Sabtu, 19 Juni 2010

ARTIKEL: PARHEHEON NHKBP, BANGKIT SESAAT ATAU SELALU SEMANGAT (SUATU REFLEKSI SINGKAT)

Saya dihubungi Team Buletin Narhasem mengenai judul ini karena seseorang yang seharusnya menulis mengenai judul ini berhalangan karena suatu hal. Ketika mengetahui judulnya, spontan saya mengatakan kepada personil Team Buletin Narhasem yang menghubungi saya adalah “nyindir banget tuch judulnya” kemudian lebih lanjut saya juga menyatakan “makin banyaklah naposo yang akan benci gw krn tulisan ini”. Apakah benar perkataan saya yang spontan ini? Mudah-mudahan tidak, mungkin itu hanya perasaan saya yang keliru tentang naposo pada umumnya. Tetapi, tidak ada salahnya, sambil menimang-nimang kata-kata dalam tulisan ini, kita naposobulung dan juga remaja HKBP sama-sama mengkoreksi diri, apakah benar Parheheon NHKBP adalah momen yang dapat memberikan semangat bagi kita untuk terus melayani Tuhan atau sekadar kebangkitan sesaat saja sehingga dapat diartikan Parheheon NHKBP hanya menunjukan eksistensi tahunan Naposobulung di gereja HKBP.
Parheheon hampir setiap tahun diperingati di gereja-gereja HKBP. Di HKBP Semper, punguan kategorial yang rutin menyelenggarakan Parheheon adalah karegorial sekolah minggu dan naposobulung. Berbagai kegiatan diadakan dalam memperingati Parheheon. Bisa diadakan dalam bentuk konser paduan suara, perlombaan dan pertandingan olahraga dan seni, aksi sosial dan sebagainya. Tapi, apakah benar setiap naposobulung yang ikut serta dalam Parheheon memahami apa atau makna Parheheon di HKBP? Singkatnya, kata Parheheon diambil dari bahasa batak yang kata dasarnya adalah “hehe”, yang berarti “bangkit”. Bangkit dari apa dan bangkit seperti apa? Pertanyaan inilah yang harus menjadi refleksi hidup naposobulung dalam memaknai Parheheon itu.
Apa itu bangkit? Menurut Kamus Bahasa Indonesia (KBI), “bangkit” terdapat beberapa makna, antara lain artinya bangun (hidup kembali), timbul atau terbit, mengangkat atau menaikkan, timbul keberanian. Dari pemaknaan yang diberikan KBI maka menurut Penulis “bangkit” haruslah menunjukan suatu kemenangan, peningkatan, pembaharuan dan keunggulan dari suatu usaha atau keadaan dan juga dari kekalahan hidup, kemalasan, keputus-asaan, kegagalan dan disorientasi. Parheheon harus dapat membangun citra dan fakta yang terus diperbaharui, bahwa naposobulung adalah tulang punggung gereja yang setia dan mencintai Tuhan(1. Tidak hanya aktif pelayanan karena suka jenis pelayanannya atau karena ada maksud lain selain melayani Tuhan, namun karena kesetiaan dan kecintaannya kepada Tuhan. Apapun jenis pelayanannya tidaklah menentukan, dengan siapa kita melayani tidaklah penting, yang penting kita melayani untuk Tuhan.
Sekarang, penulis perlu ungkapkan pengalaman yang sedikit dari penulis mengenai kondisi naposobulung sebelum mengalami kebangkitan, dalam hal ini penulis akan mengelompokan dalam 5 (empat) kelompok besar, sebagai berikut:
i. Kelompok Pertama adalah naposobulung yang masih terlibat dalam kerusakan moral. Mereka masih terlibat narkoba, mabuk-mabukan, seks bebas di kalangan pemuda, terlibat tawuran, terlibat penodongan dan pencurian, dan sebagainaya. Mereka belum peduli akan kebenaran, keadilan dan keteraturan hidup. Mereka bangga menjadi “jagoan”, mereka bangga disebut sebagai “penguasa/preman persimpangan jalan”. Hidupnya masih dalam perbuatan gelap dan kotor.
ii. Kelompok Kedua adalah naposobulung yang hidupnya baik tapi hidup dalam ketidak-pedulian akan Allahnya dan sesama. Mereka hanya mau menjalani hidupnya bagi dirinya saja, paling jauh bagi keluarga intinya sendiri. Beribadah minggu di gereja ya, katekisasi juga diikutinya tapi penerapan hidup kepada Allah dan sesama amatlah minim. Pokoknya, fokus hidupnya hanya untuk dirinya sendiri. Mereka yang masuk dalam kelompok ini percaya akan Tuhan Yesus dan keselamatan dari Tuhan. Namun untuk terlibat dalam pelayanan, no way. Bagi mereka, pelayanan adalah suatu kesia-siaan dan ketidakbergunaan.
iii. Kelompok Ketiga adalah naposobulung yang pandai bicara tapi tidak berbuat. Istilah kerennya NATO (No action, talk only). Mereka hanya mau menjadi pengamat, dalam hal ini hanya pengamat naposobulung di gereja. Mereka mau mengikuti kegiatan naposo sebatas penonton saja tapi kritiknya bagi pelayanan naposo sangatlah tajam. Kepeduliannya akan peyanan naposobung hanya sebatas kritik. Dia selalu berpendapat ada kekurangan disana-sini, tapi ketika diajak untuk terjun memperbaiki kekurangan tersebut, cepat-cepat dia membentengi dirinya dengan berbagai alasan klasik seperti study, pekerjaaan, ijin dari orangtua dan sebagainya.
iv. Kelompok Keempat adalah naposobulung yang terlibat setengah-setengah dalam pelayanan naposobulung. Mereka seperti kapal selam, timbul tenggelam secara berulang-ulang. Kemunculannya tergantung mood dan situasi. Biasanya mereka muncul di momen-momen “strategis” dan “puncak”. Contohnya di Parheheon, Paskah dan Natal. Eksistensi keaktifannya bagi jemaat awam sangat terlihat, namun sejujurnya mereka bukan aktivis sejati naposobulung.
v. Kelompok Kelima adalah naposobulung yang terlibat aktif dalam pelayanan naposo tapi sesungguhnya keaktifannya tidak didasari motivasi dan pemahaman yang benar akan suatu pelayanan. Mereka yang masuk dalam kelompok ini adalah orang-orang yang ingin mencari keuntungan pribadi dalam pelayanan naposo, sehingga jikalau dalam suatu titik dia berpendapat tidak akan memperoleh apa yang dia mau dalam pelayanan naposo, maka tanpa banyak pikir, mereka yang masuk dalam kelompok ini akan keluar dalam keterlibatan pelayanan naposo. Misal, kalau orientasinya mencari pasangan hidup, maka setelah lirik kanan kiri tidak ada yang cocok, maka ia akan segera keluar, tapi kalau masih ada yang cocok dan diincernya maka dia akan tetap “setia” melayani Tuhan di pelayanan naposobulung(2. Contoh lain, kalau orientasinya ingin belajar band/musik, maka kalau suatu saat tidak ada lagi yang mengajarinya band/musik maka ia akan segera keluar dan mencari tempat baru yang bisa bermanfaat baginya.
Dari judul yang diberikan Team Buletin Narhasem, bisa jadi tulisan ini lebih diarahkan atau ditekankan kepada Kelompok IV dan Kelompok V, walaupun Kelompok I sampai Kelompok III tidak kalah penting untuk dibangkitkan juga. Menurut penulis (pendapat subyektif), Kelompok IV dan kelompok V memang ada di pelayanan naposobulung, tidak hanya di HKBP Semper, mungkin juga di HKBP lain dan juga gereja Non-HKBP lain. Tidak hanya di kategorial naposobulung, sangat mungkin juga terdapat di kategorial sekolah minggu, ina, ama dan mungkin juga di Parhalado. Atau dengan kata lain, kedua kelompok ini pengikutnya tidak sedikit dan bertebaran di berbagai gereja. Tugas kita semua adalah untuk mengurangi populasi kedua kelompok ini, tentu bukan untuk dimasukan kedalam Kelompok I, Kelompok II atau Kelompok III, namun untuk keluar dari lima kelompok tersebut masuk dalam kelompok yang melayani Tuhan dengan kesetiaan dan kecintaannya kepada Tuhan. Membangkitkan naposobulung dari Kelompok IV dan Kelompok V inilah sesuatu yang harus dimaknai oleh Naposobulung yang terlibat dalam pelayanan gereja dalam memaknai Parheheon.
Namun, sejujurnya merubah paradigma kawan-kawan naposobulung di Kelompok IV dan Kelompok V bukanlah perkara mudah. Tidak sedikit teman-teman yang di Kelompok IV dan Kelompok V adalah orang-orang yang pernah (dan kadang berulang kali) mendapat pembinaan mengenai konsep dan makna pelayanan di berbagai kesempatan. Bahkan diantara mereka ada yang pernah menjadi mantan pengurus di kepengurusan naposobulung(3. Mengecewakan memang, sudah tahu tapi tidak dilakukan. Harusnya menjadi teladan, justru menjadi batu sandungan. Pesan untuk teman-teman yang merasa dalam Kelompok IV dan Kelompok V, bertobatlah dari kebiasaan dan cara sikap ini. Sadarlah, bahwa kita terlibat dalam pelayanan naposobulung karena ingin melayani Tuhan yang lebih dulu melayani kita. Sadarlah bahwa pelayanan bukan untuk menunjukan keegoan kita dan juga sebagai cara mencapai tujuan pribadi, tetapi justru untuk sarana merendahkan diri kita, mengikuti cara Tuhan Yesus yang merendahkan dirinya melayani manusia. Kalau memang ada kesulitan atau hambatan untuk tetap konsisten dan semangat dalam melayani Tuhan, minta tolong kepada Tuhan agar Tuhan memberikan kekuatan dan semangat yang lebih lagi dan jangan membentengi diri kita dengan alasan-alasan permisif dan pembenaran pribadi. Pesan untuk teman-teman yang merasa terganggu dengan adanya Kelompok IV dan Kelompok V tersebut adalah jangan patah arang untuk tetap mengajak teman-teman kita dalam Kelompok IV dan kelompok V untuk sadar akan tanggungjawab hidup pelayanannya kepada Tuhan secara sungguh-sungguh dan serius. Manusia bisa salah dan khilaf, jadi maklumilah dan kasihanilah mereka. Doakan mereka secara sungguh-sungguh dan tetap bersahabatlah dengan mereka. Janganlah iri atau merasa rugi dengan ketidak-konsistenan dan ketidak-benaran mereka teman-teman dari kelompok IV dan Kelompok V, karena orang yang berada dijalur benar tidak akan iri dengan orang yang berada di jalur yang salah.
Terakhir, apa yang menjadi parameter sukses atau tidaknya kegiatan Parheheon naposobulung? Tak sedikit evaluasi kepanitiaan Parheheon hanyalah sebatas telah berlangsungnya seluruh rangkaian kegiatan Parheheon secara baik, dalam hal ini seluruh program kepanitiaan Parheheon yang telah direncanakan dapat berjalan dengan baik. Apakah hal itu dapat dijadikan parameter sukses Parheheon naposobulung itu? Mohon maaf, saya harus mengatakan tidak. Memang terlaksananya program Parheheon itu baik, tapi itu belum seberapa, ibarat buku, itu baru covernya saja. Untuk apa covernya indah tapi muatan bukunya payah. Jadi, apa parameter suksesnya Parheheon naposobulung itu? Hanya satu, yaitu Parheheon bisa membuat semangat dan kerajinan naposobulung dalam melayani Tuhan tidak kendor dan tetap teguh didalam Tuhan, seperti amanat Firman Tuhan dalam Roma 12:11 dan I Korintus 15:58.
Roma 12:11 “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan”.
I Korintus 15:58 “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."
Untuk apa kita berhasil membuat konser paduan suara yang semarak (dengan jumlah peserta paduan suara yang banyak, kostum, musik dan penampilan yang baik), kalau ternyata kesehariannya paduan suara naposobulung yang mengisi kebaktian minggu hanya diikuti segelintir orang dengan persiapan yang jauh dari ideal. Untuk apa kita mengadakan kunjungan kasih secara baik, kalau sebenarnya kasih tidak terpancar dalam kehidupan kita sehari-hari. Jadi, tinggal kita yang memilih, apakah kita hanya ingin bangkit sesaat pada saat momen kegiatan Parheheon saja, atau kita ingin selalu semangat karena makna Parheheon itu melekat di sanubari kita dan terus tinggal sepanjang hari dalam kehidupan kita, silahkan tentukan sendiri sikapmu... Selamat Ber-Parheheon, Tuhan memberkati semua...

(Penulis adalah Benny Manurung, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Juni 2010)

Catatan Kaki:
1. Tidak boleh maksud Parheheon dibelokan hanya untuk sekadar mengisi progam kerja naposobulung belaka, atau tempat pencarian dana belaka, atau ajang unjuk diri/ pamer akan sesuatu hal.
2. Tidak salah mencari kehendak Tuhan, dalam hal ini jodoh, di gereja atau perkumpulan Kristen lain. Itu bagus dan penulis bahkan menganjurkannya. Namun, mohon pencarian jodoh itu tidak dapat dijadikan hal yang utama melebihi pelayanan kepada Tuhan yang kita lakukan di gereja. Tuhan tetap yang utama, yang tidak akan tergoyahkan dengan alasan apapun juga.
3. Lebih sulit mengajarkan dan mendidik orang yang sudah tahu dibanding orang yang belum tahu. Mengapa? Karena orang yang belum tahu umumnya lebih rendah hati dibanding orang yang sudah tahu. Karena dengan kerendahhatiannya, orang yang belum tahu akan berusaha mencoba sesuatu yang dirasanya baru, sedangkan orang yang sudah tahu cenderung meremehkan dan mengacuhkan ajaran tersebut.

Tidak ada komentar: