Senin, 28 Februari 2011

RENUNGAN: FUNGSI YANG SEBENARNYA DARI BAIT ALLAH

(Matius 21 : 12-17)
(12) Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedangan merparti (13) dan berkata kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” (14) Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya. (15) Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuat-Nya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: “Hosana bagi Anak Daud!”, hati mereka sangat jengkel, (16) lalu mereka berkata kepada-Nya: “Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?” (17) Lalu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota ke Betania dan bermalam di situ.

Saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus!
Panggilan untuk mengembalikan suatu tempat, jabatan atau pekerjaan pada fungsi yang sebenarnya adalah tugas yang tidak gampang untuk dilakukan dan tidak bisa ditawar-tawar. Di satu pihak, terjadinya pergeseran fungsi yang sebenarnya dari suatu tempat, jabatan atau pekerjaan disebabkan adanya pemahaman yang keliru tentang keberadaan dan fungsi suatu tempat, jabatan atau pekerjaan sehingga mengakibatkan tindakan pelewengan dan penyalahgunaan. Di pihak lain, pergeseran terjadi disebabkan adanya kepentingan suatu kelompok atau golongan yang lebih atau hanya mementingkan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan orang banyak. Hal ini dapat kita saksikan dengan jelas dan nyata di negeri kita ini. Sejak terjadinya pergeseran pemerintahan di negeri kita pada tahun 1998 yang lalu (setelah lengsernya pemerintahan Orde Baru) hingga pada saat ini, seluruh elemen masyarakat negeri kita berjuang dan berusaha keras untuk mengembalikan semua lembaga dan perangkat pemerintahan di negeri ini pada fungsi yang sebenarnya. Namun, upaya-upaya yang dilakukan yang telah menelan korban jiwa dan kerugian yang tidak terhitung untuk mengembalikan semua lembaga dan perangkat pemerintahan negeri ini pada fungsi yang sebenarnya, tidak berjalan dengan baik dan lancar. Tantangan dan hambatan pada umumnya datang dari kelompok-kelompok status quo yang tidak menghendaki semua lembaga dan perangkat pemerintahan negeri ini berjalan dengan baik dan benar sesuai dengan fungsinya.
Pergeseran suatu tempat, jabatan atau pekerjaan dari fungsi yang sebenarnya bukanlah hal yang terjadi secara tidak disengaja, melainkan secara disengaja. Pergeseran itu tentu dilakukan oleh orang-orang yang hendak mencari keuntungan bagi diri sendiri. Demikian halnya dengan pergeseran fungsi Bait Allah di Yerusalem pada zaman Yesus, sehingga Yesus menyucikan Bait Allah dan mengembalikannya pada fungsi yang sebenarnya. Peristiwa itu terjadi setelah Yesus tiba di Yerusalem. Ketika Yesus masuk ke dalam Bait Allah, Yesus melihat orang-orang yang berjual beli, para penukar uang dan pedagang merpati di halaman Bait Allah. Yesus sangat terkejut dan marah melihat keadaan itu. Halaman itu seharusnya menjadi tempat yang tenang bagi orang-orang asing yang percaya kepada Allah. Menurut peraturan agama Yahudi, orang-orang asing yang menjadi percaya kepada Allah hanya bisa berada di halaman itu, mereka tidak bisa masuk ke halaman-halaman lain. Bagi Yesus, suasana jual-beli itu telah mengganggu kelangsungan peribadahan orang-orang asing yang ditentukan beribadah di halaman itu.
Di samping itu, para penjual dan penukar uang berlaku tidak jujur. Ada peraturan yang mengatakan bahwa pajak Bait Allah harus dibayar dengan mata uang khusus yang dibuat dari perak. Pada zaman itu mata uang Romawi dipakai di negeri Israel. Namun, sebelum orang-orang membayar pajak Bait Allah, mata uang Romawi itu harus ditukar terlebih dahulu, dan Yesus melihat bahwa para penukar menipu dan sangat curang terhadap para pengunjung yang datang beribadah ke Bait Allah. Demikian juga, setiap orang yang datang ke Bait Allah hendak mempersembahkan merparti dan hewan-hewan lainnya sebagai korban ucapan syukur kepada Allah dan sebagai korban permohonan pengampunan dosa mereka kepada Allah. Tetapi jika mereka membawa merpati atau hewannya sendiri, maka besar kemungkinan para imam di Bait Allah akan menolak merpati atau hewan itu karena dianggap haram. Oleh karena itu, orang-orang yang datang harus membeli merpati atau hewan lainnya yang telah disediakan di halama Bait Allah itu, dan Yesus melihat bahwa harga yang ditetapkan para penjual terlampau tinggi. Pendek kata, para imam di Bait Allah pada masa itu telah menggunakan agama secara nyata sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan bagi diri mereka sendiri.
Jemaat Tuhan Yesus Kristus,
Melihat keadaan itu, Yesus sangat marah sekali. Oleh karena itu, Dia mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah itu. Dia menjungkirbalikkan meja-meja para penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati, dan berkata kepada mereka, “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun”(ayat 13). Mengapa Yesus berbuat demikian? Apakah Dia berpikir bahwa dengan menjungkirbalikkan meja-meja para penukar uang dan bangku-bangku para pedagang merpati dan hewan-hewan, Dia akan menghentikan perdagangan yang tidak adil atau tidak jujur di Bait Allah itu? Pastilah tidak. Yesus tahu bahwa orang-orang itu akan kembali melanjutkan perdagangannya. Mungkin pada esok harinya, mereka akan lebih berhati-hati supaya terhindar dari gangguan, tetapi kebiasaan-kebiasaan mereka tetap sama.
Apa yang mendorong Yesus sehingga Dia bertindak menyucikan Bait Allah? Yesus hendak memperlihatkan bahwa Bait Allah itu, menurut kehendak Allah, harus digunakan sebagai RUMAH DOA. Tindakan Yesus menyucikan Bait Allah bukanlah tindakan sensasional atau mencari masalah terhadap imam-imam dan ahli-ahli Taurat. Tindakan Yesus itu seturut dengan firman Allah yang disuarakan oleh nabi Yesaya, “mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa” (Yesaya 56:7). Ini berarti bahwa umat Israel dipanggil untuk beribadah di Bait Allah, bukan untuk berdagang. Tindakan Yesus juga mengingatkan mereka dengan nubuatan nabi Maleakhi, “... Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! ... Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu ... Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN” (3:1-3). Singkatnya, penyucian Bait Allah yang dilakukan oleh Yesus adalah bagian dari panggilan-Nya di dunia ini, dan kesucian yang dituntut oleh Allah atas umat-Nya sangat berbeda dengan kesucian yang dimengerti oleh para imam dan ahli-ahli Taurat pada zaman itu.
Saudara-Saudara yang terkasih,
Pada hakikatnya, tindakan penyucian Bait Allah yang dilakukan Yesus bertujuan untuk mengembalikan Bait Allah pada fungsi yang sebenarnya. Tindakan itu tidak hanya berimplikasi bagi umat Allah pada masa itu, tetapi juga bagi kita pada masa kini. Bait Allah adalah tempat bagi setiap orang untuk bersekutu dengan Allah, memuji dan menyembah Allah secara benar, tempat untuk mengenal lebih jelas tentang kehendak dan hakikat Allah. Bait Allah adalah rumah doa, tempat bagi setiap orang untuk menyampaikan segala permohonannya kepada Allah, dan tempat untuk mengetahui kehendak Allah bagi kehidupan umat-Nya. Ini berarti bahwa setiap orang yang datang ke Bait Allah harus benar-benar memiliki motivasi untuk bersekutu, memuji dan memuliakan Allah, menyampaikan segala permohonannya kepada Allah dan berusaha memahami kehendak dan maksud Allah dalam kehidupannya. Setiap orang yang memiliki motivasi yang demikian (baik imam-imam yang bertugas di Bait Allah maupun orang-orang yang datang beribadah) tidak akan menyalahgunakan fungsi Bait Allah bagi dirinya sendiri atau bagi orang lain. Bahkan setiap orang yang memiliki motivasi yang demikian tidak akan membiarkan terjadinya penyimpangan terhadap fungsi Bait Allah itu sendiri.
Pada masa kini, gereja-gereja di berbagai tempat pastilah tidak menyediakan tempat bagi orang-orang yang berjual beli sama seperti di Bait Allah di Yerusalem pada zaman Yesus. Namun demikian, tidak berarti bahwa di gereja-gereja pada masa kini tidak terjadi penyimpangan fungsi dari Bait Allah. Penyimpangan fungsi Bait Allah atau Gereja pada masa kini dapat terjadi jika orang-orang yang datang ke Gereja bertujuan untuk dipuji dan dihormati oleh orang lain, atau hanya mengikuti kegiatan-kegiatan seremonial semata tetapi tidak mengalami pertobatan dalam hidupnya, atau bertujuan untuk mendapat keuntungan-keuntungan bagi diri sendiri dalam setiap pelayanan di gereja. Hal-hal itu tentu bertentangan dengan maksud dan tujuan penyucian Bait Allah yang dilakukan oleh Yesus. Bahkan rasul Paulus dengan tegas mengatakan, “... demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1). Oleh karena itu, sebagaimana Yesus telah melakukan penyucian Bait Allah, demikian juga kita yang adalah pengikut-pengikut Kristus, bahwa kita memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menjaga kesucian Bait Allah. Tugas menjaga dan memelihara kesucian Bait Allah haruslah tampak pada motivasi dan tindakan kita pribadi lepas pribadi dalam hubungan kita yang benar dengan Allah, dan juga kegiatan-kegiatan pelayanan jemaat harus bertujuan untuk membangunan persekutuan dengan Allah dan memiliki hubungan yang benar dengan Allah.
Saudara-Saudara yang terkasih,
Tindakan penyucian Bait Allah yang dilakukan oleh Yesus tidak hanya mengusir semua orang yang melakukan transaksi perdagangan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga menyatakan perbuatan kasih Allah yakni menyembuhkan orang-orang buta dan orang-orang timpang yang berada di pelataran Bait Allah. Mereka adalah orang-orang yang duduk minta sedekah dari orang-orang yang masuk ke Bait Allah. Menurut peraturan agama Yahudi pada zaman itu, orang-orang cacat tidak boleh masuk ke Bait Allah, karena kesucian Bait Allah tercemar oleh kehadiran orang-orang seperti mereka. Tetapi, Yesus tidak mengindahkan peraturan itu. Bagi Yesus, kesucian yang dituntut oleh Allah berhubungan dengan pengharapan orang-orang cacat, orang-orang hina dan yang tidak diperhitungkan oleh imam-imam dan ahli-ahli Taurat pada masa itu. Jika Bait Allah itu sesungguhnya bersifat suci, maka di tempat tersebut orang-orang yang mempunyai kebutuhan dan pengharapan harus diterima dan disambut. Tindakan penyembuhan yang diperbuat oleh Yesus terhadap orang-orang buta dan orang-orang timpang di Bait Allah telah memberikan pengharapan baru bagi mereka untuk menjalani kehidupan mereka. Namun, sangat disayangkan, penyembuhan yang dilakukan Yesus kepada mereka yang dianggap “mencemarkan” Bait Allah, tidak disambut dengan penuh sukacita oleh imam-imam dan ahli-ahli Taurat, melainkan sebaliknya mreka sangat jengkel. Para imam dan ahli-ahli Taurat sangat jengkel karena Yesus telah menyatakan fungsi kesucian dari Bait Allah itu sendiri.
Saudara-saudara yang terkasih,
Di samping, mengembalikan fungsi Bait Allah sebagai rumah doa (tempat bersekutu antara umat dengan Allah) dan sebagai tempat untuk memperoleh semangat dan pengharapan baru bagi umat untuk menjalani kehidupan, maka tindakan penyucian yang diperbuat oleh Yesus berkenaan juga dengan hidup yang bersukacita dan berbahagia yang dituntut oleh Allah bagi setiap orang yang datang ke Bait-Nya. Ketika Yesus menyucikan Bait Allah itu dan melakukan penyembuhan terhadap orang-orang yang sakit yang berada di pelataran Bait Allah itu, anak-anak yang berada di Bait Allah berseru, “Hosana bagi Anak Daud” (ay. 15). Seruan anak-anak itu menjadi bukti dari kesucian Bait Allah. Namun, sekali lagi, hati imam-imam dan ahli-ahli Taurat sangat jengkel mendengar seruan anak-anak itu. Terhadap sikap hati yang sangat jengkel dari imam-imam dan ahli-ahli Taurat, Yesus mengutip satu ayat dari Mazmur 8:3 yang mengatakan, “Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian.” Ini menunjukkan bahwa kesucian Bait Allah (Gereja) telah membawa setiap orang untuk mengalami hubungan yang benar dengan Allah, memberikan pengharapan baru dalam kehidupan dengan sesama manusia, dan memperlihatkan hidup yang penuh sukacita dalam kehidupannya. Tidak ada respons lain yang memungkinkan. Ini berarti bahwa jika anggota jemaat sungguh-sungguh hidup dalam kesucian, maka hidup yang penuh sukacita dan kebahagiaan harus menjadi ciri atau sifat setiap anggota jemaat Tuhan.

Saudara-saudara yang dikasih Tuhan Yesus Kristus,
DOA, PENGHARAPAN dan SUKACITA merupaakn implikasi-implikasi kesucian yang dituntut oleh Allah dari Gereja-Nya. Marilah kita semua berusaha agar ketiga sifat itu selalu terdapat dalam jemaat kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

(Penulis adalah Pdt. Elisa Tambunan, M.Th., tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Februari 2011)

Tidak ada komentar: