Jumat, 26 Februari 2010

ARTIKEL: RENCANA MANUSIA DAN PERWUJUDANNYA SESUAI DENGAN KEHENDAK ALLAH

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya (Ams 16:9)

Mengisi agenda baru dengan sederetan rencana memang sudah menjadi tradisi yang populer begitu memasuki bulan Januari. Dan saat ini kita telah berada di bulan Febuari. Sudah seberapa jauh rencana tersebut kita jalankan? Kita tentu ingin membuat perubahan pada diri sendiri ke arah yang positif. Jika kita membuat sebuah perencanaan, bahkan perencanaan itu sudah matang dan tinggal dijalankan, yang perlu kita pertanyakan adalah apakah semua itu sungguh-sungguh kehendak Tuhan? Tetapi jika kita diam saja, tanpa membuat perencanaan sama sekali, apakah hidup kita akan sesuai dengan harapan kita? Mari kita gali topik ini lebih dalam.
Perjalanan hidup yang paling aman adalah perjalanan hidup yang melibatkan Tuhan dalam segala aspeknya. Dan sebenarnya Yesus telah menawarkan penyertaanNya seperti dalam Yoh 14: 16 “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran.” Roh Kudus sebagai Penolong adalah pribadi Allah sendiri yang siap mendampingi kita dalam segala situasi.
Tapi sejauh mana kita bisa mewujudkan rencana-rencana tersebut sesuai kehendak Allah dan seberapa kuat bisa mempertahankannya? Kita bisa meneladani Yakobus sesuai dengan perikopnya yang berjudul ’’Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan” (Yak 4: 13-17) yang memaparkan beberapa prinsip rohani dalam membuat perencanaan dalam hidup kita.
1. Jangan mengandalkan kemampuan sendiri (13-14). Sebagai orang percaya, kita harus mengikutsertakan Tuhan dalam membuat perencanaan bagi hidup kita, karena Dialah yang memiliki hidup kita. Yakobus ingin mengatakan bahwa hidup ini sangat singkat , dan kita tidak tahu dan tidak bisa memprediksi kapan akhir hidup tiap-tiap orang. Ini adalah rahasia Allah. Oleh karena itu, jangan lupa mengikutsertakan Tuhan, agar rencana yang kita buat berkenan bagiNya.
2. Berserah pada kehendak Tuhan (15). Ayat ini tidak boleh diartikan bahwa kita hanya akan berpangku tangan saja tanpa mengerjakan atau merencanakan sesuatu. Penekanan Yakobus disini adalah penyerahan total hidup kita pada kehendak Tuhan selama kita masih memiliki kesempatan untuk hidup. Dalam pengertian lain, kita harus mengisi hidup kita dengan sesuatu yang dikehendaki Tuhan, bukan mengikuti keinginan kita sendiri.
3. Jangan congkak (16). Ayat ini mengingatkan kita dalam membuat perencanaan yang baik memerlukan kerendahan hati di hadapan Tuhan, karena kita adalah hambaNyayang merencanakan segala sesuatu yang kita kerjakan di dunia ini untuk menyukseskan rencanaNya yang kekal bagi hidup kita.
4. Peduli (17). Di akhir perikop ini, Yakobus menegaskan agar kita perduli dengan semua yang di sekeliling kita, bahkan merencanakan dan melakukan segala yang baik di hadapan Tuhan dengan tulus, bukan membiarkan atau menghindarinya, karena jika demikian kita akan berdosa.
Berdasarkan prinsip-prinsip dasar diatas, simak deh saran-saran di bawah ini supaya rencana-rencana yang kita ciptakan tidak mubazir begitu saja.
1. Buat rencana yang bisa diraih dan yakini diri kalau kita pasti bisa meraihnya.
Sering kita merasa gagal dalam meraih keinginan atau cita-cita yang sudah dibuat. Hal ini dikarenakan kita sendiri yang terlalu kreatif membuat cita-cita yang tidak realistis dengan keadaan diri kita sendiri. Simpan dulu saja keinginan untuk merubah dunia. Fokus pada rencana yang berefek pada diri sendiri dan masih dalam area kemampuan kita. Misalnya, bertekad untuk mengikuti kebaktian minggu lebih rajin atau menyisihkan sebagian uang jajan untuk persembahan kasih.
2. Tulis rencana kita secara lengkap dan terperinci.
Kalau punya rencana yang besar, kita harus buat jalan atau langkah demi langkah apa saja yang harus dilalui. Anggap saja impian besar kita itu adalah kemenangan pada pertandingan final, dimana untuk mencapainya kita harus melalui dulu beberapa pertandingan sebelumnya. Keberhasilan kita mengerjakan langkah demi langkah dalam proses meraih cita-cita ibarat kemenangan yang kita raih pada setiap babak pertandingan.
3. Buat jangka waktu dan biasakan untuk selalu disiplin.
Supaya bisa mencapai ke tujuan kita perlu membuat pembagian waktu yang berisi langkah-langkah apa saja yang harus dikerjakan. Pada setiap langkahnya buat batas final kapan harus selesai. Misal cita-cita kita adalah mengikuti kebaktian minggu lebih rajin. Kita bisa memulainya dengan jadwal dua kali dalam sebulan dulu, kemudian tiga kali hingga akhirnya bisa tiap minggu mengikuti kebaktian. Jangan lupa untuk memberi tanda bintang sebagai lambang keberhasilan pada setiap langkah yang bisa dicapai.
Kalau kita membiasakan diri untuk selalu membuat tekad atau perencanaan lengkap dengan langkah-langkah nyatanya, bisa dipastikan hidup kita juga akan lebih terarah dan rapi, alias tidak berantakan kemana-mana tanpa tujuan.
Jadi sebelum kita menetapkan target-target yang akan dicapai, adalah bijaksana untuk berdoa memohon kepada Tuhan bimbingan dan arahanNya. Sekalipun kelihatannya rencana kita itu sudah matang, kita tetap harus menyerahkannya pada Tuhan. Tanpa Tuhan Yesus segalanya serba tidak pasti tetapi bersamaNya kita akan melangkah pasti. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok atau seterusnya, tetapi jika kita mengijinkan Tuhan membimbing kita maka kita akan selalu mendapat pertolonganNya tepat pada waktuNya. Dia tidak pernah meninggalkan anak-anakNya bergumul sendirian. Apapun rencana kita di tahun 2010 ini, sertakan Tuhan. Ambil waktu berlutut dan berdoa memohon petunjukNya. Jadikanlah Dia maestro kehidupanmu. Berilah tempat bagi Dia berkarya dalam hidupmu dan tetaplah berusaha dengan keras dan tentu diiringi dengan doa dan disempurnakan dengan kepasrahan kepada Allah atas apapun hasil yang telah diusahakan. Ora et labora. Tuhan Memberkati.

(Penulis adalah Brigitta Anggraini Rajagukguk, S.Psi., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Februari 2010)

1 komentar:

sarah mengatakan...

komunikasi yang baik adalah yang tidak menimbulkan noise ya?