbaik untuk kita. Ia lebih mengetahui apa yang menjadi kebutuhan kita dalam menjalankan kehidupan ini. Oleh sebab itu kita harus berserah, berharap dan percaya pada-Nya, bahwa kita akan menerima setiap jawaban doa menurut kehendak dan rencana-Nya, karena rencana-Nya indah pada waktu-Nya.

In His time. In His time
He makes all things beautiful in His time.
Lord please show me everyday as You’re teaching me Your way
That You do just what You say in Your time.

Selamat berdoa. Selamat menerima jawaban doa.
Tuhan Yesus memberkati.

(Penulis adalah Uly Panjaitan, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Mei 2009)