Jumat, 22 Mei 2009

ARTIKEL: MEMBERDAYAKAN PELAYANAN NAPOSOBULUNG DI GEREJA


“Janganlah seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. ”
(1 Timotius 4 : 12)

I. Pendahuluan
Alkisah disuatu tempat yang jauh dari riuh keramaian, tiba-tiba sebatang pohon besar tumbang. Bammm!!! Tak lama berselang tampak seorang petani menghampiri pohon yang tumbang itu dan menemukan sebuah sarang burung yang ikut terjatuh bersama pohon. Ia menemukan sarang sudah terkoyak, Ia terus bergerak mencari apa yang tersisa dari sarang yang sudah berantakan itu dan menemukan sebutir telur yang ukurannya lebih besar dari telur ayam kampung yang dipeliharanya. Ia segera mengambil telur itu dan meletakkannya bersama kumpulan telur ayam yang sedang dierami oleh induknya.
Tak lama berselang, menetaslah telur tersebut bersama dengan telur ayam lainnya. Secara fisik, ia berbeda dengan anak ayam lainnya, namun karena induk ayam tersebut mengira unggas tersebut sama dengan anak-anaknya yang lain, maka unggas tersebut hidup menurut cara anak-anak ayam hidup. Ia berjalan, berlari, mencari makan dengan cara yang sama dengan ayam sebagai lazimnya.
Disuatu hari yang cerah, ketika unggas muda tersebut sedang bermain-main dengan anak ayam lainnya, tampaklah seekor burung rajawali besar terbang berputar-putar dengan gagah diatas mereka. Unggas tersebut mendongak ke atas, seketika itu juga pikirannya melayang-layang membayangkan jikalau saja ia bisa terbang dengan gagah seperti burung rajawali tersebut. Saat pikirannya sedang melayang-layang, tiba-tiba dari atas terdengar suara yang berteriak lantang. ”Hai rajawali muda, sedang apa kamu dibawah sana? Mari ikut bersamaku, terbang melintas diawan-awan.” Unggas itu terkejut. Ia menjawab. ” Tidak, aku tidak sama dengan kamu. Aku ditakdirkan dengan kedua kaki ini untuk berjalan. Memang aku ingin sepertimu terbang dengan gagah. Tetapi inilah aku, aku tidak bisa terbang.”
Burung rajawali tersebut kesal dengan ucapan unggas muda tadi. Seketika itu juga ia terbang menukik kebawah dan mencengkram unggas muda itu dan membawanya terbang tinggi keatas. Setelah mencapai ketinggian yang diharapkan, ia melepaskan unggas muda tersebut dan berteriak, ” Nah sekarang, terbanglah !” Rasa takut yang sangat meliputi unggas muda itu, ia merasa tidak bisa terbang. Ia mencoba mengepakkan sayapnya dan menyeimbangkan posisinya. Akhirnya ia bisa terbang dengan baik. Ia berteriak dengan lantang. ”Aku bisa terbang..!! Aku adalah burung rajawali, tempatku bukan hanya didarat dan aku tidak perlu berjalan didarat. Aku bisa terbang diatas awan melintasi alam ini..!! ”

II. Pemuda & Perubahan
Jaman sekarang adalah jaman yang berubah dengan pesat. Segala sesuatu bergerak dari waktu ke waktu dengan cepat. Bagaimana dengan pelayanan Napobulung di gereja ? Apakah pelayanan naposobulung juga ikut bergerak maju seiring dengan perubahan jaman ? atau ketika jaman berubah, pelayanan naposobulung tidak mengalami perubahan yang cukup berarti karena naposobulung tidak peka dan sangat lambat mengantisipasi perubahan yang ada.
Sering kita mendengarkan jargon yang berbunyi ”Pemuda adalah tulang punggung bangsa” yang kemudian dikutip oleh gereja menjadi ”Pemuda adalah tulang punggung gereja”. Dalam prakteknya, kaum muda seringkali dihadapkan pada pada suatu sistem dan paradigma yang membuat perannya semakin dipinggirkan dan tak lebih hanya sebagai pelengkap dan penghias saja. Jika hal ini tidak bisa ditembus, maka Naposobulung tak lebih hanya berperan sebagai pelengkap liturgi gereja saja (paduan suara, pemimpin pujian/ singer) . Naposobulung semestinya lebih berbobot dan signifikan yang memberikan nilai positif bagi lingkungan sekelilingnya. Nah, bagaimana naposobulung dapat menyingkapi/ memaksimalkan pelayanannya di gereja sehingga bukan hanya menjadi pelengkap saja?

III. Pemberdayaan Naposobulung
Menurut penulis, ada 2 hal yang perlu diperhatikan agar pelayanan naposobulung di gereja dapat lebih efektif dan maksimal, yaitu :
a. Intern Naposobulung
Naposobulung harus memilki dasar yang kuat dari dalam dirinya sehingga pelayanannya dapat maksimal, adapun hal-hal yang perlu diperhatikan secara intern dalam diri naposobulung ialah :
1. Visioner
Salah satu kesalahan fatal dalam pelayanan adalah tidak ada visi yang jelas. Hanya mengalir, ikut-ikutan dengan rekan-rekan yang lain. Visi yang jelas akan sangat membantu kita untuk membuat program-program atau langkah-langkah jangka panjang dan pendek dalam pencapaian visi tersebut. Orang yang tidak mempunyai visi dapat disamakan dengan orang yang mencoba berjalan dengan kepala ditutup dengan kain. Tidak bisa melihat arah tujuannya, karena tidak punya tujuan, serta meraba-raba untuk berjalan, yang bahkan mungkin bisa membawanya salah arah. Jadi tetapkan visimu dan jadikan Tuhan sebagai panduannya..!!
2. Fokus & Prioritas
Bukan berarti jika anda seorang Naposobulung, anda memiliki tenaga yang unlimited. Semua hal dikerjakan dengan semangat menggebu-gebu sampai terkadang dari pagi sampai malam ada di gereja. Ingat, pelayanan bukan hanya didalam gereja saja, tetapi bagaimana anda bisa memberikan nilai positif di rumah (dengan membantu membersihkan rumah yang merupakan bagian anda), belajar (jika anda mahasiswa atau pelajar), bekerja (jika anda seorang karyawan) dan masih banyak lagi..
Anda harus fokus dengan apa yang menjadi visi anda & apa yang anda bisa lakukan, jangan memaksakan diri melakukan semua hal. Ingat, tanggung jawab anda bukan hanya sebagai pelayan (di gereja), tetapi tanggung jawab sebagai anak di rumah, pelajar disekolah dan karyawan di kantor harus dapat dilaksanakan dengan baik. Hindari ketimpangan akibat tidak bisa membagi waktu dan sumber daya dengan baik. Ketidakberhasilan anda di sekolah atau di kantor akibat tidak bisa membagi prioritas tidak dapat dijadikan dalih karena anda seorang pelayan yang terlalu sibuk dengan banyaknya kegiatan yang anda lakukan. Keberhasilan anda di sekolah dan kampus serta peningkatan karir di kantor disertai peningkatan pelayanan anda di gereja akan berdampak sangat positif bagi orang sekitar.
3. Pertumbuhan di dalam Knowing (Pengetahuan), Being (karakter) dan Doing (Kehidupan aktivitas dihadapan Tuhan & sesama)
Rencana Tuhan untuk seseorang adalah unik. Tuhan menginginkan agar setiap orang dapat bertumbuh ke arah mana yang Tuhan kehendaki, baik secara pengetahuan, karakter & kehidupan kita dihadapan Tuhan dan sesama. Bagaimana anda menilai pelayanan anda berhasil atau tidak ? Apabila ada perubahan-perubahan yang positif pada seseorang. Perubahan dan perkembangan yang menuju kesempurnaan dengan Kristus secara keseluruhan.
Pengenalan kita kepada Kristus membuat kita menjadi pribadi yang terbuka untuk perubahan dan pertumbuhan. Naposobulung diharapkan mampu menyingkapi perubahan disekelilingnya dengan pertumbuhan dalam pengetahuan, karakter yang baik dan kehidupannya dihadapan Tuhan dan sesama, sehingga dapat menjadi pribadi yang cerdas, kritis dan cepat tanggap terhadap berbagai persoalan yang ada.

b. Extern Naposobulung
Faktor-faktor diluar kendali Naposobulung yang mempengaruhi pemberdayaan Naposobulung ialah :
1. Pola Pikir & Kebiasaan keliru yang kuat
Seringkali pemikiran bahwa Naposobulung adalah orang yang masih muda yang minim pengalaman, belum punya pengetahuan yang matang, membuat peran Naposobulung tak lebih hanya sebagai ”pelengkap pelayanan” di dalam Gereja. Sudah saatnya ada semacam leadership in house training dilakukan di gereja, dengan membawa Naposobulung ikut ambil bagian dalam pelayanan yang lebih strategis dan dinamis. Visi HKBP untuk mengembangkan sumber daya manusia yang bermutu dapat dilakukan dengan mengajak Naposobulung ikut andil bukan hanya dalam paduan suara setiap minggu saja, misalnya dengan mengadakan pelatihan organis gereja dari pihak luar gereja sehingga orang tersebut dapat mengajar organ digereja, pengobatan gratis dengan mendatangkan Naposobulung yang sudah menjadi dokter atau perawat atau pelatihan guru-guru sekolah minggu sehingga Naposobulung dapat menjadi guru SKM yang berkualitas. Memberikan tanggung jawab dan kesempatan untuk memimpin membuat Naposobulung dapat bergerak cepat untuk belajar memberikan yang terbaik yang disa dilakukannya digereja.
2. Mekanisme Pelayanan di Gereja
HKBP dalam Panduan Aturan & Peraturan yang terbaru membuka peluang bagi naposobulung memberikan keahliannya bukan hanya dalam lingkungan kumpulan naposobulung, tetapi juga dalam bidang-bidang yang ada didalam bidang-bidang pelayanan yang ada. Anda yang dokter atau perawat bisa masuk di bidang kesehatan, anda yang menyukai musik dapat di bidang musik, anda yang guru bisa aktif dibidang pendidikan dengan melakukan les gratis untuk jemaat yang kurang mampu, dan masih banyak hal lain yang dapat dilakukan.

IV. Penutup
Naposobulung adalah masa depan gereja. Perubahan-perubahan positif yang ada dan terjadi didalam Naposobulung membuat Naposobulung lebih kuat dan berakar untuk terus tumbuh dan berkarya. Seperti cerita yang ada didalam pendahuluan, Naposobulung seperti seekor unggas yang tidak sadar jika ia adalah burung Rajawali yang dapat terbang dengan gagah di angkasa. Naposobulung memiliki potensi diri yang terpendam yang kadang jika tidak dibawa kepermukaan akan terus terpendam. Keberanian untuk mencoba, berkarya dan melakukan apa yang menjadi keahlian di Gereja disertai dengan dukungan penuh dari orang tua serta sistem yang ada di gereja membuat peran Naposobulung bukan hanya sebagai hiasan gereja yang hanya hadir pada saat ibadah minggu dengan paduan suaranya. Masa muda bukan waktu yang lama jadi gunakanlah dengan berkarya dengan penuh kreativitas dengan tetap tertuju kepada Tuhan yang memiliki kita.
Kiranya Naposobulung dapat terus berkembang dari hanya sekedar ”bunga-bunga gereja” menjadi the real ”tulang punggung & masa depan gereja”. Tuhan memberkati Naposobulung HKBP.

(Penulis adalah Christo Hotman Radjagukguk -Mantan Naposobulung HKBP Semper yang pernah menjabat selaku Ketua NHKBP Distrik Jakarta 3-, tulisan ini dimuat di Buku “UntukMU” yang diterbitkan Buletin Narhasem dalam rangka 4 tahun pelayanan Buletin Narhasem pada April 2008)

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Gereja yang mampu melihat visi gerejanya kedepan tidak akan menomorduakan keberadaan tunas-tunas gerejanya

Lasma mengatakan...

seingkali masalh yang terjadi yah itu..
saat naposo mau maju n mangajukan sesuatu, di pertimbangkan lebih lagi dalam waktu yang lama sekali,
sehingga menimbulkan kesan tidak di percaya ato tidak berpengalaman sehingga takut tidak mampu menjalankan suatu hal...
mematikan potensi paling besar

BM mengatakan...

Apapun kondisi dan situasi gereja masing-masing, naposobulung jangan patah arang, tetap maju melayani Tuhan, karena kesetiaan melayani adalah karena Tuhan, bukan karena manusia atau orang-orang di gereja...