Minggu, 10 Oktober 2010

ARTIKEL: TIMOTIUS

Berbicara tentang Timotius, kita tidak bisa terlepas dari didikan yang diterimanya. Timotius yang masih muda dapat menjadi pemimpin bahkan menjadi perintis pekabaran Injil serta pemikir Kristen adalah karena didikan yang diterimanya. Paulus, rasul yang besar dan terkenal bahkan menyebutnya sebagai satu-satunya orang ‘yang sehati dan sepikir’ dan yang tidak mencari kepentingannya sendiri melainkan kepentingan Kristus (Flp. 2:20).
Nama Timotius berasal dari kata Yunani yakni Timotheo artinya menghargai Allah. Timotius adalah putra seorang wanita Yahudi beragama Kristen bernama Eunike yang bersuami seorang Yunani (lih. Kis. 16:1). Timotius seorang pemuda yang pendiam. Timotius dididik secara kristiani oleh ibunya. Selain itu dia juga menerima didikan secara kristiani dari neneknya yang bernama Lois (lih. 2 Tim. 1:5).
Selain dari ibu dan neneknya, Timotius juga menerima didikan Kristen dari buku (lih. 2 Tim 3:15). Buku-buku yang dimaksud adalah buku-buku para penulis Yahudi dari zaman pra Yesus dan buku-buku para penulis Kristen dari zaman gereja perdana yang jumlah juga bisa mendekati seratus. Buku-buku itu ditulis dalam bahasa Ibrani, Aram dan Yunani. Pada zaman itu Alkitab belum jadi seperti yang kita miliki sekarang. Memang pada masa hidup Timotius sudah ada beberapa surat Paulus misalnya : surat 1 Tessalonika yang ditulis sekitar tahun 50. Tetapi injil Lukas masih dalam proses penulisan, sedangkan beberapa kitab lain sama sekali belum dikarang, misalnya Surat 2 Petrus yang baru ditulis sekitar empat tahun sesudah Timotius meninggal dunia.
Buku-buku tersebut itulah yang menjadi pendidik Timotius. Buku sangat berperan sebagai pendidik Timotius. Jarang tertulis sejelas ini bahwa buku sebagai benda dikategorikan sebagai pendidik. Perhatikan keenam kata kerja yang memperlihatkan perbuatan pedagogis buku yaitu : ‘memberi hikmat’, ‘menuntun kepada keselamatan’, ‘mengajar’, ‘menyatakan kesalahan’, ‘memperbaiki kelakuan’, dan ‘mendidik dalam kebenaran’ (lih. 2 Tim 3:15).
Belum banyak orang menganggap buku sebagai pendidik termasuk warga gereja. Belum banyak orang berminat untuk membaca buku sampai usia lanjut. Buku dianggap hanya sebagai kebutuhan murid di sekolah. Di sekolah pun tidak semua murid gemar membaca.
Buku yang bermutu adalah pendidik yang perlu. Buku memberi manfaat yang khas pada tiap golongan usia. Untuk anak kecil, buku menolong menumbuhkan daya imajinasi dan kecermatan mengeja. Untuk remaja dan pemuda buku menolong menajamkan daya konsentrasi dan kerangka bernalar yang sistematis. Untuk orang dewasa, buku berfaedah untuk mencegah kemandekan atau stagnasi dalam perkembangan visi. Untuk orang lanjut usia buku menolong mempertahankan fungsi intelegensi. Kemudian untuk segala golongan usia buku memberikan banyak manfaat yang umum. Buku menambah pengetahuan. Buku memperluas wawasan. Buku menyegarkan. Buku menghibur.
Buku yang baik (istilah dalam 2 Tim. 3:15 “segala tulisan yang diilhamkan Allah”) dapat dipakai oleh Tuhan sebagai alat untuk membimbing. Seperti yang dialami oleh Timotius : buku memberi hikmat. Buku menuntun kepada keselamatan. Buku mengajar. Buku menyatakan kesalahan. Buku memperbaiki kelakuan. Buku mendidik dalam kebenaran. Timotius telah menikmati pendidikan yang diberikan oleh buku. Timotius telah tumbuh menjadi sebagaimana dia ada karena pendidikan oleh buku.
Sebagai pemuda berminat baca Timotius berkenalan dengan Rasul Paulus. Timotius tertarik untuk belajar terus. Atas rekomendasi warga gereja ia diterima menjadi murid Paulus (lih. Kis 16:2). Itu terjadi pada tahun 49 atau 50. Agaknya ketika itu Timotius berumur sekitar 25 tahun, dan Paulus mungkin sekitar 60 tahun. Tuhan mempertemukan Timotius dengan rasul Paulus di Listra (lih. Kisah 16 : 1-3). Paulus memilihnya sebagai pembantu yang baru. Ternyata bahwa Timotius menjadi pembantu terdekat dari Paulus. Tidak ada pembantu lain yang begitu sering disebut dalam surat-surat Paulus seperti dia. Hubungan antara Timotius dengan Paulus sangat akrab sekali seperti antara anak dengan ayah.
Menjadi murid Rasul Paulus berarti ia bekerja magang, yaitu ikut dalam perjalanan pekebaran Injil ke berbagai negara. Begitulah selama beberapa tahun Timotius menjadi murid merangkap pembantu Paulus dalam segala urusan sehari-hari. Ketika Paulus dipenjara selama beberapa tahun, Timotius mendampinginya. Ia membantu Paulus menulis surat ke beberapa gereja. Ada enam surat yang mencamtumkan nama Timotius sebagai pengarang pendamping, yaitu surat 1 Tessalonika, Filipi, 2 Korintus, Filemon, 2 Tessalonika dan Kolose. Pada ayat pertama dalam keenam kitab itu terdapat ungkapan seperti “Dari Paulus dan dari Timotius kepada ...”
Setelah Paulus keluar dari penjara, Timotius bertugas mewakili Paulus membina gereja di kota Tessalonika, Filipi dan Korintus. Dengan tugas-tugas itu Timotius dipersiapkan menjadi penerus pekerjaan Paulus. Sesudah dibina sekitar sepuluh tahun, Timotius dipercaya untuk menggembalakan umat di kota Efesus. Sementara itu Paulus tinggal di Makedonia, namun kemudian dipenjara lagi di Roma. Pada masa itulah Timotius menerima dua pucuk surat dari Paulus yang kini kita miliki, yaitu surat 1 Timotius (tahun 63) dan 2 Timotius (tahun 65).
Akhir hidup Timotius memang mengenaskan. Ia dibunuh dalam kerusuhan agama pada tanggal 22 Januari tahun 97 di depan kuil Artemis di kota Efesus. Tetapi, hidupnya jauh dari sia-sia. Ia merintis pekabaran Injil yang menjadi cikal bakal gereja hingga masa sekarang. Ia melindungi umat yang dianiaya di Tessalonika. Ia mendampingi umat yang tergoncang iman di Korintus. Timotius anak keluarga sederhana yang dibesarkan di kota Listra telah menjadi pemimpin dan pemikir gereja perdana. Bagaimana anak sederhana ini menjadi pemimpin dan pemikir ? Karena ia mempunyai buku sebagai pendidik.

(Penulis adalah Pdt. Palti Panjaitan, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Oktober 2005)

1 komentar:

Sostenes Marbun mengatakan...

terima kasih telah membantu tugas saya ! ^_^